Saturday, March 30, 2019
"Muhammadiyah", Oxford Islamic Studies Online
Burhani, Ahmad Najib . "Muhammadiyah." In Oxford Islamic Studies Online. Oxford Islamic Studies Online, http://www.oxfordislamicstudies.com/article/opr/t343/e0296 (accessed Mar 28, 2019).
Monday, March 4, 2019
Kelompok Minoritas sebagai Kategori Mustadh’afin
Sunday, February 17, 2019
Beragama yang Mencerahkan
Ahmad Najib Burhani*
Dalam naskah yang diajukan ke ISEAS-Yusof Ishak Institute, Hafiz Al Azad (2018) membuat judul yang sangat provokatif untuk menggambarkan media sosial dan dunia maya lainnya, yaitu cyber jahiliyyah. Istilah itu mengacu kepada berbagai bentuk sektarianisme (algorithmic enclaves) dan carut-marut dunia maya yang seakan belum menerima pencerahan dengan kehadiran seorang Nabi.
Masyarakat Jahiliyah Arab pra-Islam sering digambarkan sebagai masyarakat penyembah berhala, membunuh anak-anak, memperbudak dan memperdagangkan manusia, dan juga menjadikan perempuan sekadar sebagai properti. Dunia maya saat ini juga digambarkan sebagai tempat yang uncivilized atau belum memiliki peradaban dan menunggu kehadiran "nabi" atau "filosof" yang bisa memberi pedoman moral.
Ketakberadaban dunia cyber itu semakin terasa dalam suasana politik dimana masyarakat mengalami polarisasi yang keras. Sikap ‘ashabiyyah atau sektarianisme itu muncul dalam kecenderungan untuk hanya memiliki kawan dan informasi sepihak. Kita kadang bahkan memutus perkawanan, meng-“unfriend”, dengan mereka yang berseberangan pandangan. Dunia digital menjadi digital fortresses (benteng) yang membentengi kita dari informasi yang berbeda.
Sedihnya, alih-alih menjadi “sang pencerah”, agama saat ini justru menjadi kompor bagi panasnya suasana politik, terutama di dunia maya. Politik identitas dengan menggunakan agama menjadi warna yang kental dalam kontestasi pemilihan presiden dan membelah masyarakat menjadi dua kubu yang terus berhadapan dan saling menghujat. Inilah yang mendasari pemilihan tema Tanwir Muhammadiyah di Bengkulu 15-17 Februari 2019, yaitu “beragama yang mencerahkan”.
Spiritualisasi, Komodifikasi, dan Politisasi
Abdul Mu’ti, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, melihat tiga model keberagamaan yang saat ini menggejala di masyarakat, yaitu: spiritualisasi, komodifikasi, dan politisasi.
Maksud spiritualisasi di sini mengacu kepada kecenderungan pada orientasi ritual dan spiritual, serta lupa bahwa misi utama dari perintah keagamaan itu adalah pengejawantahannya dalam urusan dunia dan kemanusiaan. Pada pengajian di kantor Muhammadiyah Menteng (8/2), Haedar Nashir, misalnya, mencontohkan tentang fenomena masyarakat yang memiliki semangat beribadah yang begitu luar biasa. Bahkan berapa pimpinan daerah, menurutnya, mewajibkan untuk sholat berjamaah. Namun demikian, dalam kehidupan sosial mereka ini tidak mencerahkan.
Sealur dengan kritik terhadap spiritualisasi di atas, Hajriyanto Thohari (2015) juga melihat bahwa keberagamaan kita itu cenderung inward-looking yang membuat masyarakat kita, meski majemuk, tapi segmented (terbelah) dan segregated (terkotak-kotak). Dengan mengutip ungkapan yang cukup terkenal, Hajriyanto menyebutkan bahwa mestinya menjadi religious itu menjadi interreligious (to be religious today is to be interreligious). “Bahwa tanpa memahami iman tetangga, orang atau komunitas beragama yang hidup dalam masyarakat yang majemuk bahkan tidak dapat memahami dirinya sendiri” katanya. Namun pada kenyataannya tidak demikian.
