Friday, December 25, 2009

Darah Guru Darah Muhammadiyah: Setengah Abad Kiprah A Malik Fadjar

Pelita, [November 19, 2009]

Laporan:

Tepat, pada hari pendidikan nasional (Hardiknas) 2 Mei 2009 (Sabtu malam), digelar Refleksi Pendidikan dan Kebangsaan Setengah Abad Kiprah Abdul Malik Fadjar di gedung Pusat Muhammadiyah Jakarta.

Ada tiga buku yang diluncurkan pada malam itu, masing-masing berjudul: Darah Guru, Darah Muhammadiyah: Perjalanan Hidup Abdul Malik Fadjar; Pengembangan Profesionalisme Guru: 70 Tahun Abdul Malik Fadjar; dan Pergumulan Pemikiran Pendidikan Tinggi Islam. Acara yang diprakarsai Universitas Muhammadiyah Prof Dr HAMKA (Uhamka) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu dihadiri para pakar, tokoh dan praktisi pendidikan.

Auditorium PP Muhammadiyah yang biasa digunakan untuk seminar dan acara resepsi, saat itu penuh, sesak. Banyak yang tidak kebagian tempat duduk. Dari puluhan tokoh, pakar dan praktisi pendidikan yang menghadiri acara tersebut, ada 13 orang yang memberikan tanggapan atas refleksi tersebut. Mereka adalah Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr H Din Syamsuddin MA, Peneliti dari LIPI Taufik Abdullah, Guru Besar UNJ Jakarta Prof Dr Arief Rachman MPd, mantan Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr Syafii Maarif, mantan Mendikbud Prof Dr Wardiman, Guru Besar UPI Bandung, Prof Dr Abin Syamsuddin Mamun, Guru Besar UNJ dan Universitas Indonesia Prof Dr HAR Tilaar, Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas, Prof Suyanto PhD, Ketua Umum Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia Prof Dr Soedijarto MA , mantan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta,Prof Dr Azyumardi Azra, Rektor UIN Jakarta Prof Dr Qomaruddin Hidayat, mantan Pemred Antara Sobari, dan ketua tim penulisan buku Pengembangan Profesionalisme Guru Zamroni.

Malik Fadjar banyak melontarkan pernyataan yang dapat dijadikan pedoman untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Semua pembicara pada acara itu pun memberikan apresiasi positif kepada Malik Fadjar. Salah satu pernyataan Malik Fadjar tertulis: Pendidikan itu tidak pernah berakhir, saya sekarang juga masih jadi dosen, tetapi tidak boleh berhenti untuk belajar berpikir, sehingga ada istilah berpikir dan berpikir kemali. Think and re- think, shape dan re-shape.

Pendidikan itu harus dipikirkan dan dipikirkan kembali dan dibentuk dan dibentuk kembali. Kalimat lain termaktub: Bangunlah pendidikan yang berdasarkan atas kondisi sosial budaya, adat stiadat, agama, dan tradisi. Jadikanlah pendidikan sebagai sumber kekuatan pembangunan masa depan. Tanpa itu pendidikan tidak akan bisa memenuhi harapan bagi peserta didik, masyarakat, dan Negara. Menurut Malik Fadjar, pendidikan harus menggunakan pendekatan lebih humanis. Yaitu pendekatan yang mengatur keseimbangan antara head (rasio), heart (perasaan) dan hard (keterampilan).

Untuk membangun pendidikan yang paling penting bukanlah mendirikan gedung megah, tetapi proses pendidikan yang berlangsung secara menyenangkan, mengasikkan, sekaligus mencerdaskan. Pendidikan seperti ini hanya bisa dilakukan jika lembaga pendidkan itu tumbuh dan berkembang di atas basis masyarakat, agama, tradisi, dan akar sosial budaya. Pendidikan juga harus bisa membekali peserta didik dengan ilmu yang sesuai denan zamannya. Peserta didik tidak akan hidup di masa sekarang, tetapi akan menjadi generasi masa depan.

Malik Fadjar, mantan Menteri Agama dan mantan Mendiknas ini juga mengkritik tentang kebaradaan lembaga pendidikan Islam. Kapan umat Islam yang kaya dengan lembaga-lembaga pendidikan itu memiliki lembaga riset dan pengembangan pendidikan Islam yang tangguh dan mumpuni? Bukankah kita sudah memiliki modalnya, baik yang berupa tenaga ahli maupun berupa kelembagaan (pondok pesantren, madrasah, sekolah dan perguruan tinggi).

