Thursday, July 2, 2015

Muazin dari Makkah Darat

Kompas, Jum'at, 3 Juli 2015

Fajar Riza Ul Haq

Ahmad Syafii Maarif genap berumur 80 tahun pada 31 Mei lalu. Bersyukur beliau masih dikaruniai kesehatan dan energi kecendekiaan yang prima. Tidak banyak warga senior bangsa, seperti Buya Syafii, begitu panggilan akrab untuknya, di negeri ini: fisik segar-bugar dan tetap produktif menulis; masih rutin melakukan perjalanan menggunakan pesawat sendirian rute Yogyakarta-Jakarta; tak jarang terbang memenuhi undangan ke kota-kota di luar Jawa, bahkan ke luar negeri, yang sebenarnya sangat melelahkan untuk orang seusianya. Mau tahu makanan favorit putra kelahiran Sumpur Kudus, "Makkah Darat" ini? Tengkleng dan sate kambing!

Beliau nyaris tidak pernah memberikan kesempatan orang lain membawakan tasnya. "Memang Anda pikir saya sudah tidak mampu bawa sendiri?" sergahnya saat ada yang coba-coba membantu membawakannya.

Salah satu ungkapan syukur atas karunia usia panjangnya itu adalah sumbangan tulisan belasan intelektual yang bermuara pada penerbitan buku Muazin Bangsa dari Makkah Darat:Biografi Intelektual Ahmad Syafii Maarif, (Serambi & Maarif, Juni 2015). Biografi intelektual ini merupakan apresiasi dan dukungan para kontributor terhadap pemikiran-pemikiran Buya Syafii dalam bentuk ulasan, pendalaman, kritik, bahkan pengembangan topik-topik yang belum banyak disentuhnya.
Buku ini mengurai relevansi gagasan-gagasan solutif maupun kritis mantan Ketua PP Muhammadiyah ini ketika dihadapkan pada problematika kebangsaan dan kenegaraan. Sosok Buya Syafii, menurut Noorhaidi Hasan, adalah seorang intelektual Muslim Indonesia par exellence yang menekankan semangat moral Islam dalam bernegara.

Mengikuti lika-liku perjalanan hidupnya hingga saat ini, guru besar (emiritus) sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta ini telah mengalami transformasi radikal, utamanya dari sisi spektrum pemikiran dan radius pergaulan. Mulai dari seorang puritan pengagum Al Maududi yang memimpikan negara Islam, pendukung fanatik Partai Masyumi, dan mencurigai proyek "salibisasi" di balik upaya-upaya penghancuran umat Islam; hingga akhirnya meyakini tidak ada kewajiban mendirikan negara agama dan menjadi penganjur setia Negara Pancasila yang senapas dengan nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil 'alamin.

"Kalau aku mengatakan bahwa Islam merupakan pilihanku yang terbaik dan terakhir, hak sama harus pula diberikan secara penuh kepada siapa saja yang mempunyai keyakinan selain itu," tulisnya dalam Memoar Seorang Anak Kampung (2013).

Jihad kebangsaan

Sebagai penduduk mayoritas di negeri ini, masyarakat Muslim memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan cita-cita keadilan sosial segera terwujud tanpa pilih kasih. Sudah sejak merdeka, sila ke-5 Pancasila itu jadi yatim piatu. Kegelisahan Buya Syafii ini mendeterminasi dirinya sangat keras menentang praktik- praktik korupsi, mafia pengadilan, mafia pangan, dan realitas kesenjangan pendapatan yang kian dalam. Faktanya, kemiskinan terus mencengkeram sebagian besar anak bangsa. Ketidakadilan ekonomi makin menggurita.

Namun, Buya Syafii tak lelah melakukan jihad kebangsaan, meski harus berhadapan dengan tembok kepentingan-kepentingan elite politik, oligarki partai, bahkan para pemburu rente. Ia pun tak jenuh mengingatkan masyarakat Muslim agar terus berbenah meningkatkan kualitasnya ketimbang terobsesi dengan penambahan kuantitas karena bisa seperti buih di lautan.

Pembelaannya terhadap agenda pemberantasan korupsi sangat terang-benderang. Korupsi hulu dari kemiskinan. Saat mencuat pro-kontra pelantikan Budi Gunawan sebagai Kepala Polri, Buya Syafii salah satu tokoh yang paling vokal menolak. Banyak pihak mempertanyakan bahkan mencibir sikapnya yang cenderung membela Presiden Joko Widodo ketika bersikukuh bahwa Budi Gunawan tidak akan dilantik sesuai pembicaraannya dengan Jokowi via telepon. Suara-suara yang tidak setuju menyayangkan posisi Buya Syafii yang seolah- olah bertindak sebagai "bemper" pemerintah.
Kekecewaan sebagian besar warga Muhammadiyah terhadap Jokowi-JK yang tidak mengakomodasi kader Muhammadiyah dalam Kabinet Kerja tidak memengaruhi kejernihan seorang Buya Syafii di tengah gejolak polemik Polri-KPK. Dalam satu kesempatan, penulis menanyakan persoalan ini kepada Buya. "Ini semata-mata demi KPK, satu-satunya lembaga yang masih dipercaya publik untuk memberantas korupsi", ujarnya.