Selain kecenderungan negatif terkait spiritualisasi, komidifakasi agama juga menjadi sesuatu yang trendi saat ini. Istilah sederhananya, agama menjadi “ladang bisnis”. Ini bisa dilihat dengan maraknya tour dan travel yang menawarkan Umrah dan Haji atau ziarah ke tempat-tempat suci, penjualan berbagai jenis jilbab dan fashion show Muslim, semaraknya labelisasi halal dan sertifikasi syariah, digandrunginya film dan musik-musik religi, serta berkembangnya kluster perumahan dan pekuburan berdasarkan agama tertentu. Tentu ini tak sepenuhnya negatif, tapi seringkali karena ghirah (semangat) beragama yang tinggi di masyarakat, ada perusahaan yang memanfaatkannya dengan menipu dan menelantarkan para jemaah umrah.
Gejala keberagamaan lain yang marak di masyarakat adalah politisasi agama, dalam arti menjadikan agama semata-mata sebagai tunggangan untuk meraih ambisi politik. Amin Abdullah menggambarkan ini dengan menyebut agama sebagai alat untuk antem-anteman. Alih-alih saling menasehati, para dai dan penceramah sibuk saling melempar hoax, fitnah, dan kebencian. Kubu yang satu menuduh kelompok lain tak bisa wudlu dan sholat, sementara kubu lainnya membalas dengan menyebut lawannya sebagai anti-Islam.
Tanwir Muhammadiyah
Di tengah polarisasi masyarakat dan ancaman perpecahan bangsa, Muhammadiyah mengajak bangsa Indonesia, khususnya warga Muhammadiyah, untuk kembali “beragama yang mencerahkan”. Ini tidak lain dari upaya untuk menegakkan kembali misi Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam). Semangat dari Tanwir, yang makna harfiyahnya adalah “pencerahan”, adalah membangkitkan kembali elan vital dari agama dan mengubah citra negatifnya yang belakangan ini berkembang di sebagian masyarakat. Unsur pembebasan, bukan unsur pembelenggu, dari agama yang hendak terus ditampilkan.
Sebagai penutup, dalam bukunya Progressive Muslims: On Justice, Gender, dan Pluralism (2003), Omid Safi menerjemahkan Progresivisme atau Berkemajuan itu dengan mengacu kepada beberapa sikap, yaitu: 1) beyond apologetics (melampaui sikap apologetik), 2) no more “pamphlet Islam” (tak lagi menjadikan Islam sebagai lipstick), 3) Islam beyond “tolerance” (sudah melewati tahapan toleransi), dan 4) Islam beyond “religion of peace” (Islam sebagai agama yang damai itu sudah mendarah-daging). Dengan semangat tanwir dan dengan slogannya sebagai Islam Berkemajuan, semoga karakter-karakter yang disebut Safi itu bisa betul-betul dibangkitkan di Muhammadiyah dan gerakan ini menjadi pelopor bagi keberagamaan yang mencerahkan.
-oo0oo-
Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah; Peneliti Senior LIPI
Sunday, February 10, 2019
Wartawan Itu adalah Ketua Umum Muhammadiyah
Oleh: Deni Al Asy'ari
Haedar Nashir, adalah sosok yang tidak asing bagi Republik ini, terutama di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah. Beliau adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2015-2020 menggantikan Prof. Din Syamsuddin yang menjabat Ketua Umum PP Muhammadiyah sebelumnya.
Sebelum beliau menduduki jabatan sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sosok ideolog Muhammadiyah ini, mengawali karir dan perjalanan hidupnya dengan mengambil pilihan profesi sebagai wartawan Majalah Suara Muhammadiyah.
Profesi sebagai wartawan, beliau jalani sejak menempuh pendidikan tinggi S1 dan S2 di Yogyakarta. Bahkan, walaupun kini beliau sudah berada pada puncak kepemimpinan di organisasi Muhammadiyah, profesi sebagai seorang penulis, tidak begitu saja hilang dari dalam tradisi kehidupan Haedar.
Banyak karya-karya tulis Haedar yang terus hadir dalam berbagai bentuk seperti buku, artikel, kolom dan lainnya, yang kini telah menjadi konsumsi publik. Bahkan hingga saat ini, Haedar masih menekuni dunia jurnalis dengan menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Suara Muhammadiyah.
_______________________________
Dua gambar ini, menunjukkan 2 aktivitas orang yang sama dalam waktu dan status yang berbeda. Gambar pertama, merupakan bukti saat Haedar Nashir berprofesi sebagai seorang wartawan majalah Suara Muhammadiyah, ketika melakukan wawancara dengan seorang peneliti asal Jepang, Mitsuo Nakamura di Gedung PP Muhammadiyah Yogyakarta.
