Showing posts with label Youth movement. Show all posts
Showing posts with label Youth movement. Show all posts

Saturday, April 12, 2014

Tafsir Sosial Ideologi Keagamaan Kaum Muda Muhammadiyah: Telaah terhadap Fenomena Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM)

Jurnal Salam, Volume 12 Nomor 2 Juli - Desember 2009:  31-43
Biyanto
Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya

Muhammadiyah merupakan organisasi sosial keagamaan yang didirikan KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada 18 November 1912. Menurut Deliar Noer (1996: 84), perihal pendirian Muhammadiyah adalah atas saran yang diajukan oleh murid Ahmad Dahlan dan beberapa anggota Budi Utomo dengan harapan agar dapat mendirikan suatu lembaga pendidikan yang bersifat permanen. Bahkan untuk urusan proses permintaan pengakuan kepada kepala pemerintahan sebagai badan hukum pun diusahakan oleh pimpinan Budi Utomo.

Sebagai salah satu organisasi terbesar di tanah air, Muhammadiyah sangat menekankan amal usaha di bidang kesejahteraan sosial sehingga dipandang sebagai representasi aliran reformis dan modernis (Clifford Geertz, 1960; Alfian, 1989). Pengertian dari kedua istilah tersebut menempatkan Muhammadiyah sebagai organisasi yang secara terus-menerus bertujuan memelihara bagian dari masa lampau, menjustifikasi masa kini, dan melegitimasi masa depan, sehingga dapat menciptakan kaitan antara yang lama dan yang baru. Kaum reformis mempercayai bahwa mereka dapat hidup di dunia modern tanpa meninggalkan prinsip ajaran agama. Achmad Jainuri (2002: 4-5) menyatakan bahwa dalam rangka menjustifikasi paradigma ini Muhammadiyah sangat percaya bahwa sumber-sumber fundamental Islam dapat diterjemahkan dalam realitas konkrit kehidupan keagamaan, sosial, ekonomi, dan politik kaum Muslim Indonesia.

Dalam perkembangannya, Muhammadiyah selain menampilkan citra sebagai organisasi modern dengan segudang kesusksesan juga menuai kritik tajam. Ironinya salah satu kritik tersebut justru muncul dari kalangan anak muda Muhammadiyah. Salah satu kelompok yang mengkritik adalah aktivis Jaringan
Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM). JIMM tentu memiliki argumen perihal ketidakcocokkannya dengan faham keagamaan yang dikembangkan Muhammadiyah. Akibatnya, mereka pun lebih memilih bergerak di jalur kultural. Maka, menarik dicermati bagaimana ideologi keagamaan JIMM dan latar belakang kemunculannya. Berkisar pada persoalan inilah tulisan ini mencoba memberikan tafsir sosial terhadap fenomena kehadiran JIMM.

http://ejournal.umm.ac.id/index.php/salam/article/view/442

Friday, May 31, 2013

Tak Sekedar Merah

Tahun 1964 puncak kaum muda Muhammadiyah bergejolak untuk melahirkan organisasi otonom yang bernama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Tidak hanya ditubuh kaum muda Muhammadiyah, melainkan juga secara kolektif kaum muda negeri ini. Pergulatan pada masa orde lama  mengamanahkan bagaimana IMM harus dilahirkan—sebagai kehendak sejarah. Saat ini, IMM sudah menginjak usia 49 tahun atau menjelang setengah abad. Perjalanan yang tidak sebentar bagi sebuah organisasi gerakan mahasiswa dan ortom Muhammadiyah. Inilah dilema gerakan IMM yang berdiri diatas dua kaki yakni sebagai gerakan mahasiswa islam dan ortom Muhammadiyah hingga kadang tidak pernah selesai dengan urusan dirinya sendiri.
Setelah IMM bangkit kembali dari kevakuman kepemimpinan pusat yang ditandai dengan diangkatnya Immawan Wahyudi oleh PP Muhammadiyah, perlahan IMM seperti mempunyai nafas baru dengan hadirnya karya-karya intelektual berbasis struktural. Namun, seperti ingin kembali mengulang masa kelam. Saat ini, IMM kembali mengalami kekisruhan struktural di tingkat pusat yang menyebabkan kegamangan gerakan dan ragam pertanyaan yang terus memburu, baik ditingkat pimpinan, kader hingga dunia jejaring sosial.
Ditengah sebagian rasa pesimis yang melanda kader IMM belakangan ini. Makin maraknya kalangan yang ingin menumpang hidup di Muhammadiyah. Ataupun adanya upaya ingin memanfaatkan jaringan massa Muhammadiyah dan IMM untuk suksesi pemilu 2014. Maka, dibutuhkan sekumpulan orang yang keluar dari geladak Muhammadiyah untuk selanjutnya bergerilya menopang, membersihkan dan membangun Muhammadiyah diluar komando—dan itu hanya bisa dilakukan oleh gerakan kaum muda.

