Monday, August 19, 2013

Irfan Dahlan and Ahmadiyya: A Clarification from Dr. Winai Dahlan

The following note was written by Dr. Winai Dahlan, a son of Irfan Dahlan or a grandson of KH Ahmad Dahlan, as a response to the information regarding the relation between his father and the Lahore Ahmadiya. The note was originally posted on my facebook wall on August 19, 2013.

Thanks Brother Burhani for sending me an article of my niece concerning my father, Erfaan Dahlan. I have studied the story of my father by reading from several sources, recalling from my memory of him, discussing with many old friends of his as well as with my elder sisters and brothers. Jumhan bin KHA Dahlan together with 3 more young men were sent by decision of Muhammadiyyah leading committee to continue their studies in Lahore at madarasah of Ahmaddiyah in 1924, one year after the pass away of Jumhan's father, KHA Dahlan. Jumhan was only one finally who graduated 6 years later in 1930, a year after Ahmaddiyah was fatwa in Solo as non-Islam. Jumhan at that time changed his name to Erfaan Dahlan had done his duty by finishing his study and had no place to go. One can imagine that 80 years ago with distorted and exaggerated information from homeland to young man of 20 year old like Erfaan, how much he felt worried and scared. His decision was not going back home in Kauman since his mame was used by Ahmaddiyah in Yogyakarta as a member of Ahmaddiyah movement founder.

He came to Pattani Thailand during 1930 to spend his life as assistant of Dr.Khan, a Pakistani doctor who had dedicated his life by working there. I met several sons of Dr.Khan who insisted that their father was not Ahmaddiyah but one time by chance had visited Lahore for attending a meeting. He met Erfaan who urged to accept him working as assistant in Thailand. Erfaan had worked with Dr.Khan for a year before wandering northward to Nakhonsrithammarat and finally to Bangkok. He probably met my mother, a daughter of Masjid Java's Imam, during his 25 year old of age. Impress of Erfaan's character and humble manner, Imam finally granted his youngest daugter, Yaharah, to my father. When they married, my mother was 16 a decade younger than her husband. My mother always made joke about poverty of Erfaan by saying he had only 2 sarongs when they married possibly in the year of 1934.

My father had spent 27 years of his life in Thailand until passing away on 8 May 1967 left behind 10 children with my mother. We had never learned about his life in Lahore, he just kept quiet about madarasah of Ahmaddiyah, I don't think that he had good mehmory there but did mention time to time about his joyful life in the family of a great man in Kauman but as a child I thought that he boasted of his big family that he had high pride. Who was his father we did not know until 1965 when he went first time back to Indonesia and returned to Bangkok with several stamps of KHA Dahlan. The poor family in Bangkok had finally something to be proud of, our grandfather was a national hero but on what we did not know.

Many rumours mentioned that my father was Ahmadist or follower of Ahmaddiyah, but we in family realized that it was only fitna. My father with all his life was Muhammadiyah who had sacrificed his whole life protecting reputation of his father by fading his profile in a land that little known by members of Muhammadiyyah in Indonesia. He had been depressed not to attend funeral of his mother Nyai Walidah but one day he was discovered by his elder sister, Aisah, that he who had disappeared from family for many decades was in Bangkok having big family with Javanese descendents. I met Auntie Aisah with her daughter Ibu Maisaroh when I was very young when they visited my family. Auntie Aisah tried to persuade my father going back to Indonesia but with 8 children at that time it was absolutely impossible.

My Brother Burhani, we really need Ahmaddiyah people to behave as gentlemen by leaving my father resting in peace not using him for raising up their reputation. Studying in Madarasah of Ahmaddiyah does not mean that he sold out his soul to be Ahmadist, he just did his responsibility to finish his education never let other people down. Therefore nothing in KHA Dahlan's family in Thailand links with Ahmaddiyah but so proud of KHA Dahlan as founder of Muhammadiyah. Fitna is fitna, just ignore and do not make it interfere our life.

