Wednesday, November 15, 2017

Begini Awal Mula Muhammadiyah di Gowa



KHITTAH.co – Perkembangan  Muhammadiyah di Gowa juga bersamaan dengan perkembangannya di daerah-daerah lain di Sulawesi selatan. Radjab (1999:44) mengemukakan bahwa Abu Bakar Daeng Bombong salah seorang anggota Muhammadiyah Group Mariso yang tinggal di Pa’baeng-baeng dengan pekerjaannya sebagai tukang jahit dan aktif mengikuti pengajian di Mariso, mempelopori berdirinya Muhammadiyah Group Jongaya pada tahun 1928.
Sebagai kader pergerakan Muhammadiyah yang ditempa langsung di Group Mariso Cabang Makassar, Abubakar Daeng Bombong berupaya untuk mengadakan pembinaan di daerah tempat tinggalnya di Pa’baeng-baeng yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Ranting Jongaya. Dia kemudian menjadikan Mushalla yang dibangunnya sendiri sebagai tempat untuk mengadakan pertemuan-pertemuan atau pun pengajian-pengajian.
Di tempat itulah para peserta pengajian bersepakat untuk membentuk group Jongaya dengan komposisi pengurus, Abubakar Daeng Bombong sebagai Voorzitter, Abd. Razak Daeng Ngerangsebagai secretaris, dibantu oleh Abd. Razak Daeng Mile, Daeng Sikota, Ismail, dan Sarapa Daeng Tarru (Radjab, 1999:44).
Dengan terbentuknya Group Muhammadiyah Jongaya sebagai ranting pertama di Gowa di bawah pembinaan Muhammadiyah Cabang Makassar, maka mulailah secara organisatoris, Muhammadiyah masuk di daerah Gowa.
Dengan kegiatan yang semakin giat, anggota-anggotanya pun semakin bertambah mengikuti pengajian. Untuk menyampaikan materi pengajian selain disampaikan oleh pengurus secara bergantian  juga biasanya diundang pengurus-pengurus Cabang Makassar di antaranya dengan mengundang KH. Abdullah sebagai pemateri.
Dalam perkembangan selanjutnya mengingat peserta pengajian yang semakin bertambah, karena diikuti pula oleh orang-orang di luar kampung Jongaya, maka tempat tersebut dirasakan tidak lagi memadai, maka diusahakanlah tempat lain, sebidang tanah milik Abdul Razak Daeng Ngerang.
Di atas tanah tersebut dibangun Mushalla, kemudian dibangun pula tempat pendidikan yang lebih modern dibandingkan dengan sekolah Islam milik kaum bangsawan sebelumnya yang bernama “Islahuddin”, yang dikelola secara tradisional, sekolah Muhammadiyah Group Jongaya tersebut untuk selanjutnya dikenal bernama Muallimin Muhammadiyah Jongaya dengan pola pendidikan khas Muhammadiyah yang multiscience yaitu mengajarkan beberapa cabang ilmu pengetahuan baik agama maupun pengetahuan umum (Radjab, 1999:45).
Mushallah dan tempat pendidikan tersebut sangat berperan dalam menanamkan paham Muhammadiyah di masyarakat karena baik peserta pengajian di Mushalla maupun siswa-siswa pada sekolah tersebut selain orang Jongaya juga diikuti pula oleh orang-orang luar Jongaya dalam daerah Gowa. Hal tersebut cukup konstributif dalam mengembangkan organisasi Muhammadiyah di daerah Gowa.
Peranan lain muhammadiyah di daerah Gowa, mulai dari awal keberadaannya sekitar tahun 1928 hingga tahun 1966 di daerah Gowa telah berdiri 10 buah masjid Muhammadiyah yang sebagian besar tetap bertahan hingga saat ini walaupun telah direnovasi gedung maupun namanya.
Masjid-masjid itu adalah Masjid Muhammadiyah di Pandang-Pandang Sungguminasa, Masjid Muhammadiyah di Limbung, Masjid Muhammadiyah di Panciro Lempangang, Masjid Muhammadiyah di amba Jawaya Allu, Masjid Muhammadiyah di Datarang-Tombolo Pao, Masjid Muhammadiyah di Barembeng, Masjid Muhammadiyah di kuboddong-Bonto Nompo, Masjid Muhammadiyah di Lembang bu’ne-Malakaji, Masjid Muhammadiyah di Ritaya-Bori Matangkasa, Masjid Muhammadiyah di Tompobalang-Moncobalang. Masjid-masjid tersebut di atas lebih awal didirikan oleh anggota Muhammadiyah sebelum Muhammadiyah di tempat masing-masing berdiri sebagai ranting atau cabang.
Sumber: Buku “Mentari Bersinar di Gowa (Menelusuri Jejak Kehadiran Muhammadiyah di Gowa tahun 1928-1968)”
http://www.khittah.co/begini-awal-mula-muhammadiyah-di-gowa/9237/

Tuesday, November 14, 2017

NU dan Muhammadiyah di Sumbawa: Sebuah Harmoni

NU Online, Jumat, 10 November 2017

Oleh Poetra Adi Soerjo

Yang membawa NU pertama kali ke Sumbawa adalah seorang anak muda yang lahir dari rahim kandung Muhammadiyah, dan yang membawa Muhammadiyah melejit ke panggung dunia internasional adalah anak muda Sumbawa yang lahir dari rahim kandung NU.

Adalah Abdul Majid seorang pemuda Sumbawa yang masih berusia 15 tahun pada tahun 1934, pulang ke Sumbawa melihat kegiatan yang dikembangkan oleh Badan Tablig sebuah wadah organisasi ulama yang sudah terlebih dahulu eksis di Sumbawa. Kegiatan Badan Tablig ini mendapat sokongan restu dari Sultan Sumbawa Muhammad Kaharuddin III dan mengirimkan para mubalignya keliling ke seluruh daerah di Sumbawa.

Abdul Majid sendiri adalah seorang pemuda asal Sumbawa yang kecil dan besar dalam pengasuhan KH Agus Salim seorang tokoh sentral Muhammadiyah di Jakarta. Kepada Badan Tablig, Abdul Majid menjelaskan tentang perkembangan oraganisasi kebangkitan ulama di tingkat nasional yang merupakatan geneologi dari komite Hijaz yang dikirimkan oleh ulama ulama Nusantara untuk memprotes kebijakan Raja Najed di Saudi.

