Friday, April 17, 2015

Internasionalisasi Perguruan Tinggi Muhammadiyah

KORAN SINDO, 15 April 2015
 
Muslich Hartadi Sutanto   
Ketua Kantor Urusan Internasional 
Universitas Muhammadiyah Surakarta
                                                                                                                                                        
Era globalisasi saat ini, di mana perkembangan teknologi informasi dan komunikasi demikian pesat serta semakin mudahnya mobilitas antarnegara, telah membuat batas kewilayahan antarnegara semakin tidak tampak.

Hal tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan bagi hampir seluruh negara di dunia. Dalam rangka meningkatkan ketahanan regional untuk menghadapi globalisasi, negara-negara ASEAN pada KTT Ke-14 2008 di Thailand telah meratifikasi piagam ASEAN dan menyepakati pengimplementasian tiga pilar ASEAN Commmunity yaitu ASEAN Economic Community, ASEAN Security Community, dan ASEAN Socio-Cultural Community. 

Menyongsong pemberlakuan Komunitas Ekonomi ASEAN pada 31 Desember 2015 yang sudah di depan mata, penerapan kebijakan pendidikan yang tepat sangatlah penting mengingat pendidikan merupakan faktor penentu kualitas dan kompetensi sumber daya insani. Pada era globalisasi saat ini, data OECD (2011) menunjukkan bahwa pada rentang tahun 2000-2009 jumlah mahasiswa yang belajar di luar negaranya mengalami pertumbuhan sekitar 6,5%.

Lebih lanjut Al-Franseder dan Fellinger (2012) memaparkan, secara garis besar mahasiswa yang mempunyai pengalaman mobilitas internasional lebih unggul dibanding dengan yang tidak. Namun, perlu diwaspadai bahwa di negara berkembang aktivitas mobilitas internasional tidak terjangkau biayanya oleh sebagian besar mahasiswa. Hal ini menimbulkan kekhawatiran adanya jurang kesempatan yang semakin besar bagi kalangan mampu dan kurang mampu.

Strategi yang bisa dilakukan untuk mengatasi keterbatasan tersebut adalah dengan menerapkan kebijakan ”internationalization at home”, yaitu dengan memberikan kompetensi internasional kepada mahasiswa untuk menghadapi globalisasi tanpa mereka perlu melakukan mobilitas internasional seperti halnya ketika sebagian besar orang Indonesia belajar Islam tanpa harus pergi ke Timur Tengah. Internasionalisasi pengetahuan sebetulnya bukanlah fenomena baru.

Sejak lama para cerdik cendekia telah melakukan perjalanan lintas batas negara di berbagai penjuru dunia dalam rangka memperkaya pengetahuan dan pengalaman. Ibnu Batutah, seorang cendekiawan Maroko, melakukan perjalanan untuk memperkaya ilmu pengetahuannya ke lebih dari 40 negara di Afrika, Eropa, dan Asia pada abad ke-14.

Menurut Holsinger (2003) dari hasil pengembaraannya untuk memperkaya pengetahuan tersebut, Ibnu Batutah telah memprediksi perkembangan sebuah kerajaan kecil di Anatolia yang di kemudian hari menjadi pusat Kekaisaran Ottoman di Turki pada abad ke-15 dan meramalkan bahwa Tiongkok akan menjadi salah satu pusat kekuasaan dunia di masa depan.

Beelen dan De Wit (2012) menekankan bahwa sejak pertengahan 1980-an internasionalisasi pendidikan tinggi telah berkembang pesat di negaranegara Barat, di mana isu tersebut mulai menjadi agenda utama pemerintah, institusi pendidikan tinggi, institusi akreditasi dan pemeringkatan, serta organisasi internasional.

Kesempatan kerja internasional juga telah menjadi faktor pendorong bagi institusi pendidikan tinggi untuk menyediakan lulusan yang mempunyai pengalaman internasional bagi lapangan kerja global. Molony dkk (2011) dalam paparannya di ”QS Global Employer Survey 2011” menyampaikan bahwa atribut pengalaman internasional seperti kemampuan berbahasa asing dan komunikasi lintas budaya sangat diperhitungkan di lapangan kerja global.

