Wednesday, July 27, 2016

Muhadjir Effendy, Mendikbud Baru, Sosok Intelektual Muslim yang Paham Militer


By marksman - July 27, 2016

Presiden Jokowi telah mengumumkan nama-nama menteri baru hasil reshuffle kabinet. Salah satunya adalah Muhadjir Effendy yang menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menggantikan Anies Baswedan.
Jokowi mengumumkan nama Muhadjir Effendy sebagai Mendikbud baru di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (27/7).

Muhadjir Effendy, Sosok rektor UMM yang dikenal dekat dengan mahasiswa.

Menteri Sekretaris Negara Pratikno dalam pembacaan biografi menuturkan, Muhadjir memiliki rekam jejak yang panjang di bidang pendidikan. Beberapa kali menjadi rektor Universitas Muhammadiyah Malang, menjadi Ketua PP Muhammadiyah bidang pendidikan kebudayaan dan litbang sampai sekarang.

“Beliau berpengalaman sekaligus membangun fondasi penting dalam berbagai lembaga. Bukan hanya bidang pendidikan tinggi, Beliau juga memimpin pendidikan dan kebudayaan di segala bidang. Jadi sudah sangat berpengalaman mengelola bidang pendidikan dan kebudayaan,” ucap Pratikno.

Dikutip dari www.umm.ac.id, Muhadjir Effendy merupakan seorang sosiolog yang ahli di bidang militer dan sekaligus sebagai intelektual muslim. Rektor kelima Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini mengawali kariernya di UMM sebagai karyawan honorer, dosen, dan kemudian mulai menjabat sebagai Pembantu Rektor III sejak tahun 1984 pada saat rektor dijabat oleh Malik Fadjar.

Selain mengabdi di bidang pendidikan, Muhadjir juga dikenal sebagai seorang kolumnis yang banyak menyoroti masalah agama, pendidikan, sosial, politik dan juga tentang kemiliteran. Kemampuannya menulis esai didasari oleh pengalaman sewaktu mahasiswa sebagai seorang wartawan yang membidani lahirnya ‘Komunikasi’, koran kampus di tempatnya kuliah dan mengajar dan koran kampus Bestari di UMM.

Muhadjir Effendy, sosok sederhana pekerja keras yang meniti karir dari bawah mulai dari karyawan honorer hingga menjadi rektor.



Kegiatan sosial banyak dilakukan dengan perannya sebagai pengurus Muhammadiyah mulai tingkat ranting hingga PP Muhammadiyah. Selain itu juga dipercaya menjadi salah satu anggota Badan Narkotika Nasional (BNN), Pendekar Tapak Suci, Pengurus HMI, Dewan Penasihat Asosiasi Wartawan Indonesia wilayah Malang Raya, dan bahkan sempat mengabdikan di bidang politik sebagai salah satu Ketua di Dewan Pakar Golkar daerah Malang.

Muhadjir Effendy dilahirkan di Madiun pada 29 Juli 1956. Ia merupakan putra ke-6 dari 9 bersaudara dari Soeroja dan Ibu Sri Soebita. Setelah menempuh pendidikan formal mulai SD hingga PGAN 6 tahun di daerah asalnya, Muhadjir kemudian melanjutkan kuliah di IAIN Malang dan memperoleh gelar Sarjana Muda (BA) tahun 1978. Lalu dia menyelesaikan studi dan memperoleh gelar sarjana di IKIP Negeri Malang (sekarang UM) tahun 1982.

Pendidikan strata 2 diselesaikan di Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada dan memperoleh gelar Magister Administrasi Publik (MAP) tahun 1996. Tahun 2008, Muhadjir berhasil menyelesaikan pendidikan strata 3 pada Jurusan Ilmu-ilmu Sosial dan memperoleh gelar doktor bidang sosiologi militer di Program Doktor Universitas Airlangga. Selain pendidikan formal, dia juga beberapa kali mengikuti kursus di luar negeri, antara lain di National Defence University, Washington DC (1993) dan di Victoria University, British Columbia, Canada (1991).

Semasa kuliah, Muhadjir menekuni profesi sebagai wartawan di beberapa koran, antara lain: Komunikasi (koran kampus IKIP Malang) sejak tahun 1982, koran Bestari UMM (1986), majalah Semesta Surabaya (1979-1980), koran Warta Mahasiswa (Dirjen Dikti) 1978-1982, koran Mimbar Univ. Brawijaya (1978-1980), dan Mingguan Mahasiswa (Surabaya) pada tahun 1978. Hingga sekarang, dia masih aktif menulis berbagai artikel di beberapa koran lokal, regional.

