Monday, March 4, 2019

Kelompok Minoritas sebagai Kategori Mustadh’afin



Oleh Ahmad Najib Burhani 

Apakah kelompok minoritas itu perlu ditemani dan dibela? Jika jawabannya “ya”, apa landasan teologis untuk menemani minoritas? Dan siapa yang disebut sebagai minoritas? Tuntutan untuk menemani dan melindungi minoritas dalam dalam konteks HAM (Hak Asasi Manusia) tentu sudah tidak asing dan tak diragukan lagi. Demikian pula dalam konteks kewarganegaraan (citizenship). Namun dalam konteks agama, terutama dalam konteks mutakhir sekarang ini, hal ini masih perlu terus diingatkan kembali. Ini karena, seperti dikemukakan oleh Robert W. Hefner (2019), menemani minoritas, “bisa saja dilihat oleh sebagian dari warga negara sebagai wacana yang kering ataupun kosong – karena dianggap terlalu jauh dari nilai-nilai warga negara yang berdasar atas agama yang dimiliki masyarakat itu”. Di sinilah pentingnya pembahasan teologis tentang minoritas atau mustadh’afin.

Mustadh’afin merupakan tema dan istilah yang telah hadir sejak kedatangan Islam. Menurut catatan Abad Badruzaman (2007, 5), istilah ini disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 13 kali. Namun jika mengacu kepada kata asalnya dan berbagai derivasinya, seperti dhu’afa, maka Al-Qur’an menyebutkannya sekitar 52 kali. Istilah ini sering diterjemahkan sebagai mereka yang lemah, dilemahkan, dihina, didiskriminasi, ditindas, mengalami marjinalisasi, dan sejenisnya. Beberapa penerjemahan dalam Bahasa Inggris untuk istilah ini adalah “brotherhood of the oppressed”, “the oppressed and dispossessed”, “poor and marginalized people”, “the downtrodden”, atau “the abased on earth”.

Dalam masyarakat Islam, kelompok yang dimasukkan dalam kategori mustadh’afin seringkali terbatas pada kelompok fakir dan miskin. Namun ketika Moeslim Abdurrahman memimpin Lembaga Pemberdayaan Buruh, Tani, dan Nelayan (LPBTN) Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada 2000-2005, ia memperkenalkan konsep “the new mustadh’afin” yang keluar dari kategori tradisional dari konsep ini. Mereka yang disebut mustadh’afin bukan hanya fakir miskin, tapi juga mereka mengalami ketertindasan secara sosial dan struktural atau, dalam bahasa Moeslim Abdurrahman (2004, xvi), “’Miskin’ dan ‘mustadh’afin’ sebagai kategori sosial yang lahir dari penindasan struktur kapitalisme nasional maupun global yang tidak adil.”

Apa yang dilakukan oleh Moeslim Abdurrahman itu, meski belum banyak menuai hasil, namun paling tidak berhasil menyodorkan perspektif baru yang membuka wawasan di Muhammadiyah terkait mustadh’afin. Bahwa banyak dari kelompok fakir dan miskin itu menjadi dhu’afa bukan karena mereka malas bekerja, tapi ada yang disebut dengan struktur kemiskinan, kelas dan dosa sosial, matrix penindasan, dan seterusnya. Banyak orang miskin yang justru bekerja 24 jam sehari dan tujuh hari dalam seminggu. Mereka menjadi miskin karena kondisi nasional dan global yang tidak memungkinkan mereka bangkit dari kemiskinannya. Mereka menjadi miskin karena ekonomi digenggam oleh kekuasaan TNC (Trans-National Capitalist Network) yang kadang melakukan “perselingkuhan dengan elite nasional, kaum komprador” (Tuhuleley, 2015).

Meski telah berhasil memberikan perspektif baru tentang ketimpangan sosial dan konsep mustadh’afin, apa yang dilakukan oleh Moeslim Abdurrahman, dan kemudian dilanjutkan oleh Said Tuhuleley, itu masih terfokus kepada ketertindasan dan ketidakadilan secara ekonomi. Padahal, mustadh’afin itu tidak selalu mengacu kepada ekonomi.

Salah satu ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang mustadh’afin adalah Al-Qashash 28: 5, “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)”. Ayat ini berbicara tentang Bani Israil yang ditindas oleh Fir’aun. Makna ketertindasan tentu lebih luas dari persoalan ekonomi, atau bahkan ekonomi bukan merupakan aspek yang utama.

Ayat lain yang berbicara tentang mustadh’afin terdapat dalam Surah Al-Nisa’ 4: 75: “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!’”. Sama seperti ayat yang dikutip sebelumnya, ketertindasan di sini bukanlah terkait persoalan ekonomi, tapi diskriminasi dan persekusi oleh mereka yang kuat kepada mereka yang lemah, atau adanya kelompok superordinate yang bertindak sewenang-wenang terhadap kelompok subordinate.

Karena konsep mustadh’afin itu tidak terkungkung pada dimensi ekonomi, maka berbagai kelompok minoritas yang tertindas, termasuk kelompok minoritas agama, bisa masuk dalam kategori mustadh’afin. Konsekuensinya, adalah sebuah religious imperative (keharusan agama) dan religious call (penggilan keagamaan) untuk melakukan pembelaan terhadap kelompok minoritas. Menemani minoritas adalah level yang lebih rendah daripada melakukan pemberdayaan atau pembelaan terhadap minoritas. Namun menemani minoritas (becoming a friend of minorities) sudah merupakan upaya untuk memenuhi panggilan Allah tersebut.

Dalam konteks Indonesia, pembelaan kepada mereka yang tertindas juga merupakan makna dari Sila Kelima Pancasila, “Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia”. Sekali lagi jika keadilan itu tidak hanya dibatasi maknanya dalam aspek ekonomi dan keadilan itu tidak dikekang maknanya dalam batasan proporsional atau jumlah penduduk.