Akan tetapi, ada keprihatinan yang berkembang bahwa nilai tambah yang merupakan fokus utama dalam konsep internasionalisasi tradisional mendapatkan tantangan berat dari internasionalisasi yang lebih berfokus pada komersialisasi. Karena itu, Van Liempd (2013) meyakini bahwa tanggung jawab sosial pendidikan tinggi akan memberikan dampak besar pada internasionalisasi pendidikan tinggi di masa depan.

Persyarikatan Muhammadiyah yang menaungi 170-an institusi pendidikan tinggi dan sudah sejak tahun 1912 berkiprah dalam bidang pendidikan di Indonesia menyadari betul pentingnya internasionalisasi gerakan dan telah melakukan langkah-langkah nyata untuk mengembangkan internasionalisasi pendidikan tinggi yang tidak hanya menyiapkan sumber daya insani menghadapi era globalisasi, namun lebih jauh lagi untuk mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Di bawah naungan Majelis Dikti PP Muhammadiyah, perguruan tinggi Muhammadiyah telah membentuk forum Kantor Urusan Internasional Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang mempunyai tugas pokok untuk mengembangkan internasionaliasai perguruan tinggi Muhammadiyah.

Beberapa perguruan tinggi Muhammadiyah telah mengimplementasikan konsep ”internationalization at home” dalam rangka menyediakan kesempatan seluas-luasnya bagi sumber daya insani Indonesia untuk mendapatkan kompetensi internasional tanpa harus ada mobilitas internasional yang biayanya tidak terjangkau bagi sebagian masyarakat Indonesia.

Sejak 2009 beberapa perguruan tinggi Muhammadiyah bekerja sama dengan Southern Border Administrattive Centre (SBPAC) Thailand memberikan beasiswa studi di perguruan tinggi Muhammadiyah bagi warga Thailand Selatan. Bekerja sama dengan KBRI Manila dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, beberapa perguruan tinggi Muhammadiyah memberikan beasiswa studi S-2 dan S-3 bagi warga Bangsamoro di Filipina Selatan.

Tidak hanya itu, dengan dukungan Bank Dunia akademisi perguruan tinggi Muhammadiyah juga terlibat sebagai pendamping bagi penyusunan konstitusi dasar Bangsamoro.

Pembahasan mengenai internasionalisasi gerakan dan manhaj Muhammadiyah dalam kemanusiaan universal tersebut dibahas lebih lengkap dan mendalam pada seminar pramuktamar Muhammadiyah ke-47 di Universitas Muhammadiyah Surakarta pada 14 April 2015. 

Wednesday, April 15, 2015

Mewujudkan Peta Jalan Internasionalisasi Muhammadiyah

Jawa Pos, 14 April 2015

Bambang Setiaji
Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta

Sebagai suatu gagasan dan gerakan, tentu saja Muhammadiyah ingin menyumbang secara internasional dan memperkenalkan diri ikut aktif memberikan solusi bagi dunia Islam yang sekarang tercabik-cabik. Blueprint perjalanan Muhammadiyah ke pentas internasional itu perlu dipikirkan supaya tidak asal jalan. Harus dibuat peta jalan yang bisa atau memungkinkan untuk dilaksanakan.

Kiai Dahlan dan para pendahulu mendirikan Muhammadiyah, di samping melihat umat yang hidup dalam kejumudan, karena melihat kuatnya mazhab-mazhab yang diikuti dengan membabi buta (taqlid). Dengan mengambil nama Muhammadiyah, para pendahulu membebaskan diri dari keterikatan dengan suatu mazhab.

Nabi Muhammad SAW mewariskan sesuatu yang sangat luas. Di luar masalah akidah, hampir dalam setiap masalah terdapat variasi dan keluasan. Hal itu tampak dalam berbagai hadis yang satu sama lain bisa dikonstruksi menjadi mazhab fikih yang berbeda. Alquran juga sangat luas bisa mewadahi berbagai penafsiran yang tiada habisnya.

