Wednesday, March 16, 2016

Sejarah IMM

Faktor Kelahiran IMM Kelahiran IMM tidak lepas kaitannya dengan sejarah perjalanan Muhammadiyah, dan juga bisa dianggap sejalan dengan faktor kelahiran Muhammadiyah itu sendiri. Hal ini berarti bahwa setiap hal yang dilakukan Muhammadiyah merupakan perwujudan dari keinginan Muhammadiyah untuk memenuhi cita-cita sesuai dengan kehendak Muhammadiyah dilahirkan. Di samping itu, kelahiran IMM juga merupakan respon atas persoalan-persoalan keummatan dalam sejarah bangsa ini pada awal kelahiran IMM, sehingga kehadiran IMM sebenarnya merupakan sebuah keharusan sejarah. Faktor-faktor problematis dalam persoalan keummatan itu antara lain ialah sebagai berikut (Farid Fathoni, 1990: 102) :
  1. Situasi kehidupan bangsa yang tidak stabil, pemerintahan yang otoriter dan serba tunggal, serta adanya ancaman komunisme di Indonesia.
  2. Terpecah-belahnya umat Islam dalam bentuk saling curiga dan fitnah, serta kehidupan politik ummat Islam yang semakin buruk.
  3. Terbingkai-bingkainya kehidupan kampus (mahasiswa) yang berorientasi pada kepentingan politik praktis.
  4. Melemahnya kehidupan beragama dalam bentuk merosotnya akhlak, dan semakin tumbuhnya materialisme-individualisme.
  5. Sedikitnya pembinaan dan pendidikan agama dalam kampus, serta masih kuatnya suasana kehidupan kampus yang sekuler.
  6. Masih membekasnya ketertindasan imperialisme penjajahan dalam bentuk keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan.
  7. Masih banyaknya praktek-praktek kehidupan yang serba bid’ah, khurafat, bahkan ke-syirik-an, serta semakin meningkatnya misionaris-Kristenisasi.
  8. Kehidupan ekonomi, sosial, dan politik yang semakin memburuk.
Gagasan Awal Kelahiran IMM Dengan latar belakang tersebut, sesungguhnya semangat untuk mewadahi dan membina mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah telah dimulai sejak lama. Semangat tersebut sebenarnya telah tumbuh dengan adanya keinginan untuk mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah pada Kongres Seperempat Abad Muhammadiyah di Betawi Jakarta pada tahun 1936. Pada saat itu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah diketuai oleh KH. Hisyam (periode 1934-1937). Keinginan tersebut sangat logis dan realistis, karena keluarga besar Muhammadiyah semakin banyak dengan putera-puterinya yang sedang dalam penyelesaian pendidikan menengahnya. Di samping itu, Muhammadiyah juga sudah banyak memiliki amal usaha pendidikan tingkat menengah. Gagasan pembinaan kader di lingkungan maha-siswa dalam bentuk penghimpunan dan pembinaan langsung adalah selaras dengan kehendak pendiri Muhammadiyah, KHA. Dahlan, yang berpesan bahwa ”dari kalian nanti akan ada yang jadi dokter, meester, insinyur, tetapi kembalilah kepada Muhammadiyah” (Suara Muhammadiyah, nomor 6 tahun ke-68, Maret II 1988, halaman 19). Dengan demikian, sejak awal Muhammadiyah sudah memikirkan bahwa kader-kader muda yang profesional harus memiliki dasar keislaman yang tangguh dengan kembali ke Muhammadiyah. Namun demikian, gagasan untuk menghimpun dan membina mahasiswa di lingkungan Muhammadiyah cenderung terabaikan, lantaran Muhammadiyah sendiri belum memiliki perguruan tinggi. Belum mendesaknya pembentukan wadah kader di lingkungan mahasiswa Muhammadiyah saat itu juga karena saat itu jumlah mahasiswa yang ada di lingkungan Muhammadiyah belum terlalu banyak. Dengan demikian, pembinaan kader mahasiswa Muhammadiyah dilakukan melalui wadah Pemuda Muhammadiyah (1932) untuk mahasiswa putera dan melalui Nasyi’atul Aisyiyah (1931) untuk mahasiswa puteri.
Pada Muktamar Muhammadiyah ke-31 pada tahun 1950 di Yogyakarta, dihembuskan kembali keinginan untuk mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah. Namun karena berbagai macam hal, keinginan tersebut belum bisa diwujudkan, sehingga gagasan untuk dapat secara langsung membina dan menghimpun para mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah tidak berhasil. Dengan demikian, keinginan untuk membentuk wadah bagi mahasiswa Muhammadiyah juga masih jauh dari kenyataan.
Pada Muktamar Muhammadiyah ke-33 tahun 1956 di Palembang, gagasan pendirian perguruan tinggi Muhammadiyah baru bisa direalisasikan. Namun gagasan untuk mewadahi mahasiswa Muhammadiyah dalam satu himpunan belum bisa diwujudkan. Untuk mewadahi pembinaan terhadap mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah, maka Muhammadiyah membentuk Badan Pendidikan Kader (BPK) yang dalam menjalankan aktivitasnya bekerja sama dengan Pemuda Muhammadiyah. Gagasan untuk mewadahi mahasiswa dari ka-langan Muhammadiyah dalam satu himpunan setidaknya telah menjadi polemik di lingkungan Muhammadiyah sejak lama. Perdebatan seputar kelahiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah berlangsung cukup sengit, baik di kalangan Muhammadiyah sendiri maupun di kalangan gerakan mahasiswa yang lain. Setidaknya, kelahiran IMM sebagai wadah bagi mahasiswa Muhammadiyah mendapatkan resistensi, baik dari kalangan Muhammadiyah sendiri maupun dari kalangan gerakan mahasiswa yang lain, terutama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di kalangan Muhammadiyah sendiri pada awal munculnya gagasan pendirian IMM terdapat anggapan bahwa IMM belum dibutuhkan kehadirannya dalam Muhammadiyah, karena Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi’atul Aisyiyah masih dianggap cukup mampu untuk mewadahi mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah.
Kedekatan HMI dan Muhammadiyah Di samping itu, resistensi terhadap ide kelahiran IMM pada awalnya juga disebabkan adanya hubungan dekat yang tidak kentara antara Muhammadiyah dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Hubungan dekat itu dapat dilihat ketika Lafrane Pane mau menjajagi pendirian HMI. Dia bertukar pikiran dengan Prof. Abdul Kahar Mudzakir (tokoh Muhammadiyah), dan beliau setuju. Pendiri HMI yang lain ialah Maisarah Hilal (cucu KHA. Dahlan) yang juga seorang aktifis di Nasyi’atul Aisyiyah.
Bila asumsi itu benar adanya, maka hubungan dekat itu selanjutnya sangat mempengaruhi perjalanan IMM, karena dengan demikian  Muhammadiyah saat itu beranggapan bahwa pembinaan dan pengkaderan mahasiswa Muhammadiyah bisa ditipkan melalui HMI (Farid Fathoni, 1990: 94). Pengaruh hubungan dekat tersebut sangat besar bagi kelahiran IMM. Hal ini bisa dilihat dari perdebatan tentang kelahiran IMM. Pimpinan Muhammadiyah di tingkat lokal seringkali menganggap bahwa kelahiran IMM saat itu tidak diperlukan, karena sudah terwadahi dalam Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi’atul Aisyiyah, serta HMI yang sudah cukup eksis (dan mempunyai pandangan ideologis yang sama). Pimpinan Muhammadiyah pada saat itu lebih menganakemaskan HMI daripada IMM. Hal ini terlihat jelas dengan banyaknya pimpinan Muhammadiyah, baik secara pribadi maupun kelembagaan, yang memberikan dukungan pada aktivitas HMI. Di kalangan Pemuda Muhammadiyah juga terjadi perdebatan yang cukup sengit seputar kelahiran IMM. Perdebatan seputar kelahiran IMM tersebut cukup beralasan, karena sebagian pimpinan (baik di Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyi’atul Aisyiyah, serta amal-amal usaha Muhammadiyah) adalah kader-kader yang dibesarkan di HMI.
Setelah mengalami polemik yang cukup serius tentang gagasan untuk mendirikan IMM, maka pada tahun 1956 polemik tersebut mulai mengalami pengendapan. Tahun 1956 bisa disebut sebagai tahap awal bagi embrio operasional pendirian IMM dalam bentuk pemenuhan gagasan penghimpun wadah mahasiswa di lingkungan Muhammadiyah (Farid Fathoni, 1990: 98). Pertama, pada tahun itu (1956) Muhammadiyah secara formal membentuk kader terlembaga (yaitu BPK). Kedua, Muhammadiyah pada tahun itu telah bertekad untuk kembali pada identitasnya sebagai gerakan Islam dakwah amar ma’ruf nahi munkar (tiga tahun sesudahnya, 1959, dikukuhkan dengan melepas-kan diri dari komitmen politik dengan Masyumi, yang berarti bahwa Muhammadiyah tidak harus mengakui bahwa satu-satunya organisasi mahasiswa Islam di Indonesia adalah HMI). Ketiga, perguruan tinggi Muhammadiyah telah banyak didirikan. Keempat, keputusan Muktamar Muhammadiyah bersamaan Pemuda Muhammadiyah tahun 1956 di Palembang tentang ”..... menghimpun pelajar dan mahasiswa Muhammadiyah agar kelak menjadi pemuda Muhammadiyah atau warga Muhammadiyah yang mampu mengembangkan amanah.” Baru pada tahun 1961 (menjelang Muktamar Muhammadiyah Setengah Abad di Jakarta) diselenggarakan Kongres Mahasiswa Universitas Muhammadiyah di Yogyakarta (saat itu, Muhammadiyah sudah mempunyai perguruan tinggi Muhammadiyah sebelas buah yang tersebar di berbagai kota). Pada saat itulah, gagasan untuk mendirikan IMM digulirkan sekuat-kuatnya. Keinginan tersebut ternyata tidak hanya dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah, tetapi juga dari kalangan mahasiswa di berbagai universitas non-Muhammadiyah. Keinginan kuat tersebut tercermin dari tindakan para tokoh Pemuda Muhammadiyah untuk melepaskan Departemen Kemahasiswaan di lingkungan Pemuda Muhammadiyah untuk berdiri sendiri. Oleh karena itu, lahirlah Lembaga Dakwah Muhammadiyah yang dikoordinasikan oleh Margono (UGM, Ir.), Sudibyo Markus (UGM, dr.), Rosyad Saleh (IAIN, Drs.), sedangkan ide pembentukannya dari Djazman al-Kindi (UGM, Drs.).
Kelahiran IMM dan Enam Penegasan IMM Tahun 1963 dilakukan penjajagan untuk mendirikan wadah mahasiswa Muhammadiyah secara resmi oleh Lembaga Dakwah Muhammadiyah dengan disponsori oleh Djasman al-Kindi yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah. Dengan demikian, Lembaga Dakwah Muhammadiyah (yang banyak dimotori oleh para mahasiswa Yogyakarta) inilah yang menjadi embrio lahirnya IMM dengan terbentuknya IMM Lokal Yogyakarta. Tiga bulan setelah penjajagan tersebut, Pimpinan Pusat Muhammadiyah meresmikan berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) pada tanggal 29 Syawal 1384 Hijriyah atau 14 Maret 1964 Miladiyah. Penandatanganan Piagam Pendirian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dilakukan oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat itu, yaitu KHA. Badawi. Resepsi peresmian IMM dilaksanakan di Gedung Dinoto Yogyakarta dengan penandatanganan ‘Enam Penegasan IMM’ oleh KH. A. Badawi, yaitu :
  1. Menegaskan bahwa IMM adalah gerakan mahasiswa Islam.
  2. Menegaskan bahwa Kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM.
  3. Menegaskan bahwa fungsi IMM adalah eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah.
  4. Menegaskan bahwa IMM adalah organisasi maha-siswa yang sah dengan mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan, serta dasar dan falsafah negara.
  5. Menegaskan bahwa ilmu adalah amaliah dan amal adalah ilmiah.
  6. Menegaskan bahwa amal IMM adalah lillahi ta’ala dan senantiasa diabdikan untuk kepentingan rakyat.
Tujuan Kelahiran IMM Tujuan akhir kehadiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah untuk pertama kalinya ialah membentuk akademisi Islam dalam rangka melaksanakan tujuan Muhammadiyah. Sedangkan aktifitas IMM pada awal kehadirannya yang paling menonjol ialah kegiatan keagamaan dan pengkaderan, sehingga seringkali IMM pada awal kelahirannya disebut sebagai Kelompok Pengajian Mahasiswa Yogya (Farid Fathoni, 1990: 102). Adapun maksud didirikannya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah antara lain adalah sebagai berikut :
  1. Turut memelihara martabat dan membela kejayaan bangsa.
  2. Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam.
  3. Sebagai upaya menopang, melangsungkan, dan meneruskan cita-cita pendirian Muhammadiyah.
  4. Sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna amal usaha Muhammadiyah.
  5. Membina, meningkatkan, dan memadukan iman dan ilmu serta amal dalam kehidupan bangsa, ummat, dan persyarikatan.
Munas IMM Pertama Dengan berdirinya IMM Lokal Yogyakarta, maka berdiri pulalah IMM lokal di beberapa kota lain di Indonesia, seperti di Bandung, Jember, Surakarta, Jakarta, Medan, Padang, Tuban, Sukabumi, Banjarmasin, dan lain-lain. Dengan demikian, mengingat semakin besarnya arus perkembangan IMM di hampir seluruh kota-kota universitas, maka dipandang perlu untuk meningkatkan IMM dari organisasi di tingkat lokal menjadi organisasi yang berskala nasional dan mempunyai struktur vertikal. Atas prakarsa Pimpinan IMM Yogyakarta, maka bersamaan dengan Musyawarah IMM se-Daerah Yogyakarta pada tanggal 11 – 13 Desember 1964 diselenggarakan Musyawarah Nasional Pendahuluan IMM seluruh Indonesia yang dihadiri oleh hampir seluruh Pimpinan IMM Lokal dari berbagai kota. Musyawarah Nasional tersebut bertujuan untuk mempersiapkan kemungkinan diselenggarakannya Musyawarah Nasional Pertama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah pada bulan April atau Mei 1965. Musyawarah Nasional Pendahuluan tersebut menyepakati penunjukan Pimpinan IMM Yogyakarta sebagai Dewan Pimpinan Pusat Sementara IMM (dengan Djazman al-Kindi sebagai Ketua dan Rosyad Saleh sebagai Sekretaris) sampai diselenggarakannya Musyawarah Nasional Pertama di Solo. Dalam Musyawarah Pendahuluan tersebut juga disahkan asas IMM yang tersusun dalam ‘Enam Penegasan IMM’, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IMM, Gerak Arah IMM, serta berbagai konsep lainnya, termasuk lambang IMM, rancangan kerja, bentuk kegiatan, dan lain-lain.

