Sunday, July 4, 2010

Konsep Pembaruan Muhammadiyah

Republika, Minggu, 04 Juli 2010 pukul 13:38:00

RUBRIK LAPUT

Oleh Nidia Zuraya/Damanhuri Zuhri

Pembaruan tak pernah berakhir dan akan terus berkembang dengan sesuatu yang baru.

Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia telah memberikan sumbangan yang tidak sedikit dalam memajukan bangsa. Dalam kiprahnya memajukan bangsa, Muhammadiyah dikenal luas berkat konsep-konsep tajdid (pembaruan) yang diusungnya. Konsep pembaruan yang dikampanyekan Muhammadiyah, tidak terlepas dari gagasan, pola pikiran, serta tindakan dari sang pendirinya, KH Ahmad Dahlan.

Keputusan Ahmad Dahlan remaja untuk pergi berhaji dan tinggal di Makkah selama lima tahun, telah membawanya berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran tokoh pembaru Islam, seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyah.

Buah pemikiran tokoh-tokoh Islam ini mempunyai pengaruh yang besar pada Ahmad Dahlan. Jiwa dan pemikirannya banyak dipengaruhi oleh aliran pembaharuan yang dibawa oleh para tokoh ini yang kelak kemudian hari melalui lembaga yang didirikannya, Muhammadiyah, ia mencoba melakukan pembaharuan terhadap pemahaman keagamaan (keislaman) di tanah air.

"Namun demikian, bukan berarti pemikiran Kiai Ahmad Dahlan tentang pembaruan itu meniru mereka (tokoh-tokoh tersebut--Red). Pembaruan yang digagas oleh Kiai Ahmad Dahlan, justru lebih genuine (asli--Red)," ujar rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof Dr Muhadjir Effendy," kepada Republika.

Dalam pandangan Kiai Ahmad Dahlan, pemahaman keislaman di Tanah Air saat itu yang masih bersifat kolot akan menimbulkan kebekuan ajaran Islam, serta stagnasi dan dekadensi (keterbelakangan) umat Islam. Oleh karena itu, pemahaman keagamaan yang statis ini harus diubah dan diperbaharui, dengan gerakan purifikasi atau pemurnian ajaran Islam dengan kembali kepada Alquran dan hadis. Namun, ia menyadari bahwa upaya itu tidak mungkin dilaksanakan seorang diri, tetapi harus dilaksanakan oleh beberapa orang yang diatur secara saksama. Kerja sama antara beberapa orang itu tidak mungkin tanpa organisasi.

Tiga hal pokok
Dalam pengantar buku Islam Murni dalam Masyarakat Petani (2000), Kuntowijoyo mengungkapkan bahwa pada waktu itu Ahmad Dahlan dihadapkan pada tiga persoalan pokok masyarakat, yaitu modernisme, tradisionalisme, dan Jawaisme.

Persoalan modernisme telah dijawab oleh Kiai Dahlan dengan mendirikan lembaga pendidikan Islam yang mengintegrasikan antara ilmu pengetahuan dan ilmu agama. Sektor pendidikan memang sejak awal berdiri dijadikan sasaran prioritas Muhammadiyah. Karena Kiai Dahlan beranggapan, melalui lembaga pendidikan sangat dimungkinkan terjadinya proses transformasi kebudayaan kepada anak didik.

Strategi yang dipilihnya adalah dengan mendidik para calon guru yang belajar di Kweekschool Jetis Yogyakarta dan para calon pamongpraja (pejabat) yang belajar di OSVIA Magelang. Melalui kedua cara ini diharapkan akan segera mempercepat proses transformasi, karena para calon guru ini nantinya akan mempunyai murid yang banyak.

Selain itu, Kiai Dahlan juga mendirikan sekolah guru yang kemudian dikenal dengan Madrasah Mu'allimin (Kweekschool Muhammadiyah) dan Madrasah Mu'allimat (Kweekschool Istri Muhammadiyah). Ia mengajarkan agama Islam dan tidak lupa menyebarkan cita-cita pembaharuannya.

Sebagai jawaban atas persoalan tradisionalisme masyarakat, Kiai Dahlan melakukan tabligh. Jika di masa sekarang, kegiatan tabligh merupakan suatu hal yang biasa, namun pada zaman dahulu kegiatan itu sangat luar biasa. Mengingat kegiatan tabligh yang dilakukan Kiai Dahlan waktu itu telah melawan arus besar mainstream budaya tabligh pada umumnya.

Dengan mengedepankan motif pembaruan dan semangat berkemajuan, tabligh Kiai Dahlan justru dilakukan dengan mendatangi murid-muridnya. Padahal, tindakan demikian (guru mendatangi murid) merupakan suatu aib sosial dalam pandangan yang berkembang di masyarakat. Menurut Kuntowijoyo, strategi tabligh semacam itu merupakan langkah cerdas yang dilakukan Kiai Dahlan dalam membangun budaya baru di tengah paradigma tradisionalisme masyarakat.