Muhadjir Effendy, Sosok Intelektual Muslim yang pernah menjadi seorang jurnalis.



Muhadjir juga sudah menulis banyak buku, antara lain: Dunia Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan bersama Prof HA Malik Fadjar, MSc (1989), Bunga Rampai Pendidikan (1992), Masyarakat Ekuilibrium: Meniti Perubahan dalam Bingkai Keseimbangan (2002), Pedagogi Kemanusiaan: Sebuah Refleksi (2004), Profesionalisme Militer: Profesionalisme TNI (2008), dan lain-lain. Pada buku terakhirnya ini, Muhadjir menguraikan tentang profesionalisme militer, khususnya TNI, setelah era Reformasi.

Muhadjir Effendy yang menikah dengan Suryan Widati, dosen Poltek Negeri Malang, kini dikaruniai dua putra: Muktam Roya Azidan yang lahir pada 9 Maret 2005 dan Senoshaumi Hably lahir 9 Oktober 2006.

Berikut Biodata singkat Muhadjir Effendy :
Tempat/ Tanggal Lahir : Madiun, 29 Juli 1956
Profesi/ Status : Pegawai Negeri Sipil, Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang
Nama Istri : Suryan Widati, SE, MSA, Ak, CA.
Nama Anak 1. Muktam Roya Azidan 2. Senoshaumi Hably 3. Harbantyo Ken Najjar Pendidikan Terakhir
Pendidikan
Menyelesaikan SD hingga PGAN di Madiun

Perguruan Tinggi
1. S-3, Ilmu-Ilmu Sosial Pascasarjana, Universitas Airlangga, Surabaya, Lulus tahun 2008.
2. S-2, Magister Adminsitrasi Publik (MAP), UGM Lulus tahun 1996.
3. Sarjana Pendidikan Sosial Institut Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Malang (Sekarang Universitas Negeri Malang).
4. Sarjana Muda, Fak. Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Malang (Sekarang Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang).

Kursus
1. National Defence University, Washington DC (1993)
2. Victoria University, British Columbia, Canada (1991)

Pengalaman kerja di bidang Jurnalistik
1. Komunikasi (koran kampus IKIP Malang) sejak tahun 1982.
2. Koran Bestari UMM (1986).
3. Majalah Semesta Surabaya (1979-1980).
4. Koran Warta Mahasiswa (Dirjen Dikti) 1978-1982.
5. Koran Mimbar Univ. Brawijaya (1978-1980).
6. Mingguan Mahasiswa (Surabaya) pada tahun 1978.

Sumber : liputan6.com dan republika.co.id

Retrieved from: http://jakartagreater.com/muhadjir-effendy-mendikbud-baru-sosok-intelektual-muslim-yang-paham-militer/

Friday, July 15, 2016

Benturan antara NU dan Muhammadiyah

Koran Sindo, 15 Juli 2016

Selama ini keberadaan NU dan Muhammadiyah sering dianggap seperti dua sayap burung; jika satu tidak berfungsi, maka burung itu tidak akan bisa terbang sama sekali. Berbagai analisa (Pepinsky 2012; Carnegie 2013) juga menyebutkan bahwa transisi demokrasi di negara Muslim terbesar di dunia ini bisa berhasil karena peran dua ormas Islam ini dalam menyeimbangkan demokrasi; membendung kelompok Islamist dan mengerem laju sekularisme dan liberalisme . Beberapa tulisan bahkan menyebutkan hubungan kekerabatan dan pertemanan antara pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, dan pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari. Dua slogan yang dikembangkan oleh dua gerakan itu, yakni "Islam Nusantara" dan "Islam Berkemajuan", juga dinilai saling melengkapi atau lebih tepatnya bisa disingkat menjadi "Islam Nusantara yang Berkemajuan".

Namun beberapa kasus yang terjadi belakangan ini seakan membuka mata bahwa dua organisasi itu kadang memandang satu sama lain bukan sebagai komplementari, yang masing-masing perlu ada untuk saling melengkapi, tapi lebih sebagai saingan jahat yang mesti dimusnahkan. Kasus Rumah Sakit Islam Purwokerto; pendirian fakultas kedokteran di perguruan tinggi yang berafiliasi kepada dua ormas itu; pemilihan rektor UIN Yogyakarta yang terefleksikan dalam hujatan keras dari Nurkholik Ridwan terhadap Buya Ahmad Syafii Maarif di media sosial; saling sikut dan tendang di beberapa kementerian, terutama di institusi-institusi dibawah kementerian agama; Saling kritik dan kecam mengenai Hari Santri; mengambil posisi yang saling berhadapan dalam kasus Siyono; saling meledek slogan "Islam Nusantara" dan "Islam Berkemajuan", sering tak kompromi dalam kasus hisab & ru’yah penentuan awal Ramadhan dan Idul Fitri, dan seterusnya. Yang lebih menyedihkan kedua organisasi itu kini memiliki banyak provokator yang suka memperkeruh suasana dan menari-menari ketika keduanya saling memusuhi.

Apakah fenomena ini merupakan kelanjutan dari penyebaran rasa benci terhadap orang lain yang mewabah pada sebagian masyarakat yang oleh Martin van Bruinessen (2013) disebut "Conservative Turn"? Apakah ini konsekuensi lanjutan yang tidak disadari ketika kita memulainya dengan membenci Ahmadiyah, dilanjutkan dengan permusuhan dengan Syi'ah, dan kemudian antara NU dan Muhammadiyah? Ataukan ini semacam sibling rivalry dalam keluarga Islam? Apakah ini sebagai kepanjangan dari politik nasional dan persaingan antar partai politik dan berimbas pada ranah organisasi massa?

Geneologi dari kompetisi dan persaingan antara NU dan Muhammadiyah memang telah dimulai sejak kedua organisai itu masih dalam bentuk embrio, ketika KH Ahmad Dahlan mulai memperkenalkan gagasan-gagasan keislamannya. Konflik pada periode awal sering disebut sebagai proses pembentukan ortodoksi (construction of orthodoxy), yaitu klaim sebagai yang paling benar dan absah dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Makanya, periode ini ditandai dengan sikap saling mengkafirkan antara NU dan Muhammadiyah. KH Ahmad Dahlan dituduh "Kristen Putih" dan kafir, sementara pengikut tradisi NU dituduh pengamal takhayul, bid'ah, dan khurafat. Konflik pada periode ini bisa dikatakan bersifat sektarian dan ideologis.

Meski isu ortodoksi ini tidak sepenuhnya hilang dan dalam beberapa kasus masih sering mengemuka kembali, namun pengikut kedua ormas ini lebih banyak memiliki kesadaran bahwa Muhammadiyah dan NU adalah sama-sama ortodok, yakni benar dan absah dalam Islam (sharing orthodoxy). Yang satu mengambil ortodoksi berdasarkan referensi kepada Al-Qur'an dan sunnah (orthodoxy based on scripture), sementara yang lain disebut ortodok karena mengacu kepada tradisi dan kitab yang selama ini banyak dipegangi oleh umat Islam (orthodoxy based on consensus).  

Setelah masa awal itu, kedua organisasi itu mengalami persaingan kembali ketika terjadi pembentukan Komite Hijaz dan Komite Khilafah tahun 1920an. Konflik ini merupakan gabungan antara isu pertarungan ideologi keislaman tertentu dan politik kekhilafahan; warna keislaman seperti apa yang diterapkan di dunia Islam, terutama di Mekah dan Madinah, dan siapa yang berhak mewakili dan mengatasnamakan umat Islam Indonesia. Konflik inilah yang menjadi pemicu utama pendirian NU secara resmi sebagai organisasi masyarakat tahun 1926.

Konflik kembali muncul dalam tubuh Partai Masyumi ketika Muhammadiyah menjadi anggota istimewa dan NU seperti tak terwakili meski merasa memiliki suara yang sangat besar. Warna politik lebih kental daripada isu ideologis dalam konflik antara NU dan Muhammadiyah tahun 1950 dan 1960an ini. Konflik inilah yang menjadi alasan pendirian Partai NU yang memisahkan diri dari Masyumi.  Rasa saling tidak suka antara sebagian warga NU dan Muhammadiyah kembali terungkit dalam kasus penurunan Gus Dur dari posisi presiden oleh MPR yang ketika itu dipimpin oleh Amien Rais. Setelah sebelumnya dua organisasi ini seperti bergandengan tangan dalam politik nasional dan mendukung Gus Dur menjadi presiden, tiba-tiba bersitegang dan seperti saling menjatuhkan.

