Sunday, June 13, 2010

Pertemuan dengan Kyai Haji Akhmad Dahlan

Resist Info › 10/2005
newsletter 10/2005

Saya beranggapan bahwa selama ini Muhammadiyah belum pernah mendasarkan program dan strategi sosialnya atas dasar elaborasi yang mendalam mengenai realitas sosial yang objektif. Akibatnya adalah bahwa Muhammadiyah tidak pernah siap merespon tantangan-tantangan perubahan sosial yang empiris terjadi di masyarakat atas dasar konsep, strategi, dan teori yang jelas.
(Kuntowijoyo)

Adzan itu menggema dengan lantunan yang menyejukkan. Seruan yang memikat itu menyeretku untuk masuk ke beranda masjid. Dengan menggulung celana kususuri lantai depan masjid untuk mengambil air wudhu. Disana beberapa orang berdiri di depan kran. Ada yang sedang membasuh kening. Ada beberapa yang membasuh kaki dan sebagian yang lain mengusap-usap pergelangan tangan. Bergiliran kami mengambil air wudhu hingga suara Iqamat membawaku untuk bersama-sama menunaikan ibadah sholat. Seorang Imam yang berwajah teduh melantunkan beberapa ayat sepanjang tiga rakaat. Ketika sholat usai, Imam itu menuntun kami membaca sederet doa yang diakhiri dengan pembacaan Al Fatikhah secara berbarengan.

Aku seperti biasa menunaikan sholat sunnah dua rakaat dan kemudian beranjak keluar beranda. Bulan tergolek di langit seperti seorang kakek yang letih menunggu cucunya bermain. Di muka pelataran tampak pohon beringin kukuh berdiri seolah-olah menyatakan diri tak mau tunduk. Anak-anak kecil bersarung berlarian kejar-mengejar. Di emperan masjid ini beberapa jamaah duduk sambil menyapu pandangan ke depan. Panorama senja yang diam tapi sublim ini mengingatkanku pada masa silam di pesantren. Di sana beragama seperti belajar menari, ringan, lincah, dan selalu mengundang keinginan untuk bertanya. Tiba-tiba seseorang menyentuh punggungku. Kehangatan merambat dan kutengok seorang yang berparas santun mendekat. Aku pernah merasa melihat wajahnya tapi kali ini aku benar-benar lupa.

‘Assalamu’alaikum anak muda’ suaranya hangat dan merapat. ‘Walaikumm salam’ jawabku seolah ingin memecah keheningan. Ia menyentuh pundakku sembari tersenyum. ‘aku sejak tadi ingin menyapamu dan bolehkah aku menemanimu di sini? Pertanyaan yang ramah dan akrab. Aku mencoba mengulum senyum dan berusaha bertanya, ‘tentu saja boleh dan saya tambah senang. Bapak dari mana? Sepertinya saya pernah melihat wajah bapak belakangan ini? Orang tua itu menatapku dengan pandangan yang bersahaja dan ramah. Rasa-rasanya ada tiupan ketentraman ketika aku mendengar suaranya. ‘anak muda aku berasal dari masa lalu yang panjang. Dulu ketika seusiamu aku juga gelisah sama sepertimu. Aku merasa cemas melihat kemiskinan dan kebodohan yang membelenggu ummat Islam. Aku dulu juga ingin berbuat banyak dan memang kami kemudian membentuk organisasi yang hingga kini punya cabang di mana-mana’

Walau tidak merasa yakin sepenuhnya aku mulai meraba-raba siapa orang tua yang budiman ini. Tebakannya benar kalau aku resah melihat kemiskinan yang mencekik. Jawabannya lugas kalau untuk menghapus kemiskinan kita perlu organisasi yang kuat dan besar. Jangan-jangan orang tua yang ada di hadapanku ini adalah orang penting yang memimpin partai. ‘bapak punya partai’ tanyaku sekenanya. Orang tua ini tersenyum renyah, ‘anak muda dulu memang banyak keinginan untuk membentuk organisasi politik. Aku pernah bergabung dengan Sarekat Islam. Tapi partai jika tidak diperkuat dengan gerakan rakyat pastilah hanya jadi kumpulan orang jahat. Aku dan beberapa ulama mendirikan organisasi keagamaan yang hendak menjawab kebutuhan sosial ummat kala itu. Pendidikan merupakan organ yang kita bentuk pertama. Anak muda dari dulu sampai sekarang pendidikan itu tetaplah penting’