Melihat begitu semangatnya dakwah Badan Tablig, Abdul Majid kemudian memperkenalkan organisasi nasional Nahdhatul Ulama (NU) yang memang secara tradisi ibadah sangat dekat dengan tradisi ibadah orang Sumbawa pada umumnya saat itu. Pembacaan Barzanji, Sarakalan, Yasinan, Gendang Tabuh Ratib Rabana Ode dan Rabana Rea, Ratib Munid yang datang dari Banjar dan lain sebagainya telah mendarah daging dalam amaliah ibadah orang Sumbawa.

Sultan Sumbawa sendiri memiliki garis keturunan yang langsung dari kesultanan Banjar di kalimantan Selatan tempat di mana tradisi awal Ratib berkembang. Maka tak butuh waktu dan perdebatan yang lama untuk menjelaskan kitab Qanun Asasi (prinsip dasar) dan juga kitab I'tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah yang disusun oleh KH Hasyim Asy'ari sebagai khittah NU. Karena paham aqidah Asy'ariyah al-Maturidiyah sendiri telah menjadi amaliah hari-hari orang Sumbawa. Hal tersebut dibuktikan dengan hafalan sifat dua puluh karya Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi yang sudah umum dikenal masyarakat Sumbawa dan diajarkan di tempat-tempat mengaji.

Adalah M. Sirajudin Syamsuddin yang pidatonya hingga kini terus menggelegar di seluruh penjuru bumi dan dinanti oleh tokoh-tokoh dunia. Bagi saya pribadi, ada aura wibawa yang sangat kuat dalam pidato M. Sirajudin Syamsuddin yang kita kenal dengan nama Prof. Din Syamsuddin sejak mulai membuka salam. Seriuh apa pun audiens, nada salam pembuka dalam pidato Din selalu membuat dunia berhenti dan menoleh, Din selalu mampu mencuri perhatian audiens sejak salam pembuka, dan terus dengan tutur yang sistematis, konten yang berisi, argumentasi dalil yang kuat disertai irama nada dan retorika pidatonya membuat pendengar terkunci tak beranjak dari kursinya.

Di umur 12 tahun, sebagai peserta termuda dalam lomba pidato tingkat kabupaten di Sumbawa, Din telah menjadi juara dan mengalahkan peserta lain yang bahkan ada yang sudah menjadi mahasiswa. Pidato Din kala itu sekelas dengan pidato Idham Kholid (tokoh NU) dan M. Natsir (Masyumi) yang terkenal sebagai macan panggung. Kemenangan Din sang kader cilik NU dalam lomba pidato tersebut membuat Sumbawa tercengang, dan inilah pemantik awal karir Din hingga menjadi ulama dunia sampai hari ini.

Adalah Khudori HS, Orang Madura yang menjadi Kepala Depag Sumbawa dan sekaligus Ketua Pimpinan Cabang NU Sumbawa yang menempa dan mengolah teknik dan retorika pidato Din. Ayah Din adalah seorang tokoh dan pengurus NU di Sumbawa. Din mulai dari Ibtadiyah hingga Tsanawiyah menimba pendidikan di sekolah NU di Sumbawa hingga menjadi ketua IPNU. Kembali ke masalah pidato, maka terkait gaya bahasa dan olah kata, Din di bawa oleh sang ayah untuk ditempa oleh seorang punggawa penyair dan sastrawan Sumbawa yaitu Dinullah Rayes yang kini juga dikenal sebagai sastrawan nasional. Dinullah Rayes diusianya yang tak lagi muda menikahi adik dari sahabatnya sesasama penyair yaitu KH Zawawi Imron.

Di umur yang masih begitu belia, Din sudah menjadi mubalig cilik yang berkeliling ke berbagai daerah di Sumbawa untuk memberikan ceramah. Din belia telah menjadi kebanggaan tokoh tokoh NU Sumbawa. Oleh seorang tokoh NU Sumbawa bernama Muchtar Anwar kemampuan piadato dan ceramah Din kembali digembleng. Muchtar Anwar menaikkan Din ke atas kuda untuk dijadikan fodium latihan pidato. Dan oleh Muchtar Anwar, Din dibawa keliling ke berbagai daerah di Sumbawa untuk keliling berceramah sebagai mubalig cilik. Bintang ketokohan seorang Din Syamsuddin mulai menyala dan dijadikan sebagai vote getter oleh partai NU Sumbawa untuk berkampanye meraup suara dalam pemilu.

Ada cerita menarik Din di masa kecil. Alkisah diadakan sebuah rapat rahasia para tokoh tokoh NU di rumah Ayahnya untuk membahas strategi politik Partai NU dalam Pemilu. Hasil rapat diketikkan dalam beberapa lembar kertas. Din kecil yang suka bermain layang layang tanpa dosa mengambil kertas tersebut sebagai bahan untuk membuat layang layang. Dengan riang gembira Din yang paling suka bermain dan mandi di Kali Tiu Baru memainkan layangannya. Betapa kaget sang Ayah karena tak lagi menemukan berkas rapat penting para tokoh NU di rumahnya. Dan diketahuilah bahwa ternyata kertas tersebut tak lagi berbentuk karena sudah dijadikan layangan oleh Din. Al hasil, sebagaimana orang Sumbawa pada umumnya, Din dilebak sang Ayah yang sedang asik bermain layangan di Tiu Baru. Namun Din yang karena prestasinya yang cemerlang sejak kecil tetaplah menjadi kebanggaan tokoh tokoh NU Sumbawa. Din selalu menjadi bintang dalam kampanye kampanye partai NU Sumbawa. Melihat Din yang terlalu muda dilibatkan dalam panggung politik, maka sang paman yang merupakan tokoh Muhammadiyah mengirimkan Din ke Pondok Modern Gontor, hingga Din bertemu Muhammadiyah dan mencapai puncak tertinggi karirnya dalam organisasi Muhammadiyah sebagai Ketua Pimpinan Pusat.

Maka lihatlah bagaimana investasi Muhammadiyah bagi NU Sumbawa dan demikian pula investasi NU bagi Muhammadiyah. Abdul Majid yang lahir dari rahim Muhammadiyah, anak asuh KH Agus Salim membawa NU untuk pertama kali ke Sumbawa, dan Din Syamsuddin yang lahir dari rahim NU membalas budinya dengan membawa nama besar Muhammadiyah semakin besar lagi ke pentas dunia.

