Wednesday, October 11, 2017

Buya Syafii Maarif: Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemuhammadiyahan

Buya Ahmad Syafii Maarif menyampaikan materi di acara Kamastu. Foto: Iwan

Qureta, 10 Oct 2017




Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat malam di pekan kedua Oktober 2017, penuh sesak. Ruangan utama di lantai dua yang biasa digunakan untuk acara pertemuan dan pengajian dipenuhi seribuan manusia.
Tak biasa, meskipun semua meja telah disusutkan dan dijejeri ratusan kursi, tetap menyisakan banyak peserta yang harus duduk lesehan. Berdesak dan berpeluh dalam kerumunan. Kebanyakan adalah anak-anak muda. Antusiasme ini sungguh di luar prediksi panitia.
Buya Ahmad Syafii Maarif yang menjadi daya pikat di malam itu turut mengapresiasi. “Perubahan dimulai oleh anak-anak muda ini. Jangan menghabiskan energi untuk hal-hal yang tidak berguna,” kata Buya di satu bagian Kajian Malam Sabtu (Kamastu) itu.
Pekan sebelumnya, panitia menghadirkan Mun’im Sirry, dan juga sempat membludak. “Saya melihat anak-anak muda ini adalah orang-orang baik. Tidak seperti kakak-kakak Anda, bupati, gubernur, itu yang jadi pasien KPK lebih 60%. Anda jangan putus asa. Siapkan diri sebaik-baiknya,” tuturnya.
Sisi lain, setelah acara berakhir di pukul 22.15, Buya Syafii sempat berseloroh ke panitia, “Lho, kok tadi ndak ada yang marah sama saya ya, malah pada gembira semua.”
Sejak awal Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) DIY selaku penyelenggara, menyebarkan pamflet kajian bersama Buya Syafii, ada beberapa suara sumbang. Bahkan mungkin sampai ke telinga Buya sendiri. Suara-suara sinis ini masih dalam rangkaian beruntun setelah di akhir September, Buya dihujat karena isu PKI.
Selama dua jam, Buya tampak bersemangat menyampaikan pokok-pokok pemikirannya tentang keislaman, keindonesiaan, dan kemuhammadiyahan. Sesuai dengan tema yang diminta. Bagi Buya, anak-anak muda merupakan harapan dan agen perubahan di masa depan. Dengan syarat, anak-anak muda ini harus mempersiapkan diri sedini mungkin.
Pada para peserta, berkali-kali Buya mengingatkan pentingnya menciptakan budaya membaca dan berpikir kritis. “Budaya membaca sangat penting. Jangan bertanya mbah Google saja,” katanya di satu bagian.
“Baca buku-buku yang dikarang oleh orang-orang yang berani berpikir. Bukan buku-buku yang mempertahankan status quo,” tandas Buya di bagian lain. “Anda harus mencari informasi secara critical,” tambahnya.
Bagian pertama, Buya Syafii mengulas tentang kegelisahannya terkait tema keislaman. Sosok yang sudah berusia 82 tahun ini menunjukkan data-data tentang masyarakat global.
Dari 7 milyar penduduk dunia, kata Buya, 1,6 milyar merupakan muslim. “Penduduk agama yang paling cepat pertumbuhannya adalah umat islam,” katanya. Termasuk wilayah Eropa dan Amerika, penduduk beragama muslim terus tumbuh. Bahkan, peristiwa WTC di AS (9/11/2001) justru memicu orang untuk mengenal Islam.
“Secara kuantitas atau nominal (umat Islam) tidak ada yang kita khawatirkan. Tetapi yang merisaukan saya terletak pada kualitas kita. Kualitas kemanusiaan kita. Umat Islam yang sekian jumlahnya itu terbelah-belah,” urai Buya. Perpecahan umat Islam menjadi masalah utama. Padahal, al-Qur’an di banyak ayat meminta umat Islam untuk bersatu dan mendamaikan jika ada yang berselisih.
Guru besar sejarah UNY ini lantas membuka lembaran kelam. “Perpecahan ini bukan hal baru. Sudah dimulai sekitar beberapa tahun setelah nabi wafat. Pusara nabi masih merah (tanahnya), umatnya sudah berkelahi. Yang berkelahi itu kader-kader inti nabi. Karya-karya orang Arab menceritakan itu semua,” jelasnya.
Pernyataan Buya Syafii benar adanya. Perang Jamal, Perang Shiffin itu melibatkan istri, menantu, sepupu, dan sahabat-sahabat dekat Nabi. Beberapa nama termasuk sahabat yang dijamin masuk surga. Pertumpahan darah antar elit Arab ini tidak perlu ditutup-tutupi sebagai pembelajaran.
“Pelajaran moral untuk memandang jauh kedepan. Bukan untuk merendahkan (para sahabat). Tapi timbul pertanyaan, kenapa orang yang terlibat langsung belajar kepada nabi, terlibat pertumpahan darah,” tanya Buya seraya menambahkan bahwa tiga di antara para khalifah utama (Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib) wafat karena dibunuh.
Pertanyaan Buya ini tentu memiliki banyak jawaban. Buya sendiri menjawab, “Karena mereka (sahabat) tidak dibimbing langsung oleh wahyu. Beda dengan nabi yang langsung ditegur nabi, bila keliru,” katanya. Sehingga, pesan-pesan yang terdapat dalam al-Qur’an tidak mutlak menjiwai kehidupan sehari-hari para sahabat sebagai manusia biasa. Al-Qur’an memerintahkan untuk saling bersaudara, tetapi mereka memilih untuk berperang.
Al-Qur’an, kata Buya, jelas menyatakan bahwa nabi diutus untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam. Wama arsalnaka illa rahmatan lil alamin. QS 21:107 menyebut, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”