‘Pendidikan melatih orang untuk menggunakan akal sehat. Ciri orang terdidik adalah mampu meredam emosi dan bersikap lebih terbuka. Seorang yang terdidik tidak gampang terjatuh pada fanatisme. Itu sebabnya orang yang terdidik pastilah beriman. Sebab iman tanpa kepandaian hanya membuat orang beramal secara ngawur. Sedangkan ilmu tanpa amal ibarat orang lumpuh yang hanya bisa ngomong tapi tak mampu berbuat apa-apa. Anak muda aku minta maaf jika terlalu banyak bicara’ Ucapan yang begitu rendah hati ini membuatku terkesima. Orang tua ini pastilah punya pengalaman yang dalam. Masih samar-samar kuingat raut mukanya yang rasa-rasanya tidak asing lagi. Tapi entahlah aku enggan untuk bertanya siapa sebenarnya orang tua yang bijak ini. Kini tangan yang kukuh itu memegang pundakku, sembari bertanya, ‘kau tahu surat apa yang dibaca oleh Imam tadi?

‘Bukankah tadi Imam membaca surat Al Mau’un’ jawabku dengan yakin. Kulihat raut muka orang tua ini tersenyum, ‘benar anak muda. Itulah surat yang berulang-ulang aku tekankan dan kuajarkan hampir kepada semua orang. Ayat pertama yang artinnya: Allah bertanya, tahukah kamu, orang yang mendustakan agama (hari kemudian)? Itu sebuah pertanyaan mendalam anak muda dan Allah jawab sendiri, ‘itulah orang yang menghardik anak yatim’. Anak yatim bukan sekedar mereka yang ditinggal oleh ayahnya melainkan mereka yang berada sendirian dan berkedudukan tidak mampu. Anak muda, kulihat kini banyak orang menghardik anak yatim dengan menghimpun mereka dalam panti dan menjadikan mereka sekedar komoditi. Bagi orang jenis seperti inilah Allah memberi kutukan’

Ucapannya terasa bergetar dalam diriku karena barusan aku pulang dari sebuah panti yang benar-benar tidak terawat. Sumbangan yang kami berikan tak pernah tercatat dan laporan keuangan dari donatur juga jarang dipertanggung-jawabkan. Banyak anak-anak di dalamnya hanya bertemu dengan pengurus yang miskin kasih sayang. Ternyata perbuatan baik tidak sekedar dikerjakan, tapi sebaiknya dikelola dengan cara yang jauh lebih terstruktur. Aku seperti membenarkan apa yang dibilang oleh orang tua yang kini mulai mengambil sehelai kertas di balik bajunya. Ia perlihatkan sehelai pengumuman pembukaan hypermarket baru yang berada di kota kami. ‘Ini pengumuman apa anak muda? Tanyanya penasaran. ‘Ini pengumuman pembukaan Mall. Katanya akan diresmikan oleh Pejabat dan pemimpin keagamaan setempat’ Kataku terus terang.

‘Anak muda untuk apa Mall itu? Kenapa sampai seorang tokoh agama ikut-ikutan hadir? Diam-diam aku tak bisa menjawab. Sebab memang sekarang ini tokoh agama bisa hadir dalam acara apa saja. Saat Bursa Saham dibuka seorang rohaniawan dengan meyakinkan berdiri untuk memotong pita. Mall yang akan didirikan ini memang menyita lahan penduduk dan tak satupun organisasi keagamaan memprotes. ‘Saya juga tidak tahu untuk apa ulama hadir’ Jawabku dengan nada tidak meyakinkan. Orang tua itu masih saja memberi kemurahan senyum sembari berkata ‘di ayat berikutnya Allah kemudian mengatakan, kalau yang mendustakan agama adalah mereka yang tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin.

