Tuesday, August 19, 2014
Saturday, August 16, 2014
Monday, July 7, 2014
Polarisasi Muhammadiyah di Pilpres 2014
Ahmad Najib Burhani*
Pada survey yang diadakan oleh LSI (Lingkaran Survey
Indonesia) pada 1-9 Mei 2014 diperoleh informasi bahwa warga Muhammadiyah yang
sudah memutuskan untuk memilih pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto- Hatta
Rajasa (PS-HR) lebih besar (31,57%) daripada pemilih pasangan Joko Widodo-Jusuf
Kalla (JKW-JK) (27,44%). Namun demikian, angka yang lebih besar (40,99%) dari
warga organisasi modernis terbesar di Indonesia ini masih merupakan swing voters alias belum menentukan
pilihan hingga saat survey dilakukan.
Polarisasi suara Muhammadiyah itu semakin kentara bila
dilihat dari aksi dukung-mendukung yang dilakukan oleh aktivis organisasi ini. Sebagian
aktivis, seperti M. Amien Rais (mantan ketua umum) dan Saleh Daulay (ketua umum
Pemuda Muhammadiyah), menegaskan kepada publik bahwa mereka mendukung pasangan nomor
satu. Sebagian warga Muhammadiyah yang mendukung koalisi Indonesia Raya atau
koalisi Merah-Putih itu bahkan mendeklarasikan dukungan dalam wadah yang
bernama Surya Madani Indonesia (SMI).
Pendirian SMI itu sebetulnya merupakan reaksi terhadap
kelompok serupa yang didirikan oleh warga Muhammadiyah untuk mendukung JKW-JK,
yaitu Relawan Matahari Indonesia (RMI). Wadah RMI ini didirikan diantaranya
oleh Izzul Muslimin (mantan ketua umum Pemuda Muhammadiyah) dan Abd Rohim
Ghazali (mantan sekjen Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah). Selain mereka yang
tergabung dalam RMI, dukungan terhadap koalisi JKWI-JK juga datang dari
tokoh-tokoh senior Muhammadiyah seperti Ahmad Syafii Maarif (mantan ketua umum),
Abdul Munir Mulkhan, dan Rizal Sukma (Direktur Eksekutif CSIS dan pengurus PP
Muhammadiyah).
Pertanyaannya, mengapa suara Muhammadiyah terbelah begitu
tajam? Sebetulnya Muhammadiyah sebagai organisasi sudah memiliki posisi yang
jelas, yaitu memilih untuk bersikap netral. Keputusan ini bahkan secara resmi
telah tertuang dalam Maklumat Kebangsaan
Menghadapi Pemilihan Presiden 2014 yang dikeluarkan Muhammadiyah pada
Tanwir di Samarinda 23-25 Mei lalu. Dalam Maklumat itu Muhammadiyah memberi
kebebasan kepada anggotanya untuk memilih pasangan capres/cawapres yang
memenuhi tujuh kriteria, yaitu: relijius, negarawan, decisive, mampu mengelola negara dengan baik, mampu menjaga
kewibawaan dan kedaulatan negara, strategic,
dan committed. Netralitas itu
merupakan sikap politik yang dipegang secara konsisten oleh Muhammadiyah sejak
lama. Bahkan ketika salah satu kader dan mantan ketua umumnya, yaitu M. Amien
Rais, maju sebagai calon presiden pada Pemilu 2004, Muhammadiyah secara resmi
tetap memilih menjaga sikap netral ini.
Sebagai sebuah prinsip, sikap netral Muhammadiyah itu
sebetulnya memiliki terjemahan dan penerapan yang beragam. Pada masa Orde Baru dan
ketika Muhammadiyah dipimpin Amien Rais (1995-1998), netralitas itu ditekankan
pada slogan “high politics” atau politik adiluhung. Artinya, keterlibatan
Muhammadiyah dalam politik lebih ditekankan pada keberpihakan terhadap
nilai-nilai moral dan sosial serta menghindarkan diri dari upaya memobilisasi
masa untuk mendukung partai tertentu atau figur tertentu atau untuk mengejar
jabatan dan posisi tertentu di pemerintahan.
Ketika Muhammadiyah dipimpin oleh Syafii Maarif (1999-2005),
pilihan terhadap “high politics” ini tetap menjadi suara resmi organisasi. Namun
bahasa slogan yang lebih sering dipakai adalah “menjaga jarak yang sama” ke
semua partai dan aktor politik. Pada masa kepemimpinan M. Din Syamsuddin
(2005-2015), prinsip netralitas itu juga menjadi pilihan resmi meski ia
menggunakan strategi dan slogan yang berbeda dari Syafii Maarif, yaitu “menjaga
kedekatan yang sama” dengan semua partai politik. Ketika Joko Widodo datang ke
kantor Pusat Muhammadiyah di Menteng, dia diberi kesempatan oleh Din Syamsuddin
untuk mengimami shalat Dzuhur berjamaah yang secara simbolis kadang dimaknai
sebagai dukungan terhadap pencalonan Joko Widodo. Hal yang sama diberikan
kepada Prabowo ketika datang ke Muhammadiyah. Din Syamsuddin, misalnya,
mencerikan bagaimana dulu dia dan teman-temannya biasa memanggil Prabowo
sebagai Umar. Sebutan yang mengacu kepada Umar bin Khattab (khalifah kedua
dalam Islam) dan Umar bin Abdul Aziz (khalifah terkenal dari Dinasti Umayyah)
ini dipakai untuk menunjukkan keberanian Prabowo membela Islam.
Jika suara resmi Muhammadiyah adalah netral, mengapa survey
di atas menunjukkan bahwa warga ormas ini yang cenderung memilih pasangan PS-HR
lebih besar dari mereka yang cenderung bergabung ke barisan JKW-JK? Ada
beberapa penjelasan terhadap pertanyaan ini, diantaranya adalah faktor PAN
(Partai Amanat Nasional).