Ya! IMM sebagai bagian kaum muda Muhammadiyah, harus mengambil peran aktif untuk keberlangsungan masa depan persyarikatan diabad kedua. Hal yang paling rasional bagi IMM saat ini adalah peningkatan kapasitas intelektual dan kemapanan ekonomi, hingga dikemudian hari kader IMM bukan hanya sekumpulan orang yang menggantungkan kebutuhan hidupnya terhadap Muhammadiyah. Cukuplah sirine Anies Baswedan yang memprediksi bahwa kedepan kepemimpinan nasional tidak lagi akan dipimpin oleh kaum aktivis, melainkan oleh kaum entrepreuner (wirausahawan). Tidak semua kader IMM akan dicetak sebagai sebagai pemimpin nasional, persyariatan atau bahkan para politikus. Sebab dilain tempat, ada yang ruang dimana kaum mustadh’afin membutuhkan pembelaan dan harapan untuk membangun mimpinya—disinilah cara kita ber-Muhammadiyah akan terasa cukup berbeda.
Buku ini merupakan kumpulan tulisan kader IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta melalui MIM Indegenous School. Tulisan yang berisi tentang harapan, proses dan kegelisahan mengenai IMM jelang setengah abad. Karenanya, kami menyebut buku ini sebagai pengakuan dan persaksian bahwa IMM tidak pernah kebal kritik dan protes. Lewat cara ini kami ingin menyampaikan kepada seluruh kader IMM, bahwa peringatan ritus kelahiran bukan hanya diperingati dengan cara euphoria, melainkan dengan cara bersikap reflektif dan kredo berfikir.
Barangkali, buku ini masih jauh dari sempurna. Namun, setidaknya para penulis dalam buku ini, berani membuktikan sejarah perjalanan proses mereka dalam ber-IMM—dengan cara menulis sejarah mereka sendiri. Sehebat apapun manusia jika tak memahat sejarahnya sendiri, maka ia akan terlempar dari kubangan sejarahnya sendiri; termasuk kita dalam ber-IMM.
Semoga buku “Tak Sekadar Merah; Memoar dan Testimoni Kader IMM” ini bermanfaat bagi semuanya. Selamat Milad IMM ke-49 tahun

MIM Indigenous School

PENGGALAN TESTINOMI DALAM BUKU INI 

“Setiap perubahan politik selalu periode inkubasi. Masa dimana gagasan-gagasan progresif disemai. Proses semacam itu tampaknya mulai mengambil jarak dari konteks sosial kita. Namun kader-kader muda dalam buku ini menunjukkan bagaimana arus pemikiran ke-Islaman, kemanusiaan dan keberpihakan terus tumbuh dan hidup menjadi identitas tersendiri dari gerakan IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta. Saya yakin perjuangan bukan sekadar basa basi!”
Faris Alfadh, S.IP., MA.
Dosen Hubungan Internasional UMY | Mantan Direktur MIM Indigenous School
“Buku ini, saya kira menyajikan dua hal, yakni refleksi dari para kader IMM tentang perlunya intelektualisme di satu sisi dan moralisme”
Nurwanto, S.Ag., M.A., M.Ed.
Mantan aktivis IMM DIY 1998 | Alumni Birmingham University, Inggris
”Saya percaya dan yakin, perubahan senantiasa menjadi sebuah tantangan dan sekaligus peluang bagi eksisnya IMM ke depan”
Irvan Mawardi, SH.
Ketua Umum pertama PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta | Hakim di PTUN RI

“Menjadikan IMM sebagai social movement berarti mendorong upaya transformasi dalam skala yang lebih luas. Asumsi dasar yang dijadikan pijakan adalah IMM memiliki intellectual capital, sekaligus social capital yang kemudian mampu ditransformasikan menjadi social power untuk mengubah struktur dan tatanan sosial yang tidak adil menjadi lebih lebih adil, menindas menjadi egaliter. Paradigma transformatif yang dijadikan paradigma aksi menuntut IMM membuka ruang publik yang selebar-lebarnya bagi partisipasi masyarakat, termasuk didalamnya kalangan subalterm. Selain itu, menjamin hak-hak komunitas dan individu dari rongrongan kebijakan negara dan global yang merugikan”
Fauzi Fashri
Senior IMM AR. Fakhruddin | Mantan Ketua Umum PC IMM AR Fakhruddin Kota Yogyakarta | Mantan Sekretaris Umum DPD IMM DIY
“Indonesia saat ini termasuk salah satu negara yang sangat menghindari peperangan dalam penyelesaian sengketa dengan negara lain. Dalam tatanan hubungan antarnegara, perang pada dasarnya merupakan salah satu bentuk cara sebuah negara dalam melakukan hubungannya dengan negara lain. Dalam politik internasional yang anarki, di mana negara satu-satunya entitas berdaulat yang memiliki kekuatan dan kehendak ini, maka perang sangat mungkin terjadi di antara negara mana pun di dunia”
Zain Maulana
Mantan Ketua Umum IMM AR. Fakhruddin | Mantan Ketua DPP IMM | Masiswa Flinders Australia
“Kalian sudah bisa memutuskan sesuatu dengan dewasa, maka hasilkanlah keputusan yang terbaik”
M. Sobar Johari
Dosen EPI FAI UMY | Mantan Ketua DPP IMM
 “Apa bila gerakan tidak di landasi oleh suatu pemikiran, gerakan tersebut hanya menjadi pupit dan aktornya adalah manusia robotik yang kehilangan kesadaran kemanusiaan. Direnggut oleh skenario besar yang memainkannya, oleh karena itu paradigm berfikir dilandasi nilai trilogi IMM”
Ma’ruf Senja Kurnia
Mantan Ketua Umum IMM AR. Fakhruddin
“Bacalah sebanyak bait yang tak mungkin lagi dibendung, agar isi kepala membuncah tercecer, pecahnya menggenang sungai manfaat”
Cahyo Prabowo
Mantan Presma UMY
“Mudah-mudahan kedepan bangunan paradigma yang dikonstruk menjadi sebuah perspektif gerakan yang satu, yang menjadikan penyatuan aksi gerakan yang berlandaskan atas nilai-nilai religius. Kepada seluruh kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cabang Abdul Rozaq Fakhruddin Kota Yogyakarta, sekarang saatnya  IMM membumikan cita-cita profetik perjuangan ikatan. Wahai para Cendekiawan berpribadi. Teruslah berjuang menuju puncak tak berujung”
Halim Sedyo Prasojo
Mantan Ketua Umum PC. IMM A.R.  Fakhruddin Kota Yogyakarta | Mantan Sekbid Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan DPD IMM DIY
“Setelah kita semua  menyepakati prinsip-prinsip umum dalam internal aliansi, maka kita harus melihat kembali kebelakang akan semua hal yang berkaitan dengan aliansi, karena aliansi yang akan kita bangun bukan lagi aliansi taktis melainkan aliansi strategis yang syarat utama dalam kesuksesaan pembangunannya adalah persamaan persespsi semua anggota aliansi, oleh karena itu perlu adanya pembahasan kembali dalam melihat tugas-tugas aliansi kedepan termasuk hak dan kewajiban anggota aliansi”
Deriana Putera Pamungkas
Mantan Kabid Hikmah PC IMM AR Fakhruddin Kota Yogyakarta Mantan Sekbid Seni Budaya dan Olahraga DPD IMM DIY
Bagaimana kita memaknai kader hari ini, apakah kader hanya dimaknai sebagai anggota ataukah kita sudah memaknainya sebagai fondasi dari organisasi yang menjadi struktur dalam suatu bangunan organisasi menjadi pimpinan dan melakukan transformasi organisasi. Inilah seharusnya hal pertama yang harus dipahami oleh semua kader IMM, pemaknaan tersebut menjadi awal untuk selanjutnya melakukan hal-hal yang berkaitan dengan proses pengkaderan.
Aminuddin Anwar
Mantan Kabid Kader  IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta Mantan Kabid Keilmuan DPD IMM DIY
“Tulisan ini merupakan buah pikiran dari seorang kader yang ingin menciptakan makna dari hasil refleksinya terhadap ikatan saat ini. Tulisan ini pun dilahirkan langsung atas kesadaran kader yang gemar terhadap perubahan yang terjadi di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah khususnya cabang A.R Fakhruddin karena aku percaya bahwa tulisan memiliki ruh sehingga dapat hidup dimanapun tempat yang ada dalam ruang dan waktu yang terbatas sekalipun."
Cehar Mirza
Mantan Kabid IPTEK PC. IMM A.R.  Fakhruddin Kota Yogyakarta | Mantan Direktur MIM Indigenous School Periode 2008-2009
“Tulisan ini membantu para kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah menyelami peristiwa–peristiwa yang belum terungkap dan dan kronologi kejadianya sebagai sebuah fakta yang utuh. Seperti yang penulis bahas mengenai kronologi lahirnya Gen Pemikiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah pada masa kepemimpinan cabang 2007-2008.
Hendri Suseno.
Mantan Mendagri BEM UMY | Mantan Kabid Kader PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta periode 2006-2007
 