Thank you all brothers and sisters, I really have no opinion on Ahmaddiyah, neither thinking that they are not Islam, that's just political issue behind the hidden conflict which finally weaken Islam in many ways. How can we compete with other beliefs and civilizations while such stories chained our legs? My corrections are also on some mistakes about my link to Thailand's royal family. I am just ordinary man with nothing link to my beloved King and Crown Prince. I am neither King's advisor or Crown Prince's friend, that story was just misinformation and sound not good and disrespectful as Thais. I therefore would like all Indonesians correct it. Another story was that my father had no relation with Chulalongkorn University, sorry my dear niece, Diah, that's also wrong information. Erfaan came to Bangkok not by assignment of Dr.Khan, he just left Pattani for seeking his own life after learning that there was Javanese community in Bangkok. Warm family of my mother's family especially great love and understanding of my mother on him had cured his pain from political defect caused by all stories happened in Yogyakarta, his hometown. Forgive and forget were taught that my father always gave to us. He told me when I was very young that all men if go out from birthplace one day have to go back and do anything good to their homeland. My father had no opportunity to do as his teaching, such duty is on my shoulder. As a son of my father this is the answer why I acceted an invitation to come to this beautiful land of great nation during Congress of Indonesian Diaspora II in Jakarta this time. I am a Thai belong to such fascinating country and I consider Indonesia as my father's homeland. If I can do anything good to Indonesia I shall do it on behalf of my family. We are thinking in our family that the fitna about my father in Indonesia during 1920s was hidayah from Allah Almighty, imagine, without such fitna, we would have never been born, Alhamdulillah. La ila ha il lallah, Muhammadar rasullulalah.

Retrieved from:

Irfan Dahlan & Ahmadiyah: Klarifikasi Keluarga Dahlan

Berikut ini klarifikasi keluarga KH Ahmad Dahlan tentang hubungan antara Irfan Dahlan dan Ahmadiyah (Lahore). Klarifikasi ini disampaikan oleh Dian Purnamasari Zuhair (cucu Irfan Dahlan).

KH. A. Dahlan wafat tahun 1923, dan eyang Djumhan (Nama Irfan itu setelah di Thailand) lahir pada tahun 1912. Artinya, pada waktu KHA Dahlan wafat, eyang Irfan baru berumur 11 tahun. Saya tidak tahu bagaimana perkembangan Ahmadiyah di Jawa. Tapi yang pasti tidak ada Ahmadiyah di Thailand dan eyang Djumhan adalah korban.

Saya sebenarnya enggan mengulang cerita untuk mengklarifikasi dari banyak versi tentang nama-nama keturunan KHA Dahlan yang dicatut oleh Ahmadiyah sebagai bahan iklan mereka, yang itu sebenarnya tidak benar. Hmmm... saya harus mulai dari mana ya? Karena saya kan sudah pernah posting sekitar Oktober tahun lalu.

Ahmadiyah mencatut nama-nama keturunan KHA Dahlan sebagai bahan propaganda, padahal tidak benar. Bahkan di Belanda hal ini juga dibahas oleh seorang penulis Belanda yang bukunya pernah saya dan uncle Winai baca. Beberapa kali saya pernah sounding mengenai hal ini ke keluarga besar di Bangkok, reaksi mereka sih santai saja, karena toh semua versi yang tercatat di luaran itu tidak ada satu pun yang benar. Bahkan Muhammadiyah di Thailand sedang mereka urus ijin-ijinnya.

Lagipula penting sebagai catatan bahwa semua organisasi berbasis agama mana pun adalah dilarang di Thailand, termasuk organisasi berbasis agama budha yang agama mereka sendiri. Hanya satu-satunya Muhammadiyah yang Insya Allah segera turun ijinnya dari raja untuk berdiri di Songkhla (Thailand Selatan). Ini juga karena faktor kedekatan Dahlan Family di Bangkok dengan keluarga kerajaan, dimana uncle Winai Dahlan adalah sebagai salah satu dari penasehat raja dan bersahabat dengan putra mahkota.

Versi Buya Hamka yang mencatat bahwa eyang Djumhan (yang saat itu sudah berganti nama dengan Irfan) berada di Pattani untuk menyebarkan ajaran Ahmadiyah, adalah salah besar. Yang benar adalah, eyang Djumhan muda ketika berusia 12 tahun jalan 13 tahun (1925) dan cakap berbahasa hingga 8 bahasa asing, DIKIRIM oleh pengurus Muhammadiyah ke Lahore untuk belajar di sana, bersama 10 orang santri. Di waktu itu Muhammadiyah belum memahami betul mengenai apa dan bagaimana Ahmadiyah.