Disisi lain, ia merasa bahagia jika anak didiknya berhasil dalam menempuh pendidikan. Yang paling membahagiakan adalah kalau kita ketemu anak didik kita yang sudah jadi orang. Anak didik yang saya ajar di SMP, sekarang suda h ada yang menjadi guru besar. Ada juga yang jadi perwira di kemiliteran dan ada juga yang jadi pengusaha sukses. Jadi kebahagian, seorang guru ada di situ, tidak diukur dari sebuah materi. Kalau kita melihat peserta anak didik kita jadi orang dan membanggakan sekaligs memberikan dedikasinya, itu sangat mengesankan.Sepertnya jerih payah, kelelahan-kelelahan yang dulu kita rasakan itu terobati dengan sendirinya.

Malik Fadjar juga berkomentar tentang kepemimpinan nasional bahwa Fungsi tugas kepemimpinan nasional itu adalah mengajak, membimbing dan mengerahkan seluruh warga bangsanya menyatu untuk membangun serta mengatasi persoalan-persoalan dalam perjalanan menuju cita-cita bangsa. Sementara itu, guru besar UNJ Prof Dr Arief Rachman mengungkapkan pesan Malik Fadjar kepadanya: Bersyukurlah menjadi orang, ucapnya. Syukur itu ada tiga, pertama berterima kasih kepada Tuhan dan orangtua. Kedua, memanfaatkan apa yang kau miliki dengan sebaik-baiknya, dan kegita pandai melihara harta yang kau miliki itu. Apabila kita bersyukur bahwa tanah air ini adalah tanah kita, kita tidak lupakan Allah. Orang yang pandai memanfaatkan apa yang dimilikinya itu adalah orang yang berilmu. Orang yang pandai memelihara juga orang yang berilmu pengetahuan.

Pesan Malik Fadjar kedua kepada Arief Rachan adalah bahwa menjadi guru itu ada pegangannya. Pertama, kamu harus melihat mutu dari kemampuan muridmu masing-masing. Tidak boleh beruang harus berenang, tidak boleh burung harus merayap, biarkanlah murid-murid itu mempunyai standar masing-masing. Kedua, perhatikanlah keadilan, sebagaimana tuhan memberikan matahari bersinar, meskipun orang kapir diberi matahari oleh Allah. Kamu adalah guru, karena itu kamu harus adil, di dalam mengevaluasi anak-anakmu dan di dalam memberikan pendidikan jangan diskriminatif.

Tokoh langka

Prof Dr HA Malik Fadjar, MSc lahir di Yogyakarta, 22 Februari 1939. Ia merupakan tokoh langka yang dimiliki bangsa ini. Pak Malik, begitu biasa koleganya memanggil, adaah sosok yang menggeluti dunia pendidikan di hamper seua aspekya. Bermula dari kiprahnya sebagai praktisi pendidikan paling mendasar: sebagai seorang guru Sekolah Rakyat (SR) di daerah terpencil Sumbawa Besar pada ahun 1959, kemudian menjadi dosen di IAIN Sunan Ampel Malang, dosen dan dekan FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hingga sukses menjadi rektor di dua universitas sekaligus, UMM dan Universitas Muhammadiyah Solo.

Sebagai birokrat, Malik Fadjar pernah menjabat sebagai Dirjen Binbaga Islam Departemen Agama RI, Menteri Agama Kainet Reformasi Pembangunan di bawah Presiden BJ Habibie dan Menteri Pendidikan Nasional pada Kabinet Gotong Royong Presiden Megawati Soekarnoputri. Kini ketika usia memasuki ke 70 tahun, kiprah Malik Fadjar tetap tidak berhenti. Sebagai anak seorang guru yang aktivis Muhammadiyah, Malik Fadjar adalah sosok yang mewarisi jiwa aktivis dan kepemimpinan ayahandanya Fadjar Martodihardjo di kalangan Muhammadiyah. Ia adalah tokoh tua yang mngayomi dan bijaksana. Pada diri Pak Malik, mengalir darah guru dan darah Muhammadiyah, kata Anwar Hudijono, penulis perjalanan hidup Abdul Malik Fadjar.

Guru besar yang yang diperoleh dari IAIN sunan Ampel Malang (1996) dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2000) menambah karakter keguruannya yang tetap konsisten dipegangnya, enjadi guru bagi semua orang hingga sekarang. Maka lengkaplah iprah Malik Fadjar, sebagai praktisi pendidikan paling dasar, birokrat pendidikan, pemikr pendidikan hingga filosof pendidikan dan kebangsaan. Ibarat pena, Malik Fadjar adalah tinta yang tak pernah habis. (sidik m nasir)


Sumber: http://203.130.198.30//artikel/70376.shtml

No comments:

Post a Comment

Post a Comment