TAK SEKADAR MERAH
Pegiat MIM Indigenous School
Tebal: xx + 134 halaman
Harga: Rp. 30.000  
Penerbit:  MIM Indigenous School 
Pre-Order
Email :  mim.informasi@gmail.com
Twitter : @MIMindigenous  
 
From: http://mimindigenous.blogspot.com/2013/05/tak-sekadar-merah-buku-baru.html
 

Monday, May 27, 2013

Lahirnya Hizbul Wathan Muhammadiyah

SEJARAH SINGKAT PANDU HIZBUL WATHAN
DETIK DETIK LAHIRNYA HW
Pada suatu hari (Ahad) KH. Ahmad Dahlan memanggil beberapa guru Muhammadiyah : Bp. Somodirdjo (Mantri Guru Standart School Suronatan), Bp. Syarbini dari sekolah Muhammadiyah Bausasran dan seorang lagi dari Sekolah Muhammadiyah Kota Gede.
KH. Ahmad Dahlan berkata kira-kira demikian :
“Saya tadi pagi di Solo sepulang dari Tabligh sampai di muka Pura Mangkunegaran di alun-alun Surakarta melihat anak-anak baris-berbaris, sebagian bermain-main, semuanya berpakaian seragam, baik sekali! Apa itu??”.
Bp. Somodirjo menjelaskan bahwa itu adalah Pandu Mangkunegaran yang namanya JPO (Javaanche Padvinderij Organisatie) ialah suatu gerakan pendidikan anak-anak diluar sekolah dan rumah.
Mendengar keterangan tersebut KH. Ahmad Dahlan menyambut :
“Alangkah baiknya kalau anak-anak keluarga Muhammadiyah juga dididik semacam itu untuk leladi menghamba kepada Allah, selanjutnya beliau mengharap kepada para guru untuk mencontoh gerakan pendidikan itu”.
Bp. Somodirdjo dan Bp. Syarbini mempelopori mengadakan persiapan – persiapan akan mengadakan gerakan pendidikan untuk anak-anak diluar sekolah dan rumah. Mula-mula yang digerakkan untuk latihan adalah para guru-guru sendiri dulu. Pendaftaran dimulai dan latihan pun diadakan di SD Muhammadiyah Suronatan tiap Ahad Sore. Latihan meliputi baris-berbaris, bermain tambur dan olahraga, kemudian ditambah dengan PPPK dan kerohanian. Bp. Syarbini adalah seorang pemuda yang pernah mendapat pendidikan kemiliteran melatih baris-berbaris. Banyak pemuda yang tertarik sehingga pengikut latihan semakin banyak. Akhirnya diadakan penggolongan yakni golongan dewasa dan anak-anak.