Kata al-‘alamin, menurut Buya, itu bermakna bukan hanya alam manusia. “Tapi juga alam tumbuhan dan alam binatang. Harus merasakan rahmatnya (Islam),” katanya. Hari ini, rahmat dibatasi hanya untuk golongan tertentu secara sempit.
Keadaan di mana terjadi kesenjangan antara nilai-nilai utama al-Qur’an dengan kondisi umat Islam, khususnya di Timur Tengah menjadi problem utama. Di antara pesan inti al-Quran adalah tentang tauhid. Konsekuensi dari tauhid adalah menjunjung ketinggian Tuhan YME dan memposisikan selain Tuhan secara setara.
Mengangkat derajat manusia, menghapus pertumpahan darah dan mempersaudarakan semua golongan. Jika di kemudian hari, umat Islam jauh dari pesan itu, maka mereka telah menyimpang. Termasuk jika itu dilakukan oleh orang Arab yang sering disimbolkan sebagai wajah Islam.
Buya memberi istilah misguided Arabism atau Arabisme yang kesasar jalan dengan mengatasnamakan Tuhan. Mereka merupakan kalangan fanatik yang menghalalkan darah sesama muslim hanya karena berbeda pemahaman dan pandangan. ISIS, Boko Haram termasuk dalam kelompok yang sering menghabisi nyawa sesama muslim dengan sadis atas dalih ayat-ayat Allah.
Menurut al-Qur’an, kata Buya, tugas umat Islam itu sebagai wasit. “Disebut sebagai umatanwasatan dan syuhada’ alannas. Yaitu saksi atau wasit atas orang. Tapi sekarang kita yang diwasiti orang,” katanya. Sebagai saksi, harusnya umat Islam menjadi contoh teladan sebagai umat terbaik.
“Menurut saya, dunia Arab sekarang tidak bisa dipedomani. Kecuali mereka kembali ke jalan yang lurus. Kembali bersaudara, berhenti saling menghujat,” kata Buya sambil menyebut fakta betapa dunia Arab sedang berada di titik nadir. Kondisi ini harus diselamatkan. Bukan justru mengimpor dan mewariskan konflik di dunia Arab ini ke seluruh penjuru dunia muslim.
Yang lebih mengkhawatirkan Buya tentu saja terkait dengan kultur intelektual. “Sekarang teman-teman Arab yang pinter tidak bisa hidup di situ. Ada fakih, Khalid Abu Fadl, orang Kuwait yang terkenal sekali itu tinggal di Amerika. Dia tak bisa hidup di negerinya sendiri karena tidak aman dan tidak ada kebebasan,” kata Buya sambil menyebut beberapa nama lain. Iklim intelektual di dunia Arab sangat tertutup untuk pengembangan pengetahuan dan pemikiran.
Pemahaman keagamaan yang serba mengekang dan membatasi seperti itu, merupakan buah dari pemahaman agama yang parsial. “Orang tidak melihat ajaran Qur’an yang menyeluruh itu, yang holistik,” tandas Buya. Berdialog dengan Qur’an, menurutnya, harus bermula dari sikap jujur. Mengarahkan nalar untuk mengikuti Qur’an. Bukan memaksakan Qur’an mengikuti hawa nafsu dan apalagi bias ideologi sektarian.
Kondisi dunia Arab yang rapuh dan di ambang kehancuran, bagi Buya, merupakan fakta yang perlu dicermati. “Kita bisa menyalahkan Barat bahkan Rusia. Tapi saya punya thesis. Orang lain mengobok-obok kita karena kita memang rapuh dari dalam. Penjajah itu salah, iya. Tapi Malik bin Nabi menjawab, umat Islam itu memang pantas dijajah. Harusnya sebagai pembawa rahmat, tapi begini keadaannya,” katanya.
Bagian kedua, Buya Syafii berbicara tentang keindonesiaan. Dimulai dengan data kongkrit luas wilayah Indonesia hingga potensi kekayaan yang sedemikian rupa. Melihat sumber daya alam yang dikandung bumi Indonesia, bangsa ini harusnya menjadi sangat makmur. “Negeri ini bukan negeri miskin, meski sudah rusak. Tapi masih bisa menjadi adil, makmur,” katanya. Namun, setelah 70 tahun lebih merdeka, hal itu belum terwujud.
“Yang menguasai dunia ini hanya segelintir orang. Siapa yang menguasai tanah Indonesia? Dipegang oleh konglomerat sekitar 93 persen. 7 persen sisanya dikuasai oleh kita semua. Ini gila ndak? Gila sekali. Ada ketimpangan yang parah,” ujarnya. Bahkan, kata Buya, andai 10 persen kekayaan para konglomerat yang melebihi dana APBN itu disumbangkan untuk negara, maka sudah bisa menyelesaikan banyak persoalan dan memberi kemakmuran.
Menurut Buya, pidato Soekarno pada 1 Juni 1945 menyebut bahwa di dalam Indonesia merdeka tidak ada lagi kemiskinan. “Sekarang orang miskin itu banyak dan seagama dengan kita,” kata Buya. Orang miskin berpikirnya tidak stabil. Sehingga, jika problem utama terkait kemiskinan ini tidak diatasi, maka mereka tidak bisa diajak untuk melakukan hal-hal lainnya.
“Indonesia dengan jumlah 263 juta penduduk sekarang ini menjadi terbesar ke-4 di muka bumi. Pada waktu merdeka, belum sampai 63 juta. Pada 2030 itu menurut prediksi, dari pertumbuhan ekonomi menjadi nomor 4 atau 5, mengalahkan Rusia. Pertanyaan saya, pertumbuhan untuk siapa?” tanya Buya.
Tidak hanya punya potensi sumber daya alam, sumber daya manusia Indonesia juga melimpah. “Otak orang Indonesia itu oke. Yang rusak itu pemimpinnya, politisinya, partainya,” kata Buya. Oleh karena itu, Buya mengajak anak-anak muda yang telah siuman untuk ikut bertanggung jawab membenahi negeri. “Anak muda jadi politisi boleh, tapi ekonominya harus membaik terlebih dahulu. Sehingga tidak gampang tergoda,” katanya.
