Tabloid Kauman, Edisi 03, Januari - Februari 2012. hal. 19.
Ahmad Najib Burhani
Kandidat Doktor di Universitas California - Santa Barbara,
USA
Beberapa tahun lalu telah terbit buku yang berjudul NU
Studies: Pergolakan pemikiran antara fundamentalisme Islam dan fundamentalisme
neo-liberal (2006). Buku yang ditulis oleh Ahmad Baso, anak muda NU yang
kini menjadi anggota Komnas HAM, ini mencoba memberikan perspektif baru dalam
membaca Nahdlatul Ulama (NU) dan menekankan perlunya orang NU mengkaji kembali
tentang organisasinya dan kemudian menulis dan mengkritik dirinya sendiri.
Dalam istilah Baso, NU perlu menjadi fā`il, bukan maf’ūl; perlu menampilkan sendiri tentang
identitasnya, tak perlu lagi disampaikan oleh kelompok modernis atau penulis
asing yang menurutnya justru seringkali mendistorsi ke-NU-an.
Buku Baso di atas hanyalah satu dari sekian literatur karya
generasi muda NU yang dimaksudkan untuk memberikan identitas baru bagi NU. Ratusan
buku lain telah terbit. Tema yang mereka angkat diantaranya adalah ‘Islam
Pribumi,’ ‘Islam Nusantara,’ dan ‘Islam Indonesia.’ Kemana semua istilah itu
merujuk? Tentunya bukan ke Muhammadiyah, tapi kepada NU dan ingin menegaskan
bahwa organisasi ini adalah representasi Islam di Indonesia. Anak-anak muda itu
menyebut dirinya ‘generasi hibrida’ dan ‘post-tradisionalis’ untuk menegaskan
perbedaannya dari NU lama yang sering disebut ‘kolot,’ ‘tradisional,’ dan ‘kampungan.’
Bahwa anak-anak muda NU itu saat ini bukanlah seperti yang dulu digambarkan
oleh para penulis asing. Dengan tetap berpijak pada tradisi, mereka telah
melampaui apa yang dulu hanya menjadi kebanggaan kelompok modernis, seperti
akses terhadap modernitas dan kritisisme.
Kepercayaan diri yang tinggi dari generasi muda NU itu tidak
hanya diwujudkan dalam bentuk self-critique (kritik terhadap dirinya
sendiri), tapi juga kritik terhadap organisasinya saingannya, yaitu
Muhammadiyah. Satu buku yang bisa mewakili ini adalah karya Nur Khalik Ridwan
yang berjudul Agama borjuis: Kritik atas nalar Islam Murni (2004). Bagi
Ridwan, paradigma berpikir yang dipakai oleh kelompok seperti Muhammadiyah itu
terbelenggu pada dikotomi ‘official Islam vs. popular Islam’ atau ‘orthodoxy
vs. heterodoxy’ atau ‘normative Islam vs. folk Islam’ atau ‘great
culture vs. small culture’ atau ‘pusat vs. pinggiran’ atau ‘Islam murni vs.
Islam tidak murni’. Paradigma ini seakan ingin menegaskan bahwa Islam yang
benar adalah yang berasal dari pusat Islam (Timur Tengah), sementara yang jauh
dari pusat sudah banyak tercemar. Paradigma berpikir antropologis itu
sepertinya telah dikukuhkan menjadi paradigma teologis di Muhammadiyah.
Darimana kepercayaan diri yang tinggi itu mereka temukan? Dengan
tidak berpretensi untuk memberikan analisis yang komprehensif, tulisan ini
ingin menunjukkan bahwa self-confidence itu ditemukan dari beberapa
sumber atau alasan. Pertama, Kegagalan proyek nahḍa (renaisans) yang
diusung oleh Muhammad `Abduh pada akhir abad ke-19. Ini bisa dilihat dari
kekalahan Arab dalam perang melawan Israel pada 1967 dan kegagalan
negara-negara Arab sejak zaman `Abduh mendengungkan reformasinya. Kedua, pemikiran
mazhab kritis terutama yang berasal dari Perancis sebagai perlawanan terhadap
mazhab Anglo-Saxon. Anak-anak muda NU mengagumi gaya berpikir dari
Perancis yang menyukai perdebatan pemikiran dan filsafat sebagai perlawan
terhadap berpikir Anglo-Saxon yang positivis dan formalis. Gaya
berpikir yang dipakai di Muhammadiyah juga lebih banyak dipengaruhi oleh
pemikiran Weberian yang menekankan pentingnya pengaruh ide dan teks, sementara
NU lebih menekankan pada realitas empiris. Dan pilihan dari NU itu menemukan
momentumnya sejak 1980-an. Ketiga, mereka menemukan piranti baru yang bisa
dipakai untuk membaca tradisi secara kritis seperti yang diusulkan Muhammad
`Abid al-Jabiri (Maroko) dan Hasan Hanafi (Mesir). Mereka yakin bahwa untuk
maju itu tidak perlu membuang tradisi seperti yang dilakukan kelompok modernis,
tapi justru harus berangkat dari tradisi. Keempat, kepeloporan dan kepemimpinan
Gus Dur merupakan faktor yang tidak bisa dinafikan. Corak berpikir ala Gus Dur
memiliki kekhasan yang berbeda bila dibandingkan dengan Cak Nur dan kelompok
modernis, misalnya dalam penekanan pada ‘pribumisasi’ dan referensi pada
khazanah klasik Indonesia dan Islam.
