Friday, November 18, 2016
104 Tahun Muhammadiyah Dan Tugas Beratnya
Koran Sindo, Edisi 19-11-2016
Ada dua ormas Islam yang dikunjungi kantor pusatnya oleh Presiden Jokowi pasca aksi besar-besaran yang dilakukan umat muslim pada 4 November 2016, yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).
Aksi besar dan masif tersebut terkait dengan dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Muhammadiyah dan NU langsung dikunjungi oleh Presiden Jokowi beberapa hari setelah aksi 411, mengisyaratkan bahwa kedua ormas tersebut adalah episentrum dan representasi genuine dari Islam Indonesia. Ada beberapa faktor yang menjadikan Muhammadiyah dan NU sebagai ormas Islam yang paling pertama dikunjungi dan dimintai pandangannya oleh Presiden Jokowi terkait kasus dugaan penistaan agama yang menyeret Ahok sebagai tersangka.
Pertama, Muhammadiyah dan NU tidak terlibat secara resmi dalam aksi besar tersebut. Hal ini menandakan Muhammadiyah dan NU menjaga jarak agar tidak ditunggangi oleh pihak-pihak yang memanfaatkan momentum aksi besar tersebut untuk kepentingan politik praktis Pilkada DKI, walaupun kedua ormas tersebut mengeluarkan sikap resmi terkait dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok.
Kedua, Muhammadiyah dan NU adalah kekuatan terbesar civil society di negeri ini dan sudah lama berkeringat merawat kebinekaan dan mencerdaskan bangsa dari sebelum kemerdekaan NKRI hingga saat ini dengan berbagai gerakan nyata dan sumbangsih pemikiran yang ber-nas untuk kemajuan bangsa. Dari mulai universitas, sekolah hingga pesantren-pesantren di pelosok negeri.
Ketiga, Muhammadiyah dan NU bukan sekadar ormas atau bahkan gerakan kagetan yang hanya merespons satu isu dan setelah itu tenggelam. Keduanya merupakan pilar bangsa dan tenda bangsa, konsisten menaungi semua golongan tanpa melihat SARA.
Sebagai contoh betapa banyak sekolah dan kampus Muhammadiyah di kawasan Indonesia bagian timur yang mayoritas siswa dan mahasiswanya bukan muslim dan Muhammadiyah tidak alergi dengan hal itu. Karena kekhasan itulah, tak heran banyak peneliti internasional yang menarik perhatiannya terhadap gerakan Muhammadiyah. Seperti Merle Ricklefs, Mitsuo Nakamura, Robert Hefner, meminjam istilah intelektual produktif Muhammadiyah Dr Najib Burhani, mereka adalah Muhammadiyanist dari luar negeri (Burhani 30:2016) Dugaan kasus penistaan yang dilakukan oleh Ahok adalah salah satu peristiwa yang menguras energi bangsa ini, betapa percakapan di media sosial hampir semua membahas kasus ini.
Saling gunjing, caci maki bahkan berujung fitnah hampir terjadi setiap hari. Padahal masih banyak persoalan dan tantangan bangsa yang harus segera diselesaikan dengan cepat, tepat, dan dengan semangat kerja sama yang baik antaranak bangsa. Bukan malah energi anak bangsa habis tanpa karya yang berarti, semua perhatian terpusat ke kasus Ahok yang membuat kita malah terkotak-kotak bersikukuh dengan argumen masing-masing.
Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asari (pendiri Muhammadiyah dan NU) tentu sangat sedih jika melihat anak bangsa ini terpecah belah dan habis energinya hanya gara-gara kasus Ahok. Seperti kata Din Syamsuddin “Jangan karena nila setitik, rusak susu sebelangga. Jangan karena satu orang, harmoni bangsa terganggu.”
Milad Muhammadiyah ke- 104 (18 November 1912-18 November 2016) ini harus dijadikan momentum untuk refleksi secara mendalam menuju langkah dan gerak ke depan, terutama untuk Angkatan Muda Muhammadiyah yang menjadi penerus, pelopor, dan pelangsung gerakan Muhammadiyah ke depan sehingga menjadi bagian penentu arah bangsa. Dalam menyikapi fenomena dewasa ini, serta tantangantantangan berat ke depan, perlu kejernihan hati dan pikiran dalam bersikap dan bergerak.
Meminjam pesan Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2015-2020, Dr Haedar Nashir, jangan sampai kita terjebak pada dunia Simulacra. Dunia simulasi rumit, bahkan dari luar terlihat gemerlap. Dengan kultur baru masyarakat cyber. Menurut Pak Haedar, dunia simulasi makin mendominasi habitus publik, dunia simulasi yang sarat rekayasa, meski boleh jadi digerakkan oleh segelintir pihak, tetapi kehadirannya dikonstruksi meluas sehingga menjadi realitas umum.
Mereka yang menentangnya dianggap ketinggalan dan siap dilindas dan di-bully tanpa ampun. Kehidupan yang minus makna akan tampak perkasa tetapi di dalamnya ringkih. Dari luar seolah digdaya, di dalamnya ringkih. Inilah dunia mata’ al-ghurur, sebagaimana digambarkan Tuhan dalam Alquran (Haedar, 2016).