“Kenapa uang jinak pada mereka (minoritas pengusaha) tapi liar sama kita? Karena kita hanya marah-marah saja. Kita tidak mau belajar,” katanya. Sekedar mengutuk, apalagi mencaci maki tidak akan menyelesaikan ketimpangan.
Buya melihat perlunya pembinaan entrepreneurship di setiap kabupaten/kota. Ilmu untuk berwirausaha harus ditularkan ke sebanyak mungkin generasi muda. “Kita punya mentalitas peminta-minta. Bertahan karena disantuni oleh bos. Mentalitas sejak sebelum merdeka. Seperti kata sastrawan Umar Kayam,” kata Buya.
Bagian ketiga, Buya Syafii menawarkan ide-ide segar terkait dengan Muhammadiyah, organisasi yang pernah dipimpinnya selama 7 tahun. Muhammadiyah yang telah memasuki usia abad kedua, menurut Buya, perlu banyak berbenah. Organisasi dengan jumlah dan jaringan amal usaha terbesar di seluruh dunia ini perlu memikirkan peran-peran yang lebih besar.
“Sejak Muhammadiyah berdiri, ia sebagai gerakan pembantu bangsa. Sudah 1 abad lebih menjadi pembantu yang baik sekali. Belum tampak tanda-tanda akan berhenti,” kata Buya. Muhammadiyah sejak awal memang mengabdikan diri dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial.
Namun, di mata Buya, sekedar menjadi pembantu tidak cukup. Negara tidak semakin membaik. Justru permasalahan bangsa semakin bertambah.
“Maka di abad kedua, Muhammadiyah tidak hanya jadi pembantu, tapi juga jadi penentu. Penentu bisa macam-macam,” kata Buya seraya menyebut contoh semisal peran Jihad Konstitusi, menjadi menteri, masuk dalam pemerintahan, hingga mendidik dan atau menyumbangkan kader-kader terbaiknya untuk mengurus negara. Sehingga muncul orang-orang negarawan, yang berpikir jauh ke depan.
“Negarawan itu larut untuk kepentingan bangsa dan negara yang lebih besar. Bukan politisi, yang mikir diri sendiri, nambah istri, pemilu, pilkada. Negarawan mikir bagaimana Indonesia bertahan hingga sehari sebelum kiamat,” katanya. Jika berperan sebagai penentu, maka harus mempunyai karakter dan integritas.
Buya juga mengajak anak-anak muda untuk menggelorakan Muhammadiyah sebagai gerakan ilmu. Hal itu telah disuarakan Buya sejak tahun 1995 ketika menjadi ketua umum PP Muhammadiyah. Orang Muhammadiyah itu kebanyakan berlatar belakang aktivis. “Tapi jika tidak punya ilmu, jadi tidak punya acuan,” katanya. Jiwa aktivisme perlu dipadukan dengan jiwa intelektualisme. Sesuai dengan jargon Muhammadiyah sebagai gerakan ilmu amaliyah dan amal ilmiyah.
“Harus dipersiapkan SDM dengan kualitas tinggi. Unggul dalam semua bidang. Bukan hanya (menjadi) pemikir di menara gading. Tapi pemikir yang petarung. Untuk menjadi petarung, harus serius dan butuh usaha betul,” tegas Buya Syafii yang kini menjadi ketua tim pengembangan Madrasah Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta.
Di bagian lain, Buya mengingatkan pentingnya bagi anak-anak muda untuk berpikir dan bertindak beyond sektarianisme sempit. “Kita perlu merumuskan Islam pasca NU, pasca Muhammadiyah. Harus mengembalikan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Rahmatan lil alamin sebagai payung besar. Semua gerakan Islam harus ke sini arahnya,” tutur Buya. Sikap fanatik buta pada golongan tertentu justru akan mempersempit Islam yang sangat menjunjung ukhuwah dalam arti sangat luas.
Buya Syafii juga sempat mengingatkan pentingya memahami Kiai Dahlan dalam hal memegang prinsip serta dalam hal berpikir kritis dan terbuka. “Kiai Dahlan tidak mendapat pendidikan (modern) Barat. Belajar dari pondok ke pondok, lalu ke Makkah. Tapi mengerti zaman. Dia menentang arus dan dituduh macam-macam. Memang dibutuhkan orang-orang yang berani melawan arus. Tapi tidak asal,” katanya.
Beberapa pikiran maju Kiai Dahlan yang berani melawan arus dan melampaui zaman, tetapi dibangun atas dasar argumentasi yang kokoh, dirinci oleh Buya. Semisal mencetuskan prinsip demokrasi dalam Muhammadiyah. “Anggaran Dasar Muhammadiyah pasal 6, tahun 1912, pemimpin dipilih dengan suara terbanyak,” kata Buya.
Terakhir, Buya mengingatkan supaya anak-anak muda tidak takut untuk berbeda pendapat yang dibangun atas dasar yang kokoh. “Berbeda silahkan. Tapi beri argumen. Jika tanpa argumen, maka Anda hanya menghinakan martabat Anda sendiri,” tegas Buya. Nasehat ini tentu sangat penting di tengah situasi kecenderungan untuk penyeragaman dan penghujatan terhadap yang berbeda. Belum lagi kecenderungan untuk menolak sesuatu yang tidak dari golongan sendiri.
Pesan Buya lainnya, “Kalau berpikir perlu radikal. Kalau bertindak harus bijak.” Kebebasan berpikir dalam batasan-batasan yang jelas dan bertanggung jawab sangat perlu dikembangkan. “Dalam Islam orang boleh berpikir sangat jauh, selama dalam batas iman,” ujar Buya Syafii Maarif.
https://www.qureta.com/post/buya-syafii-maarif-keislaman-keindonesiaan-dan-kemuhammadiyahan

