Saturday, January 31, 2015

Nalar Islam NU vs Muhammadiyah

Rabu, 14 Januari 2015

Oleh Aziz Ahmad

Pengantar
Sulitnya mendapatkan buku Nalar Islam Nusantara: Studi Islam ala Muhammadiyah, Al-Irsyad, Persis, dan Nahdhatul Ulama menjadi tantangan tersendiri dalam menyusun tulisan sederhana ini. Untungnya, Saya mendapati sebuah artikel yang cukup menarik karangan Najib Burhani, intelektual muda Muhammadiyah, yang dituangkan majalah Suara Muhammadiyah edisi Januari 2012. Di dalam tulisanya itu Burhani memberikan tantangan kepada generasi Muda Muhammadiyah untuk bangkit dalam merumuskan nalar Muhammadiyah sebagaimana yang telah dan terus dilakukan oleh intelektual muda NU.

Dalam tulisan ini Saya banyak mengambil inspirasi dari buku Jejak Pembaruan Sosial dan Kemanusiaan yang ditulis oleh Abdul Munir Mulkhan. Salah satu tema yang menarik dalam buku yang disusun guna memperingati satu abad kelahiran Muhammadiyah itu adalah mengenai Muhammadiyah sebagai gerakan protestanisme Islam. Mulkhan memberikan analisis yang cukup bagus dalam melihat Muhammadiyah sebagaimana yang dilakukan Max Weber dalam melihat Calvinis, salah satu kelompok Kristen di Barat. Saya kemudian berasumsi bahwa setidaknya apa yang ditulis oleh Mulkhan itulah nalar Islam yang digunakan oleh Muhammadiyah selama ini.
Nalar Islam NU vs Muhammadiyah
Dalam esainya yang berjudul Kritik Nalar Muhammadiyah: Pertanyaan dan Tantangan untuk Angkatan Muda Muhammadiyah, Najib Burhani memberikan ulasan yang menarik tentang angkatan Muda NU yang lebih progresif dalam bidang pemikiran dibandingkan dengan saudaranya, Muhammadiyah. Angkatan muda NU, kata Burhani, dengan penuh percaya diri menyebut diri mereka sebagai Post-Tradisionalis, suatu gerakan pemikiran yang berani melakukan auto kritik terhadap NU sebagaimana yang dilakukan Ahmad Baso dalam NU Studies-nya. Burhani memberikan beberapa alasan kenapa angkatan muda NU mendapatkan kepercayaan diri tersebut:
Pertama, mereka, generasi muda NU, lebih menggandrungi madzhab kritis yang berkembang di Perancis sebagai perlawanan terhadap pemikiran Anglo-Saxon di Amerika. Angkatan muda NU lebih menyukai perdebatan pemikiran dan filsafat daripada pemikiran Anglo-Saxon yang positivis dan formalis. Mereka juga menekankan pada pentingnya realitas empiris baru kemudian dipadukan dengan teks. Sementara di Muhammadiyah lebih dipengaruhi oleh gaya berpikir Weberian yang menekankan pentingnya ide dan teks baru kemudian diterjemahkan ke realitas empiris.
Kedua, kalangan muda NU menemukan piranti baru untuk membaca tradisi secara kritis seperti yang diusulkan Al-Jabiri dan Hasan Hanafi. Dengan piranti itu mereka meyakini bahwa untuk maju tidak harus meninggalkan tradisi, tapi justru berangkat dari tradisi itu.
Ketiga, kepeloporan dan kepemimpinan Gus Dur merupakan hal yang tidak dapat dinafikkan. Dari pemikiran Gus Dur ini mereka kemudian mendengungkan istilah-istilah seperti pribumisasi Islam, Islam Nusantara, dan Islam Indonesia.
Protesnamisme Islam ala Muhammadiyah  
Menurut Mulkhan, gerakan reformasi keagamaan yang dicanangkan Muhammadiyah, pada tingkat tertentu, memiliki kemiripan dengan Reformasi Protestan di Eropa. Beberapa prinsip-prinsip dasar dari kedua gerakan ini yang menjadikan Saya berasumsi bahwa hal itulah yang menjadi dasar nalar Islam Muhammadiyah. Beberapa prinsip tersebut yaitu:
Pertama, Muhammadiyah mengajarkan tentang pentingnya skripturalisme dengan slogannya “kembali ke Al-Quran dan As-Sunnah.” Dengan demikian, Al-Quran dan As-Sunnah diletakkan sebagai sumber utama otoritas dan legitimasi.
Kedua, tidak adanya sistem perantara antara hamba dan Allah. Karena Muhammadiyah muncul di lingkungan budaya Jawa yang sinkretik, maka sistem reformasinya dapat dilihat dari usaha purifikasi Islam dari unsur magis atau yang lebih dikenal dengan TBC (takhayul, bid’ah, dan khurafat).
Ketiga, mendasarkan kehidupan pada kalkulasi rasional dan perilaku hidup asketis di dunia modern. Hal ini dapat dilihat dari konsep tasawuf modern yang dikembangkan oleh Hamka.
Keempat, spirit rasional diyakini sebagai sumber kemajuan. Untuk itu, Muhammadiyah memandang sikap taqlid sebagai sumber kemunduran/kemandegan dan harus diganti dengan tradisi pemikiran rasional dan independen (ijtihad).
Di samping beberapa point di atas, secara umum buku karya Abdul munir Mulkan tersebut mencoba untuk menemukan kembali substansi ajaran Muhammadiyah sebagaimana yang digagas oleh pendirinya, KH. Ahmad Dahlan. Beberapa hal yang Saya dapatkan dari buku itu antara lain spirit Surat Al-Ma’un dan Ali Imron 104 sebagai inspirasi gerakan Muhammadiyah. Dari Al-Ma’un kemudian lahirlah kegiatan dalam bidang sosial kemasyarakatan seperti mendirikan sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan amal kerja Muhammadiyah lainnya. Selain itu, Ahmad Dahlan, jika dibaca dengan kondisi sosial-budaya yang melingkupinya, merupakan pelopor Islam liberal di Indonesia. Beberapa upaya yang dilakukannya merupakan sesuatu yang ganjil bagi masyarakat luas pada saat itu.
Saat ini, Muhammadiyah merupakan gerakan Islam terbesar yang terorganisir secara modern dengan unit kegiatan yang tersebar merata di seluruh kepulauan Indonesia. Adapun kecenderungan Muhammadiyah ke arah Wahabisme dan puritan, Menurut Mulkhan, dimulai sejak tahun 1927, seiring masuknya para lulusan Timur Tengah ke dalam organisasi ini. Pasca Muktamar 2005, sebagian besar anggota Muhammadiyah yang telah disusupi paham-paham impor dari Timur Tengah membentuk organisasi baru seperti PKS, Majlis Mujahidin Indonesia, Hizbut Tahrir Indonesia, dan Front Pembela Islam. Lahirnya organisasi tersebut lantaran mereka kecewa dengan PAN yang tidak menunjukkan gaungnya pada Pemilu 2004.
Pendapat Mulkhan di atas, khususnya terkait dengan kemunculan ormas-ormas Islam tersebut agak berbeda dengan pemahaman Saya selama ini. Yang saya tahu adalah bahwa maraknya ormas Islam beraliran Wahabi akhir-akhir ini sebenarnya sudah bercokol di Indonesia sejak era 1980-an. Hanya saja mereka tidak menunjukkan taringnya lantara sikap represif pemerintah Orde Baru kala itu. Setelah Suharto lengser, maka ormas-ormas tersebut berani tampil di permukaan. Mungkin saja, menurut Saya, selama masa Orde Baru para anggota ormas-ormas itu juga tercatat sebagai anggota Muhammadiyah. Muhammadiyah dijadikan sebagai tempat persembunyian mereka sekaligus menyebarkan paham salafi-wahabi ke dalam tubuh Muhammadiyah.

