Sunday, April 18, 2010

Pergumulan Tokoh Muhammadiyah Menuju Sufi: Catatan Pemikiran

by Abdurrahim Nur

ISBN9793429003 / 9789793429007 / 979-3429-00-3
PublisherHikmah Press
CountryIndonesia
Languagein
EditionHardcover

Muhammadiyah Jatim Luncurkan Buku Pemikiran Ustadz Abdurrahim Nur
Surabaya, Pelita

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim, untuk yang kedua kalinya meluncurkan sebuah buku yang berjudul "Pergumulan Tokoh Muhammadiyah Menuju Sufi, Catatan Pemikiran Abdurrahim Nur di Surabaya" di Surabaya kemarin.

Peluncuran buku tersebut ditandai dengan diskusi yang menampilkan Pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Yusuf Hasyim yang lebih dikenal dengan Pak Ud dan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim yang juga Rektor Unmuh Sidoarjo, Prof Dr Syafiq Mughni.

Semula panitia menjadwalkan untuk berdialog dengan Ketua MPR RI, Prof Dr HM Amien Rais MA namun Ketua Umum DPP PAN itu berhalangan hadir, sedangkan sambutan dari Muhammadiyah disampaikan oleh Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim, Prof Dr Fasich Apt.

Abdurrahim Nur yang dikenal luas dengan panggilan Ustadz Abdurrahim merupakan mantan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim 1987 - 2000, mantan Ketua DPW PAN Jatim 1998 - 1999 dan sekarang menjadi pengasuh Yayasan Nurul Azhar.

Syafiq dalam ceramahnya mengulas pandangan warga Muhammadiyah terhadap tasawuf, "Orang Muhammadiyah melihat tasawuf sebagai sesuatu yang asing, mereka apriori terhadap tasawuf termasuk ketika melihat buku tentang Ustadz Abdurrahim ini," katanya.

Padahal, ujar Syafiq, tasawuf itu tidak bisa lepas dari ajaran Islam, seper ti halnya ketika nabi sedang berdoa merupakan tasawuf. "Kehiduapan yang seimbang itu adalah seperti yang ditunjukkan Nabi Muhammad," katanya.

Pada waktu yang sama, dia menganalisa bahwa masyarakat umum maupun warga Muhammadiyah pada khususnya bisa dikategorikan dengan tiga kelompok.

Kelompok pertama, ujar Syafiq, agama yang "establish" yang dipengaruhi oleh pemikiran Timur Tengah. "Mereka Al Qur'annya jelas, hadistnya jelas, tokohnya jelas, mereka didominasi fiqih," katanya.

"Kelompok kedua adalah agama sebagai etika, kelompok ini berpandangan orang menjadi tidak penting, apakah dia memiliki aqidah atau tidak, yang penting seseorang itu bersih, tidak korup, menjaga amanah dan jujur. Mereka lebih dipengaruhi pemikiran barat," katanya.

Sedangan yang ketiga, ujar dia, menjadikan Islam sebagai "spiritual religion", yang penting dekat dengan Allah SWT, tidak peduli apapun yang terjadi di masyarakat.

"Kelompok ketiga ini lebih didominasi kelompok profesional dengan kondisi ekonomi yang mapan," katanya.

Sementara itu Pak Ud mengatakan upaya peluncuran buku di lingkungan Muhammadiyah merupakan tradisi baik yang perlu terus dijaga. "Senin (12/5) kami diundang Muhammadiyah untuk peluncuran pusat studi di Yogyakarta dan saya akan hadir," katanya.

Dia mengatakan apabila masyarakat Islam tidak mempunyai pusat studi maka jangan heran bila 50 tahun kedepan kalau seseorang ingin mengetahui tentang Keislaman harus belajar di luar negeri, seperti halnya sarjana Jawa yang ingin mempelajari Jawa Kawi yang harus ke Utrecht, Belanda. (dik/ant)

Retrieved from: http://www.hupelita.com/baca.php?id=12781

No comments:

Post a Comment