Dengan mengambil posisi tidak bermazhab, Muhammadiyah kembali pada keluasan Islam. Muhammadiyah adalah tenda besar, keragaman dalam keseragaman dan keseragaman dalam keragaman. Yang dimaksud keseragaman adalah nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, martabat, kemanusiaan, dan sebagainya. Sedangkan keragaman adalah fikih, metode, dan pemikiran.

Muhammadiyah tidak berwarna secara mazhabi, tetapi mempunyai warna dalam nilai luhur dan universal. Karakteristik itu membuat wujud internasionalisasi Muhammadiyah berbeda. Misalnya, dengan HTI, Jamaah Tabligh, Ikhwanul Muslimin, Ahmadiyah, dan gerakan internasional lain. Muhammadiyah mengidentifikasi diri dengan Islam itu sendiri, bukan sekte. Keprihatinannya pada masalah internasional tidak terikat oleh sekte, tetapi nasib umat Islam semua seperti Palestina, Timur Tengah, Afrika Utara, Rohingnya, dan dunia Islam lain.

Sebagai gerakan Islam modern tidak bermazhab, energi Muhammadiyah tidak henti mengalir, mencermati, mewacanakan, bahkan bertindak dalam hubungan internasional, baik politik, ekonomi, maupun budaya. Dalam bidang politik, ekonomi, dan budaya, Muhammadiyah selalu mengambil posisi tertentu dalam menyikapi ketidakadilan yang umumnya terjadi antara dunia Barat dan sisanya.

Masih berkaitan dengan globalisasi atau internasionalisasi, Muhammadiyah mempunyai standing position tertentu. Misalnya, terhadap modal asing yang berpotensi merugikan rakyat Indonesia. Dalam wacana internasionalisasi, bukan saja kita pergi menjadi tamu di dunia internasional, tetapi juga ketika menjadi tuan rumah. Muhammadiyah paling aktif berwacana dan bahkan menggugat kekuatan modal asing, terutama yang merusak lingkungan atau memiliki skema perjanjian yang kurang adil. Terhadap modal asing yang membawa kemajuan, memberikan pekerjaan rakyat, serta membawa perubahan manajemen dan teknologi, Muhammadiyah sangat welcome.

Internasionalisasi Muhammadiyah dimulai ketika Kiai Dahlan pergi haji dan belajar di Makkah serta Madinah. Beliau membawa pandangan baru tentang Islam dan kemajuan, khususnya dari Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan Jamaluddin Al Afghan. Penerimaan terhadap kemajuan yang dalam kenyataannya diciptakan Barat terus dikembangkan Muhammadiyah. Dimulai dengan mengadopsi sistem belajar sekolah Belanda yang berbeda dengan sistem pesantren saat itu. Muhammadiyah tidak alergi terhadap Barat dan kemajuannya, bersedia berinteraksi, mengirim dosen-dosennya belajar di sana, serta menjalin berbagai kerja sama.

Peta Jalan Menuju Internasionalisasi

Dalam keagamaan, Muhammadiyah lewat PPM menjadi peserta aktif dalam dialog antaragama (interfaith dialogue) dan beberapa kali menjadi tuan rumah. Kegiatan itu perlu dilanjutkan pada masa depan.

Dalam menghadapi kemelut di Timur Tengah, Muhammadiyah bisa berandil dalam mencegah masuknya paham kekerasan ke dalam negeri. Sebagai gerakan Islam modern yang memiliki banyak sekolah, Muhammadiyah tidak mengajarkan kekerasan sebagai penyelesaian masalah.

Kemelut Timur Tengah akhir-akhir ini bersumber dari masalah yang kompleks. Misalnya, ketidakadilan karena sistem yang tidak memungkinkan rakyat bertransformasi menembus batas vertikal. Hal itu berbeda dengan negara Islam demokratis seperti Indonesia dan Turki. Ketidakadilan yang membuat rakyat tertekan dibumbui teologi yang berkembang, terutama perbedaan Sunni-Syiah, dan dikemas begitu mendalam.