Dalam pembangunan bangsa, dikenal istilah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Dalam distribusi zakat oleh Lazismu juga terdapat istilah 3T yang berarti Tertinggal, Terpencil, dan Terbelakang. Namun mereka yang “Termarjinalisasi” dan “Tertindas” secara sosial dan agama sering luput dari sasaran zakat atau bahkan kadang dihalang-halangi untuk menjadi penerima zakat, infak, dan sadaqah. Seperti yang digambarkan oleh Hilman Latief, Direktur Utama Lazismu (Lembaga Amil Zakat Infaq, dan Sadaqah) Muhammadiyah, dalam tulisannya “Philanthropy and ‘Muslim Citizenship’ in Post-Suharto Indonesia” (2016), ketika organisasi filantropi Islam hendak memberikan bantuan kepada orang-orang Syiah Sampang yang terusir dari kampung halamannya, sejumlah kelompok Islam mengkritik langkah itu. MUI (Majelis Ulama Indonesia), menurut Latief, bahkan tidak berbicara tentang perlunya  mendistribusikan zakat kepada para pengungsi itu.

Dalam beberapa kasus, hanya mereka yang mau “convert” (berpindah keyakinan) menjadi pemeluk Sunni Islam yang diberi zakat dan dimasukkan dalam kategori muallaf. Sementara para mustadh’afin lain dari kelompok Ahmadiyah dan Syiah dibiarkan menderita. “Whereas there were a number of Islamic philanthropic organizations active in raising funds from the public, only a few of them were willing to openly provide aid for Shi’a refugees in Sampang, Madura” (Sementara ada sejumlah organisasi filantropi Islam yang aktif dalam mengumpulkan dana dari publik, hanya beberapa dari mereka yang bersedia secara terbuka memberikan bantuan kepada para pengungsi Syiah di Sampang, Madura) (Latief 2016, 279).

Sunday, February 10, 2019

Wartawan Itu adalah Ketua Umum Muhammadiyah




Oleh: Deni Al Asy'ari
Haedar Nashir, adalah sosok yang tidak asing bagi Republik ini, terutama di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah. Beliau adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2015-2020 menggantikan Prof. Din Syamsuddin yang menjabat Ketua Umum PP Muhammadiyah sebelumnya.

Sebelum beliau menduduki jabatan sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sosok ideolog Muhammadiyah ini, mengawali karir dan perjalanan hidupnya dengan mengambil pilihan profesi sebagai wartawan Majalah Suara Muhammadiyah.

Profesi sebagai wartawan, beliau jalani sejak menempuh pendidikan tinggi S1 dan S2 di Yogyakarta. Bahkan, walaupun kini beliau sudah berada pada puncak kepemimpinan di organisasi Muhammadiyah, profesi sebagai seorang penulis, tidak begitu saja hilang dari dalam tradisi kehidupan Haedar.

Banyak karya-karya tulis Haedar yang terus hadir dalam berbagai bentuk seperti buku, artikel, kolom dan lainnya, yang kini telah menjadi konsumsi publik. Bahkan hingga saat ini, Haedar masih menekuni dunia jurnalis dengan menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Suara Muhammadiyah.
_______________________________
Dua gambar ini, menunjukkan 2 aktivitas orang yang sama dalam waktu dan status yang berbeda. Gambar pertama, merupakan bukti saat Haedar Nashir berprofesi sebagai seorang wartawan majalah Suara Muhammadiyah, ketika melakukan wawancara dengan seorang peneliti asal Jepang, Mitsuo Nakamura di Gedung PP Muhammadiyah Yogyakarta.

Sementara foto Kedua adalah, saat Haedar Nashir menjadi keynote speak selaku ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat peluncuran buku Karya Mitsuo Nakamura di Gedung PP Muhammadiyah Jakarta.

Selamat Milad 104 Th Majalah Suara Muhammadiyah " Inspirasi Literasi Islam Berkemajuan"
Selamat Hari Pers Nasional 9 Februari 2019

Sunday, January 27, 2019

Muhammadiyah in the Political Year

Ahmad Najib Burhani, Senior Researcher of LIPI
By AHMAD NAJIB BURHANI 25 Januari 2019 · 14:06 IWST

Since the 1998 reform era, Muhammadiyah has always tried to maintain neutrality in politics.

During the leadership of Ahmad Syafii Maarif (1998-2005), with his slogan “keeping the same distance from all political parties”, it could be said that Muhammadiyah applied a policy of “passive neutrality”.

In the period of Din Syamsuddin’s leadership (2005-2015), Muhammadiyah changed from passive neutrality to active neutrality with the slogan “maintaining the same closeness with all political parties”. What is the politics of Muhammadiyah under the leadership of Haedar Nashir (2015-2020), especially in facing the presidential election on April 17, 2019?

Different from the previous periods, now there is no specific slogan to form Muhammadiyah’s relations with politics. The absence of certain slogans can have various interpretations. It is possible that Muhammadiyah chooses to be apolitical and it could also be a manifestation of confusion amid the acute political polarization, including within Muhammadiyah itself.

As Haedar Nashir has repeatedly emphasized that this time Muhammadiyah has chosen to become a “bridge” in dichotomous national politics. “If all mass organizations and Islamic institutions are included in the political sphere, there will be politicization in Indonesia,” he said.

In choosing to act as a bridge in national politics, which is often divided between kampret (microbat) and kecebong (tadpole) or “Islamists” and “Pancasila”, and bridging unbalanced relations between the minority and the majority – which frequently have to take steep and winding roads – an organization or a person must be prepared to get nothing in return and even be maligned by the two competing camps.

Defective candidates

Muhammadiyah realizes that when all sanity is lost in politics, there needs to be a group that wa tawashou bil haqqi wa tawashou bis shobr (exhorts others to practice truth and patience).

Each camp today seems to be blind to the weaknesses and shortcomings of its candidate. They try, borrowing a term from Avishai Margalit in his book, The Ethics of Memory (2000), to “forget” and “forgive” any wrongs or injustices perpetrated by its candidate.

One camp forgets all allegations of human rights (HAM) abuse leveled against its presidential candidate and presents its vice-presidential candidate with an aura of kesantrian (related to Islamic boarding school students) or even keulamaan (related to clerics). Meanwhile, the other side must tolerate “a bit of intolerance” by appointing several people with questionable track records concerning intolerance as a core part of their candidacy to fortify themselves against the use of identity issues.

They have even adopted elements of authoritarianism in their government in order to win the 2019 presidential election (Tom Power, 2018). Even though many of the supporters of the two camps know about these shortcomings and previously denounced them, they have chosen to be silent for now.