PADVINDER MUHAMMADIYAH
Tahun 1918 adalah saat Gerakan Hizbul wathan melangkahkan langkahnya yang pertama dengan nama Padvinder Muhammadiyah. Nama tersebut semakin populer. Untuk pengawasan Gerakan padvinder Muhammadiyah ini diserahkan kepada Muhammadiyah bagian sekolahan. Oleh Muhammadiyah bagian sekolahan tersebut dibentuklah pengurus sebagai berikut :
Ketua : H. Muchtar
Wakil Ketua : H. Hadjid
Sekretaris : Somodirdjo
Keuangan : Abdul Hamid
Organisasi : Siradj Dahlan
Komando : Sjarbini dan Damiri
Untuk memajukan gerakan tersebut, direncanakan akan mengadakan studi ke JPO Solo. Agar kunjungan ke JPO Solo tersebut meriah, bagian sekolahan mengusahakan uniform, kemeja drill kuning dan kemeja drill biru, sedang untuk setangan leher untuk mudahnya menggunakan kacu yang banyak dijual ialah kacu merah berbintik hitam.
Kedatangan Padvinder Muhammadiyah menggemparkan kota Solo. Di lapangan mangkunegaran diadakan demonstrasi-demonstrasi dan macam-macam permainan sebagai perkenalan. Padvinder Muhammadiyah mendapat pelajaran yang sangat berharga dalam kunjungan ke JPO Solo.

NAMA HIZBUL WATHAN
Sepulang dari kunjungan ke JPO Solo tersebut dibicarakan nama dari Padvinder Muhammadiyah. Di rumah Bp. H. Hilal Kauman, RH. Hadjid mengajukan nama yang dianggap cocok pada waktu itu yaitu HIZBUL WATHAN, yang berarti Pembela Tanah Air. Hal ini mengingat adanya pergolakan-pergolakan di luar negeri maupun di dalam negeri yaitu masa berjuang melawan penjajah Belanda.
Nama HIZBUL WATHAN sendiri berasal dari nama kesatuan tentara Mesir yang sedang berperang membela tanah airnya. Dengan kata sepakat nama HIZBUL WATHAN dipakai mengganti nama “Padvinder Muhammadiyah“ tahun 1920.
Kejadian itu bertepatan dengan peristiwa akan turunnya dari tahta Paduka Sri Sultan VII di Yogyakarta. Untuk turut menghormat dan akan ikut mengiringkan pindahnya Sri Sultan VII dari keraton ke Ambarukmo, diadakan persiapan-persiapan dam latihan. Pada tanggal 30 Januari 1921 barisan HW keluar turut mengiringkan Sri Sultan VII pindah dari keraton ke Ambarukmo. Keluarga HW mendapat penuh perhatian dari khalayak ramai. Dari saat itulah HW terkenal pada umum. Hal ini ditambah lagi sesudah beberapa hari kemudian HW berbaris dalam perayaan penobatan Sri Sultan VIII. Perayaan diadakan di alun-alun utara Yogyakarta. HW turut pula dengan mengadakan demonstrasi dimuka panggung dimana Sri Sultan VIII dengan para tamu menyaksikannya.
HW telah menjadi buah bibir masyarakat. Demikianlah uniform HW mulai dikenal masyarakat. Maka tidak heranlah, kalau kadang-kadang kalau ada anak Belanda atau Cina berpakaian Padvinder (NIPV) dikatakan : “Lho, itu ada HW Landa, Lho itu ada HW Cina”, yang sebetulnya yang dimaksud adalah Padvinder NIPV, bahkan setiap ada anak berpakaian pandu selalu dikatakan Pandu HW.
Pada tanggal 13 Maret 1921 KH. Fachrudin menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya yang diantar oleh barisan Pandu HW dan Warga Muhammadiyah sampai Stasiun Tugu Yogyakarta. KH. Fachrudin sempat berpesan didepan anggota-anggota HW dengan menanamkan anti penjajah pada anak HW :
“Tongkat-tongkat yang kamu panggul itu pada suatu ketika nanti akan menjadi senapan dan bedil”
Pesan KH. Fachrudin itu ternyata benar, karena beberapa tahun kemudian banyak anggota HW yang memegang senjata pada Zaman Jepang dengan memasuki barisan PETA (Pembela Tanah Air) seperti : Suharto (Presiden), Sudirman (Panglima Besar TNI), Mulyadi Joyomartono, Kasman Singodimejo, Yunus Anis, dll.
Pesatnya kemajuan HW rupaya mendapat perhatian dari NIPV (perkumpulan kepanduan Hindia belanda sebagai cabang dari kepanduan di Negeri Belanda(NPV)). Pada waktu itu gerakan kepanduan yang mendapat pengakuan dari Internasional hanyalah yang bergabung dalam NIPV tersebut.

HW MENOLAK BERGABUNG DENGAN NIPV
M. Ranelf seorang pemimpin dari NIPV dan yang memegang perwakilan NPV telah datang di Yogyakarta menemui pimpinan HW, mengajak supaya HW masuk ke dalam organisasi NIPV. Usaha-usaha Ranelf selaku komisaris NIPV tiada hentinya untuk menarik HW menjadi anggota NIPV sehingga ketika Konggres Muhammadiyah tahun 1926 di Surabaya, ia mengikuti Konggres Muhammadiyah dari awal sampai dengan selesai.
Selanjutnya diadakan pertemuan lagi di Yogyakarta oleh wakil NIPV, mengajak HW masuk kedalam organisasi NIPV. HW mempunyai prinsip-prinsip yang sukar diterima oleh Padvinder. Adapun HW jika dikatakan itu bukan Padvinder, bagi HW tidak keberatan. HW adalah Hizbul Wathan, mau dikatakan itu padvinder atau bukan terserah yang mau mengatakannya.
KH. Fachrudin mengetahui bahwa NIPV merupakan kepanduan yang bersifat ke Belanda an dan merupakan alat dari penjajah Belanda, sehingga ajakan tersebut ditolak HW. Alasan HW menolak ajakan tersebut karena HW sudah mempunyai dasar sendiri yaitu Islam, dan HW sudah mempunyai induk sendiri yaitu Muhammadiyah. Sesuai dengan induknya HW bersemangat anti penjajah, HW tidak dapat diatur menurut aturan NIPV.