Dengan begitu, maka gerakan Protestanisme Islam ala Muhammadiyah saat ini lebih ke arah akidah karena kuatnya pengaruh Wahabi di dalamnya. Dalam bidang pemikiran, Muhammadiyah, khususnya generasi mudanya, masih tertinggal dari saudaranya, NU. Hanya dengan kembali ke semangat awal Muhammadiyah sebagaimana yang dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan-lah ormas ini akan menemukan jalan terbaiknya dalam merumuskan nalar Islamnya.
Waallahu a’lam
Sumber bacaan
Abdul Munir Mulkhan, Jejak Pembaruan Sosial dan kemasyarakatan Kiai Ahmad Dahlan. Jakarta: Kompas Gramedia. 2010.
Najib Burhani “Kritik Nalar Muhammadiyah: Pertanyaan dan Tantangan untuk Angkatan Muda Muhammadiyah” dalam Suara Muhammadiyah 21 Januari 2012.


Retrieved from: http://kajianpena.blogspot.com/2015/01/nalar-islam-nu-vs-muhammadiyah.html#more

Tuesday, January 27, 2015

Minority Complex dan Sektarianisme di Tubuh Umat Islam Indonesia


Umat Islam Harus Segera Bangkit
Suara Muhammadiyah, 03/100 - 11-25 Rabiul Akhir 1436 H/ 1-15 Februari 2015, h. 48-49

Ahmad Najib Burhani*

Beberapa kajian telah dilakukan untuk melihat mengapa umat Islam sepertinya selalu kalah di Indonesia. Salah satu temuan dari kajian itu misalnya menyebutkan bahwa umat Islam Indonesia itu merupakan mayoritas dalam jumlah, tapi memiliki mentalitas sebagai minoritas. Istilah yang sering dipakai adalah minority complex. Penyakit minority complex ini tentu biasanya dialami oleh kelompok minoritas. Ini terwujud, misalnya, ketika mereka melihat sesuatu yang unique yang ada pada mereka sebagai suatu penyimpangan atau keanehan. Mereka melihat uniqueness sebagai kelemahan atau bahkan sebagai problem atau masalah. Namun minority complex juga bisa terjadi pada kelompok mayoritas, seperti terjadi pada umat Islam Indonesia yang secara kuantitas mencapai hamper 90 persen dari total penduduknya. Penyakit inilah yang diantaranya yang menyebabkan sebagian umat Islam selalu berpikir tentang ancaman dari kelompok minoritas, hidup dalam bayang-bayang ketakutan, dan sulit berpikir sebagai bangsa atau umat yang besar. Orang yang menderita minority complex ini biasanya akan merasa perlu bantuan kekuasaan untuk bisa memperoleh sesuatu yang semestinya bisa diperoleh tanpa melalui bantuan kekuasaan.

Fenomena ini juga bisa dilihat dengan kajian pos-kolonialisme, bahwa mentalitas atau minority complex sebagai warisan dari masa kolonial. Dalam perspektif ini, apa yang terjadi di Indonesia ini bisa dijelaskan dengan melihat fenomena beberapa negara bekas jajahan negara lain. Meski penjajah telah meninggalkan negeri jajahannya, sifat dan mentalitas sebagai bangsa jajahan masih melekat pada sebagaian rakyat dan kebetulan mereka yang menjadi penguasa juga ingin berperilaku seperti penjajah.

Sikap dan mentalitas seperti itu diciptakan atau ditanamkan oleh penjajah untuk melanggengkan kekuasaannya. Ini misalnya terwujud dalam penamaan inlander kepada pribumi, sebagai bentuk diskriminasi sosial. Pada zaman colonial kelompok openjajah menciptakan tiga kelas yang berbeda, yaitu: kelompok penjajah kulit putih (Europeanen) sebagai kelas sosial tertinggi. Kelopok berikutnya yang menjadi kelompok sosial kelas dua adalah orang Arab, India dan Tionghoa. Istilah yang biasanya dipakai adalah Vreemde Oosterlingen (Timur Asing). Mereka sering menjadi mediator atau broker antara kelas atas penjajah dan kelompok masyarakat kelas tiga yang merupakan pribumi atau inlander.

