Saturday, April 23, 2016

Pidato dr Soetomo saat Resmikan RS Muhammadiyah Surabaya

KH Mas Mansur (x) di depan Poliklinik Muhammadiyah Surabaya di Jl Karang Tembok (foto: repro pwm jatim)
Ini Pidato Lengkap dr Soetomo saat Resmikan RS Muhammadiyah Surabaya
Penulis Redaksi -
April 22, 2016

PWMU.CO Persahabatan Muhammadiyah dengan Boedi Oetomo, merupakan salah satu kunci keberhasilan organisasi ini dalam melakukan pembaruan. Selain ikut membantu mengurus legalitas organisasi dari pemerintah kolonial, kedekatan keduanya juga terlihat dari Kongres Boedi Oetomo 1917 yang diselenggarakan di rumah pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Juga tidak sedikit tokoh Boedi Oetomo yang ikut memperkuat barisan Muhammadiyah, meski tidak menjadi anggota secara resmi.

Di Surabaya, dr Soetomo misalnya, salah satu pendiri organisasi Boedi Oetomo, juga banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan Muhammadiyah. Bersama koleganya, pahlawan Nasional ini mengelola Poliklinik Muhammadiyah di Sidodadi rumah nomor 57, tentu saja tanpa gaji. Poliklinik ini sendiri merupakan cikal bakal Rumah Sakit Muhammadiyah Surabaya yang sekarang berlokasi di Jl KH Mas Mansyur 180-182. Sebelum ke lokasi yang sekarang, RS ini pernah pindah di Jl Karangtembok, Pegirian (1925). Barulah pada tahun 1929 pindah ke lokasi yang sekarang, yang di sela-sela itu juga pernah bertempat sementara di Ampel Maghfur

Dalam pembukaan Poliklinik pada hari Ahad, 14 September 1924 itu, juga dihadiri oleh perwakilan Pengurus Besar Muhammadiyah Haji Soedja’ dan Ki Bagus Hadikoesoemo. Sementara, dr Soetomo, diamanahi untuk memberi sambutan kepada pada undangan sekaligus memperkenalkan pergerakan Muhammadiyah. Berikut petikan sambutan sosok yang namanya diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pemerintah Provinsi Jawa Timur, yang didokumentasikan Suara Muhammadiyah. Meski ada naskah asli dengan ejaan lama, untuk mempermudah, pwmu.co menyesuaikannya dengan ejaan terkini.
***

Nyonya-nyonya dan Tuan-tuan. Atas nama Perserikatan kita yang namanya Muhammadiyah, yakni untuk memperingati Nabi kita, Nabi Muhammad s.a.w, kami mengucapkan selamat datang dan terima kasih untuk perhatian tuan-tuan, yang tampak pada hari ini.

dr Soetomo
Sebelum kami menerangkan maksud pertemuan yang sederhana ini dengan pendek, haraplah kami hendak menerangkan Perserikatan kami pada tuan-tuan. Perserikatan kami ini, sebagai juga perserikatan lainnja yang memang macam Jawa yang bertabi’at (bersifat) menjadikan dan memperbaiki lahirnya di tanah Vorstenlanden, yakni tempat yang orang Jawanja masih memegang kejawaannya.

Meskipun Perserikatan kami itu kelihatannya dan wujudnya ada berlainan dengan Perserikatan yang lainnya yang timbul di dunia pada waktu yang kurang lebih bersama-sama. Yakni Perserikatan kami ini ada bersifat Islam. Tetapi pada hakikatnya Persyarikatan kami itu tiada lain hanya satu dari beberapa pertunjuk lahirnya pikiran baru yang menggetarkan bahagian antero dunia yang berfikir. Lagi pula boleh dikatakan akan pertimbangan atau perlawanan pengajaran Darwin. Bukankah pengajaran Darwin itu berasas peperangan hidup?

Sudah tentu saja kejadiannya pengajaran ini menindas dan memusnahkan yang bersifat lembek. Karena bermaksud untuk diri sendiri supaya dalam dunia ini mendapat tempat yang baik. Sedang fikiran baru itu timbul dari asas yang lain. Yakni asas cinta kasih. Asas cinta kasih ini sudah barang tentu tiada mengizinkan, tiada memberi kesempatan, beberapa untuk keperluan diri sendiri. Akan tetapi mewajibkan berkurban untuk mencapai hidup mulia bagi umum.

Dan kalau begitu, apakah yang disebut cinta kasih pada orang tua, pada istri dan anak dan lainnya? Tiada lain hanyalah mengorbankan diri untuk keselamatan dan kebahagiaan orang lain.
Begitu juga perserikatan kami. Ini kemasakan (kentelan –Jawa) fikiran cinta kasih yang akan kita curahkan kepada sesama manusia supaya dengan cinta kasih dan kurban dapatlah tercapai hidup mulia yang kita maksud seperti yang tersebut di atas.

Kita mendirikan sekolahan. Kita ada mendirikan Hizbul – Wathan untuk memajukan badan kita. Anak yatim pun dapat pemeliharaan dari kita. Banyaklah jalan yang hendak kita jalani. Tetapi haruslah disebutkan di sini. Bahwa syarat kita ada sempit.

Besuk pagi akan kita buka Poliklinik ini. Siapa juga, baik orang Eropa, baik orang Jawa (orang bumi), baik China atau bangsa Arab, boleh kemari, akan ditolong dengan cuma-cuma, asalkan betul miskin. Kami mengharap tuan-tuan dan nyonya-nyonya, hendaknya luluslah poliklinik ini berdirinya, juga oleh bantuan tuan-tuan sekaliannya. Pekerjaan poliklinik yang penuh dengan kurban dan kemanusiaan. Lagi pula terutama adalah kami guntingkan berseru kepada pers (surat kabar) yang memang dapat menolong hal ini yang tiada berhingga.

Hari ini ialah hari bagi dokter-dokter yang bekerja pada poliklinik ini. Hari untuk peringatan bagi pekerjaannya yang berat akan penyediaan pekerjaan ini.

Bagi kita adalah hari ini hari terima kasih. Terima kasih kepada siapa juga yang menolong dengan bicara dan tenaga. Akan menyampaikan maksud kita itu. Pertama-tama terimakasih kami kepada Hoofdinspectur B.G.D (Pekerjaan pengobatan) dan Dr. Degger untuk pertolonganya dari negeri. Yang wujud obat-obat dan verbandmiddelen. Kedua terima kasih banyak kepada tuan Dr. Tamm, untuk fatwanya yang baik yang mengiringi surat permohonan kami. Begitu juga tuan Assenraad, kami merasa wajib mengucap terima kasih atas cara pencukupan obat-obat yang sebanyak itu dari simpanan tuan.

Nyonya-nyonya dan tuan-tuan, untuk penutup khutbah kami yang pendek ini, perizinkanlah kiranya kami memberi kehormatan kepada Zr. Matles yang sudah bekerja untuk kami susah payah dan cara kerja kapannya mengumpulkan orang untuk kami, dan juga untuk kecakapannya menyalakan da’wah (propaganda) bagi pekerjaan ini.

Nyonya Suratman. Tuanlah yang menghias poliklinik ini sehingga baik pada pemandangan. Jika nanti tamu-tamu kita sesudah menyaksikan melihat poliklinik ini dengan riang hati berangkat pulang, percayalah kami, bahwa keriangan hati itu tersebab dari tuan.
***

Atas peran Sutomo bersama 16 koleganya sesama dokter serta Muhammadiyah Surabaya dalam membangun poliklinik Muhammadiyah, maka sidang Pengurus Besar Muhammadiyah Yogyakarta memutuskan mengangkat Sutomo menyadi Medisch Adviseur Muhammadiyah bidang kesehatan. Salah satu kerja yang menjadi bagian dari Penolong Kesangsaraan Umum (PKO).

Dalam sambutan pidato yang disampaikan, dr Soetomo dan kawan-kawannya menyatakan kesanggupan untuk memberikan bantuan tenaga kepada PKU Muhammadiyah. Dokter-dokter itu antara lain dr Soetopo, dr Sardjono, dr Heerdjan, dr Soewarno, dr Soeratman, dr Soehardjo, dr Soerjatin, dr Soekardi, dr Irsan, dr Muwaladi, dr Saleh, dr Djojohusodo, dr J.W. Grootings, dr Aziz, dr P.H.F. Neynhoff, dr A.J.F. Tilung dan dr Rabain.

Para dokter itu memberikan bantuan tenaga menurut giliran waktu dan keahliannya. Kemudian dr Soedjono-lah yang dalam kesehariannya menjadi dokter tetap sesuai kesepakatan para dokter tersebut. Kira-kira 3,5 bulan setelah berdiri, Poliklinik ini telah memberikan pertolongan pengobatan 3.975-an pasien. (arkoun abqaraya)

Diambil dari:
http://www.pwmu.co/5223/2016/04/ini-pidato-lengkap-dr-soetomo-saat-resmikan-rs-muhammadiyah-surabaya.html
http://www.pwmu.co/5223/2016/04/ini-pidato-lengkap-dr-soetomo-saat-resmikan-rs-muhammadiyah-surabaya.html/2

Monday, April 4, 2016

Anti-Terrorism Cooperation between the National Agency for Contra Terrorism and Civil Society: Study Case of Muhammadiyah Disengagement


Indra Putri, Rima Sari. 2013. "Anti-Terrorism Cooperation between the National Agency for Contra Terrorism and Civil Society: Study Case of Muhammadiyah Disengagement". Journal of Defense Management. 02 (04). 

Rima Sari Indra Putri*
Alumni of Post Graduate Defense Management, Indonesian Defense University in Cooperation with Cranfield University England, UK
Corresponding Author :     Rima Sari Indra Putri
Muhammadiyah University of Sidoarjo
Indonesia
E-mail: arcrima2001@yahoo.com

Received July 12, 2012; Accepted October 11, 2012; Published November 29, 2012

Citation: Indra Putri RS (2012) Anti-Terrorism Cooperation Between The National Agency For Contra Terrorism and Civil Society: Study Case of Muhammadiyah Disengagement. J Def Manag 2: 111. doi: 10.4172/2167-0374.1000111

Abstract


This research is about anti-terrorism cooperation between the National Agency for Counterterrorism (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme/BNPT) and civil society, study case Muhammadiyah disengagement in the signing of Memorandum Of Understanding between BNPT and Islamic organizations in 2011. The theory applies are Terrorism, Security sector reform and Cooperation. As civil society, Muhammadiyah has conducted anti-terrorism efforts through its structural and cultural roles in politic, socio-economic, diplomatic and education aspect. Unfortunately, there has not been any framework of cooperation established between Muhammadiyah and BNPT, due to several hindering factors. Firstly, Muhammadiyah and BNPT have different perspective in addressing issues on terrorism and anti terrorism methodology. Secondly, political conflict. Thirdly, BNPT’s constraints in time, human resources and funding. Forthly, lack of BNPT’s political will. Actually, Muhammadiyah possess ideological and organisational potential that may facilitate the dissemination of anti terrorism more effective and efficient. Therefore, this study recommends the need for BNPT and Muhammadiyah to strengthen organisational commitment and to start building communication. In addition, the concept of deradicalization applied by BNPT needs to be evaluated and developed. This study is a qualitative research and using descriptive analysis method.