HW PADA MASA PENJAJAHAN JEPANG
Pada permulaan jaman Jepang HW masih nampak kegiatannya, bahkan ikut pawai yang diadakan oleh Jepang dalam rangka merayakan UlangTahun Tenno Heika, sedangkan yang memimpin pawai tersebut Bp. Haiban Hadjid. HW terpilih untuk ikut serta dalam pawai tersebut karena HW dalam baris-berbaris terkenal bagus dibandingkan dengan kepanduan lainnya. Oleh karena itu pandu-pandu dari organisasi lain memberi identitas HW sebagai PANDU MILITER.
Kepanduan pada permulaan perndudukan Jepang namapknya akan mendapat kesempatan hidup terus. Namun tidak lama kemudiansecara terang-terangan Jepang melarang berdirinya organisasi-organisasi kepanduan serta pergerakan lainnya.
Sehingga semua pandu-pandu di Indonesia tidak aktif dari kegiatannya.

PADA MASA KEMERDEKAAN
Sesudah proklamasi kemerdekaan timbullah keinginan untuk menghidupkan kembali organisasi kepanduan Indonesia. Sedang bentuk dan sifatnya harus sesuai dengan keadaan, yakni suatu organisasi kepanduan yang bersatu meliputi seluruh Indonesia dan tidak terpecah belah.
Pada akhir bulan September 1945 di Balai Mataram Yogyakarta berkumpullah beberapa orang pemimpin pandu. Dari HW hadir Bp. M. Mawardi dan Bp. Haiban Hadjid.
Pada tanggal 27 – 29 Desember 1945 diadakan konggres Kesatuan Kepanduan Indonesia yang hadir lebih kurang 300 orang. Termasuk utusan dari HW. Dalam konggres ini dengan suara bulat diputuskan membentukPANDU RAKYAT INDONESIA.
Anggota pengurus Kwartir Besar Pandu Rakyat Indonesia antara lain : Dr. Mawardi (KBI), Hertog (KBI), Abdul Ghani (HW), Jumadi (HW).
Tahun 1948 terjadilah aksi polisionil ke 2, Belanda mendudukiYogyakarta, Ibu Kota RI.
Konggres pandu Rakyat kedua diselenggarakan di Yogyakarta pada tanggal 20 sampai dengan 22 Januari 1950. Keputusan-keputusan yang dihasilakn dalam konggres Pandu Rakyat Indonesia yaitu antara lainmenerima konsepsi baru yang memberi kesempatan kepada bekas pemimpin pandu untuk menghidupkan kembali organisasinya masing-masing.

AMANAT PANGSAR JENDERAL SUDIRMAN
Pada hari Ahad Legi 19 Desember 1948 Belanda menyerbu dan menduduki Ibu Kota RI Yogyakarta dan menangkap Presiden dan Wakil Presiden serta beberapa pemimpin Indonesia lainnya, tetapi bukan berarti RI telah jatuh. Pangsar Jenderal Sudirman (Pandu HW) meskipun dalam keadaan sakit beliau pantang menyerah, keluar kota untuk memimpin perang gerilya.
Pada tanggal 29 Juni 1948 Belanda meninggalkan Yogyakarta dan masuklah tentara RI ke Yogyakarta, yang kemudian terkenal dengan Yogya Kembali. Pangsar Jenderal Sudirman masih dalam keadaan dan dirawat di RS Magelang.
M. Mawardi dan beberapa orang wakil dari Muhammadiyah menengok di RS Magelang. Pada saat itu Jenderal Sudirman mengamanatkan kepada Mawardi selaku Wakil Muhammadiyah agar Kepanduan Hizbul Wathan yang merupakan tempat pendidikan untuk CINTA TANAH AIR didirikan lagi. Di samping itu juga untuk melanjutkan tujuan semula pendirian HW yaitu : sebagai kader Muhammadiyah dalam penyebaran agama Islam. Dikatakan bahwa HW merupakan tempat yang baik untuk mendidik anak-anak Muhammadiyah agar kelak menjadi seorang pejuang yang cinta tanh air dan sekaligus taat pada agama. Oleh karena itu dianjurkan pada warga Muhammadiyah agar jangan ragu-ragu lagi untuk mendidik putra-putrinya melalui Kepanduan HW.

APEL PERESMIAN BERDIRINYA KEMBALI HW
Untuk melaksanakan amanat Pangsar Jendral Sudirman pada sore hari tanggal 29 Januari 1950 secara simbolis HW mengadakan apel yang dipimpin oleh Bp. Haiban Hadjid untuk meresmikan berdirinya kembali kepanduan Hizbul Wathan, dan pada malam harinya Pangsar TNI Jenderal Sudirman wafat. Oleh karenanya pada waktu itu ada semboyan :
“HW BANGKIT UNTUK MELANJUTKAN KEPEMIMPINAN JENDERAL SUDRIMAN”
Setelah HW resmi berdiri lagi banyaklah anggota Pandu Rakyat yang dulu juga pandu HW masuk kembali ke dalam Hizbul Wathan.