Sementara foto Kedua adalah, saat Haedar Nashir menjadi keynote speak selaku ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat peluncuran buku Karya Mitsuo Nakamura di Gedung PP Muhammadiyah Jakarta.
Selamat Milad 104 Th Majalah Suara Muhammadiyah " Inspirasi Literasi Islam Berkemajuan"
Selamat Hari Pers Nasional 9 Februari 2019
Sunday, January 27, 2019
Muhammadiyah in the Political Year
![]() |
| Ahmad Najib Burhani, Senior Researcher of LIPI |
Since the 1998 reform era, Muhammadiyah has always tried to maintain neutrality in politics.
During the leadership of Ahmad Syafii Maarif (1998-2005), with his slogan “keeping the same distance from all political parties”, it could be said that Muhammadiyah applied a policy of “passive neutrality”.
In the period of Din Syamsuddin’s leadership (2005-2015), Muhammadiyah changed from passive neutrality to active neutrality with the slogan “maintaining the same closeness with all political parties”. What is the politics of Muhammadiyah under the leadership of Haedar Nashir (2015-2020), especially in facing the presidential election on April 17, 2019?
Different from the previous periods, now there is no specific slogan to form Muhammadiyah’s relations with politics. The absence of certain slogans can have various interpretations. It is possible that Muhammadiyah chooses to be apolitical and it could also be a manifestation of confusion amid the acute political polarization, including within Muhammadiyah itself.
As Haedar Nashir has repeatedly emphasized that this time Muhammadiyah has chosen to become a “bridge” in dichotomous national politics. “If all mass organizations and Islamic institutions are included in the political sphere, there will be politicization in Indonesia,” he said.
In choosing to act as a bridge in national politics, which is often divided between kampret (microbat) and kecebong (tadpole) or “Islamists” and “Pancasila”, and bridging unbalanced relations between the minority and the majority – which frequently have to take steep and winding roads – an organization or a person must be prepared to get nothing in return and even be maligned by the two competing camps.
Defective candidates
Muhammadiyah realizes that when all sanity is lost in politics, there needs to be a group that wa tawashou bil haqqi wa tawashou bis shobr (exhorts others to practice truth and patience).
Each camp today seems to be blind to the weaknesses and shortcomings of its candidate. They try, borrowing a term from Avishai Margalit in his book, The Ethics of Memory (2000), to “forget” and “forgive” any wrongs or injustices perpetrated by its candidate.
One camp forgets all allegations of human rights (HAM) abuse leveled against its presidential candidate and presents its vice-presidential candidate with an aura of kesantrian (related to Islamic boarding school students) or even keulamaan (related to clerics). Meanwhile, the other side must tolerate “a bit of intolerance” by appointing several people with questionable track records concerning intolerance as a core part of their candidacy to fortify themselves against the use of identity issues.
They have even adopted elements of authoritarianism in their government in order to win the 2019 presidential election (Tom Power, 2018). Even though many of the supporters of the two camps know about these shortcomings and previously denounced them, they have chosen to be silent for now.
For the sake of akhaffud dararain (choosing the one who poses the least harm), they said.
Various Islamic organizations have chosen to enter the political arena. In fact, the offices of certain Islamic organizations have been turned into party offices or posts for the presidential campaign.
This has played a role in influencing the birth of polarization, leading to confrontation between Islamic groups, such as “NU vs the rest of Islam” or “Islam Nusantara vs other Islam”.
The dichotomy that is developing is no longer between Muslims and non-Muslims, but “traditional santri” vs “millennial santri” or “old santri” vs “new santri”. The first group is the santri and traditional Islamic boarding school alumni, the second group is alumni of halaqoh-halaqoh (group discussion) education on various campuses and an alumni movement against the candidacy of Basuki Tjahaja Purnama as the governor of Jakarta in December 2016.
If in the 1990s the new santri, who were considered as the alumni of state Islamic institutes (IAIN) or the State Islamic University (UIN), now they are no longer included in the category of new santri, but had become the old santri.
The NU-PNI-PKI Alliance of the past has often been mentioned on various social media platforms. Resistance to Islam Nusantara has also occurred in several regions, such as West Sumatra, North Sumatra and Banten. Some people are afraid that Nahdlatul Ulama (NU) will become part of the center of power, thereby preventing other Muslims from doing so, as happened in the case of Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).