Tugas Berat ke Depan
Setelah Ahok dijadikan tersangka oleh penegak hukum, hendaknya semua pihak menghormati proses hukum dan menghormati apa pun hasilnya. Karena kita negara hukum, dan sebagai warga negara yang baik adalah menaati hukum dan UUD yang berlaku. Dan, mari kita fokus untuk menghadapi tantangan besar yang dihadapi bangsa ini. Ada dua hal mendesak yang harus disikapi oleh Muhammadiyah dalam usianya yang ke- 104 tahun ini.
Pertama, tantangan bonus demografi yang semakin berat dan dekat di tengah masih maraknya radikalisme dan kekerasan di kalangan anak muda. Contoh mutakhir, pelaku penyerangan pos polisi di Kota Tangerang, pelakunya masih usia 22 tahun.
Sultan Azizah tanpa pikir panjang menyerang dan menusuk polisi yang sedang berjaga. Pun dengan pelaku bom di Samarinda yang menewaskan satu balita tak berdosa. Pelakunya, Juhanda, 32 tahun, seorang residivis teroris yang pernah melakukan teror bom buku di markas JIL pada 2011. Itu artinya saat kali pertama dia melakukan teror adalah pada usia 27 tahun.
Kedua pelaku teror di atas usianya masuk dalam kategori usia produktif. Kejadian teror bom di Samarinda juga menurut berbagai pihak merupakan kegagalan pemerintah dalam menjalankan program deradikalisasi pada para narapidana teroris.
Sebagai ormas Islam yang berhaluan moderat dengan puluhan ribu amal usaha yang bergerak di pendidikan, Muhammadiyah punya peran besar dalam menentukan dan mengoptimalkan bonus demografi, jangan sampai bonus demografi malah menjadi musibah daripada menjadi berkah untuk bangsa ini. Kedua, Muhammadiyah dalam percaturan politik global.
Dengan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat ada kekhawatiran muncul kembali Islamophobia di negara-negara Barat. Pascaperistiwa 911, betapa Islam dan umat muslim terpojok dan ditakuti oleh sebagian masyarakat Barat. Lagi-lagi bangsa ini bersyukur memiliki NU dan Muhammadiyah yang selalu siap ketika negara membutuhkan.
Para tokoh NU dan Muhammadiyah diminta oleh pemerintah melalui Kemenlu untuk menyampaikan Islam yang sesungguhnya, Islam yang damai. Islam yang rahmatan lil alamin. Diplomasi Publik yang dilakukan para tokoh Muhammadiyah dan NU di tataran internasional terbukti membuahkan hasil, sehingga Indonesia dikenal sebagai pelopor Islam moderat dan dijadikan rujukan oleh dunia sebagai bangsa yang berhasil memadukan Islam dan demokrasi.
Dua tantangan di atasakan sukar diatasi jika tidak ada sinergi yang baik di antara anak bangsa. Muhammadiyah sebagai salah satu ormas Islam tertua yang dimiliki bangsa ini diharapkan dapat menjadi pionir dalam menuntaskan persoalan-persoalan yang mengancam keutuhan bangsa. Milad ke-104 tahun Muhammadiyah adalahmomentum untuk menyikapi tantangan dan tugas berat ke depan juga sebagai bukti nyata bahwa Muhammadiyah tak henti menyinari dan membantunegeri. SelamatMilad Muhammadiyah!
FAHMI SYAHIRUL ALIM
Kader Muda Muhammadiyah, Program Manager ICIP
http://koran-sindo.com/news.php?r=1&n=1&date=2016-11-19
Ada dua ormas Islam yang dikunjungi kantor pusatnya oleh Presiden Jokowi pasca aksi besar-besaran yang dilakukan umat muslim pada 4 November 2016, yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).
Aksi besar dan masif tersebut terkait dengan dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Muhammadiyah dan NU langsung dikunjungi oleh Presiden Jokowi beberapa hari setelah aksi 411, mengisyaratkan bahwa kedua ormas tersebut adalah episentrum dan representasi genuine dari Islam Indonesia. Ada beberapa faktor yang menjadikan Muhammadiyah dan NU sebagai ormas Islam yang paling pertama dikunjungi dan dimintai pandangannya oleh Presiden Jokowi terkait kasus dugaan penistaan agama yang menyeret Ahok sebagai tersangka.
Pertama, Muhammadiyah dan NU tidak terlibat secara resmi dalam aksi besar tersebut. Hal ini menandakan Muhammadiyah dan NU menjaga jarak agar tidak ditunggangi oleh pihak-pihak yang memanfaatkan momentum aksi besar tersebut untuk kepentingan politik praktis Pilkada DKI, walaupun kedua ormas tersebut mengeluarkan sikap resmi terkait dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok.
Kedua, Muhammadiyah dan NU adalah kekuatan terbesar civil society di negeri ini dan sudah lama berkeringat merawat kebinekaan dan mencerdaskan bangsa dari sebelum kemerdekaan NKRI hingga saat ini dengan berbagai gerakan nyata dan sumbangsih pemikiran yang ber-nas untuk kemajuan bangsa. Dari mulai universitas, sekolah hingga pesantren-pesantren di pelosok negeri.