MAJELIS HW
Kepanduan Hizbul Wathan yang merupakan organisasi bagian Muhammadiyah dalam struktur organisasinya tidak dapat dipisahkan dari Muhammadiyah. Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis HW disingkat dengan Majelis HW adalah suatu badan pembantu Pimpinan Muhammadiyah yang diserahi tugas melaksanakan Pimpinan, usaha Muhammadiyah dalam bidang Ke HW an. Majelis HW adalah sebagai Kwartir Besar HW dan mempunyai Pimpinan langsung ke bawah tingkat daerah, cabang. Anggota Majelis HW terdiri dari anggota Muhammadiyah yang mempunyai keahlian tentang HW. Mereka ditetapkan dan diberhentikan oleh PP Muhammadiyah.

MAJELIS HW TAHUN 1961
Ketua : MH. Mawardi
Wk/Kb Umum : R. Haiban Hadjid
KB Bag. Lab : HAG Dwidjosuparto
KB Penghela : R. Subiso Sastrowarsito
KB Pengenal : H. Suroso
KB Athfal : Donowardoyo
KB Bag. Latihan : Otong Muchsin
KB Perw. Jakarta : KH. Mansur
Anggota : R. Dawam Marzuki
Bendahara : Hirmas
Sekretaris I : H. Amien Luthfie
Sekretaris II : Achmad Sumitro, BSc
Sekretaris III : Rofiq JA
Pustaka :
Buku Kenang-Kenangan
Reuni Pandu HW Wreda

Sunday, July 22, 2012

Mas Moeslim dan Muhammadiyah

CATATAN LEPAS
Mas Moeslim dan Muhammadiyah
oleh: Hajriyanto Y. Thohari

Gatra, 18 Juli 2012

Mas Moeslim Abdurrahman (Lamongan, 8 Agustus 1958-Jakarta, 6 Juli 2012) adalah seorang putra Muhammadiyah yang sangat progresif dan inklusif. Dia sangat bisa bercanda dan bergaul rapat dengan siapa saja tanpa membedakan latar belakang politik, suku dan agama, apalagi cuma aliran atau ormas. Dia orang yang sangat terbuka pemikirannya, bahkan sering dituding sebagai liberal. Tak mengherankan, dia menginginkan Muhammadiyah menjadi “tenda besar” umat.

Sejak pulang dari Amerika Serikat setelah lulus PhD di bidang antropologi dari The University of Illinois pada 1990-an, mas Moeslim benar-benar menampilkan diri sebagai cendekiawan bebas. Saking seringnya saling ledek dan olok di antara kami, dia terkekeh ketika saya pernah menyebutnya secara salah sebagai “petualang intelektual” dalam pengertiannya yang positif, bukan peyoratif. Bagi kaum awam ia dikenal suka berpindah-pindah dan meloncat-loncat dari satu bidang aktivisme ke aktivisme yang lain dengan enteng-enteng saja.

Suatu saat kita menemukannya rapat sekali dengan Hariman Siregar dan Fanny Habibie dalam satu lingkaran politik. Di lain waktu, dia menjadi Pemimpin Redaksi Pelita, aktivis Partai Amanat Nasional (PAN), dan bahkan pernah maju sebagai calon ketua umumnya. Suatu saat lagi ia sangat rapat dengan Gus Dur, bahkan menjadi Majelis Syura DPP PKB dan caretaker Ketua PKB Jakarta. Hanya—ini mengherankan—Presiden Gus Dur tidak juga menunjuk orang pintar ini menjadi menterinya.

Tentang loncatan-loncatan sosial politiknya yang sulit diduga itu, dia mengatakan kepada saya bahwa “itu cuma patrol”. Maksudnya, hanya duduk-duduk dengan berbagai kalangan yang berbeda sekadar untuk mengerti bagaimana setiap kelompok bersikap tentang suatu hal. Politik di Indonesia itu, kata Mas Moeslim, cuma politik patrol. Kadang patrol ke sini, kadang patrol ke sana.

Mas Moeslim seorang pemikir sejati yang paling pas beraktivitas di bidang intelektual. Berbeda dengan Pak Malik Fadjar, yang dengan tangan dingin dan jauh dari gegap gempita berhasil menangani pendidikan, Mas Moeslim lebih tepat menjadi man of reflection daripada man of action. Maka ketika Buya Syafi’I Maarif menjadi Ketua, saya Wakil Sekretaris, dan Mas Moeslim menjadi Ketua Lembaga Tani, Buruh dan Nelayan PP Muhammadiyah, praktis tidak ada yang kongkret yang bisa kami kerjakan.

Kami memang sempat keliling ke cabang-cabang Muhammadiyah. Tetapi, kecuali pencerahan intelektualisme, tidak ada yang kongkret yang kami kerjakan di bidang tani, buruh dan nelayan. Tak mengherankan, begitu memasuki sidang tanwir di mana majelis-majelis dan lembaga harus melaporkan kegiatannya selama satu tahun untuk dievaluasi, kami suka kebingungan apa yang mesti dilaporkan. Tetapi dasar Mas Moeslim, tetap saja dia bisa berbicara panjang lebar di depan sidang tanwir itu.

Tidak demikian halnya dalam aktivitas intelektualisme: Mas Moeslim adalah sebuah fenomena, bahkan fenomena itu sendiri. Dialah sejatinya yang berada di balik Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) yang sempat menghebohkan itu, sampai ada seorang tokoh Muhammadiyah yang tega memplesetkan JIMM itu sebagai—jangan ketawa—“Jaringan Iblis Muda Muhammadiyah”! Mas Moeslim berhasil membina mereka, dari tangannya kini ada belasan anak-anak JIMM menggondol Ph.D dari berbagai universitas di Barat.

Tetapi, dasar aktivis yang suka loncat indah, Moeslim jugalah yang memperkenalkan teologi Al-Ma’un yang diadopsi dari Sang Pencerah, Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah (1912). Bayangkan, seorang pemikir justru mengkampanyekan teologi yang sangat mementingkan praksis itu.

