Friday, June 5, 2015

Din Syamsuddin dan Internasionalisasi Muhammadiyah


Suara Muhammadiyah,  11/100, 13 - 27 SYAKBAN 1436 H / 1 - 15 JUNI 2015, hal. 48-49.
Oleh Ahmad Najib Burhani*

Dari segi jumlah penduduk, bangsa Indonesia sering berbangga sebagai negara dengan jumlah populasi terbesar keempat di dunia. Dalam konteks dunia Islam, Indonesia adalah negara dengan pemeluk umat Islam terbesar di dunia. Namun dalam catatan sejarah, peran umat Islam Indonesia di dunia internasional terlihat masih minimal. Tidak perlu membandingkan dengan Pakistan, Iran, Turki, dan Saudi Arabia, dengan negara tetangga Malaysia-pun sepertinya Indonesia masih kalah aktif.

Dulu pada tahun 1970-an, Indonesia memiliki tokoh yang sangat diperhitungkan di dunia Islam semisal Mohamad Natsir. Ia cukup disegani di berbagai negara dan bahkan menjadi salah satu pimpinan OKI (Organisasi Kerjasama Islam) dan Rabitah Alam Islami. Terlepas dari pengaruh dari Saudi Arabia terhadap dirinya, paling tidak Natsir memiliki suara yang cukup didengar di dunia Islam. Semenjak kepergian Natsir, sepertinya Indonesia belum melahirkan tokoh, pemikir ataupun pemimpin yang berskala Internasional. Inilah yang membuat sebagian orang kadang mengungkapkan kerinduannya akan hadirnya orang dari negeri ini yang mampu menjadi pemimpin dunia atau berperan secara signifikan dalam percaturan global.

Tentu saja ada beberapa tokoh Muslim nasional yang sangat hebat semisal Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, dan Ahmad Syafii Maarif. Namun demikian, sebagai pemikir dan pemimpin, level mereka sepertinya masih berskala nasional. Karya-karya dari Cak Nur, Gus Dur, dan Buya Syafii hampir seluruhnya berbahasa Indonesia dan belum banyak yang diterjemahkan ke bahasa dunia. Karya tulis mereka belum menjadi rujukan akademik di dunia luar dan juga belum banyak menjadi inspirasi dari gerakan Islam di luar negeri. Ini tentu berbeda dari Muhammad ‘Abid al-Jabiri dari Maroko, Hassan Hanafi dari Mesir, Mahmoud Muhammed Thaha dari Sudan, Muhammad Arkoun dari Al-Jazair, Abul A’la Maududi dari Pakistan dan nama-nama lain yang bukunya banyak diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dan sering dijadikan referensi akademik di berbagai komunitas ilmuwan di Indonesia.

Dulu kita memiliki Buya Hamka yang mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Mesir. Karya-karya Hamka, terutama Tafsir Al-Azhar, juga banyak dipakai di Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, dan Singapura. Meski masih berada di level Asia Tenggara tentu kita sebagai orang yang se-tanah air dengan Hamka merasa ada kebanggaan dengan kebesarannya. Dulu sekali, kita memiliki Syaikh Nawawi Al-Bantani yang menulis karya-karya berbahasa Arab. Meski seberapa besar pengaruh dari karya itu di dunia luar masih perlu terus dikaji, tapi paling tidak karya-karyanya dapat ditemukan di beberapa negara.

Memang sudah ada beberapa sarjana dari Inggris, Amerika Serikat, Jepang, Belanda, dan Australia yang mempromosikan gagasan-gagasan dari para pemikir Indonesia ke tingkat global. Orang semisal Carool Kersten, Greg Barton, Greg Fealy, Mitsuo Nakamura, Robert Hefner, dan Martin van Bruinessen adalah sarjana-sarjana asing yang memperkenalkan Islam Indonesia ke dunia luar. Namun apa yang mereka lakukan pada dasarnya adalah suplemen, bukan langkah utama untuk meningkat peran Indonesia di tingkat dunia.

Selain keterbatasan dalam hal pemikiran, dalam konteks kepemimpinan dunia, tokoh-tokoh dari Indonesia juga belum banyak menjadi decision maker ke arah mana dunia ini akan dibawa. Dulu kita kagum dengan Presiden Sukarno yang mampu menjadi pemimpin dunia dan mengajak negara-negara lain bergabung dalam gerakan Non-Blok, tidak mengikuti cara Amerika Serikat dan Uni Soviet (sekarang Rusia). Pada zamannya, Sukarno adalah leader dunia, bukan follower.