Jika pada benturan sebelumnya banyak diwarnai isu ideologi dan politik, konflik yang sekarang ini terjadi antara dua ormas itu lebih banyak diwarnai oleh isu ekonomi; posisi presiden, jatah menteri, posisi rektor, fakultas kedokteran, aset rumah sakit, proyek Kemenag, dan seterusnya. Mana yang lebih parah dari berbagai konflik di atas? Hingga saat ini sepertinya tidak ada yang pernah membahas atau menuliskannya. Berbagai konflik itu selesai dengan sendirinya atau berkat kedewasaan warga dan pimpinan NU dan Muhammadiyah. Yang patut dikhawatirkan adalah jika berbagai benturan yang saat ini terjadi tak segera selesai atau bahkan sebaliknya terus berkembang. Apa yang awalnya merupakan perebutan harta benda bisa berubah  menjadi konflik sosial yang berbasis sektarianisme, seperti kasus Syi'ah Sampang.

Dua organisasi itu sama-sama gigih mengembangkan apa yang disebut sebagai ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia). Karena itu, harapannya, saling menyayangi, melindungi, dan mengasihi bisa terjadi pada tiga level tersebut; tidak hanya dengan umat yang berbeda agama dan negara, tapi juga yang seagama dan senegara.

AHMAD NAJIB BURHANI
Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=1&n=0&date=2016-07-15


Thursday, June 30, 2016

Sehari Bertasawuf Modern

Baitul Arqam Pimpinan Universitas Muhammadiyah Prof. Hamka, Jakarta, 29-30 Juni 2016.






Download PPT

Sunday, May 1, 2016

Muhammadiyah itu Organisasi Mandiri

Drs H Dahlan Rais M.Hum: Muhammadiyah itu Organisasi Mandiri

Suara Muhammadiyah, 16 Januari 2016

Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi, sebe­tulnya mempunyai potensi kekuatan yang sangat besar. Tetapi kadangkala warga dan pimpinannya tidak sadar jika Muhammadiyah itu mempunyai powerfull. Karenanya, kadang mereka terperangah terhadap kekuatan lain.

Untuk membahas hal ini Lutfi Effendi dari Suara Muhammadiyah menghubungi Ketua PP Muhammadiyah Drs H Dahlan Rais. Demikian penuturannya mengenai kekuatan yang dimiliki Muhammadiyah:

Selama ini orang menilai kekuatan Muhammadiyah itu dalam bidang pendidikan dan kesehatan, betulkah demikian?
Tidak betul.  Bidang pendidikan dan kesehatan memang kuat, tetapi itu hanyalah sebuah hasil kekuatan yang dimiliki Muhammadiyah. Muhammadiyah mempunyai kekuatan dari dalam dirinya yang mampu menjadikan amal usaha, baik di bidang pendidikan, kesehatan atau lainnya, menjadi kuat.

Apa kekuatan dari dalam yang dimiliki Muhammadiyah?
Pertama, Muhammadiyah dikelola dengan tertib dan teratur. Sistem organisasi Muhammadiyah sudah berjalan di berbagai jenjang. Permusyawaratan dilakukan secara tertib dan berjenjang. Permusyawaratan tingkat pusat (Muktamar), kemudian diikuti Musyawarah Wilayah, Musyawarah Daerah, Musyawarah Cabang dan bahkan sampai ke Ranting. Rapat-rapat pengurus juga dilakukan secara rutin. Rapat-rapat inilah yang akan melahirkan program kerja yang akan dilaksanakan.

Kedua, nilai-nilai unggul yang dimiliki Muhammadiyah merupakan sumber kekuatan tersendiri. Misalnya nilai ikhsan ada dalam spirit Muhammadiyah. Selain juga guyup rukun (kerjasama). Dengan nilai-nilai ikhsan dan guyup rukun tersebut, warga Muhammadiyah ikhlas bersama-sama melakukan gerakannya.

Ketiga, kerja keras yang dimiliki warga dan pimpin­an Muhammadiyah. Sebagai contoh adalah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Paguyangan, Jawa Tengah. PCM ini bercita-cita mendirikan Sekolah Tinggi. Untuk mewujudkan cita-cita itu, mereka bekerja keras. Contoh lain Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Demak, meski termasuk minoritas PDM Demak bekerja keras untuk mewujudkan rumah sakit. Mereka berjihad dengan harta mereka.

Keempat, hemat. Banyak pembangunan di Muhammadiyah dibiayai secara mandiri melalui swakelola. Karenanya, biaya pelaksanaannya juga bisa lebih dihemat. Inilah salah satu yang mendorong Muhammadiyah sebagai organisasi yang mandiri.
Kelima, mewujudkan kepercayaan masyarakat dengan baik. Semua kepercayaan masyarakat, baik itu dana atau bantuan yang lain akan dimanfaatkan oleh Muhammadiyah sebaik mungkin dan bahkan nilainya menjadi bertambah. Sehingga banyak orang non muhammadiyah memercayakan bantuan dan wakafnya untuk Muhammadiyah.

Keenam, simpati atau memberi manfaat pada lingkungan sekitarnya. Muhammadiyah dalam melaksanakan amalnya selalu berusaha memberi manfaat pada lingkungannya, sehingga lingkungan juga mendukung dan menjaga amal usaha yang ada.
Inilah kekuatan-kekuatan dari dalam yang melahirkan amal usaha yang besar, baik itu amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan atau di bidang lainnya. Orang lain melihat, amal usahanyalah besar, tetapi sebetulnya kekuatan-kekuatan dari dalamlah yang membesarkan amal usaha tersebut.

Apalagi dari kekuatan itu yang butuh penguatan?
Pada kekuatan keenam itu yang masih kurang dan perlu ada penguatan. Terutama memberi manfaat pada anggota. Dalam hal ini perlu sekali pembinaan pada anggota. Dari data yang ada, umumnya anggota Muhammadiyah kurang dalam hal membaca huruf Al-Qur’an. Sehingga mereka kesulitan jika akan membaca Al-Qur’an. Untuk itu, perlu ada kursus-kursus singkat bagi anggota untuk bisa membaca Al Qur’an.

Masih dalam pembinaan anggota ini, perlu juga diperhatikan pengelolaan masjid sebagai tempat pembinaan jamaah. Ini perlu diperhatikan oleh Muhammadiyah, terutama Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM). Pengembangan Ranting berbasis masjid sangat diperlukan, sehingga tidak hanya anggota yang dapat berkembang tetapi juga Ranting ikut berkembang. Dengan pembinaan Ranting berbasis masjid ini, setiap kelurahan atau desa tak hanya satu ranting tetapi bisa lebih jumlah rantingnya.

Mesti kekuatan Muhammadiyah sangat besar, tetapi kadang warga dan pimpinan Muhammadiyah sering terperangah menghadapi kekuatan dari luar. Mengapa?
Ya ini memang terjadi, memang suatu kenyataan. Misalnya, tatkala booming Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT). Muhammadiyah ada yang merasa kecil hati, padahal pendidikan merupakan core (inti) amal usaha Muhammadiyah. Tetapi alhamdulillah kemudian bisa bangkit lagi dan kemudian lahir SD-SD unggulan baru di lingkungan Muhammadiyah.

Pernah saya diminta meresmikan SD Muhammadiyah di Cepu, tetapi saya tolak kalau hanya SD biasa dan bukan SD Unggulan. Karena SD yang biasa-biasa saja hanya akan memberi beban persyarikatan. Saya minta ditunda satu tahun untuk bisa menyiapkan SD Unggulan. Mereka mau dan betul sekarang menjadi sekolah unggulan.

Demikian juga dengan banyaknya muncul organisasi pengumpul ZIS (Zakat, Infaq, dan Shadaqah) seperti Dompet Dhuafa, Rumah Zakat dan lain-lain. Muhammadiyah juga terperangah, padahal pelopor peng­organisasian ZIS di Indonesia adalah Muhammadiyah. Tetapi sekali lagi, Muhammadiyah dapat bangkit dalam hal pengorganisasian ZIS ini.

Tampaknya kejutan-kejutan demikian perlu untuk Muhammadiyah. Sehingga tidak terlena dan terkantuk-kantuk dalam melaksanakan roda organisasi, dalam menjalankan amal usaha. Kejutan demikian akan memacu dan mengumpulkan lagi kekuatan Muhammadiyah yang sebenarnya memang besar.

Dari kekuatan-kekuatan yang ada, sebetulnya kekuatan apa yang paling lemah dan itu sangat berpengaruh dalam kehidupan?
Ada dua kekuatan besar yang Muhammadiyah sangat lemah saat ini, dan dua-duanya sangat meme­ngaruhi masyarakat. Pertama di bidang penyiaran dan kedua di bidang politik. Kedua hal yang merupakan produk liberal ini, Muhammadiyah sangat lemah.

Dalam hal dunia penyiaran atau audiovisual ini yang merupakan produk kapitalisme, investasinya sangat besar. Bagi Muhammadiyah yang biasa mengumpulkan modal sedikit-sedikit sangat sulit bersaing dengan pemodal besar. Terlebih biaya operasionalnya sangat mahal yang harus ditopang dengan iklan, kita tahu iklan-iklan terbesar adalah rokok dan yang terkait dengan kamar mandi. Jika iklan-iklan ini yang dimuat, maka warga Muhammadiyah akan berteriak.

Karenanya, upaya terakhir adalah bagaimana Muhammadiyah dapat melobbi untuk dapat mengisi acara televisi-televisi tersebut sehingga dapat ikut mewarnai masyarakat. Minimal dapat ikut menghambat atau memperkecil efek negatif penyiaran bagi masyarakat. Ini perlu lobbi yang kuat.

Lobbi yang kuat juga diperlukan di dunia politik. Karena Muhammadiyah organisasi massa dan bukan organisasi politik tentu tak bisa terjun langsung. Hanya lobbi-lobbi yang bisa dilakukan untuk berperan dalam kancah politik, minimal politik jangan sampai merusak Muhammadiyah. Ini tergantung kekuatan lobbi pimpinannya di berbagai jenjang.• (eff)

http://www.suaramuhammadiyah.id/2016/01/26/drs-h-dahlan-rais-m-hum-muhammadiyah-itu-organisasi-mandiri/

Saturday, April 23, 2016

Pidato dr Soetomo saat Resmikan RS Muhammadiyah Surabaya

KH Mas Mansur (x) di depan Poliklinik Muhammadiyah Surabaya di Jl Karang Tembok (foto: repro pwm jatim)
Ini Pidato Lengkap dr Soetomo saat Resmikan RS Muhammadiyah Surabaya
Penulis Redaksi -
April 22, 2016

PWMU.CO Persahabatan Muhammadiyah dengan Boedi Oetomo, merupakan salah satu kunci keberhasilan organisasi ini dalam melakukan pembaruan. Selain ikut membantu mengurus legalitas organisasi dari pemerintah kolonial, kedekatan keduanya juga terlihat dari Kongres Boedi Oetomo 1917 yang diselenggarakan di rumah pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Juga tidak sedikit tokoh Boedi Oetomo yang ikut memperkuat barisan Muhammadiyah, meski tidak menjadi anggota secara resmi.

Di Surabaya, dr Soetomo misalnya, salah satu pendiri organisasi Boedi Oetomo, juga banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan Muhammadiyah. Bersama koleganya, pahlawan Nasional ini mengelola Poliklinik Muhammadiyah di Sidodadi rumah nomor 57, tentu saja tanpa gaji. Poliklinik ini sendiri merupakan cikal bakal Rumah Sakit Muhammadiyah Surabaya yang sekarang berlokasi di Jl KH Mas Mansyur 180-182. Sebelum ke lokasi yang sekarang, RS ini pernah pindah di Jl Karangtembok, Pegirian (1925). Barulah pada tahun 1929 pindah ke lokasi yang sekarang, yang di sela-sela itu juga pernah bertempat sementara di Ampel Maghfur

Dalam pembukaan Poliklinik pada hari Ahad, 14 September 1924 itu, juga dihadiri oleh perwakilan Pengurus Besar Muhammadiyah Haji Soedja’ dan Ki Bagus Hadikoesoemo. Sementara, dr Soetomo, diamanahi untuk memberi sambutan kepada pada undangan sekaligus memperkenalkan pergerakan Muhammadiyah. Berikut petikan sambutan sosok yang namanya diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pemerintah Provinsi Jawa Timur, yang didokumentasikan Suara Muhammadiyah. Meski ada naskah asli dengan ejaan lama, untuk mempermudah, pwmu.co menyesuaikannya dengan ejaan terkini.
***

Nyonya-nyonya dan Tuan-tuan. Atas nama Perserikatan kita yang namanya Muhammadiyah, yakni untuk memperingati Nabi kita, Nabi Muhammad s.a.w, kami mengucapkan selamat datang dan terima kasih untuk perhatian tuan-tuan, yang tampak pada hari ini.

dr Soetomo
Sebelum kami menerangkan maksud pertemuan yang sederhana ini dengan pendek, haraplah kami hendak menerangkan Perserikatan kami pada tuan-tuan. Perserikatan kami ini, sebagai juga perserikatan lainnja yang memang macam Jawa yang bertabi’at (bersifat) menjadikan dan memperbaiki lahirnya di tanah Vorstenlanden, yakni tempat yang orang Jawanja masih memegang kejawaannya.