Penulis adalah Sekretaris Bidang Akademik Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Dea Malela

https://www.nu.or.id/post/read/83094/nu-dan-muhammadiyah-di-sumbawa-sebuah-harmoni

Monday, November 13, 2017

Desa Tenggulun, Terorisme, dan BNPT (I)


Republika, rubrik resonansi, Selasa, 25 Juli 2017
Oleh : Ahmad Syafii Maarif
REPUBLIKA.CO.ID, Desa Tenggulun “adalah epicentrum (pusat utama) terorisme di Indonesia,” ujar Komjen Suhardi Alius, kepala BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) dalam sambutannya saat “Peresmian Penggunaan Sarana Ibadah Di Kompleks Masjid Baitul Muttaqien” di desa terpencil itu pada 21 Juli 2017. Dalam upacara peresmian itu, ada sekitar 800 undangan yang hadir, termasuk para mantan teroris di bawah pimpinan Ali Fauzi, ketua Yayasan Lingkar Perdamaian. Mereka semua memakai seragam batik.

Selain pimpinan BNPT, juga hadir Menlu Retno Lestari Priansari Marsudi, Moh Syafii; Ketua Pansus RUU Terorisme DPR, Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof DR Nasaruddin Umar; Irjenpol (Purn) Sidarto Danusubroto; anggota Wantimpres, Bupati Lamongan Fadeli, dan ratusan hadirin yang lain. Selama mengikuti upacara ini, saya yang juga diundang oleh BNPT untuk turut serta di dalamnya sempat merenung panjang mengapa desa Tenggulun ini telah melahirkan orang-orang hebat dalam arti negatif dan mengapa pula sekarang telah berubah menjadi pusat seruan perdamaian.

Di bulan Juli 2017 bagi saya ada dua tanggal yang perlu dicatat: tanggal 19 dan 21. Dua tanggal ini menjadi penting untuk belajar lebih dalam tentang fenomena radikalisme dan terorisme, baik pada tataran global mau pun pada tataran nasional. Pada 19 Juli di Hotel Phoenic Yogyakarta, BNPT bekerja sama dengan Pascasarjana UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) mengadakan seminar tentang upaya penanggulangan bahaya radikalisme dan terorisme. Peserta yang diundang umumnya berasal dari kalangan Muhammadiyah, dan saya sebagai salah seorang yang diminta untuk berbicara dalam pertemuan itu. Pembicara utama adalah dari pihak BNPT dan kalangan akademisi.

Tetapi ada pembicara lain yang memukau dari mantan kombatan yang pernah dihukum selama enam tahun karena terlibat dalam berbagai tindakan teror di Indonesia, kemudian sadar, dan kembali kepada pemahaman Islam yang benar sebagai rahmat bagi alam semesta. Sejak itu turut membantu BNPT untuk tugas nasionalnya dalam upaya membendung radikalisme dan terorisme melalui pendekatan lunak, persuasif, pendidikan, dan bantuan ekonomi. Mantan kombatan ini bernama Kurnia Widodo, S.T. (kelahiran Medan 1974), alumnus Teknik Kimia ITB, pakar perakit bom yang mahir membawakan dalil-dalil agama.

Penampilan Bung Kurnia tampak gagah, pakai kopiah hitam, dan punya rasa percaya diri yang tinggi, sebagaimana yang saya temui pada sosok mantan kombatan yang lain semisal Nasir Abas, Ali Imron, dan Ali Fauzi. Dua yang terakhir ini adalah bersaudara, berasal Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan. Desa Tenggulun ini sejak awal abad ke-21 telah menjadi sorotan dunia karena secara mendadak-sontak dikenal sebagai epicentrum (aslinya istilah geologi dari titik itu gempa bumi dan ledakan bawah tanah berasal) terorisme di Indonesia. Dengan kata lain, Desa Tenggulan, tempat kelahiran perancang bom Bali dan lain-lain tempat, pernah menjadi pusat dan otak terorisme yang mengerikan itu, sebagaimana dikatakan di atas. 

Bung Kurnia tidak hanya mahir dalam pembuatan bom, dia juga berbicara tentang landasan teologis dari perbuatan teror yang pernah dilakukannya sendiri sampai ditangkap aparat kepolisian. Dalam paparannya, alumnus ITB ini menelusuri faham salafisme ekstrem yang berakar pada teologi Wahabisme yang mengobarkan “perang” terhadap siapa pun yang tidak sependapat dengan penganut aliran ini. Teologi yang mengajarkan kebenaran tunggal inilah yang jadi pegangan pelaku teror di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Saya sudah agak lama mendengar pendapat ini, tetapi melalui mulut seorang Kurnia yang terlibat dalam eksekusi teologi kebenaran tunggal itu, masalahnya menjadi semakin terang benderang tentang betapa jauhnya ajaran Islam telah disalahtafsirkan dan disalahgunakan oleh faksi ekstrem ini untuk melakukan perbuatan biadabnya atas nama Tuhan. Paparan Bung Kurnia ini perlu disimak bukan saja oleh faksi-faksi radikal lainnya, baik di kalangan politisi mau pun kalangan mereka yang bergerak di bawah nama yang beragam, tetapi juga oleh arus besar Islam Indonesia: Muhammadiyah dan NU yang kabarnya sudah mulai disusupi oleh aliran ekstrem ini.