Anak muda kulihat di jalanan ada banyak anak miskin dan juga gedung-gedung perbelanjaan yang mewah. Ayat ini bukan suruhan untuk memberi makan, tapi ‘tidak menganjurkan’. Itu berarti setiap orang diminta untuk mendorong kebijakan, perhatian, dan dukungan pada pemerataan. Aku tak tahu dimana gerangan orang-orang tua yang mengaku alim ulama ketika ada pembangunan pusat-pusat perbelanjaan yang kudengar merugikan pasar tradisional dan malahan kerapkali menggusur pemukiman penduduk’

‘Pusat-pusat perbelanjaan itu mengajari kita untuk mengkonsumsi dan mendidik kita untuk tidak pernah kenyang. Apalagi kalau pendirianya dilakukan dengan mengusur pemukiman. Tidak menganjurkan sama halnya dengan tidak memperingatkan kemewahan dan penumpukan kekayaan. Malahan dalam ayat ini tidak digunakan redaksi it’ham yang artinya memberi makan tetapi tha’am yang artinya makanan atau pangan, jadi makanan itu bukan milik mereka (orang kaya) akan tetapi hak untuk orang miskin. Anak muda aku lihat banyak orang yang sepertinya merasa sedekah itu adalah kemurahanya atau kerelaanya padahal sebenarnya itu adalah hak orang miskin. Itu harta mereka bukan kepunyaanya sendiri. Anak muda aku prihatin dengan sikap alim ulama yang berdiam diri menyaksikan pameran kekayaan dan tidak berani memperingatkan. Padahal dalam semua jenis kekayaan ada harta yang harus disedekahkan. Ingatlah firman Allah yang artinya, ‘Dan dalam harta mereka (orang yang berkecukupan) itu terdapat hak orang yang meminta dan orang yang tidak memiliki (QS 51:19)

Orang tua itu menghela nafas dan raut mukanya kelihatan kian sedih. Sepertinya ia meneteskan air mata. ‘Dulu aku mendirikan organisasi agama yang kini menjadi besar untuk mengimplementasikan surat Al Ma’un. Tujuan organisasi ini tak lain adalah membela dan melindungi orang miskin. Jadikan organisasi ini bukan sekedar menyantuni tapi bekerja untuk mereka yang miskin. Organisasi ini sebaiknya ikut bertanggung jawab dengan tingginya angka kemiskinan. Jika organisasinya sudah besar tapi kemiskinanya juga melebar maka aku tak tahu apa yang diperbuat oleh para pengurusnya? Aku rindu dengan teman-temanku dulu di Sarekat Islam yang gigih memprotes para penguasa kolonial yang berlaku diskrimimatif dengan orang-orang pribumi. Apa organisasi yang kudirikan akan bersikap sama ketika rakyat kecil disingkirkan lahannya untuk membangun pusat perbelanjaan? Apa mereka juga akan memprotes ketika negara ini mengeluarkan kebijakan yang membuat rakyat terjepit. Apa mereka juga akan berbuat sama yakni meninggikan ongkos pendidikan karena yang lain juga melakukannya’ Bapak tua ini seolah melugaskan kesedihan yang terbenam begitu lama.

Kini aku tahu dengan siapa aku berhadapan, ‘apa bapak yang bernama Kyai Ahmad Dahlan? Pertanyaan yang kupikir akan mengejutkannya itu disambut hanya dengan seulas senyum. ‘Saya, saya juga anggota Muhammadyah dan pengikut bapak’ jawabku dengan tertatih-tatih. Dengan serta merta aku berusaha untuk mencium tangan sebagaimana yang dilakukan oleh kawan-kawanku yang lain. Tapi tiba-tiba ditepisnya tanganku perlahan-lahan sambil berkata ‘anak muda kalau kau mengatakan menjadi pengikut Muhammadyah ikutilah semangatnya yang selalu membela orang miskin dan berjuang demi tegaknya keadilan. Dulu pendidikan yang kami dirikan untuk meyantuni rakyat pribumi yang dianggap malas dan bodoh. Bersama dengan teman-teman Sarekat Islam kami menolak kolonialisme yang mengekalkan penindasan. Jangan mengaku menjadi kader Muhammadyah kalau kaum diam menyaksikan penindasan. Sesekali jangan kau meniru watak para penindas yang membuat sistem sosial yang dinikmati oleh segelintir orang. Kalau kau buat pendidikan hanya untuk melayani orang kaya semata-mata itu artinya kamu tidak memerdekakan kaum miskin. Jika organisasi ini diam ketika ada penggusuran maka waktunya para pengurus membaca kembali niat semula dari para pendiri Muhammadyah’