Internasionalisasi dalam pengertian pembukaan cabang Muhammadiyah di luar negeri ternyata berjalan sesuai atau dibawa mahasiswa studi di luar negeri. Para mukimin dan pekerja Indonesia melanjutkan dengan membuka cabang khusus.

Negara ini umumnya sudah sangat maju dalam hal teknologi dan ekonomi. Bila di Indonesia Muhammadiyah juga berperan memajukan sekolah dan teknologi yang berujung ekonomi atau industri, di negara maju, peran Muhammadiyah menjadi penyeimbang, pengingat akan adanya Tuhan.

Industri makanan selalu menyertai setiap langkah internasionalisasi. Umat Islam termasuk rewel dalam hal makanan, terutama soal larangan makan babi dan minuman beralkohol serta binatang yang tidak disembelih dengan bacaan bismillah. Teologi yang berkembang di sekitar itu bervariasi. Ada yang membolehkan makan daging yang disembelih dengan cara nonislam, terutama Nasrani dan Yahudi. Ada pula yang tetap mengharamkan.

Akibatnya, muncul halal food di hampir semua kota penting di dunia. Halal food memberikan setitik dakwah di tengah hiruk pikuk kota modern bahwa Tuhan masih ada dalam peradaban semaju apa pun.

Di Amerika, terdapat seorang senator yang disumpah di bawah Alquran. Di Prancis, Inggris, dan Jerman, komunitas Islam merupakan pemilih potensial. Sebab, di tengah merosotnya partisipasi dalam pemilu, umat Islam bisa memainkan peran yang dilirik politisi. Segmen ini merupakan peta jalan yang juga harus dicermati anggota atau simpatisan Muhammadiyah sebagai gerakan nonsekte atau gerakan yang menerima Islam apa adanya.

Menurunnya penduduk di negara maju dan Jepang serta Korea, sedangkan Indonesia mengekspor TKI yang berpotensi menetap di negara-negara itu, juga merupakan peta jalan yang perlu dicermati. (*)

http://www.jawapos.com/baca/opinidetail/15750/mewujudkan-peta-jalan-internasionalisasi-muhammadiyah

Tuesday, April 14, 2015

Internasionalisasi Gerakan dan Manhaj Muhammadiyah untuk Kemanusiaan Universal


Seminar Pra-Muktamar “Internasionalisasi Gerakan dan Manhaj Muhammadiyah untuk Kemanusiaan Universal”, PP Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), 14 April 2015.
















JADWAL
SEMINAR PRA MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
Internasionalisasi Gerakan dan Manhaj Muhammadiyah untuk Kemanusiaan Universal
Di Universitas Muhammadiyah Surakarta, 14 April 2015


WAKTU

MATERI
NARASUMBER
09.0010.30
Pembukaan
1)      Sambutan Rektor
2)      Iftitah Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah
3)      Keynote Speech Menteri Luar Negeri Republik Indonesia


10.30 – 12.00
Sesi 1
Peran dan Kontribusi Muhammadiyah di Dunia Internasional: Catatan Sejarah

Muhammadiyah dan Model Pengembangan Kerjasama Internasional


Prof. Dr. Azyumardi Azra


Prof. Dr. Bahtiar Effendy
 
12.00 – 13.00
Istirahat


13.00 – 14.30
Sesi 2
Merumuskan Pola dan Konsep Internasionalisasi Muhammadiyah ke Depan


1.   Prof. Dr. M. Amien Rais, M.A.
2.   Prof. Dr. Muhadjir Effendy
3.   Hilman Latif, Ph.D.

14.30 – 16.00
Sesi 3
Menemukan Aspek Unggul Muhammadiyah untuk Internasionalisasi Gerakan


1.     Prof. Dr. Syafiq A. Mughni
2.     Drs. A. Dahlan Rais, M.Hum.
3.     Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed.