Jika benteng pertahanan Muhammadiyah dan NU sampai bobol dimasuki oleh teologi kebenaran tunggal ini, maka Indonesia sebagai bangsa Muslim terbesar di muka bumi akan berubah menjadi ladang pertumpahan darah, dan di ujungnya negeri ini akan masuk museum sejarah karena eksistensinya telah dibinasakan oleh anak-anaknya sendiri yang tergiur oleh  “misguided Arabism” (Arabisme yang kesasar jalan) dalam bentuk radikalisme dan terorisme itu. Tetapi, insya Allah, drama itu tidak akan berlaku, dengan syarat Muhammadiyah dan NU tetap istiqamah dalam khittah moderasinya masing-masing dan negara jangan sampai lengah untuk menangkal prilaku jahat ini.

http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/17/07/24/otlijo319-desa-tenggulun-terorisme-dan-bnpt-i

Wednesday, October 11, 2017

Buya Syafii Maarif: Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemuhammadiyahan

Buya Ahmad Syafii Maarif menyampaikan materi di acara Kamastu. Foto: Iwan

Qureta, 10 Oct 2017




Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat malam di pekan kedua Oktober 2017, penuh sesak. Ruangan utama di lantai dua yang biasa digunakan untuk acara pertemuan dan pengajian dipenuhi seribuan manusia.
Tak biasa, meskipun semua meja telah disusutkan dan dijejeri ratusan kursi, tetap menyisakan banyak peserta yang harus duduk lesehan. Berdesak dan berpeluh dalam kerumunan. Kebanyakan adalah anak-anak muda. Antusiasme ini sungguh di luar prediksi panitia.
Buya Ahmad Syafii Maarif yang menjadi daya pikat di malam itu turut mengapresiasi. “Perubahan dimulai oleh anak-anak muda ini. Jangan menghabiskan energi untuk hal-hal yang tidak berguna,” kata Buya di satu bagian Kajian Malam Sabtu (Kamastu) itu.
Pekan sebelumnya, panitia menghadirkan Mun’im Sirry, dan juga sempat membludak. “Saya melihat anak-anak muda ini adalah orang-orang baik. Tidak seperti kakak-kakak Anda, bupati, gubernur, itu yang jadi pasien KPK lebih 60%. Anda jangan putus asa. Siapkan diri sebaik-baiknya,” tuturnya.
Sisi lain, setelah acara berakhir di pukul 22.15, Buya Syafii sempat berseloroh ke panitia, “Lho, kok tadi ndak ada yang marah sama saya ya, malah pada gembira semua.”
Sejak awal Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) DIY selaku penyelenggara, menyebarkan pamflet kajian bersama Buya Syafii, ada beberapa suara sumbang. Bahkan mungkin sampai ke telinga Buya sendiri. Suara-suara sinis ini masih dalam rangkaian beruntun setelah di akhir September, Buya dihujat karena isu PKI.
Selama dua jam, Buya tampak bersemangat menyampaikan pokok-pokok pemikirannya tentang keislaman, keindonesiaan, dan kemuhammadiyahan. Sesuai dengan tema yang diminta. Bagi Buya, anak-anak muda merupakan harapan dan agen perubahan di masa depan. Dengan syarat, anak-anak muda ini harus mempersiapkan diri sedini mungkin.
Pada para peserta, berkali-kali Buya mengingatkan pentingnya menciptakan budaya membaca dan berpikir kritis. “Budaya membaca sangat penting. Jangan bertanya mbah Google saja,” katanya di satu bagian.
“Baca buku-buku yang dikarang oleh orang-orang yang berani berpikir. Bukan buku-buku yang mempertahankan status quo,” tandas Buya di bagian lain. “Anda harus mencari informasi secara critical,” tambahnya.
Bagian pertama, Buya Syafii mengulas tentang kegelisahannya terkait tema keislaman. Sosok yang sudah berusia 82 tahun ini menunjukkan data-data tentang masyarakat global.
Dari 7 milyar penduduk dunia, kata Buya, 1,6 milyar merupakan muslim. “Penduduk agama yang paling cepat pertumbuhannya adalah umat islam,” katanya. Termasuk wilayah Eropa dan Amerika, penduduk beragama muslim terus tumbuh. Bahkan, peristiwa WTC di AS (9/11/2001) justru memicu orang untuk mengenal Islam.
“Secara kuantitas atau nominal (umat Islam) tidak ada yang kita khawatirkan. Tetapi yang merisaukan saya terletak pada kualitas kita. Kualitas kemanusiaan kita. Umat Islam yang sekian jumlahnya itu terbelah-belah,” urai Buya. Perpecahan umat Islam menjadi masalah utama. Padahal, al-Qur’an di banyak ayat meminta umat Islam untuk bersatu dan mendamaikan jika ada yang berselisih.
Guru besar sejarah UNY ini lantas membuka lembaran kelam. “Perpecahan ini bukan hal baru. Sudah dimulai sekitar beberapa tahun setelah nabi wafat. Pusara nabi masih merah (tanahnya), umatnya sudah berkelahi. Yang berkelahi itu kader-kader inti nabi. Karya-karya orang Arab menceritakan itu semua,” jelasnya.
Pernyataan Buya Syafii benar adanya. Perang Jamal, Perang Shiffin itu melibatkan istri, menantu, sepupu, dan sahabat-sahabat dekat Nabi. Beberapa nama termasuk sahabat yang dijamin masuk surga. Pertumpahan darah antar elit Arab ini tidak perlu ditutup-tutupi sebagai pembelajaran.
“Pelajaran moral untuk memandang jauh kedepan. Bukan untuk merendahkan (para sahabat). Tapi timbul pertanyaan, kenapa orang yang terlibat langsung belajar kepada nabi, terlibat pertumpahan darah,” tanya Buya seraya menambahkan bahwa tiga di antara para khalifah utama (Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib) wafat karena dibunuh.
Pertanyaan Buya ini tentu memiliki banyak jawaban. Buya sendiri menjawab, “Karena mereka (sahabat) tidak dibimbing langsung oleh wahyu. Beda dengan nabi yang langsung ditegur nabi, bila keliru,” katanya. Sehingga, pesan-pesan yang terdapat dalam al-Qur’an tidak mutlak menjiwai kehidupan sehari-hari para sahabat sebagai manusia biasa. Al-Qur’an memerintahkan untuk saling bersaudara, tetapi mereka memilih untuk berperang.
Al-Qur’an, kata Buya, jelas menyatakan bahwa nabi diutus untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam. Wama arsalnaka illa rahmatan lil alamin. QS 21:107 menyebut, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”
Kata al-‘alamin, menurut Buya, itu bermakna bukan hanya alam manusia. “Tapi juga alam tumbuhan dan alam binatang. Harus merasakan rahmatnya (Islam),” katanya. Hari ini, rahmat dibatasi hanya untuk golongan tertentu secara sempit.
Keadaan di mana terjadi kesenjangan antara nilai-nilai utama al-Qur’an dengan kondisi umat Islam, khususnya di Timur Tengah menjadi problem utama. Di antara pesan inti al-Quran adalah tentang tauhid. Konsekuensi dari tauhid adalah menjunjung ketinggian Tuhan YME dan memposisikan selain Tuhan secara setara.
Mengangkat derajat manusia, menghapus pertumpahan darah dan mempersaudarakan semua golongan. Jika di kemudian hari, umat Islam jauh dari pesan itu, maka mereka telah menyimpang. Termasuk jika itu dilakukan oleh orang Arab yang sering disimbolkan sebagai wajah Islam.
Buya memberi istilah misguided Arabism atau Arabisme yang kesasar jalan dengan mengatasnamakan Tuhan. Mereka merupakan kalangan fanatik yang menghalalkan darah sesama muslim hanya karena berbeda pemahaman dan pandangan. ISIS, Boko Haram termasuk dalam kelompok yang sering menghabisi nyawa sesama muslim dengan sadis atas dalih ayat-ayat Allah.
Menurut al-Qur’an, kata Buya, tugas umat Islam itu sebagai wasit. “Disebut sebagai umatanwasatan dan syuhada’ alannas. Yaitu saksi atau wasit atas orang. Tapi sekarang kita yang diwasiti orang,” katanya. Sebagai saksi, harusnya umat Islam menjadi contoh teladan sebagai umat terbaik.
“Menurut saya, dunia Arab sekarang tidak bisa dipedomani. Kecuali mereka kembali ke jalan yang lurus. Kembali bersaudara, berhenti saling menghujat,” kata Buya sambil menyebut fakta betapa dunia Arab sedang berada di titik nadir. Kondisi ini harus diselamatkan. Bukan justru mengimpor dan mewariskan konflik di dunia Arab ini ke seluruh penjuru dunia muslim.
Yang lebih mengkhawatirkan Buya tentu saja terkait dengan kultur intelektual. “Sekarang teman-teman Arab yang pinter tidak bisa hidup di situ. Ada fakih, Khalid Abu Fadl, orang Kuwait yang terkenal sekali itu tinggal di Amerika. Dia tak bisa hidup di negerinya sendiri karena tidak aman dan tidak ada kebebasan,” kata Buya sambil menyebut beberapa nama lain. Iklim intelektual di dunia Arab sangat tertutup untuk pengembangan pengetahuan dan pemikiran.