Selain itu, budaya tabligh yang diubah oleh Kiai Dahlan adalah kecendrungan umum para ulama yang memiliki tradisi oral (lisan) dalam menyampaikan dakwah. Dalam hal ini, Kiai Dahlan mengubah tradisi lisan menjadi budaya tulis-menulis. Langkah perubahan ini dapat diihat melalui usaha Kiai Dahlan saat mendirikan majalah berbahasa Jawa, Suwara Muhammadiyah.

Adapun dalam rangka menghadapi Jawaisme, menurut Kuntowijoyo, Kiai Dahlan justru menggunakan metode positive action (dengan selalu mengedepankan amar makruf), dan bukannya menyerang tradisi serta kepercayaan Jawaisme (nahi mungkar). Sebagai contoh, mengenai persoalan arah kiblat.

Penjajahan yang berlangsung pada masa Kiai Dahlan menyebabkan kehidupan beragama di kalangan umat Islam mengalami kemerosotan. Praktik-parktik ibadah yang dijalankan umat Islam pada saat itu bercampur dengan tradisi masyarakat setempat. Salah satu contohnya adalah banyaknya bangunan masjid di Tanah Jawa yang pembangunannya tidak didasarkan untuk kepentingan agama, tetapi didasarkan untuk kerapian pembangunan negara. Akibatnya, banyak masjid yang kiblatnya tidak tepat ke arah Masjidil Haram di Makkah.

Hal ini dilakukan Kiai Ahmad Dahlan, karena kepakarannya dalam bidang ilmu falak. Kiai Ahmad Dahlan pun berusaha untuk membenarkan arah kiblat Masjid yang menjadi tempat ibadah kaum Muslimin Indonesia, terutama di Yogyakarta.

Masa kini
Muhadjir menjelaskan, ketiga hal tersebut, menjadi landasan pembaruan bagi warga Muhammadiyah saat ini. Ketiga hal pembaruan yang sempat dilakukan Kiai Ahmad Dahlan kini lebih dikonkretkan lagi ke dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial.

Pendidikan yang dulu harus identik dengan Arab, diperbaiki dengan mengadopsi ala Barat. Siswa bersekolah memakai celana. Dalam bidang kesehatan, dikembangkan berbagai balai pengobatan dan rumah sakit. Sedangkan dalam bidang kesejahteraan sosial, Muhammadiyah memperbanyak lembaga-lembaga kesejahteraan sosial peduli umat, baitul mal, dan lain sebagainya.

"Pada prinsipnya, gerakan pembaruan yang dilakukan Muhammadiyah, tak akan pernah berhenti," jelas Muhadjir yang juga wakil ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur.

Pernyataan senada juga diungkapkan Prof Yunahar Ilyas, ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Menurutnya, pembaruan atau tajdid yang dikembangkan Muhammadiyah adalah tetap melakukan pemurnian. "Pembaruan itu tidak akan pernah berhenti," jelasnya. ed: syahruddin e


Gerakan Pembaruan Muhammadiyah di Era Modern


Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang menekankan amar makruf nahi mungkar telah berkiprah dalam rentang waktu satu abad. Dengan masa sepanjang itu, Muhammadiyah sudah melewati berbagai tahapan atau periodisasi zaman di Indonesia. Dari mulai zaman penjajahan (1912-1945), zaman kemerdekaan (1945-1950), zaman Orde Lama (1950-1966), zaman Orde Baru (1966-1998), dan zaman Reformasi (1998-sekarang).

Masa-masa tersebut dilalui Muhammadiyah dengan sangat dinamis. Jika pada awal berdiri, Muhammadiyah hanya fokus pada persoalan pemurnian agama, karena realitas masyarakat yang banyak melakukan taklid, bidah, dan khufarat. Maka, di zaman penjajahan juga terdapat pandangan perlwanan terhadap penjajah. Sementara pada masa awal kemerdekaan, banyak di antara tokoh Muhammadiyah yang berperan dalam mempersiapkan kemerdekaan bangsa ini.

Di saat Orde Lama berkuasa, Muhammadiyah secara perlahan mulai ikut terlibat dalam kegiatan politik praktis. Terseretnya Muhammadiyah pada politik praktis karena Muhammadiyah menjadi anggota istimewa dalam Partai Masyumi. Sementara di bawah kekuasaan Orde Baru, kiprah Muhammadiyah sebagai sebuah gerakan sosial keagamaan berjalan statis. Hal ini disebabkan kuatnya tekanan pemerintahan rezim Orde Baru yang mampu 'mengebiri' gerakan-gerakan organisasi masyarakat (ormas), termasuk Muhammadiyah.

saat Orde Baru tumbang pada 1998, Muhammadiyah mengambil peran yang amat vital. Gerakan reformasi yang digagas oleh sejumlah elemen masyarakat, telah memunculkan figur Muhammadiyah, Amien Rais, sebagai aktor reformasi. Namun, di era reformasi yang mengusung kebebasan berpendapat, masih banyak kalangan menilai ide-ide dan suara Muhammadiyah justru tidak tampak di permukaan.