16.00 – 17.30
Sesi 4
Merumuskan Road-Map Internasionalisasi Muhammadiyah


1.     Prof. Dr. Bambang Setiaji
2.     Dr. Ahmad Najib Burhani

17.30 - ……
Penutupan

Panitia

                                           

Monday, March 30, 2015

Dua Sayap Dua Muktamar

Kompas, 30 Maret 2015
 
Oleh: Hajriyanto Y Thohari

JAKARTA, KOMPAS - Dua organisasi massa besar dan tua, kalau bukannya yang terbesar dan tertua, Muhammadiyah (lahir 1912: 103 tahun) dan Nahdlatul Ulama (lahir 1926: 89 tahun), akan menggelar muktamar pada 2015.

Muktamar Ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) akan berlangsung 16-21 Syawal 1436 H (1-5 Agustus 2015) di Jombang, sementara Muktamar Ke-47 Muhammadiyah berlangsung 18-22 Syawal 1436 H (3-7 Agustus 2015) di Makassar. Usia keduanya sama, besarannya nyaris sama, keduanya bermuktamar pada tahun yang sama, bulan yang sama, dan tanggal yang juga nyaris sama. Ini sebuah truisme belaka: takdir sejarah yang insya Allah membawa berkah.

Tema muktamar keduanya juga nyaris sama: NU "Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia", Muhammadiyah "Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan". Sebuah kemiripan yang juga truisme belaka: menggambarkan wilayah kepedulian yang mengatasi dan melintasi golongan, suku, etnis, dan agama. Kepedulian yang sudah pada level kebangsaan dan kemanusiaan universal.

Umat Islam, pemerintah, media, dan bangsa Indonesia menyambut antusiasme muktamar akbar ini. Apalagi mereka yang menyadari betapa besar peran kedua ormas ini dalam pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila ini. Sebagai arus utama (mainstream) Islam Indonesia, pendiriannya bahwa NKRI merupakan bentuk final dari cita-cita bernegara bukan hanya memberikan jaminan tetap tegaknya Pancasila, melainkan juga menenteramkan semua pihak. Ini saja sudah merupakan sumbangsih kaum nahdliyin dan muhammadiyin yang tiada ternilai harganya.

Dengan kematangan dalam berislam yang moderat dan toleran, serta pandangan kenegaraannya yang nasionalis dan patriotis, keduanya menjadi jangkar utama bangsa yang majemuk ini. Para pemimpin keduanya boleh datang dan pergi secara silih berganti, tetapi mereka selalu merupakan tokoh-tokoh bangsa yang mengutamakan negara di atas golongan. Sungguh tak terbayangkan bagaimana wajah Islam Indonesia jika bangsa ini tak memiliki NU dan Muhammadiyah. Meski mungkin saja tetap ditakdirkan menjadi negara yang mayoritas Muslim, besar kemungkinan Indonesia secara ideologi dan politik akan berkembang menjadi seperti yang terjadi di beberapa negara lain yang kaotik dan konfliktual.

Memang harus diakui masih ada persoalan mengenai hubungan antara Islam dan negara, tetapi berkat kedua gerakan Islam moderat dan nasionalistis ini, persoalan tersebut dapat dikelola secara lebih dingin dan tenang, jauh dari pergolakan.

Laksana dua sayap
Sebagai kekuatan masyarakat madani, Muhammadiyah dan NU juga merupakan tulang punggung proses demokratisasi Indonesia. Dalam konteks ini, negara harus menahan diri untuk tidak menarik (absorb) keduanya ke dalam negara. Keduanya harus dipertahankan seperti sekarang ini, sebagai reservasi sosial politik (socio-political reservoir) yang terus memosisikan dirinya sebagai perantara (broker) antara negara dan masyarakat. Negara jangan terlalu kuat di hadapan rakyat yang lemah, dan rakyat jangan terlalu kuat di hadapan negara yang lemah. Negara yang terlalu kuat akan cenderung otoriter dan totaliter, sementara rakyat yang terlalu kuat di hadapan negara yang lemah akan menjerembabkan anarkisme.