Muhammadiyah di Mata Nakamura



Saturday, October 7, 2017

Berita dan Foto Peluncuran Buku ‘Bulan Sabit Terbit di Atas Pohon Beringin’














Beberapa Berita terkait Peluncuran Buku Mitsuo Nakamura, Bulan Sabit Terbit Di Atas Pohon Beringin

Haedar Ajak Pengurus Pahami Betul Muhammadiyah
http://harianamanah.com/m/berita-haedar-ajak-pengurus-pahami-betul-muhammadiyah

Magnum Opus Kotagede
https://www.wartapilihan.com/magnum-opus-kotagede/

Mitsuo Nakamura, 40 Tahun Meneliti Muhammadiyah
http://www.koran-jakarta.com/mitsuo-nakamura--40-tahun-meneliti-muhammadiyah/

Prof Nakamura : Muhammadiyah Harus Tetap Memegang Posisi Sebagai ‘Sang Pencerah’
http://daulat.co/prof-nakamura-muhammadiyah-harus-tetap-memegang-posisi-sebagai-sang-pencerah/

Antropolog Asal Jepang Ini Habiskan Waktu Bertahun-tahun Pelajari Muhammadiyah
http://www.tribunnews.com/nasional/2017/10/06/antropolog-asal-jepang-ini-habiskan-waktu-bertahun-tahun-pelajari-muhammadiyah

Mitsuo Nakamura: Muhammadiyah Harus Komitmen Sebagai Sang Pencerah
http://m.muhammadiyah.or.id/id/news-12133-detail-mitsuo-nakamura-muhammadiyah-harus-komitmen-sebagai-sang-pencerah.html

Mitsuo Nakamura: Muhammadiyah Perlu Menjaga Intelektualitasnya
http://menara62.com/2017/10/06/mitsuo-nakamura-muhammadiyah-perlu-menjaga-intelektualitasnya/

