Sunday, December 10, 2017

Bulan Sabit Terbit Di Atas Pohon Beringin: Sebuah Kesan Pembaca


Bulan Sabit Terbit Di Atas Pohon Beringin
(Sebuah Kesan Pembaca)

Oleh Anta Kusuma (Warga Kotagede)



Entah jin apa yang membawa saya pada 1 November 2017 untuk pergi ke Toko Buku Suara Muhammadiyah yang terletak tengah kota Yogyakarta. Niat saya hanya satu, membeli buku dengan judul di atas (di luar tanda kurung) yang ditulis oleh Mitsuo Nakamura. Kebetulan sudah lama sekali saya ingin mengetahui sejarah Kotagede.

Suatu malam setelah Idul Adha pada tahun yang sama, di dekat kawasan Masjid Gedhe Mataram, seorang kawan menyebutkan sebuah nama sebagai salah satu rujukan. Dan suatu malam dalam perjalanan ke sebuah pengajian atas meninggalnya seorang tetangga, masih di Kotagede, seseorang berkata tentang adanya seorang yang gemar memotret acara di Kotagede.
Ada kata kunci di dalam ceritanya: Orang Jepang dan Nakamura.

Buku seharga Rp136.800,00 setelah didiskon Rp7.200,00 itu tentu tidak murah. Tapi, saya benar-benar ingin membacanya.

Dari awal, saya begitu yakin kalau ini merupakan buku yang sangat penting, apalagi mengingat rentang waktu kejadian yang diteliti yang kemudian menjadi penjelasan di bawah judulnya: Studi tentang Pergerakan Muhammadiyah di Kotagede sekitar 1910-2010.
Ditambah lagi, orang-orang Muhammadiyah yang hidup di sekitar saya, maka, membaca penelitian yang dibukukan, yang dilakukan dari tahun 1970 sampai 1972 untuk keperluan disertasi Pak Nakamura itu, serta tambahan tulisan beliau ketika bolak-balik ke Kotagede setelah 1972 sampai tahun 2010 bisa menjadi nutrisi tambahan pengetahuan bagi saya dalam melihat peran sebuah organisasi yang disebut reformis terhadap individu, juga sebaliknya: peran individu terhadap organisasinya.

Kupasan saya terhadap buku yang berjumlah 487 halaman ini, yang telah saya baca kata perkata dari halaman awal sampai bagian “Masa Depan Muhammadiyah” tentu jauh dari kritik layaknya tulisan akademis. Semoga penjelasan di bawah judul di atas kiranya tepat.
 
Kesan yang saya dapatkan dari membaca buku ini akan saya bagi menjadi dua, yaitu: kesan terhadap penulisnya dan kesan terhadap apa yang ditulisnya. Saya tahu, kedua hal ini agak sulit untuk dipisahkan.


Sebagai orang Jepang, kesan kesungguhan, sabar, setia, serius, dan sangat memerhatikan hal yang kecil atau detil sepertinya terwakili dalam diri Nakamura yang menyelesaikan sarjananya dalam bidang filsafat serta tiga pascasarjana dalam bidang antropologi (dua master dan satu doktoral). Keempat “pelajaran berat” tersebut tentu sulit untuk diselesaikan tanpa adanya kecintaan yang besar terhadap orang-orang atau lembaga yang ditelitinya. Dalam hal ini tentu saja: Indonesia, Islam, Muhammadiyah dan juga Nadhatul Ulama.

Menggeluti objek penelitian itu sebagai orang luar, saya yakin telah memberi tantangan yang sangat besar baginya. Mungkin karena hal itulah, karya yang dihasilkannya juga sangat besar dan mampu menjadi rujukan bacaan bagi anggota Muhammadiyah maupun yang bukan, Muslim atau bukan, Indonesia atau bukan, sekarang atau yang akan datang.

Jika saya mengibaratkan Muhammadiyah sebagai pohon beringin yang mampu menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar, maka, Nakamura adalah bulan yang dengannya kita bisa melihat keadaan si pohon secara agak terang dalam remang malam.