Dalam tulisannya yang berjudul "Etos Pembaharuan Kyai Ahmad Dahlan", guru besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Abdul Munir Mulkan mengungkapkan, saat ini Muhammadiyah hanya sekadar meniru Kiai Ahmad Dahlan, tanpa tahu gagasan dan etos gerakannya. Kebesaran Muhammadiyah sebagai organisasi kini mengarah pada rutinitas semata, serta tidak dapat dilepaskkan dari pengulangan-pengulangan gagasan sebelumnya.

Jika mengacu pada gagasan KH AR Fachrudin dengan istilah 'Islam yang menghidupkan' seharusnya Muhammadiyah mampu berkontribusi di negeri ini. Namun, yang berlangsung saat ini adalah pemikiran Muhammadiyah terkesan tidak membumi lagi. Gerakan amaliyah yang digalakkan Kiai Dahlan kini tampak eksklusif, hanya dirasakan langsung oleh kader-kader Muhammadiyah.

Mengenai hal ini, Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, saat ini gerakan Muhammadiyah sebagai organisasi pembaruan telah mengalami kemunduran. Sebab, banyak kecenderungan pergerakan yang berjalan di tempat. Padahal, ungkapnya, sebagai suatu gerakan organisasi kemasyarakatan, Muhammadiyah seharusnya memberikan pemikiran ke depan.

Kemunduran yang berlangsung di tubuh Muhammadiyah saat ini, dinilai Haedar, juga tidak terlepas dari kurangnya para kader dan generasi penerus Muhammadiyah dalam meneladani generasi pendahulunya. "Usulan Buya Hamka tentang majelis tarjih dan kebebasan berpikir perlu dipertimbangkan lagi," ujarnya saat peluncuran dan bedah buku Haedar Nashir yang berjudul Muhammadiyah Gerakan Pembaruan di Jakarta, akhir April lalu.

Sementara dalam pandangan Dekan FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Bachtiar Effendy, peran sosial ormas Islam seperti Muhammadiyah saat ini mengalami penurunan. Penurunan ini akibat pengurus ormas terjun ke ranah politik. Pada masa Orde Baru, saat organisasi keagamaan dilarang berpolitik, justru banyak madrasah, pesantren, serta rumah sakit yang dibangun Muhammadiyah. Sementara pada masa sekarang, tak ada satu pun yang mereka bangun yang merupakan amal keagamaan. Kalaupun ada, menurut Bahtiar, hanya melanjutkan apa yang sudah ada.

Bachtiar mengungkapkan, pada masa pemerintahan Soeharto, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah masih mempunyai nilai tawar sangat besar. ''Meski bersikap otoriter, pemerintahan Orde Baru saat itu selalu mempertimbangkan Muhammadiyah,'' katanya.

Kondisi sebaliknya justru terjadi di masa sekarang. Menurut Bahtiar, pandangan-pandangan pemuka agama, baik dari Muhammadiyah maupun organisasi Islam lainnya, sekarang ini tak terlalu diperhatikan pemerintah. Menurut dia, kondisi ini mengerikan.

Ia mengatakan, untuk mengembalikan fungsi organisasi keagamaan pada fitrahnya, para pemuka agama di organisasi keagamaan jangan terlibat politik praktis. Sebab, Muhammadiyah merupakan representasi organisasi keagamaan Islam di Indonesia yang secara historis telah memiliki kedekatan dengan masyarakat. Maka, diharapkan, Muhammadiyah kembali fokus pada masyarakat.

Menurut cendikiawan Muslim Indonesia, Dawam Rahardjo, saat ini Muhammadiyah belum mampu mengembangkan sepenuhnya ajaran pendirinya, KH Ahmad Dahlan.
"Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, ajaran pendiri Muhammadiyah seperti tauhid sosial, tak berkembang," ujar Dawam saat peluncuran buku Satu Abad Muhammadiyah, Mengkaji Ulang Arah Pembaruan, Kamis (1/7) di Yogyakarta.

Menurutnya, tauhid sosial yang terdiri atas dua pilar, yakni dimensi hubungan Tuhan dengan manusia, dan manusia dengan sesamanya yang diwujudkan dengan amal perbuatan, mulai kehilangan rohnya. Karena itu, kata dia, Muhammadiyah harus segera melakukan evaluasi agar tak terjerumus pada fundamentalisme dan puritanisme. nidia z, yulianingsih ed: syahruddin e

No comments:

Post a Comment

Post a Comment