Ini Pesan Mitsuo Nakamura pada Muhammadiyah setelah Berumur 100 Tahun
https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2017/10/06/125054/ini-pesan-mitsuo-nakamura-pada-muhammadiyah-setelah-berumur-100-tahun.html

Buku Mitsuo Nakamura tentang Muhammadiyah Karya Monumental Penyempurnaan Buku Tahun 1983
https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2017/10/06/125059/buku-mitsuo-nakamura-tentang-muhammadiyah-karya-monumental-penyempurnaan-buku-tahun-1983.html

Potret Muhammadiyah dalam Oretan Mitsuo Nakamura
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/10/06/oxee7g396-potret-muhammadiyah-dalam-oretan-mitsuo-nakamura

Muhammadiyah Diminta Pertahankan Sikap Pemikir Independen
http://www.skanaa.com/en/news/detail/muhammadiyah-diminta-pertahankan-sikap-pemikir-independen-2/republika-online

Peluncuran Buku Mitsuo Nakamura
https://kompas.id/baca/lain-lain/2017/10/07/peluncuran-buku-mitsuo-nakamura/

https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20171007/281522226299467

Warga Muhammadiyah Perlu Kaji Buku “Bulan Sabit Terbit Di Atas Pohon Beringin”
http://news.tarjih.id/news/Warga-Muhammadiyah-Perlu-Kaji-Buku-“Bulan-Sabit-Terbit-di-Atas-Pohon-Beringin”/

Mitsuo Nakamura: Muhammadiyah Harus Komitmen Sebagai Sang Pencerah
http://blog.pcimmarfakhruddin.org/2017/10/06/mitsuo-nakamura-muhammadiyah-harus-komitmen-sebagai-sang-pencerah/

Muhammadiyah Dibahas Lagi, Nakamura: Arah Pengembangan Jelas dan Terukur
https://www.ngopibareng.id/timeline/muhammadiyah-dibahas-lagi-nakamura-arah-pengembangan-jelas-dan-terukur-1212585

PP Muhammdiyah Terbitkan Buku 'Bulan Sabit Terbit di Atas Pohon Beringin'
https://m.kaskus.co.id/lastpost/59d7525bd44f9f010d8b45a0

Muhammadiyah Luncurkan Kembali Karya Mitsuo Nakamura
https://alif.id/read/redaksi/muhammadiyah-luncurkan-kembali-karya-mitsuo-nakamura-b204853p/

Asimilasi Nilai-Nilai Kultural Muhammadiyah
https://www.wartapilihan.com/asimilasi-nilai-nilai-kultural-muhammadiyah/

Wednesday, October 4, 2017

Launching "Bulan Sabit Terbit di Atas Pohon Beringin"



Buya Ahmad Syafii Maarif dan PKI

Koran Sindo, Rabu, 4 Oktober 2017, h. 11


Ahmad Najib Burhani*

Beberapa hari yang lalu penulis sebagai admin dari facebook-fanpage Muhammadiyah Studies memposting kutipan pernyataan Buya Ahmad Syafii Maarif yang berbunyi, “PKI yang sudah masuk kuburan sejarah jangan dibongkar lagi untuk tujuan politik kekuasaan. Sungguh tidak elok, sungguh tidak mendidik. Generasi baru Indonesia jangan lagi diracuni oleh cara-cara berpolitik yang tidak beradab”. Kutipan itu berasal dari tulisan Buya sendiri di Republika, 18 Juli 2017. Postingan itu dibaca oleh lebih dari 140 ribu pengguna facebook dan di-share oleh lebih dari 710 orang. Follower dari fanpage ini sebetulnya tak terlalu banyak, sekitar 23 ribu, namun status itu mendapat respon beberapa kali lipat dari jumlah pengikut fanpage itu sendiri. Sebelumnya, meme yang sama telah dibagi lewat twitter oleh akun @biografly dan juga viral atau menjadi trending topic.

Kutipan itu sebetulnya adalah sebuah nasehat dari orang tua dan guru bangsa yang pernah hidup di zaman penjajah, Orde Lama, Orde Baru, dan juga Era Reformasi. Sebagai simpatisan berat Masyumi, Buya adalah orang pernah mengalami hidup dalam sengitnya pertarungan politik dan sosial antara PKI (Partai Komunis Indonesia) dan Partai-partai Islam. Karena itu ia juga pernah menjadi penentang keras PKI dan bahkan menyebut masa lalunya sebagai “fundamentalis” dan bagian dari kelompok “garis keras” (Maarif 2009). Hal yang sangat mengejutkan dari postingan tersebut adalah berbagai komentar dan respon yang muncul.