Download article

Sunday, March 27, 2016

Siapakah Drijowongso?

Diposting di Maret 26, 2016

Oleh : Mu’arif

Orang yang berkhidmat dalam Muhammadiyah ibarat bekerja dalam sunyi. Dalam kesunyian, ia tak butuh podium untuk menyampaikan gagasan. Juga tak perlu bendera (identitas kelompok) untuk menawarkan bantuan kepada orang lain. Ia pun laksana garam. Terasa asinnya tapi tak tampak wujudnya. Begitulah orang yang bekerja di belakang layar, menjadi sumber inspirasi dan sekaligus eksekutor gagasan di lapangan. Seperti halnya sosok Drijowongso dari Porong, Sidoarjo, ia bukanlah orang yang dikenal di kalangan Muhammadiyah, apalagi umat Islam di Hindia Belanda pada awal abad 21. Tetapi sosok Drijowongso adalah sekretaris Bagian PKO Muhammadiyah mendampingi Kyai Syuja’ (ketua). Barangkali yang luput dari perhatian para peneliti Muhammadiyah kini adalah latar belakang kehidupan Drijowongso.

Sosok Drijowongso adalah seorang buruh tani yang miskin asal Jawa Timur. Ia mengadu peruntungan nasib menjadi buruh tani tebu di Klaten. Anak dan istrinya ditinggalkan di Jawa Timur. Pandangan hidup Drijowongso sekuler, tetapi jiwanya selalu memberontak. Sudah bekerja keras di bawah tekanan para cukung Belanda, pendapatannya tak bisa mencukupi kebutuhan hidupnya, apalagi untuk menghidupi anak dan istrinya. Terbakar semangat oleh bujukan Haji Misbach, para buruh tani tebu di Klaten berontak. Mereka melakukan pemogokan kerja secara massal pada sekitar tahun 1921. Drijowongso termasuk salah satu aktor di balik aksi pemogokan buruh tersebut. Kerugian besar ditanggung perusahaan milik para cukong kolonial. Akhirnya, buruh tani asal Porong tersebut ditangkap oleh tentara kolonial dan dijebloskan ke dalam penjara di Magelang selama satu setengah tahun.

Betapa sedih dan sengsara sosok Drijowongso selama di penjara. Anak dan istrinya tidak mendapat kiriman uang untuk membiayai hidup di kampung. Dalam keheningan di penjara, ia teringat pada sosok ulama modernis yang sangat murah hati. Teringat dalam pikirannya sebuah organisasi yang telah didirikan oleh ulama tersebut: Muhammadiyah.

Tampaknya, kemunculan sosok ulama modernis dari Kauman, Yogyakarta, sudah santer beredar di daerah Magelang. Bahkan, ulama tersebut juga mengajar di salah satu sekolah kolonial ternama di kota ini (OSVIA). Pandangan keagamaannya dinilai sangat maju. Apalagi, lahirnya gerakan Islam modern yang digagas oleh ulama modernis tersebut bertujuan untuk memajukan kaum pribumi. Drijowongso pun tertarik. Ia mengajukan permohonan kepada HB Muhammadiyah supaya berkenan menghidupi anak istrinya yang berada di Porong.

Haji Fachrodin (Soewara Moehammadijah no. 1/th ke-4/1922) mengisahkan, pada tanggal 20 November 1921, SI cabang Kediri mengundang HB Muhammadiyah Bagian Tabligh untuk menghadiri open bar vergadering di tempat tersebut. Utusan HB Muhammadiyah terdiri dari K.H. Ahmad Dahlan dan Haji Fachrodin. K.H. Ahmad Dahlan dan Haji Fachrodin diundang oleh SI cabang Kediri karena dalam struktur CSI, keduanya menjabat posisi teras. Dalam memenuhi undangan tersebut, HB Muhammadiyah mengajak Siti Moendjijah, adik kandung Haji Fachrodin yang menjadi salah satu santri putri KH. Ahmad Dahlan.

Dari Kediri, utusan HB Muhammadiyah melanjutkan kunjungan ke Sidoarjo. Pada tanggal 23 November 1921, utusan HB Muhammadiyah menjemput anak dan istri Drijowongso di Porong (Sidoarjo). Drijowongso memberikan kepercayaan kepada HB untuk menjaga, mendidik, dan menghidupi anak dan istrinya selama dia dalam penjara (Magelang).

Satu setengah tahun sudah lewat, Drijowongso baru saja keluar dari penjara di Magelang. Ia langsung menuju ke Yogyakarta, bermaksud menemui anak dan istrinya. Alangkah kagetnya dia sewaktu menemui anak dan istrinya. Sebelum dididik dan dibina oleh HB Muhammadiyah, anaknya masih kecil dan lugu. Kini, sang anak telah tumbuh besar, berpenampilan rapih, dan terdidik. Sang anak menyambut ayahnya dengan hormat lagi santun. Tutur katanya sangat sopan, berbeda jauh kondisinya ketika masih hidup di Porong. Begitu juga istri Drijowongso, lebih kelihatan rapih penampilannya, dan sangat sopan perilakunya. Anak dan istri Drijowongso seolah-olah pernah mengenyam pendidikan formal karena mereka memiliki wawasan yang luas, bahkan pengetahuan keagamaan yang memadai. Batin Drijowongso tersentuh. Ia merasa berhutang budi kepada Muhammadiyah. Pada hari itu juga, ia bertekad untuk terlibat aktif di Muhammadiyah. Pada waktu itu pula, HB Muhammadiyah sedang menggelar Rapat Tahunan (1923) bertempat di rumah R. Wedana Djajengprakosa. Sekretaris HB Muhammadiyah menerima Drijowongso yang bermaksud mengabdi di Muhammadiyah.

Itu baru sepenggal kisah Drijowongso sebagaimana yang dikisahkan oleh Ng. Djojosoegito dalam notulen “Peringatan Perkoempoelan Tahoenan Moehammadijah 30 Maart- 2 April 1923 di Jogjakarta” (Soewara Moehammadijah no 5 dan 6/th ke-4/1923). Di hadapan para peserta sidang, Drijowongso mengucapkan banyak terima kasih kepada Muhammadiyah. Tanpa ragu, Drijowongso menyatakan siap mengabdi di Muhammadiyah. Dia pun dipilih sebagai sekretaris Bagian PKO, mendampingi Kyai Syuja’.

Nama Drijowongso memang tidak banyak dikenal di kalangan Muhammadiyah. Sebab, ia seorang yang berkhidmat dalam berjuang di Muhammadiyah. Bekerja dalam sunyi, tetapi membuahkan hasil yang nyata. Spirit revolusioner tafsir Al-Maun rupanya mampu menggetarkan hatinya. Jika sebelumnya Drijowongso mengenal gagasan-gagasan revolusioner lewat pemikiran-pemikiran Sosialis-Marxis (gerakan kaum buruh), setelah bergaung dengan Muhammadiyah ia menemukan spirit yang sama namun berhaluan religius. Selain mengurus administrasi Bagian PKO, Drijowongso juga aktif menggalang dana untuk membangun rumah miskin dan balai pengobatan yang diperuntukkan bagi para dlu’afa pribumi.

http://suaramuhammadiyah.com/kolom/2016/03/26/siapakah-drijowongso/

Thursday, March 24, 2016

3 Tokoh Muhammadiyah Jatim yang Diabadikan sebagai Nama Rumah Sakit Pemerintah

 Penulis Redaksi - Maret 24, 2016
KH Mas Mansur (x) di depan Poliklinik Muhammadiyah Surabaya di Jl Karang Tembok. Salah satu karya nyata Muhammadiyah dalam bidang Kesehatan. (foto: repro pwm jatim)
PWMU.CO – Muhammadiyah sejak kelahirannya dikenal sebagai gerakan yang konsen pada dunia pendidikan dan kesehatan. Bahkan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, sudah mulai mendirikan sekolah setahun sebelum mendeklarasikan Muhammadiyah itu sendiri. Barulah setelah itu, berbagai sekolah milik Persyarikatan dengan modernisasi metode dan sarana pembelajaran tersebar ke seantero Nusantara.

Pada saat bersamaan dengan menjamurnya amal usaha bidang pendidikan, Muhammadiyah juga mengembangkan amal usaha di bidang kesehatan. Bersinergi dengan berbagai kalangan, poliklinik kesehatan –yang kemudian berkembang menjadi rumah sakit–, juga mulai berdiri-berderetan di bumi Indonesia. Di Jatim sendiri, hingga November 2015, tercatat amal usaha Muhammadiyah bidang Kesehatan sebanyak 72 buah, 29 di antaranya berbentuk rumah sakit, 43 buah Poliklinik, serta Balai Pengobatan (BP), Rumah Bersalin (RB), dan Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA).

Khusus bidang kesehatan, selain melahirkan AUMKes yang seabreg, sudah tentu melahirkan tokoh-tokoh penting di baliknya. Tanpa memperdebatkan apakah tokoh melahirkan sejarah atau sejarah yang melahirkan tokoh, yang jelas ada tokoh-tokoh penting dalam setiap peristiwa penting. Ketokohan para pejuang kesehatan Muhammadiyah ini tidak hanya diakui secara internal, tapi juga diakui secara nasional maupun regional. Tidak heran jika nama-nama mereka juga diabadikan sebagai nama rumah sakit milik negara.

Berikut adalah 3 tokoh Muhammadiyah Jatim yang namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit umum negara.


http://www.pwmu.co/2500/2016/03/3-tokoh-muhammadiyah-jatim-yang-diabadikan-sebagai-nama-rumah-sakit-pemerintah.html

1. RSUD Dr Soetomo Surabaya

Salah satu bangunan RSUD dr Soetomo Surabaya (foto: rsudrsoetomo.jatimprov)
Tidak banyak orang tahu bahwa dr Soetomo yang dijadikan nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Jawa Timur di Surabaya itu adalah seorang tokoh Muhammadiyah. Memang dia dikenal sebagai salah satu pendiri Boedi Oetomo, tapi pada saat bersamaan juga tokoh penting Muhammadiyah. Tidak hanya sebagai Penasehat Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam bidang kesehatan, tapi juga penanggung jawab poliklinik Muhammadiyah Surabaya. Poliklinik yang digawangi itulah yang hari ini menjadi Rumah Sakit KH Mas Mansyur Surabaya, Jl. KH Mas Mansyur.

