Thursday, July 11, 2013

Kitab Fiqh Muhammadiyah Awal

BUKU KITAB FIQH JILID TELU, yang dikarang dan diterbitkan oleh MUHAMMADIYYAH bagian TAMAN PUSTAKA Djokjakarta, terbit tahun 1343 Hijriyyah.

setelah membaca buku tersebut.... DAPAT DISIMPULKAN antara NU dan Muhammadiyyah, dari sisi amaliyahnya itu dulunya sama. antara lain : 1. bacaan iftitah, 2. sholawat yang menggunakan SAYYIDINA, 3. dzikir setelah sholat, DLL.

1. dalam bab WACAN SHOLAT LAN MA'NANE halaman 25, bacaan IFTITAH-nya KABIROWWALHAMDULILLAHI KATSIRO.... bukan ALLOHUMMA BAA'ID....

2. pada halaman 26 Fatihah menggunakan BASMALAH....

3. dalam halaman 29, sholawat yang dibaca dalam tahiyyat menggunakan SAYYIDINA

semua itu dipertegas dalam BAB PIRANGANE RUKUNE SHOLAT halaman 31-33. kecuali masalah sholawat. di bab ini dijelaskan sholawat adalah allohumma sholli 'ala Muhammad. hemat saya, penjelasan itu sekedar menunjukkan bahwa bacaan sholawat itu cukup dengan ALLOHUMMA SHOLLI 'ALAA MUHAMMAD, bukan membid'ahkan sayyidina....

dipertegas lagi dalam rukun hutbah halaman 57, membaca sholawat menggunakan sayyidina.

4. di halaman 27 dijelaskan adanya QUNUT dengan Dow ALLOHUMMAHDINII.....

5. halaman 57 khutbah jum'at, dua kali.

6. dzikir ba'da sholat pada halaman 40-42, dengan bacaan sbb:

- astaghfirullohah adziim alladzii paar ilaaha illa huwal hayyul qoyyuum waatuubu ilaiih... 3 Kali

- allohumma antassalam.... 3 Kali

- subhaanalloh 33 Kali

- allohu Akbar 33 Kali

- alhamdulillah 33 kali

YANG MEMBUTUHKAN BUKUNYA SILAHKAN

Download

Retrieved from: http://pustaka-darulhikmah.blogspot.com/2013/05/kitab-fiqh-muhammadiyyah.html

Catatan: Tradisi fiqh di Muhammadiyah sebelum 1929 memang tak berbeda jauh dr tradisi di NU. Jadi, buku itu tak terlalu mengejutkan (justru mengokohkan pandangan yg selama ini beredar). Perubahan di muhammadiyah itu terjadi, diantaranya, krn pengaruh Haji Rasul (dan Muhammadiyah Sumatra Barat) yg cukup menentukan corak pemahaman fiqh Muhammadiyah. Adagium yg cukup dikenal: Muhammadiyah lahir di Yogya, tapi secara ideologi dibentuk di Sumatra Barat. Peacock sudah pernah membahas persoalan ini. Pembentukan Majlis Tarjih di sekitar tahun 1928 juga mengokohkan pergeseran ini. Pendeknya, fiqh bukan menjadi concern utama Muhammadiyah awal, mereka lebih sibuk pada feeding (panti asuhan), healing (rumah sakit), & schooling (sekolah).

13 comments:

  1. Catatan yg hampir sama dg yg di atas: Kitab Fiqh yang gambarnya dimunculkan itu terbit 1343 atau sekitar 1924, belum lama setelah KH Ahmad Dahlan meninggal. Ada bbrp kajian ttg itu. Tp intinya, banyak ritual yg masih sama dg NU. Termasuk Dahlan masih tahlilan ketika dulu ayahnya meninggal. Proses perubahan itu banyak terjadi ketika ideologi Muhammadiyah terbentuk, diantaranya dimulai oleh Haji Rosul dari Sumatra Barat stl Dahlan meninggal. Makanya sering disebut, Muhammadiyah lahir di Yogya, tp memiliki ideologi dr Sumatra Barat. Mas Mansur juga berperan dalam purifikasi di Muhammadiyah. Dia dari Surabaya dan memimpin Muhammadiyah tahun 1930-an. Panjang deh cerita tentang ini.