Aktivitas dan cara pandang bangsa ini terhadap percaturan internasional itu seringkali terpengaruh oleh cara pandang kita terhadap konsep negara-bangsa dan organisasi Internasional. Banyak dari kita yang terlalu fokus dalam urusan dalam negeri dan menganggap urusan luar negeri tak terlalu penting. Ini misalnya terlihat dari orang-orang yang dijadikan duta besar dan wakil Indonesia di dunia internasional. Mereka seringkali dipilih dari orang orang yang sudah tidak terpakai atau pensiun di dalam negeri.

Tentu saja memberikan tekanan dalam urusan dalam negeri bukanlah sebuah kesalahan karena jika negaranya berhasil maka peran internasional akan meningkat. Namun menutup mata dari diplomasi internasional akan membuat sulit untuk pengembangan dalam negeri karena dunia ini saling terkait satu dengan lain dan apa yag terjadi di luar sana memiliki dampak yang cukup cepat terhadap apa yang terjadi di negeri ini. Radikalisme dan terorisme adalah contohnya. Apa yang terjadi di Afghanistan, Pakistan, dan Timur Tengah akan dengan cepat mempengaruhi Indonesia. Ketika ISIS (Islamic State of Irak and Syria) mendirikan khilafah, tiba-tiba sudah ada beberapa orang yang bergabung di sana dan beberapa orang di negeri ini juga berbai’at kepada khalifah ISIS tersebut.

Kelemahan peran internasional dari umat Islam Indonesia itulah yang sejak beberapa tahun terakhir dicoba ditutupi oleh Din Syamsuddin. Selain secara pribadi aktif dalam berbagai pertemuan internasional, Din Syamsuddin juga mengajak Muhammadiyah mulai keluar dari lingkup ke-Indonesiaan dan menjadi gerakan yang meng-global.

Beberapa hal yang dilakukannya selama ini, diantaranya, adalah dengan mempromosikan Muhammadiyah di berbagai forum dunia, mendorong pendirian PCIM (Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah) di berbagai negera, mendorong kerjasama luar negeri bagi berbagai amal usaha Muhammadiyah, mengirimkan kader-kader Muhammadiyah untuk sekaloh di luar negeri. Selain itu, Muhammadiyah juga terlibat aktif dalam penciptaan perdamaian di Thailand selatan dan juga memberikan beasiswa kepada pelajar dari negeri itu untuk melanjutkan studi di berbagai perguruan tinggi Muhammadiyah di Indonesia. Langkah-langkah ini tentu perlu dilanjutkan oleh ketua umum Muhammadiyah yang akan datang jika Muhammadiyah tak ingin hanya dipengaruhi oleh dunia global, tapi juga ikut menentukan arah dunia.
-oo0oo-

*Peneliti LIPI dan pengelola blog muhammadiyahstudies.blogspot.com



Tuesday, May 5, 2015

Din Syamsuddin dan Jihad Konstitusi

Tokoh Perubahan Republika 2014

Din Syamsuddin dan Jihad Konstitusi

Kamis, 30 April 2015, 18:16 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Republika kembali mengadakan Penganugerahan Tokoh Perubahan sebagai bentuk penghargaan kepada tokoh-tokoh Indonesia yang berkontribusi besar. Ada enam tokoh yang mendapat penghargaan bergengsi ini. Salah satunya, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Din Syamsuddin.

Din dinilai berjasa besar membangun komunikasi antarumat beragama menuju harmoni dan kemajuan peradaban. Tidak hanya dalam lingkup nasional, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini juga dikenal luas sebagai tokoh Indonesia aktivis perdamaian dunia.

Baru-baru ini, Din diterima sebagai pembicara yang mewakili umat Islam di konferensi tentang Agama dan Lingkungan Hidup di Vatikan. Republika menilai Din berkiprah signifikan dalam menggiatkan Jihad Konstitusi, yakni upaya menggerakkan elemen masyarakat madani Muslim untuk mengoreksi sejumlah UU yang berpotensi bertentangan UUD 45 ke Mahkamah Konstitusi.

''Sebab, konstitusi adalah dasar dalam hidup kita bernegara dan berbangsa. Maka harus kita tegakkan itu. Sementara, sejumlah undang-undang yang meruntuhkan kedaulatan negara. Dampaknya terhadap kesejahteraan rakyat," kata dia beberapa pekan lalu.