Maka, tidak berlebihan kalau mendiang Nurcholish Madjid mengibaratkan jika umat Islam Indonesia, bahkan Indonesia itu sendiri, seekor burung garuda, maka Muhammadiyah dan NU adalah kedua sayapnya.

Tatkala keduanya mengepak secara kompak, umat dan bangsa ini akan dibawanya terbang membelah angkasa menerjang badai menggapai cita-cita nasional, yakni melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Selama satu abad, Muhammadiyah dan NU dengan setia mengawal perjalanan bangsa mencapai tujuan nasional sebagaimana yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 itu. Pasalnya, tujuan tersebut sejatinya berimpitan secara organis dengan tujuan keduanya sejak didirikan oleh KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari, yaitu "menegakkan kalimah Allah" (li i’lai kalimatillah hiya l-'ulya) demi mewujudkan "kejayaan Islam dan umat Islam" (izzu ’l-Islam wa 'l-muslimin) sebagai "kasih sayang bagi seluruh alam" (rahmatan li 'l-'alamien) tanpa membedakan suku, etnis, dan agama.
Luar biasa mulia, luar biasa berat. Bagi keduanya, apa yang disebut umat, rakyat, penduduk, atau warga negara, pada hakikatnya merupakan entitas yang identik dan sama: bangsa Indonesia.

Tak versus, tak "vis a vis"
Saya optimistis terhadap masa depan relasi kedua gerakan Islam ini. Memang, dalam beberapa hal ada perbedaan pemahaman dalam berislam di antara keduanya, tetapi tidak ada sikap penyesatan teologis, apalagi permusuhan di sana. Sebab, keduanya memahami betul mengapa perbedaan itu terjadi.

Para ulama di kedua ormas ini menguasai betul manhaj, mazhab, dan konvensi keilmuan dalam memahami ajaran Islam secara utuh dan komprehensif. Maka, perbedaan yang terjadi sangatlah dewasa dan matang yang alih-alih memecah belah umat, malah memperkaya khazanah dan mosaik Islam Indonesia.

Saya tidak yakin ada orang NU yang anti Muhammadiyah, sebagaimana tidak ada orang Muhammadiyah yang anti NU. Jika dulu orang dengan simplistis menyimpulkan selalu ada sindrom NU versus Muhammadiyah, atau Muhammadiyah vis a vis NU, dalam berbagai lapangan kehidupan, kini nuansa seperti itu tidak ada lagi.

Apalagi dari rahim kedua ormas ini bermunculan banyak aktivis muda penggiat gerakan toleransi dan pluralisme garda depan sekaligus menjadi tulang punggung dari kekuatan anti sektarianisme dan intoleransi yang gigih. Maka, sangatlah absurd kalau di antara kedua ormas itu sendiri ada sikap saling mengeluarkan.

Pun lapangan kepedulian dan pengabdian keduanya tidak lagi berbeda. Muhammadiyah, yang dulu memelopori pendidikan klasikal dan modern, kini juga menggarap pendidikan pesantren. NU, yang dulu diidentikkan dengan pesantren, kini mendirikan universitas-universitas besar di hampir seluruh kota.

Dalam satu dekade ke depan kita akan menyaksikan puluhan atau ratusan universitas besar yang didedikasikan oleh keduanya untuk bangsa. ’Ala kulli hal, besar harapan bangsa diletakkan di pundak kedua sayap keindonesiaan ini. Semoga!

Hajriyanto Y Thohari
Wakil Ketua MPR RI 2009-2014

* Artikel ini sebelumnya tayang di Harian Kompas edisi Senin (30/3/2015).

http://nasional.kompas.com/read/2015/03/30/15050011/Dua.Sayap.Dua.Muktamar

Sunday, March 29, 2015

Internasionalisasi Muhammadiyah



Tabloid Kauman, Edisi 4: Maret - April 2015, h. 45-46.