Pemahaman keagamaan yang serba mengekang dan membatasi seperti itu, merupakan buah dari pemahaman agama yang parsial. “Orang tidak melihat ajaran Qur’an yang menyeluruh itu, yang holistik,” tandas Buya. Berdialog dengan Qur’an, menurutnya, harus bermula dari sikap jujur. Mengarahkan nalar untuk mengikuti Qur’an. Bukan memaksakan Qur’an mengikuti hawa nafsu dan apalagi bias ideologi sektarian.
Kondisi dunia Arab yang rapuh dan di ambang kehancuran, bagi Buya, merupakan fakta yang perlu dicermati. “Kita bisa menyalahkan Barat bahkan Rusia. Tapi saya punya thesis. Orang lain mengobok-obok kita karena kita memang rapuh dari dalam. Penjajah itu salah, iya. Tapi Malik bin Nabi menjawab, umat Islam itu memang pantas dijajah. Harusnya sebagai pembawa rahmat, tapi begini keadaannya,” katanya.
Bagian kedua, Buya Syafii berbicara tentang keindonesiaan. Dimulai dengan data kongkrit luas wilayah Indonesia hingga potensi kekayaan yang sedemikian rupa. Melihat sumber daya alam yang dikandung bumi Indonesia, bangsa ini harusnya menjadi sangat makmur. “Negeri ini bukan negeri miskin, meski sudah rusak. Tapi masih bisa menjadi adil, makmur,” katanya. Namun, setelah 70 tahun lebih merdeka, hal itu belum terwujud.
“Yang menguasai dunia ini hanya segelintir orang. Siapa yang menguasai tanah Indonesia? Dipegang oleh konglomerat sekitar 93 persen. 7 persen sisanya dikuasai oleh kita semua. Ini gila ndak? Gila sekali. Ada ketimpangan yang parah,” ujarnya. Bahkan, kata Buya, andai 10 persen kekayaan para konglomerat yang melebihi dana APBN itu disumbangkan untuk negara, maka sudah bisa menyelesaikan banyak persoalan dan memberi kemakmuran.
Menurut Buya, pidato Soekarno pada 1 Juni 1945 menyebut bahwa di dalam Indonesia merdeka tidak ada lagi kemiskinan. “Sekarang orang miskin itu banyak dan seagama dengan kita,” kata Buya. Orang miskin berpikirnya tidak stabil. Sehingga, jika problem utama terkait kemiskinan ini tidak diatasi, maka mereka tidak bisa diajak untuk melakukan hal-hal lainnya.
“Indonesia dengan jumlah 263 juta penduduk sekarang ini menjadi terbesar ke-4 di muka bumi. Pada waktu merdeka, belum sampai 63 juta. Pada 2030 itu menurut prediksi, dari pertumbuhan ekonomi menjadi nomor 4 atau 5, mengalahkan Rusia. Pertanyaan saya, pertumbuhan untuk siapa?” tanya Buya.
Tidak hanya punya potensi sumber daya alam, sumber daya manusia Indonesia juga melimpah. “Otak orang Indonesia itu oke. Yang rusak itu pemimpinnya, politisinya, partainya,” kata Buya. Oleh karena itu, Buya mengajak anak-anak muda yang telah siuman untuk ikut bertanggung jawab membenahi negeri. “Anak muda jadi politisi boleh, tapi ekonominya harus membaik terlebih dahulu. Sehingga tidak gampang tergoda,” katanya.
“Kenapa uang jinak pada mereka (minoritas pengusaha) tapi liar sama kita? Karena kita hanya marah-marah saja. Kita tidak mau belajar,” katanya. Sekedar mengutuk, apalagi mencaci maki tidak akan menyelesaikan ketimpangan.
Buya melihat perlunya pembinaan entrepreneurship di setiap kabupaten/kota. Ilmu untuk berwirausaha harus ditularkan ke sebanyak mungkin generasi muda. “Kita punya mentalitas peminta-minta. Bertahan karena disantuni oleh bos. Mentalitas sejak sebelum merdeka. Seperti kata sastrawan Umar Kayam,” kata Buya.
Bagian ketiga, Buya Syafii menawarkan ide-ide segar terkait dengan Muhammadiyah, organisasi yang pernah dipimpinnya selama 7 tahun. Muhammadiyah yang telah memasuki usia abad kedua, menurut Buya, perlu banyak berbenah. Organisasi dengan jumlah dan jaringan amal usaha terbesar di seluruh dunia ini perlu memikirkan peran-peran yang lebih besar.
“Sejak Muhammadiyah berdiri, ia sebagai gerakan pembantu bangsa. Sudah 1 abad lebih menjadi pembantu yang baik sekali. Belum tampak tanda-tanda akan berhenti,” kata Buya. Muhammadiyah sejak awal memang mengabdikan diri dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial.
Namun, di mata Buya, sekedar menjadi pembantu tidak cukup. Negara tidak semakin membaik. Justru permasalahan bangsa semakin bertambah.
“Maka di abad kedua, Muhammadiyah tidak hanya jadi pembantu, tapi juga jadi penentu. Penentu bisa macam-macam,” kata Buya seraya menyebut contoh semisal peran Jihad Konstitusi, menjadi menteri, masuk dalam pemerintahan, hingga mendidik dan atau menyumbangkan kader-kader terbaiknya untuk mengurus negara. Sehingga muncul orang-orang negarawan, yang berpikir jauh ke depan.
“Negarawan itu larut untuk kepentingan bangsa dan negara yang lebih besar. Bukan politisi, yang mikir diri sendiri, nambah istri, pemilu, pilkada. Negarawan mikir bagaimana Indonesia bertahan hingga sehari sebelum kiamat,” katanya. Jika berperan sebagai penentu, maka harus mempunyai karakter dan integritas.
Buya juga mengajak anak-anak muda untuk menggelorakan Muhammadiyah sebagai gerakan ilmu. Hal itu telah disuarakan Buya sejak tahun 1995 ketika menjadi ketua umum PP Muhammadiyah. Orang Muhammadiyah itu kebanyakan berlatar belakang aktivis. “Tapi jika tidak punya ilmu, jadi tidak punya acuan,” katanya. Jiwa aktivisme perlu dipadukan dengan jiwa intelektualisme. Sesuai dengan jargon Muhammadiyah sebagai gerakan ilmu amaliyah dan amal ilmiyah.
“Harus dipersiapkan SDM dengan kualitas tinggi. Unggul dalam semua bidang. Bukan hanya (menjadi) pemikir di menara gading. Tapi pemikir yang petarung. Untuk menjadi petarung, harus serius dan butuh usaha betul,” tegas Buya Syafii yang kini menjadi ketua tim pengembangan Madrasah Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta.
Di bagian lain, Buya mengingatkan pentingnya bagi anak-anak muda untuk berpikir dan bertindak beyond sektarianisme sempit. “Kita perlu merumuskan Islam pasca NU, pasca Muhammadiyah. Harus mengembalikan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Rahmatan lil alamin sebagai payung besar. Semua gerakan Islam harus ke sini arahnya,” tutur Buya. Sikap fanatik buta pada golongan tertentu justru akan mempersempit Islam yang sangat menjunjung ukhuwah dalam arti sangat luas.
Buya Syafii juga sempat mengingatkan pentingya memahami Kiai Dahlan dalam hal memegang prinsip serta dalam hal berpikir kritis dan terbuka. “Kiai Dahlan tidak mendapat pendidikan (modern) Barat. Belajar dari pondok ke pondok, lalu ke Makkah. Tapi mengerti zaman. Dia menentang arus dan dituduh macam-macam. Memang dibutuhkan orang-orang yang berani melawan arus. Tapi tidak asal,” katanya.
Beberapa pikiran maju Kiai Dahlan yang berani melawan arus dan melampaui zaman, tetapi dibangun atas dasar argumentasi yang kokoh, dirinci oleh Buya. Semisal mencetuskan prinsip demokrasi dalam Muhammadiyah. “Anggaran Dasar Muhammadiyah pasal 6, tahun 1912, pemimpin dipilih dengan suara terbanyak,” kata Buya.
Terakhir, Buya mengingatkan supaya anak-anak muda tidak takut untuk berbeda pendapat yang dibangun atas dasar yang kokoh. “Berbeda silahkan. Tapi beri argumen. Jika tanpa argumen, maka Anda hanya menghinakan martabat Anda sendiri,” tegas Buya. Nasehat ini tentu sangat penting di tengah situasi kecenderungan untuk penyeragaman dan penghujatan terhadap yang berbeda. Belum lagi kecenderungan untuk menolak sesuatu yang tidak dari golongan sendiri.
Pesan Buya lainnya, “Kalau berpikir perlu radikal. Kalau bertindak harus bijak.” Kebebasan berpikir dalam batasan-batasan yang jelas dan bertanggung jawab sangat perlu dikembangkan. “Dalam Islam orang boleh berpikir sangat jauh, selama dalam batas iman,” ujar Buya Syafii Maarif.
https://www.qureta.com/post/buya-syafii-maarif-keislaman-keindonesiaan-dan-kemuhammadiyahan