Aku tercenung diam dan mengingat-ingat apa saja yang baru kami alami. Dua hari yang lalu ketika kami ikut aksi turun ke jalan tiba-tiba kami dipanggil oleh beberapa pengurus. Mereka semua marah dengan cara kami melakukan tuntutan. ‘kalian itu mirip PRD. Jangan sedikit-dikit protes ke jalan. Kalau bisa dibicarakan maka bicarakanlah. Ingat kalian itu warga Muhammadyah bukan PRD’ begitulah petuah yang dicecarkan pada kami. Esok hari teman kami yang lain juga mengalami nasib serupa gara-gara mencoba untuk mengibarkan pikiran-pikiran liberal. Andai benar sosok yang kutemui ini bapak Kyai Ahmad Dahlan sudah tentu aku bangga. Arif, sederhana, dan berpihak. Rasa-rasanya memang Muhammadyah penting dipimpin oleh pribadi seperti ini. Aku terdiam agak lama dan sesaat aku terkejut ketika orang tua itu mengucapkan selamat tinggal. ‘Anak muda sudah terlalu banyak yang kusampaikan padamu. Amalkanlah itu dan salamku untuk semua temanmu yang masih belia dan percaya kalau keadilan bukan sekedar ucapan tapi sebuah perjuangan yang membutuhkan keringat’.

Tapi bukankah surat Al Ma’un belum selesai bapak tafsirkan? Tanyaku sekenanya. Orang tua itu berdiri dan kemudian menyalamiku dengan genggaman erat, ‘anak muda aku tak ingin kau hanya tahu banyak hal tapi tidak banyak berbuat. Dua ayat yang kausebut tadi jika kau-amalkan maka perubahan sosial akan menjemputmu. Bersikap kasih-sayanglah pada mereka yang yatim, termasuk anak-anak muda pemberani dan mereka yang tertinggal dalam kemajuan kemudian peringatkan mereka, orang-orang yang enggan untuk menelurkan kebijakan berpihak pada si miskin. Itulah agama sejati, membela dan menjelmakan keadilan dalam kehidupan nyata. Ingatlah anak muda, ilmu tidak hanya mengajarimu pintar tetapi juga melatihmu untuk semakin mencintai kebenaran dan keadilan. Assalamu’alaikum anak muda Muhammadyah. Semoga kau bisa mewarisi keberanian kami yang dulu. Katakan pada mereka yang kini duduk di pengurusan, jika Muhammadyah dulu didirikan semata-mata karena semangat untuk melakukan pembelaan dan berjalan dengan keberanian anak-anak muda sepertimu,’. Aku terdiam dan seolah tidak percaya akan apa yang kutemui barusan. Gema Adzan Isya yang melantun indah menuntunku untuk kembali mengambil air wudhu. Kubasuh mukaku dan diam-diam dalam hati aku berdoa semoga aku mampu menjadi sosok sebagaimana yang dikatakan oleh orang tua tadi. Amien.


KOTAKNYA EDITOR

Jangan kaget ini Resist Info khusus Muktamar Muhammadiyah! Bayangkan, bahkan Muhammadiyah sendiri barangkali tak bikin newsletter macam beginian. Tak cuma itu, untuk menyambut perhelatan akbar ini kami menjadi lebih sibuk daripada biasanya. Dalam rapat-rapat, perhelatan ini selalu menjadi pembicaraan utama. Acara-acara lain yang kebetulan berlangsung bersamaan mesti menyisih ke urutan kedua, ketiga, dan seterusnya. Acara-acara seperti kondangan, gotong royong se-RT, rewang, menjenguk orang tua, apalagi mengapel pacar jelas tak masuk dalam prioritas.