Ketiga, Muhammadiyah dan NU bukan sekadar ormas atau bahkan gerakan kagetan yang hanya merespons satu isu dan setelah itu tenggelam. Keduanya merupakan pilar bangsa dan tenda bangsa, konsisten menaungi semua golongan tanpa melihat SARA.
Sebagai contoh betapa banyak sekolah dan kampus Muhammadiyah di kawasan Indonesia bagian timur yang mayoritas siswa dan mahasiswanya bukan muslim dan Muhammadiyah tidak alergi dengan hal itu. Karena kekhasan itulah, tak heran banyak peneliti internasional yang menarik perhatiannya terhadap gerakan Muhammadiyah. Seperti Merle Ricklefs, Mitsuo Nakamura, Robert Hefner, meminjam istilah intelektual produktif Muhammadiyah Dr Najib Burhani, mereka adalah Muhammadiyanist dari luar negeri (Burhani 30:2016) Dugaan kasus penistaan yang dilakukan oleh Ahok adalah salah satu peristiwa yang menguras energi bangsa ini, betapa percakapan di media sosial hampir semua membahas kasus ini.
Saling gunjing, caci maki bahkan berujung fitnah hampir terjadi setiap hari. Padahal masih banyak persoalan dan tantangan bangsa yang harus segera diselesaikan dengan cepat, tepat, dan dengan semangat kerja sama yang baik antaranak bangsa. Bukan malah energi anak bangsa habis tanpa karya yang berarti, semua perhatian terpusat ke kasus Ahok yang membuat kita malah terkotak-kotak bersikukuh dengan argumen masing-masing.
Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asari (pendiri Muhammadiyah dan NU) tentu sangat sedih jika melihat anak bangsa ini terpecah belah dan habis energinya hanya gara-gara kasus Ahok. Seperti kata Din Syamsuddin “Jangan karena nila setitik, rusak susu sebelangga. Jangan karena satu orang, harmoni bangsa terganggu.”
Milad Muhammadiyah ke- 104 (18 November 1912-18 November 2016) ini harus dijadikan momentum untuk refleksi secara mendalam menuju langkah dan gerak ke depan, terutama untuk Angkatan Muda Muhammadiyah yang menjadi penerus, pelopor, dan pelangsung gerakan Muhammadiyah ke depan sehingga menjadi bagian penentu arah bangsa. Dalam menyikapi fenomena dewasa ini, serta tantangantantangan berat ke depan, perlu kejernihan hati dan pikiran dalam bersikap dan bergerak.
Meminjam pesan Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2015-2020, Dr Haedar Nashir, jangan sampai kita terjebak pada dunia Simulacra. Dunia simulasi rumit, bahkan dari luar terlihat gemerlap. Dengan kultur baru masyarakat cyber. Menurut Pak Haedar, dunia simulasi makin mendominasi habitus publik, dunia simulasi yang sarat rekayasa, meski boleh jadi digerakkan oleh segelintir pihak, tetapi kehadirannya dikonstruksi meluas sehingga menjadi realitas umum.
Mereka yang menentangnya dianggap ketinggalan dan siap dilindas dan di-bully tanpa ampun. Kehidupan yang minus makna akan tampak perkasa tetapi di dalamnya ringkih. Dari luar seolah digdaya, di dalamnya ringkih. Inilah dunia mata’ al-ghurur, sebagaimana digambarkan Tuhan dalam Alquran (Haedar, 2016).
Tugas Berat ke Depan
Setelah Ahok dijadikan tersangka oleh penegak hukum, hendaknya semua pihak menghormati proses hukum dan menghormati apa pun hasilnya. Karena kita negara hukum, dan sebagai warga negara yang baik adalah menaati hukum dan UUD yang berlaku. Dan, mari kita fokus untuk menghadapi tantangan besar yang dihadapi bangsa ini. Ada dua hal mendesak yang harus disikapi oleh Muhammadiyah dalam usianya yang ke- 104 tahun ini.
Pertama, tantangan bonus demografi yang semakin berat dan dekat di tengah masih maraknya radikalisme dan kekerasan di kalangan anak muda. Contoh mutakhir, pelaku penyerangan pos polisi di Kota Tangerang, pelakunya masih usia 22 tahun.
Sultan Azizah tanpa pikir panjang menyerang dan menusuk polisi yang sedang berjaga. Pun dengan pelaku bom di Samarinda yang menewaskan satu balita tak berdosa. Pelakunya, Juhanda, 32 tahun, seorang residivis teroris yang pernah melakukan teror bom buku di markas JIL pada 2011. Itu artinya saat kali pertama dia melakukan teror adalah pada usia 27 tahun.
Kedua pelaku teror di atas usianya masuk dalam kategori usia produktif. Kejadian teror bom di Samarinda juga menurut berbagai pihak merupakan kegagalan pemerintah dalam menjalankan program deradikalisasi pada para narapidana teroris.
Sebagai ormas Islam yang berhaluan moderat dengan puluhan ribu amal usaha yang bergerak di pendidikan, Muhammadiyah punya peran besar dalam menentukan dan mengoptimalkan bonus demografi, jangan sampai bonus demografi malah menjadi musibah daripada menjadi berkah untuk bangsa ini. Kedua, Muhammadiyah dalam percaturan politik global.