Di Surabaya, dr Soetomo banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan Muhammadiyah. Termasuk bertukar pikiran dengan KH Mas Mansur –di kemudian hari menjadi Ketua (Umum) PP Muhammadiyah, meski dalam beberapa masalah memang terdapat ketidakcocokan pemikiran. Bersama koleganya, Soetomo mengelola Poliklinik Muhammadiyah yang saat pertama kali dibuka menempati Jl Sidodadi rumah nomor 57, yang tentu saja tanpa digaji.

Bukan hanya bertanggung jawab untuk mengelola poliklinik, bahkan dr Soetomo juga diberi tanggung jawab untuk memperkenalkan organisasi Muhammadiyah kepada khalayak saat acara pembukaan. Padahal acara pembukaan pada tanggal 14 September 1924 itu juga dihadiri langsung oleh perwakilan Pengurus Besar (sekarang Pimpinan Pusat) Muhammadiyah, Hadji Soedja’ dan Hadji Hadikoesoemo. “Njonjah-njonjah dan Toewan-toewan. Atas nama perserikatan kita jang namanja Moehammadijah, ja’ni oentoek memperingati Nabi kita, Nabi Moehammad s.a.w, kami mengoetjapkan selamat datang dan terima kasih oentoek perhatian toewan-toewan, jang tampak pada hari ini,” pidato Soetomo saat pembukaan.

“…haraplah kami hendak menerangkan perserikatan kami pada toewan-toewan. Perserikatan kami ini, sebagai djoega perserikatan lainnja jang memang matjam Djawa jang bertabi’at (bersifat) mendjadikan dan memperbaiki lahirnja ditanah Vorstenlanden…Meskipoen perserikatan kami itoe kelihatannja dan woedjoednja ada berlainan dengan persarikatan yang lainnja jang timboel didoenia pada waktoe jang koerang lebih bersama-sama. Ja’ni persarikatan kami ini ada bersifat Islam. Tetapi pada hakikatnja Persyarikatan kami itoe tiada lain hanja satoe dari beberapa pertoendjok lahirnja pikiran baroe. Jang menggetarkan bahagian antero doenia jang berfikir,” jelas dr Soetomo menjelaskan singkat tentang Muhammadiyah.

Atas peran Soetomo bersama 16 koleganya sesama dokter serta Muhammadiyah Surabaya dalam membangun poliklinik Muhammadiyah, maka sidang Pengurus Besar Muhammadiyah Yogyakarta memutuskan mengangkat Soetomo menjadi Medisch Adviseur Muhammadiyah bidang kesehatan. Salah satu kerja yang menjadi bagian dari Penolong Kesangsaraan Oemoem (PKO).


http://www.pwmu.co/2500/2016/03/3-tokoh-muhammadiyah-jatim-yang-diabadikan-sebagai-nama-rumah-sakit-pemerintah.html/2

2. RSUD dr Soewandhie Surabaya

Salah satu bangunan RSUD dr Soewandhie Surabaya (foto: rs-soewandhi.surabaya)
Pada November 1945, saat Belanda membonceng sekutu ingin kembali menjajah Indonesia, Surabaya menjadi lautan darah. Selama sebulan, terjadi pertempuran face to face antara Sekutu dan rakyat Surabaya. Ribuan orang gugur dalam pertempuran yang diabadikan sebagai Hari Pahlawan itu, serta tidak terhitung berapa korban yang terluka. Keahlian kedokteran Indonesia yang masih minim, membuat tidak banyak orang yang tampil sebagai sosok menonjol. Salah satunya adalah dr Moehammad Soewandhie.

Peran Soewandhie bisa dikata cukup dominan dalam memberi penanganan kesehatan korban perang karena posisinya sebagai koordinator Kesehatan Urusan Perang di Korp Palang Merah. Selain merawat dan menguburkan jenazah korban perang, seksi ini bersama masyarakat juga membuat dapur umum untuk mendukung kelancaran perjuangan kemerdekaan. Selain itu, pascapertempuran 10 November 1945, Soewandhie memimpin ‘pembookingan’ jawatan kereta api untuk mengungsikan pasien ke luar kota.

Saat itulah hampir tidak ada waktu baginya untuk istirahat sejenak sekalipun. Siang dan malam dihabiskan untuk menggordinir petugas medis menggotong korban ke stasiun Gubeng, untuk diberangkatkan ke rumah sakit luar Surabaya. Tidak hanya itu, seksi yang dipimpinnya juga melakukan pengungsian massal dengan alat transportasi apapun: mobil, dokar, hingga cikar. Tak ketinggalan, diapun ‘terpaksa’ ikut mengungsi serta mendirikan beberapa rumah sakit darurat di pengungsian.

Salah satu putra Muhammadiyah ini lebih banyak dikenal kiprahnya di dunia kesehatan. Padahal jauh sebelumnya, Soewandhie adalah tokoh pergerakan nasional yang gigih. Dia juga sempat tercatat sebagai anggota perkumpulan pemuda yang dianggap cikal bakal gerakan nasionalisme Indonesia yaitu Jong Java.

Suami dari Iniek Ismari yang dinikahinya di Kediri pada 28 Mei 1929 ini, selalu berada pada lintasan sejarah kebangsaan. Dari zaman penjajahan Belanda hingga Jepang, kiprahnya terus konsisten memperjuangkan kemerdekaan. Bahkan, ketika masa Jepang, Soewandhie bersama beberapa tokoh surabaya kala itu seperri Roeslan Abdulgani, Dul Arnowo, dan Sungkono selalu berkumpul untuk mengatur strategi menyongsong kemerdekaan 17 Agustus 1945. Rumahnya di jalan Anjasmoro 20 Surabaya merupakan tempat berkumpulnya tokoh-tokoh tersebut sebagai tempat rapat rahasia.

Sebagai tokoh yang berpandangan modern, Soewandhie akhirnya memilih bergabung dengan Muhammadiyah. Sebagai generasi Islam dia merasa perlu memiliki perkumpulan Islam. Disamping itu, Muhammadiyah seakan membuatnya nyaman karena dekat dengan amal-amal shaleh kepada sesama. Salah satu kecocokannya di Muhammadiyah kemudian semakin menjadikan dia sebagai tokoh pelopor kesehatan kala itu.

Di Muhammadiyah dia seperti mendapatkan ruang. Dia terlibat menjadi pengasuh balai kesehatan di Kampementstraat (Jl. KH Mas Masur) mulai tahun 1926. Bahkan, dalam periode kepemimpinan Muhammadiyah Surabaya 1962-1964, dirinya sempat dipercaya sebagai Ketua PD Muhammadiyah. Karena dia kemudian terpilih sebagai ketua Muhammadiyah cabang Surabaya Tengah (satu tingkat di bawah PD), dia memilih sebagai Ketua Cabang tersebut. Sementara untuk ketua PDM Kota Surabaya dijabat HM. Anwar Zain.

Pilihannya menjadi dokter ternyata menjadi panutan di dunia kedokteran, terutama pengabdiannya pada rakyat. Untuk mengenang jasanya sebagai seorang Dokter yang sekaligus seorang pejuang, pemerintah Kota Surabaya mengabadikan namanya sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di kawasan Tambakrejo.  Sosok yang wafat 16 Maret 1987, juga berperan dalam dunia olah raga di Surabaya: salah satu pendiri Surabayase Inlandsche Voetbalbond (SIVB) yang kini berubah menjadi Persebaya.


http://www.pwmu.co/2500/2016/03/3-tokoh-muhammadiyah-jatim-yang-diabadikan-sebagai-nama-rumah-sakit-pemerintah.html/3

3. RSUD dr Koesnadi Bondowoso


Salah satu bangunan RSUD dr Koesnadi Bondowoso (foto: portalkbr)

RSUD Pemerintah Kabupaten Bondowoso ini terletak di Jl. Kapten Pieree Tendean Nomor 3. Meski daerah ini dikenal bukan basis Muhammadiyah, tapi di tempat ini lahir tokoh besar Muhammadiyah. Yaitu Koesnadi, yang memang lebih banyak beraktivitas di Surabaya dan Jakarta. Lahir di Bondowoso, dia menempa diri saat muda di Surabaya dengan aktif di Hizbul Wathan (HW), Kepanduan milik Muhammadiyah.

Melanjutkan perkuliahan kedokteran di Jakarta, lantas dia banyak banyak berkecimpung dalam kegiatan Muhammadiyah. Dengan keahliannya sebagai pakar kesehatan, dalam setiap kepemimpinan PP Muhammadiyah dia selalu diamanahi sebagai Wakil Ketua (sekarang Ketua) yang membidangi Kesehatan. Namanya berkibar secara nasional sejak tahun 1962, sehingga dalam muktamar setengah abad itu dia terpilih sebagai anggota PP Muhammadiyah.

Dalam 6 muktamar kemudian, dia terus terpilih sebagai anggota PP. Mulai muktamar 1965 di Bandung, 1968 di Yogyakarta, 1971 di Ujung Pandan (Makassar), 1975 di Padang, 1978 di Surabaya, hingga yang terakhir pada muktamar 1985 di Surakarta. 11 bulan sebelum pelaksanaan muktamar ke-42 di Yogyakarta, 15-19 Desember 1990, Allah swt memanggilnya terlebih dahulu pada 24 Januari pada tahun yang sama. Pikiran-pikiran segar Koesnadi dalam menyelaraskan Islam dengan perkembangan kesehatan juga dijadikan rujukan negara ketika mengambil kebijakan.

Nama Koesnadi memang erat dengan dunia kesehatan. Di Muhammadiyah, dia selalu diamanahi tugas mengurus tentang kesehatan. Tak heran jika namanya selalu disebut-sebut dalam berbagai pendirian Rumah Sakit Muhammadiyah. Dalam pembangunan RS Siti Khodijah Sepanjang Sidoarjo 1967 misalnya, Koesnadi adalah peletak batu pertamanya. Sedangkan di Jakarta, dia juga tercatat sebagai inisiator pendirian Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) Cempaka Putih, dan Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) Sukapura.

Reputasi Koesnadi di belantara internasional juga tidak diragukan lagi dalam menyuarakan perbaikan kesehatan bagi umat manusia. Tak heran jika rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta 1983-1990 ini menjadi sosok penting di Indonesia bagi NOVIB (Nederlands Organisatie Voor Internationle Behulpazaam Heid). Yaitu  lembaga pemerintahan Belanda yang memberikan bantuan dana ke pihak-pihak yang memerlukannya. Sangat wajar jika Pemerintah Kabupaten Bondowoso akhirnya mengabadikan namanya sebagai nama RSUD setempat. (kholid)

http://www.pwmu.co/2500/2016/03/3-tokoh-muhammadiyah-jatim-yang-diabadikan-sebagai-nama-rumah-sakit-pemerintah.html/4

Wednesday, March 23, 2016

PP Muhammadiyah Terbitkan Buku Fiqh Air

Kosmopolitanisme Muhammadiyah diantaranya diwujudkan dlm orientasi fiqh yg dikembangkan; fiqh air, fiqh kebencanaan, fiqh difabel, fiqh jurnalistik, fiqh minoritas, dst. Menggantikan fiqh yg berorientasi ritual & ibadah.