For the sake of akhaffud dararain (choosing the one who poses the least harm), they said.

Various Islamic organizations have chosen to enter the political arena. In fact, the offices of certain Islamic organizations have been turned into party offices or posts for the presidential campaign.

This has played a role in influencing the birth of polarization, leading to confrontation between Islamic groups, such as “NU vs the rest of Islam” or “Islam Nusantara vs other Islam”.

The dichotomy that is developing is no longer between Muslims and non-Muslims, but “traditional santri” vs “millennial santri” or “old santri” vs “new santri”. The first group is the santri and traditional Islamic boarding school alumni, the second group is alumni of halaqoh-halaqoh (group discussion) education on various campuses and an alumni movement against the candidacy of Basuki Tjahaja Purnama as the governor of Jakarta in December 2016.

If in the 1990s the new santri, who were considered as the alumni of state Islamic institutes (IAIN) or the State Islamic University (UIN), now they are no longer included in the category of new santri, but had become the old santri.

The NU-PNI-PKI Alliance of the past has often been mentioned on various social media platforms. Resistance to Islam Nusantara has also occurred in several regions, such as West Sumatra, North Sumatra and Banten. Some people are afraid that Nahdlatul Ulama (NU) will become part of the center of power, thereby preventing other Muslims from doing so, as happened in the case of Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Muhammadiyah’s tasks

Besides the aforementioned polarization, there are also different understandings of Pancasila and nationalism, between groups that want a sharia-based nation and those who do not, between Pancasila and the literal interpretation of its main principle, or “Pancasila with indivisible oneness”, and “Pancasila that is inclusive and pluralist “.

These various clashes and potential divisions in the community seem to be the reason that Muhammadiyah as an institution has chosen not to enter practical politics. “So that this nation has security assurances. If all religious institutions were to fight for political interests, the nation would become increasingly politicized,” is Muhammadiyah’s stance, as confirmed by Haedar Nashir.

The task of Muhammadiyah is to maintain the integrity and sovereignty of the nation and is it currently trying to act as a bridge that brings together various opposing groups.

The presidential election is a five-year political process that is part of the dynamics of our nation’s life. Do not let this process lead to a rift within the nation or hostility. This is the moral message that is often conveyed by Muhammadiyah.  (Ahmad Najib Burhani, Senior Researcher of LIPI)

https://kompas.id/baca/utama/2019/01/25/muhammadiyah-in-the-political-year/

Friday, January 25, 2019

Muhammadiyah di Tahun Politik

Kompas, Jum'at, 25 Januari 2019, h. 7


Sejak Reformasi 1998, Muhammadiyah selalu berusaha menjaga netralitasnya dalam politik. Pada masa kepemimpinan Ahmad Syafii Maarif (1998-2005), dengan slogannya “menjaga jarak yang sama dengan semua partai politik”, bisa dikatakan Muhammadiyah menerapkan kebijakan “netralitas pasif”. Pada periode kepemimpinan Din Syamsuddin (2005-2015), Muhammadiyah berubah dari “netralitas pasif” ke “netralitas aktif” dengan slogan “menjaga kedekatan yang sama dengan semua partai politik”. Seperti apakah politik Muhammadiyah dibawah kepemimpinan Haedar Nashir (2015-2020), terutama dalam menghadapi Pemilihan Presiden pada 17 April 2019 nanti?

Berbeda dari periode-periode sebelumnya, kali ini tidak dimunculkan slogan tertentu untuk merumuskan hubungan Muhammadiyah dengan politik. Ketiadaan slogan tertentu itu bisa memiliki beragam tafsir. Bisa jadi Muhammadiyah memilih untuk a-politik dan bisa juga ini merupakan perwujudan dari kebingungan menentukan sikap di tengah polarisasi politik yang tajam, termasuk di dalam tubuh Muhammadiyah sendiri.

Seperti yang berulangkali ditegaskan oleh Haedar Nashir, Muhammadiyah kali ini memilih untuk menjadi “jembatan” dalam politik nasional yang dikotomis dan saling menafikan. “Jika semua ormas maupun lembaga Islam masuk dalam ranah politik maka akan terjadi politisasi di Indonesia,” tegasnya. Memilih untuk menjadi “jembatan” dalam perpolitikan nasional yang seringkali terbelah antara kubu “kampret” dan “kecebong” atau “Islamis” dan “Pancasialis” dan juga menjembatani hubungan yang timpang antara minoritas dan mayoritas, sering harus menempuh jalan terjal dan berliku. Dalam posisi ini, seseorang atau sebuah organisasi harus siap untuk tidak mendapatkan apa-apa dan bahkan dihujat oleh dua kubu yang berkompetisi.

Muhammadiyah menyadari bahwa ketika politik sudah sering kehilangan kewarasannya, maka perlu ada kelompok yang merelakan dirinya untuk terus mengingatkan, wa tawashou bil haqqi wa tawashou bis shobr (mengingatkan tentang kebenaran dan kesabaran). Masing-masing kubu saat ini seperti buta, atau sengaja membutakan diri, terhadap kelemahan dan cacat dari calonnya. Mereka berusaha, meminjam istilah Avishai Margalit dalam bukunya The Ethics of Memory (2000), untuk “melupakan” (forget) dan “memaafkan” (forgive) segala cacat dan noda dari calonnya.

Satu kubu melupakan jejak-jejak persoalan yang terkait HAM (Hak Asasi Manusia) dari calon presidennya serta membungkus calon wakil presidennya dengan aura “kesantrian” atau bahkan “keulamaan”. Sementara kubu satunya harus mentoleransi “a bit of intolerance” dengan mengangkat beberapa orang yang selama ini memiliki rekam jejak intoleransi menjadi bagian inti pencalonannya guna membentengi diri dari penggunakan isu identitas. Bahkan, mereka ikut mengadopsi elemen dari “authoritarianism” dalam pemerintahannya demi memenangkan Pilpres 2019 nanti (Tom Power 2018). Meskipun banyak dari pendukung kedua kubu itu yang tahu tentang cacat dan noda ini dan sebelumnya sering berteriak tentang hal ini, tapi mereka memilih membisu untuk sementara waktu. Demi “akhaffud dararain” (memilih yang lebih ringan mudharatnya), kata mereka.