Mungkin Anda berpikir ini adalah penilaian yang sangat berlebihan, namun saya ingin bertanya selama lebih dari satu abad usia Muhammadiyah, adakah orang di dalam Muhammadiyah sendiri yang telah berhasil menulis sejarah salah satu organisasi terbesar di Indonesia itu dari zaman prakemerdekaan, pascakemerdekaan, reformasi, sampai pascareformasi dengan melakukan penelitian sosial yang begitu mendalam dan lama layaknya jalaran akar dan usia pohon beringin?

Saya rasa, sambil menikmati Cokelat Monggo di teras Masjid Gedhe Mataram, mungkin bisa ditambahkan sebuah pertanyaan, mengapa sang antropolog yang menempuh pendidikan formal di Jepang dan Amerika itu terkesan ingin turut serta dalam memajukan Muhammadiyah?

Jumat, 3 November 2017, dua hari setelah membeli buku yang diterjemahkan dari penerbit di Singapura ini, saya harus mencari satu buku lagi untuk seorang anggota Muhammadiyah. Di kantor Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kotagede, dengan berharap bisa mendapat harga yang lebih murah, saya bertanya apakah buku ini juga dijual di sana. Saya agak kecewa, teryata tak ada. Kekecewaan saya sebenarnya lebih kepada, bagaimana mungkin, sebulan setelah buku ini diluncurkan, tidak ada usaha dalam pengadaan buku ini untuk dijual ke masyarakat umum (minimal bisa dimiliki aktivis Muhammadiyah) yang tinggal di wilayah pusat penelitian buku ini? Saya, hanya bisa meninggalkan saran ke seorang staf yang menyambut kedatangan saya dengan hangat.

Memang, buku ini tak akan bisa dinikmati secara penuh oleh buruh perak, bakul di Sargedhe, para turis di Pesareyan, dan mungkin juga para jamaah di masjid yang arah kiblatnya telah bergeser sekali. Tapi, setidaknya buku yang bagian awalnya pernah diterbitkan oleh Universitas Gadjah Mada ini bisa terus dibicarakan di sekolah-sekolah, pengajian-pengajian, dan kegiatan-kegiatan yang setidaknya berhubungan dengan Muhammadiyah. Tanpa itu, kita benar-benar akan kehilangan sejarah yang sangat diperlukan untuk melihat masa kini dan masa depan sebuah gerakan sosial keagamaan.

Di buku yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Suara Muhammadiyah ini, begitu banyak pengantar yang sangat membosankan. Isinya banyak yang megulang apa yang dibahasa di dalam buku ini. Sehingga bagi pembaca yang agak malas karena mungkin tak punya banyak waktu, membaca pengantar yang berasal dari teman-teman sang penulis, kemungkinan sudah bisa menangkap inti dari buku ini, apalagi jika ditambah membaca bagian Pascawacana-nya.

Masuk ke bagian karya Nakamura, ia benar-benar sangat disiplin dalam menggelontorkan cerita berdasarkan kronologi waktu dan memasukkan kejadian-kejadian secara detil di dalamnya. Sayangnya, cara bercerita di dalam buku ini sangatlah akademik, sehingga saya bisa sedikit mengerti jika buku yang berkualitas tinggi ini hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu saja. Kutipan, catatan kaki, dan statistik terasa sangat memenuhi buku yang bersampul foto pohon beringin dengan dua orang Jawa di depannya pada  tahun 1896 yang arsipnya dirawat oleh sebuah lembaga dokumentasi dari Belanda.

Untungnya, Nakamura sering menyajikan kotak-kotak cerita yang isinya lebih ringan, semacam catatan harian yang sering diselipkan di 14 bab yang ada di dalam bukunya. Salah satu kotak yang menjadi favorit saya adalah cerita tentang Nakamura yang malam-malam mengintip pemuda yang bergoyang di dalam sebuah rumah ketika menyetel lagu dari The Beatles. Dari sini saya mendapat gambaran tentang “kenikmatan barat” yang malu-malu ditampilkan ke permukaan yang dipenuhi syiar keagamaan di Kotagede pada tahun 70-an. Saya tidak tahu apakah kesan itu yang membuat Nakamura tertawa, tapi saya pribadi agak geli membacanya. Lumayan, ada sedikit hiburan ketika membaca buku yang agak berat ini.

