Wednesday, April 7, 2010

Unsur Plagiarisme dalam Mars Sang Surya Muhammadiyah

Oleh Ahmad Najib Burhani

Sang Surya
Cipt. Djarnawi Hadikoesoemo

…Sang Surya telah bersinar
Syahadat dua melingkar
Warna yang hijau berseri
Membuatku rela hati
Ya Allah Tuhan robbiku
Muhammad junjunganku
Al-Islam agamaku
Muhammadiyah gerakanku
Di timur fajar cerah gemerlapan
Mengusir kabut hitam
Menggugah kaum muslimin
Tinggalkan peraduan
Lihatlah matahari telah tinggi
Di ufuk timur sana
Seruah Ilahi rabbi
Sami’na wa atho’na
Ya Allah Tuhan robbiku
Muhammad junjunganku
Al-Islam agamaku
Muhammadiyah gerakanku


Pada Muktamar Muhammadiyah ke-44 di Jakarta tahun 2000, Gus Dur –yang ketika itu menjadi Presiden Republik Indonesia— sempat menyinggung bahwa lagu kebangsaan Muhammadiyah Sang Surya merupakan hasil gubahan lagu Arab-Kristen. Konon, beberapa orang Muhammadiyah merasa tersinggung dengan pernyataan itu. Kritik dan gugatan terhadap lagu ini juga muncul dalam beberapa milis dan obrolan di kalangan internal Muhammadiyah. Namun hingga saat ini sepertinya tidak ada tanggapan serius dari organisasi yang baru merayakan ulang tahun ke-100 beberapa bulan lalu itu.

Dengan menyadari posisi penulis yang bukan pengamat, apalagi kritikus sastra, tulisan ini hanya ingin mengangkat kembali isu tersebut dengan mencoba melakukan perbandingan antara lagu Sang Surya dan A’tiny al-Nay (Berikan kepadaku Seruling), yang disebut-sebut sebagai “referensi” dari anthem Muhammadiyah itu.
***

Ketika sedang mengikuti satu pertemuan dalam kuliah “Sastra Arab Kontemporer” di University of California – Santa Barbara, Profesor Dwight Reynolds memutarkan sebuah lagu yang musiknya terdengar sangat familiar di telinga penulis. Suara musik itu membawa ingatan penulis terbang 15 ribuan kilometer dari tempat duduk ke Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah di Menteng Raya 62 Jakarta dimana musik itu sering diperdengarkan. Itu adalah musik dari lagu Sang Surya ciptaan H. Djarnawi Hadikoesoemo yang menjadi lagu kebangsaan Muhammadiyah. Namun penulis yakin bahwa Profesor Reynolds tidak akan berbicara tentang Muhammadiyah yang memang tidak ada kaitannya dengan materi kuliah.

Dan benar saja, dia menjelaskan bahwa itu adalah musik untuk lagu yang dipopulerkan oleh Fairuz, penyanyi Arab ternama dari Lebanon. Lirik lagu yang berjudul A’tini al-Nay itu berasal dari syair karya Gibran Khalil Gibran, sastrawan Lebanon-Amerika, dan ditulis ketika dia tinggal di New York, Amerika Serikat, pada 1920-an. Musiknya sendiri diciptakan oleh Najib Hankash.

A’tini al-Nay adalah sebuah syair yang memiliki makna sangat dalam dan multi-interpretasi. Secara harfiah bait per bait, ia bercerita tentang musik, seruling, dan kehidupan. Bahwa rahasia kehidupan ini terletak pada lagu. Bahwa seruling bambu itu bisa tetap bernyanyi meskipun pohonnya sudah mati. Tapi syair itu juga bisa dimaknai secara mistik tentang keberadaan manusia di bumi.

