Tuesday, March 15, 2016

IMM Menggugat; Kelahiran yang dipersoalkan!


Penulis, Hasan Sadikin Ganggang “Sekretaris PC IMM Kota Mataram”
  Rabu, 13 Januari 2016
Hiruk pikuk kelahiran IMM menjadi perdebatan dikalangan aktifis, mengingat kelahiran IMM tidak terlepas dari jasa dan kontribusi aktifis HMI. Peryataan tersebut memang benar adanya. Tapi, bukanlah semata hasil dari mutakhmar HMI yang menyepakati bahwa IMM sebagai alternatif dari ancaman pemerintah orde lama yang mengingatkan HMI akan dibubarkan dari bumi pertiwi. Kelahiran IMM memang tidak bisa dipungkiri atas dasar produk dari pemikiran Aktis HMI yang menjadi anak angkat dari amal usaha Muhammadiyah. Karena dalam catatan sejarah menjelaskan bahwa tidak sedikit kegiatan HMI mendapatkan dukungan dari amal usaha Muhammadiyah, hal itulah yang membuat HMI menjadi lebih dekat dengan Muhammadiyah.
Dalam pengkaderan HMI tidak sedikit yang menjadi aktifis dalam Angkatan Muda Muhammadiyah maupun di amal usaha Muhammadiyah itu sendiri. Keberadaan HMI tidak bisa dipungkiri,
menjadi subur dan besar di Amal usaha Muhammadiyah, karena seiring
dengan krisisnya kader Muhammadiyah dan disatu sisi juga adanya kebersamaan visi dan misi dalam membangun bangsa dan negara. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu harapan itu kini mulai menggeser dari harapan Muhammadiyah. Karena melihat arahan dan perkembangan HMI mulai mengarah kepada perbedaan pandangaan dan ideologi. Hal itulah yang menjadi cikal bakal lahirnya IMM sekalipun masih banyak faktor yang lainya yang mengharuskan terbentuknya IMM di bumi pertiwi. Kelahiran IMM merupakan tuntutan yang dihendaki kelahirannya oleh sejarah IMM dan Muhammadiyah. 
IMM didirikan ditengah goncang gancingnya politik bangsa yang mengharuskan terbentuknya IMM. Kelahiran IMM bukanlah alternatif dari HMI, justru menjadi penyelamat bagi keberadaan dan eksistensi HMI itu sendiri atas ancaman dari pemerintah pada masa itu. IMM dilahirkan pada tanggal 14 Maret 1964 di Djogjakarta, oleh Djazman Al-Kindi, Rasid Soleh, Mahrus dan Amien Rais yang merupakan aktifis HMI anak angkat dari Muhammadiyah. Pada masa itu, Djazman Al-kindi, sebagai Sekretaris PP Pemudah Muhammadiyah yang sempat dicurigai oleh Pemudah Muhammadiyah lainya, ketika ingin membentuk sebuah ortom Muhammadiyah ini. Lahirnya IMM tidak terlepas dari dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
a.       Faktor Internal
Pertama yang berkaitan dengan Muhammadiyah itu sendiri sebagai organisasi Islam yang mempunyai misi kedepan yaitu mengusahakan terbentuknya masyarakat islam yang sebenar-benarnya. Sehingga perlunya dibentuk sebuah organisasi pengkaderan untuk meneruskan misi Muhammadiyah, sehingga dalam AD/ART IMM dipertegaskan bahwa tujuan IMM didirikan untuk mengusaha terbentuknya akademisi islam yang berakhlak mulia untuk mencapai tujuan Muhammadiyah. Keberadaan IMM merupakan penyediaan dari Muhammadiyah itu sendiri, mengingat Muhammadiyah adalah ornagaisasi islam yang terbesar. Kedua sikap dari HMI yang terpolarisasi sehingga berbenturan dengan visi dan konsep Muhammadiyah, yang mengharuskan terbentuknya IMM sebagai wadah pengrekrutan sekaligus pengkaderan kader perserikatan.
b.      Faktor Ekternal
Faktor Eksternal yang melatar belakangi lahirnya IMM ada dua macam yaitu; pertama, kegoncangan geopolitik nasional yang mangharuskan terbentuknya IMM dan adanya ancaman dari PKI yang ingin menghilangkan pancasila dari bumi pertiwi ini. Ancaman tersebut merupakan agenda mendesak untuk Pemudah Muhammadiyah sehingga mengharuskan IMM lahir untuk menyelamatkan bangsa, dari tangat PKI. Tidak bisa dinafikan bahwa kelahiran IMM sangat berkontribusi pada kegoncangan politik nasional, sampai Presiden Ir. Soekarno mengucapkan terimah kasih kepada IMM dalam sebuah buku hariannya.
Begitupun dengan kelahiran HMI, tidak terlepas dari pengaruh PP Muhammadiyah, mengingat Lafran Pane seorang aktifis yang hidup dan dibesarkan dalam keluarga Kauman, di mana tempat tersebut merupakan tempat tinggalnya K.H. A. Dahlan dan tempat berdirinya Muhammadiyah. Sutan Pangurabaan Pane merupakan Ayah kandung dari Lafran Pane, yang terhormad dan terkaya dikampungnya. Dan beliau sendirilah termasuk salah seorang pendiri Muhammadiyah di Siporok pada 1921[1] tempat dimana Lafran Pane dilahirkan. Jenjang pendidikan Lafran Pane tidak bisa dipungkiri, beliau menamatkan pendidikannya dibangku sekolah mulai dari pesantren Muhammadiyah Siporok kemudian pindah ke Pesantern K.H. A. Dahlan. Setelah itu melanjuti pendidikan menengahnya di HIS Muhammadiyah, menyambung ke MULO Muhammadiyah, kemudian ke AMS Muhammadiyah, sebelum beliau berhijrah ke Dyogyakarta.
Kelahiran HMI merupakan hasil dari produk pemikiran Aktifis Muhammadiyah, bahkan menjadi anak emasnya sebelum IMM dilahirkan. Dalam pengkaderanya mulai dari LK I sampai LK III disuport oleh Amal Usaha Muhammadiyah, karena dianggap sebagai wadah pengkaderan aktifis Muhammadiyah. Tidak sedikit Aktifis HMI, setelah menamatkan pendidikannya mengabdi di Amal Usaha Muhammadiyah bahkan menjadi pengurus Muhammadiiyah. Tapi, seiring berjalannya waktu, lahirlah IMM sebagai ortom Muhammadiyah dan HMI sebagai sepupunya dalam Muhammadiyah. Mengingat bahwa Muhammadiyah membutuhkan kader untuk meneruskan misi profetik, apa lagi dengan menjamurnya amal usahaMuhammadiyah. Maka, dibutuhkan sebuah organisasi pengkaderan untuk misi tersebut. Keberadaan dan kelahiran IMM bukan hanya sebagai kehendak sejarah, melainkan pula sebagai keniscayaan dalam tubuh organisasi perserikatan[2]. Hal inilah yang dipersoalkan dikalangan aktifis pergerakan, mempersoalkan kelahiran yang disejarahkan. Tidak bisa dipungkiri bahwa HMI adalah anak angkat dari Muhammadiyah dan IMM adalah anak emasnya.


Refrensi
[1] Wibawa Satria Hariqo, Lafran Pane Layak Menjadi Pahlawan... hlm 4
[2]Ahmadi Marus, Geneologi Kaum merah; Pemikiran dan Gerakan....hlm xxii
 
http://inipunyasadikin.blogspot.jp/2016/01/imm-menggugat-kelahiran-yang.html

No comments:

Post a Comment