Figur Buya Syafii sudah tak terpisahkan lagi dari arus gerakan masyarakat sipil yang memperjuangkan keadaban publik dan pelembagaan prinsip-prinsip keadilan dalam tata pemerintahan. Mungkin agak berlebihan, beragam kalangan mendaulatnya sebagai simbol dari jangkar moralitas publik. Oleh karena itu, guru besar etika Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, Alois A Nugroho, menyebut sosok Buya Syafii sebagai seorang "muazin moralitas bangsa" (Juni, 2015). Mengapa? Itu karena Buya Syafii tak lelah berseru-seru kepada politisi dan birokrat negara agar menjauhi mentalitas "thugocracy"(maling/pancilok dalam bahasa Minang).

Secara harfiah, muazin adalah sang pengingat. Ia berseru-seru tiada lelah mengingatkan orang- orang untuk menunaikan shalat dan menggapai kebahagiaan. Jika diterapkan dalam konteks kehidupan berbangsa, muazin dapat dimaknai sebagai seseorang yang konsisten menyuarakan nilai-nilai moralitas dan keadaban publik serta mengingatkan penguasa dan segenap warga negara untuk terhindar dari perilaku-perilaku mungkar (buruk) yang destruktif, yang jauh dari rasa keadilan.
Menurut hemat penulis, ada titik temu-bahkan saling bersenyawa-antara spirit seorang muazin dan pesan historis dari "Makkah Darat", julukan kampung kelahiran Buya Syafii di Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Frasa "Makkah Darat" sendiri berasal dari sejarah Minangkabau era Islam yang sudah tertimbun debu sejarah selama ratusan tahun. Makkah Darat, ungkap Buya dalam otobiografinya, merepresentasikan simbol pusat Islam di pedalaman Minang yang memiliki sejarah panjang dalam proses pergumulan Islam dengan kultur Hindu-Buddhis.

Istilah ini melambangkan gerak perlawanan terhadap budaya hitam yang dikuasai para parewa (preman), yang masih berlangsung hingga era Islam, bahkan sampai sekarang. Spirit Makkah Darat adalah budaya perlawanan terhadap pelbagai budaya yang mendegradasikan martabat manusia dan mengorupsi rasa keadilan.

Saat bertemu Gubernur DKI Jokowi pada 1 Agustus 2013 di Maarif Institute, secara khusus Buya menanyakan pandangan sang tamu terkait budaya mafia di kalangan birokrasi yang berkroni dengan politisi busuk dan pengusaha-pengusaha hitam. Seingat penulis, jawaban Jokowi cukup standar. Praktik kotor semacam itu harus diberantas. Dan kini kita semua tahu, Presiden Jokowi berulang-ulang mendeklarasikan komitmennya perang melawan mafia bisnis, tetapi masih belum terlihat kebijakan-kebijakan radikal yang terukur.

Lazimnya seorang muazin yang tak peduli siapa pun imamnya, Buya Syafii akan selalu tetap menyuarakan hal-hal yang diyakininya benar. Tidak akan pernah berkompromi terhadap kemungkaran politik dan praktik-praktik kumuh bernegara yang sudah terbukti memunggungi nilai-nilai luhur Pancasila. Menyaksikan Tanah Air-nya disinari keadilan dan dinaungi kesejahteraan akan menjadi kado terindah Buya Syafii di usia magribnya. Semoga.

 Fajar Riza Ul Haq Direktur Eksekutif Maarif Institute

Islam Nusantara vs. Islam Berkemajuan

Koran Sindo, Jum'at 3 Juli 2015



Ahmad Najib Burhani*

Muhammadiyah dan NU (Nahdlatul Ulama) akan menyelenggarakan Muktamar pada waktu yang berdekatan, yakni minggu pertama Agustus 2015. Tema yang diangkat sekilas mirip: Muhammadiyah “Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan” dan NU “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”. Meski terlihat bersinggungan, namun “Islam berkemajuan” dan “Islam Nusantara” adalah respon yang berbeda terhadap fenomena yang sama, yaitu globalisasi, terutama globalisasi kebudayaan, baik dalam bentuk Arabisasi ataupun Westernisasi.

Globalisasi sering dipahami sebagai proses penyatuan dunia dimana waktu, jarak dan tempat bukan lagi persoalan dan ketika setiap hal dan setiap orang di bumi ini terkait satu sama lain. Ada empat pergerakan utama dalam globalisasi, yaitu: barang dan layanan, informasi, orang, dan modal. Perpindahan keempat hal tersebut dari satu negara ke negara lain memang telah terjadi sejak dahulu kala. Namun perpindahan dengan sangat cepat hanya terjadi setelah revolusi dalam teknologi telekomunikasi dan transportasi pada beberapa dekade belakangan ini. Akibat dari revolusi itu, dimensi jarak dan waktu menjadi semakin kabur dan sedikit demi sedikit menghilang.

Dalam konteks Indonesia, globalisasi ini menyebabkan masyarakat secara mudah mengakses informasi dari luar ataupun berinteraksi secara intens dalam sebuah ruang global. Ketika ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) mendeklarasikan kekhilafahan dibawah Abu Bakar al-Baghdadi, kita dikejutkan dengan adanya sejumlah orang Indonesia yang sudah bergabung dengan mereka di Timur Tengah dan sebagian dari mereka merekrut anggota di Indonesia serta melakukan baiat di UIN (Universitas Islam Negeri) Jakarta. Ketika konflik Sunni dan Syiah terjadi di Suriah, pengaruhnya merembet ke Indonesia dengan munculnya gerakan anti-Syiah seperti dalam bentuk ANNAS (Aliansi Nasional Anti-Syiah).