Dengan sistem kelas sosial ini, maka kelas paling bawah diharapkan terus menghamba kepada orang asing. Sistem kelas ini kemudian ditiru atau dilanjutkan oleh oleh Orde Baru dengan menjadikan kelompok Tionghoa sebagai kelompok pedagang, tidak menjadi aparat pemerintah. Diskriminasi ini diperparah dengan politik Orde Baru yang tidak berpihak kepada umat Islam. Pada awal pemerintahan Orde Baru, umat Islam yang taat sering dianggap sebagai ancaman terhadap negara karena mereka dianggap memiliki loyalitas ganda ke negara dan agama.

Adakah persoalan lain yang membuat kita ketinggalan selain isu minority complex? Tentu ada, diantaranya adalah ketidakmampuan kita berpikir luas, keluar dari bingkai kelompok agama. Kasus yang terjadi di Mesir dan Tunisia menunjukkan bahwa ketika umat Islam mendapat kesempatan memimpin atau mendapat kekuasaan, maka yang pertama kali diurus atau diperhatikan seringkali adalah urusan kelompok agama saja. Ketika Ikhwanul Muslimin memenangkan pemilu di Mesir pasca Arab Spring. Ikhwanul Muslimin mendapat suara terbanyak dan Mohamed Morsi terpilih menjadi presiden. Namun baru satu tahun memimpin, banyak rakyat Mesir yang merasa dikecewakan. Rasa kecewa itu kemudian memberi kesempatan kepada militer untuk melakukan kudeta dengan menggunakan kekuatan rakyat.

Demikian pula halnya yang terjadi di Tunisia dengan Partai Ennahda. Nasibnya memang tak seburuk Ikhwanus Muslimin di Mesir. Partai ini juga lebih terbuka terhadap perbedaan dan pluralitas di masyarakat dengan berusaha merangkul beragam kelompok dan menjembatani berbagai perbedaan. Bahkan banyak yang melihat partai ini jauh lebih baik dari AKP (Adalet ve Kalkınma Partisi) di Turki. Namun pemerintahan transisi yang dipimpin oleh Moncef Marzuki dari Ennahda Party akhirnya kalah dalam pemilu yang diadakan tiga tahun setelah Arab Spring. Mereka dianggap tak bisa memuaskan harapan berbagai kelompok kepentingan di masyarakat.

Untuk di Indonesia, hal serupa terjadi dengan partai-partai Islam seperti PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Ketika orang dari partai ini mendapat mandat menjadi menteri di kementerian tertentu, isu yang berkembang adalah bahwa kementerian itu hanya menjadi sapi perahan. Pejabat dan staf di kementerian itu diganti dengan orang partai atau di-PKS-kan. Benar atau tidaknya isu ini tentu masih perlu dibuktikan. Tapi mencuatnya “skandal sapi” menunjukkan bahwa apa yang selama ini dituduhkan kepada PKS mendapat semacam pembenaran. Tentu saja ini tidak hanya terjadi di PKS, tapi juga partai-partai lain yang berbasiskan Islam semisal PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) dan PAN (Partai Amanat Nasional). Jika itu terjadi pada partai yang tak membawa label agama, maka ada sedikit maklum meski tetap saja tak bisa diterima. Namun jika itu terjadi pada partai yang membawa bendera Islam, maka sepertinya dosanya lebih besar.

Cara berpikir sektarian, hanya untuk partai atau kelompok agamanya, ini diantaranya yang membuat Islam kalah atau orang tak percaya dengan partai Islam lagi. Umat Islam ini masih sulit berpikir atau berjuang dengan melepaskan belenggu kelompok. Meminjam bahasa Buya Ahmad Syafii Maarif, mestinya kita sudah membalikkan cara berpikir kita dari “ke-Muhammadiyahan, ke-Indonesiaan, dan kemanusiaan” menuju “kemanusiaan, kebangsaan, dan ke-Muhammadiyahan”. Namun yang terjadi tetap pada pola yang pertama.

Ringkasnya, paling tidak ada dua  persoalan yang sering membuat umat Islam kalah, pertama adalah “minority complex” dan yang kedua adalah cara berpikir sektarian atau kekelompokan.
--oo0oo--

*Peneliti LIPI dan pengelola blog www.muhammadiyahstudies.blogspot.com 

Download file

Tuesday, January 13, 2015

Sudarnoto Abdul Hakim | Merawat Catatan Mbah-mbah Muhammadiyah | Jakarta

Sudarnoto Abdul Hakim | Merawat Catatan Mbah-mbah Muhammadiyah | Jakarta

Harian Kompas edisi 13 Januari 2015 menurunkan sosok Sudarnoto Abdul Hakim. Ia adalah perawatan catatan-catatan yang luput dari radar dokumentasi resmi; terutama ormas sebesar Moehammadijah. Usaha pengarsipan dan perawatan naskah sudah menjadi tugas negara. Tapi keterlibatan individu yang sadar juga dibutuhkan ketika tradisi arsip belum menjadi kultur masyarakat. Berikut ini adalah laporan minibiografi Sudarnoto Abdul Hakim yang diturunkan Kompas dan ditulis oleh Imam Prihadiyoko. (Redaksi)
NASKAH lama, tulisan-tulisan tentang Islam, yang dibuat oleh mbah-mbah Muhammadiyah banyak yang belum dibukukan. Tulisan itu sebagian besar juga masih berupa tulisan tangan yang ditulis dalam lembaran lepas. Sebagian besar tulisan itu berbahasa Jawa dan ditulis dengan huruf Latin, tetapi tidak sedikit juga yang menggunakan huruf Arab yang dikenal sebagai Arab Jawi.

Itulah yang menjadi kerisauan Sudarnoto Abdul Hakim (56). Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah, yang saat ini sedang mengumpulkan naskah, tulisan, dan catatan lama yang dibuat oleh tokoh Muhammadiyah, dan guru-guru Muhammadiyah, ini tidak ingin catatan dan tulisan tersebut hilang ditelan zaman. Apalagi, pendidikan formal yang ditekuninya juga berlatar belakang sejarah Islam.
Ia khawatir jika warisan para guru Muhammadiyah yang amat berharga bagi perkembangan peradaban Islam dan Indonesia itu tidak didokumentasikan dengan baik, bisa hilang dari sejarah peradaban.

Padahal, catatan tentang sebuah ayat atau terjemahan dan penjelasan dari tulisan yang mereka baca ketika itu, menurut Sudarnoto, amat berharga bagi sejarah Islam.