http://immsetengahabad.xyz/web/keimman/sejarah

NILAI DASAR IKATAN

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai gerakan kader, mendasarkan diri pada semangat ijtihadiyah (intelektualitas) dan dakwah Islam amar ma’ruf nahi mungkar yang telah menjadi nafas Muhammadiyah sebagai gerakan yang mendorong tujuan Muhammadiyah yakni menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, maka Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah mendasarkan diri pada nilai-nilai yang menjadi dasar geraknya. Nilai-nilai yang menjadi dasar geraknya ini dinamakan Nilai Dasar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Keseluruhan nilai-nilai dasar tersebut merupakan satu kesatuan prinsip yang saling mendukung bagi proses gerakan menuju cita-cita gerakan.
Nilai dasar tersebut terdiri dari 5 (lima) butir sebagai berikut:
  1. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah gerakan mahasiswa yang bergerak di tiga bidang gerakan, yaitu : keagamaan, kemahasiswaan dan kemasyarakatan.
  2. Segala bentuk gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah tetap berlandaskan pada agama Islam yang hanif dan berkarakter rahmat bagi sekalian alam (rahmatan lil‘alamin).
  3. Segala bentuk ketidakadilan, kesewenang-wenangan dan kemungkaran adalan lawan besar gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, dan perlawanan terhadapnya adalah kewajiban bagi setiap kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.
  4. Sebagai gerakan mahasiswa yang berdasarkan Islam dan beranggotakan individuindividu mukmin, maka kesadaran melaksanakan syari’at Islam adalah suatu kewajiban dan sekaligus mempunyai tanggung jawab untuk mendakwahkan kebenaran ditengah masyarakat.
  5. Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah kader inti sel masyarakat utama, yang selalu menyebarkan cita-cita kemerdekaan, kemuliaan dan kemaslahatan masyarakat, sesuai dengan semangat pembebasan dan pencerahan yang dilakukan Nabiyullah Muhammad SAW.
Kelima nilai dasar tersebut memiliki fungsi memperkuat landasan perjuangan Ikatan dan sekaligus menjadi kekuatan dinamis mengubah kondisi sosial yang absolut dan otoriter menuju ruang sosial yang hanif, ilmiah, dinamis dan demokratis. Di samping itu, Nilai Dasar Ikatan akan menjadi cermin identitas gerakan ditengah masyarakat yang plural dan menjadi koridor bagi tindakan sosial yang ditempuhnya. Penjelasan :
Butir 1 berbunyi “Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah gerakan mahasiswayang bergerak di tiga bidang gerakan, yaitu : keagamaan, kemahasiswaan dan kemasyarakatan”.
Bidang yang menjadi fokus gerak Ikatan adalah bidang keagamaan, kemahasiswaan dan kemasyarakatan. Bidang keagamaan adalah sesuatu yang melekat sebagai wilayah perjuangan Ikatan, disebabkan fondasi sosial tidak akan terbentuk dengan baik, tanpa pengembangan prinsip-prinsip keagamaan (religious principles). Prinsip-prinsip keagamaan yang dimaksud adalah sebagaimana terkandung dalam agama Islam. Pengembangan keislaman meliputi seluruh aspek kehidupan, baik ideologi, politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan; atau mencakup dimensi akidah, ibadah dan muamalah duniawiyah. Terhadap keseluruhan dimensi-dimensi keagamaan tersebut, Ikatan berjuang untuk melahirkan prinsip-prinsip keseimbangan dan keutuhan, dengan tetap memperhatikan potensi-potensi dasariah manusia, baik akliyah maupun batiniyah. Bidang kemahasiswaan merupakan ruang sosial Ikatan yang akan terus diperjuangkan. Dunia kemahasiswaan dilihat sebagai medan perjuangan dan penyebaran nilai-nilai kritisme Islam, yakni bahwa Islam menghendaki terjadinya ruang sosial atau tatanan yang menjamin keadilan bagi semua pihak, maka Ikatan pun akan menjadi sisi penting dunia kemahasiswaan sebagai kawasan sosial yang hanif, dimanis, kritis dan toleran. Muara gerak Ikatan adalah dimaksudkan untuk melahirkan kekuatan sosial mahasiswa yang bebas dari pengaruh sepihak kekuasaan dan apalagi menjadi kepanjangan tangan dari kepentingan politik kekuasaan. Tetapi, Ikatan akan terus menerus mendorong gerakan elemen sosial ke arah pencerahan dan perbaikkan masyarakat secara luas. Sifat yang hanif dan kritis adalah sandaran sosial Ikatan. Bidang Kemasyarakatan adalah bidang gerak Ikatan yang terbuka, disebabkan bidang ini meliputi bangunan ide sosial, elemen atau institusi sosial, sehingga kekuatan-kekuatan sosial lainnya. Di dalam digambarkan coretan-coretan beragam (mozaik) yang harus dihadapi secara waspada, cerdas dan transformatif. Ikatan dalam memfungsikan kekuatan basis kader ditengah masyarakat tersebut, melihat segi-segi kemanfaatkan bagi pengembangan ide dan fungsionalisasi nilai-nilai dasar yang diyakininya, yakni nilai-nilai dasar ajaran Islam yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah. Nilai-nilai dasar ini diyakini memiliki kekuatan persahabatan sosial dan melampaui intrik-intrik ideologi politik. Bidang kemasyarakatan ini adalah wilayah terluas dan paling objektif bagi peran Ikatan secara langsung. Pengembangan-pengembangan program kemasyarakatan lebih diarahkan kepada pembentukan ikim sosial yang kondusif bagi perbaikan, bimbingan dan kemaslahatan sosial.
Butir 2 berbunyi “Segala bentuk gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah tetap berlandaskan pada agama Islam yang hanif dan berkarakter rahmat bagi sekalian alam (rahmatan lil ‘alamin)”.
Identitas gerak Ikatan mengacu kepada sumber jernih Al Qur’an dan As Sunnah, yakni ajaran yang mengajak kepada kema’rufan dan mencegah segala bentuk kemungkaran. Terhadap berbagai perbedaan sosial, Ikatan akan tetap menjadi kekuatan penyeimbang gagasan dan memposisikan diri sebagai elemen yang independen dan tetap memegang teguh prinip gerakan. Faktor ini menginspirasikan bahwa Ikatan bukanlah gerakan yang monopolitik dan berorientasi kepada kepentingan politik kekuasaan, sehingga basis-basis sosial yang se-ide dan sepaham merupakan sahabat karib Ikatan dalam menuju terbentuknya iklim sosial yang hanif dan dinamis. Terhadap gerakan sosial yang berbeda secara ide dan paham, maka Ikatan memposisikan diri sebagai kekuatan oposisi dan penyeimbang kritisme sosial. Hal ini dilakukan sebagai argumen bahwa Ikatan bukanlah elemen gerakan mahasiswa yang tertutup bagi proses-proses sosial yang dialogis dan kemungkinan tercapainya islah sosial sebagai perwujudan dari nilai-nilai ajaran Islam, yakni kemuliaan dan kerahmatan bagi sesama manusia, bukan menciptakan kesengsaraan dan kedholiman sosial.
Butir 3 berbunyi “Segala bentuk ketidakadilan, kesewenang-wenangan dan kemungkaran adalan lawan besar gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, dan perlawanan terhadapnya adalah kewajiban bagi setiap kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah”.
Doktrin Islam berupa amar ma’ruf nahi mungkar adalah dua kekuatan berlainan dan menjadi spirit perjuangan Ikatan. Realitas masyarakat yang heterogen merupakan ladang terjadinya proses benturan-benturan cara pandang dan gerakan, disamping secara potensial juga dapat melahirkan kekuatan bersama yang kritis apabila terjalin secara komunikatif dialogis. Terhadap yang pertama Ikatan bersikap tegas, yakni bahwa kemungkaran dan ketidakadilan adalah lawan perjuangan sosial. Boleh dikatakan, bahwa kelahiran Ikatan disamping sebagai organisasi kader yang bertugas untuk melangsungkan proses regenerasi dan kepemimpinan bangsa di masa depan, baik di Muhammadiyah maupun di masyarakat secara lebih luas, kelahirannya juga dapat dilihat sebagai kekuatan pembebas (libersionis) dari proses yang mengsengsarakan umat/masyarakat. Ikatan merasa terpanggil untuk terlibat secara aktif dalam usaha perbaikan dan bimbingan sosial tersebut.
Butir 4 berbunyi “Sebagai gerakan mahasiswa yang berdasarkan Islam dan beranggotakan individu-individu mukmin, maka kesadaran melaksanakan syari’at Islam adalah suatu kewajiban dan sekaligus mempunyai tanggung jawab untuk mendakwahkan kebenaran ditengah masyarakat”
Kader-kader Ikatan adalah individu-individu yang beridentitas Islam, yakni beriman kepada Allah SWT, melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar dan mengembangkan potensialitas diri, yakni dimensi akliyah, perasaan/emosional dan dimensi spiritualnya melalui kegiatan pendidikan dan pengembangan-pengembangannya. Keseluruhan potensi yang diaktualkan tersebut dijadikan sebagai instrumen untuk mengantarkan kepada pencapaian pelaksanaan prinsip-prinsip ajaran Islam di tengah masyarakat secara lebih tepat dan berkesinambungan. Hubungan ini menjadikan tugas kader-kader Ikatan menjadi penting dan mulia, karena proses dakwah ditengah masyarakat adalah sesuatu kewajiban yang disadari dan diyakini.
Butir 5 berbunyi “Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah kader inti sel masyarakat utama, yang selalu menyebarkan cita-cita kemerdekaan, kemuliaan dan kemaslahatan masyarakat, sesuai dengan semangat pembebasan dan pencerahan yang dilakukan Nabiyullah Muhammad SAW”.
Ikatan meyakini bahwa dirinya adalah bagian terpenting bagi pembentukan masyarakat utama, yakni masyarakat yang sejahtera lahir dan batin, materiil dan spirituil, serta diridhoi Allah SWT. Oleh karena itu prinsip-prinsip kemerdekaan individu dan sosial, tidak akan melepaskan diri dari aspek kemulian dan kemaslahatan masyarakat. Ikatan tidak pernah mengutamakan salah satu dan menghilangkan makna penting yang lain diantara peranperan individu secara sosial maupun peran-peran sosial secara individu. Ikatan hanya menentang sikap keseimbangan fungsi, yakni menentang sikap individu yang tiranik sehingga merusak tatanan dan kemanfaatan sosial dan menentang sikap sosial atau altruistisme yang membunuh peran-peran individu yang dinamis, atau sikap sosila yang deteministik. Karena diyakini oleh Ikatan bahwa Nabiyullah Muhammad SAW selalu melakukan pembebasan bagi umatnya dari tindakan-tindakan tiranik dan sewenang-wenangan dan pada saat bersamaan melakukan pencerahan-pencerahan sosial, yakni melalui pendidikan batiniah dan lahiriah yang seimbang sebagai modal dasar pembentukan masyarakat yang mulia dan utama.