Mengapa? Ada apa Resist dengan Muhammadiyah? Atau lebih tepatnya, dikasih apakah Resist oleh Muhammadiyah? Atau untung apa yang diperoleh Resist dari Muhammadiyah?

Seorang pencela yang mempunyai jiwa dagang pasti dengan gampang menjawabnya. “Ini semata jualan kan!?”, sergahnya dengan mimik yang bisa kamu bayangkan seperti apa. Tentu, kami menerbitkan buku memang untuk dijual. Tapi, bagi orang yang membaca buku-buku Resist pasti tahu seberapa banyak (atau seberapa dikit) dari buku-buku itu yang memang khusus ditujukan untuk kaum Muhammadiyah sehingga membuat mereka dengan antusias akan memborong habis buku-buku itu dan kemudian memajangnya di lemari ruang tamu sebagai tanda kalau mereka pernah ikut muktamar!

Lagi pula, Resist bukannya tidak menanggung resiko tertentu. Selama ini orang melihat, memperhatikan, lalu membeli, selanjutnya mengagumi (kalau boleh saya katakan demikian), dan akhirnya menganut (kalau ini seharusnya tidak boleh saya katakan demikian) ‘ideologi’ Resist tidak sekedar dari buku-buku yang diterbitkannya, melainkan juga dari segala tindak-tanduknya. Entah bagaimana, dalam diri Resist tiba-tiba sudah melekat suatu peran sosial tertentu yang mesti dipenuhi, lebih dari sekedar dalam kapitasnya sebagai ‘pedagang buku’. Misalnya, buku-buku Resist dituntut untuk lebih murah ketimbang buku-buku dari penerbit lain, seolah Resist identik dengan penjual barang-barang murah. Bisa jadi, orang makin mendekat atau menjauh, bahkan antipati hanya berdasarkan berhasil atau gagalnya memenuhi tuntutan peran ini.

Itulah kenapa pada awalnya sulit untuk menulis kotak editor ini. Pertama, karena pengetahuan saya soal Muhammadiyah amatlah awam. Saat kecil dulu, saya hanya tahu kalau Muhammadiyah adalah sekolah tempat berdampar teman-teman yang tidak diterima di sekolah negeri. Atau, suatu sebutan yang ditempelkan kepada seorang tetangga kampung ketika menjadi sasaran bahan gosip para bapak dan ibu karena tidak pernah mau menghadiri atau mengadakan kenduri. Itu sudah lama, meskipun tidak sampai puluhan tahun (percayalah, saya tidak setua itu). Dan saat itu, saya masih kecil; Muhammadiyah yang sebenarnya tentulah tidak sesederhana seperti pandangan lugu itu, apalagi saat ini.

Yang kedua, selama ini Resist murni dikenal sebagai sebuah usaha penerbitan yang khusus menerbitkan segala buku gerakan sosial, tanpa memandang kecenderungan ideologisnya. Resist tidak terafiliasi pada suatu organisasi, lembaga, atau bahkan corong partai tertentu. Kalaupun berpihak, secara terang-terangan, seperti yang tertera dalam profilnya, Resist berpihak pada kaum yang tertindas, kaum yang terpinggirkan, atau korban dari sistem yang timpang.

Sekarang, tiba-tiba ada Resist Info khusus muktamar Muhammadiyah! Bagaimanakah nanti tanggapan orang umumnya atau pembaca setia Resist Book khususnya?

Ini bukan soal apakah Muhammadiyah baik atau buruk atau apa pun penilaian terhadapnya. Kenyataannya, barangkali ada salah satu atau beberapa dari kami yang sebenarnya seorang Muhammadiyah. Saya katakan ‘barangkali’ karena tidak satupun yang secara terang-terangan mengaku sebagai Muhammadiyah. Memang banyak yang rajin sholat lima waktu, tiap Jum’at ke masjid, beberapa berjenggot, sebagian besar perempuannya berjilbab, dan ketika pemilu dengan sukarela mencoblos PAN. Itu tidak bisa dijadikan sebagai petunjuk. Meskipun, dengan sedikit kejelian, insya’allah, saya sebenarnya masih bisa menebak siapa orang itu. Tak akan saya sebutkan di sini, toh tak akan membuat gaji mereka naik.