Meski secara resmi PAN bukanlah partainya Muhammadiyah,
namun organisasi inilah yang banyak berperan dalam membidani kelahiran PAN. Tak
bisa dipungkiri bahwa logo dari PAN memiliki kedekatan dengan logo
Muhammadiyah. Di samping itu, banyak aktivis dan warga Muhammadiyah yang
menjadi anggota DPR (Dewan Perwakitan Rakyat) dari partai ini atau menjadi
pengurus partai ini. Dibandingkan dengan jumlah warga Muhammadiyah di partai
lain, maka tentu jumlah warga Muhammadiyah di PAN jauh lebih besar. Terlebih
lagi ada upaya dari PAN untuk kembali mengambil hati warga Muhammadiyah
terutama setelah PMB (Partai Matahari Bangsa) yang didirikan oleh aktivis muda
Muhammadiyah tak mampu melewati electoral
threshold pada pemilu 2009 yang lalu.
Ketika PAN memberikan dukungan resmi kepada Prabowo sebagai
capres dan ditambah lagi cawapresnya adalah Hatta Rajasa yang merupakan Ketua
Umum PAN, maka tak heran jika banyak warga Muhammadiyah yang menjatuhkan
pilihannya pada pasangan PS-HR. Tentu saja ada faktor lain, seperti ideologi
(kedekatan dengan partai-partai Islam lain), yang mempengaruhi pilihan warga
Muhammadiyah. Namun faktor yang paling menentukan sepertinya adalah faktor PAN.
--oo0oo—
Friday, July 4, 2014
Izzul Muslimin: Berseberangan dengan Amien Rais
JPPN.com, Kamis, 03 Juli 2014 , 15:36:00
NAMA Izzul Muslimin sempat jadi perbincangan karena memilih pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Sebagai mantan Ketua Pemuda Muhammadiyah, sikap politiknya itu jelas dianggap berseberangan dengan para pengurus maupun anggota dan warga di organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan itu.
| Koordinator Relawan Matahari Indonesia, Izzul Muslimin. Getty Images |
NAMA Izzul Muslimin sempat jadi perbincangan karena memilih pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Sebagai mantan Ketua Pemuda Muhammadiyah, sikap politiknya itu jelas dianggap berseberangan dengan para pengurus maupun anggota dan warga di organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan itu.
Kini, Izzul bukan hanya sekadar menjadi
pendukung duet capres yang dikenal dengan Jokowi-JK itu, tetapi juga
menjadi relawan penggalang dukungan. Pada 31 Mei 2014 lalu, Izzul
mendeklarasikan Relawan Matahari Indonesia (RMI) yang masuk barisan
pendukung Jokowi-JK.
Dengan bendera RMI, Izzul seolah melawan
arus besar di organisasi keagamaan yang pernah dipimpin Amien Rais itu.
“Jokowi-JK itu tak jauh dari Muhammadiyah,” kata Izzul kepada M
Kusdharmadi dari JPNN.
Bagi Izzul dan RMI, sosok Jokowi-JK sangat
dekat dengan tujuh kriteria pemimpin masa depan yang digaungkan saat
Tanwir Muhammadiyah di Samarinda beberapa waktu lalu.
Lantas apa yang melandasi semangat
berdirinya RMI? Kenapa Izzul dan RMI menjatuhkan pilihan kepada
Jokowi-JK dan bukan kepada Prabowo-Hatta?
Berikut petikan wawancara wartawan dengan
Izzul di Posko RMI di Jalan Pulo Raya IV, Petogogan, Kebayoran Baru,
Jakarta Selatan, Rabu (18/6).
Bagaimana awalnya berdirinya RMI ini?
Relawan Matahari Indonesia ini kita
deklarasikan pada tanggal 31 Mei 2014 setelah penatapan calon presiden
dan calon wakil presiden. RMI ini sebenarnya adalah individu yang
bergabung untuk mendukung Jokowi-JK sebagai capres-cawapres 2014. Hanya
saja, kalau dari unsur atau background memang kebanyakan dari
Muhammadiyah.
Ada beberapa tokoh yang terlibat aktif,
kebetulan saya ditunjuk teman-teman jadi Koordinator Relawan. Ada
penasehat Sutrisno Bachir mantan Ketua Umum PAN (Partai Amanat Nasional)
dan banyak lagi.
Apakah RMI ini bagian dari Muhammadiyah?
Muhammadiyah kan secara resmi menyatakan
netral berdasarkan keputusan Tanwir di Samarinda. Maka secara
organisatoris kita tidak membawa Muhammadiyah, tetapi lebih ke
individu. Jadi kalau ada yang mengaku membawa Muhammadiyah secara
kelembagaan, tidak benar. Muhammadiyah secara organisasi netral. Namun,
individu boleh saja menyalurkan aspirasinya.
Ada juga personal di Muhammadiyah yang mendirikan relawan mendukung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Bagaimana tanggapan Anda?
Iya, ada juga banyak yang membuat relawan.
Tapi saya kurang tahu, mana yang serius bergerak. Tapi saya lihat ada
yang dibuat mirip RMI. Logonya kalau saya katakan makmum (mengikuti)
kita. Alhamdulillah ada yang memakmumi kita itu.
Muhammadiyah saat tanwir
menyatakan ada tujuh kriteria pemimpin masa depan. Warganya
dipersilahkan memilih yang paling mendekati tujuh kriteria itu. Lantas
kenapa Anda dan RMI memilih Jokowi-JK, bukan Prabowo-Hatta?
Karena memang kalau melihat tujuh kriteria
itu sangat tepat dengan figur Jokowi-JK. Misalnya, Jokowi-JK itu orang
yang merakyat, egaliter. Kalau di Muhammadiyah kan tidak ada
kelas-kelas, kita cenderung egaliter.