http://immsetengahabad.xyz/web/keimman/nilaidasarikatan

Mars IMM:

I = G.2/4
Lagu : Mursjid
Syair : M. Diponegoro
Int : F G C B Am
F G CG C
C
Ayolah……ayo………ayo
Derap derukan langkah
F C
Dan kibarkan geleparkan panji – panji
G C E Am
Ikatan mahasiswa muhammadiyah
F G C G C
Sejarah umat telah menuntut bukti
Ingatlah ….. ingat….. ingat…..
Niat tlah di kibarkan
Kitalah cendikiawan berpribadi
Susila cakap takwa kepada tuhan
Pewaris tampuk pimpinan umat nanti
  Immawan dan immawati
Siswa tauladan putra harapan
Penyambung hidup generasi
Umat Islam seribu jaman
Pendukung cita – cita luhur
Negri indah adil dan makmur

 

http://immsetengahabad.xyz/web/keimman/marsimm

Hymne IMM:
C
Berkat rahmat Illahi
F C
Melimpahi perjuangan kami
Dm G
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
F G C
Ikhlas beramal dalam bakti
F Dm
Gemilang sinar surya
G C
Menerangi fajar harapan
F C Em Am
Jayalah IMM jaya …..a
F G F G C
Abadi perjuangan kami

http://immsetengahabad.xyz/web/keimman/hymneimm 

Tak Sekadar Merah


TAK SEKADAR MERAH
Pegiat MIM Indigenous School
Tebal: xx + 134 halaman
Harga: Rp. 30.000  
Penerbit:  MIM Indigenous School 
Pre-Order
Email :  mim.informasi@gmail.com
Twitter : @MIMindigenous 
Tahun 1964 puncak kaum muda Muhammadiyah bergejolak untuk melahirkan organisasi otonom yang bernama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Tidak hanya ditubuh kaum muda Muhammadiyah, melainkan juga secara kolektif kaum muda negeri ini. Pergulatan pada masa orde lama  mengamanahkan bagaimana IMM harus dilahirkan—sebagai kehendak sejarah. Saat ini, IMM sudah menginjak usia 49 tahun atau menjelang setengah abad. Perjalanan yang tidak sebentar bagi sebuah organisasi gerakan mahasiswa dan ortom Muhammadiyah. Inilah dilema gerakan IMM yang berdiri diatas dua kaki yakni sebagai gerakan mahasiswa islam dan ortom Muhammadiyah hingga kadang tidak pernah selesai dengan urusan dirinya sendiri.
Setelah IMM bangkit kembali dari kevakuman kepemimpinan pusat yang ditandai dengan diangkatnya Immawan Wahyudi oleh PP Muhammadiyah, perlahan IMM seperti mempunyai nafas baru dengan hadirnya karya-karya intelektual berbasis struktural. Namun, seperti ingin kembali mengulang masa kelam. Saat ini, IMM kembali mengalami kekisruhan struktural di tingkat pusat yang menyebabkan kegamangan gerakan dan ragam pertanyaan yang terus memburu, baik ditingkat pimpinan, kader hingga dunia jejaring sosial.
Ditengah sebagian rasa pesimis yang melanda kader IMM belakangan ini. Makin maraknya kalangan yang ingin menumpang hidup di Muhammadiyah. Ataupun adanya upaya ingin memanfaatkan jaringan massa Muhammadiyah dan IMM untuk suksesi pemilu 2014. Maka, dibutuhkan sekumpulan orang yang keluar dari geladak Muhammadiyah untuk selanjutnya bergerilya menopang, membersihkan dan membangun Muhammadiyah diluar komando—dan itu hanya bisa dilakukan oleh gerakan kaum muda.

Ya! IMM sebagai bagian kaum muda Muhammadiyah, harus mengambil peran aktif untuk keberlangsungan masa depan persyarikatan diabad kedua. Hal yang paling rasional bagi IMM saat ini adalah peningkatan kapasitas intelektual dan kemapanan ekonomi, hingga dikemudian hari kader IMM bukan hanya sekumpulan orang yang menggantungkan kebutuhan hidupnya terhadap Muhammadiyah. Cukuplah sirine Anies Baswedan yang memprediksi bahwa kedepan kepemimpinan nasional tidak lagi akan dipimpin oleh kaum aktivis, melainkan oleh kaum entrepreuner (wirausahawan). Tidak semua kader IMM akan dicetak sebagai sebagai pemimpin nasional, persyariatan atau bahkan para politikus. Sebab dilain tempat, ada yang ruang dimana kaum mustadh’afin membutuhkan pembelaan dan harapan untuk membangun mimpinya—disinilah cara kita ber-Muhammadiyah akan terasa cukup berbeda.
Buku ini merupakan kumpulan tulisan kader IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta melalui MIM Indegenous School. Tulisan yang berisi tentang harapan, proses dan kegelisahan mengenai IMM jelang setengah abad. Karenanya, kami menyebut buku ini sebagai pengakuan dan persaksian bahwa IMM tidak pernah kebal kritik dan protes. Lewat cara ini kami ingin menyampaikan kepada seluruh kader IMM, bahwa peringatan ritus kelahiran bukan hanya diperingati dengan cara euphoria, melainkan dengan cara bersikap reflektif dan kredo berfikir.
Barangkali, buku ini masih jauh dari sempurna. Namun, setidaknya para penulis dalam buku ini, berani membuktikan sejarah perjalanan proses mereka dalam ber-IMM—dengan cara menulis sejarah mereka sendiri. Sehebat apapun manusia jika tak memahat sejarahnya sendiri, maka ia akan terlempar dari kubangan sejarahnya sendiri; termasuk kita dalam ber-IMM.
Semoga buku “Tak Sekadar Merah; Memoar dan Testimoni Kader IMM” ini bermanfaat bagi semuanya. Selamat Milad IMM ke-49 tahun

MIM Indigenous School

PENGGALAN TESTINOMI DALAM BUKU INI 

“Setiap perubahan politik selalu periode inkubasi. Masa dimana gagasan-gagasan progresif disemai. Proses semacam itu tampaknya mulai mengambil jarak dari konteks sosial kita. Namun kader-kader muda dalam buku ini menunjukkan bagaimana arus pemikiran ke-Islaman, kemanusiaan dan keberpihakan terus tumbuh dan hidup menjadi identitas tersendiri dari gerakan IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta. Saya yakin perjuangan bukan sekadar basa basi!”
Faris Alfadh, S.IP., MA.
Dosen Hubungan Internasional UMY | Mantan Direktur MIM Indigenous School
“Buku ini, saya kira menyajikan dua hal, yakni refleksi dari para kader IMM tentang perlunya intelektualisme di satu sisi dan moralisme”
Nurwanto, S.Ag., M.A., M.Ed.
Mantan aktivis IMM DIY 1998 | Alumni Birmingham University, Inggris
”Saya percaya dan yakin, perubahan senantiasa menjadi sebuah tantangan dan sekaligus peluang bagi eksisnya IMM ke depan”
Irvan Mawardi, SH.
Ketua Umum pertama PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta | Hakim di PTUN RI

“Menjadikan IMM sebagai social movement berarti mendorong upaya transformasi dalam skala yang lebih luas. Asumsi dasar yang dijadikan pijakan adalah IMM memiliki intellectual capital, sekaligus social capital yang kemudian mampu ditransformasikan menjadi social power untuk mengubah struktur dan tatanan sosial yang tidak adil menjadi lebih lebih adil, menindas menjadi egaliter. Paradigma transformatif yang dijadikan paradigma aksi menuntut IMM membuka ruang publik yang selebar-lebarnya bagi partisipasi masyarakat, termasuk didalamnya kalangan subalterm. Selain itu, menjamin hak-hak komunitas dan individu dari rongrongan kebijakan negara dan global yang merugikan”
Fauzi Fashri
Senior IMM AR. Fakhruddin | Mantan Ketua Umum PC IMM AR Fakhruddin Kota Yogyakarta | Mantan Sekretaris Umum DPD IMM DIY
“Indonesia saat ini termasuk salah satu negara yang sangat menghindari peperangan dalam penyelesaian sengketa dengan negara lain. Dalam tatanan hubungan antarnegara, perang pada dasarnya merupakan salah satu bentuk cara sebuah negara dalam melakukan hubungannya dengan negara lain. Dalam politik internasional yang anarki, di mana negara satu-satunya entitas berdaulat yang memiliki kekuatan dan kehendak ini, maka perang sangat mungkin terjadi di antara negara mana pun di dunia”
Zain Maulana
Mantan Ketua Umum IMM AR. Fakhruddin | Mantan Ketua DPP IMM | Masiswa Flinders Australia
“Kalian sudah bisa memutuskan sesuatu dengan dewasa, maka hasilkanlah keputusan yang terbaik”
M. Sobar Johari
Dosen EPI FAI UMY | Mantan Ketua DPP IMM
 “Apa bila gerakan tidak di landasi oleh suatu pemikiran, gerakan tersebut hanya menjadi pupit dan aktornya adalah manusia robotik yang kehilangan kesadaran kemanusiaan. Direnggut oleh skenario besar yang memainkannya, oleh karena itu paradigm berfikir dilandasi nilai trilogi IMM”
Ma’ruf Senja Kurnia
Mantan Ketua Umum IMM AR. Fakhruddin
“Bacalah sebanyak bait yang tak mungkin lagi dibendung, agar isi kepala membuncah tercecer, pecahnya menggenang sungai manfaat”
Cahyo Prabowo
Mantan Presma UMY
“Mudah-mudahan kedepan bangunan paradigma yang dikonstruk menjadi sebuah perspektif gerakan yang satu, yang menjadikan penyatuan aksi gerakan yang berlandaskan atas nilai-nilai religius. Kepada seluruh kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cabang Abdul Rozaq Fakhruddin Kota Yogyakarta, sekarang saatnya  IMM membumikan cita-cita profetik perjuangan ikatan. Wahai para Cendekiawan berpribadi. Teruslah berjuang menuju puncak tak berujung”
Halim Sedyo Prasojo
Mantan Ketua Umum PC. IMM A.R.  Fakhruddin Kota Yogyakarta | Mantan Sekbid Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan DPD IMM DIY
“Setelah kita semua  menyepakati prinsip-prinsip umum dalam internal aliansi, maka kita harus melihat kembali kebelakang akan semua hal yang berkaitan dengan aliansi, karena aliansi yang akan kita bangun bukan lagi aliansi taktis melainkan aliansi strategis yang syarat utama dalam kesuksesaan pembangunannya adalah persamaan persespsi semua anggota aliansi, oleh karena itu perlu adanya pembahasan kembali dalam melihat tugas-tugas aliansi kedepan termasuk hak dan kewajiban anggota aliansi”
Deriana Putera Pamungkas
Mantan Kabid Hikmah PC IMM AR Fakhruddin Kota Yogyakarta Mantan Sekbid Seni Budaya dan Olahraga DPD IMM DIY
Bagaimana kita memaknai kader hari ini, apakah kader hanya dimaknai sebagai anggota ataukah kita sudah memaknainya sebagai fondasi dari organisasi yang menjadi struktur dalam suatu bangunan organisasi menjadi pimpinan dan melakukan transformasi organisasi. Inilah seharusnya hal pertama yang harus dipahami oleh semua kader IMM, pemaknaan tersebut menjadi awal untuk selanjutnya melakukan hal-hal yang berkaitan dengan proses pengkaderan.
Aminuddin Anwar
Mantan Kabid Kader  IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta Mantan Kabid Keilmuan DPD IMM DIY
“Tulisan ini merupakan buah pikiran dari seorang kader yang ingin menciptakan makna dari hasil refleksinya terhadap ikatan saat ini. Tulisan ini pun dilahirkan langsung atas kesadaran kader yang gemar terhadap perubahan yang terjadi di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah khususnya cabang A.R Fakhruddin karena aku percaya bahwa tulisan memiliki ruh sehingga dapat hidup dimanapun tempat yang ada dalam ruang dan waktu yang terbatas sekalipun."
Cehar Mirza
Mantan Kabid IPTEK PC. IMM A.R.  Fakhruddin Kota Yogyakarta | Mantan Direktur MIM Indigenous School Periode 2008-2009
“Tulisan ini membantu para kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah menyelami peristiwa–peristiwa yang belum terungkap dan dan kronologi kejadianya sebagai sebuah fakta yang utuh. Seperti yang penulis bahas mengenai kronologi lahirnya Gen Pemikiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah pada masa kepemimpinan cabang 2007-2008.
Hendri Suseno.
Mantan Mendagri BEM UMY | Mantan Kabid Kader PC IMM AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta periode 2006-2007