Apapun itu, ini sebenarnya tidak melenceng dari peran yang sebenarnya diusung oleh Resist selama ini. Peran yang sering disalah-artikan oleh banyak orang sebagai tukang kompor, kompor-kompor, agitator, atau provokator. Tuduhan yang salah karena dilihat dari logonya saja tidak terlihat adanya gambar kompor sama sekali. Hanya ada api di sana. Bukan tanpa alasan kami menggunakan simbol api, bukan bintang, bulan sabit, gunung, apalagi gambar hati! Api di sini dimaksudkan sebagai api untuk menyalakan semangat jiwa-jiwa yang resah melihat dan dan hidup dalam suatu sistem yang pada satu sisi menghasilkan gaya hidup kuliner dan pada sisi yang lainnya merebakkan wabah busung lapar. Muktamar hanyalah salah satu ajang, yang di dalamnya semangat-semangat semacam itu harus disulut. Salam.

Retrieved from: http://www.resistbook.or.id/index.php?page=newsletter&no=10-2005&id=24&lang=id (June 13, 2010)

Friday, June 11, 2010

Relasi Muhammadiyah dan Politik: Antara Rumusan Khitah dan Kenyataan (Habis)

Seputar Indonesia, 11 Juni 2010

Hajriayanto Y. Thohari

Meski ada nuansa pilih-pilih, kita tetap harus melihat fakta bahwa implementasi atau penerapan ketentuan-ketentuan yang normatif sudah barang pasti sangat tidak sederhana. Tidak selalu ada pararelisme antara yang tertulis dan yang ternyata. Pertanyaannya disini adalah apakah pelaksanaannya atau implementasinya di lapangan semulus dengan rumusan yang normatif dan estetik itu? Apakah benar ada pararelisme antara yang dirumuskan dan yang dilaksanakan di lapangan?

Dalam kaitan ini, corak kepemimpinan Muhammadiyah sebagai pengelola dan penghela Muhammadiyah akan sangat menentukan. Pasalnya, kepemimpinan Muhammadiyah-lah yang akan memberikan respons terhadap dinamika politik yang melingkupinya dari waktu ke waktu itu berdasarkan ketentuan-ketentuan normative tersebut. Sementara para anggota hanya akan bersikap secara pasif baik setuju atau keberatan terhadap langkah-langkah pimpinannya.

Para pimpinanlah yang mengantisipasi dan menanggapi realitas situasi politik yang terjadi dan kemudian menafsirkannya dan meresponsnya. Meskipun system kepemimpinan dalam Muhammadiyah itu kolektif dan kolegial, peran elite atau apalagi seorang ketua/ketua umum pimpinan pusat (PP) tetap saja dominant dalam mengantisipasi dan menanggapi realitas politik yang terus berkembang itu. Bidang ini tentu saja sangat menarik untuk dikaji dan nyatanya banyak sekali kajian atau studi dalam bidang ini yang notabene telah menjadi khazanah ilmu pengetahuan yang cukup kaya.

Salah satu kajian tersebut adalah apa yang dilakukan DR. Alfian dalam disertasinya Islamic Modernism in Indonesian Politics, The Muhammadiyah Movement during the Dutch Colonial Period 1912-1942. Dr. Alfian mengatakan, ‘Sebagai gerakan sosial besar yang terorganisasi baik di Indonesia, Muhammadiyah tampaknya tidak mampu menghindar untuk terlibat dalam politik. Ternyata, kadang-kadang Muhammadiyah benar-benar bermain politik secara langsung dan terbuka. Pendek kata, Muhammadiyah berbeda sikap dengan yang dinyatakan dengan karakter nyatanya yang nonpolitik sebagaimana dirumuskan dalam dokumen-dokumen tersebut di atas.