Muhammadiyah di Mata Nakamura



Saturday, October 7, 2017

Berita dan Foto Peluncuran Buku ‘Bulan Sabit Terbit di Atas Pohon Beringin’














Beberapa Berita terkait Peluncuran Buku Mitsuo Nakamura, Bulan Sabit Terbit Di Atas Pohon Beringin

Haedar Ajak Pengurus Pahami Betul Muhammadiyah
http://harianamanah.com/m/berita-haedar-ajak-pengurus-pahami-betul-muhammadiyah

Magnum Opus Kotagede
https://www.wartapilihan.com/magnum-opus-kotagede/

Mitsuo Nakamura, 40 Tahun Meneliti Muhammadiyah
http://www.koran-jakarta.com/mitsuo-nakamura--40-tahun-meneliti-muhammadiyah/

Prof Nakamura : Muhammadiyah Harus Tetap Memegang Posisi Sebagai ‘Sang Pencerah’
http://daulat.co/prof-nakamura-muhammadiyah-harus-tetap-memegang-posisi-sebagai-sang-pencerah/

Antropolog Asal Jepang Ini Habiskan Waktu Bertahun-tahun Pelajari Muhammadiyah
http://www.tribunnews.com/nasional/2017/10/06/antropolog-asal-jepang-ini-habiskan-waktu-bertahun-tahun-pelajari-muhammadiyah