Sumber: http://mimindigenous.blogspot.jp/2013/05/tak-sekadar-merah-buku-baru.html

Geneologi Kaum Merah: Pemikiran dan Gerakan

 
Judul               : Genealogi Kaum Merah: Pemikiran dan Gerakan
Penulis            : Makhrus Ahmadi dan Aminuddin Anwar
Tebal Buku      : 308 halaman
Penerbit           : MIM Indigenous School&Rangkang Education
Tahun              : Mei, 2014
Harga              : Rp. 60.000 (Pasaran),
(Order langsung) ke MIM Indigenous School diskon 15% x Rp. 60.000 = Rp. 51.000 (diluar ongkos kirim)
Cara order langsung. Regestrasi dengan SMS dengan ketik (Nama pengorder/jumlah order/alamat penerima/nomor telpon) kirim ke  0857-234-56933 atau via Twitter dan Facebook @MIMIndigenous. Selanjutnya, pihak MIM Indigenous School akan mengkonformasi biaya ongkos kirim. Dan pengorder dipersilahkan Mentransfer (biaya buku+ongkos kirim) via BRI Syariah Yogyakarta 1006597951 a.n. Aditia Taruna MS. Barang akan dikirim, setelah ada bukti validasi pengiriman transaksi dari Bank pentranfer pihak pengorder.
  ...........................
Pengantar Penulis
Di kampus yang telah berparas pasar
Tikar-tikar digelar-gelar menjual sejumlah gelar-gelar
Lapak-lapak menjual loak-loak ilmu dan pengetahuan
Kiranya jual-beli,
sesungguhnya jelas terlihat disini
Teriakan obral penjual semakin nyaring berbunyi,
tak bersembunyi dari telinga pembeli
...
Usahlah dicari,
kuragu ada yang mau obrol-obrol diskusi,
tentang advokasi,
tentang diskriminasi,
tentang liberalisasi,
tentang marginalisasi,
dan, apalagi tentang demonstrasi!
Usahlah dicari,
kuragu ada yang menjadi aktivis
yang biasa obrolkan sosialisme
yang biasa obrolkan komunisme
yang biasa obrolkan nasionalisme
yang biasa obrolkan modernisme
yang biasa obrolkan humanisme
yang biasa obrolkan liberalisme
yang biasa obrolkan kapitalisme
dan, apalagi yang biasa mencaci hedonisme!
..
Ah. Siapa peduli!?
Jika air lebih banyak dibanding api
Terhanyut sanubari, tenggelam hati
—Pasar Gerlar: Muji Suseno
Memasuki setengah abad atau menapaki satu abad Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (1964-2014). Bukanlah usia yang singkat bagi sebuah gerakan mahasiswa Islam dan ortom Muhammadiyah. Sebab, pada rentang masa ini, eksistensi IMM selalu menemukan momentum: dalam mengukir sejarahnya sendiri. Entah, terkait persoalan internal maupun persoalan eksternal organisasi sebagai medan juang yang senantiasa memberi nafas panjang dialektika perjuangan. Namun, ditengah hiruk pikuk dialektika tersebut, acapkali masih hadir pertanyaan terkait peran pemikiran dan gerakan IMM selama ini. Hal ini didasarkan pada evolusi gerakan IMM yang dituntut menghasilkan sebuah gagasan besar, yang mampu menjadi gagasan sistemik kader secara nasional. Bahkan gagasan tersebut bukan hanya berbentuk wacana belaka, tapi menjadi gerakan khas yang berasal dari basis nilai dan identitas IMM. 
Proses dinamisasi pemikiran dan gerakan IMM seakan silih berganti, yang ditandai dengan maraknnya fenomena pergantian struktur kepemimpinan, selalu diiringi dengan pergantian akar pemikiran dan gerakan. Sehingga, adanya pluralitas pemikiran dan gerakan menjadi hal niscaya terjadi dalam tubuh IMM—disamping tidak berasal dari satu rumpun keilmuan yang sama, serta basis paham kultural yang lahir dari keluarga Muhammadiyah. Tetapi hal tersebut, tidaklah menjadi alasan untuk tidak menciptakan garis dasar pemikiran dan gerakan yang dilandasi oleh nilai dan identitas IMM. 
Salah satu bukti otentik yang mampu menjawab hal tersebut diatas, yakni: persoalan masih kurangnya kajian tentang IMM. Baik dari segi pemikiran maupun gerakan yang dapat diketahui dari kurangnya literatur dasar tentang IMM. Sekalipun ada literatur tentang IMM, hal tersebut masih menggunakan pendekatan historis dan cenderung mengabaikan pendekatan futuristik yang lebih progresif dan kritis. Bahkan celakanya, beberapa literatur yang membahas masalah IMM tidak banyak dikenal dikalangan para kader—sebagai bentuk literatur dan kajian yang bisa diperdalam sebagaimana dijelaskan dalam Bab I dan Bab IV buku ini. Sehingga, hal tersebut seharusnya menjadi bahan refleksi dan evaluasi bagi tiap level pimpinan, khususnya Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IMM: bahwa acuan bacaan dasar mengenai IMM, ternyata tidak secara optimal dimanfaatkan sebagai kajian awal untuk memahami IMM secara utuh. 
Kondisi lainnya yakni “sangat minimnya” kepedulian dan inisiatif dari pimpinan pada tiap level kepemimpinan, untuk membumikan IMM sebagai objek kajian maupun mencoba mentransformasikan kajian yang telah ada sebelumnya. Hal tersebut ditunjukkan dengan kurang tersedianya buku kajian dasar tentang IMM yang bisa dilakukan pencetakan ulang sebagai sarana untuk membumikan nilai historis dan nilai dasar gerakan IMM terhadap para kader. Selain itu, tingkat produktifitas kader dalam menghasilkan karya khususnya kajian tentang IMM juga terbilang masih minim. Hal ini dapat dilihat dari dua sisi yaitu: pertama, keengganan kader ataupun struktur pimpinan untuk menelaah ulang sejarah IMM dan mencoba menjadikan IMM sebagai salah satu objek kajian yang penting secara internal IMM, maupun dalam ranah akademis. Kedua, IMM tidak terlalu menarik sebagai objek kajian oleh orang di luar IMM, yang kemungkinan besar karena tidak mengetahui mengenai seberapa besar peranan IMM sebenarnya pada ranah-ranah tertentu.
Ditengah mencari jawaban pertanyaan yang mengkhawatirkan tersebut. Kegelisahan pun muncul, ketika pada level cabang IMM Cabang AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta menghadapi kondisi yang sangat plural: baik pemikiran, pembacaan (analisis) isu maupun implementasi gerakan. Ketiadaan pendekatan yang termanifestasikan dalam bentuk gen pemikiran ala IMM menjadikan kerangka gerakan IMM juga mengalami implementasi yang beragam. Isu-isu sentral yang seharusnya menjadi bagian dari kajian IMM—atau sebagai bagian dari pengejawantahan pemikiran juga menjadi beragam dan cenderung reaksioner. Hal tersebut menjadi refleksi dan evaluasi besar bagi ikatan untuk menformulasikan nilai dasar, corak pemikiran dan identitas gerakan IMM secara utuh. Pengembangan dari kegelisahan tersebut kemudian diimplementasikan dalam bentuk model perkaderan non-formal, yang merupakan pengembangan kapasitas intelektual pasca perkaderan formal. Desain dan tahapan dari model tersebut diimplementasikan sebagai bentuk orientasi pemikiran tertentu menjadi implementasi gerakan, yang muncul ketika tahapan-tahapan gen pemikiran dapat terlalui secara sistemik. 
Inilah evaluasi besar bagi IMM saat ini. Saat gerakan mulai tidak mampu menjawab tantangan zaman ditengah perubahan konteks dinamika sosial, politik, ekonomi dan keagamaan yang seiring sejalan ikut berubah. Sementara IMM mengalami kemapanan pemikiran dan gerakan (jumud) yang ditandai dengan susah untuk beranjak sesuai kondisi zaman. Maka, ditengah ragam pesimisme yang kian membesar tersebut. Penguatan terhadap fondasi dasar dari nilai dan indentitas IMM harus ditangkap sebagai ruh untuk memperbesar radius ragam perubahan, sekaligus memberikan penyempurnaan terhadap semangat nilai dan identitas ikatan. Artinya, terbukanya kran ijtihad pemikiran dan gerakan oleh segenap unsur dalam tubuh IMM merupakan hal yang tidak bisa ditolak, untuk menciptakan gelombang gerakan yang lebih kreatif dan inovatif dalam menapaki setengah abad IMM, tanpa harus kehilangan genealogi dirinya sebagai gerakan “kaum merah” yang progresif.
Buku ini merupakan bentuk kajian terhadap gen pemikiran kaum merah, yang mengakar kuat dalam tubuh organisasi modernis-reformis Muhammadiyah. Bentuk pengakaran tersebut ditandai dengan hadirnya semangat melakukan perubahan dalam setiap pemikiran dan gerakannya. Apalagi, usia gerakan kaum merah ini sudah hendak menapaki satu abad, yang pada tahap tertentu akan menimbulkan corak pemikiran dan gerakan yang khas. Sebab itulah, dengan meminjam genealogi Michel Foucault, kajian buku ini tidak hanya ingin menghadirkan kembali gagasan dengan pendekatan historis, tapi juga secara empirik: tentang bagaimana pemikiran dan gerakan yang dipahami dan digerakkan oleh para kader saat ini. Sehingga, harapannya buku ini mampu membangunkan kembali semangat ruh perubahan, kreatifitas berfikir dan bergerak, serta progresifitas cara bermimpi secara radikal. 
Penyebutan kaum merah dalam kajian buku ini, lebih diorintasikan pada—Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, yang memiliki identitas “simbol merah” sejak kelahirannya hingga kini. Jadi, penyebutan kaum merah, bukan secara serta merta menjadi identitas tunggal dari sebuah gerakan dan ideologi revolusioner tertentu. Melainkan identitas simbol warna universal, yang bisa digunakan oleh siapun dan gerakan apapun, untuk menunjukkan jati diri dan gagasannya. Selain itu, kami menyebut buku ini sebagai trilogi, setelah sebelumnya telah terbit: Rahim Perjuangan (2009) dan Tak Sekadar Merah (2013). Serta untuk memperingati satu dekade MIM Indigenous School. Hal ini merupakan ijtihad kami yang sering berdiskusi di MIM Indigenous School sebagai lembaga creative minority IMM Cabang AR. Fakhruddin Kota Yogyakarta, untuk memberikan kontribusi gagasan yang bersifat kajian formal akademik dan studi empiris sebagai bahan evaluasi dan refleksi bersama di setengah abad IMM atau menapak satu abad IMM. 
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada banyak pihak—IMMawan dan IMMawati, yang telah banyak membantu dalam proses penulisan buku ini diantaranya: Drs. H. A. Rosyad Sholeh yang telah berkenan memberikan prolog, Elida Djazman, Sjamsu Udaya Nurdin, Drs. HM. Alfian Darmawan, Muhammad Sobar, S.EI., MSc. dan Khotimun Sutanti, SE. yang telah meluangkan banyak waktu sebagai narasumber. Mohammad Nizar, S.IP., MA. atas epilognya. Rekan-rekan responden kader IMM yang telah kami sibukkan waktunya, maaf tidak bisa kami sebutkan satu persatu. Halim Sedyo Prasojo, SE., M.B.A—official project leader, filantropis semua project “gila” tentang cara bermimpi dan gagasannya tentang “burjois sholeh”. Cehar Mirza, S.IP., Deriana Putera Pamungkas, S.EI., Ahmad Syaifuddin, SH., Leni Susanti, S.Kep.Ners. kapan lagi kita menjaga kuburan jam 2 pagi, hanya untuk menunggu menunggu kalimat “IMM berapa?”. Serta DPD IMM DIY 2010/2012 diskusi dan kebersamaan bersama kalian tak pernah menjemukan. 
Para pegiat di MIM Indigenos School: Aditia Taruna MS, Janan Febrianto, Farhan Lutfi, Muhammad Rifandi, Rijal Ramdani, Jenal Nurfalah, Muji Suseno, Afif Noor Fauzi, Saifullah Ghozali, Rohmad Qomaruddin, dan semuanya. Para tentor dan pegiat senior Prof. Dr. Abdullah Sumrahadi, MA., Drs. Husni Amriyanto, M.Si., Nurwanto, S.Ag., MA. M.Ed., Fauzi Fashri, S.IP, MSi, Faisal, SH., MH., Darwiatik Sabista, SIP., Zain Maulana, S.IP, MA., Faris Alfadh, S.IP, MA., Irvan Mawardi, SH., M. Shaleh Farabi, S.EI., Cahyo Prabowo, SE., Andri Syah, SE. M.ec.Dev. dan semuanya. Rangkang Education David Anthony, SH.,  dan Agung Mapa.
Terakhir, terlepas dari kelebihan dan kekurangannya. Semoga buku ini, memberikan manfaat bagi seluruh kader IMM. Dan kami pun membuka pintu lebar-lebar atas saran dan kritiknya. 
Purwokerto-Yogyakarta, 9 Mei 2014
Makhrus Ahmadi
Aminuddin Anwar
... Sebuah Testimoni.
Kehadiran buku “Genealogi Kaum Merah” karya Makhrus Ahmadi dan Aminuddin Anwar ini, patut untuk menjadi referensi dan renungan bersama dalam tubuh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang sudah memasuki usia setengah abad. Buku ini tidak saja menyajikan tentang gerakan dan pemikiran dalam tubuh IMM. Tapi juga menyajikan data empirik pemikiran kader dengan sampel hampir merata di seluruh Indonesia, sehingga kebutuhan gen pemikiran IMM sebagaimana dikonsepsi dan dioperasionalkan dalam gambara buku ini, bisa membumikan lebih luas enam penegasan.
Drs. H. A. Rosyad Sholeh. (Salah Satu Deklarator Pendiri IMM)
Semoga buku karya ini memberikan banyak tambahan terhadap khazanah ke-IMM-an kepada kita, karena sependek pengetahuan saya, sangat sedikit referensi buku mengenai IMM. Kelahiran buku “Genealogi Kaum Merah, Pemikiran dan Gerakan” ini mudah-mudahan memberikan semangat bagi kader-kader IMM untuk berkarya agar referensi tentang IMM menjadi semakin kaya
Halim Sedyo Prasojo, SE., M.B.A. (Official Project Leader MIM Indigenous School)
Buku ini hadir dalam rangka ekspresi menebar kegelisahan bersama, agar terjadi perubahan simultan dan serempak bagi IMM kearah perbaikan yang secara harapkan bersama. Maka, perlu adanya diseminasi gagasan yang kemudian dikolaborasikan dalam sebuah karya yang diberi nama “Geneologi Kaum Merah”. Dari judul ini kita bisa menelisik bahwa terdapat keterputusan pemikiran IMM dari generasi kegenerasi, yang sifatnya geneologis, menumbuh dan berjejaring. Maka, dari itu perlu kita sambungkan dalam bentuk sebuah tulisan.
AditiaTaruna MS (Direktur MIM Indigenous School)
....................
Sebagian dibalik buku ini ada:
 ... Kata Mereka, Tentang Setengah Abad IMM
Pesan saya dalam rangka memperingati setengah abad IMM, agar IMM kembali menggali enam penegasan sebagai identitas IMM supaya tidak kemana-mana: apa itu IMM?
Drs. H. A. Rosyad Sholeh
Salah satu deklarator berdirinya IMM dan Mantan Ketua DPP IMM
Diusia IMM yang yang setengah abad ini, bagaimana kader IMM mampu membangun kebanggaan dan percaya diri. Ketika kader IMM tidak bangga, maka tidak anda tidak akan mengatakan siapa dirinya dan tidak bisa berbuat apa-apa. Jangan menunggu peran, anda harus mengambil peran. Dalam perjuangan tidak ada kata terlambat, yang ada hanya kata tidak mau.
Drs. Alfian Darmawan
Sekjend DPP IMM 1975-1978
Saya tidak mengharapkan kalian menjadi politisi. Dan tidak melarang kalian masuk partai politik atau bekerja sebagai wirausahawan. Tapi, saya mengharapkan kalian bisa berfikir menjadi seorang negarawan. Semoga tuhan menurunkan rahman dan rahimnya kepada kita semua. Masa depan IMM akan cerah dengan berfikir sebagai negarawan, meski tidak menjadi ketua partai.
Sjamsu Udaya Nurdin.
Salah satu deklarator berdirinya IMM
Makna dalam lagu “cendekiawan berpribadi” itu, kalau didalami tinggi betul maknanya. IMM sudah dari lahir berbicara tentang kualitas moral. Cendekiawan berpribadi adalah kepribadian Muhammadiyah. Kita memasyarakatkan kepribadian Muhammadiyah dengan berkualitas. Kita sudah berbicara tentang negara. Dan sekarang, negara berbicara tentang kualitas moral—kita sudah berbicara 50 tahun yang lalu.
Elida Djazman
Kabid IMMawati pertama dan Istri Alm. Djazman Alkindi
Kader IMM yang baik paham betul akan ideologinya. Mereka memadukan loyalitas dan militansi sebagai wujud integritas pengabdian kepada persyarikatan, ummat, dan bangsa. Patut diingat, IMM adalah rumah intelektual dan pergerakan. Terus berkarya dan berfastabiqul khairat.
Ahmad Baits Diponegoro
Mantan DPP IMM
Setengah abad bukan perjalanan yang singkat. Lika liku perjalanan IMM akan menjadikan organisasi ini semakin matang dan berjaya. Setelah setengah abad, IMM harus mampu melewati segala tantangan dan mencetak kader-kader yang mampu membawa perubahan bagi Muhammadiyah, bangsa, negara dan agama. IMM never die, jayalah selalu IMM.
Ahmad Ahid Mudayana, SKM., MPH.
Mantan Kabid Hikmah DPD IMM DIY dan Sekprodi IKM UAD
Harapan besar adalah IMM tak sibuk dengan politik belaka tanpa memikirkan kader bawah yang sudah muak dengan tingkah laku para petingginya yang tidak punya mainstream.
Tsauroh Arrisalati
DPD IMM DKI Jakarta
IMM bisa mengaplikasikan dan membumikan apa yang ada di dalam SPI. Menanamkan secara kuat jiwa militansi dan progressifitas. Menginternalisasikan nilai-nilai Islam dan ajaran-ajaran K.H. Ahmad Dahlan
Nuzula Syifaul Khujun
IMM Kebumen
Raih yang tertinggal, bekukan yang telah dicapai merupakan suatu hal untuk tetap eksis dengan mengutamakan ghiroh dasar IMM sebagai ungkapan kembali ke khiitah gerakan
Cholish
Kabid Keilmuan DPD IMM SUMUT
Kader-kader IMM harus cerdas dan solutif, intelektualprofetik itulah pegangannya, sehingga harapannya semua kader IMM kalau terjun untuk berpolitik, selalu menggunakan high politic.
Falaq Fazarudhin
IMM Universitas Brawijaya Malang
IMM menjadi jauh lebih baik, tidak berpolitik praktis, mampu memberikan pencerahan terhadap golongan muda terkhusus yang masih labil dalam rangka mendidik generasi muda, lebih mengamalkan Trilogi IMM sebagai pola dan jati diri yang tertanam erat dalam pribadi masing-masing kader.
Abdulloh Ubaid
IMM UNESA
 