Sejauh ini, Jihad Konstitusi yang digagas Din sudah berhasil meyakinkan MK untuk membatalkan sejumlah pasal di UU 22/2001 tentang Migas dan UU 7/2004 tentang Sumber Daya Air.

Ada pula tiga UU lain yang secara sekaligus sedang dalam proses judicial review di MK, yakni UU 25/2007 tentang Penanaman Modal Asing, UU 30/2009 tentang Ketenagalistrikan, dan UU 24/1999 tentang Lalu Lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar.

"Menurut daftar kami, sejak era Reformasi ini saja ada 115 undang-undang yang membuka pintu bagi liberalisme ekonomi, sangat berpihak ke asing, dan tentu saja tidak sesuai dengan Pasal 33 UUD 1945," ungkap Din.

Selain Din Syamsuddin, ada lima orang penerima anugerah Tokoh Perubahan Republika 2014. Mereka ialah Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, penggagas gerakan One Day One Juz (ODOJ) Bhayu Subrata dan Pratama Widodo, Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah, dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

http://m.republika.co.id/berita/nasional/politik/15/04/30/nnma0b-din-syamsuddin-dan-jihad-konstitusi

Friday, April 17, 2015

Internasionalisasi Perguruan Tinggi Muhammadiyah

KORAN SINDO, 15 April 2015
 
Muslich Hartadi Sutanto   
Ketua Kantor Urusan Internasional 
Universitas Muhammadiyah Surakarta
                                                                                                                                                        
Era globalisasi saat ini, di mana perkembangan teknologi informasi dan komunikasi demikian pesat serta semakin mudahnya mobilitas antarnegara, telah membuat batas kewilayahan antarnegara semakin tidak tampak.

Hal tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan bagi hampir seluruh negara di dunia. Dalam rangka meningkatkan ketahanan regional untuk menghadapi globalisasi, negara-negara ASEAN pada KTT Ke-14 2008 di Thailand telah meratifikasi piagam ASEAN dan menyepakati pengimplementasian tiga pilar ASEAN Commmunity yaitu ASEAN Economic Community, ASEAN Security Community, dan ASEAN Socio-Cultural Community. 

Menyongsong pemberlakuan Komunitas Ekonomi ASEAN pada 31 Desember 2015 yang sudah di depan mata, penerapan kebijakan pendidikan yang tepat sangatlah penting mengingat pendidikan merupakan faktor penentu kualitas dan kompetensi sumber daya insani. Pada era globalisasi saat ini, data OECD (2011) menunjukkan bahwa pada rentang tahun 2000-2009 jumlah mahasiswa yang belajar di luar negaranya mengalami pertumbuhan sekitar 6,5%.

Lebih lanjut Al-Franseder dan Fellinger (2012) memaparkan, secara garis besar mahasiswa yang mempunyai pengalaman mobilitas internasional lebih unggul dibanding dengan yang tidak. Namun, perlu diwaspadai bahwa di negara berkembang aktivitas mobilitas internasional tidak terjangkau biayanya oleh sebagian besar mahasiswa. Hal ini menimbulkan kekhawatiran adanya jurang kesempatan yang semakin besar bagi kalangan mampu dan kurang mampu.

Strategi yang bisa dilakukan untuk mengatasi keterbatasan tersebut adalah dengan menerapkan kebijakan ”internationalization at home”, yaitu dengan memberikan kompetensi internasional kepada mahasiswa untuk menghadapi globalisasi tanpa mereka perlu melakukan mobilitas internasional seperti halnya ketika sebagian besar orang Indonesia belajar Islam tanpa harus pergi ke Timur Tengah. Internasionalisasi pengetahuan sebetulnya bukanlah fenomena baru.

Sejak lama para cerdik cendekia telah melakukan perjalanan lintas batas negara di berbagai penjuru dunia dalam rangka memperkaya pengetahuan dan pengalaman. Ibnu Batutah, seorang cendekiawan Maroko, melakukan perjalanan untuk memperkaya ilmu pengetahuannya ke lebih dari 40 negara di Afrika, Eropa, dan Asia pada abad ke-14.