PP Muhammadiyah Terbitkan Buku Fiqh Air
Diposting di Maret 4, 2016




Sesuatu hal yang senantiasa perlu kita ingat adalah bahwa Allah SWT lah yang menciptakan alam semesta seisinya, dengan demikian Dia juga lah yang memiliki dan mengaturnya. Dengan menyadari hal tersebut, manusia semestinya senantiasa berpegang kepada pandangan bahwa ia merupakan bagian dari kesatuan kosmos yang tanpa batas, dan hanya menempati jagad manusia, sebuah jagad kecil (microcosmos)—atau yang secara sederhana dapat disebut bumi—yang isinya dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menunjang hajat hidup dan berbagai kepentingannya.

Sebagai salah satu makhluk yang menempati jagad kecil, manusia telah digariskan oleh Allah SWT untuk menjadi khalifah-Nya [di muka bumi]. Sebagai khalifah manusia, selain diberikan oleh Allah SWT untuk dapat memanfaatkannya, memiliki tugas untuk merawatnya juga, dan tidak mengekploitasinya secara berlebihan. Air sebagai salah satu unsur penyusun jagad kecil sudah ditakdirkan oleh Allah SWT sejak sebelum berjalannya waktu untuk dapat memberi manfaat, berkah, selain juga dapat menjadi bencana bagi manusia.

Adalah sesuatu yang penting untuk mengetahui makna air sebagaimana yang digariskan oleh Allah SWT melalui Al-Qur’an dan hadis Rasulullah, sehingga kita dapat menjadi manusia yang dapat memanfaatkannya secara tepat. Penggunaan air, dapat meliputi berbagai unsur lagi, sebagaimana yang akan dijelaskan di bab-bab dalam buku ini, yang menyangkut ketauhidan, tata nilai, hingga keadilan, yang semuanya telah banyak diungkit dalam Al-Qur’an yang tujuannya tidak lain adalah untuk mengarahkan langkah manusia ke jalan yang lurus, sehingga mereka tidak merugikan satu sama lain. Dengan demikian Penerbit Suara Muhammadiyah berinisiatif untuk menerbitkan buku Fikih Air yang disusun berdasarkan pada Keputusan Musyawarah Nasional Tarjih ke-28 Tahun 2014 yang merupakan buah pikir dari Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini. Buku yang berdimensi ini 20 x 12,5 cm dengan ketebalan xxvi + 102 halaman ini dibanderol dengan harga Rp 27.000 ini menggarisbawahi dan mengingatkan kembali panduan mengenai nilai-nilai dan pengunaan air yang sesuai dengan yang digariskan oleh Allah SWT, baik melalui Al-Qur’an maupun hadis Rasulullah yang telah dikaji dengan baik oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah. Nilai-nilai dan pengunaan air yang akan dibahas dengan sangat detail dalam buku ini, tidak hanya meliputi penggunaan dalam tataran prifat, melainkan juga mencakup hingga tataran yang lebih luas seperti masyarakat, pemerintah, hingga pihak swasta.

Melalui buku yang disusun oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah ini air digambarkan sebagai sesuatu yang harus selalu dihargai, dikelola, dan dimanfaatkan dengan baik dan bijak; dan dengan demikian menghasilkan manfaat dan syafaat yang nyata bagi umat manusia. Semoga buku ini dapat mencerahkan Anda sekalian. Selamat membaca. (adit)
 
http://suaramuhammadiyah.com/buku/2016/03/04/pp-muhammadiyah-terbitkan-buku-fiqh-air/

Monday, March 21, 2016

Pola “Muhammadiyah-Jawa” = “Teteh Melody-JKT48”: Apa Melody harus masuk IMM? (2)


Hubungan Muhammadiyah-Jawa
Melalui Muhammadiyah Jawa, A. Najib Burhani ingin menjelaskan dan menelusuri berbagai dokumen pada rentang waktu 1912 hingga 1930, yang membuktikan bahwa Muhammadiyah juga merupakan representasi dari Islam varian Jawa. Sebab selama ini, banyak kalangan—termasuk anggota Muhammadiyah—yang menganggap bahwa Nahdhatul ‘Ulama’-lah satu-satunya representasi Islam Jawa, terlihat secara kasar bahwa NU lebih dekat dengan tradisi Jawa, melalui tahlilan, slametan, dan mauludan, dibanding Muhammadiyah yang rasanya kurang memberikan apresiasi terhadap tradisi/budaya Jawa. Latar belakang penulisan buku mas Najib ini terkait dengan persoalan bahwa Muahammadiyah, yang dicirikan dengan gerakan puritan Islam, seolah-olah akan merubah semua budaya Jawa yang dianggap sinkretis. Sehingga, tidak bisa dipungkiri pandangan semacam inilah yang sekarang ini menyebar dan parahnya banyak kalangan menerima kenyataan itu taken for granted; apa adanya, tanpa kritik. Yang lebih menguatirkan lagi, fakta berupa dokumen serta berita resmi Muhammadiyah menunjukkan bahwa Muhammadiyah pada masa awal beridirnya sangat erat sekali dengan budaya Jawa, tidak hanya pada Keraton tapi juga Boedi Oetomo (BO) yang dahulu merupakan organisasi priyayi-Jawa, tidak ketahui sebagian besar orang, sehingga pandangan yang terlanjur menyebar tidak bisa dibendung. Sudah banyak kajian para sarjana menegenai hubungan Muhammadiyah dengan Jawa, tetapi belum ada kajian mengenai hubungan keduanya yang terjalin pada masa awal beridirnya. Nah, mas Najib melalui buku ini ingin bersikap kritis terhadap pandangan yang terlanjur mengakar dan diterima apa adanya,  dengan menutup kekosongan kajian tentang Muhammadiyah dalam hubungannya dengan budaya Jawa pada awal berdirinya.

Fokus pertama dari buku mas Najib ini adalah pada hubungan antara Islam dan Jawa. Jawa, sebagaimana juga budaya lain mempunyai apa yang disebut sebagai budaya dalam (deep culture). Budaya dalam ini sifatnya tidak terlihat secara kasat mata. Sedangkan budaya permukaan (surface culture) sebaliknya, bisa dilihat secara kasat mata, yang tercermin melalui bahasa, seni, pakaian, hari besar, makanan dsb. Budaya permukaan Jawa terlihat dari bahasa jawa, yang terdiri dari bahasa ngoko biasa dipakai untuk percapakan non-formal dan ditujukan untuk mereka yang umurnya sebaya, madya (semi-formal) dan kromo yang digunakan untuk percapakan formal, digunakan untuk percakapan dengan orang tua. Dari segi perayaan hari besar, Jawa memiliki beberapa hari besar, seperti grebeg Suro, Mauludan (Maulid Nabi), riyaya (Hari raya ‘idhul fitri dan idhul adha). Pakaian orang Jawa seperti blangkon, tapih untuk perempuan, beskap juga merupakan aspek dari budaya permukaan Jawa. Begitu juga dalam masalah makanan seperti sego tumpeng, bubur abang-putih biasanya untuk acara mithoni (acara peringatan tujuh bulanan kehamilan) dst, dibuat sesuai dengan maksud tertentu. Terakhir, seni Jawa klasik, yang dikenal banyak kalangan dengan jathilan, wayang wong, dan ludruk (h. 18-23). Buku mas Najib ini menekankan pada aspek budaya permukaan (surface culture) dalam memahami dan membaca sikap Muhammadiyah terhadap budaya Jawa.

Sarjana barat yang mengkaji hubungan Islan dengan Jawa bisa dibedakan ke dalam dua pandangan ekstrem: Pandangan Orientalis-Lama dan Pandangan yang berpusat pada Islam. Pertama, disebut oleh mas Najib sebagai Paradigma Orientalis Lama, bahasa keren-nya Old-Orientalist Paradigm yang berpandangan bahwa dalam mengkaji Jawa, sebaiknya para sarjana tidak mengfokuskan diri pada Islam sebagai faktor utama, karena Islam hanya bagian dari berbagai elemen budaya yang tersebar di Jawa, seperti pra-Hindu, Hindu, Budha, dan Kristen. Sehingga, dalam paradigma ini, menempakan Islam sebagai bagian kecil dari budaya Jawa. Para tokoh berparadigma orientalis-lama diwakili oleh Thomas Raffles, Clifford Geertz, dan James L. Peacock.

Pembagian masyarakat Jawa menjadi putihan dan abangan, pada mulanya ditemukan dalam tulisan Carel Poensen, sebagaimana dikutip dalam buku (cat. nomor 21, h. 25). Putihan ialah sebutan untuk orang Jawa yang Islam lahir-batin; tidak hanya sebatas pada status formal saja tetapi juga secara batiniyyah meyakini ajaran Islam. Sedangkan abangan sebutan untuk orang Jawa yang beragama Islam hanya sebatas status-formal saja, tetapi jauh di dalam batinnya masih mengimani agama Jawa (Jawanisme). Pemerintah Belanda juga akhirnya memakai istilah ini untuk membagi masyarakat Jawa sebagau usaha untuk menceraikan antara Islam dan adat (Jawa). Proyek ini dijalankan oleh Snouck Hurgronje dan Cornelis Van Vollenhoven untuk menerapkan adat sebagai system hukum di Indonesia pada waktu itu. Hal ini tidak lain hanya untuk semakin menjauhkan nuansa Islam; singkatnya mengadu domba Islam dan budaya. Namun hal tersebut tidak berjalan sesuai rencana, ternyata Islamisasi di Jawa melalui kerajaan/istana bahkan tumbuh dengan massif. Karenanya, pemerintah colonial mengubah strategi. Strategi yang diambil selanjutnya dengan usaha untuk membaratkan Jawa. Proyek pembaratan Jawa ini target utamanya adalah para prirayi, sebab mereka (priyayi) mempunyai kekuatan dan otoritas untuk mempengaruhi rakyat biasa dan mereka mempunyai akses pengetahuan yang lebih terbuka pada Barat daripada masyarakat biasa. Akhirnya, banyak kalangan priyayi yang sebelumnya dekat dengan Islam, harus terpisah bahkan semakin jauh dari Islam. Terjadilah trikotomi santri-abangan-priyayi yang dipopuleran Clifford Geertz dalam bukunya Religion of Java (1976). Sehingga, bisa dikatakan pertentangan yang terjadi antara Islam dan budaya (adat) tidak bisa dilepaskan dari peranan pemerintah colonial yang tidak menginginkan hubungan harmonis antara keduanya.