Berbagai ormas Islam memilih untuk terjun langsung dalam gelanggang politik. Bahkan, kantor organisasi Islam tertentu pun saat ini sudah berubah menjadi kantor partai atau posko pemenangan pilpres. Ini diantaranya yang ikut mempengaruhi lahirnya polarisasi yang mencoba membenturkan kelompok kelompok Islam sebagai “NU vs. the rest of Islam” atau “Islam Nusantara vs. Other Islam”.

Dikotomi yang berkembang saat ini bukan lagi antara Muslim dan non-Muslim, tapi “santri tradisional” vs. “santri milenial” atau “old santri” vs. “new santri”. Kelompok yang pertama adalah para santri dan alumni pesantren tradisional, kelompok yang kedua adalah didikan halaqoh-halaqoh di berbagai kampus dan alumni sebuah gerakan melawan pencalonan Ahok sebagai gubernur DKI Jakarta pada Desember 2016. Jika pada tahun 1990-an “new santri” itu mengacu kepada para alumni IAIN (Institut Agama Islam Negeri) atau UIN (Universitas Islam Negeri), maka saat ini mereka itu tak lagi dimasukkan dalam kategori “new santri”, tapi sudah bergabung dengan “old santri”.

Aliansi NU-PNI-PKI pada masa lalu sudah seringkali disebut di berbagai media sosial. Perlawanan terhadap Islam Nusantara juga terjadi di beberapa tempat, seperti Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Banten. Sebagian orang ketakutan jika NU betul-betul masuk dalam pusat kekuasaan maka akan menghalangi Islam yang lain, seperti yang terjadi dengan kasus HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Selain polarisasi di atas, beredar pula pemahaman yang dikotomis terhadap Pancasila dan kebangsaan; antara kelompok yang mendengungkan “NKRI Bersyariah” dan “NKRI [Tanpa Syariah]”, antara Pancasila dengan pemahaman Sila pertama yang eksklusif atau “Pancasila yang Bertauhid” dan “Pancasila yang inklusif serta pluralis”.

Karena berbagai benturan dan potensi perpecahan di masyarakat itulah kiranya yang membuat Muhammadiyah secara institusi tak masuk ke politik praktis. “Agar bangsa ini ada kartu pengaman. Kalau semua instansi keagamaan rebutan dalam kepentingan politik, nanti bangsa ini makin mengalami politisasi”, demikian pilihan politik Muhammadiyah saat ini seperti ditegaskan Haedar Nashir.

Tugas Muhammadiyah adalah menjaga keutuhan dan kedaulatan bangsa dan saat ini berusaha menjadi jembatan yang mempertemukan berbagai kelompok yang berseberangan. Pemilihan presiden merupakan proses atau ritual politik lima tahunan yang menjadi bagian dari dinamika kehidupan kebangsaan. Jangan sampai proses ini lantas membuat bangsa ini terpecah dan bermusuhan satu sama lain. Demikian pesan moral yang sering disampaikan di Muhammadiyah.
-oo0oo-

*Peneliti Senior LIPI dan Penulis buku Menemani Minoritas (Gramedia 2019).

 Sejak Reformasi tahun 1998, Muhammadiyah selalu berusaha menjaga netralitasnya dalam politik.

Muhammadiyah di Tahun Politik
OPINI 25 Januari 2019

Twitter: https://klik.kompas.id/2Rd9p5X/
Facebook: https://klik.kompas.id/2FY3TCf/

Thursday, January 24, 2019

'Cerita Bapak Harus Diketahui Anak-Anak'

Jenderal Soedirman dan isterinya Alfiah bersama anak bongsu mereka, 1949.
Republika, Kamis 24 Jan 2019 15:31 WIB
Red: Bayu Hermawan

Siti Alfiah ingin anak-anaknya mengetahui sejarah tentang bapaknya, Soedirman.
Oleh: Neni Ridarineni

Pendidikan karakter dalam kepanduan Hizbul Wathan seperti keberanian, kesetiaan, membela kebenaran, kejujuran, dan kedisplinan mewarnai dalam kehidupan Panglima Besar Jenderal Soedirman. Karena di masa remajanya, Soedirman aktif di Hizbul Wathan Cilacap.

"Ibu saya, Siti Alfiah, dulu waktu remaja juga aktif di Hizbul Wathan karena eyang Sastroatmodjo (orang tua dari ibu) sebagai pengurus Muhammadiyah," kata M Teguh Soedirman (70 tahun) kepada Republika.co.id, di kediamannya yang merupakan rumah keluarga besar Panglima Jenderal Soedirman, Yogyakarta, Sabtu (12/1).

Ketika masih seusia SMP, Soedirman sudah dipercaya menjadi pimpinan Hizbul Wathan dan waktu itu anggota Hizbul Wathan  (HW) belum ada yang tua.

"Di masa pemudanya, Soedirman juga aktif di Pemuda Muhammadiyah dan diangkat sebagai pimpinan HW di Cilacap, sehingga sering datang dan melakukan pertemuan di rumah eyang Sastroatmodjo dengan berkedok koordinasi internal Muhammadiyah," ungkap putra bungsu Jenderal Soedirman ini.

Sastro Atmojo memiliki seorang putri bernama Siti Alfiah. semua orang ingin menjadi menantu Sastroatmodjo, termasuk Soedirman. Karena Soedirman merupakan orang yang disegani teman-temannya maka teman-teman Soedirman mundur. Kebetulan Ibu Siti Alfiah sayang dengan Soedirman.

"Ibu Sastroatmodjo mengatakan kepada Siti Alfiah bahwa ia tidak ingin memiliki menantu yang kaya, tetapi yang memiliki akhlakul karimah karena kalau kekayaan bisa dicari, sedangkan akhlak yang baik itu sulit dicari," ujar Teguh.

Kebetulan Siti Alfiah ketika remaja juga sudah sering bertemu dengan Soedirman saat kegiatan di  pendidikan Wiworotomo (setara SMP) di Cilacap dan sama-sama aktif di kegiatan kepemudaan Muhammadiyah. Akhirnya, menikahlah Siti Alfian dan Soedirman yang dikaruniai tujuh anak.