”Apalagi, ada tulisan dari para tabi’ut dan tabi’ut tabi’in tokoh pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan dan Ki Bagus Hadikusumo yang amat berharga. Dan kita sekarang sebagai generasi setelahnya, perlu mempelajari dan mendokumentasikan semua catatan tersebut,” ujar suami Nuraina Silin ini, pekan lalu.

Keberadaan naskah tersebut, menurut Sudarnoto, merupakan salah satu bukti bahwa para guru, mbah-mbah Muhammadiyah, merupakan intelektual Islam. Sebagian catatan itu sudah dicetak. Hal itu membuktikan bahwa mereka pun sadar akan bentuk publikasi tentang keilmuan.

Tulisan dan berbagai catatan yang dibuat juga memperlihatkan pemikiran yang amat luas, terbuka, dan maju. Meskipun mereka menuliskan catatan tersebut awalnya mungkin hanya untuk tujuan mengajarkan Islam kepada murid-murid mereka.

Relevan
Dari sejumlah naskah yang sudah dikumpulkan dan dibacanya, ayah empat anak ini mengungkapkan, tulisan tersebut relevansinya masih sangat dekat dengan keislaman dan keindonesiaan sekarang. Sebagian besar tafsir Jus Amma. Ada naskah terjemahan. Ada yang berbicara soal peradaban dan cara membangun peradaban bangsa. Ada catatan tentang perjalanan negeri ini dan komentar mereka tentang peristiwa yang terjadi ketika itu. Ada juga tentang catatan pengajian biasa, tetapi diberikan catatan penting tentang tafsir mereka.

”Semua itu penting dalam peradaban Islam Indonesia untuk membangun bangsa ini dengan elemen Islam dalam kebangsaannya,” ujar ayah empat anak ini.

Klop sudah. Sudarnoto yang hidupnya amat dekat dengan orang- orang yang menjadi ahli waris catatan tersebut berniat membukukan dan memublikasikannya. Saat memulai obsesinya ini, Sudarnoto tidak ingin dibilang terlalu bercita-cita muluk.

Pria yang selalu ramah dengan semua orang ini mengerjakan dari hal-hal yang bisa dikerjakannya sendiri dan dari catatan yang berserakan di keluarga besarnya. Ia mulai mengumpulkan tulisan-tulisan tangan dari orangtuanya, kakeknya, pamannya, dan lainnya.

Putra tertua dari lima bersaudara pasangan Zaini Ibrohim (almarhum) dan Syamchah ini pun tidak segan bertanya dan mendatangi banyak pihak yang mungkin masih menyimpan catatan-catatan mengaji yang dimiliki leluhur mereka.

Sudarnoto, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Rektor Universitas Islam Negeri Syarih Hidayatullah ini, juga mengajak kader-kader muda Muhammadiyah untuk ikut mengumpulkan catatan ataupun tulisan dari mbah-mbah Muhammadiyah.

”Kalau ada yang menemukan buku atau tulisan para tokoh Muhammadiyah dan sekarang tidak diterbitkan lagi, bisa ditulis ulang dan diterbitkan agar lebih banyak yang mendapatkan manfaat dari tulisan tersebut,” ujar cucu penghulu Banjarnegara dan Temanggung, Jawa Tengah, ini.

Dengan cara inilah Sudarnoto berharap bisa mengikuti jejak para penggerak Persyarikatan Muhammadiyah, yang selalu menularkan nilai universal, bersikap plural, mampu membumikan Islam dengan masyarakat dan budaya setempat, serta diakui di dunia Islam.

Sudarnoto Abdul Hakim
Lahir: Kauman Banjarnegara, Jawa Tengah, 3 Februari 1959
Istri: Nuraina Silin
Anak: Farah, Adaby, Sarah, dan M Januar
Pendidikan:
– Doktor, Sejarah dan Pemikiran Islam (cum laude) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2006)
– Master, Sejarah dan Pemikiran Islam, Institute Islam Sudies, McGill University, Montreal, Kanada (1993)
– Sarjana, Sejarah dan Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1986)
– BA, Sejarah Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1981)
– Pesantren Persis Bangil, Jawa Timur (1978)
– PGA, Muhammadiyah Temanggung, Jawa Tengah (1973)
– SD, Muhammdiyah Temanggung, Jawa Tengah (1972)
Buku/Tulisan:
– Al-Islam wal Qanun wa al-Dawlah fi Fikr Ki Bagus Hadikusumo wa Dawrihi, Studi Islamika, vol.21 number 1 (2004)
– Rekonstruksi Ilmu Peradaban dan Humaniora
– Integrasi Keilmuan UIN Syafih Hidayatullah Jakarta Menuju Universitas Riset
– Gus Dur Dalam Sorotan Cendekiawan Muhammadiyah
– NU, Khittah dan Godaan Politik
– ABIM: Dinamika Islam Politik Malaysia Kontemporer (Jakarta: UHAMKA Pers, 2009)