Oleh Ahmad Najib Burhani*

Sejak Din Syamsuddin terpilih menjadi Ketua Umum Muhammadiyah tahun 2005, tema internasionalisasi Muhammadiyah sering menjadi bahasan dari organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini. Hal ini sepertinya didasarkan pada kenyataan bahwa meski Muhammadiyah telah lahir sejak 1912, namun organisasi ini tidak banyak berkembang di luar negeri. Organisasi-organisasi Islam yang justru lahir lebih muda dari Muhammadiyah, seperti Jemaah Tabligh (1926), Ikhwanul Muslimin (1928), Hizbut Tahrir (1953), dan Ghulen Movement (1982) kini telah menyebar ke hampir seluruh dunia. Pertanyaanya, mengapa Muhammadiyah tak bisa seperti organisasi-organisasi itu? Apa yang menjadi kendala dari Muhammadiyah untuk menyebar ke negara lain?

Tentu saja tidak bisa dinafikan bahwa sejak 1957 telah berdiri Muhammadiyah di Singapura yang memiliki banyak sekali kemiripan dengan Muhammadiyah Indonesia, baik dari segi logo maupun aktivitasnya. Namun Muhammadiyah Singapura yang didirikan oleh Ustaz Rijal Abdullah dan Ustaz Amir Esa bukanlah cabang dari Muhammadiyah Indonesia. Tidak ada garis koordinasi ataupun komando antara Muhammadiyah Indonesia dan Singapura. Kalaulah ada hubungan, itu hanyalah persaudaraan sesama Muslim dan sesama organisasi Islam.

Sejak Din Syamsuddin memimpin Muhammadiyah, upaya internasionalisasi Muhammadiyah terus dilakukan. Diantaranya adalah dengan pendirian PCIM (Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah) di berbagai negara, seperti Jepang, Vietnam, Inggris, Amerika, Mesir, dan Belanda. Inilah makna pertama dari internasionalisasi Muhammadiyah yang selama ini sering dipahami. Namun demikian, keberadaan PCIM itu masih memiliki banyak keterbatasan. Anggota berbagai PCIM itu, misalnya, masih didominasi oleh orang Indonesia yang kebetulan berada di luar negeri seperti pelajar, pekerja, dan istri atau suami orang asing. Karena itu seringkali aktivitasnya sangat tergantung dari luangnya waktu kuliah atau bekerja.

Makna kedua dari internasionalisasi Muhammadiyah yang juga sering dipahami adalah partisipasi dalam berbagai organisasi internasional atau aktivitas di luar negeri. Ini misalnya seperti yang dilakukan oleh beberapa pimpinan Muhammadiyah seperti Din Syamsuddin, Abdul Mu’ti, dan Syafiq Mughni. Mereka terlibat dari beberapa pertemuan agama tingkat dunia, berbicara tentang Islam Indonesia di beberapa forum internasional, dan terlibat dalam aksi kemanusiaan serta filantropi dengan berbagai negara di dunia.

Makna ketiga dari gagasan internasionalisasi Muhammadiyah adalah menjalin hubungan akademik dengan berbagai institusi di luar negeri. Ini misalnya diwujudkan oleh berbagai universitas Muhammadiyah yang membangun kerjasama dengan universitas-universitas di luar negeri, mengadakan seminar dan konferensi internasional, memperkenalkan Muhammadiyah ke peneliti-peneliti asing, dan juga penerjemahan buku-buku berbahasa Indonesia ke bahasa asing.

Bila dibandingkan dengan organisasi semisal Jamaah Tabligh, Ikhwanul Muslimin, dan Ghulen movement, maka tentu banyak hal yang telah mereka lakukan tapi belum dilakukan oleh Muhammadiyah. Beberapa organisasi itu, seperti Jamaah Tabligh, aktif mengirimkan misionaris atau muballighnya ke berbagai negara untuk menyebarkan pemahaman Islam versi mereka. Mereka juga mendirikan sekolah-sekolah di berbagai negara dengan ciri khas pendidikan yang mereka kembangkan. Ghulen movement, contohnya, kini telah memiliki beberapa sekolah dengan sistem dan kekhasan pendidikan mereka di Indonesia, Australia, dan Amerika. Beberapa organisasi menerjemahkan dan menyebarkan buku-buku karya mereka ke berbagai bahasa di dunia. Ahmadiyah, misalnya, telah menerjemahkan Al-Qur’an dengan tafsir versi mereka kepada lebih dari 200 bahasa di dunia. Hizbut Tahrir merekrut banyak orang lokal dan mendirikan cabang-cabang di berbagai belahan dunia. Ini semua belum dilakukan oleh Muhammadiyah.