Muhammadiyah’s tasks
Besides the aforementioned polarization, there are also different understandings of Pancasila and nationalism, between groups that want a sharia-based nation and those who do not, between Pancasila and the literal interpretation of its main principle, or “Pancasila with indivisible oneness”, and “Pancasila that is inclusive and pluralist “.
These various clashes and potential divisions in the community seem to be the reason that Muhammadiyah as an institution has chosen not to enter practical politics. “So that this nation has security assurances. If all religious institutions were to fight for political interests, the nation would become increasingly politicized,” is Muhammadiyah’s stance, as confirmed by Haedar Nashir.
The task of Muhammadiyah is to maintain the integrity and sovereignty of the nation and is it currently trying to act as a bridge that brings together various opposing groups.
The presidential election is a five-year political process that is part of the dynamics of our nation’s life. Do not let this process lead to a rift within the nation or hostility. This is the moral message that is often conveyed by Muhammadiyah. (Ahmad Najib Burhani, Senior Researcher of LIPI)
https://kompas.id/baca/utama/2019/01/25/muhammadiyah-in-the-political-year/
Friday, January 25, 2019
Muhammadiyah di Tahun Politik
Muhammadiyah di Tahun Politik
OPINI 25 Januari 2019
Twitter: https://klik.kompas.id/2Rd9p5X/
Facebook: https://klik.kompas.id/2FY3TCf/
Thursday, January 24, 2019
'Cerita Bapak Harus Diketahui Anak-Anak'
![]() |
| Jenderal Soedirman dan isterinya Alfiah bersama anak bongsu mereka, 1949. |
Red: Bayu Hermawan
Siti Alfiah ingin anak-anaknya mengetahui sejarah tentang bapaknya, Soedirman.
Oleh: Neni Ridarineni
Pendidikan karakter dalam kepanduan Hizbul Wathan seperti keberanian, kesetiaan, membela kebenaran, kejujuran, dan kedisplinan mewarnai dalam kehidupan Panglima Besar Jenderal Soedirman. Karena di masa remajanya, Soedirman aktif di Hizbul Wathan Cilacap.
"Ibu saya, Siti Alfiah, dulu waktu remaja juga aktif di Hizbul Wathan karena eyang Sastroatmodjo (orang tua dari ibu) sebagai pengurus Muhammadiyah," kata M Teguh Soedirman (70 tahun) kepada Republika.co.id, di kediamannya yang merupakan rumah keluarga besar Panglima Jenderal Soedirman, Yogyakarta, Sabtu (12/1).
Ketika masih seusia SMP, Soedirman sudah dipercaya menjadi pimpinan Hizbul Wathan dan waktu itu anggota Hizbul Wathan (HW) belum ada yang tua.
"Di masa pemudanya, Soedirman juga aktif di Pemuda Muhammadiyah dan diangkat sebagai pimpinan HW di Cilacap, sehingga sering datang dan melakukan pertemuan di rumah eyang Sastroatmodjo dengan berkedok koordinasi internal Muhammadiyah," ungkap putra bungsu Jenderal Soedirman ini.
Sastro Atmojo memiliki seorang putri bernama Siti Alfiah. semua orang ingin menjadi menantu Sastroatmodjo, termasuk Soedirman. Karena Soedirman merupakan orang yang disegani teman-temannya maka teman-teman Soedirman mundur. Kebetulan Ibu Siti Alfiah sayang dengan Soedirman.
"Ibu Sastroatmodjo mengatakan kepada Siti Alfiah bahwa ia tidak ingin memiliki menantu yang kaya, tetapi yang memiliki akhlakul karimah karena kalau kekayaan bisa dicari, sedangkan akhlak yang baik itu sulit dicari," ujar Teguh.
Kebetulan Siti Alfiah ketika remaja juga sudah sering bertemu dengan Soedirman saat kegiatan di pendidikan Wiworotomo (setara SMP) di Cilacap dan sama-sama aktif di kegiatan kepemudaan Muhammadiyah. Akhirnya, menikahlah Siti Alfian dan Soedirman yang dikaruniai tujuh anak.