Sunday, January 11, 2015

Simpul Aktivis-Pemikir Muhammadiyah



 Pradana Boy ZTF

AWAL dasawarsa 2000an, merupakan sebuah era penting bagi sejarah pemikiran Islam di Muhammadiyah. Itu setidaknya ditandai dengan kelahiran dua lembaga pemikiran yang sebagian besar dimotori aktivis-pemikir muda, yakni Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP) dan Ma’arif Institute for Culture and Humanity. Lembaga yang disebut pertama belakangan sudah jarang terdengar, sementara yang kedua semakin aktif dan berkembang dengan segala macam variasi aktivitas yang bermuara pada penyebaran gagasan Islam yang inklusif, memihak dan partisipatoris.
Perkenalan saya dengan Maarif Institute bermula pada tahun 2003, ketika gagasan menghimpun potensi intelektual yang berserak di kalangan generasi muda Muhammadiyah mengkristal. Ada fakta yang tak bisa ditutup-tutupi bahwa di sejumlah tempat di Indonesia, terdapat elemen generasi muda Muhammadiyah yang mengabdikan diri pada dunia olah fikir dan kemasyarakatan. Secara tak disadari pula berbagai elemen ini sesungguhnya memiliki kesamaan cita-cita: menghimpun potensi berserak tersebut. Tapi dari mana hendak dimulai dan oleh siapa?
Pada situasi seperti inilah, Maarif Institute memainkan perannya. Maarif Institute menjadi titik simpul berhimpun. Kristalisasi gagasan itu pada akhirnya mewujud dalam kelahiran sebuah jejaring aktivis kultural anak muda Muhammadiyah yang kemudian dikenal sebagai Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM). Keduanya lalu menjadi dua entitas yang tak terpisahkan dan saling menguatkan, bahkan jika diibaratkan Maarif Institute adalah bidan yang menangani kelahiran JIMM.
Maka gagasan “menghimpun potensi berserak” itupun mendapatkan momentumnya. Maarif Institute dan JIMM lalu benar-benar menjadi simpul pengembangan dan pematangan gagasan di kalangan aktivis dan pemikir muda Muhammadiyah. Di sinilah untuk pertama kali saya bertemu dengan Dr. Moeslim Abdurrahman (1948-2012), yang selama masa pendidikan sarjana saya, hanya saya kenal lewat buku atau media massa. Pada tahun 1996, sebagai mahasiswa tingkat sarjana di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang, saya membaca sebuah jurnal terbitan fakultas di mana saya belajar, Ulumuddin nama jurnal itu. Jurnal itu memuat wawancara dengan Dr. Moeslim Abdurrahman. Saya menikmati wawancara itu dan menemukannya sebagai sebuah refleksi intelektual yang memantik pemikiran lebih dalam. Sejak saat itulah, saya semakin mengakrabi gagasan-gagasan Kang Moeslim.
Maka pertemuan secara fisik dan pribadi dengan Kang Moeslim di Maarif Institute pada tahun 2003 memang menjadi titik penting bagi petualangan intelektual saya. Melalui Maarif Institute dan JIMM pulalah, saya mengenal secara lebih dekat nama besar lainnya, Prof Ahmad Syafii Maarif yang lebih akrab dengan panggilan Buya Syafii.
Buya Syafii tak hanya memberikan dukungan moral kepada JIMM tatkala jejaring ini menebar kontroversi, lalu menuai kecaman dan penolakan dari berbagai kalangan di Muhammadiyah. Tetapi Buya Syafii dengan caranya sendiri juga secara cermat mengikuti perkembangan individual aktivis-pemikir muda Muhammadiyah ini. Itu yang saya rasakan tatkala di awal 2004, saya tiba-tiba mendapatkan panggilan telepon dari Kang Moeslim. Ia mengabarkan bahwa Buya Syafii membaca sebuah artikel saya tentang hermeneutika di Harian Republika dan menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi atasnya.
Tak hanya itu, arti penting Maarif Institute sebagai titik simpul adalah karena di sinilah untuk pertama kalinya saya berjumpa dengan tokoh-tokoh muda Muhammadiyah yang saat itu telah mapan sebagai intelektual publik seperti Zuly Qodir, Zakiyuddin Baidhawy, Ahmad Najib Burhani, dan Hilman Latief. Atau nama-nama lainnya yang saat itu tengah beranjak menapaki karier intelektual publik dan sekarang telah banyak mewarnai belantara pemikiran Islam dan sosial di tanah air seperti Ahmad Fuad Fanani, Andar Nubowo, Fajar Riza ul-Haq, David Krisna Alka, dan Hilaly Basya.
Melalui Maarif Institute dan JIMM, Kang Moeslim menjadi mentor intelektual yang tangguh bagi banyak aktivis-pemikir muda Muhammadiyah. Ia adalah seorang pedagog ulung. Kang Moeslim mengajarkan banyak hal, tanpa kami merasa diajari. Ia mengajar secara transformatif. Gagasan transformasi yang ia kembangkan, tak hanya berhenti pada teori. Ia membimbing kami dalam totalitas: waktu, ilmu, raga, materi. Maka mustahil memisahkan nama Moeslim Abdurrahman dari geliat kebangkitan intelektual muda di Muhammadiyah setidaknya dalam satu dekade terakhir ini.
Kang Moeslim pernah berujar tentang Cak Nur, yang ia sejajarkan dengan Kiai Ahmad Dahlan. Menurut Kang Moeslim, keduanya adalah contoh orang-orang yang memiliki kemampuan “nubuwah” atau kenabian. Yakni, kemampuan membaca tanda-tanda zaman, dan melalui pembacaan itu lalu merumuskan postulat-postulat perubahan sosial pada masanya. Kedua orang ini, kata Kang Moeslim, adalah contoh aktivis-pemikir yang berhasil menemukan kunci-kunci hermeneutika sosial pada zamannya.
Meskipun tak pernah mengakuinya, sesungguhnya Kang Moeslim pun telah menemukan kunci-kunci hermeneutika dalam membaca masyarakat Islam. Istilah seperti “dosa sosial”, “kemunkaran sosial”, dan “yatim sosial” adalah di antara kunci-kunci hermeneutis yang diwariskan Kang Moeslim kepada dunia intelektual Indonesia. Segaris dengan itu, maka Kang Moeslim tak pernah bosan berpetuah agar kami berjuang menjadi “nabi-nabi sosial” baru untuk perbaikan masyarakat. “Tetapi menjadi nabi tidaklah mudah,” begitu kata Kang Moeslim. Harus ada di antara kalian, kata Kang Moeslim, yang belajar bersungguh-sungguh, “bertapa” secara serius untuk mengasah kemampuan nubuwah itu. Tentu tidak dalam arti kenabian sebagaimana kita fahami secara teologis.
Maarif Institute dan JIMM adalah dua simpul kepada siapa kita bisa bergantung untuk lahirnya “nabi-nabi” yang mampu memecahkan kunci-kunci hermeneutis sosial baru pada setiap zaman. Itu menjadi mutlak adanya, karena dari situlah perubahan sosial bermula.