Ketika Siti Alfiah hamil anak sulungnya, ia dan Soedirman diundang sebagai utusan Muhammadiyah dari wilayah Banyumas untuk mengikuti Kongres Muhammadiyah di Gunung Tidar, Magelang. Waktu itu Soedirman selain aktif di Pemuda Muhammadiyah juga sudah menjadi guru di sekolah Muhammadiyah. Karena terkesan dengan kegiatan di sana maka anak pertamanya diberi nama Ahmad Tidarwono.

https://republika.co.id/berita/selarung/suluh/19/01/24/pltucw354-cerita-bapak-harus-diketahui-anakanak?utm_source=dable

Pemuda Dirman dan Dakwah

Republika, Kamis 24 Jan 2019 14:40 WIB
Red: Bayu Hermawan

Kecakapan Soedirman dalam berdakwah diasah di Pemuda Muhammadiyah
Oleh: Stevy Maradona

Kepanduan Muhammadiyah, Hizbul Wathan, menjadi pintu pembuka bagi Soedirman untuk terjun total ke dalam gelanggang Muhammadiyah. Dari kepanduan itu, Soedirman kemudian aktif di Pemuda Muhammadiyah.

Sosoknya, seperti yang direkam dalam beberapa pustaka memperlihatkan Soedirman sebagai organisatoris tulen. Ia bisa duduk menjadi wakil Majelis Pemuda Muhammadiyah wilayah Banyumas pada 1937. Jabatannya ini mensyaratkan Soedirman lebih aktif lagi bergerak mengikuti ritme organisasi.

Soedirman hadir di Kongres Muhammadiyah. Salah satu kehadirannya yang terekam pada 1939 di Muktamar Muhammadiyah ke-29 di Yogyakarta. Soedirman hadir sebagai perwakilan Banyumas. Di arena kongres itu, ia mengusulkan agar setiap pandu Hizbul Wathan mengenakan celana panjang saja. Ini untuk mengantisipasi para pandu sibuk mencari sarung saat hendak shalat di tengah kegiatan. Dengan celana panjang mereka bisa lekas wudhu dan shalat. Usulan ini diterima dan diterapkan kemudian.

Di Pemuda Muhammadiyah pula kecakapan Soedirman berdakwah diasah. Salah satu saksi dakwah Soedirman yang juga kawan aktivis di organisasi, Hardjomartono (85 tahun saat diwawancara), mengingat Soedirman sering memberikan pelajaran kemuhammadiyahan di daerah Rawalo, Banyumas, kemudian keluar ke Purbalingga, Banjarnegara, Purwokerto. Dalam sebulan Soedirman bisa mengunjungi beberapa daerah.

Hardjomartono mengingat, seperti dikutip dari Sardiman, dalam bukunya, "Panglima Besar Jenderal Sudirman Kader Muhammadiyah" (2000), salah satu dakwah pendek Soedirman di Rawalo:

"Wahai para Pemuda Muhammadiyah, ada dua pilihan penting dalam kehidupan yang kita jalani saat ini, yang pertama iskhariman, yakni hidup yang mulia dan yang kedua adalah musyahidan, yakni mati syahid. Kalian memilih yang mana?

"Kalau memilih iskhariman, bagaimana syaratnya?" kata Hardjomartono menanggapi.

Soedirman menjawab, "Kamu harus selalu beribadah dan berjuang untuk agama Islam."

"Bagaimana kalau pilih musyahidan?" timpal Hardjomartono.

Soedirman kembali menjawab, "Kamu harus berjuang melawan setiap bentuk kebatilan dan berjuang untuk memajukan Islam."

"Jadi, semua harus berjuang?" sambung Hardjomartono.

Soedirman sambil tersenyum menjawab,

"Kedua pilihan itu seimbang. Kita akan mendapatkan semua kalau mau, sebab seorang yang mendapatkan kemuliaan tentu harus berlaku sesuai ajaran dan berjuang di jalan Islam. Salah satu musuh penghalangnya saat ini adalah penjajahan. Karena itu, agar pemuda mendapatkan kemuliaan maka harus bersiap untuk berjuang, siap syahid untuk mendapatkan kemerdekaan, para pemuda harus berani untuk jihad fisabillilah."

https://republika.co.id/berita/selarung/suluh/19/01/24/pltryu354-pemuda-dirman-dan-dakwah?utm_source=dable

Kepanduan Muhammadiyah Membentuk Karakter Jenderal Soedirman

Republika, Kamis 24 Jan 2019 13:38 WIB




REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Stevy Maradona

Di dalam setiap penulisan riwayat hidup Soedirman, selalu terselip soal babak ia masuk kepanduan Muhammadiyah, Hisbul Wathan, pada awal 1930-an. Sedianya babak hidup Soedirman yang ini menjadi amat menarik. Karena gerakan kepanduan di Indonesia di awal abad ke-20 ternyata memiliki muatan politis nasionalisme yang kental. Karena itu, tidak berlebihan kiranya kalau kita menyebut babak kepanduan Hisbul Wathan ini adalah salah satu faktor yang membentuk karakter nasionalisme Soedirman.

Kepanduan di Indonesia dibawa dua tokoh penjajah Belanda, PJ Smith dan Mayor de Jager, pada 1913-1914. Tujuan mereka saat itu untuk melatih anak-remaja Belanda usia 12-18 tahun menjadi warga negara yang baik, disiplin, berkarakter bela Ratu Belanda, bela tanah air Belanda, gemar menolong, cinta lingkungan. Organisasi pandu awal diberi nama Nederlandsche-Indische Padvindersvereeniging (NIPV).

Dalam tulisannya yang merangkum gerakan kepanduan di Indonesia, "Padvinders, Pandu, Pramuka: Youth and State in the 20th Century Indonesia (2011)" pengajar antropologi UGM Pujo Semedi mengatakan, ada perbedaan yang mencolok soal latar sosial kepanduan di Indonesia saat itu dengan di Eropa. Kepanduan di Eropa menyeruak di tengah situasi antarnegara saling perang dan generasi muda yang gamang bin galau menghadapi hidup di tengah perang.

Sementara di Indonesia, terutama di tingkat lokal nanti akan terlihat, kepanduan justru amat kental dibayangi atmosfer kebangkitan nasional dan perlawanan melawan penjajah Belanda. Dari kepanduan gaya Belanda ini, tokoh-tokoh nasional saat itu melihat ada kesempatan yang baik untuk menanamkan nilai-nilai awal nasionalisme ke generasi muda prakemerdekaan.