Meskipun Perserikatan kami itu kelihatannya dan wujudnya ada berlainan dengan Perserikatan yang lainnya yang timbul di dunia pada waktu yang kurang lebih bersama-sama. Yakni Perserikatan kami ini ada bersifat Islam. Tetapi pada hakikatnya Persyarikatan kami itu tiada lain hanya satu dari beberapa pertunjuk lahirnya pikiran baru yang menggetarkan bahagian antero dunia yang berfikir. Lagi pula boleh dikatakan akan pertimbangan atau perlawanan pengajaran Darwin. Bukankah pengajaran Darwin itu berasas peperangan hidup?

Sudah tentu saja kejadiannya pengajaran ini menindas dan memusnahkan yang bersifat lembek. Karena bermaksud untuk diri sendiri supaya dalam dunia ini mendapat tempat yang baik. Sedang fikiran baru itu timbul dari asas yang lain. Yakni asas cinta kasih. Asas cinta kasih ini sudah barang tentu tiada mengizinkan, tiada memberi kesempatan, beberapa untuk keperluan diri sendiri. Akan tetapi mewajibkan berkurban untuk mencapai hidup mulia bagi umum.

Dan kalau begitu, apakah yang disebut cinta kasih pada orang tua, pada istri dan anak dan lainnya? Tiada lain hanyalah mengorbankan diri untuk keselamatan dan kebahagiaan orang lain.
Begitu juga perserikatan kami. Ini kemasakan (kentelan –Jawa) fikiran cinta kasih yang akan kita curahkan kepada sesama manusia supaya dengan cinta kasih dan kurban dapatlah tercapai hidup mulia yang kita maksud seperti yang tersebut di atas.

Kita mendirikan sekolahan. Kita ada mendirikan Hizbul – Wathan untuk memajukan badan kita. Anak yatim pun dapat pemeliharaan dari kita. Banyaklah jalan yang hendak kita jalani. Tetapi haruslah disebutkan di sini. Bahwa syarat kita ada sempit.

Besuk pagi akan kita buka Poliklinik ini. Siapa juga, baik orang Eropa, baik orang Jawa (orang bumi), baik China atau bangsa Arab, boleh kemari, akan ditolong dengan cuma-cuma, asalkan betul miskin. Kami mengharap tuan-tuan dan nyonya-nyonya, hendaknya luluslah poliklinik ini berdirinya, juga oleh bantuan tuan-tuan sekaliannya. Pekerjaan poliklinik yang penuh dengan kurban dan kemanusiaan. Lagi pula terutama adalah kami guntingkan berseru kepada pers (surat kabar) yang memang dapat menolong hal ini yang tiada berhingga.

Hari ini ialah hari bagi dokter-dokter yang bekerja pada poliklinik ini. Hari untuk peringatan bagi pekerjaannya yang berat akan penyediaan pekerjaan ini.

Bagi kita adalah hari ini hari terima kasih. Terima kasih kepada siapa juga yang menolong dengan bicara dan tenaga. Akan menyampaikan maksud kita itu. Pertama-tama terimakasih kami kepada Hoofdinspectur B.G.D (Pekerjaan pengobatan) dan Dr. Degger untuk pertolonganya dari negeri. Yang wujud obat-obat dan verbandmiddelen. Kedua terima kasih banyak kepada tuan Dr. Tamm, untuk fatwanya yang baik yang mengiringi surat permohonan kami. Begitu juga tuan Assenraad, kami merasa wajib mengucap terima kasih atas cara pencukupan obat-obat yang sebanyak itu dari simpanan tuan.

Nyonya-nyonya dan tuan-tuan, untuk penutup khutbah kami yang pendek ini, perizinkanlah kiranya kami memberi kehormatan kepada Zr. Matles yang sudah bekerja untuk kami susah payah dan cara kerja kapannya mengumpulkan orang untuk kami, dan juga untuk kecakapannya menyalakan da’wah (propaganda) bagi pekerjaan ini.