Ada yang mengecam Buya dengan beragam istilah yang sangat kasar, ada yang mengutuk dan melaknat, dan ada juga yang menuntut kepada Muhammadiyah untuk bersikap terhadap Buya. Beberapa diantaranya perlu disebutkan di sini untuk melihat seperti apa ekspresi orang terhadap tokoh sekaliber Buya yang memberikan nasehat tentang sejarah Indonesia. Mulai dari sebutan “orang tua gila”, “pembela penista”, “si tua”, “sudah bau tanah”, “kecebong”, “koplaxx”, “antek”, “tai kucing”, “semakin tua semakin sesat”, “si pikun utek liberal”, “kerak neraka”, “cari makan”, “dasar orang tua… tobat orang tua”, “semakin tua semakin kehilangan akal”, “agen PKI kedok ulama”, “intelek kok guoblok”, “ulama syu’”, “berbicaranya lantang, tapi telinganya tuli, pandanganya buta”, dan juga sebutan yang sudah sering dialamatkan kepadanya, yakni “liberal”.

Sementara mereka yang menuntut agar Muhammadiyah menghukum Buya menyebutkan bahwa Buya adalah “tokoh Muhammadiyah paling mengecewakan”, “mamalukan Muhammadiyah”, dan orang yang tidak bisa menjaga diri, terutama terkait dengan “mulutnya tidak beradab”. Permintaan kepada pimpinan Muhammadiyah juga berupa peninjauan “keberadaan Syafii Maarif di lingkaran para tokoh muhammadiyah” dengan alawan bahwa opininya “lebih sering menyesatkan umat”. Tuntutan pribadi yang agak ringan adalah meminta agar Buya bertobat, atau meminta orang lain agar tak lagi memanggilnya buya karena tak pantas lagi dengan sebutan itu, atau meminta Buya sekolah lagi biar pintar. Ada juga yang berdoa agar Buya mendapat hidayah dan dijauhkan dari virus pluralisme atau berdoa agar Buya husnul khatimah.

Tentu saja ada yang mencoba mendudukkan persoalan dengan melihat dan membaca secara seksama kalimat-kalimat yang disampaikan Buya itu dan meminta jangan saling kecam serta menjaga tatakrama terhadap orang tua. Dukungan, pembelaan, pujian dan doa agar Buya diberi kesehatan dan panjang umur juga bisa ditemukan dalam berbagai komentar.

Berkaitan dengan fanpage itu sendiri, ada sejumlah follower (sekitar 30 orang) yang lantas keluar atau memblokir fanpage tersebut. Ada yang mengancam admin agar tidak bertindak macam-macam. Ada yang menuduhnya liberal, bagian dari JIMM, corong Buya atau “antek syafii”, dan bahkan ada menganggap fanpage itu sebagai infiltrasi dari NU (Nahdlatul Ulama) untuk memecah Muhammadiyah. Namun tampaknya jumlah yang keluar dan memblokir itu sebetulnya jauh lebih kecil daripada jumlah yang menjadi follower baru. Ini bisa dilihat dari jumlah follower yang mengalami kenaikan cukup banyak dibandingkan dengan sebelum adanya posting itu. Mengambil sikap atau keberpihakan dalam kasus-kasus yang membelah masyarakat itu memang bisa menaikkan jumlah followers atau likers. Ini yang membuat sebagian aktivis sosial media menikmati sikapnya yang sektarian.

Kasus seperti ini sudah kesekian kali terjadi. Sebelumnya kontroversi yang heboh terjadi ketika memasang foto Joko Widodo mengimami sholat warga Muhammadiyah. Kemudian, kontroversi kembali ramai ketika posting “Muhammadiyah garis lucu” keluar. Bagi Buya sendiri, ini tentu bukan pertama kalinya mendapat bully sedemikian rupa. Ketika Buya menulis beberapa artikel terkait Ahok (Basuki Tjahaja Purnama), ia juga mendapat bully dari banyak orang, Muhammadiyah dan non-Muhammadiyah.

Apa yang bisa dipelajari dari fenomena ini? Pertama, mereka yang berkomentar jahat terhadap Buya itu kemungkinan besar tidak membaca secara utuh tiga tulisan pendeknya tentang PKI di Republika yang berjudul “Isu kebangkitan PKI jadi ritual tahunan” (26/9), “PKI dan kuburan sejarah (1)” (11/7), dan “PKI dan kuburan sejarah (2)” (18/7). Jika mereka membaca dan mencoba memahami, maka akan didapati kesimpulan yang sama sekali berbalik dari tuduhan bahwa Buya sedang membela PKI. Di beberapa bagian dari artikel itu Buya dengan jelas menunjukkan kekejaman PKI dan watak komunisme yang anti-demokrasi dan antikemanusiaan. Buya menegaskan bahwa “rezim komunis tidak pernah ramah kepada kemanusiaan”.