Eyang Djumhan kecil yang hanya tahu bahwa dia hanya dikirim oleh PP Muhammadiyah dan ditugaskan untuk belajar, maka belajar dengan sungguh-sungguh hingga lulus 6 tahun kemudian. Sementara 10 santri lainnya belum lulus.

Ketika tersiar berita bahwa Majlis Tarjih Muhammadiyah menyatakan bahwa Ahmadiyah sesat, maka 10 santri yang belum lulus ditarik pulang, kecuali eyang Djumhan yang sudah lulus. Djumhan muda, 19 tahun, yatim, jenius, terlunta-lunta di negeri orang. Di negeri sendiri ditolak karena dituding sebagai Ahmadiyah, di Lahore juga bukan siapa-siapa. Ahmadiyah tidak mau tahu karena bagi mereka Djumhan muda adalah orang Muhammadiyah.

Alkisah ada seorang dokter specialis penyakit dalam yang seorang muslim datang dari Pattani ke Lahore untuk menghadiri sebuah kongres. Dokter yang baik hati itu terkesan dengan Djumhan yang memperkenalkan diri dengan nama "Irfan" yang saat itu bekerja sebagai pelayan restoran. Dokter itu lalu menawari Djumhan untuk menjadi asistennya karena dia tidak punya anak, dan menetap di Pattani. Djumhan/Irfan yang sebatangkara tentu saja menerima tawaran tsb dan ikut bersama dokter itu ke Pattani. Sejak itu jadilah Irfan menjadi asistennya (baca : pembantu). Selama tinggal bersama keluarga dokter tsb, Irfan juga diajari beberapa ilmu pengobatan. Irfan yang jenius dengan mudah mempelajarinya. Dokter tsb terkesan dengan kejeniusan asistennya ini, dan kemudian mengirim Irfan ke Bangkok untuk belajar ke Universitas Chulalongkorn dengan biaya kuliah dari dokter itu.

Berbekal surat pengantar dari Dokter untuk temannya yang di Chulalongkorn, baju seadanya dan 2 lembar sarung, Irfan berangkat ke Bangkok. Karena tidak punya banyak uang, maka Irfan menginap di Masjid Kampung Jawa di distrik Sathorn di Bangkok.

Baru sampai di Kampung Jawa, tersiar berita bahwa dokter yang sedianya akan membiayai Irfan kuliah di Chulalongkorn wafat mendadak. Irfan pun terkatung-katung di masjid Kampung Jawa.

Kehalusan budi pekerti, kesalehan, dan ketampanan Irfan rupanya membuat Imam (Ajengan) Masjid Kampung Jawa terkesan. Irfan yang miskin, yatim, dan sebatangkara itu pun diambilnya menjadi menantu. Irfan pada akhirnya memang batal kuliah di Chulalongkorn, tapi teman dari dokter yang mengirim dia memberinya pekerjaan di Universitas di bagian administrasi.

Irfan TIDAK PERNAH bercerita tentang siapa dia dan siapa ayahnya kepada anak2nya di Thailand. Mereka hanya tahu ayah mereka orang Indonesia. Mengapa? Karena hidup mereka sangat miskin dan Irfan tidak mau anak2nya minder mengetahui bahwa mereka berasal dari keturunan yang seperti apa tapi hidup melarat seperti apa.

Mana bukti Ahmadiyah mengakui Irfan atau bahkan mengutusnya? Tidak ada! Jika memang mereka betul mengutusnya, pasti kehidupan Irfan tidak akan sesengsara itu.

Anak-anak Irfan baru mengetahui jati diri ayahnya ketika tahun 1961 Bung Karno memberikan rumah kepada keluarga besar KHA Dahlan. Irfan sebagai satu-satunya anak laki-laki KH A Dahlan yang masih hidup pun diminta pulang untuk acara serah terima rumah tsb. Berbekal uang hasil berhutang sana sini, Irfan pun pulang ke Indonesia.