Nyonya Suratman. Tuanlah yang menghias poliklinik ini sehingga baik pada pemandangan. Jika nanti tamu-tamu kita sesudah menyaksikan melihat poliklinik ini dengan riang hati berangkat pulang, percayalah kami, bahwa keriangan hati itu tersebab dari tuan.
***

Atas peran Sutomo bersama 16 koleganya sesama dokter serta Muhammadiyah Surabaya dalam membangun poliklinik Muhammadiyah, maka sidang Pengurus Besar Muhammadiyah Yogyakarta memutuskan mengangkat Sutomo menyadi Medisch Adviseur Muhammadiyah bidang kesehatan. Salah satu kerja yang menjadi bagian dari Penolong Kesangsaraan Umum (PKO).

Dalam sambutan pidato yang disampaikan, dr Soetomo dan kawan-kawannya menyatakan kesanggupan untuk memberikan bantuan tenaga kepada PKU Muhammadiyah. Dokter-dokter itu antara lain dr Soetopo, dr Sardjono, dr Heerdjan, dr Soewarno, dr Soeratman, dr Soehardjo, dr Soerjatin, dr Soekardi, dr Irsan, dr Muwaladi, dr Saleh, dr Djojohusodo, dr J.W. Grootings, dr Aziz, dr P.H.F. Neynhoff, dr A.J.F. Tilung dan dr Rabain.

Para dokter itu memberikan bantuan tenaga menurut giliran waktu dan keahliannya. Kemudian dr Soedjono-lah yang dalam kesehariannya menjadi dokter tetap sesuai kesepakatan para dokter tersebut. Kira-kira 3,5 bulan setelah berdiri, Poliklinik ini telah memberikan pertolongan pengobatan 3.975-an pasien. (arkoun abqaraya)

Diambil dari:
http://www.pwmu.co/5223/2016/04/ini-pidato-lengkap-dr-soetomo-saat-resmikan-rs-muhammadiyah-surabaya.html
http://www.pwmu.co/5223/2016/04/ini-pidato-lengkap-dr-soetomo-saat-resmikan-rs-muhammadiyah-surabaya.html/2

Monday, April 4, 2016

Anti-Terrorism Cooperation between the National Agency for Contra Terrorism and Civil Society: Study Case of Muhammadiyah Disengagement


Indra Putri, Rima Sari. 2013. "Anti-Terrorism Cooperation between the National Agency for Contra Terrorism and Civil Society: Study Case of Muhammadiyah Disengagement". Journal of Defense Management. 02 (04). 

Rima Sari Indra Putri*
Alumni of Post Graduate Defense Management, Indonesian Defense University in Cooperation with Cranfield University England, UK
Corresponding Author :     Rima Sari Indra Putri
Muhammadiyah University of Sidoarjo
Indonesia
E-mail: arcrima2001@yahoo.com

Received July 12, 2012; Accepted October 11, 2012; Published November 29, 2012

Citation: Indra Putri RS (2012) Anti-Terrorism Cooperation Between The National Agency For Contra Terrorism and Civil Society: Study Case of Muhammadiyah Disengagement. J Def Manag 2: 111. doi: 10.4172/2167-0374.1000111

Abstract


This research is about anti-terrorism cooperation between the National Agency for Counterterrorism (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme/BNPT) and civil society, study case Muhammadiyah disengagement in the signing of Memorandum Of Understanding between BNPT and Islamic organizations in 2011. The theory applies are Terrorism, Security sector reform and Cooperation. As civil society, Muhammadiyah has conducted anti-terrorism efforts through its structural and cultural roles in politic, socio-economic, diplomatic and education aspect. Unfortunately, there has not been any framework of cooperation established between Muhammadiyah and BNPT, due to several hindering factors. Firstly, Muhammadiyah and BNPT have different perspective in addressing issues on terrorism and anti terrorism methodology. Secondly, political conflict. Thirdly, BNPT’s constraints in time, human resources and funding. Forthly, lack of BNPT’s political will. Actually, Muhammadiyah possess ideological and organisational potential that may facilitate the dissemination of anti terrorism more effective and efficient. Therefore, this study recommends the need for BNPT and Muhammadiyah to strengthen organisational commitment and to start building communication. In addition, the concept of deradicalization applied by BNPT needs to be evaluated and developed. This study is a qualitative research and using descriptive analysis method.

Download article