Pradana Boy ZTF, dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kandidat doktor sosiologi hukum Islam di National University of Singapore (NUS).

http://jimm-indonesia.org/

Tuesday, December 30, 2014

The Reformasi '98 and the Arab Spring: A Comparative Study of Popular Uprisings in Indonesia and Tunisia

Asian Politics & Policy
Volume 6, Issue 2, pages 199–215, April 2014

Ahmad Najib Burhani†
  1. Ahmad Najib Burhani is a researcher at the Indonesian Institute of Sciences (LIPI), Jakarta. He received his PhD in Religious Studies from the University of California-Santa Barbara, USA. His academic interests include “minority religions in Islam,” “Islamic movements in Southeast Asia,” and “cosmopolitan sufism.”
 Keywords:
  • Ennahda party;
  • political Islam;
  • politik aliran;
  • Rachid Ghannouchi;
  • secularism
Abstract
By comparing popular uprisings in Indonesia and Tunisia, this article intends to answer the questions: What kind of condition made the Islamists successfully take over the state in Tunisia, while they failed to do so in Indonesia? What are the similarities and differences between the uprisings in these two countries? This article argues that the historical and sociopolitical position of Islamists during the authoritarian regimes determined the fate of Islamist parties after the uprisings. The role of Ennahda party as a symbol of opposition has contributed to its rise after the Tunisian Spring, while the involvement of Islamists in the regime during the last years of Suharto's rule contributed to the decline of Islamist parties in Indonesia. However, the strongest argument for the decline of Islamist parties in Indonesia is the fading away of political streams. Furthermore, the role of Muslim scholars in desacralizing Islamist parties in Indonesia has significantly challenged and undermined the identification of Islam with Islamist parties.

http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/aspp.12113/abstract


Review to the article:
A Study of Islamist Politics in Indonesia and Tunisia
24th April 2014 Posted by nyucenterfordialogues 3 notes

Here is a great comparative study by Ahmad Najib Burhani of the models of Islamist politics in Indonesia – the most populous Muslim country in the world – and Tunisia – the birthplace of the “Arab Spring.”

Burhani explores the gains made by Islamist groups following the 1998 uprising in Indonesia and the 2010 uprising in Tunisia. In Indonesia, Islamist politics are no longer synonymous with Islamist parties. Although initially, in 1955, in the first democratic election in Indonesia following its independence, Muslims were urged to vote only for Islamist parties, the country has since developed a more nuanced understanding of Islam and politics. Burhani makes the argument that Islamist civil society organizations, like Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama (NU), have become the main forces behind Islamist politics in Indonesia, while the Islamist political parties have lost support.

In Tunisia, on the other hand, Ennahda, an allegedly moderate Islamist political party, wields virtually all of the Islamist political force. Ennahda won a plurality in the 2011 parliamentary elections (89 out of 217 seats) and used its gains to hold the Prime Minister’s office from then until January 2014. Although the Ennahda government was replaced with a coalition government in January, the party is still a major player in the Tunisian political field. It’s true that extremist Salafi group Ansar Al-Sharia makes the press with some its more high-profile tactics, but to most Tunisians, it is clear that the only Islamist group with any real sway is Ennahda. Yet, even Ennahda’s leader, Rachid Al-Ghannouchi, has made statements supporting a less politicized role for Islamism. Burhani points to a 2013 quote by Ghannouchi: “We do not need to impose Islam because it is the people’s religion and not the elite’s, and Islam has not endured for so long because of states’ influence, but rather due to the large acceptance it enjoys among its adherents, in fact the state has often been a burden on religion.”

Is it possible, as the Indonesian model seems to indicate, for Muslims, particularly “Islamists,” to support a secular political system? Should Ennahda take its leader’s advice and seek to keep Islam out of the formal governance structure? If so, perhaps Ennahda should consider empowering Islamist civil society organizations, rather than attempting to impose an Islamist order on the political system.

In Egypt, too, although the moment might be too late, it might be best for Islamists to reinforce the civil society aspect of the Muslim Brotherhood, instead of pushing for an explicit political role for the Freedom and Justice Party (FJP). Had Morsi and the FJP not demanded Islamist policies during their year in power, maybe the tragedies in Egypt last summer could have been avoided. Maybe, for once, Egypt could have had an option that was neither an Islamist dictatorship nor a military coup.

http://nyucenterfordialogues.tumblr.com/post/83717502080/a-study-of-islamist-politics-in-indonesia-and

Also: http://blog.minaret.org/?p=11511&cpage=1#comment-1250767

Saturday, December 27, 2014

Trensains: Pesantren Alternatif Muhammadiyah

(Menyongsong Musyawarah Ittihadul Ma’ahid al-Muhammadiyah 14-16 September 2012 di Kaliurang)


Agus Purwanto*)