Globalisasi juga menyebabkan Trans-National Capitalist Network (TNC) masuk dalam kehidupan masyarakat dan menyedot kekayaan yang mestinya diperuntukkan untuk kesejahteraan rakyat. Bekerjasama dengan ‘komprador’, para kapitalis global itu menciptakan jurang yang begitu lebar antara mereka yang kaya dan miskin seperti terjadi di daerah penambangan Freeport di Papua.

Filosofi yang mendasari globalisasi adalah asimilasionisme. Dalam filosofi ini, yang kuat akan mendominasi yang lemah. Makanya, dalam globalisasi budaya, salah satu dampaknya adalah homogenisasi. Ini, misalnya, terwujud dalam bentuk McWorld atau McDonaldization. Contoh lainnya adalah memandang Islam secara homogen dengan mengidentikkannya dengan Arab dan Arabisasi.

Islam Nusantara
Homogenisasi ini tentu tidak serta merta diterima oleh masyarakat. Respon balik atau resistensi terhadap homogenisasi ini diantaranya dalam bentuk indigenization. Islam Nusantara yang dipopulerkan anak-anak NU dan menjadi tema Muktamar NU ke-33 di Jombang pada 1-5 Agustus nanti adalah satu bentuk respon terhadap globalisasi dengan melakukan indigenisasi.

Islam Nusantara merupakan istilah yang sering dipakai untuk mengacu kepada Islam ala Indonesia yang otentik; langgamnya Nusantara, tapi isi dan liriknya Islam; bajunya Indonesia, tapi badannya Islam. Ide Islam Nusantara ini berkaitan dengan gagasan “pribumisasi Islam” yang pernah dipopulerkan almarhum KH Abdurrahman Wahid. Penggunaan resmi nama ini diantaranya adalah dalam Jurnal Tashwirul Afkar edisi no. 26 tahun 2008.

Munculnya Islam Nusantara adalah bagian dari apa yang biasanya disebut sebagai “paradoks globalisasi”. Dalam istilah TH Erikson (2007, 14), “Semakin orang mengglobal seringkali dia menjadi semakin terobsesi dengan keunikan budaya asalnya.” Dalam kalimat ilmuwan lain, “ketika dunia semakin global maka perbedaan-perbedaan kecil antar umat manusia itu semakin ditonjolkan” (Ang 2014, 10). Banyak yang menduga bahwa semakin kita mengenal dunia luar dan kelompok yang berbeda, maka kita menjadi semakin terbuka. Namun seringkali yang terjadi tidak sejalan dengan logika itu. Di tengah globalisasi, banyak orang yang semakin fanatik dan tidak menerima perbedaan serta pluralitas. Ini misalnya terjadi dalam beberapa pilkada yang “mengharuskan” putra daerah yang dipilih. Dalam konteks dunia, justru di era globalisasi ini hampir setiap tahun kita melihat kemunculan negara baru dalam keanggotaan PBB.

Tentu saja respon terhadap globalisasi dalam bentuk “Islam Nusantara” adalah pilihat terbaik dibandingkan dengan penolakan total atau penerimaan total. Dalam merespon terhadap globalisasi, terutama yang datang dari Barat, beberapa kelompok agama justru mencari perlindungan dalam homogenitas dan eksklusivitas kelompoknya. Sepertinya kedamaian itu bisa terjadi dengan menolak keragaman atau sesuatu yang asing. Di tengah globalisasi, banyak orang yang mencoba menutup diri dan menghalangi orang yang berbeda hadir di tengah masyarakat. Fenomena munculnya perumahan atau cluster perumahan eksklusif untuk komunitas agama tertentu adalah misal. Bahkan kuburan/ pemakaman dan rumah kos pun kadang dibuat untuk pengikut agama tertentu. Respon terhadap globalisasi yang lebih buruk lagi tentu saja seperti dalam bentuk redikalisme dan terorisme. Islam Nusantara bisa menjadi respon yang sangat baik terhadap globalisasi jika ia tidak mengarah kepada parokhialisme dan sektarianisme.

Islam Berkemajuan
Respon lain terhadap globalisasi ditampilkan oleh Muhammadiyah dengan slogan “Islam berkemajuan”. Sebelum tahun 2009, slogan ini  jarang terdengar bahkan di kalangan Muhamadiyah sendiri. Ia baru diperkenalkan kembali, setelah cukup lama terpendam, dengan terbitnya buku berjudul Islam Berkemajuan: Kyai Ahmad Dahlan dalam Catatan Pribadi Kyai Syuja’ (2009). Buku yang ditulis oleh murid langsung Kyai Dahlan ini diantaranya menjelaskan seperti apa karakter Islam yang dibawa oleh Muhammadiyah. Istilah yang dipakai oleh Muhammadiyah awal untuk menyebut dirinya adalah “Islam berkemajuan”. Pada Muktamar di Yogyakarta tahun 2010, istilah ini lantas dipakai dan dipopulerkan untuk mengidentifikasi karakter ke-Islaman Muhammadiyah.

