Sunday, May 26, 2013

Riwayat Berdirinya Nasyiatul Aisyiyah

Riwayat Berdirinya Nasyiatul Aisyiyah 


Berdirinya Nasyiatul Aisyiyah bermula dengan adanya ide Somodirdjo dalam usahanya untuk memajukan Muhammadiyah, ia telah menyadari bahwa tanpa adanya peningkatan mutu ilmu pengetahuan yang diajarkan kepada para muridnya menyebabkan perjuangan Muhammadiyah terhambat. Oleh karena itu ia selalu berusaha untuk meningkatkan mutu ilmu pengetahuan para muridnya baik dalam bidaing spiritual, intelektual maupun jasmaninya.  


Pada mulanya ia telah mengarahkan para muridnya untuk memikirkan sejauh mana ilmu pengetahuan yang telah diserap selama belajar di Standart School Muhammadiyah dapat diwujudkan secara nyata dalam kehidupan bermasyarakat. Didepan kelas ia menyatakan bahwa setiap umat manusia mempunyai dua kewajiban yaitu kewajiban terhadap Allah dan kewajiban terhadap sesama manusia. Didalam melaksanakan kewajiban terhadap Allah ummat manusia wajib menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannva. sedangkan untuk melaksanakan kewajiban terhadap manusia ummat manusia wajib menyumbangkan pikiran, tenaga dan harta bendanya dalam batas-batas tertentu demi kepentingan bersama. Selanjutnya ia mengajak kepada para muridnya untuk selalu mengamalkan ilmu pengetahuan, tenaga dan harta bendanya dalam masyarakat, untuk mempertanggungjawabkan kewajibannya sebagai ummat manusia yang hidup di dunia kepada Tuhan. Ide Somodirdjo untuk menambah pelajaran praktek kepada para muridnya itu, dituangkan dalam pelaksanaan untuk membentuk wadah dimana putra-putri Muhammadiyah mengadakan kegiatan

Dengan bantuan R H. Hadjid seorang kepala guru agama di Standart School Muhammadiyah, maka pada tahun 1919 Somodirdjo berhasil mendirikan perkumpulan yang anggotanya terdiri dari para remaja putra-putri Standart School Muhammadiyah. Perkumpulan tersebut diberi nama Siswa Praja (SP).  

Tujuan dibentuknya Siswa Praja adalah: 

1. Menanamkan rasa persatuan, 

2. Memperbaiki; 

3. Memperdalam agama;


Siswa Praja mempunyai ranting-ranting di sekolah sekolah Muhammadiyah yang ada, yaitu: Suronatan, Karangkajen

Bausasran, dan Kotagede. Seminggu sekali anggota Siswa Praja Pusat memberi tuntunan ke ranting-ranting. Setelah lima

bulan diadakan pemisahan, antara anggota laki-laki dan perempuan. Pimpinan Siswa Praja Wanita diserahkan kepada Siti

Wasilah sebagai Ketua, Umayah Wakil Ketua, Siti Juhainah Penulis, dan Siti Zuhriyah Bendahara. Tempat mengadakan

kegiatan Siswa Praja Wanita di rumah Haji Irsyad (Mushola Aisyiyah Kauman Yogyakarta sekarang). Kegiatan Siswa Praja

Wanita adalah pengajian, berpidato, jama'ah subuh membunyikan kentongan untuk membangunkan ummat Islam Kauman agar

menjalankan kewajibannya yaitu shalat subuh, mengadakan peringatan hari-hari besar Islam dan kegiatan keputrian. 

Lima bulan kemudian Siti Wasilah mengundurkan diri dan diadakan perubahan susunan pengurus pirnpinan Ketua: Siti Umayah, Wakil Ketua: Siti Zuhriyah, Penulis Siti Djuhainah Bendahara: Siti Zaidiyah. Pada periode ini mulai diadakan klasifikasi 

1. Thalabus Saadah tiap malam jum'at untuk anak-anak berumur 15 tahun keatas. 

2. Tajmilul akhlak, tiap jum'at sore untuk anak-anak yang berumur 10-15 tahun 

3. Dirasatul Bannat pengajian sesudah maghrib untuk anak-anak Dasar. 

4. Jamiatul Athfal dua kali seminggu untuk anak-anak yang berumur 7-10 tahun. 

5.Tiap satu bulan, pada hari jum'at terakhir diadakan tamasya keluar kota. 