Dengan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat ada kekhawatiran muncul kembali Islamophobia di negara-negara Barat. Pascaperistiwa 911, betapa Islam dan umat muslim terpojok dan ditakuti oleh sebagian masyarakat Barat. Lagi-lagi bangsa ini bersyukur memiliki NU dan Muhammadiyah yang selalu siap ketika negara membutuhkan.
Para tokoh NU dan Muhammadiyah diminta oleh pemerintah melalui Kemenlu untuk menyampaikan Islam yang sesungguhnya, Islam yang damai. Islam yang rahmatan lil alamin. Diplomasi Publik yang dilakukan para tokoh Muhammadiyah dan NU di tataran internasional terbukti membuahkan hasil, sehingga Indonesia dikenal sebagai pelopor Islam moderat dan dijadikan rujukan oleh dunia sebagai bangsa yang berhasil memadukan Islam dan demokrasi.
Dua tantangan di atasakan sukar diatasi jika tidak ada sinergi yang baik di antara anak bangsa. Muhammadiyah sebagai salah satu ormas Islam tertua yang dimiliki bangsa ini diharapkan dapat menjadi pionir dalam menuntaskan persoalan-persoalan yang mengancam keutuhan bangsa. Milad ke-104 tahun Muhammadiyah adalahmomentum untuk menyikapi tantangan dan tugas berat ke depan juga sebagai bukti nyata bahwa Muhammadiyah tak henti menyinari dan membantunegeri. SelamatMilad Muhammadiyah!
FAHMI SYAHIRUL ALIM
Kader Muda Muhammadiyah, Program Manager ICIP
http://koran-sindo.com/news.php?r=1&n=1&date=2016-11-19
Sunday, November 13, 2016
Tulisan Ahmad Dahlan dalam Huruf Jawa
Tulisan Ahmad Dahlan dalam Huruf Jawa
Tulisan dalam media ini, menunjukkan sekaligus membantah jika KH Ahmad Dahlan tidak memiliki karya tulis. Tulisan yang menggunakan bahasa Jawa Ini adalah tulisan langsung yang ditulis oleh KH Ahmad Dahlan secara rutin (berkala) di majalah Soeara Moehammadijah (SM) edisi-edisi awal, pada tahun 1915. Inisial H.A.D dalam tulisan ini merupakan insial dari Haji Ahmad Dahlan yang merupakan bagian tradisi dalam penulisan nama pada masa lalu. Tulisan dan dokumentasi sejarah lainnya sangat banyak kini dimiliki dan di kelola oleh bagian pusat data dan dokumentasi Suara Muhammadiyah. Baik berupa majalah, arsip maupun foto. InsyaAllah dalam rangka Milad Muhammadiyah 104 akan dipajangkan selama 2 hari di Sportarium UMY..bagi yang memiliki data sejarah lainnya, bisa mengirimkan untuk dikelola Suara Muhammadiyah, dan sekaligus mengundang untuk menghadiri acara tersebut.
November 13 · :
Tulisan dalam media ini, menunjukkan sekaligus membantah jika KH Ahmad Dahlan tidak memiliki karya tulis. Tulisan yang menggunakan bahasa Jawa Ini adalah tulisan langsung yang ditulis oleh KH Ahmad Dahlan secara rutin (berkala) di majalah Soeara Moehammadijah (SM) edisi-edisi awal, pada tahun 1915. Inisial H.A.D dalam tulisan ini merupakan insial dari Haji Ahmad Dahlan yang merupakan bagian tradisi dalam penulisan nama pada masa lalu. Tulisan dan dokumentasi sejarah lainnya sangat banyak kini dimiliki dan di kelola oleh bagian pusat data dan dokumentasi Suara Muhammadiyah. Baik berupa majalah, arsip maupun foto. InsyaAllah dalam rangka Milad Muhammadiyah 104 akan dipajangkan selama 2 hari di Sportarium UMY..bagi yang memiliki data sejarah lainnya, bisa mengirimkan untuk dikelola Suara Muhammadiyah, dan sekaligus mengundang untuk menghadiri acara tersebut.
Wednesday, July 27, 2016
Muhadjir Effendy, Mendikbud Baru, Sosok Intelektual Muslim yang Paham Militer
By marksman - July 27, 2016
Presiden Jokowi telah mengumumkan nama-nama menteri baru hasil reshuffle kabinet. Salah satunya adalah Muhadjir Effendy yang menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menggantikan Anies Baswedan.
Jokowi mengumumkan nama Muhadjir Effendy sebagai Mendikbud baru di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (27/7).
![]() |
| Muhadjir Effendy, Sosok rektor UMM yang dikenal dekat dengan mahasiswa. |
Menteri Sekretaris Negara Pratikno dalam pembacaan biografi menuturkan, Muhadjir memiliki rekam jejak yang panjang di bidang pendidikan. Beberapa kali menjadi rektor Universitas Muhammadiyah Malang, menjadi Ketua PP Muhammadiyah bidang pendidikan kebudayaan dan litbang sampai sekarang.
“Beliau berpengalaman sekaligus membangun fondasi penting dalam berbagai lembaga. Bukan hanya bidang pendidikan tinggi, Beliau juga memimpin pendidikan dan kebudayaan di segala bidang. Jadi sudah sangat berpengalaman mengelola bidang pendidikan dan kebudayaan,” ucap Pratikno.
Dikutip dari www.umm.ac.id, Muhadjir Effendy merupakan seorang sosiolog yang ahli di bidang militer dan sekaligus sebagai intelektual muslim. Rektor kelima Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini mengawali kariernya di UMM sebagai karyawan honorer, dosen, dan kemudian mulai menjabat sebagai Pembantu Rektor III sejak tahun 1984 pada saat rektor dijabat oleh Malik Fadjar.
Selain mengabdi di bidang pendidikan, Muhadjir juga dikenal sebagai seorang kolumnis yang banyak menyoroti masalah agama, pendidikan, sosial, politik dan juga tentang kemiliteran. Kemampuannya menulis esai didasari oleh pengalaman sewaktu mahasiswa sebagai seorang wartawan yang membidani lahirnya ‘Komunikasi’, koran kampus di tempatnya kuliah dan mengajar dan koran kampus Bestari di UMM.
![]() |
| Muhadjir Effendy, sosok sederhana pekerja keras yang meniti karir dari bawah mulai dari karyawan honorer hingga menjadi rektor. |
Kegiatan sosial banyak dilakukan dengan perannya sebagai pengurus Muhammadiyah mulai tingkat ranting hingga PP Muhammadiyah. Selain itu juga dipercaya menjadi salah satu anggota Badan Narkotika Nasional (BNN), Pendekar Tapak Suci, Pengurus HMI, Dewan Penasihat Asosiasi Wartawan Indonesia wilayah Malang Raya, dan bahkan sempat mengabdikan di bidang politik sebagai salah satu Ketua di Dewan Pakar Golkar daerah Malang.
Muhadjir Effendy dilahirkan di Madiun pada 29 Juli 1956. Ia merupakan putra ke-6 dari 9 bersaudara dari Soeroja dan Ibu Sri Soebita. Setelah menempuh pendidikan formal mulai SD hingga PGAN 6 tahun di daerah asalnya, Muhadjir kemudian melanjutkan kuliah di IAIN Malang dan memperoleh gelar Sarjana Muda (BA) tahun 1978. Lalu dia menyelesaikan studi dan memperoleh gelar sarjana di IKIP Negeri Malang (sekarang UM) tahun 1982.
Pendidikan strata 2 diselesaikan di Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada dan memperoleh gelar Magister Administrasi Publik (MAP) tahun 1996. Tahun 2008, Muhadjir berhasil menyelesaikan pendidikan strata 3 pada Jurusan Ilmu-ilmu Sosial dan memperoleh gelar doktor bidang sosiologi militer di Program Doktor Universitas Airlangga. Selain pendidikan formal, dia juga beberapa kali mengikuti kursus di luar negeri, antara lain di National Defence University, Washington DC (1993) dan di Victoria University, British Columbia, Canada (1991).
Semasa kuliah, Muhadjir menekuni profesi sebagai wartawan di beberapa koran, antara lain: Komunikasi (koran kampus IKIP Malang) sejak tahun 1982, koran Bestari UMM (1986), majalah Semesta Surabaya (1979-1980), koran Warta Mahasiswa (Dirjen Dikti) 1978-1982, koran Mimbar Univ. Brawijaya (1978-1980), dan Mingguan Mahasiswa (Surabaya) pada tahun 1978. Hingga sekarang, dia masih aktif menulis berbagai artikel di beberapa koran lokal, regional.
![]() |
| Muhadjir Effendy, Sosok Intelektual Muslim yang pernah menjadi seorang jurnalis. |
Muhadjir juga sudah menulis banyak buku, antara lain: Dunia Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan bersama Prof HA Malik Fadjar, MSc (1989), Bunga Rampai Pendidikan (1992), Masyarakat Ekuilibrium: Meniti Perubahan dalam Bingkai Keseimbangan (2002), Pedagogi Kemanusiaan: Sebuah Refleksi (2004), Profesionalisme Militer: Profesionalisme TNI (2008), dan lain-lain. Pada buku terakhirnya ini, Muhadjir menguraikan tentang profesionalisme militer, khususnya TNI, setelah era Reformasi.
Muhadjir Effendy yang menikah dengan Suryan Widati, dosen Poltek Negeri Malang, kini dikaruniai dua putra: Muktam Roya Azidan yang lahir pada 9 Maret 2005 dan Senoshaumi Hably lahir 9 Oktober 2006.
Berikut Biodata singkat Muhadjir Effendy :
Tempat/ Tanggal Lahir : Madiun, 29 Juli 1956
Profesi/ Status : Pegawai Negeri Sipil, Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang
Nama Istri : Suryan Widati, SE, MSA, Ak, CA.
Nama Anak 1. Muktam Roya Azidan 2. Senoshaumi Hably 3. Harbantyo Ken Najjar Pendidikan Terakhir
Pendidikan
Menyelesaikan SD hingga PGAN di Madiun
Perguruan Tinggi
1. S-3, Ilmu-Ilmu Sosial Pascasarjana, Universitas Airlangga, Surabaya, Lulus tahun 2008.
2. S-2, Magister Adminsitrasi Publik (MAP), UGM Lulus tahun 1996.
3. Sarjana Pendidikan Sosial Institut Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Malang (Sekarang Universitas Negeri Malang).
4. Sarjana Muda, Fak. Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Malang (Sekarang Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang).
Kursus
1. National Defence University, Washington DC (1993)
2. Victoria University, British Columbia, Canada (1991)
Pengalaman kerja di bidang Jurnalistik
1. Komunikasi (koran kampus IKIP Malang) sejak tahun 1982.
2. Koran Bestari UMM (1986).
3. Majalah Semesta Surabaya (1979-1980).
4. Koran Warta Mahasiswa (Dirjen Dikti) 1978-1982.
5. Koran Mimbar Univ. Brawijaya (1978-1980).
6. Mingguan Mahasiswa (Surabaya) pada tahun 1978.
Sumber : liputan6.com dan republika.co.id
Retrieved from: http://jakartagreater.com/muhadjir-effendy-mendikbud-baru-sosok-intelektual-muslim-yang-paham-militer/
Friday, July 15, 2016
Benturan antara NU dan Muhammadiyah
Koran Sindo, 15 Juli 2016
Selama ini keberadaan NU dan Muhammadiyah sering dianggap seperti dua sayap burung; jika satu tidak berfungsi, maka burung itu tidak akan bisa terbang sama sekali. Berbagai analisa (Pepinsky 2012; Carnegie 2013) juga menyebutkan bahwa transisi demokrasi di negara Muslim terbesar di dunia ini bisa berhasil karena peran dua ormas Islam ini dalam menyeimbangkan demokrasi; membendung kelompok Islamist dan mengerem laju sekularisme dan liberalisme . Beberapa tulisan bahkan menyebutkan hubungan kekerabatan dan pertemanan antara pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, dan pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari. Dua slogan yang dikembangkan oleh dua gerakan itu, yakni "Islam Nusantara" dan "Islam Berkemajuan", juga dinilai saling melengkapi atau lebih tepatnya bisa disingkat menjadi "Islam Nusantara yang Berkemajuan".
Namun beberapa kasus yang terjadi belakangan ini seakan membuka mata bahwa dua organisasi itu kadang memandang satu sama lain bukan sebagai komplementari, yang masing-masing perlu ada untuk saling melengkapi, tapi lebih sebagai saingan jahat yang mesti dimusnahkan. Kasus Rumah Sakit Islam Purwokerto; pendirian fakultas kedokteran di perguruan tinggi yang berafiliasi kepada dua ormas itu; pemilihan rektor UIN Yogyakarta yang terefleksikan dalam hujatan keras dari Nurkholik Ridwan terhadap Buya Ahmad Syafii Maarif di media sosial; saling sikut dan tendang di beberapa kementerian, terutama di institusi-institusi dibawah kementerian agama; Saling kritik dan kecam mengenai Hari Santri; mengambil posisi yang saling berhadapan dalam kasus Siyono; saling meledek slogan "Islam Nusantara" dan "Islam Berkemajuan", sering tak kompromi dalam kasus hisab & ru’yah penentuan awal Ramadhan dan Idul Fitri, dan seterusnya. Yang lebih menyedihkan kedua organisasi itu kini memiliki banyak provokator yang suka memperkeruh suasana dan menari-menari ketika keduanya saling memusuhi.
Apakah fenomena ini merupakan kelanjutan dari penyebaran rasa benci terhadap orang lain yang mewabah pada sebagian masyarakat yang oleh Martin van Bruinessen (2013) disebut "Conservative Turn"? Apakah ini konsekuensi lanjutan yang tidak disadari ketika kita memulainya dengan membenci Ahmadiyah, dilanjutkan dengan permusuhan dengan Syi'ah, dan kemudian antara NU dan Muhammadiyah? Ataukan ini semacam sibling rivalry dalam keluarga Islam? Apakah ini sebagai kepanjangan dari politik nasional dan persaingan antar partai politik dan berimbas pada ranah organisasi massa?
Geneologi dari kompetisi dan persaingan antara NU dan Muhammadiyah memang telah dimulai sejak kedua organisai itu masih dalam bentuk embrio, ketika KH Ahmad Dahlan mulai memperkenalkan gagasan-gagasan keislamannya. Konflik pada periode awal sering disebut sebagai proses pembentukan ortodoksi (construction of orthodoxy), yaitu klaim sebagai yang paling benar dan absah dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Makanya, periode ini ditandai dengan sikap saling mengkafirkan antara NU dan Muhammadiyah. KH Ahmad Dahlan dituduh "Kristen Putih" dan kafir, sementara pengikut tradisi NU dituduh pengamal takhayul, bid'ah, dan khurafat. Konflik pada periode ini bisa dikatakan bersifat sektarian dan ideologis.
Meski isu ortodoksi ini tidak sepenuhnya hilang dan dalam beberapa kasus masih sering mengemuka kembali, namun pengikut kedua ormas ini lebih banyak memiliki kesadaran bahwa Muhammadiyah dan NU adalah sama-sama ortodok, yakni benar dan absah dalam Islam (sharing orthodoxy). Yang satu mengambil ortodoksi berdasarkan referensi kepada Al-Qur'an dan sunnah (orthodoxy based on scripture), sementara yang lain disebut ortodok karena mengacu kepada tradisi dan kitab yang selama ini banyak dipegangi oleh umat Islam (orthodoxy based on consensus).
Setelah masa awal itu, kedua organisasi itu mengalami persaingan kembali ketika terjadi pembentukan Komite Hijaz dan Komite Khilafah tahun 1920an. Konflik ini merupakan gabungan antara isu pertarungan ideologi keislaman tertentu dan politik kekhilafahan; warna keislaman seperti apa yang diterapkan di dunia Islam, terutama di Mekah dan Madinah, dan siapa yang berhak mewakili dan mengatasnamakan umat Islam Indonesia. Konflik inilah yang menjadi pemicu utama pendirian NU secara resmi sebagai organisasi masyarakat tahun 1926.
Konflik kembali muncul dalam tubuh Partai Masyumi ketika Muhammadiyah menjadi anggota istimewa dan NU seperti tak terwakili meski merasa memiliki suara yang sangat besar. Warna politik lebih kental daripada isu ideologis dalam konflik antara NU dan Muhammadiyah tahun 1950 dan 1960an ini. Konflik inilah yang menjadi alasan pendirian Partai NU yang memisahkan diri dari Masyumi. Rasa saling tidak suka antara sebagian warga NU dan Muhammadiyah kembali terungkit dalam kasus penurunan Gus Dur dari posisi presiden oleh MPR yang ketika itu dipimpin oleh Amien Rais. Setelah sebelumnya dua organisasi ini seperti bergandengan tangan dalam politik nasional dan mendukung Gus Dur menjadi presiden, tiba-tiba bersitegang dan seperti saling menjatuhkan.
Jika pada benturan sebelumnya banyak diwarnai isu ideologi dan politik, konflik yang sekarang ini terjadi antara dua ormas itu lebih banyak diwarnai oleh isu ekonomi; posisi presiden, jatah menteri, posisi rektor, fakultas kedokteran, aset rumah sakit, proyek Kemenag, dan seterusnya. Mana yang lebih parah dari berbagai konflik di atas? Hingga saat ini sepertinya tidak ada yang pernah membahas atau menuliskannya. Berbagai konflik itu selesai dengan sendirinya atau berkat kedewasaan warga dan pimpinan NU dan Muhammadiyah. Yang patut dikhawatirkan adalah jika berbagai benturan yang saat ini terjadi tak segera selesai atau bahkan sebaliknya terus berkembang. Apa yang awalnya merupakan perebutan harta benda bisa berubah menjadi konflik sosial yang berbasis sektarianisme, seperti kasus Syi'ah Sampang.
Dua organisasi itu sama-sama gigih mengembangkan apa yang disebut sebagai ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia). Karena itu, harapannya, saling menyayangi, melindungi, dan mengasihi bisa terjadi pada tiga level tersebut; tidak hanya dengan umat yang berbeda agama dan negara, tapi juga yang seagama dan senegara.
AHMAD NAJIB BURHANI
Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=1&n=0&date=2016-07-15
Selama ini keberadaan NU dan Muhammadiyah sering dianggap seperti dua sayap burung; jika satu tidak berfungsi, maka burung itu tidak akan bisa terbang sama sekali. Berbagai analisa (Pepinsky 2012; Carnegie 2013) juga menyebutkan bahwa transisi demokrasi di negara Muslim terbesar di dunia ini bisa berhasil karena peran dua ormas Islam ini dalam menyeimbangkan demokrasi; membendung kelompok Islamist dan mengerem laju sekularisme dan liberalisme . Beberapa tulisan bahkan menyebutkan hubungan kekerabatan dan pertemanan antara pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, dan pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari. Dua slogan yang dikembangkan oleh dua gerakan itu, yakni "Islam Nusantara" dan "Islam Berkemajuan", juga dinilai saling melengkapi atau lebih tepatnya bisa disingkat menjadi "Islam Nusantara yang Berkemajuan".
Namun beberapa kasus yang terjadi belakangan ini seakan membuka mata bahwa dua organisasi itu kadang memandang satu sama lain bukan sebagai komplementari, yang masing-masing perlu ada untuk saling melengkapi, tapi lebih sebagai saingan jahat yang mesti dimusnahkan. Kasus Rumah Sakit Islam Purwokerto; pendirian fakultas kedokteran di perguruan tinggi yang berafiliasi kepada dua ormas itu; pemilihan rektor UIN Yogyakarta yang terefleksikan dalam hujatan keras dari Nurkholik Ridwan terhadap Buya Ahmad Syafii Maarif di media sosial; saling sikut dan tendang di beberapa kementerian, terutama di institusi-institusi dibawah kementerian agama; Saling kritik dan kecam mengenai Hari Santri; mengambil posisi yang saling berhadapan dalam kasus Siyono; saling meledek slogan "Islam Nusantara" dan "Islam Berkemajuan", sering tak kompromi dalam kasus hisab & ru’yah penentuan awal Ramadhan dan Idul Fitri, dan seterusnya. Yang lebih menyedihkan kedua organisasi itu kini memiliki banyak provokator yang suka memperkeruh suasana dan menari-menari ketika keduanya saling memusuhi.
Apakah fenomena ini merupakan kelanjutan dari penyebaran rasa benci terhadap orang lain yang mewabah pada sebagian masyarakat yang oleh Martin van Bruinessen (2013) disebut "Conservative Turn"? Apakah ini konsekuensi lanjutan yang tidak disadari ketika kita memulainya dengan membenci Ahmadiyah, dilanjutkan dengan permusuhan dengan Syi'ah, dan kemudian antara NU dan Muhammadiyah? Ataukan ini semacam sibling rivalry dalam keluarga Islam? Apakah ini sebagai kepanjangan dari politik nasional dan persaingan antar partai politik dan berimbas pada ranah organisasi massa?
Geneologi dari kompetisi dan persaingan antara NU dan Muhammadiyah memang telah dimulai sejak kedua organisai itu masih dalam bentuk embrio, ketika KH Ahmad Dahlan mulai memperkenalkan gagasan-gagasan keislamannya. Konflik pada periode awal sering disebut sebagai proses pembentukan ortodoksi (construction of orthodoxy), yaitu klaim sebagai yang paling benar dan absah dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Makanya, periode ini ditandai dengan sikap saling mengkafirkan antara NU dan Muhammadiyah. KH Ahmad Dahlan dituduh "Kristen Putih" dan kafir, sementara pengikut tradisi NU dituduh pengamal takhayul, bid'ah, dan khurafat. Konflik pada periode ini bisa dikatakan bersifat sektarian dan ideologis.
Meski isu ortodoksi ini tidak sepenuhnya hilang dan dalam beberapa kasus masih sering mengemuka kembali, namun pengikut kedua ormas ini lebih banyak memiliki kesadaran bahwa Muhammadiyah dan NU adalah sama-sama ortodok, yakni benar dan absah dalam Islam (sharing orthodoxy). Yang satu mengambil ortodoksi berdasarkan referensi kepada Al-Qur'an dan sunnah (orthodoxy based on scripture), sementara yang lain disebut ortodok karena mengacu kepada tradisi dan kitab yang selama ini banyak dipegangi oleh umat Islam (orthodoxy based on consensus).
Setelah masa awal itu, kedua organisasi itu mengalami persaingan kembali ketika terjadi pembentukan Komite Hijaz dan Komite Khilafah tahun 1920an. Konflik ini merupakan gabungan antara isu pertarungan ideologi keislaman tertentu dan politik kekhilafahan; warna keislaman seperti apa yang diterapkan di dunia Islam, terutama di Mekah dan Madinah, dan siapa yang berhak mewakili dan mengatasnamakan umat Islam Indonesia. Konflik inilah yang menjadi pemicu utama pendirian NU secara resmi sebagai organisasi masyarakat tahun 1926.
Konflik kembali muncul dalam tubuh Partai Masyumi ketika Muhammadiyah menjadi anggota istimewa dan NU seperti tak terwakili meski merasa memiliki suara yang sangat besar. Warna politik lebih kental daripada isu ideologis dalam konflik antara NU dan Muhammadiyah tahun 1950 dan 1960an ini. Konflik inilah yang menjadi alasan pendirian Partai NU yang memisahkan diri dari Masyumi. Rasa saling tidak suka antara sebagian warga NU dan Muhammadiyah kembali terungkit dalam kasus penurunan Gus Dur dari posisi presiden oleh MPR yang ketika itu dipimpin oleh Amien Rais. Setelah sebelumnya dua organisasi ini seperti bergandengan tangan dalam politik nasional dan mendukung Gus Dur menjadi presiden, tiba-tiba bersitegang dan seperti saling menjatuhkan.
Jika pada benturan sebelumnya banyak diwarnai isu ideologi dan politik, konflik yang sekarang ini terjadi antara dua ormas itu lebih banyak diwarnai oleh isu ekonomi; posisi presiden, jatah menteri, posisi rektor, fakultas kedokteran, aset rumah sakit, proyek Kemenag, dan seterusnya. Mana yang lebih parah dari berbagai konflik di atas? Hingga saat ini sepertinya tidak ada yang pernah membahas atau menuliskannya. Berbagai konflik itu selesai dengan sendirinya atau berkat kedewasaan warga dan pimpinan NU dan Muhammadiyah. Yang patut dikhawatirkan adalah jika berbagai benturan yang saat ini terjadi tak segera selesai atau bahkan sebaliknya terus berkembang. Apa yang awalnya merupakan perebutan harta benda bisa berubah menjadi konflik sosial yang berbasis sektarianisme, seperti kasus Syi'ah Sampang.
Dua organisasi itu sama-sama gigih mengembangkan apa yang disebut sebagai ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia). Karena itu, harapannya, saling menyayangi, melindungi, dan mengasihi bisa terjadi pada tiga level tersebut; tidak hanya dengan umat yang berbeda agama dan negara, tapi juga yang seagama dan senegara.
AHMAD NAJIB BURHANI
Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=1&n=0&date=2016-07-15
Friday, July 1, 2016
Thursday, June 30, 2016
Subscribe to:
Comments (Atom)













orcid.org/0000-0002-0333-8344