Syahdan, pada suatu ketika, Dahlan mengajarkan S. Al-Ma’un kepada para muridnya:”Tahukah kalian siapa yang mendustakan agama itu? Pendusta agama adalah orang-orang yang menelantarkan anak-anak yatim dan tidak peduli pada orang-orang miskin. Celaka orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dalam salatnya, suka pamer (riya’), dan enggan memberikan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan.”

Uniknya, beberapa kali pengajian berikutnya, Kiai Dahlan mengulang dan mengulang lagi S.Al-Ma’un itu sampai mereka tidak tahan lagi untuk tidak protes:”Kiai, mengapa diulang-ulang terus penjelasan S.Al-Ma’un itu? Kami sudah mengerti, bahkan sudah hafal.” Dengan tenang Dahlan menjawab:”Kalian memang sudah mengerti dan memahami S.Al-Ma’un, tetapi apakah sudah kalian amalkan?” para muridnya itu terdiam seribu bahasa. Al-ilmu bi la ‘amalin ka’l-syajarati bi la tsamarin, ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah.

Mas Moeslim melakukan revitalisasi teologi Al-Ma’un dan teologi transformatif melalui Lembaga Buruh, Tani, dan Nelayan. Dengan sangat getol dia mencoba menghadirkan bidang yang masih langka di kalangan Muhammadiyah dan gerakan Islam. Mas Moeslim Abdurrahman telah memulainya. Selamat jalan, Mas…

Sunday, July 8, 2012

Kang Moeslim dan Muhammadiyah


Kompas, Senin, 09 Juli 2012

Oleh Ahmad Najib Burhani*

Juli dan Agustus 2012 ini, Kang Moeslim Abdurrahman (wafat, 6 Juli 2012) berencana mengumpulkan anak-anak didiknya yang selama beberapa tahun terakhir berdiaspora ke berbagai negara untuk menuntut ilmu. Mereka ini adalah anak-anak muda Muhammadiyah yang pada tahun 2002-2006 lalu dia kumpulkan dan bina dalam wadah JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah). Berkat motivasi dan bimbingannya, mereka bisa pergi ke Amerika, Eropa, dan Australia untuk mengambil program master atau doktor. Diantara mereka yang kini telah selesai atau hampir selesai adalah Tuti Alawiyah (PhD, Univ. Texas-Austin), Hilman Latief (PhD, Univ. Utrecht), Alpha Amirrachman (PhD, Univ. Amsterdam), Ai Fatima (PhD, Univ. Leeds), Nur Hidayah (PhD, Univ. Melbourne), Boy Pradana (PhD, NUS), Andar Nubowo (PhD, Sorbonne), dan saya sendiri (PhD, Univ. California-Santa Barbara).

Tahun ini, ketika murid-murid Kang Moeslim pulang kembali ke Indonesia, berniat bertemu dengannya, dan menghidupkan jaringan yang dulu dibangun, rupanya Kang Moeslim meninggalkan kita semua untuk menghadap sang Ilahi. Barangkali tugas Kang Moeslim sebagai orang tua dan pemberi motivasi memang sudah selesai. Anak-anaknya sudah selesai menempuh jenjang tertinggi pendidikan, sudah dewasa dan mandiri. Namun kami sebagai anak-anaknya justru ingin bertemu dengannya sebagai bentuk terima kasih atas didikannya. Tapi rupanya Kang Moeslim tidak mau menerima ungkapan syukur kami. Dia meninggalkan kami sebelum kami sempat mengucapkan terima kasih dan membalas jasa-jasanya.

Kang Moeslim dan Orang Pinggiran
Selama empat tahun dalam bimbingan dan didikan Kang Moeslim, banyak hal yang telah dia ajarkan ke kita. Diantaranya adalah tentang tiga prinsip yang harus kita pegang dan lakukan dalam mereformasi Muhammadiyah, mengubah organisasi ini dari kebekuan dan sifat konservatif-nya. Tiga hal itu adalah hermeneutika, teori sosial, dan new social movement. Berbulan-bulan kita digembleng untuk memahami dan membumikan ketiganya dalam tubuh Muhammadiyah. Tiga pilar ini juga menjadi tumpuan paradigma gerakan JIMM sehingga ada tujuan yang jelas dan terarah.

Hal lain yang Kang Moeslim wariskan ke anak-anak Muhammadiyah, dan organisasi Muhammadiyah secara umum, adalah pengembangan ‘dakwah kultural’ dan kepedulian atau advokasi kepada buruh, tani, dan nelayan. Dua bidang ini adalah wilayah yang tak banyak disentuh oleh Muhammadiyah sebelum Kang Moeslim hadir kembali ke organisasi yang berdiri 1912 ini. Muhammadiyah terlihat sebagai organisasi puritan yang tak bersahabat dengan kultur lokal di Indonesia, seperti seni/tarian tradisional dan adat-istiadat. Kang Moeslim mengajak kita semua mengapresiasi kultur lokal dan merangkulnya sebagai bagian dari Muhammadiyah.

Demikian pula dengan buruh, tani, dan nelayan. Kang Moeslim terus mengingatkan dan mengajak anak-anak Muhammadiyah bahwa doktrin al-Ma`un (Q. 107:1-7) yang ditanamkan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, adalah ditujukan untuk membebaskan orang-orang tertindas, baik secara kultural maupun struktural, seperti buruh, tani, nelayan, dan juga para pekerja seks. Semangat dan misi ini selama ini terkesan telah diabaikan oleh Muhammadiyah. Selama membimbing kami, Kang Moeslim terus-menerus menyadarkan kami akan misi kenabian ini.