Meskipun Siswa Praja Wanita berhasil didirikan pada tahun 1919, namun pengurusnya mengalami hambatan didalam memajukan kegiatan. Hambatan ini pada umumnya berasal dari orang tua murid itu sendiri. Mereka melarang, putra-putrinya mengikuti kegiatan diluar jam sekolah karena mereka sering lupa akan tugas rumah vang harus dikerjakan Namun Berkat kesabaran dan ketekunan pengurus dalam memberikan pengertian kepada para orang tua, akhirnya mereka mengerti dan merasakan manfaat dari adanya perkumpulan Siswa Praja Wanita. Bahkan anak-anak yang mengikuti SPW semakin banyak memiliki ketrampilan ketrampilan praktis yang sangat berguna dikelak kemudian hari.
Anggota Siswa Praia Wanita semakin banyak, sehingga menghajatkan tempat yang lebih luas, karena itu tempat kegiatan dipindahkan ke rumah KH Muhammad Kamaluddiningrat (ayah Siti Umniyah). Pelajar-pelajar Mu'allimat yang datang dari berbagai daerah turut aktif dalam SPW, sehingga setelah mereka pulang ke kampungnya Siswa Praja Wanita ditularkan kepada para remaja putri. Dan akhirnya SPW semakin meluas. 


Tahun 1923 secara organisatoris Siswa Praja Wanita menjadi urusan Aisyiyah tahun 1924 mendirikan Bustanul Athfal, yakni suatu gerakan untuk anak laki-laki dan perempuan yang berumur 4-5 tahun. Pelajaran pokok yang diberikan adalah dasar-dasar ke-Islaman pada anak-anak, pada sore hari. Sesudah dua bulan diganti pagi hari SPW menerbitkan buku nyanyian bahasa jawa dengan nama pujian siswa Praja. Siswa Praja Wanita semakin besar dan menimbulkan inisiatif para pimpinan untuk membeli gedung. Pada tahun 1925 Siswa Praja Wanita membeli sebuah rumah sebagai pusat kegiatannya. Tahun 1926 kegiatan Siswa Praja Wanita dimuat di Suara "Aisyiyah". Karena mempunyai cabang-cabangnya di luar daerah. Cabang pertama adalah Cabang Surakarta. Pelajaran-pelajaran ditambah dengan ketrampilan seperti menjahit, kerajinan dan memasak. Tahun 1926 Busthanul Athfal diserahkan kepada Aisyiyah. Tahun 1929 SPW dipimpin oleh Siti Zuhriyah. Pada saat ini mulai diadakan kaderisasi secara sederhana. Pada tahun ini pula Konggres yang ke-18 semua cabang diharuskan mendirikan SPW dengan sebutan Aisyiyah urusan Siswa Praja. Pada tahun 1931 dalam konggres ke-20 di Yogyakarta diputuskan semua nama-nama gerakan dalam Muhammadiyah harus memakai bahasa Arab atau bahasa Indonesia, karena cabang-cabang Muhammadiyah di luar jawa sudah banyak. Saat itu Muhammadiyah telah mempunyai cabang kurang lebih 400 buah. maka nama Siswa Praja Wanita diganti menjadi Nasyiatul Aisyiyah.


Siswa Praja Wanita (SPW) yang pada tahun 1931 berubah nama menjadi Nasyiatul Aisyiyah, dan masih bagian dari Aisyiyah makin hari makin aktif kerjanya. Tahun 1935 Pimpinan Nasyiah di lbukota dipimpin oleh Siti Buchainah. Kegiatannya bertambah lagi; mengadakan shalat jum'at bersama-sama, mengadakan tabligh keluar masuk kampung, keluar kota, kursus administrasi dan propaganda Muhammadiyah. Tahun 1938 pada Kongres Muhammadiyah ke-26 di Yogyakarta diputuskan "Simbul Padi" menjadi simbul Nasyiah. Bapak Achyar Anies mengarang nyanyian simbul padi dan dijadikan Mars Nasyiah. Tahun 1939 Pimpinan NA dipegang oleh St. Wasilah Anies. Di pusat Nasyiatul Aisyiyah menyelenggarakan "Taman Aisyiyah" dengan demikian putri-putri NA yang berbakat mengarang mempunyai kesempatan untuk mengembangkan bakatnya. Selain itu juga menghimpun lagu-lagu yang dikarang oleh komponis-komponis Muhammadiyah dan dibukukan dengan diberi nama "Kumandang Nasyiah".


Pada masa sekitar revolusi, percaturan politik dunia yang mempengaruhi negara Indonesia, membawa akibat yang besar atas kehidupan masyarakat.