Lahirlah Javaansche Padvinders Organisatie (JPO) pada 1916. Yang memelopori adalah Pangeran Mangkunegara VII di Surakarta. Sesuai dengan namanya, setiap anggota pandu JPO harus setia kepada keraton, kepada Sri Sultan, dan kepada Tanah Jawa. Anggota JPO saat itu terbatas di lingkaran keraton. Saban Ahad mereka dijadwalkan berlatih di halaman depan keraton. Latihannya mencakup baris-berbaris, pertolongan kecelakaan, tali-temali, membaca peta, dan kepanduan dasar lainnya. Para pandu anak-remaja yang diberi seragam itu berlatih terbuka, dapat dilihat oleh warga yang lalu lalang di depan pagar keraton.


 Pandu nasionalisme dan agamis

Dalam riwayat resmi Hisbul Wathan yang dirilis oleh Muhammadiyah dan organisasi itu sendiri dikisahkan, latihan kepanduan JPO ini menarik minat pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Suatu waktu pada 1916, usai kembali dari pengajian Sidiq Amanah Fathonah Tabligh di Surakarta yang rutin diadakan di kediaman KH Imam Mukhtar Bukhari, lewatlah rombongan KH Ahmad Dahlan di depan halaman Mangkunegaran. Ia melihat bagaimana pandu-pandu muda JPO berlatih berbaris. Ini memberinya ide.

KH Ahmad Dahlan ingin agar peserta didik Muhammadiyah pun memiliki kegiatan serupa untuk mengembangkan perjuangan, syiar Islam, berbakti kepada Allah SWT, mendidik disiplin, dan menyehatkan raga. Sampai di Yogyakarta, KH Ahmad Dahlan secara khusus membahas untuk membentuk kepanduan Muhammadiyah. Ia memanggil dua pengajar yakni Sumodirjo dan Sarbini untuk merintis gerakan kepanduan Muhammadiyah. Sarbini kebetulan bekas opsir Belanda yang pernah merasakan pendidikan tentara.

Dengan sederhana, mulailah keduanya melatih pemuda Muhammadiyah kepanduan di halaman sekolah di Suronatan. Baris-berbaris, pertolongan kecelakaan, olahraga. Latihan ini masuk ke dalam aktivitas di luar sekolah Muhammadiyah. Tidak butuh lama, pemuda kauman yang melihat siswa Muhammadiyah berlatih kepanduan banyak yang tertarik. Guru-guru pun ikut berlatih. Pada 1918, akhirnya Muhammadiyah memiliki Padvinders Muhammadiyah, yang kemudian diganti dengan nama Hisbul Wathan (cinta Tanah Air) pada 1921, terinspirasi oleh gerakan perjuangan Partai Wathan yang beraliran antikolonialisme di Mesir.

Muhammadiyah dan Boedi Oetomo adalah dua organisasi massa yang ketika itu mengikuti Pangeran Mangkunegara VII membentuk kepanduan. Dengan demikian, pada saat itu sudah muncul kepanduan lokal, yakni JPO, Hisbul Wathan, Nationale Padvinderij (milik Boedi Oetomo), dan kemudian Java Padviderij (milik Jong Java). Secara senyap, inilah cara-cara awal pergerakan prakemerdekaan mendidik generasi muda ketika itu untuk mencintai Tanah Air dan melawan penjajahan. Karena situasi politiknya belum memungkinkan untuk membuat perlawanan langsung.

Semboyan Hisbul Wathan pada waktu itu adalah setia kepada ulil amri, sungguh berhajat akan menjadi orang utama, tahu akan sopan santun dan tidak akan membesarkan diri, boleh dipercaya, bermuka manis, hemat dan cermat, penyayang, suka pada sekalian kerukunan, tangkas, pemberani, tahan, serta terpercaya, kuat pikiran, menerja segala kebenaran, ringan menolong dan rajin.

"Membantu orang-orang tua dan guru guru dalam mendidik dan anak-anak dan supaya kelakuannya menjadi orang Islam yang berarti (sempurna) ialah orang yang berbudi pekerti baik, berbadan sehat, berguna bagi diri sendiri dan bagi umum, takwa kepada Allah, artinya menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya." seperti dikutip dari Pasal 2 Boekoe Peratoeran Hizboel Wathan.

Sementara muatan nasionalisme terangkum di dalam kode kehormatan Hizbul Wathan seperti Pasal 1 Janji Pandu Hizbul Wathan yang berbunyi: "Setia menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan dan UU tanah airku."

Secara umum, ada tiga kegiatan yang harus diikuti Soedirman sebagai pandu Hizbul Wathan. Pertama adalah program pendidikan rohani sebagai wahana pembentukan karakter. Kedua, pendidikan jasmani untuk pengembangan kesehatan dan fisik. Ketiga program karya bakti sebagai wujud pengamalan pandu. Untuk yang terakhir ini, Soedirman diharuskan aktif di Majelis Penolong Kesengsaraan Oemat (PKO) Muhammadiyah yang bergerak dalam bidang mengumpulkan zakat, menyelenggarakan shalat Id, menyembelih hewan kurban dan membagikannya ke warga, ketertiban warga, dan lainnya. Inilah atmosfer yang dimasuki oleh remaja Soedirman pada pertengahan 1930-an.

Dalam biografi resmi yang dirilis Pusat Sejarah TNI disebutkan: "Melalui kegiatan Hizbul Wathan bakat-bakat kepemimpinan Soedirman terlihat. Ia menjadi pandu yang disiplin, militer, dan bertanggung jawab, cinta terhadap alam."
Dalam satu kisah perkemahan pandu Hizbul Wathan di lereng Batur di daerah Dieng Wonosobo, di versi lain disebutkan perkemahan dilakukan di lereng Gunung Slamet, terlihat bagaimana remaja Soedirman bersikap menghadapi situasi dan kondisi yang ekstrim. Menjelang malam, turun hujan deras. Udara menjadi sangat dingin. Para pandu rekan Soedirman yang tak kuat dingin meminta izin untuk pindah tenda atau turun ke rumah penduduk. Soedirman tetap di dalam tendanya. Satu rekan Hizbul Wathan yang bertugas jaga malam mengatakan sempat mendengar lantunan ayat Kursi dari dalam tenda Soedirman. Setelah itu, ia terlihat mengenakan baju hangat dan menunaikan shalat malam.