Dalam kaitannya dengan globalisasi, Islam berkemajuan itu sering dimaknai sebagai “Islam kosmopolitan”, yakni kesadaran bahwa umat Muhammadiyah adalah bagian dari warga dunia yang memiliki “rasa solidaritas kemanusiaan universal dan rasa tanggung jawab universal kepada sesama manusia tanpa memandang perbedaan dan pemisahan jarak yang bersifat primordial dan konvensional” (Tanfidz Muhammadiyah 2010, 18). Mengapa Islam kosmopolitan menjadi pilihan Muhammadiyah? Muhammadiyah menyadari bahwa kelahirannya merupakan produk dari interaksi Timur-tengah dan Barat yang dikemas menjadi sesuatu yang otentik di Indonesia. Ia memadukan pemikiran Muhammad Abduh, sistem yang berkembang di Barat, dan  karakter Indonesia. Karena itu, kosmopolitanisme yang dikembangkan Muhammadiyah diharapkan menjadi wahana bagi untuk dialog antar peradaban.

Ringkasnya, kelahiran dari slogan “Islam Nusantara” dan “Islam berkemajuan” memiliki kemiripan dengan apa yang terjadi pada tahun 1920-an. Ketika itu, sebagai respon terhadap berbagai peristiwa di Arabia dan Turki (comite chilafat dan comite hijaz), maka lahirlah NU. Sementara Muhammadiyah lahir sebagai reaksi terhadap penjajahan, misi Kristen, pemikiran Abduh, dan budaya Jawa. Bisa dikatakan bahwa apa yang terjadi saat ini adalah semacam Déjà vu.
-oo0oo-

*Peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)

http://nasional.sindonews.com/read/1019580/18/islam-nusantara-vs-berkemajuan-1435886805

Monday, June 29, 2015

Rumah Antik Milik Keluarga KH Ahmad Dahlan di Bangkok

Laporan dari Thailand
Rumah Antik Milik Keluarga KH Ahmad Dahlan di Bangkok
Avitia Nurmatari - d'traveler - Jumat, 26/06/2015 09:02 WIB

Rumah cucu KH Ahmad Dahlan (Avitia/detikTravel)
 Bangkok - Java Mosque lambat laut menjadi destinasi wisata muslim di Bangkok, Thailand. Masjid itu dulunya dibangun para imigran Jawa, termasuk keluarga KH Ahmad Dahlan. Rumah antik keluarga mereka menarik untuk ditengok.

KH Ahmad Dahlan adalah tokoh nasional pendiri Muhammadiyah, salah satu anaknya dulu pindah ke Thailand bersama beberapa orang Jawa. Mereka mendirikan pemukiman Jawa di Jalan Soi Charoen Rat 1 Yaek 9 di kawasan Sathorn, Bangkok, Thailand. Lokasinya dekat Stasiun BTS Surasak.

Saat detikTravel berkunjung ke sana beberapa pekan lalu, tidak hanya Java Mosque yang menarik perhatian saya. Sebuah rumah antik sangat menarik perhatian mata. Konsep arsitektur bergaya Eropa di tengah-tengah pemukiman padat penduduk cukup mencolok meski sedikit tertutup benteng di sekelilingnya.

Rumah cantik tersebut ternyata dihuni oleh cucu dari pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan yakni Marifah Dahlan. Interior luar rumah Marifah terkesan seperti rumah-rumah Eropa kolonial. Rumah bagian luar dicat warna-warna pastel. Suasana Eropa semakin kental dengan penambahan kursi-kursi taman.

Kedatangan detikTravel disambut baik. Marifah mempersilakan masuk ke ruangan yang sangat sejuk. Berbeda dengan interior luar rumah yang bergaya Eropa, interior dalam rumah sangat Indonesia dan mendominasi furnitur dari kayu jati mulai dari meja, lemari dan kursi.

Yang menarik, hampir di semua sudut di ruangan itu diisi oleh foto-foto keluarga. Ada juga di salah satu sudut, beberapa penghargaan yang diperoleh oleh ibunya Marifah yakni Zahara. Di sudut lainnya juga terdapat silsilah keluarga KH Ahmad Dahlan yang dipajang dalam bingkai kayu.

Marifah bercerita, dia merupakan generasi ketiga dari keluarga KH Ahmad Dahlan. Rumah tersebut sudah berusia lebih dari 100 tahun.Next


Rumah ini bergaya Eropa-Jawa (Avitia/detikTravel)
"Rumah ini direnovasi 35 tahun lalu. Bagian dalam tetap dipertahankan," ujar putri dari Irfan Dahlan saat berbincang dengan detikTravel.

Pemakaian kayu jati bukan tanpa alasan. Marifah menuturkan, KH Ahmad Dahlan pernah berjualan kayu jati ke China.

"Sehingga semuanya di ruangan ini memakai kayu jati," tutur Marifah.

Berada di rumah Marifah sangat nyaman dan bikin betah, serasa menemukan rumah yang Indonesia sekali. Meja makan diberi taplak meja dari kain tenun etnik. Lalu kursi dan sarung bantal kursi juga memakai kain dan motif Nusantara. Sungguh rumah yang cantik! Jika Anda berwisata religi ke Java Mosque di Bangkok, jangan lupa untuk melongok kecantikan rumah ini juga ya.

http://travel.detik.com/read/2015/06/26/090225/2952852/1520/rumah-antik-milik-keluarga-kh-ahmad-dahlan-di-bangkok

Friday, June 19, 2015

Obituari Dr. Said Tuhuleley: Muhammadiyah dan Pemberdayaan Masyarakat



Koran Sindo, Jum'at, 19 Juni 2015, hal. 8.