Organisasi-organisasi termasuk didalamnya Muhammadiyah, Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah mengalami kemacetan. Nasyiah hampir tidak terdengar lagi perannya ditengah-tengah masyarakat. Baru setelah situasii mengijinkan tahum 1950, Muhammadiyah mengadakan Muktamar di Yogyakarta untuk memesatkan gerak dan langkahnya. Aisyiyah ditingkatkan menjadi otonom. Oleh Aisyivah, Nasyiatul Aisyiyah dijadikan bagian yang diistimewakan sehingga terbentuk Pimpinan Pusat Aisyiyah seksi Nasyiah yang disertai memberi pimpinan kepada Aisyiyah bagian Nasyiah diseluruh Indonesia, dengan ini berarti Nasyiah berhak mengadakan konferensi mengadakan peninjauan dan sebagainya. 

Tahun 1952 Pimpinan Pusat Aisyiyah seksi Nasyiah dipimpin oleh ibu Zam'ah Dimyati. Usahanya yang pertama adalah memberikan pimpinan kepada Nasyiah seluruh Indonesia dan menyelenggarakan keanggotaan Nasyiah. Tahun 1953 Muktamar di Purwokerto, putri Nasyiah banyak yang hadir menemani utusan dari Aisyiyah. Pimpinan Pusat Aisyiyah seksi Nasyiah melaporkan hasil kerjanya pada Muktamar. Tahun 1954 Pimpinan Pusat Aisyiyah membentuk satu susunan pengurus untuk menghimpun putri-putri keluarga Muhammadiyah yang bersekolah di Yogyakarta, tetapi belum terhimpun di Nasyiah dengan maksud supaya mereka aktif di Nasyiah.

Tahun 1956 Muktamar di Palembang, dari Muktamar Aisyiyah ada prasaran mengaktifkan anggota -Nasyiatul Aisyiyah yang pokok isinya mengharapkan kepada Aisyiyah untuk memberi hak otonom kepada Nasyiah. Prasaran disampaikan oleh Dra. Baroroh. Tahun 1959 Muktamar di Yogyakarta kedudukan Nasyiah masih sebagai seksi Aisyiyah, pimpinan dipegang oleh ibu Zuhra Daris. Kegiatannya mulai diperbesar. 

Ketika Muktamar di Jakarta tahun 1962 diberi sedikit kesempatan untuk mengadakan musyawarah tersendiri dan kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya oleh Nasyiatul Aisyiyah. Mereka berhasil membuat rencana kerja yang baru dibawah pimpinan Siti Karimah, Seksi NA terus bekerja untuk mempersiapkan mengadakan popularisasi NA, kaderisasi dan lain-lain. Rupanya semangat Jakarta dapat merubah hati nurani segenap anggota Tanwir khususnya terhadap NA. NA sekarang benar-benar menjadi dewasa, sudah saatnya NA, diberi kepercayaan untuk membina rimah tangga sendiri. 

Tahun 1963 dalam sidang tanwir terdapat kata sepakat untuk memberi status otonom kepada NA. Di bawah pimpinan majlis bimbingan pemuda. NA yang diketuai oleh Siti Karimah mulai mengadakan persiapan-persiapan untuk mengadakan musyawarahnya yang pertama di Bandung. Dengan didahului mengadakan konferensi di Solo, maka berhasillah NA dengan munasnya pada tahun 1965 bersama-sama dengan Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah di Bandung. Dalam Munas yang pertama kali, tampaklah wajah-wajah baru dari 33 daerah dan 166 cabang dengan penuh semangat, akhirnya dengan secara organisatoris NA berhasil mendapatkan status yana baru sebagai organisasi otonom Muhammadiyah. Secara organisatoris NA lepas dari Aisyiyah dan langsung dibawah pengawasan Muhammadiyah. Fungsi NA adalah sebagai pelopor, pelangsung dan penyempurna usaha Muhammadiyah Aisyiyah. Bila dilihat sepintas lalu, Aisyiyah dan NA sama kedudukannya sebagai ortom Muhanimadiyah yang bertugas untuk menyampaikan ide dan cita-cita hidup Muhammadiyah kepada sasarannya. Tetapi secara kekeluargaan Aisyiyah mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari NA. NA merupakan satu-satunya kader Aisyiyah yang bersedia untuk menjadi pengganti, baik yang berupa pimpinan maupun anggota. Di tingkat pusat, wilayah, daerah ataupun cabang.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment