Muhammadiyah dan Wahhabisme selalu hangat menjadi perdebatan baik di
kalangan warga Muhammadiyah maupun umat Islam pada umumnya. Ada yang
menolak keras, dan tidak nyaman ketika
Muhammadiyah diidentikkan dengan
Wahhabi. Sebaliknya, ada yang membela bahwa Wahhabi karena memiliki spirit yang sama dengan Muhammadiyah. Kali ini redaksi
IBTimes.ID kembali
melakukan wawancara kepada Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,
yaitu Prof. Dr. M. Amin Abdullah, MA. Berikut ini adalah ulasannya:
Bagaimana pendapat Anda mengenai Wahhabisme yang selalu dikaitkan
dengan Radikalisme?
Sebenarnya, persoalan Wahhabi
sangat kompleks. Kita tidak bisa menuduh begitu saja gerakan Wahhabi sebagai
gerakan teroris ataupun pendorongnya. Satu faktor tidak bisa dijadikan sebagai
sumber untuk memberikan penilaian. Persoalan ini melibatkan banyak faktor,
seperti faktor politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Jadi, persoalannya
multifaktor.
Bukankah paham keagamaan menjadi spirit orang bertindak?
Memang paham keagamaan dapat
menjadi salah satu dari inspirasi gerakan teroris. Tetapi, di atas segalanya
itu bermuara pada
problem keadilan.
Jika persoalan belum menemukan solusi, atau keadilan belum dapat ditegakkan,
orang akan dengan mudah menjadikan agama sebagai legitimasi untuk meruntuhkan
rezim. Dalam persoalan ini, satu hal yang paling mudah dibidik adalah argumen
ketidakadilan.
Lalu apa dan bagaimana sebenarnya Wahhabi itu?
Untuk bisa mengetahui
karakteristik gerakan ini, kita perlu melihat sejarah pada abad 18, tepatnya
sebelum dan sesudah tahun 1750. Perihal konteks kelahiran Wahhabi tahun 1750,
konteks saat itu kan Kerajaan Ottoman Turki. Kita juga perlu memahami kondisi
sosial dan politik di tanah Arab pada era tersebut. Dalam sejarah Islam, awal kebangkitan kaum puritan
dimulai dari kaum Wahhabi. Kaum Wahhabi telah memengaruhi setiap gerakan
puritan di dunia Islam pada era kontemporer. Taliban dan al-Qaeda merupakan
contoh kelompok Islam yang sangat kuat dipengaruhi oleh pemikiran Wahhabi.
Dasar-dasar teologi Wahhabi dibangun oleh seorang Muhammad ibn ‘Abd
al-Wahhab. Dengan semangat puritan,
‘Abd al-Wahhab hendak membebaskan Islam dari semua perusakan yang diyakininya
telah menggerogoti Islam, seperti
tashawwuf,
tawassul,
rasionalisme, ajaran Syi’ah dan berbagai praktek inovasi
bid’ah.
Apa sebenarnya yang ingin
diperjuangkan kaum Wahhabi?
Wahhabisme memperlihatkan kebencian yang luar biasa terhadap semua bentuk
intelektualisme, mistisisme, dan sektarianisme. ‘Abd al-Wahhab sendiri gemar
membuat daftar panjang keyakinan dan perbuatan yang dinilainya munafik, yang
bila diyakini atau diamalkan akan segera mengantarkan seorang Muslim berstatus
“kafir”. Kaum Wahhabi juga
melarang penggunaan gelar penghormatan, seperti “tuan,” doktor”, “mister”, atau
“sir”. Imbuhan seperti itu adalah sebentuk penyekutuan terhadap Tuhan.
Menggunakannya bisa menjadikan seorang Muslim berstatus ”kafir”.
Kaum Wahhabi menyikapi teks-teks agama —al-Qur’an dan Sunnah— sebagai satu
instruksi manual untuk menggapai model ideal Negara Madinah yang telah dibangun
Nabi SAW. Menurut mereka, umat Islam akan terbebas dari keterbelakangan dan
keterhinaan kolektif jika mau kembali berpegang pada ajaran Tuhan karena akan
mendapatkan bantuan dan dukungan-Nya.
Kesederhanaan, ketegasan, dan absolutisme pemikiran keagamaan ‘Abd
al-Wahhab menjadikannya menarik bagi sebagian umat Islam. Tetapi, dalam
penyebarannya, Wahhabisme tidak menggunakan benderanya sendiri. Mengingat
asal-usul keyakinan Wahhabi yang marjinal, penyebaran yang bersifat masif sulit
dilaksanakan.
Lalu bagaimana bentuk
Wahhabisme di era kontemporer?
Pada era modern, Wahhabisme menyebar ke dunia Muslim di bawah bendera
Salafisme
yang berdiri pada abad ke-19. Istilah
salaf berarti “pendahulu”, dan dalam konteks
Islam, pendahulu itu merujuk pada periode Nabi, para sahabat
(salafus shalih)
,
dan
tabi’in.
Selain itu, istilah tersebut
punya makna fleksibel dan lentur serta memiliki daya tarik natural, karena
melambangkan otentisitas dan keabsahan. Istilah
salafi dimanfaatkan oleh
setiap gerakan yang menginginkan klaim
otentisitas Islam. Meskipun awalnya istilah itu dipakai kaum reformis liberal
pada awal abad ke-20, kaum Wahhabi menyebut dirinya kaum Salafi. Tetapi, hingga
tahun 1970-an, istilah ini tidak terkait dengan keyakinan Wahhabi.
Apa bedanya Salafi dan Wahhabi?
Berbeda dengan Wahhabi, Salafi
tidak membenci
tashawwuf. Para ilmuwan Salafi cenderung terlibat dalam
praktek
talfiq, yaitu memadukan beragam opini dari masa lalu demi
memunculkan pendekatan baru terhadap berbagai problematika yang muncul.
Salafisme dimotori oleh para reformis Muslim, seperti Muhammad ’Abduh,
Jamaluddin al-Afghani, Rasyid Ridha, Al-Syaukani, dan Jalalus Shan’ani, yang
dalam periode pra-modern dikumandangkan oleh Ibn Taimiyyah dan Ibn al-Qayyim
al-Jauziyyah.
Wahhabi mempunyai gerakan yang
selalu bermetamorfosa. Gerakan ini semula berhubungan dengan istana
(kekuasaan). Kasus perang Irak dan Kuwait membuat rezim Saudi Arabia ketakutan,
kemudian mengundang Amerika Serikat. Begitu juga latar belakang kemunculan
gerakan ini berkaitan dengan politik kekuasaan setempat. Dengan demikian, pola
gerakan Wahhabi sejak awal hingga sekarang sudah berbeda.
Salafi ada macam-macam. Ada faksi
dahwah, ada faksi haraki dan ada faksi jihadi. Nah, yang belakang ini yang
kermdian muncul salafi-jihadi.
Takfiri muncul
antara lain karena dokrin
al-walla’wa
al-barra’ (
loyalty and disavowal).
Loyal dan setia hanya kepada kelompok
dan golongan sendiri dan tidak setia, tidak loyal kepada orang atau golongan yang tidak segolongan
atau golongan yang berbeda.
Lalu bagaimana dengan Muhammadiyah seringkali dikaitkan dengan Wahhabi?
Latar belakang gerakan Wahhabi tentu
saja berbeda dengan Muhammadiyah. Tantangan-tantangan yang dihadapi juga
berbeda. Jika Wahhabi memiliki relasi dengan kekuasaan rezim setempat, maka
Muhammadiyah tidak seperti itu. Tantangan-tantangan yang dihadapi Muhammadiyah
di Indonesia (dulu Hindia-Belanda) juga berbeda dengan Wahhabi di Arab
Saudi.
Sebagai gerakan keagamaan, memang
benar Wahhabi adalah gerakan purifikasi. Tetapi, satu hal yang harus dicatat,
bahwa semua agama juga memiliki potensi radikalisme.
Dalam agama Kristen juga ada
gerakan purifikasi yang radikal. Demikian juga dalam Islam, ada gerakan
purifikasi seperti Wahhabi yang sangat radikal. Hanya saja, pada era modern
seperti sekarang ini, persoalannya sudah sangat kompleks, tidak cukup hanya
purifikasi.
Bagi saya inspirasi gerakan
Muhammadiyah yang mengusung semangat pemurnian Islam tidak bisa lepas dari
sejarah. Dalam konteks kesejarahan, kemungkinan adanya keterkaitan antara
berdirinya Muhammadiyah di Hindia-Belanda dengan Wahhabi di Saudi Arabia masih
membutuhkan kajian dan penelitian lebih lanjut. Sebab, dari segi lokalitas
sejarah sudah berbeda. Namun, banyak indikasi yang menunjukkan bahwa
Muhammadiyah berbeda dengan Wahhabi.
Apa bedanya Muhammadiyah dengan Wahhabi?
Muhammadiyah
mendirikan Perguruan Tinggi dengan membuka ilmu-ilmu baru. Gerakan Wahhabi
tidak seperti itu. Muhammadiyah melakukan aktivitas, seperti mendirikan Rumah
Sakit. Gerakan Wahhabi tidak pernah melakukan seperti itu. Muhammadiyah juga
mewadahi aktivitas kaum perempuan, sebut saja ‘Aisyiyah. Gerakan Wahhabi malah tidak
sampai ke situ. Artinya, Muhammadiyah tidak bisa dipersamakan begitu saja
dengan Wahhabi.