Foto-foto yang selalu ada di setiap bab tentu saja bisa melayangkan imajinasi pembaca tentang situasi sosial Kotagede sebelum tahun 70-an, juga setelahnya, terutama foto lama yang berhubungan dengan aktivitas keagamaan. Ada kesan agama memang bekerja dengan gembira dalam masyarakat pada zaman itu. Untuk foto di tahun 2000-an, ada beberapa yang saya temukan kurang memberi kisah yang dalam dan agak keluar dari kisah utama, misal foto di depan kasir Cokelat Monggo atau foto profil orang, bukan kegiatan kelompok.

Mengenai kesalahan tulisan, kesalahan dalam menjelaskan letak sebuah bangunan, saya rasa merupakan masalah teknis yang tidak mengubah ide dasar buku ini dalam menjelaskan peran penting Muhammadiyah di Kotagede.

Selain itu, kejujuran Nakamura dalam mengkritik pendahulunya dalam melihat Islam secara umum, sekaligus kerendahan hatinya dalam memuat tulisan yang mengritik pemikirannya, saya rasa sangat pantas untuk diapresiasi.

Saya sendiri merasakan kekurangpuasan ketika Nakamura mengukur kemajuan dakwah Muhammadiyah  dengan pertumbuhan masjid dan aktivitas keagamaan setelah tahun 1972 (halaman 293). Bagi saya, jumlah bangunan dan kegiatan kuranglah tepat dijadikan dasar bagi Muhammadiyah yang sebelumnya pernah dijelaskan sebagai sebuah organisasi reformis dan pembebasan. Namun, Nakamura sendiri mengakui kesulitannya: “sulit untuk mengukur keberhasilan atau kegagalan dakwah secara persis, karena, pada akhirnya, hasilnya merupakan masalah hati nurani individu.” Jika sulit, mengapa perlu diukur?

Hal lain yang saya temui di dalam buku ini adalah adanya hubungan antara isu Muhammadiyah di masa awal dan kini. Saya pikir, ini bisa membuktikan tidak adanya kemajuan pola pikir secara besar di dalam organisasi yang berdiri sejak tahun 1912 itu. Salah satu contohnya adalah komunisme yang “diperangi” oleh Muhammadiyah pada tahun 1965 tampaknya masih “diwariskan” oleh orang-orang atas di dalamnya di tahun 2017 ini, padahal suasana politik di Indonesia sudah jauh berbeda dengan tahun sebelum 30 September 1965.

Dalam buku ini juga dijelaskan bagaimana pertentangan antara generasi muda Muhammadiyah sejak setelah reformasi yang lebih condong kepada pendekatan budaya daripada generasi tua yang lebih ingin mempertahankan nilai-nilai awal organisasi yang dekat dengan Partai Amanat Nasional ini dalam hal ketidaksetujuan mereka terhadap kesenian tradisonal.
Nakamura berhasil menggambarkan perbedaan pandangan ini melalui penelusurannya terhadap apa yang terjadi di Festival Kotagede sejak tahun 1999.

Sesungguhnya begitu banyak “catatan” tentang Muhammadiyah dalam buku ini, termasuk dimuatnya kutipan penting dari edisi Brosur Lebaran yang dikeluarkan oleh Muhammadiyah di Kotagede setiap menjelang Idul Fitri yang berisi tulisan-tulisan yang bersifat reflektif. 

Jika Nakamura menginginkan Muhammadiyah mengikuti perkembangan zaman, maka saya yakin itu bisa dimulai dengan melihat kembali pemikiran kritis darinya atau dari orang-orang Muhammadiyah sendiri yang selama ratusan tahun ini masih nyangkut di pohon beringin.


Yogyakarta, 8 Desember 2017
(Sehari sebelum Pasar Keroncong Kotagede yang tak akan berasaing dengan kumandang azan dari masjid yang ada di setiap kampung di Kotagede)

 Tambahan: Pada tanggal 9,  panggung di kampung Sopingen dibatalkan. Di lorongnya yang berhias anyaman bambu, berjejer karangan bunga duka untuk Ibu Dalalah Chirzin. Beliau dimakamkan disamping Bapak Muhammad Habib Chirzin.
Semoga segala amal kebaikan kedua tokoh Muhammadiyah tersebut terus lestari.




1 comment: