Tuesday, January 12, 2010

Revitalisasi Gerakan Muhammadiyah

Oleh: DR HAEDAR NASHIR

Sidang Tanwir Muhammadiyah yang berlangsung tanggal 26–29 April 2007 di Yogyakarta beberapa hari lalu memiliki makna penting bagi gerakan Islam yang didirikan oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan ini.

Perhatian yang besar dari banyak pihak termasuk kawan-kawan media massa begitu rupa tingginya. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika membuka Tanwir bahkan memberikan harapan khusus agar Muhammadiyah mengembangkan tradisi kewirausahaan sebagaimana pernah jaya di masa lalu. Muhammadiyah memang perlu memperkuat kembali banyak lini gerakannya agar mampu memainkan peranan yang lebih signifikan dalam memajukan kehidupan bangsa dan menyebarkan risalah dakwahnya di alam semesta. Muhammadiyah dalam usianya jelang satu abad diakui telah mengukir sejumlah kisah sukses dalam gerakannya.

Kehadirannya sebagai gerakan pembaruan Islam telah menorehkan alam pikiran modern di kalangan umat Islam. Amal usahanya di bidang pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial bahkan sangat menonjol dan telah memberikan sumbangsih yang cukup besar bagi masyarakat luas. Kiprahnya dalam pergerakan nasional bersama komponen bangsa lainnya hingga negeri ini merdeka sangatlah berharga sehingga menjadikannya sebagai kekuatan nasional yang penting dan strategis. Muhammadiyah sebagaimana Nahdlatul Ulama bahkan telah tumbuh menjadi sayap Islam yang bercorak kultural, yang masing-masing berbasis sosial kokoh di perkotaan dan pedesaan.

Kini dalam usianya yang ke-98 Muhammadiyah menghadapi tantangan yang tidak ringan. Sebagaimana gerakan-gerakan yang tumbuh menjadi besar selalu mengalami beban di dalam dirinya, ditambah beban dari luar yang selalu hadir penuh dinamika. Sebagai gerakan Islam arus-tengah (moderat) yang kehadirannya cukup terbuka dan inklusif, Muhammadiyah laksana ”melting pot” yang di dalamnya tumbuh beragam orang yang ingin berkiprah untuk ”membesarkannya”. Namun risikonya, tidak jarang rumah besar Muhammadiyah yang terbuka ini membawa konsekuensi bagi tumbuhnya beragam kepentingan yang tidak selamanya koheren atau sinergi dengan kepentingan dan misi gerakan Islam ini.

Muhammadiyah yang besar itu dalam batas tertentu seolah menjadi pasar tempat lalu lalangnya banyak kepentingan praktis hingga pragmatis. Orang masuk ke dalam Muhammadiyah bukan karena misi atau idealismenya, tetapi karena amal usahanya atau karena kepentingan mobilitas politik tertentu. Fenomena ”pasar” tersebut hingga batas tertentu wajar adanya, tetapi menjadi suatu kerugian karena Muhammadiyah tidak dapat memobilisasi potensinya secara optimal dan total untuk kepentingan misi dan idealisme gerakan. Orang-orang yang berada di dalamnya menjadi demikian longgar.

Sejauh ada kepentingan-kepentingan praktis atau pragmatis, sejauh itu pula mereka berkerumun dalam Muhammadiyah. Manakala kepentingan kegunaannya hilang, maka Muhammadiyah sekadar tempat mampir belaka. Pelemahan potensi Muhammadiyah datang pula dari tarikan politik, terutama partai politik, termasuk politik berbasis agama. Kecenderungan politik yang demikian sebenarnya wajar adanya dilihat dari kepentingan partai politik mana pun, baik karena alasan agama atau murni politik atau campuran keduanya. Partai politik mana pun selalu menghimpun dan memobilisasi dukungan demi capaian politiknya.

Mana ada partai politik yang tak mencari dukungan massa. Namun masalahnya, memang menjadi rumit manakala kepentingan politik bersilangan dengan agama dan lain-lainnya sehingga melahirkan cross cutting of interest yang semakin kompleks. Politik dan relasinya menjadi sarat beban. Muhammadiyah sendiri sebenarnya tidak terlalu memaksakan diri dalam menghadapi persoalan tersebut, apalagi secara berlebihan. Masalah tersebut ditempatkan sebagai sebuah dinamika yang dapat kembali normal dan menemukan keseimbangan baru, siapa tahu banyak pihak dapat saling mengambil hikmah.

Semangat ukhuwah dengan sesama komponen umat dan bangsa tetap harus diutamakan. Dibutuhkan sikap saling toleran serta menempatkan posisi masing-masing secara lebih matang dan dewasa dengan mengedepankan kemaslahatan umum. Persentuhan politik dan agama bukan lagi menyangkut boleh atau tidak boleh, kepentingan pragmatis atau idealisme, tetapi juga masuk ke wilayah relasi antarkelompok di tubuh sesama umat dan komponen bangsa, yang memerlukan rasionalitas sekaligus kearifan. Tidak semua maksud baik akan bermakna baik dan menghasilkan kebaikan bersama karena demikian kompleksnya realitas kehidupan yang dihadapi dengan segala macam ikutannya.

Karena itu, Muhammadiyah sendiri pasca-Tanwir di Yogyakarta itu akan lebih berkonsentrasi pada peneguhan dan pencerahan diri di tubuh gerakannya dengan orientasi kerja untuk sebesar-besarnya berkhidmat bagi kemajuan umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan secara lebih optimal. Pada titik inilah maka sidang Tanwir Muhammadiyah mengambil langkah muhasabah dengan melakukan revitalisasi gerakan secara simultan.

Pertama, melakukan revitalisasi ideologis, yakni memperkokoh kembali setiap anggotanya akan idealisme, misi, usaha, cita-cita, khittah, dan kepentingan gerakan Muhammadiyah. Muhammadiyah juga melakukan revitalisasi organisasi ke seluruh lini dengan konsentrasi pada pemberdayaan cabang dan ranting yang berbasis pengajian serta gerakan jamaah dan dakwah jamaah. Revitalisasi juga ditekankan pada peningkatan kualitas usaha melalui amal usaha, program,dan kegiatan alternatif yang bersifat unggulan di berbagai bidangnya yang selama ini menjadi ciri khas gerakan Muhammadiyah, seperti pemberdayaan petani, revitalisasi pendidikan, intensifikasi lembaga-lembaga kesehatan, dan sebagainya.

Gerakan perempuan Muhammadiyah melalui Aisyiyah juga terus ditingkatkan hingga meluas ke segenap segmen sosial di akar rumput. Ditingkatkan pula kaderisasi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagaimana selama ini menjadi salah satu kelebihan Muhammadiyah. Sedangkan dalam tabligh atau dakwah khusus semakin diintensifkan langkah-langkah membimbing umat secara lebih terprogram, yang berorientasi pada penanaman nilai-nilai Islam berbasis pemurnian dan pembaruan.

Muhammadiyah juga perlu semakin kebal dari godaan politik sesaat dan kokoh dengan khitahnya,dengan asumsi berikanlah kesempatan kepada partai politik untuk berkiprah optimal dalam perjuangan kekuasaan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Lebih jauh lagi Muhammadiyah akan bekerja keras dalam peningkatan kualitas peran keutaman, kebangsaan, dan peran global dengan semangat menampilkan Islam yang berkemajuan (din al-hadarah) sekaligus menyebarkan risalah rahmatan lil-‘alamin. (*)

DR HAEDAR NASHIR
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah

No comments:

Post a Comment