Irfan kembali ke Thailand hanya dengan membawa perangko dan foto-foto KHA Dahlan, dan menghadapi kenyataan bahwa dia terbelit hutang. Irfan meninggal dunia dalam perjalanan pulang kerja karena serangan jantung akibat memikirkan beban hutangnya yang banyak sementara 10 orang anaknya masih membutuhkan biaya. Jenazah Irfan diketemukan orang di jalan dan dibawa ke RS. Lazimnya di Thailand, jenazah orang yang tak dikenal dan masih segar akan segera diambil organ-organ tubuhnya yang masih baik untuk donor. Dan seperti itulah nasib jenazah eyang Irfan. Keluarga baru mengetahui satu hari setelahnya, namun beberapa organ dalam tubuh eyang sudah tidak ada.

Sekarang, mana tanggung jawab PP Muhammadiyah yang MENGIRIMKAN Djumhan muda ke Lahore? Tidak ada. Bahkan Djumhan diterlantarkan. Mana bukti Ahmadiyah mengutus Djumhan ke Thailand untuk berdakwah? Tidak ada! Bahkan Djumhan dilempar begitu saja di jalanan setelah Muhammadiyah memutuskan Ahmadiyah sesat. Dan siapa Djumhan Dahlan alias Irfan Dahlan? Dia adalah anak muda yang jenius yang menjadi seekor kancil yang mati terinjak 2 gajah yang sedang berseteru...

Kini, setelah Muhammadiyah mulai berpengaruh di dunia, setelah putra Irfan Dahlan menjadi tokoh dunia (versi buku 1000 tokoh muslim paling berpengaruh di dunia), baru Ahmadiyah kebakaran jenggot bikin buku dan menulis blog yang mencatut nama orang yang dulu mereka buang.

Memang pernah ada sekali tokoh Ahmadiyah datang ke Bangkok beberapa waktu sebelum eyang wafat dan bertamu ke rumah eyang. Tapi bukan karena mereka sepaham, namun hanya sekedar seorang tuan rumah yang kedatangan tamu. Mereka berfoto dan ternyata kemudian foto itu dijadikan alat propaganda oleh Ahmadiyah.

Uncle Winai juga pernah didatangi oleh tokoh Ahmadiyah ketika beliau menghadiri kongres halal di Lahore beberapa tahun lalu. Tokoh tsb berusaha menegaskan bahwa eyang Irfan adalah orang Ahmadiyah, tapi uncle Winai tetap bersikeras bahwa ayahnya adalah Muhammadiyah, beliau juga Muhammadiyah, dan keluarganya adalah Muhammadiyah. Syahadat mereka juga syahadat tain.. Ilmu-ilmu agama yang diajarkan oleh Irfan kepada anak2nya juga ilmu yang didapat dari ayahnya, KHA Dahlan.. Anak2 Irfan tidak tahu siapa Mirza Ghulam Ahmad karena memang Irfan tak pernah mengajarkan. Mereka baru tahu lama setelah Irfan wafat. Dan yang jelas tidak ada Ahmadiyah dan pengikutnya di Thailand.

Masjid Kampung Jawa adalah Masjid Islam yang sifatnya masih umum. Bukan Muhammadiyah, bukan NU, bukan Wahabi, bukan mana-mana. Hanya "Islam". Tapi nafas yang ditaburkan oleh Irfan sebagai menantu Imam Besar adalah nafas Muhammadiyah.

Di Belanda juga ada tulisan bahwa cucu KHA Dahlan, Wahban Hilal, yang adalah putra pertama dari pasangan Haji Muhammad Hilal dengan putri pertama KHA Dahlan, Johannah Dahlan, juga disebut sebagai anggota Ahmadiyah sejak 1974.

Itu sama sekali tidak benar. Uncle Wahban bermukim di Belanda sejak kuliah hingga wafatnya. Menikah dengan wanita Belanda di Belanda. Sama sekali tidak punya hubungan apa-apa dengan Ahmadiyah.

Memang di tahun 1974, uncle berangkat umroh dan kembali sambil melancong dan silaturahmi ke keluarga. Kunjungan pertama setelah dari Jeddah yaitu ke Lahore, lalu ke Indonesia (Jakarta, Yogya), lalu ke Singapore, kemudian ke Thailand, kembali ke Singapore dan kembali ke Belanda. Kemungkinan seperti kasus uncle Winai yang didatangi tokoh Ahmadiyah. Memang hanya bertemu saja, tidak ada istilah dibaiat atau sebagainya. Namun hal ini dipropagandakan oleh Ahmadiyah.