Selanjutnya, temukan di buku ;)
 
http://mimindigenous.blogspot.jp/2014/05/genealogi-kaum-merah-pemikiran-dan.html

INDIGENOUS GERAKAN IMM (Menjawab Eksistensi Yang Dipersoalkan)

Oleh; Azaki Khoirudin

Kelahiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di tengah derap langkah kepemudaan, kemahasiswaan, umat, dang bangsa Indonesia sungguh bukanlah peristiwa kebetulan (an historical accindent). Bahwa, kelahiran IMM merupakan kebutuhan Muhammadiyah untuk memenuhi cita-citanya menurut zamannya dan sebuah keharusan sejarah (an historical necessity) bagi perjalanan Muhammadiyah, umat dan bangsa. Dalam kaitan ini Farid Fatoni menggolongkan ada tiga back ground kelahiran IMM.
 
A.  Kondisi Umat dan Bangsa
Kelahiran organisasi Islam dalam sejarah dipengaruhi oleh (kebangkitan Islam internasional awal abad ke-20. Hal ini memunculkan “rasa kesadaran ber-Islam dan berbangsa”. Sampai pada akhirnya Indonesia merdekan tahun 1945. Dengan maklumat pemerintah No. X/1945 yang mengijinkan berdirinya partai-partai politik secara bebas, maka perselisihan ideologi secara terbuka sampai pada G30S/PKI. Pertentangan Islam dengan PKI dan Islam dengan sekuler tak teralakkan. Akibatnya di lingkungan kemahasiswaan muncul berbagai organisasi. Organisasi keagamaan: GPII, HMI, PII, PMKRI, PMKI (GMKI). Organisasi secular: GMNI dan PMY. Sedangkan organisasi komunis: PMKH, PMD, MMM, dll.
Adapun partai adalah Masyumi terbentuk pada 7 Nopember 1945 dalam sebuah kongres di Madrasa Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta. Secara ideologis adalah kelanjutan MIAI yang dibentuk tahun 1937 sebagai hasil kongres al-Islam tahun 1921. Kemudian 17 Desember 1945 lahirlah Partai Sosialis (Marxis). Disusul Partai Nasionalis Indonesia 19 Januari 1946 di Kediri. Perselisihan ideology dalam bentuk partai mewarnai kehidupan umat dan bangsa. Pihak golongan kiri (PKI, Partai Sosialis, Pesindo, dan Partai Buruh) dianggap oleh Masyumi menodai perjuangan bangsa kerena mengadakan perjanjian Linggajati dan Renvile dengan Belanda. (1947).
Fase 1945-1950 ialah revolusi fisik. Pada 10 Nopember 1945 pertempuran di Surabaya, 3 Juli 1947 percobaan Kudeta oleh kelompok Tan Malaka, 1947 Belanda melakukan polisionil I, 1948 pemberontakan PKI di Madiun dan Desember 1948 Belanda melakukan polisionil II, dan Januari-Juli 1949 Aksi gerilya RI berkobar. Saat itu pula Muhammadiyah membentuk “Angkatan Perang Sabil” oleh Ki Bagus Hadikusumo. Pada 7 Mei 1949 ada penyataan “Roem Royen” sebagai langkah pelican Konferensi Meja Bundar lewat Mosi Integral M. Natsir. Pada 1950 dibentuklah NKRI di bawahh payung UUDS. Dimana kepala Negara adalah presiden, dan kepada pemerintahan dipimpin oleh perdana menteri.
Muhammadiyah terpanggil mengisis kemerdekaan yang mau tidak mau harus berpolitik prakstis sebagai Anggota istimewa Masyumi puncaknya menjelang Pemilu I 1955. Pada kondisi umat Islam mengalami perpecahan, puncaknya ialah keluarnya NU dari Masyumi bulan Mei tahun 1952 (mengikuti jejak SI=PSII Juli 1947). Maka umat Islam terpecah menjadi empat: Masyumi, PSII, NU, dan Perti. Ahirnya pemilu I sebagai berikut: Islam meraih 45, 2%, Nasionalis-Sekuler meraih 27,6%, komunis meraih 15,2%, dan Sosialis Kanan 2% dan Kristen-Katolik hanya 4,6%, sisanya ialah partai-partai kecil. Dari sini melahirkan tiga aliran kekuatan: Nasionalis-Islam, Nasionalis-Sekuler, dan Komunis.
Sekitar Oktobber 1956 Soekarno mengubah konsepsi Negara menjadi “Demokrasi terpimpin. Disusul 1 Desember 1946 pengunduran Hatta, menteri-menteri dari Masyumi mengundurkan diri, NU-Masyumi semaki runyam, sementara PKI semakin berkuasa. Ahirnya Muktamar ke-33 1956 di Palembang “muhammadiyah kembali ke Khittah” mengasilkan Badan Pendidikan Kader. Dengan berahirnya cabinet partai tahun 1957, maka umat Islam benar-benar lumpuh. Lebih-lebih keluarnya Dekrit 5 Juli 1959.
Muktamar ke-35 1962, menghasilkan “kepribadian Muhammadiyah”. Tahun 1963, PP GP Ansor, mengawasi gerak-gerik bekas Masyumi-PSI, GPII yang menentang Bung Karno sebagai reaksi demontrasi HMI dan pemuda Muhammadiyah di IAIN Yogyakarta pada 10Oktober 1963 tentang program NU-isasi IAIN. (suasana kehidupan tak menentu). HMI semula menentang NU malah berubah haluan mendukung “Demokrasi terpimpin”. Dan tahun 1964 HMI memecat anggota penasihatnya karena tidak sesuai dengan “revolusi”. HMI mengecam Kasman Singodimejo saat menghadapi pengadilan di Bogor agar dihukum sekeras-kerasnya. HMI bersedia memecat anggotanya yang terlibat demo 1963 di IAIN.
 