Ketika Siti Alfiah hamil anak sulungnya, ia dan Soedirman diundang sebagai utusan Muhammadiyah dari wilayah Banyumas untuk mengikuti Kongres Muhammadiyah di Gunung Tidar, Magelang. Waktu itu Soedirman selain aktif di Pemuda Muhammadiyah juga sudah menjadi guru di sekolah Muhammadiyah. Karena terkesan dengan kegiatan di sana maka anak pertamanya diberi nama Ahmad Tidarwono.
https://republika.co.id/berita/selarung/suluh/19/01/24/pltucw354-cerita-bapak-harus-diketahui-anakanak?utm_source=dable
Pemuda Dirman dan Dakwah
Red: Bayu Hermawan
Kecakapan Soedirman dalam berdakwah diasah di Pemuda Muhammadiyah
Oleh: Stevy Maradona
Kepanduan Muhammadiyah, Hizbul Wathan, menjadi pintu pembuka bagi Soedirman untuk terjun total ke dalam gelanggang Muhammadiyah. Dari kepanduan itu, Soedirman kemudian aktif di Pemuda Muhammadiyah.
Sosoknya, seperti yang direkam dalam beberapa pustaka memperlihatkan Soedirman sebagai organisatoris tulen. Ia bisa duduk menjadi wakil Majelis Pemuda Muhammadiyah wilayah Banyumas pada 1937. Jabatannya ini mensyaratkan Soedirman lebih aktif lagi bergerak mengikuti ritme organisasi.
Soedirman hadir di Kongres Muhammadiyah. Salah satu kehadirannya yang terekam pada 1939 di Muktamar Muhammadiyah ke-29 di Yogyakarta. Soedirman hadir sebagai perwakilan Banyumas. Di arena kongres itu, ia mengusulkan agar setiap pandu Hizbul Wathan mengenakan celana panjang saja. Ini untuk mengantisipasi para pandu sibuk mencari sarung saat hendak shalat di tengah kegiatan. Dengan celana panjang mereka bisa lekas wudhu dan shalat. Usulan ini diterima dan diterapkan kemudian.
Di Pemuda Muhammadiyah pula kecakapan Soedirman berdakwah diasah. Salah satu saksi dakwah Soedirman yang juga kawan aktivis di organisasi, Hardjomartono (85 tahun saat diwawancara), mengingat Soedirman sering memberikan pelajaran kemuhammadiyahan di daerah Rawalo, Banyumas, kemudian keluar ke Purbalingga, Banjarnegara, Purwokerto. Dalam sebulan Soedirman bisa mengunjungi beberapa daerah.
Hardjomartono mengingat, seperti dikutip dari Sardiman, dalam bukunya, "Panglima Besar Jenderal Sudirman Kader Muhammadiyah" (2000), salah satu dakwah pendek Soedirman di Rawalo:
"Wahai para Pemuda Muhammadiyah, ada dua pilihan penting dalam kehidupan yang kita jalani saat ini, yang pertama iskhariman, yakni hidup yang mulia dan yang kedua adalah musyahidan, yakni mati syahid. Kalian memilih yang mana?
"Kalau memilih iskhariman, bagaimana syaratnya?" kata Hardjomartono menanggapi.
Soedirman menjawab, "Kamu harus selalu beribadah dan berjuang untuk agama Islam."
"Bagaimana kalau pilih musyahidan?" timpal Hardjomartono.
Soedirman kembali menjawab, "Kamu harus berjuang melawan setiap bentuk kebatilan dan berjuang untuk memajukan Islam."
"Jadi, semua harus berjuang?" sambung Hardjomartono.
Soedirman sambil tersenyum menjawab,
"Kedua pilihan itu seimbang. Kita akan mendapatkan semua kalau mau, sebab seorang yang mendapatkan kemuliaan tentu harus berlaku sesuai ajaran dan berjuang di jalan Islam. Salah satu musuh penghalangnya saat ini adalah penjajahan. Karena itu, agar pemuda mendapatkan kemuliaan maka harus bersiap untuk berjuang, siap syahid untuk mendapatkan kemerdekaan, para pemuda harus berani untuk jihad fisabillilah."
https://republika.co.id/berita/selarung/suluh/19/01/24/pltryu354-pemuda-dirman-dan-dakwah?utm_source=dable
Kepanduan Muhammadiyah Membentuk Karakter Jenderal Soedirman
Di dalam setiap penulisan riwayat hidup Soedirman, selalu terselip soal babak ia masuk kepanduan Muhammadiyah, Hisbul Wathan, pada awal 1930-an. Sedianya babak hidup Soedirman yang ini menjadi amat menarik. Karena gerakan kepanduan di Indonesia di awal abad ke-20 ternyata memiliki muatan politis nasionalisme yang kental. Karena itu, tidak berlebihan kiranya kalau kita menyebut babak kepanduan Hisbul Wathan ini adalah salah satu faktor yang membentuk karakter nasionalisme Soedirman.