Dalam buku Soedirman Seorang Panglima Seorang Martir (2012) ditegaskan watak disiplin dan tanggung jawab yang Soedirman miliki hingga menjadi Panglima Besar awalnya memang dipupuk di kepanduan Hisbul Wathan. Di sini, Soedirman berprestasi dari seorang pandu pemula menjadi ketua pandu Hisbul Wathan Cilacap dan Menteri Daerah Hisbul Wathan Banyumas.


https://republika.co.id/berita/selarung/tuturan/19/01/24/pltp4x282-kepanduan-muhammadiyah-membentuk-karakter-jenderal-soedirman

Jenderal Soedirman, Anak Kandung Muhammadiyah

Republika, Kamis 24 Jan 2019 16:59 WIB

Panglima Soedirman merupakan kader murni Hizbul Wathan dan Pemuda Muhammadiyah
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Wahyu Suryana
Panglima Besar Soedirman dan Muhammadiyah memang begitu lekat. Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr Haedar Nashir bahkan menyebutnya sebagai anak kandung dari Muhammadiyah.
Salah satu alasan terkuatnya jelas karena Soedirman merupakan kader murni Hizbul Wathan dan Pemuda Muhammadiyah. Bahkan, Soedirman ikut membina kader-kader Hizbul Wathan dalam bela dan cinta Tanah Air.
Hizbul Wathan merupakan gerakan kepaduan cinta Tanah Air yang lahir sejak 1918. Artinya, ketika kalangan umat Islam kala itu belum mengenal pergerakan organisasi cinta Tanah Air dan kepanduan, Muhammadiyah sudah melahirkannya.
Di Hizbul Wathan, sosok jenderal berbintang lima itu termasuk pembina sekaligus aktivis. Dari sini, terdapat benang merah Soedirman memang lahir dari rahim pergerakan Muhammadiyah.
Soedirman sejak kecil memang hidup di lingkungan, keluarga, dan kader Muhammadiyah sejak di Cilacap. Karena itu, sosoknya memang sudah ada di dalam didikan sekolah mengaji metode Quran.
Madrasah diniyah jadi cara paling mudah memahami bentuk lembaga pendidikan yang menempa Soedirman tersebut. Sejak usia sangat muda, Soedirman menyerap dan mengaji di lembaga Muhammadiyah tersebut.
"Dari dua hal itu bisa kita simpulkan betapa kentalnya kaderisasi dan ideologi Muhammadiyah di dalam diri Soedirman," kata Haedar saat ditemui di kediamannya di Bantul, Jumat (11/1).
Riwayat Hidup Jenderal Soedirman

Haedar melihat, Soedirman begitu memahami betul nilai-nilai pergerakan Islam Muhammadiyah itu. Sampai suatu saat beliau membawa sekelompok calon kader Hizbul Wathan ke Batu Raden, daerah pegunungan Wonosobo.
Di tengah suasana malam yang sangat dingin, Soedirman menggembleng anak-anak calon kader dan aktivis Hizbul Wathan itu. Tujuannya tidak lain agar mereka menyadari betapa kecilnya manusia di hadapan Tuhan YME.
Lalu, pemuda-pemuda itu harus menjadi orang yang mau berkorban untuk kepentingan umat dan bangsa. Proses pergumulan sejarah yang kental itu membuat Soedirman betul-betul memiliki karakter kuat.
Pertama, sebagai orang yang saleh dan zuhud. Kedua, kesalehan dan kezuhudan itu melahirkan pribadi yang kokoh pendirian, kuat prinsip, dan berani. Ketiga, sikap berani berkorban untuk kepentingan umat, bangsa, dan negara melebihi dirinya.
Ini bisa dilihat ketika Soedirman memimpin perang gerilya kala dirinya sendiri sakit. Menurut Haedar, nilai-nilai luhur inilah yang menjadi kekuatan Soedirman dan para tokoh pergerakan Indonesia.
"Yang harus dijadikan rujukan nilai, bahkan menjadi role model generasi muda saat ini maupun para elite dan warga bangsa yang boleh jadi mengalami peluruhan nilai dari jiwa, pikiran dan cita-cita perjuangan para pendiri republik ini," ujar Haedar menegaskan.
Selain itu, bisa juga dipelajari bagaimana Soedirman menggerakkan rakyat. Jadi, sosoknya memang sangat layak menjadi panglima besar, pendiri TNI, dan teladan dalam perjuangan kemerdekaan.
Sebab, di usia muda saja, Soedirman sudah terpilih menjadi panglima perang karena kejujuran dan karakter kuatnya. Ini terbukti dari Soedirman yang selalu dipercaya dan menggerakkan orang banyak, bukan karena sifat-sifat kekuasaan.
Muhammadiyah, lanjut Haedar, betul-betul menjadi bagian dari pergerakan nasional yang Soedirman lakukan. Jadi, ketika perang gerilya, para tokoh Muhammadiyah di Yogyakarta menggerakkan Angkatan Perang Sabil (APS).
APS, di DIY sampai Jawa Tengah, memobilisasi massa perlawanan terhadap penjajah yang kembali melakukan agresi ingin menancapkan kekuasaan. Jadi, kolaborasi Soedirman sebagai kader dan Muhammadiyah kuat sekali untuk bangsa dan negara.
Tidak mengherankan jika APS menjadi kekuatan militer Islam saat itu yang memang masif dan dicintai rakyat. Dari sini bisa dilihat, jika tanpa perang gerilya saat itu, mungkin Indonesia sudah selesai karena pemerintahan jatuh.
Lalu, ada pemerintah darurat oleh Syafruddin Prawiranegara, atas persetujuan Bung Karno dan Bung Hatta. Namun, secara fisik, perlawanan Soedirman, seluruh kekuatan rakyat, termasuk APS di Yogya, jadi sinyal kuat kepada dunia.
"Sinyal kalau kedaulatan politik, kedaulatan Pemerintah Indonesia, masih eksis, di situlah Soedirman dan tokoh-tokoh Muhammadiyah menjadi martir bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia," kata Haedar.