B.  Kondisi Kemahasiswaan
Mahasiswa adalah sumber kepemimpinan bangsa sebagai kekuatan moral-intelektual yang mampu mempengaruhi perubahan social. Mahasiswa sebagai kekuatan korektif dan pencetus kesadaran masyarakat terhadap kelalaian pemerintah. Dalam perjalannya dapat kita saksikan, Budi Utomo (mahasiswa STOVIA), angkatan 1920-an missal JIB (Jong Islamiten Bond, 1925), PI (Perhimpunan Indonesia, 1925), PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia. 1926), menyusul Sumpah Pemuda 1928.
Pada tahun 1910-1930 Pergerakan Mahasiswa terfokus sebagai PENGGAGAS, PENERAP, & PENDUKUNG IDEOLOGI. Maka tahun 1940-an pergerakan mahasiswa sebagai PENDUKUNG IDEOLOGI. Kemudian, 1950 menjadi PENERAP & PENDUKUNG dan terjadi pergeseran sampai 1960-an mahasiswa hanya sebagai pendukung. Namun, khusus tahun 1966 pernah tajam-tajamnya menjadi PENGGAGAS melalui KAMI.
Hal ini dapat dilihat dari berdirinya organisasi mahasiswa akhir tahun 1940 antara lain; GPII (2 Oktober 1945), PII ( 4 mei 1947), PMKRI (25 mei 1947). Disusul akibat perselisihan Pemilu I muncul: GMNI (22 Maret 1954) underbrow PNI, CGMN (1956) underbrow PKI, SEMMI (1956) underbrow PSII, kemudian GP Ansor dan IPNU. Sementara PSI membentuk Gerakan Pemuda Sosialis (GPS). Adapun PKI mempunyai Pemuda Rakyat ditambah dengaan basis komunitas dan profesi. Disinilah kader mahasiswa menerima karya ideologis partai politik menjadi penerap.
Konflik ideology politik semakin keras dan memuncak pada pemberontakan PKI di Madiun 18 september 1948. Kemudian tahun 1950 terbentuk lah NKRI dengan integral M. Natsir, saat itu juga “kenikmatan demokrasi menjadi-jadi” kehidupan mahasiswa kembali ke kampus “BUKU, CINTA, & PESTA.
Sejak 1955 Pemilu I kekuatan berimbang, kemudian disusul Masyumi keluar dari parlemen, mengantar kepemimpinan bangsa menuju otokratis, figure tunggal Soekarno. Ini menjadi jalan licin PKI yang sadar bahwa mahasiswa memiliki potensi strategis politik bangsa. PKI memanfaatkan ideology NASAKOM, tahun 1956 CGMI underbrow PKI menjadi ujung tombak permainan politik PKI.  Tahun 1958 PKI berhasil mempengaruhi IPPI sampai pecah menjadi IPPI Pancasila dan IPPI PKI.
Dengan kekuatan PKI, HMI dipecat oleh PPMI tahun 1961, menfitnah HMI lewat pamphlet gelap bulan Juli 1964 di Jogja. Karena HMI adalah lambang keislaman di kampus, maka pada puncaknya HMI akan dibubarkan yang disampaikan pada kongres ke-3 CGMI September 1965. Demikianlah situasi yang tidak menentu di tengah kehidupan mahasiswa.
 
C.  Kondisi Kemuhammadiyahan
Pertama, Muhammadiyah dihadapkan antara perjuangan versus identitasnya. Satu pihak Muhammadiyah ingin terlibat dalam partai politik murni. Di lain pihak,juga ingin menjadi gerakan dakwah murni, dan untuk mengkombinasikan keduanya seringkali mengalami ketegangan. 
Kedua, Sejak masa penjajahan Belanda 1942, Muhammadiyah dihadapkan persoalan antara kader dan pertumbuhan AUM. Maka seiring pertumbuhan AUM, muhammadiyah merasa perlu adanya kaderisasi. Kerena jika tidak, ditakutkan memberikan peluang nilai-nilai dan ideology lain bias masuk pada organisasi Muhammadiyah, seperti marerialisme dan pragmatisme. Oleh karena itu, dikenal fungsi kader sebagi pelopor, pelangsung, dan penyempurna AUM.
Ketiga, perubahan social versus profesionalitas. Terjadinya pergeseran masyarakat pedesaan menuju perkotaan, yang semula buruh, lambat laun menjadi wirausaha, lahirnya masyarakat “terpelajar”, dan semekin banyak lulusan akademik. Ahirnya lahirlah wajah baru masyarakat. Maka menjaga Muhammadiyah, tidak hanya dibutuhkan tenaga yang tidak hanya mantap di bidang ideologis, tetapi handal di bidang keahlian ilmu, profesional dan siap menghadapi perubahan social.
HAKIKAT IMM
Ada pertanyaan yang mendasar mengenai kelahiran IMM. Apakah IMM ada dengan sendirinya atau merupakan suatu kreasi manusia dalam menyikapi realitas pada waktu itu? Sejarahnya keberadaan IMM ada dikarenakan bentuk  kreasi, dimana Muhammadiyah perlu melakukan kaderisasi di lingkungan kampus pada umumnya dan PTM pada khususnya. Kaderisasi oleh Muhammadiyah bukannya dalam tingkatan pemuda yang tergabung dengan Pemuda Muhammadiyah (PM) atau pemudi yang tergabung pada Nasyatul ‘Asiyah (NA), serta kalangan pelajar yang tergabung dengan Ikatan Pelajar  Muhammadiyah (IPM) tetapi kalangan Mahasiswa yang belum ada. Oleh karena itu perlu kita melacak kelahiran IMM.
 
A.  Embrio Pemikiran
Proses gagasan nyata melahirkan IMM, ialah mulai dari keinginan Muhammadiyah untuk mengadakan pembinaan kader di lingkungan pendirian Perguruan Tinggi. Yaitu tahun 1936 melalui Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-25 di betawi Jakarta. Saat itu PP Muhammadiyah dipimpin oleh KH Hisyam (1934-1937). Namun, Muhammadiyah belum memiliki PT. Keinginan ini logis dan realistis, karena putera-putera Muhammadiyah semakin banyak dalam menyelesaikan pendidikan menengah.[1] (h. 93) Sehingga sementara pembinaan kader dititipkan pada Pemuda Muhammadiyah (1932) dan Nasyiatul Aisyiyah (1931).
Pada Muktamar ke-31 (1950, Yogyakarya) dihembuskan lagi keinginan tentang perguruan tinggi Muhammadiyah dan lagi-lagi belum berhasil. Karena NA dan PM kenyataanya masih banyak mahasiswa yang berkecimpung didalamnya. Disamping itu ada hubungan dekat yang tak kentara antara HMI dan Muhammadiyah. Selanjutnya hal ini mempengaruhi perjalanan IMM.[2] Muncul kesalahan berpikir dalam perkaderan Muhammadiyah. HMI-lah yang melahirkan tokoh-tokoh Muhammadiyah. Dengan asumsi di atas, maka yang benar adalah dengan dekatnya hubungan HMI-Muhammadiyah yang tak kentara itu telaha menjadikan kader-kader awal yang ada dalam HMI kemudian terbina dalam wadah Muhammadiyah. Sehingga dalam perjalanan muncul istilah, “HMI keponakan Muhammadiyah” dan “IMM anak kandung Muhammadiyah”. (h. 95)
Wajar menjelang kelahiran IMM, terjadilah perdebatan yang sengit di lingkungan PP Pemuda Muhammadiyah dengan HMI. Bahkan merangkap kepengurusan HMI menolak kelahiran IMM, dengan alas an mereka cukup diwadahi di Pemuda Muhammadiyah di departemen kemahasiswaan atau di HMI. Sementara yang tidak aktif di HMI mengharapkan segera diwujudkan wadah mahasiswa di Muhammadiyah. (h. 95) Sehingga berakibat pada sikap bapak-bapa Muhammadiyah yang tidak adil terhadap IMM. Seolah IMM di tengah-tengah keluarga besar Muhammadiyah belum diperlukan. IMM dianggap bukan sebagai anak kandungnya, dan sebaliknya menganak emaskan HMI.
Hal ini menunjukkan kepada bapak-bapak Muhammadiyah (khususnya yang pernah aktif HMI) menghendaki agar IMM tidak dihadirkan, karena cukup ada HMI. Sikap seperti inilah yang menghambat perkaderan. Situasi di atas, maka Muhammadiyah konsisten dengan perkaderan IMM mengeluarkan SK PP Muhamammdiyah No. E/001/1967, 2 januari 1997, tentang pembinaan kekompakan AMM termasuk IMM. Ini merupakan kesadaran Muhammadiyah terhadap pembinaan kader-kadernya.[3]
Menurut Victor, IMM secara ideologis dengan HMI memiliki wawasan yang sama. Disinilah muncul beberapa asumsi tentang kelahiran IMM, seperti “IMM lahir karena HMI mau dibubarkan. Akhirnya Muktamar ke-33 (Palembang, 1956), didirikanlah Perguruan Tinggi Muhammadiyah pada saat ini IMM belum terlahir. Tetapi dibentuk Badan Pendidikan Kader yang kemudian mengadakan pengajian mahasiswa yang penyelenggaraanya diserahkan kepada PP Pemuda Muhammadiyah. Pengajian ini dimulai bulan Juli 1958 di Gedung PP Muhammadiyah, Jl. KHA Dahlan 99 Yogyakarta. Bahkan gedung tidak mampu menampung jumlah mahasiswa hingga terpaksa di jalan-jalan.
Di sini Nampak bahwa sebenarnya banyak mahasiswa Muhammadiyah yang tak tertampung di Pemuda Muhammadiyah dan Nasiatul Aisyiyah, yang dianggap cukup mewadai pelajar-mahasiswa. Pendirian IMM tidak hanya menjadi kebutuhan mahasiswa di lingkungan Muhammadiyah, tetapi mahasiswa Non-Muhammadiyah. Bahkan dalam pembentukan IMM terdapat dua tokoh dari luar, yaitu Rosyad Saleh (dibesarkan aktivitas NU) dan Sudibyo Markus (lingkungan gereja yang ayahnya seorang misionaris dari Kediri).
 
B.  Embrio Operasional
Pada 1956 ini disebut sebagai tahun “Tahap Embrio Operasional” pendirian IMM dalam bentuk pemenuhan gagasan penghimpunan wadah mahasiswa di lingkungan Muhammadiyah. Pertama, karena tahun ini Muhammadiyah secara formal melalui keputusan Muktamar membentuk BPK. Kedua, Muhammadiyah bertekad kembali pada identitas sebagai gerakan Islam, dakwah, dan tajdid melaui khittahnya 1956-1959. Ketiga, perguruan tinggi Muhammadiyah telah didirikan. Keempat, puncak dari gagasan nyata adalah keputusan Muktamar Pemuda Muhammadiyah 1956 di Palembang, “menghimpun pelajar dan mahasiswa Muhammadiyah agar kelak menjadi Pemuda Muhammadiyah”.
Awal 1959, tiga tahun lebih keputusan tersebut dan pengajian mahasiswa semakin semarak, namun juga belum membentuk organisasi mahasiswa Muhammadiyah. Ini tidak lain adalah karena masalah klasik, ada organisasi sebagai ganti yaitu HMI. Yang kedua karena rasa komitmen Muhammadiyah terhadap Masyumi, sebagai anggota istimewa. Baru pada 8 September 1958 dengan surat Pimpinan Partai Masyumi tentang berakhirnya keanggotaan istimewa Masyumi. Untuk itu, PP Muhammadiyah mengeluarkan maklumat No. 761/I-A/U-B/M/P-M 12 Desember 1959, yang ditanda tangani oleh Farid Ma’ruf dan M. Jindar Tamimi, intinya Muhammadiyah kembali menjadi gerakan dakwah dan tidak akan menjadi partai politik.
 