Kepanduan di Indonesia dibawa dua tokoh penjajah Belanda, PJ Smith dan Mayor de Jager, pada 1913-1914. Tujuan mereka saat itu untuk melatih anak-remaja Belanda usia 12-18 tahun menjadi warga negara yang baik, disiplin, berkarakter bela Ratu Belanda, bela tanah air Belanda, gemar menolong, cinta lingkungan. Organisasi pandu awal diberi nama Nederlandsche-Indische Padvindersvereeniging (NIPV).
Dalam tulisannya yang merangkum gerakan kepanduan di Indonesia, "Padvinders, Pandu, Pramuka: Youth and State in the 20th Century Indonesia (2011)" pengajar antropologi UGM Pujo Semedi mengatakan, ada perbedaan yang mencolok soal latar sosial kepanduan di Indonesia saat itu dengan di Eropa. Kepanduan di Eropa menyeruak di tengah situasi antarnegara saling perang dan generasi muda yang gamang bin galau menghadapi hidup di tengah perang.
Sementara di Indonesia, terutama di tingkat lokal nanti akan terlihat, kepanduan justru amat kental dibayangi atmosfer kebangkitan nasional dan perlawanan melawan penjajah Belanda. Dari kepanduan gaya Belanda ini, tokoh-tokoh nasional saat itu melihat ada kesempatan yang baik untuk menanamkan nilai-nilai awal nasionalisme ke generasi muda prakemerdekaan.
Lahirlah Javaansche Padvinders Organisatie (JPO) pada 1916. Yang memelopori adalah Pangeran Mangkunegara VII di Surakarta. Sesuai dengan namanya, setiap anggota pandu JPO harus setia kepada keraton, kepada Sri Sultan, dan kepada Tanah Jawa. Anggota JPO saat itu terbatas di lingkaran keraton. Saban Ahad mereka dijadwalkan berlatih di halaman depan keraton. Latihannya mencakup baris-berbaris, pertolongan kecelakaan, tali-temali, membaca peta, dan kepanduan dasar lainnya. Para pandu anak-remaja yang diberi seragam itu berlatih terbuka, dapat dilihat oleh warga yang lalu lalang di depan pagar keraton.
Pandu nasionalisme dan agamis
Dalam riwayat resmi Hisbul Wathan yang dirilis oleh Muhammadiyah dan organisasi itu sendiri dikisahkan, latihan kepanduan JPO ini menarik minat pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Suatu waktu pada 1916, usai kembali dari pengajian Sidiq Amanah Fathonah Tabligh di Surakarta yang rutin diadakan di kediaman KH Imam Mukhtar Bukhari, lewatlah rombongan KH Ahmad Dahlan di depan halaman Mangkunegaran. Ia melihat bagaimana pandu-pandu muda JPO berlatih berbaris. Ini memberinya ide.
KH Ahmad Dahlan ingin agar peserta didik Muhammadiyah pun memiliki kegiatan serupa untuk mengembangkan perjuangan, syiar Islam, berbakti kepada Allah SWT, mendidik disiplin, dan menyehatkan raga. Sampai di Yogyakarta, KH Ahmad Dahlan secara khusus membahas untuk membentuk kepanduan Muhammadiyah. Ia memanggil dua pengajar yakni Sumodirjo dan Sarbini untuk merintis gerakan kepanduan Muhammadiyah. Sarbini kebetulan bekas opsir Belanda yang pernah merasakan pendidikan tentara.
Dengan sederhana, mulailah keduanya melatih pemuda Muhammadiyah kepanduan di halaman sekolah di Suronatan. Baris-berbaris, pertolongan kecelakaan, olahraga. Latihan ini masuk ke dalam aktivitas di luar sekolah Muhammadiyah. Tidak butuh lama, pemuda kauman yang melihat siswa Muhammadiyah berlatih kepanduan banyak yang tertarik. Guru-guru pun ikut berlatih. Pada 1918, akhirnya Muhammadiyah memiliki Padvinders Muhammadiyah, yang kemudian diganti dengan nama Hisbul Wathan (cinta Tanah Air) pada 1921, terinspirasi oleh gerakan perjuangan Partai Wathan yang beraliran antikolonialisme di Mesir.