Muhamamadiyah, kata Dr. Alfian, memainkan tiga peranan yang saling terkait, yaitu (1) sebagai reformis keagamaan (antara lain melakukan gerakan memurnikan agama Islam dengan antara lain memberantas takhayul, bid’ah, dan khurafat, alias TBC; (2) sebagai pelaku perubahan sosial (bertujuan memodernisasi umat muslim Indonesia agar terangkat dari ketertinggalannya mencapai tempat terhormat di dunia modern); dan (3) sebagai kekuatan politik. Peran yang ketiga ini dapat dianalisis dari: pertama, pandangan filosofis Islam (antisekulerisme atau pemisahan agama dan Negara) dan kedua, perkembangan Muhammadiyah sebagai kelompok kepentingan besar dalam politik Indonesia.

Tentu, seperti kata Dr. Alfian, “Karena Muhammadiyah sebagai kelompok kepentingan merupakan gerakan yang nyata-nyata nonpolitik, maka keterlibatannya sangat boleh jadi berbeda dengan keterlibatan organisasi-organisasi yang menjadikan politik sebagai profesinya. Sebagai organisasi nonpolitik tampaknya Muhammadiyah bila dimungkinkan, kapan saja, berupaya untuk tidask memainkan politik secara langsung dan terbuka (seperti dulu menyerahkannya pada Syarekat Islam (SI), Masyumi, Parmusi, dan seterusnya sesuai dengan situasi baru politik Indonesia. Tipe-tipe logika situasional (baik lokal dan maupun nasional) inilah yang menentukan peran politik Muhammadiyah.”

Ringkasnya, perkembangan Muhammadiyah sebagai kelompok kepentingan dengan tujuan-tujuan keagamaan dan sosialnya (katakanlah Muhammadiyah sebagai narasi besar yang memiliki pandangan dunianya/ world view) yang nyata dan jelas ditunjukkan melalui berbagai cara bahwa ia benar-benar terlibat dalam politik, yang kadang-kadang secara langsung dan terbuka. Karena itu, Muhammadiyah benar-benar tampak memiliki peranan ketiga sebagai salah satu kekuatan politik.

Lain Khitah Lain Implementasi
Muhammadiyah memang organisasi nonpolitik, tetapi pada kenyataannya Muhammadiyah tidak bisa menghindar sama sekali dari dinamika politik yang terjadi. Pertama, sebagai gerakan reformis Islam, tentu Muhammadiyah, sebagaimana klaim aktivisnya sendiri, tidak bisa memisahkan antara Islam dan Politik, bahkan menyatakan bahwa pemisahan antara keduanya merupakan salah satu bentuk dari sekulerisme yang ditentangnya secara sangat tegas.

Kedua, sebagai gerakan Islam yang mempunyai jumlah pendukung yang sangat besar, tentu Muhammadiyah memiliki political magnitude yang sangat besar. Muhammadiyah selalu menjadi sasaran dari lobi-lobi politik yang dilakukan oleh kekuatan-kekuatan politik baik secara organisasional maupun secara individual. Maka siapapun yang menjadi pimpinan puncak Muhammadiyah pastilah akan menghadapi situasi semacam ini yang secara tak terhindarkan dihadapkan pada pilihan-pilihan politik yang bersifat dilematis karena sering kali mengharuskannya untuk menyatakan sikap-sikap politiknya. Apalagi dalam politik itu, di samping tentu sarat dengan kepentingan-kepentingan yang terkait dengan kekuasaan, juga tidak jarang mengandung dimensi-dimensi ideologis, nilai, atau cita-cita besar.

Dimensi ideologis, nilai-nilai atau cita-cita tertentu dalam perjuangan politik itu tentu ada yang sejalan atau setidaknya paralel dengan pandangan hidup (worldview) Muhammadiyah sebagai gerakan Islam. Jika dihadapkan pada pertimbangan-pertimbangan ini, tentunya Muhammadiyah harus memilih dan ini bukanlah soal yang sederhana. Di sana ada dilema yang tidak mudah untuk disederhanakan, bahkan kadang-kadang merupakan pilihan yang tidak mudah (no easy choice).