Kedua, mereka yang mem-bully Buya itu hanya melihat kalimat atau kutipan yang dipakai sebagai meme. Kalimat yang merupakan pesan akhir Buya di artikel “PKI dan kuburan sejarah (2)” itu sebetulnya juga memberi keterangan tentang penggunaan isu PKI untuk “tujuan politik kekuasaan”. Sayangnya, kata-kata itu juga tidak diperhatikan. Seandainya yang dikutip dan dibuat meme adalah kalimat “komunisme itu anti-demokrasi dan antikemanusiaan” dan “rezim komunis tidak pernah ramah kepada kemanusiaan”, maka bisa saja ini dipakai sebagi dukungan bagi kelompok yang saat ini mengungkit-ungkit isu PKI untuk tujuan politik. Namun mereka yang sudah benci dan antipati terhadap Buya bisa jadi tak mau melihat itu juga. Mereka sudah benti dan memandang negatif terhadap Buya, apapun yang ia katakan. Ini terlihat dari komentar yang selalu mengaitkan Buya dengan sikapnya terhadap isu Ahok beberapa waktu lalu.

Ketiga, seperti ditulis Merlyna Lim (2017), apa yang dialami Buya adalah contoh dari post-truth politics, dimana kebenaran itu bukan sesuatu yang pertama dan utama. Meski PKI itu sudah tidak ada, namun ketika ia dijual lagi dengan kemasan baru untuk menakut-nakuti rakyat dan dipromosikan sedemikian rupa, maka ia akan terjual juga. Branding baru tentang bahaya PKI dibuat dan di-viralkan. Orang jujur seperti Buya yang dengan baik-baik memberi nasehat lantas di-bully. Sosial media yang pada awalnya disanjung sebagai arena freedom of expression ternyata memiliki efek negatif seperti menurunnya kualitas informasi dan naiknya kebencian terhadap mereka yang berbeda. Upaya tabayyun (merefleksikan dan konfirmasi) terhadap perbedaan dan pertentangan juga sering hilang karena di dunia orang lebih sering bergerombol dengan yang seide (algorithmic enclaves) dan mematikan atau memutus hubungan dengan mereka yang berbeda pandangan.
-oo0oo-


*Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah; Peneliti LIPI

http://koran-sindo.com/page/news/2017-10-04/1/0/Buya_Ahmad_Syafii_Maarif_dan_PKI

Saturday, September 23, 2017

Bulan Sabit Terbit di Atas Pohon Beringin

Bulan Sabit Terbit di Atas Pohon Beringin karya monumental Prof. Mitsuo Nakamura. Edisi yg diperluas akan diluncurkan di UMY, 30 Sep '17. Silahkan hadir! Menjadi saksi penerbitan baru karya serius ttg Muhamadiyah.




Sunday, August 6, 2017

The Educational Value of Sang Pencerah Film by Hanung Bramantyo: Aesthetic Research of Chiaroscuro


Saturday, August 5, 2017

Muhammadiyah's 'progressive Islam': Guideline or tagline?

  • Ahmad Imam Mujadid Rais
    The Jakarta Post
Jakarta | Mon, August 3, 2015 | 06:14 am