Menurut kita, figur Jokowi-JK seperti itu.
Ada satu istilah di Muhammadiyah yang cukup terkenal. Yaitu, sedikit
bicara banyak kerja. Dan itu cocok dengan figur Jokowi-JK. Mereka adalah
tipe man of action. Mereka tidak terlalu berwacana, tetapi
pergerakannya jelas. Kebijakan dan langkahnya konkret.
Itu bisa dilihat dari track record mereka.
Misalnya bagaimana Jokowi saat masih di Solo (wali kota) dan DKI
(ebagai gubernur). Pak JK juga sebelum jadi wapres menjadi menkokesra
eranya Bu Mega, kelihatan bagaimana perannya dalam perdamaian Aceh,
Maluku, Poso. Itu rekam jejak orang yang tidak bisa menghapuskannya.
Saya kira real, itu salah satunya.
Kemudian, menurut saya ini yang paling
sangat penting Jokowi-JK ini bukan orang yang meminta-minta jabatan. Hal
ini kalau di Muhammadiyah sangat prinsip. Kalau orang jadi pimpinan
Muhammadiyah, bukan modelnya mengajukan diri. Tapi, atas usulan dari
daerah atau wilayah untuk menghusulkan nama. Baru kemudian yang
bersangkutan dihubungi, bersedia atau tidak untuk menjadi pimpinan
Muhammadiyah. Jadi tidak ada proses mengajukan diri.
Itu sistem di Muhammadiyah. Karena, kita
memahami bahwa jabatan itu amanah. Tidak boleh meminta. Jadi, kalau
diberi amanah harus kita terima, karena itu menjadi kepercayaan. Itu
yang kemudian kita melihat dipilihnya Jokowi-JK, bukan sosok pimpinan
tertinggi parpol, bukan ya kalau boleh saya bilang tanda kutip itu trah,
Soekarno, Soeharto. Ini sama sekali tidak. Mereka mewakili rakyat pada
umumnya.
Selain itu PDIP sebagai partai pemenang
pemilu yang mengusung capres-cawapres dengan koalisi yang ada dan
memberi mandat kepada Jokowi-JK. Prosesnya seperti itu. Jadi ini
sangat-sangat identik, pas dengan gaya kepemimpinan dalam Muhammadiyah.
Ini yang kita sangat berharap banyak dengan Jokowi-JK. Ini aspirasinya
cocok dengan gaya kepemimpinan Muhammadiyah.
Lantas segmen pemilih mana yang mau digaet RMI selain warga Muhammadiyah?
Pada dasarnya RMI ini terbuka. Kita tidak
membatasi hanya orang Muhammadiyah yang bergabung. Kemarin misalnya
kita mendapatkan dukungan dari pemulung di salah satu tempat pembuangan
sampah di Tangerang. Sekelompok pemulung itu ingin mendukung Jokowi-JK.
Mereka ada link ke RMI, jadi ketika mereka ingin memberikan dukungan,
kita tampung.
Di Bandung ada pernyataan dukungan dari
persatuan pedagang bakso se-Bandung Raya yang akan disampaikan melalui
RMI. Kita tidak membatasi orang Muhammadiyah saja. Siapapun pada
dasarnya kalau sepakat silahkan bergabung dengan RMI.
Berapa target suara yang akan dipersembahkan untuk memenangkan Jokowi-JK?
Secara angka tidak. Tapi, ini ada klaim yang ingin kita luruskan.
Maksudnya klaim?
Ada klaim, yang mungkin sudah pernah
didengar. Pak Amien (Rais) yang mengatakan 80 persen warga Muhammadiyah
pilih Prabowo-Hatta, sisanya baru pilih Jokowi. Saya kira ini klaim yang
tidak punya dasar.
Kalau kita boleh lihat dari survei yang
ada, tingkat netralitas Muhammadiyah masih cukup tinggi. Di LSI sebelum
Juni misalnya, kalau tidak salah masih tinggi, yakni ke Prabowo 34
persen dan Jokowi 27 persen. Tapi, masih ada 40 persen yang masih
mengambang atau swing voters. Sebenarnya orang-orang ini (swing voters),
bukan orang yang tidak punya pilihan, bukan tidak memlih. Mereka pasti
akan milih. Cuma karena organisasi (Muhammadiyah) sudah mengatakan
netral, mereka tidak akan secara tebruka menyampaikan dukungan itu.
Nanti ada satu dua (mendukung) secara terbuka, silahkan. Tapi secara organisatoris (Muhammadiyah) kan tidak seperti itu.
Klaim sepihak itu tidak benar?
Saya mengatakan belum ada dasarnya.
Yakin mereka pada saatnya menggunakan hak politik dan menjatuhkan pilihan ke Jokowi atau Prabowo?
Pasti, tapi belum secara terbuka. Tapi,
indikasinya, begitu saya deklarasi RMI 31 Mei, itu sambutan luar biasa.
Sudah 21 provinsi yang mendirikan RMI dan sudah deklarasi. Sudah kita
SK-kan. Hampir 87 kabupaten/kota yang juga sudah men-declare itu. Ini
yang diekspresikan. Artinya masih banyak yang mungkin tidak secara pasti
(terang-terangan). Seperti ada yang PNS (pegawai negeri sipil) misalnya
tidak men-declare. Saya menduga mungkin bisa jadi lebih besar yang
mendukung Jokowi-JK, hanya mungkin tidak tersampaikan (terang-terangan).
Sekarang ada warga
Muhammadiyah yang mendirikan relawan mendukung Jokowi dan Prabowo. Tidak
khawatir muncul gesekan di internal Muhammadiyah?
Sebenarnya sih kalau orang Muhhammadiyah
sudah cukup dewasa. Dalam arti, ketika mereka kembali pada semangat
dalam pemilu ini, Muhammadiyah memberikan kebebasan warga untuk memilih.