Obituari Dr. Said Tuhuleley
Muhammadiyah dan Pemberdayaan Masyarakat
Oleh Ahmad Najib Burhani*

Di luar komunitas Muhammadiyah, mungkin banyak yang tidak mengenal sosok Said Tuhuleley. Tapi bagi orang Muhammadiyah dan mereka yang mempelajari gerakan ini, maka dalam diri Pak Said Tuhuleley inilah jadi diri, karakter, dan kepribadian Muhammadiyah dapat ditemukan secara jernih.

Muhammadiyah, melalui UMM (Universitas Muhammadiyah Malang), menganugerahkan gelar kehormatan Doktor Honoris Causa (Dr. HC) kepada Pak Said pada Desember 2014 lalu. Penghargaan itu diberikan atas kegiatan akademik dan pemberdayaan masyarakat yang dilakukannya selama ini. Gelar itu adalah yang pertama diberikan UMM sejak kampus itu berdiri tahun 1964. Di lingkungan kampus Muhammadiyah seluruh Indonesia, gelar itu juga sedikit yang pernah diberikan kepada seseorang. Presiden Sukarno, misalnya, pernah mendapatkannya dari UMJ (Universitas Muhammadiyah Jakarta) tahun 1965. Enam bulan setelah Muhammadiyah memberikan penghargaan kepada kader terbaiknya, Pak Said dipanggil Yang Maha Kuasa untuk selamanya pada Selasa 9 Juni lalu.

Mengapa bisa dikatakan bahwa potret Muhammadiyah bisa dilihat pada sosok Pak Said? Sejak lahirnya pada 1912, inti dari gerakan Muhammadiyah sering diringkas dalam tiga kata: feeding (santunan dan pemberdayaan), schooling (pendidikan), dan healing (pengobatan dan penyehatan). Tiga gerakan inilah yang menyebabkan Muhammadiyah mampu memiliki 7.227 PAUD, TK, TPA, dan SD/MI; 2.915 SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK; 67 pesantren; 172 universitas, akademi, dan politeknik; 457 rumah sakit, klinik, dan poliklinik; serta 454 panti asuhan, rumah jompo, dan pusat rehabilitasi cacat (Maarif 2012). Bila dibandingkan dengan ormas Islam lain, baik ditingkat nasional maupun global, maka apa yang dimiliki Muhammadiyah itu adalah yang terbanyak. Tak ada ormas Islam dari negara manapun yang memiliki amal usaha sebanyak yang dimiliki oleh Muhammadiyah.

Namun demikian, sebagaimana berulangkali disampaikan oleh almarhum Pak Said, konsep dan
praktik amal usaha yang dilakukan oleh Muhammadiyah saat ini berbeda dari Muhammadiyah awal. Apa yang dilakukan Muhammadiyah pada dekade-dekade belakangan ini tidak bisa masuk pada definisi murni dari “amal usaha” dimana sebuah kegiatan sosial hanya berharap pahala akhirat dan orientasinya adalah untuk membantu orang miskin, terpinggirkan, dan tertindas. “Amal usaha Muhammadiyah pun dikelola sebagai industri jasa dan dilepaskan dari pengarusutamaan pemberdayaan rakyat miskin, sebagaimana Muhammadiyah pada periode awal ketika masih dipimpin K.H. Ahmad Dahlan” (Tuhuleley 2015).

Apa yang dilakukan Pak Said, terutama sejak Muktamar Muhammadiyah di Jakarta tahun 2000, adalah menggali dan mengangkat kembali prinsip yang melandasi gerak Muhammadiyah awal, serta memakanai dan mengimplementasikan dalam bentuk baru. Prinsip dari gerakan Muhammadiyah awal yang hendak dibangkitkan kembali oleh pak Said itu terutama adalah humanitarianisme non-sektarian. Prinsip ini mengacu pada berbagai dokumen sejarah yang menyebutkan bahwa “Pertolongan Moehammadijah b/g PKO itoe, boekan sekali-sekali soeatoe djaring kepada manoesia oemoemnja, soepaja dapat menarik hati akan masoek kepada agama Islam atau perserikatan Moehammadijah, itoe tidak, akan tetapi segala pertolongannja itoe semata-mata karena memenoehi kewadjiban atas agamanja Islam terhadap segala bangsa, tidak memandang agama” (Almanak Moehammadijah 1929).

Prinsip itu diterjemahkan oleh MPM (Majelis Pemberdayaan Masyarakat), dibawah pimpinan Pak Said, dalam bentuk pemberdayaan dan pertolongan kepada semua masyarakat tanpa memandang latar belakang agama dan golongan. Ini, misalnya, diwujudkan dalam bentuk bantuan dan advokasi terhadap komunitas Syiah Sampang yang mengalami diskriminasi dan pengusiran. Ketika banyak lembaga filantropi yang enggan membantu Syiah karena dianggap sebagai komunitas sesat, Muhammadiyah tak ragu ikut membantu dan mendampingi mereka.