    ReplyDelete
  2. mari kita saling join blog. ente join blog ane, ane join blog ente

    estigona.blogspot.com

    ReplyDelete
  3. Sebelum buku berjudul ‘Muhammadiyah itu NU’ karya Mochammad Ali Shodiqin itu terbit, saya sudah pernah membaca penjelasan serupa dari blog Muhammadiyah Studies yang di tulis oleh Mas Najib Burhani berjudul “Kitab Fiqh Muhammadiyah Awal” yang di posting 11 Juli 2013. Rujukannya adalah buku “Kitab Fiqh jilid telu” yang terbit tahun 1343 H atau 1924 M. Intinya, dua tulisan tersebut mencoba menjelaskan pandangan Fiqih Muhammadiyah terdahulu yang sama persis dengan NU sekarang. Berikut saya paparkan beberapa kesamaannya, terutama masalah Amaliyah :
    Dalam bab wacan shalat lan ma’nane, hal. 25. Bacaan Iftitah Muhammadiyah adalah Kabirowwalhamdulilahi katsiro, bukan Allohumma Baa’id. Hal. 26, Al Fatihahnya juga melafalkan Basmallah secara dhar. Hal. 29 shalawat dalam tahiyat akhir juga menggunakan Sayyidina. Tapi dalam bab pirangane rukune sholat hal. 31-33 di jelaskan shalawat adalah Allohumma sholli ala Muhammad, dan tidak dijelaskan kenapa tidak menggunakan Sayidina.
    Di hal. 27, dijelaskan adanya Doa Qunut yang berbunyi Allohummadini. Hal. 57, Muhammadiyah juga khutbah Jum’at sebanyak dua kali. Hal. 40-42 menjelaskan masalah dzikr ba’da sholat yang berisi Istigfar, allohumma antasalam, Subhanallah, Allohu akbar, dan Alhamdulilah sebanyak 33 kali.
    Menurut Mas Najib Burhani, Tradisi Fiqh di Muhammadiyah sebelum 1929 memang tidak jauh berbeda dengan NU. Perubahan itu terjadi karena pengaruh Haji Rasul di Sumatera barat yang cukup menentukan corak Fiqh Muhammadiyah. Mas Burhan mengemukakan sebuah adagium : Muhammadiyah lahir di Jogja, tapi secara idiologi dibentuk di Sumatera barat. Apalagi, setelah KH. Mas Mansur mendirikan Majelis Tarjih pada tahun 1928 yang akhirnya membuat satu buku pegangan bernama HPT (Himpunan Putusan Tarjih) yang merumuskan konsep ibadah-amaliyah di Muhammadiyah hingga sekarang ini.

    Malang, 16 maret 2014
    *A Fahrizal Aziz
    Kabid Riset dan Pengembangan Keilmuan PC IMM Malang 2013-2014
    Sumber : http://immhope.blogspot.com/2014/03/muhammadiyah-itu-nu.html
    http://burhandwi.com/2014/03/apa-benar-muhammadiyah-itu-nu/

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  6. Mas atau mbak yang Muhamadiyah maaf izinkan saya untuk bertanya..
    Muhammadiyah adalah organisasi yang identik dengan gerakan "PEMBARUAN" nah yang jadi pertanyaan saya adalah PEMBARUAN itu pembaruan dalam hal keduniaan atau pembaruan dalam hal pemahaman pengamalan dalam beragama islam..?
    Setahu saya maaf, syariat islam itu baik dalam pemahamanya dan pengamalan amaliyah islam sudah di ajarkan dengan sempurna oleh Nabi Muhammad jadi apa lagi yang perlu di perbaharui atau di murnikan lagi, sebab dalam hal ini Allah tidak memerlukan campur tangan manusia untuk kemurnian atau pembaruan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Assalamualaikum
      pembaruan dalam konteks "adat dan budaya" masyarakat yang mencampur adukkan hindu dan islam.
      Sehingga haruslah dimurnikan kembali menjadi islam yang asli dan utuh.
      Wassalamualaikum

      Delete
  7. semua punya dasar kenapa masih di repotkan yg penting bisa mengamalkan yang bagus masalah khilafiah furu" itu wajar adanya pokok e tidak di ributkan

    ReplyDelete
  8. Gak penting Muhammadiyah mirip NU atau tidak. Yang penting akur.

    ReplyDelete
  9. Yang punya salinan kitab nya, dishare ya

    ReplyDelete
  10. Yang punya salinan kitab nya, dishare ya
    Kalo Muhammadiyah itu bukan Dahlaniyah,, lalu apa? Manshuriyah?

    ReplyDelete