Geertz, yang berpandangan dengan gaya orientalis lama, membuat garis demarkasi yang ketat antara Islam dan adat (Jawa). Baginya, Islam hanyalah bagian dari budaya Jawa, yang bahkan pengaruhnya amat kecil dibandingkan dengan elemen lain yang datang sebelum Islam seperti animism, dan Hindu-Budha. Filosofi Jawa seperti andap-asor; alus-kasar; semuanya didasari pada pemikiran filosofi Hindu dan Budha. Sopan-santun serta andap-asor  merupakan turunan dari konsep kasta dalam Hindu, yang digunakan dalam berhubungan sosial dengan orang yang lebih tinggi status sosialnya. Konsep alus-kasar, dalam bidang seni, menggambarkan pemikiran Hindu juga, istilah seni alus untuk kasta Brahma-Ksatria, dan kasar untuk masyarakat biasa (Weisya). Semua sarjana yang disebut dalam kelompok ini berpadangan bahwa Islam bukanlah faktor utama, karenanya Islam menjadi inferior. Pandangan tersebut tentu saja sejalan dengan pandangan orientalis Barat dalam melihat Islam (h. 24-34).

Pandangan kedua, pandangan yang berpusat pada Islam, atau Islam-centered. Sarjana barat yang sependapat dengan pandangan ini diwakili oleh Mark R. Woodward, Marshall G.S Hodgson dan Willliam R. Roff. Pandangan ini bertolak belakang dari pandangan Orientalis-lama. Pandangan ini menyatakan bahwa Islam lah faktor yang dominan dalam membentuk masyarakat Jawa, bukan Hindu-Budha seperti disebut oleh orintalis lama. Mas Najib mendasarkan argument pandangan ini dari Mark Woodward, yang juga turut hadir dalam acara Diskusi Majelis DIKTI waktu lalu. Dalam berbagai penelitian dan berbagai temuan Woodward dalam Islam in Java (1989), agama di Jawa tidaklah punya akar Hindu-Budha. Tidak cukup bukti untuk menyatakan bahwa Hindu-Budha punya pengaruh pada agama masyarakat Jawa. Misalnya saja, dalam budaya grebeg mulud (peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW), Woodward tidak menemukan lagi unsur-unsur Hindu-Budha dalam acara tersebut, tidak ada lagi epic Mahabharata dalam setiap detail acaranya. Islam telah menjadi agama resmi, dimana etika dan tata krama perbuatan juga bersandar kepadanya. Karena pola Islamisasi di Jawa berlangsung dari atas ke bawah (top-down) sehingga ketika Islam telah menjadi agama resmi istana, maka hal itu pula secara perlahan akan meresap dan diparaktikkan oleh masyarakat biasa yang berada di luar istana. Woodward menambahkan bahwa Hindu-Budha tidak lagi menjadi pondasi dasar budaya Jawa. Sebab Islam sudah beradaptasi dengan budaya pra-Islam, kemudian memunculkan tradisi baru yang justru sarat akan nilai-nilai Islam. Singkatnya, Islam telah merasuk begitu dalam pada budaya Jawa (h. 39-44).

Fokus kedua  dari buku ini menjelaskan tentang lingkungan sosial dimana Muhammadiyah didirikan, serta sikap Muhammadiyah dalam merespon budaya Jawa. Tidak bisa dipungkiri bahwa lingkungan serta konteks sosial dimana Muhammadiyah bediri, berkaitan erat dengan budaya Jawa. Muhammadiyah berdiri di Kauman, sebuah tempat yang sangat dekat dengan Keraton; pusat budaya Jawa Jogja. Keraton kasultanan Ngayogyakarta merupakan warisan dari Mataram Islam. Selain Keraton Jogja, pecahan Mataram Islam dibagi menjadi Keraton Kasunanan Surakarta. Pembangunan arsitektur keraton Jogja, menurut Woodward, merupakan data kongkret-komprehensif bahwa Islam telah mengakar di lingkungan Keraton. Bahkan dalam desain arsitekturnya, keraton dibangun berdasar pada konsep tasawwuf Islam yang menggambarkan hubungan antara manusia dengan Allah.

Selain itu, aspek yang tak kalah penting untuk menjelaskan lingkungan yang melingkupi pendirian organisasi Islam tertua ini adalah, bahwa Ahmad Dahlan merupakan seorang abdi dalem Keraton. Dalam wawancaranya bersama Gusti Joyo, mas Najib menemukan informasi bahwa julukan Ahmad Dahlan adalah Raden Ngabehi (R. Ng.), bukan Mas sebagaimana dijelaskan para sejarawan. Jika dilihat dari garis keturunannya, Ahmad Dahlan termasuk dalam keturunan Kyai-priyayi. Ayahnya, KH Abu Bakar bin Kyai Mas Sulaiman merupakan seoarang ketib dan abdi dalem yang menangani urusan keagamaan. Seteah kematian ayahnya, Ahmad Dahlan ditunjuk untuk menjadi ketib amin sehingga ia juga menjabat posisi resmi di Keraton. Salah satu tugasnya ialah memimpin grebeg, yang terdiri grebeg Mulud (peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad) dan  grebeg Besar (peringatan riyaya) serta acara keagamaan lain. Dalam posisi seperti ini, semakin meneguhkan bahwa sesungguhnya Ahmad Dahlan sangat menghormati tradisi Jawa. Sehingga terlihat jelas bahwa Muhammadiyah melakukan proses adaptasi terhadap budaya Jawa dengan cara yang baik, santun dan damai.

Ahmad Dahlan tidak saja menjadi abdi dalem tetapi ia juga menjadi anggota dari salah satu organisasi kebudayaan Jawa modern, Boedi Oetomo (BO), yang aggotanya terbatas pada kalangan priyayi saja. Pada tahun 1909, ia masuk menjadi anggota Boedi Oetomo setelah diperkenalkan oleh Mas Djojosumarto. Organisasi ini membuat Ahmad Dahlan menjadi anggota aktif sampai wafatnya pada 1923.

Hubungan yang terjalin antara BO dan Ahmad Dahlan semakin erat dengan pembentukan Muhammadiyah. Pada awal gagasan pendirian Muhammadiyah, Ahmad Dahlan banyak dibantu oleh BO. Diskusi mengenai aturan administrasi pendirian organisasi baru juga banyak dilakukan Ahmad Dahlan bersama pengurus Boedi Oetomo. Pada masa itu, pemerintah Belanda tidak mudah mengizinkan berdirinya organisasi baru, karena itu pada proses kelengkapan administrasi BO juga melakukan supervisi langsung. Masuknya tujuh (7) anggota Muhammadiyah ke BO merupakan saran dari BO agar bisa memudahkan persyaratan administrasi perizinan pendirian organisasi secara resmi, merupakan salah satu contohnya. Tidak hanya itu, setelah berdirinya Muhammadiyah, hubungan kedua organisasi ini pun berlangsung harmonis. Beberapa guru dari sekolah BO mengajar di sekolah Muhammadiyah begitu juga sebaliknya, guru-guru agama Muhammadiyah diperkenankan mengajar di sekolah pemerintah seperti H.K.S Purowerjo dan OSVIA di Magelang, Jawa Tengah. Inilah kiranya jalan Muhammadiyah dalam merasionalisasi dan modernisasi masyarakat Kauman khususnya kala itu, yaitu dengan jalan pendidikan. Sedangkan dalam upayanya membendung proyek kristenisasi di Jawa yang didudukung oleh pemerintah Belanda kala itu, Muhammadiyah mulai mendirikan rumah sakit sebagaimana dilakukan oleh Kristen (h. 72-6).

Dalam konteks sosial seperti dijelaskan diatas, Muhammadiyah tidak akan bisa dilepaskan dari budaya Jawa. Alih-alih mengutuk budaya Jawa, Ahmad Dahlan beserta para anggota Muhammadiyah awal sangat mengapresiasi tradisi Jawa. Tradisi Kauman dimana Muhammadiyah lahir didukung dengan sebagian besar anggota Muhammadiyah awal merupakan abdi dalem, termasuk sang pendiri Ahmad Dahlan menjadikan organisasi Islam ini tidak bisa keluar dari tradisi/budaya Jawa. Tercatat tujuh dari Sembilan pendiri Muhammadiyah pada perijinan resmi kepada pemerintah adalah abdi dalem, dua yang lain juga masih keturunan priyayi serta keturunan abdi dalem pamethakan (pejabat urusan agama keraton) (h. 82-4). Apalagi kedekatan Ahmad Dahlan kepada Boedi Oetomo semakin menunjukkan keterbukaan Muhammadiyah untuk belajar dari organisasi kebudayaan (Jawa) ini. Sehingga hampir seluruh dokumen yang digunakan mas Najib memberikan gambaran bahwa sikap Muhammadiyah pada budaya Jawa bisa dilihat terutama kali pada budaya permukaan: dari aspek perilaku, bahasa, busana, dan nama.

Dalam berperilaku, Ahmad Dahlan (dan Muhammadiyah) tidak pernah melanggar aturan, unggah-ungguh budaya Jawa (Keraton). Bahkan, ia sebagai ketib amin berhubungan baik dengan Sultan (Raja). Selain itu, anggota Muhammadiyah lain, yang juga merupakan abdi dalem keraton juga turut serta dalam mengapresiasi tata cara perilaku Jawa. tidak hanya itu, sebagai ketib amin, Ahmad Dahlan menjalankan tugas untuk mengurus acara besar kegamaan Keraton yang selalu rutin diadakan, seperti grebeg Mulud yang dilaksanakan sebagai peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, grebeg Besar dilaksanakan ketika hari raya kurban hingga Sekaten. Dari sini terlihat sikap jelas Muhammadiyah dalam memberikan apresiasi terhadap budaya Jawa. hingga saat ini, Muhammadiyah tidak mengecam grebeg (h. 95-101).

Tidak hanya dalam aturan perilaku Muhamamdiyah mengapresiasi budaya Jawa. Dari sisi bahasa, Muhammadiyah di masa awal juga menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa penerjemahan al-Qurān. Inilah pandangan Muhammadiyah, yang membolehkan penerjemahan al-Qurān dengan bahasa selain bahasa Arab (a’jami). Selain itu, dalam hal  penerbitan Muhammadiyah juga menggunakan bahasa Jawa dan Melayu. Dari sisi ibadah, Ahmad Dahlan bahkan membolehkan orang yang belum mampu sholat dengan bahasa Arab, supaya belajar dahulu menggunakan bahasa Jawa. Hingga dalam penyampaian khutbah Jum’at, yang pada saat itu sebagian besar disampaikan menggunakan bahasa Arab, Muhammadiyah memulai penggunaan bahasa Jawa, dengan alasan supaya mudah dipahami dan dimengerti jama’ah.