Mitsuo Nakamura: Muhammadiyah Harus Komitmen Sebagai Sang Pencerah
http://m.muhammadiyah.or.id/id/news-12133-detail-mitsuo-nakamura-muhammadiyah-harus-komitmen-sebagai-sang-pencerah.html

Mitsuo Nakamura: Muhammadiyah Perlu Menjaga Intelektualitasnya
http://menara62.com/2017/10/06/mitsuo-nakamura-muhammadiyah-perlu-menjaga-intelektualitasnya/

Ini Pesan Mitsuo Nakamura pada Muhammadiyah setelah Berumur 100 Tahun
https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2017/10/06/125054/ini-pesan-mitsuo-nakamura-pada-muhammadiyah-setelah-berumur-100-tahun.html

Buku Mitsuo Nakamura tentang Muhammadiyah Karya Monumental Penyempurnaan Buku Tahun 1983
https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2017/10/06/125059/buku-mitsuo-nakamura-tentang-muhammadiyah-karya-monumental-penyempurnaan-buku-tahun-1983.html

Potret Muhammadiyah dalam Oretan Mitsuo Nakamura
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/10/06/oxee7g396-potret-muhammadiyah-dalam-oretan-mitsuo-nakamura

Muhammadiyah Diminta Pertahankan Sikap Pemikir Independen
http://www.skanaa.com/en/news/detail/muhammadiyah-diminta-pertahankan-sikap-pemikir-independen-2/republika-online

Peluncuran Buku Mitsuo Nakamura
https://kompas.id/baca/lain-lain/2017/10/07/peluncuran-buku-mitsuo-nakamura/

https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20171007/281522226299467

Warga Muhammadiyah Perlu Kaji Buku “Bulan Sabit Terbit Di Atas Pohon Beringin”
http://news.tarjih.id/news/Warga-Muhammadiyah-Perlu-Kaji-Buku-“Bulan-Sabit-Terbit-di-Atas-Pohon-Beringin”/

Mitsuo Nakamura: Muhammadiyah Harus Komitmen Sebagai Sang Pencerah
http://blog.pcimmarfakhruddin.org/2017/10/06/mitsuo-nakamura-muhammadiyah-harus-komitmen-sebagai-sang-pencerah/

Muhammadiyah Dibahas Lagi, Nakamura: Arah Pengembangan Jelas dan Terukur
https://www.ngopibareng.id/timeline/muhammadiyah-dibahas-lagi-nakamura-arah-pengembangan-jelas-dan-terukur-1212585

PP Muhammdiyah Terbitkan Buku 'Bulan Sabit Terbit di Atas Pohon Beringin'
https://m.kaskus.co.id/lastpost/59d7525bd44f9f010d8b45a0

Muhammadiyah Luncurkan Kembali Karya Mitsuo Nakamura
https://alif.id/read/redaksi/muhammadiyah-luncurkan-kembali-karya-mitsuo-nakamura-b204853p/

Asimilasi Nilai-Nilai Kultural Muhammadiyah
https://www.wartapilihan.com/asimilasi-nilai-nilai-kultural-muhammadiyah/

Wednesday, October 4, 2017

Launching "Bulan Sabit Terbit di Atas Pohon Beringin"



Buya Ahmad Syafii Maarif dan PKI

Koran Sindo, Rabu, 4 Oktober 2017, h. 11


Ahmad Najib Burhani*

Beberapa hari yang lalu penulis sebagai admin dari facebook-fanpage Muhammadiyah Studies memposting kutipan pernyataan Buya Ahmad Syafii Maarif yang berbunyi, “PKI yang sudah masuk kuburan sejarah jangan dibongkar lagi untuk tujuan politik kekuasaan. Sungguh tidak elok, sungguh tidak mendidik. Generasi baru Indonesia jangan lagi diracuni oleh cara-cara berpolitik yang tidak beradab”. Kutipan itu berasal dari tulisan Buya sendiri di Republika, 18 Juli 2017. Postingan itu dibaca oleh lebih dari 140 ribu pengguna facebook dan di-share oleh lebih dari 710 orang. Follower dari fanpage ini sebetulnya tak terlalu banyak, sekitar 23 ribu, namun status itu mendapat respon beberapa kali lipat dari jumlah pengikut fanpage itu sendiri. Sebelumnya, meme yang sama telah dibagi lewat twitter oleh akun @biografly dan juga viral atau menjadi trending topic.

Kutipan itu sebetulnya adalah sebuah nasehat dari orang tua dan guru bangsa yang pernah hidup di zaman penjajah, Orde Lama, Orde Baru, dan juga Era Reformasi. Sebagai simpatisan berat Masyumi, Buya adalah orang pernah mengalami hidup dalam sengitnya pertarungan politik dan sosial antara PKI (Partai Komunis Indonesia) dan Partai-partai Islam. Karena itu ia juga pernah menjadi penentang keras PKI dan bahkan menyebut masa lalunya sebagai “fundamentalis” dan bagian dari kelompok “garis keras” (Maarif 2009). Hal yang sangat mengejutkan dari postingan tersebut adalah berbagai komentar dan respon yang muncul.

Ada yang mengecam Buya dengan beragam istilah yang sangat kasar, ada yang mengutuk dan melaknat, dan ada juga yang menuntut kepada Muhammadiyah untuk bersikap terhadap Buya. Beberapa diantaranya perlu disebutkan di sini untuk melihat seperti apa ekspresi orang terhadap tokoh sekaliber Buya yang memberikan nasehat tentang sejarah Indonesia. Mulai dari sebutan “orang tua gila”, “pembela penista”, “si tua”, “sudah bau tanah”, “kecebong”, “koplaxx”, “antek”, “tai kucing”, “semakin tua semakin sesat”, “si pikun utek liberal”, “kerak neraka”, “cari makan”, “dasar orang tua… tobat orang tua”, “semakin tua semakin kehilangan akal”, “agen PKI kedok ulama”, “intelek kok guoblok”, “ulama syu’”, “berbicaranya lantang, tapi telinganya tuli, pandanganya buta”, dan juga sebutan yang sudah sering dialamatkan kepadanya, yakni “liberal”.