Menurut Holsinger (2003) dari hasil pengembaraannya untuk memperkaya pengetahuan tersebut, Ibnu Batutah telah memprediksi perkembangan sebuah kerajaan kecil di Anatolia yang di kemudian hari menjadi pusat Kekaisaran Ottoman di Turki pada abad ke-15 dan meramalkan bahwa Tiongkok akan menjadi salah satu pusat kekuasaan dunia di masa depan.

Beelen dan De Wit (2012) menekankan bahwa sejak pertengahan 1980-an internasionalisasi pendidikan tinggi telah berkembang pesat di negaranegara Barat, di mana isu tersebut mulai menjadi agenda utama pemerintah, institusi pendidikan tinggi, institusi akreditasi dan pemeringkatan, serta organisasi internasional.

Kesempatan kerja internasional juga telah menjadi faktor pendorong bagi institusi pendidikan tinggi untuk menyediakan lulusan yang mempunyai pengalaman internasional bagi lapangan kerja global. Molony dkk (2011) dalam paparannya di ”QS Global Employer Survey 2011” menyampaikan bahwa atribut pengalaman internasional seperti kemampuan berbahasa asing dan komunikasi lintas budaya sangat diperhitungkan di lapangan kerja global.

Akan tetapi, ada keprihatinan yang berkembang bahwa nilai tambah yang merupakan fokus utama dalam konsep internasionalisasi tradisional mendapatkan tantangan berat dari internasionalisasi yang lebih berfokus pada komersialisasi. Karena itu, Van Liempd (2013) meyakini bahwa tanggung jawab sosial pendidikan tinggi akan memberikan dampak besar pada internasionalisasi pendidikan tinggi di masa depan.

Persyarikatan Muhammadiyah yang menaungi 170-an institusi pendidikan tinggi dan sudah sejak tahun 1912 berkiprah dalam bidang pendidikan di Indonesia menyadari betul pentingnya internasionalisasi gerakan dan telah melakukan langkah-langkah nyata untuk mengembangkan internasionalisasi pendidikan tinggi yang tidak hanya menyiapkan sumber daya insani menghadapi era globalisasi, namun lebih jauh lagi untuk mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Di bawah naungan Majelis Dikti PP Muhammadiyah, perguruan tinggi Muhammadiyah telah membentuk forum Kantor Urusan Internasional Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang mempunyai tugas pokok untuk mengembangkan internasionaliasai perguruan tinggi Muhammadiyah.

Beberapa perguruan tinggi Muhammadiyah telah mengimplementasikan konsep ”internationalization at home” dalam rangka menyediakan kesempatan seluas-luasnya bagi sumber daya insani Indonesia untuk mendapatkan kompetensi internasional tanpa harus ada mobilitas internasional yang biayanya tidak terjangkau bagi sebagian masyarakat Indonesia.

Sejak 2009 beberapa perguruan tinggi Muhammadiyah bekerja sama dengan Southern Border Administrattive Centre (SBPAC) Thailand memberikan beasiswa studi di perguruan tinggi Muhammadiyah bagi warga Thailand Selatan. Bekerja sama dengan KBRI Manila dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, beberapa perguruan tinggi Muhammadiyah memberikan beasiswa studi S-2 dan S-3 bagi warga Bangsamoro di Filipina Selatan.

Tidak hanya itu, dengan dukungan Bank Dunia akademisi perguruan tinggi Muhammadiyah juga terlibat sebagai pendamping bagi penyusunan konstitusi dasar Bangsamoro.

Pembahasan mengenai internasionalisasi gerakan dan manhaj Muhammadiyah dalam kemanusiaan universal tersebut dibahas lebih lengkap dan mendalam pada seminar pramuktamar Muhammadiyah ke-47 di Universitas Muhammadiyah Surakarta pada 14 April 2015. 

Wednesday, April 15, 2015

Mewujudkan Peta Jalan Internasionalisasi Muhammadiyah

Jawa Pos, 14 April 2015

Bambang Setiaji
Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta

Sebagai suatu gagasan dan gerakan, tentu saja Muhammadiyah ingin menyumbang secara internasional dan memperkenalkan diri ikut aktif memberikan solusi bagi dunia Islam yang sekarang tercabik-cabik. Blueprint perjalanan Muhammadiyah ke pentas internasional itu perlu dipikirkan supaya tidak asal jalan. Harus dibuat peta jalan yang bisa atau memungkinkan untuk dilaksanakan.