C.  Embrio Akhir
Pada saat Konpida Pemuda Muhammadiyah se-Indonesia di Surakarta, 18 – 20 Juli 1961 disahkan berdirinya Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Mengapa wadah mahasiswa beluum terwujud? Toh Masyumi juga sudah dibubarkan. Baru menjelang Muktamar setengah abad di Jakarta dimana setelah diadakannya Kongkres Mahasiswa Universitas Muhammadiyah di Yogyakarta.[4] Dihembuskanlah dengan sekuat tentang perlunya didirikan suatu organisasi mahasiswa Muhammadiyah. Dan lahirlah Lembaga Dakwah Muhammadiyah yang dikoordinir oleh margono (UGM), Sudibyo Markus (UGM) Rosyad Saleh (IAIN, sedangkan ide pembentukkannya ialah Djazman Al-Kindi (UGM). Akhirnya 1963 diadakanlah penjajagan untuk mendirikan wadah mahasiswa Muhammadiyah oleh LDM disponsori oleh Djazman Al-Kindi.[5]
Dengan demikian, jelas kelahiran IMM sudah dimulai sejak awal ide pembinaan kader mahasiswa Muhammadiyah melalui pendirian PTM pada kongres Muhammadiyah 1936. Ternyata orang-orang yang berada dalam LDM inilah yang menjadi motor, penggerak terbentuknya IMM lokal Yogyakarta dengan sponsor utama  Djazman Al-Kindi. Akhirnya, tiga bulan penjajagan, maka dengan mantap dan yakin berdirilah IMM pada 29 Syawal 1384 H/ 14 Maret 1964 M. Adapun peresmian IMM ditandani dengan ditandatanganinya “Enam Penegasan IMM” ditandatangani oleh Ketua PP Muhammadiyah KHA. Badawi di Gedung DINOTO Yogyakarta. Sehingga IMM menjadi sebuah organisasi pergerakan dan kader Muhammadiyah.
 
1.    IMM sebagai Organisasi Pergerakan
Organisasi pergerakan merupakan suara yang idealis dari kaum akademisi/ intelektual dalam mengkritisi kebijakan penguasa yang tak sesuai dengan  kepentingan rakyat kecil. Organisasi ini merupakan kolektif orang memiliki kesadaran yang sama dalam menyikapi realitas di sekitarnya. Kesadaran ini timbul dikarenakan lingkungan serta budaya ilmu tumbuh sehingga pemikiran melahirkan terbuka dan ilmiah. Ruang yang sering ditawarkan oleh organisasi pergerakan adalah seruan moral dan aspirasi rakyat kecil (termarginalkan).[6]
Organisasi pergerakan akan mudah dan selalu bersentuhan dengan kepentingan khususnya kenegaraan. Hal tersebut dapat dilihat pergerakan Mahasiswa 66 dan pergerakan Mahasiswa 98 untuk menjatuhkan rezim kekuasaan yang melakukan penindasan dan bersifat ototerianism. Organisasi pergerakan selalu menyerukan moral sebagai medium untuk melakukan pressure pada kelembagaan Negara. Organisasi pergerakan dengan memiliki masa berupa mahasiswa yang memiliki kesadaran untuk menciptakan kondisi yang lebih baik. Organisasi pergerakan yang disuarakan adalah kepentingan rakyat demi tercipnya keadilan.[7]
IMM sebagai salah satu dari organisasi pergerakan Mahasiswa, hal ini dapat dilihat dari masa yang dimiliki merupakan Mahasiswa. Melihat dari, masa yang dimiliki oleh IMM, maka dalam gerakannya sesuai dengan organisasi pergerakan.  IMM sebagai salah satu dari pergerakan yang memberikan arti dan arahan yang jelas dalam menentukan proses kepemimpinan yang akan datang.
IMM sebagai organisasi pergerakan bukan hanya sekedar pengontrol kebijakan pemerintah tetapi yang lebih baiknya dapat melakukan pendampingan dan pemberdayaan masyarakat. Kemampuan ini merupakan suatu hal yang wajib dimana dengan jargonnya sebagai pembela rakyat, pembela rakyat ini dapat ditafsirkan paling tidak kader IMM dapat melakukan pemberdayaan dan pendampingan terhadap masyarakat. Penerjemahan IMM sebagai pembela rakyat yang dilakukan untuk menyuarakan kepentingan rakyat dalam tiga tingkatan yakni elit kekuasaan, kelas menengah dan masyarakat itu sendiri.
IMM memiliki peran signifikan dalam menyuarakan suara rakyat, misalkan sebagai pressure kebijakan, melakukan lobi, negosiasi, sebagai mediasi antara pemerintah dan masyarakat serta menjadi sharing patner antara pemerintah dan masyarakat. Selanjutnya IMM melakukan pembelaaan terhadap rakyat dengan pemberdayaan dan pendampingan sehingga rakyat tersadarkan, bangkit melakukan perlawanan dan sehingga terciptanya keadilan.
 
2.    IMM sebagai Organisasi Kader
Hakikat keberadaan IMM ialah suatu organisasi kader dan pergerakan  merupakan suatu kreasi dari para faunding fathers dalam menyikapi realitas pada waktu itu. IMM sebagai organisasi kader merupakan esensi dari IMM yang cerminan dari Muhammadiyah dan penerus Muhammadiyah dalam melakukan dakwah social amar ma’ruf nahi munkar guna terciptanya masyarakat ideal Muhammadiyah. Kelahiran dan kehadiran IMM di tengah derap kemahasiswaan dan kepemudaan.
IMM inherent sejak kelahirannya telah menetapkan dirinya sebagai organisasi kader. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan Djazman Al-Kindi:“Kami Melahirkan dan membina IMM dengan maksud mempersiapkan masa depan  Muhammadiyah dengan tenaga yang terlatih, baik dibidang ilmiah maupun dibidang amaliah”[8]Gerakan IMM dalam eksistensinya merupakan suatu gerakan intelektualitas. Gerakan amaliah  merupakan aksiologi dari intelektual (ilmiah) yang dimilikinya. Gerakan intelektual IMM sebagai kader sesuai dengan semangat dan cita-cita Muhammadiyah yang termanifestasi untuk kebangsaan dan kemanusiaan.
Selain itu Ahmad Dahlan tidak secara khusus menyebutkan tujuan perkaderan. Tatapi dapat ditemukan dalam pernyataannya:“dadijo kijahi sing kemadjoean, adja kesel anggomu njamboet gawe kanggo Moehammadijah”.[9] Dalam penyataan tersebut, terdapat tiga kata kunci, yaitu “kijahi”, “kemadjoean”, dan “njamboet gawe kanggo Moehhammadijah”. Kiai adalah figure yang shalih, berkhlak mulia, religious dan faham ilmu agama secara mendalam. Kemajuan adalah menunjuk kepada kemoderenan, ilmu-ilmu pengetahuan (sain), dan intelektual. Sedangkan, “njamboet gawe kanggo Moehammadijah” adalah manifestasi dari kerja-kerja kemanusiaan gerakan Muhammadiyah.
IMM sebagai ortom Muhammadiyah yang diharapkan oleh pendiri IMM sebagai wahana pertukaran fikiran dalam menentukan Muhammadiyah kedepannya. IMM sebagai organisasi kader yang diberitugas sebagai penerus tradisi KH. Ahmad Dahlan, maka yang terpenting perkaderan IMM yakni untuk Muhammadiyah, bangsa dan agama. Dalam kontsk kekinian, orientasi kader menurut Buya Syafi’I Ma’arif adalah keder kemanusiaan, kebangsaan, keumatan, baru kemuhammadiyahan.[10]
Dalam perjalannya IMM bukan hanya berfungsi bagi kepentingan ideologis regenerasi elite pimpinan (kader), tetapi penyiapan intelektual baru.[11] Yaitu suatu generasi baru dengan kemampuan ide-ide Kiai Dahlan bagi maksud pragmatis dan fungsional Islam dalam kehidupan duniawi yang beradab. Disinilah letak tanggungjawab sejarah dan teologis Muhammadiyah di masa depan, yang lebih mungkin diperankan oleh IMM.
Senada dengan itu, tujuan IMM terbentuk adalah “mengusahakan terciptanya akademisi Islam yang berakhlak mulia untuk mencapai tujuan Muhammadiyah”. Tujuan ini yakni berdasarkan tiga aitem; akademisi Islam, akhlak mulia dan mencapai tujuan Muhammadiyah. Makna dan cita-cita yang diinginkan oleh Muhammadiyah pada IMM adalah melahirkan suatu cendekiawan muslim (kiai berkemajuan) yang berakhlak mulia (ojo pegel nyambot gawe) dan mengupayakan terbentuknya masyarakat utama dalam perfektif Muhammadiyah (kanggo Muhammadiyah).
PARADIGMA IMM
Perbincangan IMM sebagai organiasasi pergerakan dan organisasi kader, IMM memerlukan epistemology sebagai sumber alat baca sehingga melahirkan paradigma, metodologi, serta metode, taktik, cara untuk transformasi gerakan. Sehingga bagi kader IMM dapat berfikir secara sistematis dan mudah untuk menganalisis secara rasional serta ilmiah.
IMM sebagai gerakan mahasiswa yang berdasarkan Islam dan dalam naungan Muhammadiyah yang gerakannya mengikuti ititiba’ nabi. Maka yang dilakukan oleh IMMdalam memandang realitas social dengan pengaplikasian wahyu agar dapat memberaikan konstribusi dalam peradaban.
Epistemology IMM sebagai gerakan Islam berdasarkan wahyu. Gerakan IMM adalah pengaktualisasian Al Qur’an yang bersifat umum (grand theory) agar dapat menjadi sebuah teori yang bersifat ilmiah. Sebagaimana dikatakan oleh Kuntowijoyo sikap kita adalah melakukan objektifikasi terhadap Al Qur’an agar dapat diterima oleh umum. Objektifikasi nilai-nilai Islam ini yang menjadikan gerakan Ikatan berbeda dengan pergerakan yang lain serta dapat mewujudkan tujuan IMM.   (Kuntowijoyo, Hal)
Wahyu menjadi alat baca dalam berinteraksi dengan realitas. Apa saja yang dapat menjadi ruh gerakan IMM dalam melakukan gerakan social demi terciptanya cita-cita kolektif IMM. Pandangan dunia gerakan IMM paling tidak terbagi menjadi tiga macam yang berada dalam intern IMM; tujuan IMM semboyan IMM dan trilogy IMM.      
 
1.    Simbol dan Semboyan IMM
Selayaknya IMM dalam realitasnya memiliki symbol, juga memiliki pandangan dunia dalam menggerakan IMM. Symbol dalam IMM yakni yang  menjadi ciri khas Ikatan seperti warna merah dan semboyan IMM. Penggunaan warna merah dan semboyan tersebut dalam sejarahnya memiliki makna yang dalam makna folosofis yang tinggi untuk kader yang baru mengenal IMM. IMM menngunakan warna merah untuk menjawab PKI dan CGMI yang juga berwarna merah. IMM ingin menunjukkan dengan warna merah tidak identik dengan kekejaman dan komunis.[12] Warna merah memiliki arti terdekatnya dengan sifat Allah yang rahman dan rahim. Warna merah juga diidentikan dengan sifat yang pemberani, pantang menyerah dan sungguh-sungguh. Penerjemahan warna ini, selayaknya menjadikan cerminan karakter kader dalam kehidupan dan merespon realitas yang ada.[13] IMM menentang komunisme karena tidak sesuai dengan Pancasila, sebagai sosialisme-religius.[14] Keimanan seseorang tidak bias dikukur dari lambing atau warna.[15]
Selanjutnya selain warna, IMM juga memiliki symbol yang tertanam dalam diri kader sebagai semboyan yakni Unggul dalam Intelektual, Anggun dalam Moral dan Radikal dalam Gerakan. Penambahan kata radikal dalam gerakan merupakan tindakan praksis yang dilakukan oleh IMM sebagai pengapilakasian dari pengetahuan yang diperolehnya. Kata radikal ini bermakna sebagai aksi yang radikal dan mengakar sehingga yang mencerminkan dari pengetahuan yang diperolehnya atau ada pada IMM. Kata moral dan penambahan radikal dalam gerakan merupakan bentuk aksiologi sebagai tindakan kongkreat dari epistemology.[16]  Makna dalam motto tersebut merupakan suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan dari seluruh kata dalam semboyan IMM. Kata yang satu dengan yang lain bersifat integral dan kohern sehingga menghasilkan makna yang utuh.
 