Sebagai seorang pengikut Kristen Maronite yang sangat taat, Fairuz tidak setuju dengan beberapa kata dalam syair Gibran itu. Sehingga ketika dilagukan ada beberapa lirik yang berbeda dari syair asli. Pada bait pertama, kalimat “fal ghina sirrul-khulud” (rahasia kekekalan terletak pada sebuah lagu) diganti dengan “fal ghina sirrul-wujud” (rahasia keberadaan terletak pada lagu). Pada bait lain, kalimat “fal ghina khairus-shalah” (lagu adalah doa terbaik) diganti menjadi “Fal ghina sirrul-wujud.”
***

Ketika meresapi lirik-lirik dan musik Sang Surya, pendengar akan mendapat siraman semangat keislaman dan kemuhammadiyahan. Tauhidnya diperkokoh, semangat ber-fastabiqul khairat dalam urusan dunia dan akhirat dibangkitkan. Kesyahduan estetika pun muncul dari lagu itu. Itulah yang pernah penulis rasakan ketika mendengar Sang Surya sebelum mengetahui bahwa ada nuansa “contekan” dalam lagu itu.

Kini, meski rasa itu tidak sepenuhnya hilang, tapi ada hal lain yang merasuk ke pikiran ketika meresapi lagu Sang Surya, yaitu perasaan tidak nyaman antara kebesaran dan etika dalam berkarya. Muhammadiyah adalah organisasi besar dengan masa puluhan juta orang, telah berumur lebih dari 100 tahun, memiliki amal usaha yang mungkin terbesar di dunia, melahirkan kader dalam berbagai profesi, tapi lagu kebangsaannya dituduh orang lain mengandung unsur plagiarism.

Ketika mendengar lirik-lirik “Di timur fajar cerah gemerlapan, Mengusir kabut hitam, Menggugah kaum muslimin, Tinggalkan peraduan, Lihatlah matahari telah tinggi, Di ufuk timur sana,” misalnya, terdengar sayup-sayup syair Gibran “hal tahammamta bi’itri, wa tanshafta binur, wa sharabtal-fajra khamran, fi kuusin min athir.” Memang tidak sama dan yang pasti dalam bahasa yang berbeda, tapi ada sayup-sayup yang seirama.

Keserupaan yang paling jelas memang bukan pada lirik, tapi pada musik. Bagi yang belum pernah dengar, coba bandingkan lagu Sang Surya yang bisa diakses dalam link YouTube http://www.youtube.com/watch?v=Qo5bJybCUVg&feature=related dengan A’tini al-Nay pada beberapa link YouTube juga (diantaranya: http://www.youtube.com/watch?v=zQJqu675Ino dan http://www.youtube.com/watch?v=L4hXyr9pYiw&feature=relatedv).
***

H. Djarnawi Hadikusumo adalah tokoh besar di Muhammadiyah dan merupakan putra Ki Bagus Hadikusumo, juga tokoh panutan di organisasi yang berdiri tahun 1912 ini. Ia lahir di daerah yang menjadi jantungnya Muhammadiyah, Kauman, pada 1920 (meninggal pada 1993) dan menempuh pendidikan di sekolah-sekolah Muhammadiyah dibawah bimbingan, diantaranya, K.H. Mas Mansur, K.H. Faried Ma`ruf, K.H. Abdul Kahar Mudzakir, Siradj Dahlan dan Buya Hamka. Intinya darah, daging, dan tulang Hadikusumo adalah Muhammadiyah. Selain berkiprah lama di Muhammadiyah, termasuk di tingkat pimpinan pusat, Hadikusumo merupakan ketua umum Parmusi (Partai Muslimin Indonesia) setelah didirikan tahun 1968 dan kembali menjadi ketua umum ketika M Roem ditolak pemerintah Orde Baru untuk memimpin partai itu.

Sang Surya adalah bagian dari karya besar yang ditinggalkan Hadikusumo di Muhammadiyah. Dengan mengingat perjuangan dan dedikasinya di organisasi ini, lagu ini memang tepat diletakkan pada tempat yang utama. Namun demikian, mars ini bukanlah bagian dari doktrin Muhammadiyah dan Islam. Ia bukan karya sakral yang tidak bisa diperbarui atau dimodifikasi. Dan memang, Muhammadiyah tidak men-taboo-kan kritik terhadapnya. Karena itu, jika dalam seratus tahun umurnya ini Muhammadiyah bisa melahirkan mars baru yang lebih baik, barangkali itu bisa menjadi simbol dari babak baru Muhammadiyah. Sebuah mars yang bisa memberikan ghirah dan karya baru bagi Muhammadiyah abad kedua.