Selain alasan fastabiqul khairat dengan organisasi Islam lain, gagasan tentang internasionalisasi Muhammadiyah ini juga berangkat dari kesadaran bahwa globalisasi itu sudah tak dapat dielakkan lagi. Sayangnya, di tengah dunia yang global ini, Indonesia yang memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia ternyata seringkali hanya menjadi konsumen berbagai paham dan pengaruh dari luar. Bangsa ini sepertinya hanya menjadi pasar bagi produk budaya dan pemikiran asing. Ketika Jemaah Islamiyah muncul, banyak orang Islam Indonesia yang berbondong-bondong bergabung dengan gerakan itu. Ketika ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) mendeklarasikan khilafahnya, sejumlah umat Islam dari Indonesia bergabung ke sana. Ketika Hizbut Tahrir berdiri di Indonesia, banyak mahasiswa Muslim yang bergabung dengannya. Jarang atau hampir tidak pernah dalam sejarah ketika umat Islam Indonesia bisa mempengaruhi atau memimpin umat Islam di dunia lain.

Seringkali para pemimpin Muslim negeri ini menunjukkan Islam di Indonesia adalah lebih baik atau tak kalah ortodoksinya dari Islam di negara lain. Karena itu, Islam ala Indonesia mestinya mampu “dijual” ke komunitas Muslim lain. Sayangnya, selama ini gagasan ini belum laku atau belum mampu meyakinkan orang Islam di luar Indonesia. Atau paling tidak, promosi yang dilakukan selama ini belum cukup berhasil. Ini juga yang menjadi dasar keinginan untuk terus melakukan internasionalisasi Muhammadiyah.

Sebagai penutup, tulisan ini ingin mengutip tiga konsep tentang internasionalisasi yang dikemukakan oleh Fred Halliday (1988) dalam artikelnya yang berjudul “Three Concept of Internationalism”. Barangkali tiga konsep ini bisa menjadi renungan ke arah mana internasionalisasi Muhammadiyah itu akan menuju. Pertama adalah “internasionalisme radikal” atau “internasionalisme revolusioner”. Intinya, konsep negara bangsa yang ada saat ini seringkali justru menciptakan berbagai ketimpangan di dunia. Karena itu, dunia yang satu perlu dibentuk.  Internasionalisme ini dijalankan dengan cara radikal untuk mengubah pola dunia. Ini diantaranya yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir; Weltklasse,
Weltpartei, Weltrevolution dari Lenin; dan global jihad yang diusung Osama bin Laden.

Konsep kedua adalah “internasionalisme hegemonik”. Berbeda dari yang pertama, internasionalisme ini dilakukan justru menciptakan dunia yang asimetris atau tidak rata. Ini dilakukan dengan melakukan hegemoni pandangan atau ekonomi. Internasionaliasasi ini identik dengan kolonialisme. Hegemoni Bahasa Inggris, misalnya, ikut berpengaruh terhadap punahnya ribuan bahasa lokal. Penyebaran Wahabisme yang menolak pemahaman Islam yang berbeda adalah contoh lain dari internasionalisme hegemonik.

Konsep ketiga adalah “internasionalisme liberal”. Intinya, dalam dunia yang global ini semua umat manusia harus melakukan interaksi dan bekerja sama yang lebih baik demi tujuan kemanusiaan. Tujuan dari internasionalisasi bukanlah untuk melakukan hegemoni ataupun membuat perubahan dunia secara drastik, tapi melakukan kerjsama untuk menciptakan dunia yang damai.
-oo0oo-

*Peneliti LIPI dan pengelola blog muhammadiyahstudies.blogspot.com