Sementara mereka yang menuntut agar Muhammadiyah menghukum Buya menyebutkan bahwa Buya adalah “tokoh Muhammadiyah paling mengecewakan”, “mamalukan Muhammadiyah”, dan orang yang tidak bisa menjaga diri, terutama terkait dengan “mulutnya tidak beradab”. Permintaan kepada pimpinan Muhammadiyah juga berupa peninjauan “keberadaan Syafii Maarif di lingkaran para tokoh muhammadiyah” dengan alawan bahwa opininya “lebih sering menyesatkan umat”. Tuntutan pribadi yang agak ringan adalah meminta agar Buya bertobat, atau meminta orang lain agar tak lagi memanggilnya buya karena tak pantas lagi dengan sebutan itu, atau meminta Buya sekolah lagi biar pintar. Ada juga yang berdoa agar Buya mendapat hidayah dan dijauhkan dari virus pluralisme atau berdoa agar Buya husnul khatimah.

Tentu saja ada yang mencoba mendudukkan persoalan dengan melihat dan membaca secara seksama kalimat-kalimat yang disampaikan Buya itu dan meminta jangan saling kecam serta menjaga tatakrama terhadap orang tua. Dukungan, pembelaan, pujian dan doa agar Buya diberi kesehatan dan panjang umur juga bisa ditemukan dalam berbagai komentar.

Berkaitan dengan fanpage itu sendiri, ada sejumlah follower (sekitar 30 orang) yang lantas keluar atau memblokir fanpage tersebut. Ada yang mengancam admin agar tidak bertindak macam-macam. Ada yang menuduhnya liberal, bagian dari JIMM, corong Buya atau “antek syafii”, dan bahkan ada menganggap fanpage itu sebagai infiltrasi dari NU (Nahdlatul Ulama) untuk memecah Muhammadiyah. Namun tampaknya jumlah yang keluar dan memblokir itu sebetulnya jauh lebih kecil daripada jumlah yang menjadi follower baru. Ini bisa dilihat dari jumlah follower yang mengalami kenaikan cukup banyak dibandingkan dengan sebelum adanya posting itu. Mengambil sikap atau keberpihakan dalam kasus-kasus yang membelah masyarakat itu memang bisa menaikkan jumlah followers atau likers. Ini yang membuat sebagian aktivis sosial media menikmati sikapnya yang sektarian.

Kasus seperti ini sudah kesekian kali terjadi. Sebelumnya kontroversi yang heboh terjadi ketika memasang foto Joko Widodo mengimami sholat warga Muhammadiyah. Kemudian, kontroversi kembali ramai ketika posting “Muhammadiyah garis lucu” keluar. Bagi Buya sendiri, ini tentu bukan pertama kalinya mendapat bully sedemikian rupa. Ketika Buya menulis beberapa artikel terkait Ahok (Basuki Tjahaja Purnama), ia juga mendapat bully dari banyak orang, Muhammadiyah dan non-Muhammadiyah.

Apa yang bisa dipelajari dari fenomena ini? Pertama, mereka yang berkomentar jahat terhadap Buya itu kemungkinan besar tidak membaca secara utuh tiga tulisan pendeknya tentang PKI di Republika yang berjudul “Isu kebangkitan PKI jadi ritual tahunan” (26/9), “PKI dan kuburan sejarah (1)” (11/7), dan “PKI dan kuburan sejarah (2)” (18/7). Jika mereka membaca dan mencoba memahami, maka akan didapati kesimpulan yang sama sekali berbalik dari tuduhan bahwa Buya sedang membela PKI. Di beberapa bagian dari artikel itu Buya dengan jelas menunjukkan kekejaman PKI dan watak komunisme yang anti-demokrasi dan antikemanusiaan. Buya menegaskan bahwa “rezim komunis tidak pernah ramah kepada kemanusiaan”.

Kedua, mereka yang mem-bully Buya itu hanya melihat kalimat atau kutipan yang dipakai sebagai meme. Kalimat yang merupakan pesan akhir Buya di artikel “PKI dan kuburan sejarah (2)” itu sebetulnya juga memberi keterangan tentang penggunaan isu PKI untuk “tujuan politik kekuasaan”. Sayangnya, kata-kata itu juga tidak diperhatikan. Seandainya yang dikutip dan dibuat meme adalah kalimat “komunisme itu anti-demokrasi dan antikemanusiaan” dan “rezim komunis tidak pernah ramah kepada kemanusiaan”, maka bisa saja ini dipakai sebagi dukungan bagi kelompok yang saat ini mengungkit-ungkit isu PKI untuk tujuan politik. Namun mereka yang sudah benci dan antipati terhadap Buya bisa jadi tak mau melihat itu juga. Mereka sudah benti dan memandang negatif terhadap Buya, apapun yang ia katakan. Ini terlihat dari komentar yang selalu mengaitkan Buya dengan sikapnya terhadap isu Ahok beberapa waktu lalu.

Ketiga, seperti ditulis Merlyna Lim (2017), apa yang dialami Buya adalah contoh dari post-truth politics, dimana kebenaran itu bukan sesuatu yang pertama dan utama. Meski PKI itu sudah tidak ada, namun ketika ia dijual lagi dengan kemasan baru untuk menakut-nakuti rakyat dan dipromosikan sedemikian rupa, maka ia akan terjual juga. Branding baru tentang bahaya PKI dibuat dan di-viralkan. Orang jujur seperti Buya yang dengan baik-baik memberi nasehat lantas di-bully. Sosial media yang pada awalnya disanjung sebagai arena freedom of expression ternyata memiliki efek negatif seperti menurunnya kualitas informasi dan naiknya kebencian terhadap mereka yang berbeda. Upaya tabayyun (merefleksikan dan konfirmasi) terhadap perbedaan dan pertentangan juga sering hilang karena di dunia orang lebih sering bergerombol dengan yang seide (algorithmic enclaves) dan mematikan atau memutus hubungan dengan mereka yang berbeda pandangan.
-oo0oo-


*Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah; Peneliti LIPI

http://koran-sindo.com/page/news/2017-10-04/1/0/Buya_Ahmad_Syafii_Maarif_dan_PKI

Saturday, September 23, 2017

Bulan Sabit Terbit di Atas Pohon Beringin

Bulan Sabit Terbit di Atas Pohon Beringin karya monumental Prof. Mitsuo Nakamura. Edisi yg diperluas akan diluncurkan di UMY, 30 Sep '17. Silahkan hadir! Menjadi saksi penerbitan baru karya serius ttg Muhamadiyah.