Kiai Dahlan dan para pendahulu mendirikan Muhammadiyah, di samping melihat umat yang hidup dalam kejumudan, karena melihat kuatnya mazhab-mazhab yang diikuti dengan membabi buta (taqlid). Dengan mengambil nama Muhammadiyah, para pendahulu membebaskan diri dari keterikatan dengan suatu mazhab.

Nabi Muhammad SAW mewariskan sesuatu yang sangat luas. Di luar masalah akidah, hampir dalam setiap masalah terdapat variasi dan keluasan. Hal itu tampak dalam berbagai hadis yang satu sama lain bisa dikonstruksi menjadi mazhab fikih yang berbeda. Alquran juga sangat luas bisa mewadahi berbagai penafsiran yang tiada habisnya.

Dengan mengambil posisi tidak bermazhab, Muhammadiyah kembali pada keluasan Islam. Muhammadiyah adalah tenda besar, keragaman dalam keseragaman dan keseragaman dalam keragaman. Yang dimaksud keseragaman adalah nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, martabat, kemanusiaan, dan sebagainya. Sedangkan keragaman adalah fikih, metode, dan pemikiran.

Muhammadiyah tidak berwarna secara mazhabi, tetapi mempunyai warna dalam nilai luhur dan universal. Karakteristik itu membuat wujud internasionalisasi Muhammadiyah berbeda. Misalnya, dengan HTI, Jamaah Tabligh, Ikhwanul Muslimin, Ahmadiyah, dan gerakan internasional lain. Muhammadiyah mengidentifikasi diri dengan Islam itu sendiri, bukan sekte. Keprihatinannya pada masalah internasional tidak terikat oleh sekte, tetapi nasib umat Islam semua seperti Palestina, Timur Tengah, Afrika Utara, Rohingnya, dan dunia Islam lain.

Sebagai gerakan Islam modern tidak bermazhab, energi Muhammadiyah tidak henti mengalir, mencermati, mewacanakan, bahkan bertindak dalam hubungan internasional, baik politik, ekonomi, maupun budaya. Dalam bidang politik, ekonomi, dan budaya, Muhammadiyah selalu mengambil posisi tertentu dalam menyikapi ketidakadilan yang umumnya terjadi antara dunia Barat dan sisanya.

Masih berkaitan dengan globalisasi atau internasionalisasi, Muhammadiyah mempunyai standing position tertentu. Misalnya, terhadap modal asing yang berpotensi merugikan rakyat Indonesia. Dalam wacana internasionalisasi, bukan saja kita pergi menjadi tamu di dunia internasional, tetapi juga ketika menjadi tuan rumah. Muhammadiyah paling aktif berwacana dan bahkan menggugat kekuatan modal asing, terutama yang merusak lingkungan atau memiliki skema perjanjian yang kurang adil. Terhadap modal asing yang membawa kemajuan, memberikan pekerjaan rakyat, serta membawa perubahan manajemen dan teknologi, Muhammadiyah sangat welcome.

Internasionalisasi Muhammadiyah dimulai ketika Kiai Dahlan pergi haji dan belajar di Makkah serta Madinah. Beliau membawa pandangan baru tentang Islam dan kemajuan, khususnya dari Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan Jamaluddin Al Afghan. Penerimaan terhadap kemajuan yang dalam kenyataannya diciptakan Barat terus dikembangkan Muhammadiyah. Dimulai dengan mengadopsi sistem belajar sekolah Belanda yang berbeda dengan sistem pesantren saat itu. Muhammadiyah tidak alergi terhadap Barat dan kemajuannya, bersedia berinteraksi, mengirim dosen-dosennya belajar di sana, serta menjalin berbagai kerja sama.

Peta Jalan Menuju Internasionalisasi

Dalam keagamaan, Muhammadiyah lewat PPM menjadi peserta aktif dalam dialog antaragama (interfaith dialogue) dan beberapa kali menjadi tuan rumah. Kegiatan itu perlu dilanjutkan pada masa depan.

Dalam menghadapi kemelut di Timur Tengah, Muhammadiyah bisa berandil dalam mencegah masuknya paham kekerasan ke dalam negeri. Sebagai gerakan Islam modern yang memiliki banyak sekolah, Muhammadiyah tidak mengajarkan kekerasan sebagai penyelesaian masalah.