Suara Muhammadiyah, no 18, tahun ke-97, September 2012
Butir amanat muktamar Muhammadiyah ke-45 (2005) di bidang pendidikan, iptek dan litbang menyebutkan:”Membangun kekuatan Muhammadiyah dalam bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya insani, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan eksplorasi aspek-aspek kehidupan yang bercirikan Islam sehingga menjadi alternatif kemajuan dan keunggulan di tingkat nasional atau regional”. (Tanfidz KeputusanMuktamar Muhamadiyah ke-45 di Malang, 2005:61).
Muhammadiyah merupakan gerakan Islam yang dikenal dengan trademark pendidikan. Ribuan sekolah sejak PAUD sampai dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah berdiri dari Sabang sampai Merauke. Bukan hanya itu, di setiap kota yang ada sekolah Muhammadiyahnya hampir selalu ada lembaga pendidikan Muhammadiyah yang menjadi terbaik atau favorit. Muhammadiyah pun terus berupaya meningkatkan kualitas terlebih di tengah perubahan yang sangat cepat.
Muhammadiyah dan Pesantren
Amanat muktamar di depan adalah wujud dari sikap antisipatif Muhammadiyah terhadap dinamika perubahan masyarakat. Bagaimanapun kemajuan modernitas bagai mata uang dengan dua sisi, yakni sisi kemajuan material dan sisi degradasi moral. Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sedemikian pesat, tetapi pada saat yang sama liberalnya pergaulan membuat para orang tua mencemaskan keadaan putra-putrinya. Di tengah situasi seperti ini sekolah berasrama (boarding school) mulai dilirik masyarakat.
Pondok pesantren atau pesantren saja adalah lembaga pendidikan berasrama yang khas Indonesia dan mengkhususkan diri pada kajian Islam. Pesantren telah ada di Indonesia sejak ratusan tahun lalu sehingga lembaga pendidikan berasrama bukanlah hal baru. Motivasi awal kehadiran pesantren adalah kaderisasi ulama syariah. Memang, para ulama terkemuka di Indonesia lahir dari dunia pesantren.
Mengingat motivasi dan peran tersebut maka Muhammadiyah sebagai gerakan Islam meniscayakan kehadiran pesantren. Muallimin-muallimat Yogjakarta adalah pesantren andalan Muhammadiyah bagi kaderisasi ulama tersebut. Saat ini, sekretaris Itmam (Ittihadul Ma’ahid al-Muhammadiyah, Persatuan Pondok Pesantren Muhammadiyah) mencatat terdapat 102 pesantren Muhammadiyah di seluruh Indonesia.
Muhammadiyah makin merasakan urgensi kehadiran pesantren sebagai lembaga kaderisasi ulama maupun sebagai tuntutan masyarakat. Meskipun demikian, tidak mudah bagi Muhammadiyah untuk mendirikan pesantren karena ciri khas dari pesantren yang berbeda dari lembaga pendidikan umum yang banyak didirikan oleh Muhammadiyah. Pertanyaannya, pesantren model apa yang khas dan dapat direalisasi Muhammadiyah.
Tahun 2009 pondok modern Muhammadiyah yakni Muhammadiyah Boarding School (MBS) berdiri di Klaten. Misi utama MBS adalah mempersiapkan para santri untuk mendalami ilmu syariah di timur tengah. Singkat kata, MBS membidani lahirnya ulama syariah. Meskipun demikian, MBS juga memberi jalan bagi para santri yang ingin melanjutkan studi pada bidang umum seperti kedokteran.
Pesantren Imam Syuhodo Sukoharjo dan pesantren Darul Ihsan Sragen juga berstatus pesantren modern tetapi berbeda dari MBS pada penekanan muatan ajar. Dua pesantren terakhir menekankan pada materi sekolah umum khususnya IPA dan masih terlibat dalam event olimpiade berbagai bidang ilmu. Tipe pesantren modern seperti MBS, Imam Syuhodo dan Darul Ihsan cuku banyak di masyarakat dan bukan t khas Muhammadiyah. Saat ini, ada tipe pesantren yang sedang ngetren tapi belum banyak di Muhammadiyah yaitu pesantren penghafal al-Quran.
Islam vs Sains
Awal tahun 1960an Hossen Nasr intelektual muslim yang tinggal di Amerika memperkenalkan wacana sains Islam dan terus berkembang sampai saat ini. Di Barat, wacana sains Islam berkembang sejalan dengan wacana pergulatan antara agama dan sains. Ian Barbour doktor di bidang teologi dan fisika melakukan analisa dan mendapatkan empat pola hubungan antara gama dan sains. Keempat hubungan tersebut adalah konflik, independensi, dialog dan integrasi antara agama dan sains.
Nasr juga Ismail al-Faruqi, Naquib al-Attas, dan Ziaudin Sardar serta Osman Bakar memandang bahwa ketegangan antara agama khususnya Islam dan sains modern merupakan keniscayaan. Sebabnya, sejak diambil alih Eropa dari pangkuan Islam, sains dikembangkan secara reduksionis dan mengesampingkan transendensi metafisisnya. Karenanya, upaya mengembalikan sains dalam bingkai ilahiah merupakan tugas besar ilmuwan muslim saat ini dan mendatang.
International Institute of Islamic Thought (IIIT) di Virginia Amerika dan cabang terkemukanya di Kuala Lumpur adalah lembaga bagi realisasi upaya tersebut. Salah satu program IIIT adalah memberi beasiswa mahasiswa pascasarjana bidang sains Islam di International Institute of Islamic Thought and Civilizations (ISTAC) di International Islamic University Malaysia (IIUM) Kuala Lumpur. ISTAC sendiri awalnya adalah lembaga independen yang didirikan awal 1980an oleh Naquib al-Attas bagi upaya unifikasi Islam dan sains, yang kemudian digabung menjadi program pascasarjana pemikiran Islam IIUM.  
Di Indonesia, gerakan ini mulai dilakukan dengan menata ulang IAIN menjadi UIN dan memasukkan fakultas sains dan teknologi di dalam UIN. Dua UIN paling aktif dalam upaya integrasi Islam dan sains adalah UIN Malang dan Yogjakarta. Beberapa cendekiawan secara independen juga terlibat dalam diskursus ini.
Pesantren Baru
 Sejak buku Ayat-Ayat Semesta (AAS) tahun 2008 penulis terlibat aktif sosialisasi wacana interaksi antara Islam dan sains dari kampus ke kampus, pesantren dan majelis-majelis ta’lim. Setelah empat tahun sosialisasi muncul gagasan trensains, pesantren sains, institusionalisasi AAS atau pun sains Islam.
Trensains mempunyai profil lulusan: i) lancar berkomunikasi dengan bahasa Inggris dan ii) bahasa Arab, iii) jago IPA dan matematika serta iv) paham diskursus pergulatan Islam dan sains. Transains berorientasi melahirkan ilmuwan, insinyur dan dokter yang basis al-Quran dan filsafat yang kokoh. Moto trensains, Generasi Pecinta al-Quran dan Sains.
Kemampuan bahasa Inggris dan Arab merupakan ciri umum pesantren modern. Karena orientasi alumni adalah studi lanjut baik di dalam maupun luar negeri maka diupayakan ketika lulus telah mempunyai skor TOEFL. Pemenuhan profil jago IPA dan matematika selain diterapkan dalam proses selama pendidikan juga diterapkan sejak saringan calon santri. Singkat kata, para calon santri harus mempunyai nalar matematika dan IPA yang kuat. Sampai di sini, trensains masih sama dengan pesantren modern yang telah ada.
Profil keempat paham wacana interaksi agama khususnya Islam dan sains menandai sekaligus membedakan trensains dari pesantren yang telah ada selama ini. Di pesantren modern biasa materi al-Islam, dan sains (biologi, fisika, kimia) juga diberikan tetapi tanpa dibahas hubungan dinamis keduanya. Materi untuk pemahaman topik ini adalah al-Quran dan hadits, logika, filsafat, sains, agama dan sains.
 Materi al-Quran diurai dalam seluk-beluk, pengantar tafsir, tafsir ilmiy, tafsir bil ilmiy dan eksplorasi pada ayat-ayat kauniyah. Materi hadits juga demikian, pengantar studi hadits, jenis dan fungsi hadits, serta eksplorasi hadits-hadits terkait alam dan fenomenanya. Hafalan al-Quran dan hadits dipilihkan bagian kauniyah dan yang terkait.
Materi logika dijabarkan dalam pengantar, jenis dan asas pemikiran. Sedangkan materi filsafat dijabarkan dalam pengertian, sifat dan fungsi serta sejarah kelahiran filsafat, filsafat Islam dan filsafat Barat modern. Kelahiran filsafat untuk memberi pemahaman mengenai proses penalaran sederhana dan terbentuknya teori-teori primitip. Filsafat Barat modern untuk memahami sifat dasar ilmu pengetahuan saat ini.  
Materi sains djabarkan dalam pengertian, sifat, topik tertentu dan sejarah sains sejak jaman Mesir kuno sampai sekarang. Riwayat singkat tokoh filsafat ilmu dan ilmuwan diberikan. Bidang sains yang erat dengan wacana islamisasi sains hanya ada dua yaitu astronomi, biologi dan fisika. Topik di biologi yang harus diberikan adalah asal-usul kehidupan, teori evolusi dan genetika. Sedangkan topik di fisika dan astronomi adalah teori atom, jagat raya dan kelahirannya. Teori relativitas dan kuantum diberikan dalam bentuk semi populer.
Buku The Bible, The Qur’an and Science karya Maurice Bucaille Perancis dan al-‘Ijaz al-‘Ilmiy fi as-Sunnah an-Nabawiyah karya Zaghlu an-Najar Mesir dapat dijadikan sebagai rujukan utama bagi tema kaitan antara al-Quran-Hadits dan sains. The Origin of Species karya Charles Darwin, The First Three Minutes karya Steven Weinberg, Brief History of Time dan The Grand Designer karya Stephen Hawking dapat dijadikan pegangan topik sains. Masih banyak lagi buku asing maupun yang ditulis oleh penulis dalam negeri yang dapat diperoleh di toko-toko buku. Materi-materi di depan tentu harus disesuaikan dengan tingkatan trensains, apakah tingkat SMA atau mahasiswa.
Untuk tahap awal, trensains akan direalisasi di Kesamben Mojoagung Jombang dan pesantren darul Ihsan Sragen. Trensains di Jombang bekerjasama dengan KH Shalahudin Wahid. Program dimulai dari awal, telah tersedia tanah sepuluh hektar dan proses pembangunan gedung dimulai September 2012 dan diupayakan telah menerima santri tahun ajaran 2012/2013. Trensains Darul Ihsan Sragen dilakukan dengan memodifikasi pesantren yang telah berjalan. Kedua trensains ini setingkat SMA. Muhammadiyah sangat mungkin untuk merealisasi trensains, baik level SMA maupun universitas.