2.      Trilogi IMM
Trilogi adalah merupakan lahan juang IMM dan juga symbol IMM dalam melakukan transformasi gerakan. Trilogy IMM sebagai ruh IMM dalam menilai diri serta cara melakukan transformasi social yang dilakukan. IMM merupakan pergerakan kemahasiswaan. Oleh karena itu yang perlu dikerjakan oleh IMM tercantumkan dalam bidang garapan IMM yang tertuang dalam trilogi IMM kemahasiswaan, keagamaan dan kemasyarakatan. Sifat dari trilogi merupakan kesatuan yang integral dimana satu-sama lain tidak dapat dipisahkan tetapi dapat dibedakan.
Dalam sejarah munculnya trilogi IMM merupakan pengambilan intisari dalam deklarasi IMM  pada waktu Munas I IMM di Solo, yaitu “Enam Penegasan IMM/ D E K L A R A S I   S O L O 1965: 1. IMM, adalah gerakan mahasiswa Islam; 2. Kepribadian Muhammadiyah, adalah landasan perjuangan IMM; 3. Fungsi IMM, adalah sebagai eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah (stabilisator dan dinamisator) 4. Ilmu adalah amaliyah IMM dan amal adalah ilmiyah IMM; 5. IMM, adalah organisasi yang sah mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan dan falsafah negara yang berlaku; 6.Amal IMM, dilahirkan dan diabadikan untuk kepentingan agama, nusa dan bangsa. 
Pengambilan intisari dalam deklarasi kota barat tersebut memunculkan trilogy IMM yaitu, kemahasiswaan, keagamaan, dan kemasyarakatan. 1. Kemahasiswaan merupakan penerjemahan dari IMM sebagai gerakan mahasiswa Islam, dan fungsi IMM sebagai eksponen gerakan mahasiswa dalam Muhammadiyah. 2. Keagamaan merupakan pengaplikasian kepribadian Muhammadiyah sebagai landasan perjuangan. 3. Kemasyarakatan adalah amal yang diabdikan bagi IMM adalah untuk nusa dan bangsa. Sedangkan, untuk kata ilmu yang amaliah dan amal ilmiah merupakan ruh dari gerakan IMM.
Pertama, Keagamaan. Pengungkapan dari trilogi ini menjadikan seorang kader IMM dalam keagamaan maka seorang kader menguasai tiga tradisi dalam pengembangan keagamaan yang libratif, emansiapatoris sehingga agama sebagai nilai serta ruh yang praksis social kemasyarakatan. Semangat yang di bawa oleh Ahmad Dahlan adalah semangat profetis agama dalam melakukan transformasi sosial.
Kedua, Kemahasiswaan. Interpretasi terhadap simbol trilogi yang kedua kemahasiswaan menjadi intelektualitas. Menggunakan apa yang dicitakan oleh Kuntowijoyo sebagai contoh eksperimen dari masyarakat ilmu. Gerakan yang dilakukan adalah gerakan intelektual (think the future). Gerakan yang dilakukan IMM adalah keilmuan bukan politis.[17]
Ketiga, Kemasyarakatan. Pengungkapan simbol yang selanjutnya kemasyarakatan dengan interpretasinya humanitas dan liberatif. Melihat problem yang terjadi sekarang dalam era postmodernisme yang mencoba mengintegrasikan antara agama dengan ilmu pengetahuan atau penyapaan bahasa langit dengan bumi.  Pengintegrasian ini mencoba memberikan tawaran terhadap problem dehumanisasi  dengan menggunakan istilah Kuntowijoyo dengan berdasarkan humanisme teoantroprosentris.
 
PROFIL KADER IMM
Setelah kita mengkaji permasalahan eksistensi serta paradigma maka pengaplikasian yang dilakukan dalam kaderisasi adalah penanaman dan penumbuhan nilai-nilai. Gerakan IMM yakni gerakan intelektual profetik (GIP). GIP sebagai trand mark gerakan perlu dituruntakan (break down) dalam sistem kaderisasi GIP yang dapat membentuk kader yang memiliki paradigma profetik. Kaderisasi yang dilakukan merupakan bentuk internalisasi nilai-nilai kenabian pada kader sehingga memiliki kesadaran profetik.[18]
Dengan kesadaran profetik yang dimiliki oleh kader secara otomatically kader bermisi kenabian sehingga tercapai masyarakat yang dicita-citakan. Guna mengemban misi profetik: Humanisasi, Liberasi, dan Transendensi,[19]. Hal ini dapat dilihat pada Munas I 1-5 Mei 1965 dengan tema, “Membangun Organisasi, Membuka Babel Ijtihad”.[20] Dan Munas II tema “ Agama, Mahasiswa dan Modernisasi”, merupakan kesadaran IMM sebagai aparat pembaharu. Yang memainkan peran kenabian.[21] Kader IMM harus memiliki beberapa kompetensi dasar yang coba dipilah menjadi tiga basis: basis ideologis, basis pengetahuan (knowlegde), dan basis skill. Sehingga dapat dikatakan bahwah profil kader IMM ialah kader profetik religious-integral:

1. Basis ideologis

a.    Islam berkemajuan sebagai basis nilai, ruh, semangat, tempat cita-cita disematkan dan sebagai pedoman.

b.    Muhammadiyah sebagai sebuah gerakan Islam, salah satu entitas Islam obyektif dan real.

c.    IMM sebagai pilihan gerakan diranah juang kemahasiswaan.

2.  Basis knowledge 

a.    Tauhid; tauhid sebagai dasar atau basic empiris untuk melakukan praksis gerakan, tauhid disini bersifat liberasi dan bersifat humanisasi.
b.    Manusia; berkesadaran yang melakukan pola transformasi sosial baik dilakukan pada alam ataupun manusia yang lain. Sikap kita terhadap manusia adalah melakukan humanisasi dan liberasi sesuai dengan semangat surat Al Imran:110. Sikap manusia dengan alam adalah ia sebagai khalifah  yang bertugas memelihara bumi dan menjaga keseimbangan serta kelestarian alam yang digunakan sebagai sarana untuk mendekatkan diri pada Tuhan.
c.    Alam; adalah sebagai subjek yang dipandang oleh manusia sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sebagai sarana pendekatan diri pada Tuhan. Sifat hubungan manusia dengan alam adalah menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam sehingga alam tidak rusak dan menimbulkan berbagai malapetaka buat manusia.
d.    Masyarakat; adalah masyarakat yang terdiri dari berbagai macam manusia yang memiliki kesadaran dan berupaya untuk melakukan perubahan sosial. Kesadaran dalam masyarakat adalah berdasarkan pada etika profetik yang mengupayakan terciptanan tatanan sosial yang berkeadilan, tanapa penindasan dan berdasarkan rahmat Ilahi.
e.    Disiplin ilmu kader; disiplin keilmuan kader merupakan modal dalam melakukan transformasi sosial dan diaspora gerakan disemua dimensi kehidupan sesuai keahliannya.

3.   Basis Skill

a.    Kepemimpinan; adalah kepemimpinan yang memiliki karakter profetik yang mengupayakan transformasi sosial yang didasarkan pada praksis gerakan, kepemimpinan yang mampu membela yang termarginalkan dan menjadikan kedudukannya lebih baik sebagai upaya terciptanya masyarakat yang diidealkan.
b.    Komunikasi; adalah sarana untuk menampaikan berbagai macam gagasan terkait misi profetik yang diemban. Komunikasi yang dapat dimengerti oleh yang menerima pesan tanpa kehilangan subtansinya dan dapat diterima oleh siapa saja. Komunikasi sebagai sarana pertukaran informasi maka yang inginkan bersifat sesusai dengan etika profetik yang melakukan tranformasi sosial demi cita-cita yang diidealkan oleh IP.
c.    Life Skill;  sangat dibutuhkan agar IP dapat hidup dimana saja secara mandiri tidak memiliki ketergantungan pada yang lain. Sikap ini merupakan wujud eksistensi manusia baik ia sendirian ataupun hidup berkelompok.
Sumber Tinta:
v      Abdul Munir Mulkhan. Nalar Spiritual Pendidikan, Solusi Problem Filosofis Pendidikan Islam. (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002).
v      Abdul Mu’ti, “Konsep Pendidikan Kiai Haji Ahmad Dahlan” dalam Abdul Khalik, dkk, Pemikiran Pendidikan Islam: Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999)
v      Ahmad Syafii Maarif. Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah. (Bandung: Mizan. 2009)
v      Ajib Purnawan. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Beraksi Di Tengah Badai: Catatan Kritis Sejarah Kelahiran IMM Melawan Komunisme. (Yogyakarta: Panji, 2007).
v      Farid Fathoni AF. Kelahiran Yang Dipersoalkan. (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1990)
v      Kuntowijoyo. Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi dan Etika. (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006)
v      M. Abdul Halim Sani.  Grand Perkaderan Ikatan; Suatu Respon terhadap Permasalahan Global dan Kaderisasi IMM (Makalah LIP DPP IMM Yogyakarta,01-06 Februari 2009)
v      Nurcholish Madjid. Islam Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan dan Kemoderenan. (Jakarta: Paramadina, 2000)
v      Singh, Rajendra. Gerakan Sosial Baru. (Yogyakarta: Resist Book, 2010).
v      Quintan Wiktorowicz (ed). Gerakan Sosial Islam: Teori, Pendekatan dan Studi Kasus. (Yogyakarta: Gading Publishing dan Paramadina, 2012).
v      Yudi Latif. Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2011).


Ó Disampaikan pada acara DAD IMM Komisariat Pesantren Internasional Mas Mansur, Ahad, 10 Februari 2013 Miladiyah.
[1] Farid Fathoni AF. Kelahiran Yang Dipersoalkan. (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1990), h. 93
[2] Misal, ketika Lafrane mau menjajaki pendirian HMI, sempat bertukar pikiran dengan A. Kahar Mudzakir (Tokoh Muhammadiyah Pusat). Pendiri HMI, Maisarah Hilal (cucu KHA Dahlan) juga aktivis NA. Maka ada asumsi, “bila Muhammadiyah pada waktu itu tidak perlu menghimpun atau membina langsung sebab sudah ada HMI, artinya perkaderan itu dititipkan pada HMI”, lihat Ibid . 94
[3] Pada tahun 1977 di Sekolah Tinggi Muhammadiyah Bukit Tinggi terjadi sedikit persoalan sedikit sampai melibatkan dialog antara pihak Rektorat dengan PWM Sumatra Barat disebabkan perlakuan berbeda antara HMI dann IMM, HMI mendapatkan angin segar sedangkan IMM disingkirkan oleh pihak perguruan. Lihat Farid Fathoni AF. Lock. Cit., 1990, h. 96.
[4] Waktu itu Muhammadiyah sudah mempunyai Perguruan Tinggi kurang lebih sebelas buah dengan beberapa fakultas yang menyebar di berbagai kota. Lihat Farid Fathoni AF. Lock. Cit., 1990, h. 100
[5] Waktu itu sebagai Sekretaris PP Pemuda Muhammadiyah, ketuanya adalah M. Fachurrozi
[6] Singh, Rajendra. Gerakan Sosial Baru. (Yogyakarta: Resist Book, 2010), h. 110 & 132
[7] M. Abdul Halim Sani.  Grand Perkaderan Ikatan; Suatu Respon terhadap Permasalahan Global dan Kaderisasi IMM (Makalah LIP DPP IMM Yogyakarta,01-06 Februari 2009)
[8] Farid Fatoni AF. Lock. Cit., 1990, h. 106
[9] Abdul Mu’ti, “Konsep Pendidikan Kiai Haji Ahmad Dahlan” dalam Abdul Khalik, dkk, Pemikiran Pendidikan Islam: Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999, 202-203
[10] Ahmad Syafii Maarif. Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah. (Bandung: Mizan. 2009), h. 199
[11] Abdul Munir Mulkhan. Nalar Spiritual Pendidikan, Solusi Problem Filosofis Pendidikan Islam. (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), h. 193
[12] Ajib Purnawan. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Beraksi Di Tengah Badai: Catatan Kritis Sejarah Kelahiran IMM Melawan Komunisme. (Yogyakarta: Panji, 2007), h. 95
[13] M. Abdul Halim Sani.  Lock. Cit., 2009)
[14] Ajib Purnawan. Op. Cit., 2007, h. 70
[15] Farid Fatoni AF. Lock. Cit., 1990, h. 120
[16] M. Abdul Halim Sani.  Op. Cit., 2009)
[17] Gerakan keilmuan yang dilakukan dengan mengutip Kuntowijoyo mengibaratkan menanam pohon jati, dimana pohon tersebut dalam hasilnya memakan waktu berpuluh-puluh tahun dan bahkan satu generasi untuk mengungguh buah yang dihasilkan. Bedanya dengan gerakan yang bersifat politis mencari momentum yang tepat dibaratkan dengan pohon pisang dimana cepat berbuah dan berkembang tetapi bersifat sementara dan yang dihasilkan pun tak memuaskan, bahkan yang paling menyedihkan setelah berbuah pohon pisang pun mati. Gerakan keilmuan dalam IMM merupakan obor yang menjadikan IMM sebagai kader Muhammadiyah yang membedakan dengan paergerakan mahasiswa yang lain serta ortom Muhammadiyah. Lihat Kuntowijoyo. Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi dan Etika. (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006)
[18] M. Abdul Halim Sani.  Lock Cit., 2009
[19] Kuntowijoyo. Op. Cit., 2006)
[20] Farid Fatoni AF. Lock. Cit., 1990, h.115-116
[21] Ibid, 128
DISAMPAIKAN PADA DARUL ARQAM DASAR IMM KOMISARIAT PESANTREN INTERNASIONAL MAS MANSUR 
 
http://pelajarberkemajuan.blogspot.jp/2013/07/indigenous-gerakan-imm.html