Muatan Nasionalisme
Di Muhammadiyah, muatan nasionalisme sendiri memiliki dua bentuk. Pertama, secara langsung memang melahirkan cinta dan bela Tanah Air untuk perjuangan kemerdekaan, termasuk mendirikan Hizbul Wathan dan Angkatan Perang Sabil.
Perjuangan fisik seperti yang dilakukan Soedirman menjadi contoh lain. Kedua, muatan nasionalisme di Muhammadiyah bersifat jangka panjang, yaitu investasi kemerdekaan Indonesia dengan membangun pranata-pranata sosial baru.
Tentunya, yang cocok dengan zaman dan modern, seperti pendidikan, pelayanan kesehatan, gerakan kepemudaan, gerakan keperempuanan Aisyiyah. Semuanya jadi pilar strategis yang setelah Indonesia merdeka miliki posisi sangat penting.
Muhammadiyah, oleh Soekarno, disebut melakukan modernisasi bangsa Indonesia yang menjadi kunci kebangunan. Dua sisi itu menjadi kekuatan strategis kehidupan bangsa yang banyak orang menyebutnya sebagai nasionalisme Muhammadiyah.
Jenderal Soedirman (kiri) dipeluk oleh Presiden Soekarno semasa kepulangannya di Yogyakarta.


Dalam sejarah dapat dilihat ketika Ki Bagus Hadikusumo dan Kasman Singodimedjo menjadi titik penentu meredam ketegangan soal Piagam Jakarta. Demi bangsa dan negara, kompromi terjadi, tujuh kata dicoret dan ketuhanan jadi sila pertama.
Ini bentuk nasionalisme Islam yang ditunjukkan Muhammadiyah dan para tokohnya. Demi bangsa dan negara, umat yang mayoritas itu mengalah, berkorban, yang oleh Alamsyah Ratu Perwiranegara disebut hadiah terbesar umat Islam untuk Indonesia. "Jejak ini tidak boleh diabaikan karena jejak inilah yang menjadi kunci dari titik temu keindonesiaan dan keislaman," ujar Haedar.
Bila saja saat itu buntu, tidak bisa dibayangkan Indonesia yang baru satu hari diproklamasikan akan berdiri tegak pada 18 Agustus 1945. Atau sebaliknya, jika umat Islam kala itu otoriter memakai kemayoritasannya.
Inilah tiga dimensi perjuangan Muhammadiyah bersama kekuatan Islam yang lain. Perjuangan fisik, membangun pranata sosial modern untuk Indonesia selepas merdeka, dan peran politik kebangsaan yang sepenuhnya untuk keutuhan NKRI.

Terpisah Zaman, Meneruskan Perjuangan
Sayangnya, Soedirman yang lahir pada 24 Januari 1916 memang tidak memiliki kesempatan bertemu Kiai Ahmad Dahlan yang wafat pada 1923. Sebab, Kiai Dahlan wafat saat Soedirman baru berumur tujuh tahun di Banyumas.
Tetapi, di Cilacap, Soedirman tumbuh menjadi seorang siswa rajin. Soedirman sangat aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, termasuk mengikuti kepanduan Hizbul Wathan Muhammadiyah.
Saat di sekolah menengah, Soedirman mulai menunjukkan kemampuannya memimpin, berorganisasi, dan ketaatannya kepada Islam dihormati masyarakat. Usai berhenti kuliah keguruan, pada 1936, ia mulai bekerja sebagai seorang guru.

Setelah itu, Soedirman menjadi kepala sekolah. Di sekolah Muhammadiyah, ia juga aktif dalam kegiatan Muhammadiyah lainnya, dan menjadi pemimpin kelompok dari Pemuda Muhammadiyah pada 1937.
"Tapi, lewat Hizbul Wathan sesungguhnya Soedirman merasakan nilai-nilai kemuhammadiyahan tentang cinta Tanah Air, dan Hizbul Wathan itu yang mendirikan langsung Kiai Dahlan," kata Haedar.
Itu berarti, jika Kiai Dahlan merupakan pendiri Hizbul Wathan, Soedirman jadi pelaksana, penerus dan yang memobilisasi kekuatannya. Secara umum, Hizbul Wathan jadi komponen sangat penting yang membentuk karakter Soedirman.
Muhammadiyah sendiri membangun karakter pertama dari substansi. Orang Islam harus kuat pendirian, tapi berkemajuan. Kuat pendirian akidah, ibadah, dan prinsip-prinsip akhlak yang tidak boleh berkompromi yang meluluhkan karakter.
Lalu, nilai kemajuan jadi sangat penting ditanamkan sehingga cinta ilmu dan kecerdasan jadi bagian penting. Ketiga, amaliyah perbuatan, karena Muhammadiyah membangun karakter warganya agar beramal dan berbuat yang terbaik.
Dengan al-Maun, peran-peran filantropi, peran-peran sosial, sehingga Islam menyatu menjadi karakter yang mencerminkan perpaduan iman, ilmu, dan amal. Lalu, media yang dibangun melembaga, yaitu lewat keluarga, pendidikan, dan organisasi.
Sehingga, bisa dilihat, bagaimana Muhammadiyah melahirkan Soedirman, Kasman, Kahar Mudzakkir, Hamka, bahkan Juanda yang empat kali jadi menteri, satu kali jadi perdana menteri, dan perumus Deklarasi Juanda.
"Coba bayangkan hal-hal seperti ini tumbuh bagi generasi muda saat ini, tanpa harus sama dan sebangun, tapi kuat pendirian, menjaga akhlak, berpikiran cerdas dan maju, itulah karakter yang dibangun Muhammadiyah," ujar Haedar.
Untuk itu, ia menekankan, jangan mudah melihat warga Muhammadiyah yang memiliki tiga karakter itu, dengan parameter cinta Tanah Air yang terlalu verbal. Misal, mengkritik keadaan bangsa yang kurang tepat dianggap antinegara dan sebagainya.
Padahal, Muhammadiyah mencoba seimbang, dan itu menjadi karakter para warga dan pimpinan Muhammadiyah. Tentu, kritik didasarkan argumen dan data yang kuat, dan disampaikan dengan cara yang sesuai kepribadian Muhammadiyah. n ed: stevy maradona

https://republika.co.id/berita/selarung/suluh/19/01/24/pltyen282-jenderal-soedirman-anak-kandung-muhammadiyah