Beskap, belangkon, kuluk, atela merupakan pakaian yang sering digunakan oleh anggota Muhammadiyah. Inilah bentuk kecintaan pada budaya Jawa. hampir semua foto-foto dokumen lama menunjukkan jelas bahwa sebagian besar memakai baju khas Jawa. Apalagi perihal nama, banyak nama Jawa dalam anggota (juga pendiri) Muhammadiyah, dengan berbagai sebutan seperti Mas, Raden, dan Haji. (h. 102-17).

Focus Ketiga dari buku ini yaitu pergeseran sikap Muhammadiyah terhadap budaya Jawa.  Pembahasan sebelumnya telah menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak pernah menentang budaya Jawa bahkan dalam banyak hal mengapresiasi. Namun seiring berjalan waktu, banyak perubahan serta pergeseran sikap Muhammadiyah terhadap budaya. Mas Najib memberikan pemetaan sebab pergeseran itu menjadi faktor internal dan ekternal. Faktor internal banyak dipengaruhi oleh keadaan dalam intern Muhammadiyah. Penyebab pertama pergeseran sikap dari dalam (internal) adalah pengaruh anggota Muhammadiyah dari Minangkabau. Satu tokoh Muhammadiyah yang banyak mempengaruhi pemahaman agama yang keras serta menentang tradisi adalah Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA), dikenal dengan Haji Rasul; Ayah dari Buya Hamka. Haji Rasul, yang merupakan pendiri Muhammadiyah di Minangkabau, dalam setiap dakwahnya sering mengktirik berbagai tradisi adat, sehingga terjadi pertentangan antara ulama tradisional, Kaum Tua dengan Kaum Adat. Karakter pemahaman agama Haji Rasul bercorak revivalis-putiran.

Selain dari pengaruh anggota Minangkabau, pendirian Majelis Tarjih juga merupakan faktor lain yang turut berkontribusi menggeser sikap Muhammadiyah pada budaya. Majelis ini didirikan resmi pada tahun 1928 di Kongres Muhammadiyah ketujuh di Yogyakarta. Pendirian majelis ini awalnya bertujuan untuk menaganai permasalahan khilāfiyyah, terutama dalam masalah yang berkaitan dengan hukum wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Tetapi setelah berjalan, Majelis ini mulai mengeluarkan fatwa-fatwa yang malah menghambat adanya inovasi, karena khawatir akan bid’ah. Pendirian majelis ini juga terkesan kontradiktif, karena pemahaman Muhammadiyah akan Islam tidak mengikuti (terikat) madzhab tertentu, sehingga pendirian Majelis ini dianggap sebagai madzhabnya Muhammadiyah. Hal ini pula yang menyebabkan Muhammadiyah terlalu sibuk dengan persoalan ibadah dalam makna yang sempit, dari pada mengurus persoalan sosial yang dahulu menjadi ciri utama gerakan Al-Maun. Ini yang disebut dalam buku sebagai Paradigma ber-orientasi Syari’at (Syariah-oriented). Dalam keterkaitannya dengan budaya Jawa, nama-nama Jawa juga berkurang dan banyak bermunculan nama Arab, itu bukan permasalahan tetapi menjadi persoalan ketika nama Arab dianggap lebih mulia dari nama Jawa. Muhammadiyah saat itu tampil sebagai gerakan purifikasi daripada gerakan sosial serta modernisasi (h. 130-43).

Sedangkan dari faktor eksternal, kemenangan Wahabi di Mekkah, menguatnya Nasionalisme dan pendirian Nahdhatul ‘Ulama merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran sikap di Muhammadiyah. Pada tahun 1924 Wahabi yang berhasil menaklukkan Mekkah, bertekad memurnikan ajaran-ajaran agama. Gerakan ini secara eksternal turut mempengaruhi pergeseran Muhammadiyah menjadi sangat puritan. Aspek nasionalisme, juga turut memberikan andil dalam perubahan sikap terutama kali jika dilihat dari aspek bahasa. Bahasa Jawa yang sebelumya menjadi bahasa resmi dalam penerbitan maupun dakwahnya perlahan diganti menjadi bahasa Indonesia, terutama setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945. Lahirnya NU pada 1926, dengan cirinya yang erat dengan budaya/tradisi Jawa, semakin meneguhkan posisi Muhammadiyah sebagai ‘lawan’-nya, karena Muhammadiyah pada saat itu cenderung kepada gerakan purifikasi. Sehingga tergambar citra bahwa Muhammadiyah lebih dekat dengan Wahabi dan NU dekat dengan budaya Jawa (h. 144-6).

Pada saat itulah kiranya pertama kali lahir pandangan yang selalu mempertentangkan Muhammadiyah dan Nahdhatul ‘Ulama. Pandangan itu yang senantiasa diulang-ulang, direpoduksi sehingga secara tidak sadar mengakar kuat dalam benak dan alam bawah sadar kita. Dari titik inilah sebetulnya, perpecahan pandangan yang banyak menghubungkan Muhammadiyah dengan ideology Wahhabi bisa dijelaskan dengan bijak. Karena bagaiamanapun juga, kelahiran Muhammadiyah tidak akan pernah bisa dilepaskan dari tradisi Jawa, baik personal pendirinya (mayoritas abdi dalem Keraton, berperilaku Jawa, berbahasa, bernama dan berbusana Jawa), maupun secara organisatoris; yang dalam pendirian serta perkembangannya banyak dibantu Boedi Oetomo. Begitu sebaliknya, Keraton sebagai symbol budaya Jawa bagi masyarakat Kauman (Jogja pada umumnya), tidak akan bisa melepaskan bagian sejarah perjalanannya dari Muhammadiyah.

Begitulah kiranya gambaran hubungan Muhammadiyah-Jawa. Jika kita mau melihat sejarah dengan jernih, tampak sekali bahwa Muhammadiyah sangatlah mengapresiasi budaya Jawa, dan tidak cenderung kepada gerakan Wahabi—sebagaimana tergambar di benak sebagian orang saat ini. Muhammadiyah dan Jawa bukanlah entitas yang saling bertentangan tetapi saling mengisi dan berdialog dengan cara: yang Islam dan Jawa punyai yaitu halus, damai dan bijak. Sehingga bisa dikatakan Muhammadiyah adalah Islam-Jawa. 

Retrieved from: https://rifdoisme.wordpress.com/2016/03/17/pola-muhammadiyah-jawa-teteh-melody-jkt48-apa-melody-harus-masuk-imm-2/#more-616

Pola “Muhammadiyah-Jawa” = “Teteh Melody-JKT48”: Apa perlu Melody masuk IMM? (1)


Perbincangan mengenai Muhammadiyah tampaknya tidak akan pernah selesai dibicarakan. Mulai dari sekedar perdebatan klasik seputar permasaahan fiqhiyyah (furu’iyyah) seperti qunūth, tahlilan, dan slametan hingga penelitian akademik, dengan topic yang beragam. Sejak dahulu, Muhammadiyah memang salah satu organisasi keagamaan Islam di Indonesia yang banyak dijadikan objek penelitian, tidak hanya peneliti dalam negeri namun juga luar negri. Salah satu penelitian bercorak antropologis mengenai Muhammadiyah adalah karya dari Mitsuo Nakamura (1976) yang berjudul The Crescent Arises Over the Banyan Tree: A Study of the Muhammadiyah Movement in a Central Javanese Town. Dalam karyanya ini, Nakamura banyak membahas mengenai hubungan Muhammadiyah dengan lokalitas budaya Jawa pada abad kedua-puluh. Kalau dari namanya, tentu saja kita bisa menebak, dari mana Eyang Nakamura berasal? Betul sekali, bukan dari Korea, tapi dari negara tempat lahirnya AKB48: Jepang. Belio ini merupakan salah satu peneliti luar negri yang dengan setia mengkaji Muhammdiyah selama berpuluh-puluh tahun, bahkan belio juga menyempatkan hadir di Muktamar Muhammadiyah. Tentu saja tidak untuk nyalon jadi formatur, tapi untuk menyaksikan bagaimana organisasi Muhammadiyah—yang telah ia teliti berpuluh tahun ini—menyelenggarakan majelis tertingginya serta keputusan apa saja yang dihasilkan. Begitulah setianya para peneliti Muhammadiyah mencurahkan waktunya untuk senantiasa mengupgrade informasi, serta menambah referensi informasi melalui dokumen-dokumen resmi Muktamar.

Saya selalu bertanya sendiri, Lah saya, yang secara legal-formal jadi kader Muhammadiyah melalui organisasi otonom (ortom)-nya, sudah ngapain? Sekadar membaca naskah dan dokumentasi Muktamar saja, masih terselip rasa malas. Mengapa para peneliti (baik dalam maupun luar negri) sebegitu giat dan serius memahami organisasi ini? Pertanyaan ini patut untuk senantiasa dijadikan bahan refleksi bersama.

Perbincangan mengenai Muhammadiyah akhir-akhir ini juga ramai terjadi di media online, bukan membincangkan persoalan tahlilan-slametan-qunūth tapi soal kedekatan ideology Muhammadiyah dengan ideology Wahhabi. Tentu saja, hal seperti itu tidak mengherankan, sebab organisasi yang didirikan Raden Ngabehi Ahmad Dahlan[1] ini mengusung misi purifikisi (satu lagi dinamisasi) dengan slogan al-rujū’ ilā l-Qur’ān wa l-sunnah, tidak jauh berbeda lah secara etimologis sama gerakan Wahabi, tapi secara pemahaman dan praktik purifikasi tentu saja keduanya memiliki perbedaan. Selanjutnya perbincangan ini direspon website  Suara Muhammadiyah (SM) dengan editorial berjudul Muhammadiyah Lā Wahhabiyah. Dalam tulisan itu dinyatakan bahwa pihak yang mengaitkan organisasi Muhammadiyah (serta ormas Islam modern lain) dengan Wahabi merupakan pihak yang sama dengan dulu; tidak suka dengan ancaman Muhammadiyah terhadap basis-massa di akar rumput yang “terbiasa memelihara tradisi yang berbau syirk, bidah dan khurafat atau TBC”.[2] Pada paragraf sebelumnya, selain bantahan terhadap pengaitan Muhammadiyah dengan Wahhabi, tulisan itu menjelaskan masalah pihak yang mencoba mengaitkan Muhammadiyah dengan pelaku bom Sarinah; yang diduga pelakunya “bukan dari Pesantren NU”. Pernyataan ini, menurut editorial SM memojokkan pesantren lain, yang bukan dari NU, “Suatu pengaitan yang ceroboh dan menyimpan maksud negatif untuk memojokkan kembali Muhammadiyah.”