Adanya ruang
bagi pengembangan kreativitas seni, penyelenggaraan Perguruan Tinggi, pendirian
rumah sakit, dan akomodasi gerakan perempuan, menjadi indikasi bahwa secara
organisasi, gerakan Muhammadiyah berbeda dengan Wahhabi. Walaupun pada
perjalannnya, Wahab setelah
booking
minyak juga mendirikan Perguruan Tinggi di Madinah
al-Munawwarah sekitar tahun 1960an dengan pemberian beasiswa kepada
mahasiswa di seluruh dunia.
Oleh sebab
itu, seharusnya semua orang melihat gerakan Muhammadiyah dari aspek
dinamisasinya, bukan aspek purifikasinya saja. Jika dinilai dari gerakan
purifikasinya saja, Muhammadiyah tentu agak sejalan dengan Wahhabisme. Akan
tetapi, aspek ini ketika masuk wilayah budaya, maka akan menjadi masalah.
Kajian budaya membutuhkan ilmu-ilmu lain, seperti Filsafat, Sosiologi, Antropologi,
dan lain-lain. Jika budaya hanya dibenturkan dengan semangat purifikasi, maka
itu akan menjadi masalah baru. Oleh karena itu, perlu digunakan ilmu-ilmu lain
untuk mengkaji budaya.
Lalu bagaimana seharusnya sikap Muhammadiyah?
Muhammadiyah perlu terus menerus mencermati dan mewaspadai perkembangan
ini. Dalam Muhammadiyah, secara tegas disebutkan adanya aspek
“pemurnian” selain “pembaruan”, juga ada anjuran ‘
nahi mungkar’ selain
anjuran ‘
amar ma’ruf.’
Gerakan pemurnian, kalau tidak pandai mengemasnya, akan sangat mudah
beralih menjadi ‘jihad’ ideologis-kultural’ untuk menyerang realitas perkembangan sosio-historis dan
realitas perkembangan sosio-kultural keumatan Islam yang sangat kompleks dan
beraneka ragam, tidak hanya di tanah air tetapi juga di seluruh dunia Muslim.
Sedang penekanan pada sisi ‘
nahi mungkar’–dengan sedikit
mengesampingkan ‘
amar ma’ruf’–juga berpotensi terbawa arus jihad yang
menggunakan kekerasan (gerakan radikalisme agama) dalam menegakkan
perintah-perintah agama secara paksa (
coersive), dan bukannya persuasif
(
persuasive).
Sejauhmana
relevansi gerakan pemurnian Islam yang dimainkan oleh Muhammadiyah?
Dalam konteks Indonesia, ajaran
tauhid
sebagai bagian dari keadilan, semua orang pasti masih membutuhkannya. Ini salah
satu misi yang sebenarnya juga milik gerakan Wahhabi. Isu keadilan masih akan tetap
relevan. Gerakan purifikasi harus dapat menjawab persoalan sosial kekinian yang
makin kompleks. Kasus korupsi yang marak di Indonesia, misalnya, adalah bagian
dari krisis moral. Jika kasus korupsi dipahami sebagai bagian dari persoalan
agama, maka gerakan purifikasi harus dapat memberikan jawaban atas
ketidakadilan sosial ini.
Bagaimana supaya gerakan pemurnian Islam tetap relevan dengan perubahan
zaman?
Agar gerakan purifikasi tetap
relevan, perlu perjumpaan dengan ilmu-ilmu sosial yang lain. Jika tidak, maka puritanisme berpotensi
tetap bertahan di tengah kehidupan masyarakat modern yang makin kompleks. Harus
disadari, ini merupakan dialektika kehidupan yang melibatkan banyak faktor.
Harus ada dialektika antara agama, budaya lokal, dan keilmuan. Kita tidak bisa
memahami persoalan hanya sepotong, tetapi harus secara keseluruhan.
Menurut hemat saya semangat
puritanisme masih tetap relevan jika bersinergi dengan ilmu-ilmu sosial lain.
Misalnya, dalam kasus moral, semangat pemurnian dari korupsi masih dibutuhkan.
Ke depan, semangat pemurnian jelas masih dibutuhkan. Tentu saja dengan catatan,
asalkan mau berdialog dengan ilmu-ilmu kontemporer yang terus berkembang.
Reporter: Azaki Khoirudin
https://ibtimes.id/wahhabisme-dan-muhammadiyah-mengurai-titik-temu-dan-titik-beda/