Untuk metode pemberdayaan, Pak Said sering menekankan perbedaan antara zaman Muhammadiyah awal dan sekarang. Dulu banyak orang yang miskin karena kita hidup dibawah penjajahan. Sekarang ini banyak orang yang menjadi miskin, tak berdaya, dan termarjinalkan karena adanya kapitalisme global. “Kini kekuasaan TNC (Trans-National Capitalist Network) telah menaklukkan ekonomi negara yang sesungguhnya diperuntukkan bagi menegakkan kedaulatan dan kesejahteraan rakyat… kekuasaan TNCs yang besar seperti itu dimungkinkan terjadi karena ada perselingkuhan dengan elite nasional, kaum ‘komprador’” (Tuhuleley 2015). Orang menjadi miskin bukan karena malas bekerja. Banyak orang miskin yang justru bekerja 24 jam sehari dan tujuh hari dalam seminggu. Mereka menjadi miskin karena kondisi nasional dan global yang tidak memungkinkan mereka bangkit dari kemiskinannya.

Pak Said tidak hanya berkata, berdiskusi, dan berteori. Ia adalah ujung tombak dari gerakan melawan kemiskinan. Ia mengembalikan arti PKO dari “Pemberdayaan Kesejahteraan Ummat” kepada makna awal “Penolong Kesengsaraan Oemoem”, yang mengindikasikan bahwa PKO bukan hanya untuk umat Islam, tapi untuk semua manusia. Ia memilih untuk hidup membujang hingga meninggal dunia dan mendedikasikan umurnya (62 tahun) untuk Muhammadiyah, bangsa, dan kemanusiaan. Ia mendirikan beberapa Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pertanian Terpadu untuk memberdayakan masyarakat.

Pak Said tak pernah berhenti bekerja meski dalam kondisi sakit. Semboyan yang selalu diulangnya adalah, “Selama rakyat masih menderita, tidak ada kata istirahat.” Memang misi Pak Said belum sepenuhnya berhasil. Masih banyak orang yang miskin dan menderita. Tapi Tuhan telah memintamu untuk istirahat. Biarlah kami yang melanjutkan misi dan semangatmu. Selamat jalan Pak Said. Semoga engkau damai di sisi-Nya.
-oo0oo-

*Aktivis Muhammadiyah, Peneliti LIPI, dan doktor dari Universitas California – Santa Barbara

Saturday, June 13, 2015

Said Tuhuleley: Aktivis Sejati yang Autentik

In Memorium:

SAID TUHULELEY: AKTIVIS SEJATI YANG AUTENTIK

 Oleh Hajriyanto Y. Thohari

AKTIVIS Dr. (H.C.) Drs. H. Said Tuhuleley, MM., Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dalam dua periode (Periode 2005-2010 dan 2010-2015) yang sangat dinamis itu, meninggalkan kita tanggal 9 Juni 2015, malam, jam 23.33, di RS Dr. Sardjito, Yogyakarta, setelah menderita sakit dan dirawat beberapa lama di RS PKU Muhammadiyah. Putra Ambon yang lahir di Saparua 62 tahun yang lalu itu, menghabiskan sebagian besar hidupnya dan perjuangannya di Yogyakarta. Keluarga besar Muhammadiyah dan bangsa Indonesia kehilangan seorang aktivis yang sangat autentik (baca: tulen) yang mengabdikan dirinya sepanjang hidupnya untuk masyarakat lemah dengan prinsip sepi ing pamrih ramai ing gawe yang jauh dari pretensi politik, apalagi pencitraan dan publikasi. 
Pak Said, demikian ia biasa disapa, adalah aktivis sejati yang benar-benar total dan autentik. Ketika mahasiswa dia adalah aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan organisasi intra-universitas, bahkan pernah dipercaya menjadi Ketua Dewan Mahasiswa (DM) IKIP Yogyakarta (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta, UNY) Periode 1977-1978, sebelum di-breidel oleh pemerintah. Setelah lulus sebagai sarjana Matematika (1982) dia menjadi aktivis Majelis Tabligh PP Muhammadiyah (1985-1990). Dari otak dan tangannya lahir sebuah lembaga yang namanya sangat unik, Bengkel Dakwah Muhammadiyah dan Laboratorium Dakwah yang menghasilkan Peta Dakwah yang terkenal itu yang kemudian diikuti dengan pelatihan-pelatihan instruktur dakwah (LID) yang digelar oleh Majelis Tabligh PP Muhammadiyah di seluruh Indonesia.
Sebagai akademisi, Said Tuhuleley sempat bekerja sebagai dosen dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pendidikan (LP3), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Pada waktu yang hampir bersamaan juga menjadi sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi PP Muhammadiyah, sebuah majelis yang boleh dikatakan baru (1990-an) dalam kelembagaan PP Muhammadiyah. Said bersama-sama dengan almarhum M. Jazman Al-Kindi berperan besar pada masa-masa formasi kelembagaan baru itu yang kemudian melahirkan embrio bagi perkembangan Perguruan-Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) yang kini mencapai jumlah 194 PTM, baik dalam bentuk universitas maupun sekolah tinggi, besar dan menengah.