Agama Minoritas dan Tertindas
Tentu tak semua pesan dan nasehat mulia Kang Moeslim bisa kita lanjutkan dan wujudkan. Saya pribadi hanya bisa menekuni satu pesan Kang Moeslim, yaitu membela, dalam konteks akademik, nasib dan hak-hak kelompok agama minoritas. Inilah salah satu alasan mengapa saya mengambil program doktor dengan keahlian tentang agama-agama minoritas pecahan dari Islam, seperti Ahmadiyah, Baha’i, Isma’ili, Yazidi, dan Druze. Nasib, hak, dan posisi mereka dalam masyarakat Muslim belakangan ini sangat memprihatinkan.

Ahmadiyah di Indonesia, misalnya, menjadi kelompok keagamaan yang paling mengalami persekusi. Menurut Setara Institute (2008), dari 265 kasus intoleransi keagamaan di tahun 2008, 193 kasus (73%) berkaitan dengan Ahmadiyah. Tren ini berlangsung terus sampai sekarang. Nasib orang-orang Ahmadi ini bahkan lebih buruk dari non-Muslim secara keseluruhan.

Di negeri ini, tak banyak sarjana yang menekuni secara akademik persoalan teologi agama-agama minoritas pecahan dari Islam itu dan kemudian melakukan pembelaan secara akademik terhadap hak-hak mereka. Mengikuti kepedulian Kang Moeslim terhadap kelompok lemah dan tertindas, saya memilih bidang ini sebagai karir akademik dan sosial. Selamat jalan Kang Moeslim dan terima kasih atas segala bimbingannya. Semoga engkau damai di sisi-Nya. Amin.
--oo0oo--

*Kandidat doktor di Universitas California-Santa Barbara dan peneliti LIPI.

Availablet at: http://cetak.kompas.com/read/2012/07/09/02044198/kang.moeslim.dan.muhammadiyah

Download PDF 

Friday, July 6, 2012

Obituari: Mas Moeslim dan Teologi Al Ma'un...

Oleh Hadjriyanto Y. Thohari
 
RMOL, Jum'at, 06 Juli 2012 , 23:39:00 WIB

KAMI sangat sedih dan sangat kehilangan dengan kepergian Mas Dr. Moeslim Abdurrahman, seorang aktivis yang luar biasa baik. Rasanya terlalu cepat orang yang sangat baik ini dipanggil Tuhan. Mengapa justru orang-orang yang sebaik Mas Moeslim yang lebih dulu dipanggil ke hadirat-Nya. Tetapi, subhanallah, Maha Suci Allah dengan segala ketentuan-Nya. Sebagai orang yang beriman, kami yakin ini jalan yg terbaik bagi dirinya untuk dapat segera beristirahat.

Mas Moeslim Abdurrahman adalah seorang putra Muhammadiyah yang sangat inklusif, yang bisa bergaul rapat dengan siapa saja. Moeslim, adalah orang yang sangat terbuka. Saking terbukanya pemikirannya sering dituding sebagai Muhammadiyah liberal.

Sejak pulang dari Amerika Serikat setelah lulus Ph.D di bidang Antropologi dari The University of Illinois pada tahun 1990-an, dia memang benar-benar menjadi petualang intelektual, berpindah-pindah dan meloncat-loncat dari satu bidang kegiatan ke bidang kegiatan yang lain, bahkan juga beberapa tahun di lapangan politik, yaitu PAN.

Mas Moeslim-lah yang membimbing anak-anak muda Muhammadiyah dengan caranya sendiri yang sangat unik dan inkonvensional. Tidak banyak yang tahu bahwa sebetulnya Mas Moeslim-lah yang berada di balik dinamika anak-anak muda Muhammadiyah yang tergabung dalam Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM).

Dia juga yg memperkenalkan paradigma "teologi Al-ma'un" yg mengambil inspirasi bagaimana KH Ahmad Dahlan dulu mengajarkan surat Al-Ma'un dalam Al-Qur'an. Teologi Al-Ma'un itu, singkatnya, merupakan pemahaman agama yang lebih mementingkan praksis dalam menyantuni orang-orang miskin dan kelompok yang terpinggirkan.

Bukan gerakan Islam yang gegap gempita yang mementingkan upacara-upacara untuk pencitraan, seperti mementingkan seremonial-sertemonial yang serba gegap gempita tapi setelah itu tidak ada bekasnya: "gone with the wind" seperti yang menjadi kecenderungan gerakan-gerakan Islam konvensional sekarang ini.
Melalui Teologi Al-Ma'un, Moeslim mencontoh Kyai Dahlan untuk tidak terlalu banyak mendalami agama tapi tidak diamalkan. Mengapa berpindah dari Surat Al-Ma'un ke surat yang lain dalam Al-Qur'an kalau isi surat Al-Ma'un yang memerintahkan menyantuni anak yatim dan orang miskin itu belum diamalkan?

Manifestasi dari keberpihakannya kepada kaum terpinggirkan tampak sekali ketika kami bersama-sama merintis pembentukan Majlis Buruh, Tani dan Nelayan PP Muhammadiyah periode 2000-2005. Dia orang yang sangat getol dan gigih baik dalam kerja-kerja intelektual maupun dalam kerja-kerja praksis memberdayakan kaum buruh, tani dan nelayan melalui gerakan Muhammadiyah.

So, Mas Moeslim bukan hanya concern pada gerakan intelektual. Melainkan juga gerakan praksis.
Kami sungguh sangat sedih dan sangat kehilangan dengan kepergian Mas Moeslim. Rasanya terlalu cepat orang yang sangat baik ini dipanggil Tuhan. [***]

Penulis adalah Wakil Ketua MPR RI

Retrieved from: http://www.rmol.co/news.php?id=69952