Tahun lalu, Zuly Qodir mencoba menjawab tulisan Ahmad Baso
di atas dengan bukunya Muhammadiyah Studies: Reorientasi gerakan dan
oemikiran memasuki abad kedua (2010). Buku ini adalah sebuah langkah awal yang
baik untuk melakukan self-critique, namun sepertinya belum bisa
dijadikan tandingan untuk buku Baso. Bahkan untuk menulis buku itu pun, Zuly
Qodir terpaksa harus terlebih dahulu bercermin pada capaian dari NU dalam wujud
karya Ahmad Baso. Ini adalah kritik yang sebetulnya juga berlaku untuk tulisan
ini; kita lebih banyak bersikap defensive, bukan memberikan inisiatif.
Salah satu tema yang menjadi titik tekan buku Zuly Qodir ini adalah pada
gerakan ranting sebagai solusi untuk membangun Muhammadiyah di abad keduanya.
Namun banyak persoalan ke-Muhammadiyahan yang belum mendapatkan alternatif
jawaban dari buku ini.
Misalnya, pertama, mengapa para sarjana, terutama dari
Barat, kini meninggalkan Muhammadiyah dan lebih tertarik untuk mengkaji NU dan
Islam radikal? Apakah Muhammadiyah bukan isu yang seksi lagi atau organisasi
ini sudah habis dibahas oleh sarjana terdahulu? Sebagai sebuah organisasi
sosial yang masih hidup, dinamisme dan perubahan adalah kemestian. Selama
perubahan dan dinamisme itu terjadi di Muhammadiyah, maka gerakan ini akan
selalu menarik untuk dikaji dan tidak ada kata selesai atau habis. Ketika orang
tidak lagi tertarik untuk membahasnya, sangat mungkin ia kehilangan spirit yang
dulu pernah menjadi daya tarik para sarjana asing untuk mengkajinya. Tiga hal
yang dulu menjadi kebanggaan Muhammadiyah, yaitu schooling (pendidikan),
feeding (kesejahteraan sosial), dan healing (pengobatan,
rumah sakit), kini telah dilampaui oleh organisasi lain. Dalam hal pendidikan,
misalnya, daya tarik sekolah Muhammadiyah telah kalah dari sekolah-sekolah
internasional yang menjamur di Indonesia. Dalam hal filantropi dan
kesejahteraan sosial, Dompet Dhuafa dan PKPU terlihat lebih menarik, kaya ide,
dan agresif daripada lembaga-lembaga Muhammadiyah. Pilar yang dulu menopang
Muhammadiyah, yaitu middle class (kelas menengah) terutama dari kalangan
pedagang, juga banyak yang runtuh di beberapa tempat dan digantikan oleh PNS
(Pegawai Negeri Sipil) yang kurang independen.
Pertanyaan kedua, mengapa banyak dari kita yang masih
terkungkung pada jebakan dikotomi tradisionalis-modernis yang sudah tidak
aplikatif lagi sementara orang lain telah membuat dikotomi baru yang kurang
menguntungkan Muhammadiyah? Dikotomi modernis-tradisionalis itu berlaku untuk
paruh pertama abad ke-20 dan kini NU tidak kalah modern-nya dari Muhammadiyah. Justru
kini Muhammadiyah menjadi maf`ūl (obyek penderita) dalam dikotomi baru
seperti ‘progresif vs. konservatif,’ ‘liberal vs. radikal,’ dan ‘kultural vs.
Islamis’. Kategori yang kedua itu sering dialamatkan ke Muhammadiyah, sementara
yang pertama ke NU.
Pertanyaan ketiga, piranti intelektual apa yang bisa dipakai
oleh Muhammadiyah untuk mereformasi dirinya? Atau, metode berpikir seperti apa
yang bisa diadopsi oleh gerakan ini untuk kembali menjadi motor pembaruan? Dulu
Muhammadiyah banyak mengambil inspirasi dari Muhammad `Abduh dalam pemikiran
keagamaan, mencoba mengkombinasikan antara modernisasi dan puritanisasi.
Setelah seratus tahun, sepertinya kita belum menemukan piranti yang lebih baru
atau menciptakan piranti yang lebih canggih untuk bisa tetap berada di garda
depan pembaruan. Dulu Amin Rais pernah menawarkan gagasan tentang ‘Tauhid
Sosial,’ tapi sepertinya kini ide itu telah mati sebelum sempat berkembang.
Ahmad Syafii Maarif mengusung etika Al-Qur’an untuk melawan korupsi, kultus
individu, pemujaan harta, dan segala penyakit sosial. Namun apa yang dilakukan
Buya Syafii lebih terfokus pada praksis dan lemah dalam metodologi. Terlabih
lagi, gagasan itu belum menjadi sebuah gerakan di Muhammadiyah.
Sebetulnya pendirian JIMM (Jaringan Intelektual Muda
Muhammadiyah) beberapa waktu lalu diantaranya berusaha menjawab kritik-kritik yang
dilontarkan terhadap Muhammadiyah dari pihak luar, tapi rupanya JIMM telah
kehabisan nafas sebelum upayanya membuahkan hasil. Ketika itu, Moeslim
Abdurrahman membantu mencarikan piranti yang bisa dipakai untuk mereformasi
Muhammadiyah dengan apa yang ia sebut sebagai tiga pilar JIMM, yaitu: hermeneutika,
teori sosial, dan new social movement. Usulan itu terlihat sangat
menjanjikan, tapi resistensi dari sebagian warga Muhammadiyah sepertinya ikut
berkontribusi terhadap kematian JIMM.
Sekarang, mampukan generasi muda yang ada di IMM menjawab
tiga pertanyaan itu? Jawaban tertulis mungkin tidak terlalu penting karena yang
lebih penting adalah dalam bentuk gerakan. Ditunggu!
No comments:
Post a Comment