Harusnya dalam posisi itu tidak ada klaim warga Muhammadiyah itu mau ke
sana atau ke sini. Saya setuju itu.
Mestinya ketika ada perbedaan pilihan itu
dan saya kira ini juga terjadi di organisasi lain, di NU (Nadhlatul
Ulama) misalnya ada ke sana sini. Menurut saya kita harus dewasa
menyikapi itu. Saya terus terang banyak mendengar, teman-teman dianggap
beda ketika menyatakan dukungan ke Jokowi. Saya paham mengapa begitu,
karena selama ini orang selalu mengidentikkan PAN ke Muhammadiyah.
Padahal tidak selalu begitu, walau Pak Hatta itu Ketua Umum PAN memang
Muhammadiyah.
Pak Hatta itu menjadi anggota Muhammadiyah
setelah menjadi menristek (menteri riset dan teknologi, red), bukan
sejak muda, bukan kader awal. Itu harus dicatat, karena yang membuat
kartunya saya.
Kebetulan waktu itu saya jadi Kepala
Kantor PP Muhammadiyah di Yogyakarta yang mengurusi kartu. Jadi saya
tahu proses bagaimana Hatta mendapatkan kartu. Seperti itulah kira-kira.
Jadi, meski Hatta Ketua Umum PAN tapi PAN tidak selalu identik dengan Muhammadiyah?
Memang PAN didirikan Pak Amien, yang juga
pernah menjadi Ketua Umum Muhammadiyah. Tapi, secara organisatoris
Muhammadiyah dan PAN ini tidak dalam satu hubungan yang mengikat. Jadi
tetap bebas. Warga Muhammadiyah diberi kesempatan kalau ada yang mau
terjun ke parpol, silahkan, tidak hanya PAN. Ada yang di PDIP, Golkar,
bahkan saya sendiri di Hanura. Jadi artinya, fakta bahwa orang
Muhammadiyah ada di tempat (parpol) lain.
Tidak benar Muhammadiyah selalu identik
dengan PAN. Tampaknya, ini mau dieksploitasi Muhammadiyah harus PAN,
padahal tidak begitu. Karena realitasnya, saya lihat Buya Syafii Maarif
yang juga bekas Ketua Umum PP Muhamadiyah itu ternyata lebih dekat ke
Jokowi-JK, meski beliau lebih bijaksana tidak harus ke mana-mana
(menunjukkan dukungannya). Tapi dari sikapnya, saya melihat ke sana
(mendukung Jokowi-JK, red). Jadi, tidak bisa kita klaim Muhammadiyah itu
harus ke Prabowo. Sangat penting adalah Jokowi-JK ini punya hubungan
yang sangat mesra dengan Muhammadiyah. Ini banyak orang tidak tahu.
Maksud Jokowi dan JK punya hubungan dengan Muhammadiyah?
Saya baru tahu kalau ternyata ibunya
Jokowi-JK itu ikut pengajian Aisyiyah. Ibunya Pak Jokowi di Solo, ibunya
Pak JK di Makassar. Bahkan, mertua Pak JK, ayahnya Bu Mufidah, pernah
menjadi Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah di Makassar. Beliau (mertua JK)
aslinya Sumatera Barat yang ditugaskan Muhammadiyah untuk membesarkan
Muhammadiyah di Makassar. Kalau dari sisi itu bukan orang asing mereka
berdua (Jokowi-JK) dengan Muhammadiyah. Saya sempat tanya teman-teman di
Solo, ternyata Jokowi ini tidak terlalu jauh dengan Muhammadiyah.
Kenapa milih Jokowi-JK, bukan mendukung Prabowo-Hatta?
Kalau RMI begini, intinya kenapa tidak
mendukung Prabowo-Hatta karena kita melihat bahwa Prabowo-Hatta dari
beberapa stetamennya menyatakan mereka ingin melanjutkan kepemimpinan
sekarang. Dan kita melihat ada beberapa catatan yang cukup jelas bahwa
khususnya lima tahun terakhir ini kepemimpinan SBY-Boediono dari sisi
prestasi memang menurut kita agak mengecewakan.
Biasanya kan begini, parpol itu akan
mengikuti dari siapa yang memegang kekuasaan. Misalnya di Amerika
Serikat, itu ketika Obama dari Demokrat sukses, maka pemilu berikutnya
Demokrat itu ikut sukses. Sukses dalam arti kepemimpinan negara, bukan
kepemimpinan partai. Korelasinya kuat, itu kelihatan sekali.
Ketika setelah pemilihan legislatif
kemarin (di Indonesia) Demokrat itu dari 20 persen (Pemilu 2009) menjadi
hanya 10 persen. Artinya, ada ketidakpercayaan dari masyarakat kepada
Demokrat sebagai imbas dari ketidakpercayaan masyarakat kepada SBY.
Artinya, masyarakat sendiri melihat kepemimpinan SBY ini banyak
catatatannya. Kita merasa bahwa dalam situasi seperti ini perlu
perubahan. Kalau Obama temanya itu (perubahan).
Sebenarnya Jokowi mirip itu juga. Ini
antitesa dari kondisi kepemimpinan SBY yang menurut kami kurang berhasil
untuk lima tahun ini, sehingga perlu perubahan. Perubahan itu ada di
Jokowi-JK, bukan Prabowo-Hatta. Secara klaim Prabowo menyatakan dia akan
meneruskan kebijakan. Tapi, saya kurang paham juga, yang meneruskan itu
seperti apa dan yang mana. Tapi, dia selalu mengklaim itu.