Muhammadiyah dan Boedi Oetomo adalah dua organisasi massa yang ketika itu mengikuti Pangeran Mangkunegara VII membentuk kepanduan. Dengan demikian, pada saat itu sudah muncul kepanduan lokal, yakni JPO, Hisbul Wathan, Nationale Padvinderij (milik Boedi Oetomo), dan kemudian Java Padviderij (milik Jong Java). Secara senyap, inilah cara-cara awal pergerakan prakemerdekaan mendidik generasi muda ketika itu untuk mencintai Tanah Air dan melawan penjajahan. Karena situasi politiknya belum memungkinkan untuk membuat perlawanan langsung.
Semboyan Hisbul Wathan pada waktu itu adalah setia kepada ulil amri, sungguh berhajat akan menjadi orang utama, tahu akan sopan santun dan tidak akan membesarkan diri, boleh dipercaya, bermuka manis, hemat dan cermat, penyayang, suka pada sekalian kerukunan, tangkas, pemberani, tahan, serta terpercaya, kuat pikiran, menerja segala kebenaran, ringan menolong dan rajin.
"Membantu orang-orang tua dan guru guru dalam mendidik dan anak-anak dan supaya kelakuannya menjadi orang Islam yang berarti (sempurna) ialah orang yang berbudi pekerti baik, berbadan sehat, berguna bagi diri sendiri dan bagi umum, takwa kepada Allah, artinya menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya." seperti dikutip dari Pasal 2 Boekoe Peratoeran Hizboel Wathan.
Sementara muatan nasionalisme terangkum di dalam kode kehormatan Hizbul Wathan seperti Pasal 1 Janji Pandu Hizbul Wathan yang berbunyi: "Setia menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan dan UU tanah airku."
Secara umum, ada tiga kegiatan yang harus diikuti Soedirman sebagai pandu Hizbul Wathan. Pertama adalah program pendidikan rohani sebagai wahana pembentukan karakter. Kedua, pendidikan jasmani untuk pengembangan kesehatan dan fisik. Ketiga program karya bakti sebagai wujud pengamalan pandu. Untuk yang terakhir ini, Soedirman diharuskan aktif di Majelis Penolong Kesengsaraan Oemat (PKO) Muhammadiyah yang bergerak dalam bidang mengumpulkan zakat, menyelenggarakan shalat Id, menyembelih hewan kurban dan membagikannya ke warga, ketertiban warga, dan lainnya. Inilah atmosfer yang dimasuki oleh remaja Soedirman pada pertengahan 1930-an.
Dalam biografi resmi yang dirilis Pusat Sejarah TNI disebutkan: "Melalui kegiatan Hizbul Wathan bakat-bakat kepemimpinan Soedirman terlihat. Ia menjadi pandu yang disiplin, militer, dan bertanggung jawab, cinta terhadap alam."
Dalam satu kisah perkemahan pandu Hizbul Wathan di lereng Batur di daerah Dieng Wonosobo, di versi lain disebutkan perkemahan dilakukan di lereng Gunung Slamet, terlihat bagaimana remaja Soedirman bersikap menghadapi situasi dan kondisi yang ekstrim. Menjelang malam, turun hujan deras. Udara menjadi sangat dingin. Para pandu rekan Soedirman yang tak kuat dingin meminta izin untuk pindah tenda atau turun ke rumah penduduk. Soedirman tetap di dalam tendanya. Satu rekan Hizbul Wathan yang bertugas jaga malam mengatakan sempat mendengar lantunan ayat Kursi dari dalam tenda Soedirman. Setelah itu, ia terlihat mengenakan baju hangat dan menunaikan shalat malam.
Dalam buku Soedirman Seorang Panglima Seorang Martir (2012) ditegaskan watak disiplin dan tanggung jawab yang Soedirman miliki hingga menjadi Panglima Besar awalnya memang dipupuk di kepanduan Hisbul Wathan. Di sini, Soedirman berprestasi dari seorang pandu pemula menjadi ketua pandu Hisbul Wathan Cilacap dan Menteri Daerah Hisbul Wathan Banyumas.
https://republika.co.id/berita/selarung/tuturan/19/01/24/pltp4x282-kepanduan-muhammadiyah-membentuk-karakter-jenderal-soedirman










orcid.org/0000-0002-0333-8344