Tetapi di atas segalanya, yang paling fenomenal adalah ketika sejak sepuluh tahun terakhir ini Pak Said dipercaya menjadi ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) melanjutkan rintisan Lembaga Tani, Buruh, dan Nelayan PP Muhammadiyah yang dipimpin oleh almarhum Dr. Muslim Abdurrahman yang tak kalah fenomenalnya itu. Pak Said lah yang berhasil secara gemilang melanjutkan, menyempurnakan, dan mengongkritkan langkah-langkah avant garde dari Dr. Muslim Abdurrahman. Pada sejatinya keduanya lah yang memulai melakukan langkah-langkah ekstensifikasi gerakan Muhammadiyah sehingga merambah dunia buruh, tani, dan nelayan, bidang yang selama ini berada di luar mainstrem gerakan Muhammadiyah. Muhammadiyah yang biasanya dikenal lebih menekuni bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial, di tangan Pak Said dan Mas Muslim mulai merambah dunia petani, buruh dan nelayan.

Pejuang mainstream baru

Dalam sepanjang aktivismenya Said Tuhuleley menunjukkan dirinya sebgai seorang yang sangat peduli dengan rakyat miskin dan kaum dhuafa. Dan dia sangat konsisten dengan ideologi itu. Dalam kesempatan Semiloka di Universitas Muhammadiyah Surakarta (2011) yang diikuti oleh MPM Wilayah dan Daerah se-Indonesia yang dibentuknya dan Lembaga Pengabdian Masyarakat PTM se-Indonesia pula, Said Tuhuleley menyatakan ketidakterimaannya bahwa 60% penduduk Indonesia yang bekerja pada sektor pertanian, peternakan, dan perikanan adalah miskin. Padahal mayoritas penduduk Indonesia memiliki mata pencaharian di sektor ini. Menurut pengamatannya pertanian rakyat, seperti tanaman pangan misalnya, telah mengalami leveliing-off:  pertanian dan masyarakat tani telah mengalami proses pemiskinan sistemik dan masif sehingga berapa pun input yang diberikan, produksi padi petani tidak bertambah. Hal ini ditambah dengan seringnya terjadi perubahan musim yang tak menentu, bencana alam, dan faktor-faktor lainnya, mengakibatkan seringnya terjadi kegagalan panen yang tambah merugikan para petani.

Berbeda dengan di Jepang, misalnya, petani dan buruh tani di Indonesia juga tidak memiliki posisi tawar yang baik, bahkan posisi tawarnya sangat rendah. Maka tidak mengherankan apabila perhatian pemerintah sangat kecil terhadap petani, buruh, dan nelayan. Bahkan banyak sekali kebijakan pemerintah yang langsung maupun tidak langsung merugikan mereka. Oleh karenanya, dalam pandangan Said Tuhuleley,  MPM perlu memberikan perhatian lebih serius pada advokasi kebijakan publik yang tidak sensitif dan akomodatif terhadap kehidupan rakyat miskin yang semakin terpinggirkan ini. Dengan upaya-upaya yang serius, sistematis, dan berkesinambungan ini, diharapkan kapasitas, daya saing, posisi tawar, dan intensitas pemberdayaan terhadap masyarakat golongan ini dapat diangkat dan ditingkatkan.

Sebagai ketua MPM dua periode baca: satu dasawarsa), Pak Said benar-benar intensif dan total menggeluti kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat. Dalam konteks gerakan Muhammadiyah sebelumnya bidang ini –mungkin agak dramatis dan tidak terlalu tepat--  bisa disebut non-mainstream atau bukan kelompok bidang yang menjadi arus utama. Pak Said berambisi besar menjadikan bidang yang non-mainstream ini hadir menjadi pembeda bagi gerkan Muhammadiyah abad pertama dan Muhammadiyah abad kedua. Maka menjelang memasuki abad yang kedua Muhammadiyah perlu merambah dan melakukan ekstensifikasi kegiatan ke bidang yang relatif baru bagi Muhammadiyah ini. Bersama trio-putra Saparua lainnya (Dr. Syafii Latuconsina pakar dan praktisi pertanian organik serta Iqbal Tuasikal, praktisi koperasi), Said Tuhuleley dengan MPM-nya berjalan berkeliling mengunjungi daerah-daerah dan cabang-cabang membimbing petani, buruh, dan nelayan untuk diberbadayakan.

Dengan dana Lazismu (Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Shadaqah Muhammadiyah), sebuah lembaga filantropi Muhammadiyah yang juga relatif baru, Pak Said menjadi semakin keranjingan dengan program-program pemberdayaan masyarakat. Dia membina petani-petani di Kokoda (Kabupaten Sorong, Papua Barat), petani Kakao di Sumatera Barat, nelayan di danau Maninjau  (Sumatera Barat), petani di Sidoarjo, Karanganyar, Klaten, Kebumen, Ambon, Sulawesi Selatan, bahkan Aceh, dan daerah-daerah pelosok Indonesia. Selaku Ketua Lazismu Muhammadiyah saya kewalahan mengikuti aktivitas Pak Said yang sangat tinggi sehingga hanya mampu menyertainya pada saat-saat panen raya, itupun sebagian kecil saja. Bachtiar Kurniawan, sekretaris MPM yang masih sangat muda belia itu pun menyatakan kewalahannya mengikuti irama Pak Said dalam bekerja. Tapi dia sangat beruntung berkesempatan untuk belajar banyak hal dari Said Tuhuleley selama melayaninya bekerja memberdayakan kaum dhuafa dengan penuh keikhlasan melalui MPM.

