Thursday, September 30, 2010

Tujuh Tokoh Pemuda Perintis Zaman (2)

H Abdoelgani
Haji Abdoelgani dikenal sebagai seorang guru pada masa perintisan awal Muhammadiyah. Dia menikah dengan Siti Dawimah, salah seorang aktivis Siswo Proyo Wanito. Abdoelgani termasuk salah satu tokoh perintis Hizbul Wathan bersama Haji Mochtar, Soemodirdjo, RH Hadjid, dan lain-lain. Tahun kelahiran Abdoelgani tidak terlacak. Tetapi ketika KH Ahmad Dahlan mengajukan rechtpersoon Muhammadiyah kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1912), dia tergolong masih muda.

H Sjoedja’
Haji Sjoedja’ lahir di Kauman, Yogyakarta, pada tahun 1889 (1308 H) dengan nama kecil Daniel (Daniyalin). Dia putra Haji Hasjim, Lurah Kraton Yogyakarta. Haji Hasjim Ismail mempunyai delapan anak: Jasimah, Daniel (Sjoedja’), Jazoeli (Fachrodin), Hidajat (Hadikoesoema), Zaini Sulthoni, Moendjijah, Barijah, dan Walidah. Semua putra dan putri Lurah Kraton Yogyakarta ini menjadi aktivis dan pendukung gerakan Muhammadiyah sejak awal berdiri.
Sewaktu KH Ahmad Dahlan mengajukan rechtpersoon Muhammadiyah kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1912), Haji Sjoedja’ berumur kira-kira 23 tahun. Pada tahun 1920,
Hoofdbestuur Moehammadijah membentuk Bahagian Tabligh, Bahagian Penolong Kesengsaran Oemoem (PKO), Bahagian Sekolahan, dan Bahagian Taman Poestaka. Haji Sjoedja’ dipercaya
sebagai ketua pertama Hoofdbestuur Moehammadijah Bahagian PKO dalam usia sekitar 31 tahun.

H Fachrodin
Haji Fachrodin lahir di Kauman, Yogyakarta, pada tahun 1890 dengan nama kecil Moehammad Djazoeli. Dia salah satu dari putra Haji Hasjim Ismail, Lurah Kraton Yogyakarta. Djazoeli adalah
adik kandung Daniel. Yang membedakan Daniel dengan Djazoeli adalah jalan meniti karier. Jika Daniel lebih cenderung menekuni jalur kultural lewat pemberdayaan masyarakat, maka Djazoeli lebih memilih jalur politik lewat Sarekat Islam (SI). Tahun 1912, Haji Fachrodin bergabung di Boedi Oetomo cabang Yogyakarta. Pada tahun yang sama dia bergabung dengan Tjipto Mangoenkoesomo, Abdoel Moeis, Haji Misbach, dan Sneevliet dalam Insulinde. Tahun 1913, dia tercatat sebagai anggota SI cabang Yogyakarta. Setahun kemudian (1914), dia bergabung dalam Inlandsche Journalisten Bond. Ketika JFM Sneevliet mendirikan Indische Sociaal Democratisch Vereeniging (ISDV) pada tahun 1914, Haji Fachrodin termasuk jajaran bestuur ISDV cabang Yogyakarta. Pada waktu Muhammadiyah dideklarasikan (1912), umur Haji Fachrodin sekitar 22 tahun.
Haji Fachrodin masih berumur sekitar 30 tahun sewaktu mendapat amanat sebagai ketua pertama Hoofdbestuur Moehammadijah Bahagian Tabligh (1920).

H Hisjam
Haji Hisjam lahir di Kauman, Yogyakarta, pada tahun 1883. Dia putra Wedana Haji Hoesni. Hisjam masih termasuk kerabat jauh KH Dahlan lewat pernikahannya dengan puteri saudara iparnya, KH Dja’far. Putera Wedana Haji Hoesni ini memiliki karakter moderat dan pemikiran visioner.
Hisjam adalah pemuda cakap yang mementingkan pengajaran bagi generasi muda. Ketika Muhammadiyah dideklarasikan (1912), Hisjam masih berumur sekitar 29 tahun. Pada tahun 1920, Hoofdbestuur Muhammadiyah membentuk Bahagian Sekolahan dan jabatan ketua pertama unsur pembantu pimpinan ini diamanatkan kepada Haji Hisjam yang berumur sekitar 37 tahun.

H Tamim
Haji Tamimudari putra Haji Dja’far. Dia adalah pengusaha di Kauman yang turut mendukung gerakan KH Ahmad Dahlan. Putera-puteri Haji Tamimudari adalah: M. Daris Tamim, M. Djindar Tamimy, dan Prof. Siti Baroroh Baried Ishom (mantan Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah)


Disarikan oleh Mu’arif, wartawan Suara Muhammadiyah dan Sejarawan Muda Muhammadiyah dari berbagai sumber dan dokumen.

Retrieved from: http://pdpm-kota-madiun.blogspot.com/

No comments:

Post a Comment