Muhammadiyah, the country's second largest Muslim organization, will hold its 47th national congress (muktamar) in Makassar, South Sulawesi, this week. The congress will set up a new agenda for the next five years, including electing a new leader who will replace two-time chairman Din Syamsuddin.
Muhammadiyah's challenges and plans include internal consolidation of leadership, bureaucratic improvement and dealing with external issues of globalization, poverty and lack of education, low quality of human resources and the upcoming integrated ASEAN economic community. 
In response to such challenges, Muhammadiyah's central board in the past years reformulated its movement through the notion of Islam berkemajuan, a hot topic among its members and activists. 
'Progressive Islam', a loose translation of Islam berkemajuan, is clearly a part of the efforts to cope with challenges among its followers and among Indonesian Muslims, challenges which include poverty, injustice and human resources. 
The translation itself is still problematic. Amin Abdullah, a former rector of the UIN Kalijaga, Yogyakarta, described in 2011 the slight differences between Islam berkemajuan, which emerged in the early 20th century, and Islam progresif as understood by academics. But let's just focus on the similarities. 
Since the establishment of Muhammadiyah in 1912, its founder Kyai Haji (revered cleric and haj) Ahmad Dahlan fully understood that Islam is compatible with the idea of being progressive, and that Islam encourages its followers to be the best and reach the highest quality of life in political, economic, social, cultural and religious terms.
The idea of being progressive is deeply entrenched in Muhammadiyah's history. During the colonial period, shortly after Muhammadiyah's establishment, meetings held by Ahmad Dahlan with his students included proposals to build hospitals and orphanages. 
One student, the future cleric KH Syuja, had laughed, saying it was impossible at the time. He later acknowledged confidence in the plans: Dutch people who built hospitals and orphanages, he wrote, 'are ordinary people who also eat rice. If others can do it, I am sure we can do it too.' History has recorded the program as a brilliant achievement for a new-born Muslim organization at the time.
The idea of fastabiqulkhairat (competition in goodness) also deeply inspired Muhammadiyah's activities. As a former chairman of Muhammadiyah, Buya (revered ulema) Syafii Maarif said, doing good deeds through the establishment of massive numbers of Muhammadiyah schools and clinics is not the main focus of the organization ' it is their quality and thus continued improvement. 
According to Muhammadiyah's manifesto at its 46th national congress of 2010 in Yogyakarta, Islam berkemajuan should sow the seeds of truth, goodness, peace, justice, welfare and prosperity.
Islam upholds human dignity of both men and women without discrimination ' and inflames awareness against war, terrorism, violence, oppression, backwardness and all forms of destruction and degradation of life such as corruption, abuse of authority, crimes against humanity and exploitation of nature.
Attempts to summarize the spirit of Islam berkemajuan based on the teachings of Ahmad Dahlan and the writings of his students and companions reveal five features of the concept. 
First is pure faith (tauhid), the central doctrine in Islamic teachings. Muslims committed to tauhid should have high social, intellectual and spiritual awareness. They should be optimists and hard working honest persons with no fear except of Allah. They should have the conviction that life is part of worshiping God. 
Secondly, he or she should have a deep understanding of the primary sources of Islam, the Koran and the Prophet's sayings or hadith.
Third, there should be an institutionalization of charity aimed to solve problems based on the scripture and hadith. For instance, the establishment of hospitals and orphanages are part of the practice of surah Al-Ma'un. The establishment of Muhammadiyah itself is proof of faith as mentioned in surah Ali Imran: 104: to organize others to do good deeds, and prohibit them from committing sins.
Fourth, focus on the present and future. Islam berkemajuan prefers to solve present problems and prepare for the future rather than praise the glories of past Islamic kingdoms. Thus, Muhammadiyah should be well-prepared to overcome current problems and benefit the most from today's developments. Globalization and an integrated ASEAN economic community, for example, provides benefits such as through trade, science and global citizenship, though with negative impacts such as trafficking in persons, drug abuse, conflict and insecurity. 
The rapid development of information and technology also provide tools for Muhammadiyah to contribute through innovations and creativity for Indonesia's development.
Fifth is a focus on being moderate and cooperation-oriented. Amid the resurgence of sectarianism and violent extremism the spirit of Muhammadiyah in its early years were open-mindedness, moderation, tolerance and promotion of dialogue among different groups and beliefs.
For example, in one gathering Ahmad Dahlan invited a leader of the Indonesian Communist Party (PKI) to explain the purpose of the party and their responses toward social and economic problems at that time. At Muhammadiyah's first hospital Ahmad Dahlan himself asked for the assistance of a Catholic physician, since the Muslim community at the time had no doctor.
These examples show that openness and cooperation in social matters is a part of Islamic teaching apart from egalitarianism and self-confidence to promote ideas and beliefs.
Overall, in its post-centennial era, Muhammadiyah must play a pivotal role to make Indonesian society more developed and prosperous. The spirit of Islam berkemajuan becomes a guideline for Muhammadiyah elements to be more proactive, responsive and provide solutions to current problems. To this end Muhammadiyah needs a modern and responsive management, led by strong and capable leaders, comprising a self-confident chairman and solid collegiality among its 13 leaders ' along with a strong vision for the future. Otherwise, the notion of its progressive Islam will be a mere tagline rather than concrete action.
____________________________

... the spirit of Muhammadiyah in its early years were open-mindedness, moderation, tolerance and promotion of dialogue ...
_____________________________

The author is a secretary at LAZIS Muhammadiyah, the organization'€™s alms body, and a researcher at the Maarif Institute for Cultural and Humanitarian Studies. He graduated with a Masters of International Relations from the University of Melbourne, Australia.


http://www.thejakartapost.com/news/2015/08/03/muhammadiyah-s-progressive-islam-guideline-or-tagline.html

Tuesday, August 1, 2017

The Tajdid Movement of Muhammadiyah in Aceh "Negotiating Identity Between Salafism and Modernism"

Niki Alma Febriana Fauzi

Abstract

The Muhammadiyah movement aims to stimulate religious life according to Koran and Sunnah. Nevertheless, many Indonesians still believe that Muhammadiyah refuses to recognize local cultural heritage and traditions. This paper discusses two aspects of Muhammadiyah, namely Salafism and modernism, as elements of tajdid (renewal) that encourage modernity in Aceh. The spirit of tajdid in Muhamadiyah’s perspective has two meanings: (1) purification in akidah and ibadah (worship) in line with the practices of Prophet Muhammad SAW; and (2) tajdid means dynamizing people’s lives with a creative spirit that is suitable to the challenges and demands of modern era.

Keywords

Muhammadiyah, Tajdid, Aceh, Religious Movement.

http://www.jurnaltarjih.or.id/index.php/tarjih/article/view/107/104