Give me the flute

Lyrics: Kahlil Gibran Music: Najib Hankash

Give me the flute, and sing / immortality lies in a song / and even after we've perished / the flute continues to lament / have you taken refuge in the woods / away from places like me / followed streams on their courses / and climbed up the rocks. Did you ever bathe in a perfume / and dry yourself with a light / drink the dawn as wine / rarefied in goblets of ether / give me the flute then and sing / the best of prayer is song / and even when life perishes / the flute continues to lament / have you spent an evening / as I have done / among vines / where the golden candelabra / clusters hang down / did you sleep on the grass at night / and let space be your blanket / abstaining from all that will come / forgetful of all that has passed / give the flute then and sing / in singing is Justice for the heart / and even after every guilt / has perished / the flute continues to lament / give the flute and sing / forget illness and its cure / people are nothing but lines / which are scribbled on water.

8 comments:

  1. mars sang surya dirilis thn 1976...sdngkn lgu a'thini tsb baru dirilis thn 90an...jd siapa meniru siapa sdh jelas...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berikut ini link menarik yang bisa dijadikan perbandingan: http://kwarta.wordpress.com/2008/12/14/atini-al-nay-dan-sang-surya/

      Delete
    2. Berikut saya kutipkan keterangan lain mengenai lagu A'tini: "A'tini al-Nay: by Najieb Hankash
      Nabil Azzam, Solo Violin
      This melody is originally a song by the celebrated Lebanese-American poet Khalil Gibran. It was recorded by star Lebanese singer Fairuz in the 1970s and scored immediate success. The title could be translated as "The Eternal Nay" (flute). In this performance Nabil Azzam plays the vocal part on his violin while leading the orchestra."
      Tepatnya, lagu ini dinyanyikan pertama kali tahun 1974.
      Berikut link-nya: http://www.mesto.org/pastConcerts/2005_04_23/index.shtml

      Delete
  2. Terima kasih atas komentarnya. Lagi A'tini al-Nay ini didasarkan pada puisi yang ditulis oleh Kahlil Gibran (Gibran Khalil Gibran) yang hidup antara 1883-1931. Lagu ini pertama kali direkam dan dinyanyikan oleh Fairuz pada awal 1970-an, tidak terlalu lama sebelum Mars Muhammadiyah.

    ReplyDelete
  3. mengapa Muhammadiyah harus malu mengakuinya jika memang benar benar itu "jiplakan"? sebenarnya, banyak sekali musik di dunia ini yang nadanya mirip mirip bahkan sama. bukan karena menjiplak, tapi lebih kepada kebetulan. Contohnya pada lagu lagu Koes Plus dan The Beatles. Hanya saja, kata "kebetulan" bisa ditoleransi jika kesamaan itu tidak melebihi sepertiga sebuah karya, namun tidak jika secara keseluruhan. Baiklah, saya akan bertanya kepada Fairuz

    ReplyDelete
  4. Toh, Muhammadiyah lahir bukan lantaran untuk sebuah Mars, peran sosial Muhammadiyah di masa kini terus dinantikan umat

    ReplyDelete
  5. Mars Muhammadiyah bukan "Sang Surya". Mars Muhammadiyah syairnya:
    Muhammadiyah gerakan Islam
    Pengemban amanat Tuhan
    Pelaksana setia AMPERA
    Amar ma'ruf nahi munkar
    Menegakkan kebenaran
    Memberantas kebatilan

    Mari semua warga Muhammadiyah
    bersama-sama rakyat Indonesia
    ......... (lupa).. tindak kejahatan
    siap menda'wahkan Islam
    menuju kesempurnaan pancasila
    negara adil, makmur, aman sentosa
    di bawah naungan Tuhan

    ReplyDelete