Hatta juga jelas adalah bagian
pemerintahan SBY dan memegang peranan penting, real wapres. Kalau ada
real presiden itu dulu JK, ini real wapres Hatta. Dia (Hatta) punya
peran cukup besar. Malah saya lihat kedekatannya lebih. Faktor itu juga
tidak bisa kita lepaskan. Nah, kita dalam posisi ini melihat Indonesia
butuh prubahan. Perubahan itu ada di Jokowi-JK. Karena itu kita tidak
memilih Prabowo-Hatta.
Setelah mendirikan RMI dan
terang-terangan mendukung Jokowi-JK, apa tanggapan dari sesepuh atau
petinggi Muhammadiyah? Apakah ada yang mengecap Anda sebagai pembangkang
atau pengkhianat? Bagaimana menghadapinya?
Kalau secara organisatoris tidak ada.
Bahkan saya selalu katakan langkah kami ini individu, bukan organisasi.
Kalau dipersoalkan secara organisasi justru di pihak sana (pendukung
Prabowo-Hatta, red) yang terang-terangan. Pengganti saya di Pemuda
Muhammadiyah saat tanwir bilang terang-terangan.
Kalau secara pribadi ikut di parpol,
mendukung, itu urusan pribadi. Jangan membawa organisasi. Tapi ini
justru ditampilkan di forum, tanwir. Menurut saya ini justru malah yang
tidak sesuai dengan Muhammadiyah. Saya melihat langkah saya ini
individu. Bagi yang pahami sikap Muhammadiyah, tidak masalah. Kalau ada
yang mempersoalkan itu rata-rata posisinya di seberang. Jadi wajarlah
itu. Mereka mungkin merasa ya ibaratnya "kok pasarnya diganggu".
Muhammadiyah sikapnya kan tebruka, jadi tidak bisa meminta Muhammadiyah
harus ke sana semua dan sebalikanya. Saya juga tidak ingin Muhammadiyah
semuanya harus ke Jokowi-JK, pilihan itu kembali ke masing-masing
individu.
Apapun pilihannya, tetap warga Muhammadiyah?
Iya. Yang penting kedewasaan melihat
persoalan. Jangan sampai menghujat ketika saya ambil pilihan ini
dianggap macam-macam. Karena menurut saya juga siapa yang menghianat?
Tidak ada. Muhammadiyah sendiri tidak menyatakan dukungan secara resmi
organisatoris. Muhammadiyah memberikan kebebasan. Tidak ada yang salah
menurut saya.
Apa bentuk dukungan relawan di RMI, apakah akan turut menjadi saksi di TPS nanti?
Kita memang akan memberikan kalau boleh
saya katakan memberikan pencerahan. (RMI) Ini kan Matahari Indonesia,
jadi memberikan pencerahan kepada masyarakat terutama tentang Jokowi-JK.
Baik secara personal maupun programnya. Terus terang banyak sekali
informasi yang sifatnya mendiskreditkan Jokowi-JK dengan fitnah
macam-macam. Ini akan diclearkan ke masyarakat bahwa Jokowi-JK adalah
sosok seperti ini (tidak seperti yang diinformasikan atau difitnah itu).
Banyak masyarakat di bawah belum tahu atau perlu mendapatkan informasi
itu.
Kedua, kita posisi relawan, bukan tim
pemenangan resmi. Untuk saksi itu harus dari tim pemenangan resmi. Tapi
kita siapkan sumber daya manusia. Kalau seandainya kesulitan merekrut
saksi resmi, kita akan siap untuk membantu itu. Kalaupun sudah ada saksi
resmi, kita akan ikut partisipasi menjaga agar TPS ini tidak dicurangi.
Kita sudah merumuskan strategi bahwa
setiap TPs itu relawan RMI ikuti hingga tuntas. Kalau perlu mengawal
hasil pemilu jangan sampai dicurangi.
Lagipula, posisi kita bukan pemegang
pemerintahan. Mohon maaf, kalau kemudian mau curang lewat mana? Karena
kita bukan dalam posisi menguasai alat negara. Justru yang kita
khawatirkan yang kuasai alat negara, yang nanti memanfaatkan itu.
Yang menguasai alat negara mengklaim netral?
Makanya kita harap klaim netral itu
benar-benar netral. Tidak lips service doang. Ini kita khawatirkan,
jangan sampai alat negara dimanafaatkan. Mudah-mudahan TNI, Polri, PNS
bisa memposisikan diri netral. Kita tetap waspada akan bergerak
mendukung saksi resmi yang ditugaskan amankan TPS.
Harapan untuk Jokowi-JK kalau mereka terpilih?
RMI, tidak hanya sekedar mengantar
Jokowi-JK jadi presiden dan wapres. Tapi kita akan kawal kebijakan
Jokowi-JK sesuai dengan harapan rakyat. Oleh karena itu, RMI tidak
berhenti begitu pemilu selesai. Kita akan kawal. Kita juga paham, dalam
politik ini pasti ada juga penumpang gelap. Misalnya melihat nanti
Jokowi-JK ini menang, kemudian tiba-tiba ambil posisi yang kemudian bisa
jadi menelikung di tengah jalan, merusak agenda revolusi mental
Jokowi-JK.
Kita akan kawal Jokowi-JK, paling tidak
sampai periode selesai sehingga apa yang menjadi semangat Jokowi-JK di
awal ini akan benar-benar tuntas dan menemukan hasilnya sampai pada
cita-cita yang diharapkan bersama.
Mungkin RMI mau jadi parpol nanti?
Saya tidak berpikir ke sana. Tetapi
intinya, kita akan melakukan pengawalan bagaimana agenda yang sudah
ditetapkan Jokowi-JK ini tetap bisa kita kawal sampai pada hasil yang
dirasakan masyarakat. (boy/jpnn)
http://www.jpnn.com/read/2014/07/03/243920/Berseberangan-dengan-Amien-Rais-
Wednesday, July 2, 2014
Muhammadiyah dan Lokalisasi di Surabaya
Koran Sindo, 2 Juli 2014, hal. 7
Oleh Ahmad Najib Burhani*
Pada
18 Juni yang lalu, pemerintah kota Surabaya secara resmi menutup dua lokalisasi
terbesar di kota itu, yaitu Dolly dan Jarak. Penutupan ini sebetulnya merupakan
rangkaian terakhir dari proses penutupan seluruh lokalisasi di Surabaya yang
sudah dimulai sejak Desember 2012. Berbeda dari dari proses penutupan
lokalisasi di Dupak Bangunsari (Desember 2012), Tambak Asri (April 2013),
Klakah Rejo (Agustus 2013), dan Sememi (Desember 2013) yang tak mengundang
banyak liputan media, penutupan Dolly dan Jarak mengundang reaksi pro dan
kontra cukup sengit di masyarakat dan mendapatkan liputan media yang cukup
banyak.
Penentangan
terhadap keberadaan lokalisasi itu telah lama dan sudah sering disuarakan
berbagai elemen masyarakat, terutama ormas keagamaan. Namun penutupan itu baru
bisa terjadi setelah walikota Surabaya, Tri Rismaharini, yang kebetulan dari
PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) bergerak langsung. Alasan
penutupan yang sering dikemukakan adalah kesehatan (penyebaran HIV/AIDS),
moralitas (merusak masa depan anak dan keluarga), dan ekonomi (pengembangan
industri dan kota). Kritik terhadap penutupan ini berkisar pada terciptanya
prostitusi liar di luar lokalisasi dan menjamurnya prostitusi elit di
hotel-hotel. Alasan lainnya mengacu pada hak bekerja orang yang selama ini
mendapatkan nafkah dari keberadan lokalisasi, terutama karena penutupan itu dianggap
mematikan industri seks rakyat dan mendukung industri seks kaum kapitalis.
Tulisan
ini tidak menyoroti tentang kontroversi penutupan lokalisasi dan peran
pemerintah dalam penutupan. Kemampuan dan wewenang penutupan secara resmi memang
hanya dimiliki dan hanya bisa dilakukan oleh pemerintah. Namun banyak proses
lain selama penutupan dan pasca penutupan yang tak bisa dilakukan sendiri oleh
pemerintah. Karena itu, tulisan ini ingin melihat beberapa proses kultural yang
dilakukan pihak swasta, dalam hal ini Muhammadiyah, dalam kaitannya dengan
penanganan para PSK (Pekerja Seks Komersial) dan mantan PSK. Ini adalah isu
yang jarang mendapat liputan media dan ini adalah medan yang seringkali
pemerintah merasa kuwalahan.
Salah
satu identitas yang melekat pada Muhammadiyah selama ini adalah sebagai gerakan
yang cukup giat memberantas TBC (Takhyyul, Bid’ah, dan Churafat). Diantara
beberapa praktek keagamaan yang berkaitan dengan TBC adalah praktek-praktek
keagamaan lokal yang tidak memiliki landasan kuat dalam Al-Qur’an dan Hadist
seperti slametan, ziarah kubur, dan tawasul.
Pemahaman
seperti itu memang masih dipraktekkan oleh beberapa pengikut Muhammadiyah di
beberapa daerah. Namun berbeda daerah lain, Muhammadiyah di Surabaya memiliki
terjemahan dan penerapan yang unik terhadap doktrin purifikasi TBC. Gerakan
purifikasi yang dilakukan oleh Muhammadiyah Surabaya, terutama cabang Krembangan,
lebih ditujukan pada purifikasi moral dan sistem sosial yang berupa
praktek-praktek prostitusi.
Upaya
yang dilakukan Muhammadiyah dalam penanganan, pembinaan dan pendampingan PSK
dan mantan PSK sudah berlangsung sejak 2004 dengan dipelopori oleh ketua
Muhammadiyah Krembangan, Arif An. Diantara program yang sudah dijalankan adalah
berupa pemberian modal usaha cuci baju, warung kopi, toko kelontong; pemberian
ketrampilan pembuatan keset dan menjahit; pelatihan mengaji dan pendidikan bagi
anak-anak PSK; dan perawatan kesehatan. Ada sekitar 25 orang PSK yang saat ini menjadi
binaan Muhammadiyah.
Purifikasi
dalam bentuk penanganan PSK adalah sesuatu yang kurang lazim bahkan di Muhammadiyah
sendiri dan pada awalnya mendapat tantangan yang cukup berat dari dalam
Muhammadiyah dan juga masyarakat luar, termasuk PSK dan para pendukungnya. Dalam
proses pembinaan, Arif An, misalnya, bercerita bahwa dia sudah sangat bersyukur
jika PSK binaannya itu bisa berhenti dua bulan saja dari dunia prostitusi. Jika
ada yang bisa bertahan tak kembali ke dunia prostitusi selama satu tahun
padahal dia masih muda, maka itu merupakan sesuatu yang luar biasa. Tingkat
keberhasilan kuantitatif dalam upaya ini, menurutnya, hanya sekitar 20 persen
saja. Tapi upaya ini barangkali tak bisa sekadar dilihat dari kuantitas, tapi
pada proses yang konsisten itu sendiri.
Beberapa
mantan PSK menceritakan bahwa untuk keluar dari dunia prostitusi itu sangat
berat dan butuh tekat yang kuat. Salah seorang PSK bercerita bahwa suatu hari
temannya menelpon dia dan memberi tahu kalau dia baru mendapat uang banyak
karena pelanggan lagi ramai dan dia mengajaknya untuk melayani tamu-tamu itu.
Bujukan seperti ini membuat mantan PSK mudah kembali ke aktivitas prostitusi
jika dia tak punya niat kuat untuk keluar dari dunia itu.
Apa
yang dilakukan di Krembangan ini pada awalnya bahkan mendapat penentangan dari
Muhammadiyah, terutama dari Aisyiah, sayap perempuan Muhammadiyah. Penentangan
itu diantaranya karena wilayah dakwah ini sangat slippery (licin) yang membuat pelakunya mudah terpeleset dan jatuh.
Alih-alih membantu para PSK keluar dari dunia prostitusi, banyak orang yang
justru masuk terperosok ke dalamnya. Namun sekarang program ini mendapat
dukungan penuh dari Muhammadiyah. Bahkan PCM Krembangan terpilih menjadi PCM
percontohan di organisasi modernis Muslim ini.
Apa
sebetulnya makna purifikasi sosial dalam kaitannya dengan prostitusi? Istilah
purifikasi moral dengan subyek dunia prostitusi ini sebetulnya bukan berasal
dari Muhammadiyah. Istilah ini dipakai oleh Phil Hubbard dalam artikelnya yang
berjudul “Cleansing the metropolis: Sex work and the politics of zero
tolerance”. Artikel itu terbit di jurnal Urban
Stucies, volume 41, nomor 9, halaman 1687-1702. Hubbard mengkaji beberapa
pemerintahan kota, terutama London dan Paris, dalam menangani lokalisasi dengan
menerapkan kebijakan zero tolerance atau
tak ada kompromi bagi lokalisasi. Istilah lengkap yang dipakai oleh Hubbard
adalah “moral cleansing and purification”.
Peran
Muhammadiyah memang tak sama dengan pemerintah kota Surabaya yang memiliki
wewenang mengatur tata kota dan pengembangan ekonomi dengan menutup lokalisasi.
Namun sikap zero tolerance itu juga
ada di Muhammadiyah dan karena itulah organisasi ini menjadi pendukung kuat
upaya penutupan berbagai lokalisasi di Surabaya. Salah satu pengurus
Muhammadiyah Surabaya misalnya, tak mau mengakui prostitusi sebagai profesi dan
karena itu ia tak bersedia menyebut mereka dengan istilah PSK. Ia memilih
memakai istilah lama yang cenderung menghakimi yaitu, WTS (Wanita Tuna Susila).
Cara pandang Muhammadiyah itu sebetulnya sealur dengan MUI (Majelis Ulama
Indonesia) wilayah Surabaya dan juga pemerintah Kota Surabaya. Salah satu juru
bicara pemerintah, misalnya, menyebutkan bahwa prostitusi bukanlah profesi
karena tidak ada pajak dan zakat dalam kegiatan ini. Pada spanduk resmi acara
penutupan lokalisasi Sememi pun istilah yang dipakai adalah WTS, bukan PSK.
Proses
purifikasi moral yang dilakukan oleh Muhammadiyah itu intinya diwujudkan dalam
beberapa program, diantaranya adalah: Pertama, pendidikan bagi anak-anak PSK di
sekolah Muhammadiyah tanpa ada diskriminasi. Proses ini dimaksudkan agar
anak-anak itu tak meniru orang tuanya atau bahkan mengingatkan orang tuanya
agar berhenti dari dunia prostitusi. Kedua, upaya pembelian wisma (brothel) dan mengalihfungsikannya
menjadi tempat pendidikan atau kegiatan lain. Ketiga, dukungan kepada
pemerintah untuk secara resmi menutup berbagai lokalisasi di Surabaya. Keempat,
pemberian modal usaha dan pelatihan ketrampilan terhadap para PSK dan mantan
PSK sehingga mereka bisa mandiri tanpa harus kembali ke dunia prostitusi.
Selain itu, akan dilakukan pembinaan ruhani sehingga mereka konsisten keluar
dari prostitusi. Kelima, mencoba mempengaruhi pemerintah desa dan pejabat
pemerintah di tingkat bawah untuk mendukung upaya penutupan. Keenam, mencarikan
suami bagi PSK atau mantan PSK sebagai upaya praktis menghentikan praktek
prostitusi.
--oo0oo--
Tuesday, July 1, 2014
10 Tahun Maarif Institute: ‘For Culture and Humanity’ atau ‘For Morality and Humanity’?
Oleh Ahmad Najib
Burhani
Banyak orang yang
telah berjasa bagi keberadaan Maarif Institute selama satu dekade ini. Namun
menurut saya dua nama harus diberikan kredit pertama kali. Mereka adalah Buya
Ahmad Syafii Maarif dan Kang Moeslim Abdurrahman.
Untuk Buya, selain namanya dipakai sebagai nama dari
institusi ini, yang lebih penting lagi adalah visi perjuangannya yang dipakai
sebagai motto dari Maarif Institute, yaitu ‘For Culture and Humanity’. Namun
demikian, menurut saya, motto ini agak terlalu lebar dan umum untuk
menggambarkan visi hidup dan perjuangan Buya. Orang akan bertanya-tanya,
“Kultur seperti apakah yang diusung oleh Maarif Institute?” Pertanyaan ini tak akan
ditemukan jawabannya dengan melihat melihat motto itu.
Motto yang lebih pas bagi Maarif Institute barangkali bukan
‘For Culture and Humanity’, tapi ‘For Morality and Humanity’. ‘Morality’ dan
‘humanity’ adalah dua kata kunci jika orang hendak membaca atau mempelajari
sosok yang bernama Ahmad Syafii Maarif. Persoalan moralitas yang menjadi
perhatian Buya sepanjang hidupnya dapat dikategorikan dalam tiga kelompok: 1)
moralitas bernegara, 2) moralitas dalam pergaulan antar-umat beragama atau
antar umat yang memiliki keyakinan dan identitas berbeda, dan 3) moralitas
dalam pergaulan dengan mereka yang memiliki agama dan keyakinan yang sama.
Untuk moralitas bernegara, Buya Syafii selalu kritis
terhadap ketimpangan moralitas para penguasa seperti terlihat pada budaya
korupsi dan perlombaan untuk hidup bermewah-mewah bagi sebagian pejabat. Buya mengistilahkan mentalitas pejabat
kita sebagai mentalitas ikan lele, dimana semakin kotor dan keruh tempat mereka
hidup, mereka justru semakin senang. Budaya korupsi ini telah membuat mereka
‘rabun ayam’ atau hanya memiliki visi yang pendek, sekadar bagaimana menjadi
kaya dan terkenal secara cepat. Mereka tidak bisa melihat jauh ke depan dan
membawa bangsa ini ke arah yang jelas.
Untuk moralitas antar-agama, Buya selalu menekankan bahwa
visi agama adalah untuk rahmatan lil
‘alamin. Karena itu, prinsip moral dalam bergaul dengan orang yang berbeda
agama adalah saling menyayangi dan berlomba dalam kebaikan. Buya menganggap
non-Muslim yang berjuang demi keadilan dan kemanusiaan lebih sebagai saudaranya
daripada sesama Muslim yang menindas umat manusia. Masih dalam kategori
moralitas antar-agama, Buya melihat pemaksaan agama, baik secara langsung
maupun melalui konstitusi, seperti pemaksaan Piagam Jakarta, sebagai
pelanggaran moralitas dalam pergaulan antar agama.
Untuk moralitas sesama Muslim, Buya selalu melawan
penggunaan agama untuk premanisme atau yang diistilahkannya sebagai ‘preman
berjubah’. Buya selalu menekankan prinsip ukhuwah dan tawadu’ dalam bergaul
antara sesama umat Islam; bahwa masing-masing kelompok tidak boleh dengan mudah
menuduh umat Islam lain sebagai kafir, murtad, dan musyrik. Pendeknya, bagi
Buya moralitas bukanlah semata persoalan cara berpakaian dan pornografi, tapi
lebih pada moralitas yang lebih besar, yakni bagaimana hidup bernegara,
beragama, dan bermasyarakat.
Sementara untuk prinsip ‘humanity’, Buya Syafii sering
mengutip surat Al-Ma‘un. Buya tidak memakna humanity semata dalam konteks charity, tapi lebih sebagai perlawanan
terhadap ketidakadilan dan ketimpangan sosial. Buya menjelaskan bahwa perbedaan
antara tauhid dan polytheisme terletak bukan sekadar pada persoalan kepercayaan
kepada Tuhan Yang Maha Esa, tapi lebih penting dari itu tauhid harus dibuktikan
sebagai alat perlawanan terhadap eksploitasi, keserakahan, dan ketidakadilan.
Semua tindakan buruk ini, bagi Buya, adalah wujud daripada kemusyrikan kepada
Tuhan. Dalam berbagai ceramah, tulisan, dan aktivitasnya, Buya berkali-kali
menegaskan perlawanannya terhadap penindasan TKW (Tenaga Kerja Wanita), kebohongan-kebohongan
yang dilakukan pemerintah, dan juga gaya hidup bermewah-mewah sebagian orang
sementara sebagian besar penduduk negeri ini hidup dalam kelaparan.
Kehadiran Kang Moeslim atau lebih tepatnya misi yang
diembang Kang Moeslim ketika memimpin Maarif Institute lebih ditekankan pada
upaya mengejawantahkan prinsip ‘humanity’ tersebut. Namun sebetulnya ada perbedaan pola antara Buya
Syafii dan Kang Moeslim dalam mengimplementasikan prinsip ‘humanity’ atau
‘al-Ma‘un’ ini. Kang Moeslim cenderung ke arah Marxist dan menerapkan strategi
ala NGO dalam melawan penindasan terhadap orang miskin, buruh, tani, dan
nelayan. Kang Moeslim selalu berpikir tentang struktur kemiskinan, kelas dan
dosa sosial, matrix penindasan, dan seterusnya. Karena itu, untuk melawannya,
Kang Moeslim perlu membentuk jaringan, menciptakan discourse, dan mencoba
mengubah atau menguasai struktur. Itulah saya kira salah satu alasan mengapa ia
mendirikan JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah) pada tahun 2003. Kang
Moeslim berharap dengan JIMM ini prinsip ‘humanity’ bisa terlaksana dengan
terciptanya jaringan, discourse, dan struktur. Peran Buya dalam proyek ini,
sebagaimana yang diharapkan Kang Moeslim, adalah sebagai teolog dan idolog
Al-Ma’un. Dan memang itulah yang dilakukan Buya selama ini karena beliau lebih
sebagai pemikir dan ulama, daripada sebagai orang lapangan.
Kalau dilihat
dari konteks sejarah, apa yang dicanangkan oleh kombinasi Buya dan Kang Moeslim
itu adalah suatu strategi baru dalam penerjemahan dan pengamalan Al-Ma’un.
Setidaknya ada dua pola penerapan Al-Ma’un dalam sejarah Muhammadiyah. Yang
pertama adalah gaya Ahmad Dahlan yang mendirikan sekolah, rumah sakit, dan
panti asuhan (schooling, healing, dan
feeding). Yang kedua adalah pola yang
diterapkan oleh Abdul Mukti Ali dengan masuk ke pemerintah dan bergabung dengan
proyek developmentalisme atau pembangunan pada tahun 1970-an. Dalam pola kedua
ini, pemberantasan kemiskinan diantaranya dilakukan dengan proyek KB (Keluarga
Berencana) dan memaknai agama yang bisa mendukung perkembangan ekonomi. Berbeda
dari kedua pola itu, apa yang dilakukan Kang Moeslim ditujukan kepada mereka
yang selama ini terpinggirkan secara sosial atau people of subordination seperti para buruh, tani, dan juga pekerja
seks. Caranya adalah melalui tiga metode tersebut di atas; jaringan, discourse,
dan struktur.
Subscribe to:
Comments (Atom)




orcid.org/0000-0002-0333-8344