Menurut hemat saya, tanggapan editorial SM, alih-alih menjernihkan susasana, malah berpotensi akan menyulut perdebatan lain. Meskipun di akhir tulisan menyatakan, bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam tertau di Republik ini tidak akan terhasut oleh pandangan atau pendapat yang berpotensi menyudutkan gerakan ini, tetapi hal itu tentu saja tidak perlu dilakukan dengan (juga) menyudutkan pihak lain—yang barangkali tidak pernah bermaksud menyudutkan Muhammadiyah. Tertutama kali, jika memang tulisan itu ditujukan untuk membalas pernyataan ormas Islam lain, yang disebut sebagai “pemelihara TBC”. Maka, perlu sikap bijak dalam menjernihkan suasana ini, tidak dengan reaktif saja, tetapi perlu ada komunikasi dan tabayyun, agar jelas posisi permasalahan ini. Di tengah-tengah perdebatan yang ada di media maya, di sisi lain muncul satu contoh baik dalam menanggapi perdebatan itu, yang ditunjukkan dalam Diskusi Bulanan Majelis Pendidikan Tinggi dan Penelitian Pengembangan (Majelis DIKTI-LITBANG) PP Muhammadiyah, bertajuk: “Muhammadiyah dan Budaya Jawa”. Melalui diskusi ilmiah seperti ini, para warga Muhammadiyah serta masyarakat pada umumnya diharapkan tidak akan mudah digiring pada opini-opini yang mengarahkan pada konflik—minimal sinis—antar organisasi Islam. Tidak hanya itu, diskusi dan kajian ilmiah akan menambah wawasan warga persyarikatan untuk menyikapi “tuduhan” kepada Muhammadiyah dengan jernih, sehingga argumentasi yang digunakan tidak emosional tapi rasional-akademis yang didasari pada temuan dan hasil penelitian yang bisa dipertanggungjawabkan. Sehingga, diksusi semacam ini sangat perlu dilakukan secara berkala, tidak hanya perihal menjernihkan hubungan Muhammadiyah dengan budaya Jawa dan juga hubungannya dengan Wahabi, tetapi dikembangkan ke pembahasan yang lebih luas.

Diskusi bulanan ini sekaligus membedah buku Dr. Ahmad Najib Burhani yang berjudul Muhammadiyah Jawa. Panelis lain yang turur hadir adalah Dr. Mark Woodward, salah satu pengamat Islam Jawa yang berasal dari negri Paman Sam. Tema diksusi ini tentu masih amat jarang didengar. Saya menduga, kelangkaan judul/tema kajian yang mencoba menghubungkan Muhammadiyah dengan budaya Jawa, karena itu merupakan hal tabu, bagi aktivis, anggota, pimpinan serta simpatisan. Muhammadiyah selama ini selalu digambarkan sebagai organsasi yang berseberangan dengan budaya, yang selama ini dikaitkan dengan corak gerakannya di wilayah purifikasi. Banyak masyarakat awam yang mengganggap sebelah mata pada Muhammdiyah, saya yakin, banyak juga dari kader serta simpatisan Muhammadiyah yang belum banyak tahu mengenai hubungan Muhammadiyah dengan budaya Jawa, sehingga seolah ada ‘ketakutan’ memperbincangkan Muhammadiyah dengan budaya Jawa.

Buku Muhammadiyah Jawa karya Ahmad Najib Burhani ini ingin menunjukkan bahwa betapa Muhammadiyah di awal hidupnya, terutama KH Ahmad Dahlan sangat erat dengan budaya Jawa. Buku itu merupakan Tesis Master mas Najib (panggilan akrab-nya penulis) yang berjudul The Muhammadiyah’s Attitude to Javanese Culture in 1912-1930: Appreciation and Tension di bidang Studi Islam Fakultas Teologi Universitas Leiden, Belanda pada tahun 2004. Buku ini, sejauh yang saya tahu, sebelum diterbitkan oleh Penerbit Suara Muhammadiyah, pernah diterbitkan oleh Penerbit Al-Wasat Publishing House pada tahun 2010.

Identiknya Muhammadiyah dengan gerakan pemurnian di Arab Saudi (Wahabi) tentu saja tidak hanya menimbulkan perdebatan tapi juga berpotensi menyulut sinisme antar gerakan Islam. Padahal, gerakan berlambang matahari ini sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari budaya Jawa, bukan pada Wahhabi. Hubungan Muhammadiyah-Jawa yang coba digali dalam buku Muhammadiyah Jawa tampak begitu erat hubungannya dengan branding Melody-JKT48. Tentu saja ini membuat kita tertawa (sinis juga, kayaknya). Muhammadiyah Jawa merupakan satu usaha untuk menjelaskan bahwa Muhammadiyah tidak akan pernah bisa dipisahkan dari tanah kelahirannya: Kauman, yang secara geografis letaknya sangat dekat dengan Keraton sebagai pusat kebudayaan Jawa. Muhammadiyah menjadi tampak sangat njawani, bukan hanya karena letak geografisnya saja, tetapi dalam kelahirannya pun, tujuh (7) dari sembilan orang pendirinya merupakan abdi dalem keraton, terkhusus Ahmad Dahlan yang juga seorang ketib amin.

Di belahan dunia lain (di luar Muhammadiyah maksudnya), hal serupa juga terjadi pada teh Melody JKT48. Ketika orang menyebut Melody, saya kira, banyak orang akan mengaitkannya dengan JKT48, bahkan sejak dalam pikiran, kata mbah Pram. Tidak bisa menjelaskan teh Melody secara komprehensif saat ini tanpa keterkaitan-eratnya dengan—apa yang disebut idol group—JKT48, begitu sebaliknya, memahami perkembangan serta gerak-gerik JKT48 tidak bisa tidak akan membahas tentang teh Meoldy, yang saat ini nota-benenya menjadi General Manager di JKT48. Tidak hanya itu menurut saya yang menarik. Melody berasal dari latar belakang tradisi sunda, yang jauh berbeda dari tradisi JKT48 yang hampir semua konsepnya tidak pernah dilepaskan dari (Kapitalisme a la) Jepang membuat semakin menarik melihat akulturasi atau adaptasi yang terjadi sehingga terbentuk semacam branding di benak semua orang: Melody JKT48. Begitu pula Muhammadiyah yang coba dipaparkan dalam buku mas Najib ini, menggambarkan adaptasi Muhammadiyah terhadap Jawa yang dilakukan dengan sangat apik dan unik.

Tulisan saya ini mengacu pada informasi serta data yang ada dalam buku ini. Karena dalam buku Muhammadiyah Jawa telah banyak dijelaskan mengenai hubungan Muhammadiyah dengan budaya Jawa (meskipun nanti saya akan jelaskan secara singkat). Sumber untuk pembahasan Melody JKT48 dilakukan dengan teknik wawancara fans JKT48, data informasi dari website resmi JKT48 serta analisis video yang relevan dengan pembahasan ini. Tulisan ini sejujurnya ingin menjawab pertanyaan: Bagaimana pola Muhammadiyah-Jawa berhubungan dengan Melody JKT48 (karena Melody ada di group JKT48, maka disingkat menjadi Melody JKT48)? Apa peran ortom dalam membangun Muhammadiyah-Jawa pada masa sekarang? Bagaimana seharusnya IMM memahami budaya Jawa?

[1] Berdasarkan wawancara Ahmad Najib Burhani dengan GPBH Joyokusumo, gelar Raden Ngabehi (R. Ng.) ini disematkan kepada Ahmad Dahlan (Burhani, 2010: 55, catatan kaki nomor 80).
[2] Lihat http://suaramuhammadiyah.com/editorial/tajuk/2016/03/09/muhammadiyyah-la-wahhabiyyah/  diposting pada 9 Maret 2016, diakses 12 Maret 2016 pukul 19.00 WIB.

Retrieved from: https://rifdoisme.wordpress.com/2016/03/16/pola-muhammadiyah-jawa-teteh-melody-jkt48-apa-perlu-melody-masuk-imm/#more-610

Sunday, March 20, 2016

Al-Munir dan Kyai Ahmad Dahlan


Oleh Mu’arif

Padang Panjang, 1916. Seorang ulama terkemuka dan sekaligus pengelola majalah Islam baru saja pulang dari kunjungannya ke Semenanjung Malaya (semenanjung besar di barat daya pulau Sumatera yang dipisahkan oleh selat Malaka, kini disebut Malaysia) dalam rangka memenuhi undangan dari para pembaca Al-Munir. Setahun kemudian, ia langsung mempersiapkan kunjungan berikutnya ke Pulau Jawa (1917). Ulama terkemuka itu bernama Haji Abdulkarim Amrullah atau lebih dikenal dengan sebutan Haji Rasul yang tidak lain adalah ayah kandung Buya HAMKA (Haji Abdulmalik Karim Amrullah).

Dari Padang naik kapal menuju Batavia. Ia disamput oleh Dt. Tumenggung, orang Minangkabau yang menetap di Batavia. Dari Batavia menuju Bandung, bertemu Abdul Muis, orang Minang yang menjadi tokoh pergerakan nasional. Dari Bandung diteruskan ke Pekalongan, lalu ke Surabaya.

Haji Rasul berkunjung ke Pulau Jawa ketika kekuatan pergerakan umat Islam semakin menggeliat di bawah bendera Syarikat Islam pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto di Surabaya (Jawa Timur). Sosok Tjokro memang telah menginspirasi kader-kader pergerakan nasional. Ia memimpin SI cabang Surabaya secara independen, tidak terikat secara struktural dengan Syarikat Islam (sebelumnya bernama Syarikat Dagang Islam) pimpinan Haji Samanhudi di Surakarta.

Tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, pengampu Surau Jembatan Besi ini bertemu dan berdialog dengan tokoh-tokoh SI di Bandung, Pekalongan, dan Surabaya. di Pekalongan, ia sempat menemui anak dan menantunya yang telah lama merantau. Pada waktu itu, berita tentang sosok ulama pembaru dari Yogyakarta sudah santer beredar.

Dari Pekalongan, Haji Rasul berkunjung ke Yogyakarta, menemui seorang khatib yang menjadi motor gerakan pembaruan Islam di kampung Kauman. Haji Rasul bertemu dan berdialog dengan Kyai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Dari pertemuan tersebut, Haji Rasul makin mantap menjadi salah satu pembina Muhammadiyah di Padang Panjang, sekalipun ia sendiri tidak pernah masuk dalam struktur kepengurusan organisasi ini. Tetapi menantunya yang tinggal di Pekalongan bahkan menjadi salah satu tokoh yang pernah mengomandani kepengurusan Muhammadiyah di tingkat pusat.