*) Penulis, Anggota MTT PP 2010-2015, Pengajar Pascasarjana Fisika ITS, Visiting Fellow ISTAC-IIUM. Penulis buku BestSeller Ayat-Ayat Semesta

http://purwanto-laftifa.blogspot.com/2013/08/trensains-pesantren-alternatif.html

Sunday, December 14, 2014

Rationality and Enlightenment: A Comparison of Educational Reforms Promoted by Gülen Movement and Muhammadiyah



1. Introduction

I have been working on Islamic social movements in Indonesia over almost four decades now. Since the 1990’s, I have also extended my geographic coverage to other parts of the Islamic world mostly through Malay speaking peoples’ networks. However, it was only three years ago (2008) on my second trip to Turkey that I learned the existence of the GM. A Turkish Japanese couple organized a group tour, and my wife and I joined it. The couple has been supporters of the movement and trying to spread its network in Japan. In Turkey, my wife and I were introduced to the leaders of the Journalists and Writers Association, and visited a couple of Gülen -inspired centers in the eastern part of Turkey. Through that trip, we came to know for the first time the fact that GM in the form of ‘Turkish schools’ was extending to Indonesia, too, and also to other parts of Southeast Asia. Then, on a later occasion in Indonesia, we had a chance to visit Kharisma School in the out skirt of Jakarta, even though it was a very brief visit. Those visits made us curious of the GM very much and we started to learn more about it through its publications and website information. Then, the above-mentioned couple organized again a group trip to Turkey the last summer.  My wife and I were exposed again more of Gülen-inspired activities now going on in the country. 
Thus far, as you see, my knowledge and understanding on the GM has been very limited. But the movement is attractive enough for me as a researcher on Islamic movements to make me venture into a comparison with the Muhammadiyah movement in Indonesia, which I have been familiar with for many decades.
As pointed out by Barton, the two robust Islamic social movements in Indonesia, Nahdlatul ‘Ulama’ (NU hereafter) and Muhammadiyah, have many parallels to GM. However, I will focus my attention mostly on Muhammadiyah partly because its education system is perhaps the most extensive in the Islamic world and comparable to GM as Barton pointed out, and partly because I am more familiar with Muhammadiyah than with NU. Nevertheless, I will mention NU as well when it becomes relevant to my discussion.
Today, Muhammadiyah has grown to be the largest private school system in Indonesia with more than 10,000 educational institutions --- ranging from playgroups and kindergartens to colleges and universities. It also operates more than 450 institutions of medical services including hospitals, clinics, delivery houses; more than 450 social welfare institutions including orphanages, elders houses, the poor houses; and more than 550 economic mutual help associations including microfinance unions and cooperatives.[2] The movement is now widely recognized as the second largest Islamic faith-based civil society organization in Indonesia with roughly thirty million members and supporters, alongside its ‘rival’, i.e. the traditionalist Islamic organization, NU, which claims forty million members and supporters.