Intelektul sekaligus aktivis

Tidak syak lagi Said bukan hanya seorang pekerja (man of action), tetapi juga sekaligus intelektual (man of reflection). Di dalam dirinya tercermin ativisme sekaligus intelektualisme. Dan dia memang bisa memadukan keduanya itu, aktivisme dan intelektualisme, dengan sangat baik dan serasi: dia adalah aktivis dan intelektual yang par excellence. Seluruh program pemberdayaan masyarakat yang dilakukannya didasarkan pada -dan ditopang dengan- ilmu pengetahuan yang secara konseptual memadai sehingga selalu memiliki nilai-nilai strategis yang tinggi, terutama jika diletakkan dalam konteks kerja pemberdayaan masyarakat dan kerja-kerja kemanusiaan.

Sebagai intelektual yang bergerak bukan hanya di tataran praksis, Pak Said menulis banyak buku, di antaranya Masa Depan Kemanusiaan (2003) setebal 215 halaman bersama Adde Marup WS dan Haedar Nashir; Pendidikan: kemerdekaan diri, dan hak si miskin untuk bersekolah  (Pusat Studi Muhammadiyah, 2005 - 184 halaman); Permasalahan abad XXI: sebuah agenda: kumpulan karangan (SIPRESS, 1993 - 202 halaman); Profile Anggota Muhammadiyah, dan banyak artikel ilmiah tentang pemberdayaan masyarakat. Tulisan-tulisannya sangat bbanyak dan artikulatif mengingat dia juga menjadi Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Jurna Ilmiah Inovasi yang diterbitkan oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Benang merah pemikiran Said Tuhuleley, sebagaimana tampak dari tulisan-tulisannya tersebut, adalah bahwa dalam masyarakat yang pluralistik tak ada kemungkinan untuk mengembangkan sebuah etos kemanusiaan bersama kecuali atas dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Cita-cita humanistik tersebut tidak menjauhkan dari ketuhanan, meskipun dari sejarah humanisme, kita tahu bahwa humanisme memang dipergunakan untuk menjauhkan manusia dari agama. Tetapi baginya tidak ada alasan mengapa kemanusiaan dilepaskan oleh orang-orang beragama kepada orang-orang tidak beragama. Baginya kerja kemanusiaan adalah bagian integral dari kerja keagamaan.

Itulah sebabnya mengapa Said sangat membuncah hatinya ketika gerakan  Muhammadiyah dengan penuh antusiasme merambah ke dunia pertanian dan nelayan. Baginya kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat petani dan nelayan merupakan implementasi dari kan apa yang dikenal dengan Teologi Al-Ma’un yang juga dirumuskan dan dielaborasi oleh Dr. Muslim Abdurrahman dari ajaran KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah,  atau gagasan Tauhid Sosial yang dilontarkan oleh Prof Dr Amien Rais, Ketua PP Muhammadiyah (1995-2000), dan Islam Berkemadjoean KH Ahmad Dahlan yang direinterpretasikan dan direaktualisasik oleh Dr. Din Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah (2005-2010 dan 2010-2015) dalam gerakan pencerahan peradaban atau tanwir itu. Dalam konteks dan perspektif ini tidak berlebihan lah manakala saya menyatakan dengan tegas bahwa Said Tuhuleley adalah kekuatan operasional dari gagasan-gagasan Teologi al-Ma’un, Tauhid Sosial, dan Islam Berkemajoean itu.

Berkat pemikiran-pemikirannya yang mendalam (reflektif) dan membumi (praksis), serta aktifitas nyata yang total melalui MPM PP Muhammadiyah itu, Said Tuhuleley dianugerahi penghargaan Doctor Honoris Causa (H.C.) dalam bidang Pemberdayaan Masyarakat oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dia  berhasil secara gemilang mendorong dan menggerakkan Muhammadiyah untuk mulai merambah dalam bidang pemberdayaan masyarakat dhuafa yang memerlukan bantuan dan sentuhan perhatian. Prof Malik Fadjar selaku Promotor dan Prof. Dr. Ishomuddin, MS, sebagai Co-Promotor, telah dengan tepat menilai bahwa Said Tuhuleley adalah tokoh Muhammadiyah, umat, dan bangsa yang telah terbukti mengembangkan ilmu pengetahuan dan konsisten mengamalkannya untuk masyarakat dan kemanusiaan dengan penuh dedikasi. Ilmu tanpa amal adalah laksana pohon yang tidak berbuah, dan amal tanpa ilmu akan kehilangan konteks sosial dan historisnya.

Muhammadiyah dan bangsa ini beruntung mendapatkan kader dengan kualifikasi seperti dirinya. Kini beliau telah meninggalkan kita semua untuk selamanya. Hidupnya sepanjang lebih dari enam dasawarsa itu tidak sia-sia. Ilmu dan pengalaman yang ditinggalkannya menjadi warisan dan amal jariyah yang sungguh sangat berharga bagi kerja-kerja kemanusian generasi-generasi baru berikutnya sebagai pelanjut estafeta perjuangan selanjutnya. Semoga Allah SWT menerima ibadah dan amal jariyahnya. Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu. Selamat jalan, DR (HC) Said Tuhuleley, MM!

-H-

Hajriyanto Y. Thohari, Ketua Badan Pengurus LAZISMU PP Muhammadiyah dan mantan Wakil Ketua MPR RI (2009-2014). (Tulisan ini dimuat di harian Republika, edisi Sabtu, 13 Juni 2015).