Kemelut Timur Tengah akhir-akhir ini bersumber dari masalah yang kompleks. Misalnya, ketidakadilan karena sistem yang tidak memungkinkan rakyat bertransformasi menembus batas vertikal. Hal itu berbeda dengan negara Islam demokratis seperti Indonesia dan Turki. Ketidakadilan yang membuat rakyat tertekan dibumbui teologi yang berkembang, terutama perbedaan Sunni-Syiah, dan dikemas begitu mendalam.

Internasionalisasi dalam pengertian pembukaan cabang Muhammadiyah di luar negeri ternyata berjalan sesuai atau dibawa mahasiswa studi di luar negeri. Para mukimin dan pekerja Indonesia melanjutkan dengan membuka cabang khusus.

Negara ini umumnya sudah sangat maju dalam hal teknologi dan ekonomi. Bila di Indonesia Muhammadiyah juga berperan memajukan sekolah dan teknologi yang berujung ekonomi atau industri, di negara maju, peran Muhammadiyah menjadi penyeimbang, pengingat akan adanya Tuhan.

Industri makanan selalu menyertai setiap langkah internasionalisasi. Umat Islam termasuk rewel dalam hal makanan, terutama soal larangan makan babi dan minuman beralkohol serta binatang yang tidak disembelih dengan bacaan bismillah. Teologi yang berkembang di sekitar itu bervariasi. Ada yang membolehkan makan daging yang disembelih dengan cara nonislam, terutama Nasrani dan Yahudi. Ada pula yang tetap mengharamkan.

Akibatnya, muncul halal food di hampir semua kota penting di dunia. Halal food memberikan setitik dakwah di tengah hiruk pikuk kota modern bahwa Tuhan masih ada dalam peradaban semaju apa pun.

Di Amerika, terdapat seorang senator yang disumpah di bawah Alquran. Di Prancis, Inggris, dan Jerman, komunitas Islam merupakan pemilih potensial. Sebab, di tengah merosotnya partisipasi dalam pemilu, umat Islam bisa memainkan peran yang dilirik politisi. Segmen ini merupakan peta jalan yang juga harus dicermati anggota atau simpatisan Muhammadiyah sebagai gerakan nonsekte atau gerakan yang menerima Islam apa adanya.

Menurunnya penduduk di negara maju dan Jepang serta Korea, sedangkan Indonesia mengekspor TKI yang berpotensi menetap di negara-negara itu, juga merupakan peta jalan yang perlu dicermati. (*)

http://www.jawapos.com/baca/opinidetail/15750/mewujudkan-peta-jalan-internasionalisasi-muhammadiyah

Tuesday, April 14, 2015

Internasionalisasi Gerakan dan Manhaj Muhammadiyah untuk Kemanusiaan Universal


Seminar Pra-Muktamar “Internasionalisasi Gerakan dan Manhaj Muhammadiyah untuk Kemanusiaan Universal”, PP Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), 14 April 2015.
















JADWAL
SEMINAR PRA MUKTAMAR MUHAMMADIYAH KE-47
Internasionalisasi Gerakan dan Manhaj Muhammadiyah untuk Kemanusiaan Universal
Di Universitas Muhammadiyah Surakarta, 14 April 2015


WAKTU

MATERI
NARASUMBER
09.0010.30
Pembukaan
1)      Sambutan Rektor
2)      Iftitah Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah
3)      Keynote Speech Menteri Luar Negeri Republik Indonesia


10.30 – 12.00
Sesi 1
Peran dan Kontribusi Muhammadiyah di Dunia Internasional: Catatan Sejarah

Muhammadiyah dan Model Pengembangan Kerjasama Internasional


Prof. Dr. Azyumardi Azra


Prof. Dr. Bahtiar Effendy
 
12.00 – 13.00
Istirahat


13.00 – 14.30
Sesi 2
Merumuskan Pola dan Konsep Internasionalisasi Muhammadiyah ke Depan


1.   Prof. Dr. M. Amien Rais, M.A.
2.   Prof. Dr. Muhadjir Effendy
3.   Hilman Latif, Ph.D.

14.30 – 16.00
Sesi 3
Menemukan Aspek Unggul Muhammadiyah untuk Internasionalisasi Gerakan


1.     Prof. Dr. Syafiq A. Mughni
2.     Drs. A. Dahlan Rais, M.Hum.
3.     Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed.

16.00 – 17.30
Sesi 4
Merumuskan Road-Map Internasionalisasi Muhammadiyah


1.     Prof. Dr. Bambang Setiaji
2.     Dr. Ahmad Najib Burhani

17.30 - ……
Penutupan

Panitia