Dialah Buya AR. Sutan Mansur, menantu Haji Rasul dan kakak ipar Buya HAMKA. Buya HAMKA merekam dengan baik perjalanan ayahnya ketika berkunjung ke Yogyakarta dan singgah di rumah Kyai Ahmad Dahlan. Dalam buku Ayahku (1967),

HAMKA mengisahkan bahwa sosok Kyai Ahmad Dahlan sebelum mendirikan Muhammadiyah adalah anggota Jami’atul Khair. Khatib Amin (Kyai Ahmad Dahlan) adalah pembaca setia majalah Al-Urwatul Wutsqa dan Al-Manar—terbit di Mesir. Ketika di Padang Panjang terbit majalah Al-Munir (1911)—dari segi konten mirip Al-Manar—konon Kyai Ahmad Dahlan meluapkan kegembiraannya dengan cara menjadi salah satu pelanggan dan pembaca setia majalah yang menggunakan huruf Arab berbahasa Melayu ini.

Begitu besar pengaruh Al-Munir dalam pemikiran pembaruan Kyai Ahmad Dahlan, konon Haji Rasul selalu mengulang-ulang kisah penerbitan majalah ini dengan gerakan pembaruan Muhammadiyah kepada anaknya. HAMKA sendiri pada waktu itu masih belum bisa memahami ketika ayahnya selalu mengulang-ulang kisah ketika tahun 1911 Al-Munir terbit mengusung gagasan pembaruan Islam. Setahun berikutnya (1912), Kyai Ahmad Dahlan sebagai salah satu pelanggan dan pembaca setia Al-Munir mendirikan organisasi Muhammadiyah. Seakan-akan Haji Rasul hendak menyampaikan kepada anaknya bahwa penerbitan majalah Al-Munir pada tahun 1911 di Padang Panjang dan berdirinya organisasi Muhammadiyah pada tahun 1912 di Yogyakarta adalah satu matarantai pembaruan Islam di tanah air ini.

Ketika HAMKA mulai aktif di Muhammadiyah barulah ia memahami kisah yang sering diulang-ulang oleh ayahnya tentang matarantai gerakan pembaruan Islam dari penerbitan majalah Al-Munir di Padang Panjang hingga berdirinya Muhammadiyah di Yogyakarta. Bahkan, kesaksian K.R.H. Hadjid, salah seorang murid Kyai Ahmad Dahlan, menguatkan tesis ini. Kepada Buya HAMKA, Hadjid pernah menceritakan bagaimana pentingnya majalah Al-Munir dalam mematangkan dan sekaligus menguatkan gagasan-gagasan pembaruan Kyai Ahmad Dahlan. Ketika heboh reaksi para penghulu Kraton Yogyakarta menanggapi gagasan-gagasan pembaruan Kyai Ahmad Dahlan, konon beberapa makalah (artikel) Al-Munir menjadi rujukan untuk menangkis serangan kritik dan cemoohan para penghulu Kraton.

Ketika Al-Munir berhenti terbit pada akhir tahun 1915, para pelanggan dan pembaca setia majalah ini merasakan kehilangan. Tetapi artikel-artikel karangan Haji Abdullah Ahmad, salah seorang redaktur Al-Munir, yang telah dimuat di majalah ini diterbitkan kembali menjadi sebuah buku dengan judul Ilmu Sejati (seputar tauhid).

Kumpulan artikel karangan Haji Rasul yang pernah dimuat di Al-Munir juga diterbitkan kembali dalam berbagai topik. Ketika Haji Rasul bertamu ke rumah Kyai Ahmad Dahlan di Kauman, sang khatib yang tidak lain adalah pelanggan dan pembaca setia Al-Munir memohon ijin untuk menyalin kembali karangan-karangan Haji Rasul untuk disebarkan lewat organisasi Muhammadiyah dan jaringan sekolah-sekolahnya.

Retrieved from: http://suaramuhammadiyah.com/kolom/2016/03/19/al-munir-dan-kyai-ahmad-dahlan/

Friday, March 18, 2016

Silsilah Nasab KH Ahmad Dahlan Pendiri PP Muhammadiah

• Nabi Muhammad SAW
• Fatimah Az-Zahra
• Al-Husain putera Ali bin Abu Tholib dan Fatimah Az-Zahra binti Muhammad
• Al-Imam Sayyidina Hussain
• Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin bin
• Sayyidina Muhammad Al Baqir bin
• Sayyidina Ja’far As-Sodiq bin
• Sayyid Al-Imam Ali Uradhi bin
• Sayyid Muhammad An-Naqib bin
• Sayyid ‘Isa Naqib Ar-Rumi bin
• Ahmad al-Muhajir bin
• Sayyid Al-Imam ‘Ubaidillah bin
• Sayyid Alawi Awwal bin
• Sayyid Muhammad Sohibus Saumi’ah bin
• Sayyid Alawi Ats-Tsani bin
• Sayyid Ali Kholi’ Qosim bin
• Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut)
• Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin
• Sayyid Amir ‘Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad, India) bin
• Sayyid Abdullah Al-’Azhomatu Khan bin
• Sayyid Ahmad Shah Jalal @ Ahmad Jalaludin Al-Khan bin
• Sayyid Syaikh Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar Al-Khan bin
• Sayyid Maulana Malik Ibrahim Asmoroqandi / Syech Samsu Tamres bin
• Adipati Andayaningrat / Kyai Ageng Penging Sepuh / Syarif Muhammad Kebungsuan II
• Kyai Ageng Kebo Kanigoro bergelar Kyai Ageng Banyu Biru bergelar Kyai Ageng Gribig I bergelar Sunan Geseng
• Ki Ageng Gribig II .
• Ki Ageng Gribig III / Kyai Getayu
• Ki Ageng Gribig IV
• Ki Demang Juru Sapisan
• Ki Demang Juru Kapindo
• Kyai Ilyas
• Kyai Murthada
• KH. Muhammad Sulaiman
• KH. Abu Bakar
• KH Ahmad Dahlan Pendiri PP Muhammadiyah.

Mungkin akan ada penyesuaian data silsilah diatas bila diketemukan data lbh tua lagi.

Data Silsilah Nasab KH Ahmad Dahlan diatas merujuk catatan kuno Pangeran Kajoran tahun 1677 yang menyebutkan bahwa Kyai Ageng Gribig Jati Anom bernama lain Sunan Geseng murid dari Sunan Kalijaga dan Syech Siti Jenar serta menantu dari Sunan Pandanaran II beliau lebih di kenal dengan sebutan Kyai Ageng Kebo Kanigoro dari Pajang. Pada jaman dulu jamak satu orang mengunakan beberapa nama penyamaran untuk menyembunyikan jati diri mereka atw menghindar dari kejaran tentara Demak Bintaro.

Sejarah Kyai Ageng Banyu Biru alias Kyai Ageng Kanigoro alias Kyai Ageng Gribig alias Sunan Geseng diulas kisahnya di dalam kitab kuno Sunan Tembayat 1443 saka sebagai sumber data silsilah KH Ahmad Dahlan tersebut diatas.
Semoga bermanfaat ……….

  






Sumber: http://ranji.sarkub.com/silsilah-nasab-kh-ahmad-dahlan-pendiri-pp-muhammadiah-yang-sesungguhnya-masih-saudara-sepupu-gus-dur-nu/ 

Komentar dari Kanzum Qalam (melalui FB Muhammadiyah Studies, 18 Maret 2016): Mungkin kami agak berbeda, kami lebih yakin dengan penelitian murid langsung KH. Ahmad Dahlan, yaitu Kyai Sudja' , yang mengatakan bahwa KH. Ahmad Dahlan keturunan langsung Sunan Giri...

 Silsilah KH. Ahmad Dahlan adalah sebagai berikut :

01. Sunan Giri I (Prabu Satmata), salah seorang anggota wali songo, berputera


02. Sunan Giri II (Sunan Dalem), penguasa Giri Kedaton 1506-1546, berputera

03. Pangeran Kedhanyang (Ki Ageng Gribig I), makamnya berada di kota Malang. Penduduk setempat mengenalinya sebagai adik Sunan Giri (lebih tepatnya adik Sunan Giri IV/Sunan Prapen), berputera

04. Ki Ageng Gribig II, sosok inilah yang kemudian menjadi suami Raden Ayu Seledah, puteri Sunan Prapen (Sunan Giri IV), berputera

05. Ki Ageng Gribig III, yang merupakan Guru Sultan Agung Mataram, serta menjadi pelopor acara “Yaqowiyu”, yang dimulai pada sekitar tahun 1589 Masehi.

Ki Ageng Gribig III dalam salah satu versi yang beredar, merupakan putera dari Ki Ageng Gribig yang tinggal di Gribig. Makam Ki Ageng Gribig III, berada di Jatinom Klaten, berputera

06. Ki Ageng Gribig IV, sosok yang membantu Sultan Agung dalam mengatasi gejolak politik di Palembang (tahun 1636M), serta menjadi adik ipar Sultan Agung Mataram, berputera

07. Demang Jurang Juru Sapisan, berputera

08. Demang Jurang Juru Kapindo, berputera

09. Kyai Ilyas, berputera

10. Kyai Murtadha, berputera

11. Kyai Muhammad Sulaiman, berputera

12. Kyai Abu Bakar, berputera

13. Kyai Haji Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah...

Catatan :
(*) Pada masa Sunan Giri II (Sunan Dalem), sekitar tahun 1535, Giri Kedhaton mendapat serangan dari Adipati Sengguruh.

Berdasarkan Tedhak Dermayudan, serangan ini berhasil ditahan oleh putra Sunan Giri, yang bernama Pangeran Kedhanyang. Bukan itu saja, kemenangan ini memberi peluang Islam menyebar di daerah Jaha, Wendit, Kipanjen, Dinaya dan Palawijen.

Pangeran Kedhanyang di-informasikan bermukim daerah Gribig Jawa Timur. Dan kehadiran Sang Pangeran di daerah ini, bukan tidak mungkin menjadi cikal bakal penguasa Gribig, yang dikenal sebagai Ki Ageng Gribig.

(*) Silsilah Sunan Giri :

Sunan Giri I (Prabu Satmata) bin Maulana Ishaq bin Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin Maulana Husin Jumadil Kubro bin Ahmad Syah Jalaluddin bin ’Abdullah Azmatkhan bin Abdul Malik Azmat Khan bin ‘Alwi ‘Ammil Faqih bin Muhammad Shohib Mirbath bin ‘Ali Khali Qasam bin ‘Alwi Shohib Baiti Jubair bin Muhammad Maula Ash-Shaouma’ah bin ‘Alwi al-Mubtakir bin ‘Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin ‘Isa An-Naqib bin Muhammad An-Naqib bin ‘Ali Al-’Uraidhi bin Sayyidina Ja’far Ash-Shadiq bin Sayyidina Muhammad al-Baqir bin Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Sayyidina Husain Asy-Syahid bin Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah...

Pembahasan :
Misteri Ki Ageng Gribig, Leluhur Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) ? 

http://kanzunqalam.com/2016/03/14/misteri-ki-ageng-gribig-leluhur-kyai-haji-ahmad-dahlan-muhammadiyah/