Ketiga, sebagai gerakan Islam yang massif yang terorganisasikan secara baik dan memiliki tradisi ketaatan pada keputusan organisasi, para pimpinan di daerah dan para anggota Muhammadiyah tidak jarang meminta keputusan PP Muhammadiyah atas beberapa persoalan politik, bahkan pada saat-saat menghadapi event-event politik penting seperti pemilihan umum. Pimpinan dan warga Muhammadiyah di akar rumput bahkan tidak jarang “memaksa” pimpinan pusat (PP) untuk mengeluarkan sebuah instruksi dalam wadah keputusan pimpinan atas pilihan-pilihan politik yang harus dilakukan dalam event-event politik tersebut.

Keempat, Muhammadiyah adalah juga organisasi kader. Sebagai organisasi kader, Muhammadiyah selama ini menyiapkan kader-kader terbaiknya dalam tiga dimensi kekaderan: kader persyarikatan, kader umat, dan kader bangsa (di lapangan professional dan lapangan politik). Nah, Muhammadiyah yang nonpolitik dan netral secara politik sangat sering menghadapi dilema ketika ada di antara kader-kadernya yang terjun dalam kompetisi politik dalam pemilu legislatif, pemilu presiden, atau pemilukada.

Sangatlah tidak bermoral dan bertanggungjawab jika Muhammadiyah sebagai organisasi kader bersikap tidak memihak kepada kader sendiri yang notabene dipersiapkannya sendiri sebagai kader terbaiknya itu. Lihat saja ketika Pilpres 2004 Muhammadiyah menghadapi situasi pelik dan dilematis semacam ini. Semua kita tahu apa yang diputuskan dan dilakukan Muhammadiyah waktu itu secara organisasional. Apakah dengan demikian Muhamamadiyah waktu itu netral secara politik? Apakah waktu itu Muhammadiyah dapat dikatakan sebagai tidak berpolitik? Demikianlah juga yang terjadi pada event-event politik lainnya di waktu dan tempat yang berbeda.

Walhasil, pimpinan Muhammadiyah di semua jajaran ternyata memiliki wewenang untuk membuat diskresi yang sering kali tidak paralel dengan rumusan-rumusan formal-organisasional dalam dokumen-dokumen resmi tersebut di atas. Mudah beretorika Muhammadiyah tidak pernah berpolitik dengan mengutip dokumen-dokumen khitah. Pada kenyataannya dokumen adalah satu hal dan pelaksanannya adalah hal yang lain. Pasalnya, pucuk pimpinanlah yang akhirnya terpaksa menentukan sikap politik. Posisi pimpinan memang sangatlah strategis, tetapi juga sekaligus dilematis. Maka menjadi pimpinan tidak segampang dan tidak sesederhana menulis khitah! Ini berlaku bagi siapapun yang menjadi pimpinan! Termasuk juga jika DR. Haedar Nashir sekalipun yang nanti menjadi Ketua Umum PP. Muhammadiyah. Lihat saja!

Thursday, June 10, 2010

Relasi Muhammadiyah dan Politik: Antara Rumusan Khitah dan Kenyataan (Bagian Pertama)

Seputar Indonesia, 10 Juni 2010

Hajriaynto Y. Thohari

Secara normatif bagaimana hubungan antara Muhammadiyah dan politik sudah diatur secara jelas dan terang benderang dalam dokumen-dokumen resmi organisasi, mulai dari Mukadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Kepribadian Muhammadiyah, Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah, Khitah Pejruangan Muhamadiyah, Khitah Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, dan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, sampai Keputusan-keputusan Muktamar dan Tanwir. Semua itu telah membentuk sebuah khazanah yag sangat kaya dan komprehensif yang antara lain berisi ketentuan-ketentuan normatif mengenai khitah Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dakwah, dan amar ma’ruf nahi munkar, yang bersifat nonpolitik.

DR. Haedar Nashir, seorang Ketua PP. Muhammadiyah yang paling produktif (baca: dalam mengarang), telah menulis tema besar ini dengan sangat bagus di majalah Suara Muhammadiyah yang kemudian di himpun dalam buku Muhammadiyah Gerakan Pembaruan (2010) yang beberapa waktu berselang didiskusikan di Jakarta, Yogyakarta, dan kota-kota besar lainnya. Pengetahuan dan penghayatan DR. Haedar Nashir tentang Khitah Muhammadiyah sangatlah ensiklopedis. Saya rasa sejauh menyangkut kemuhammadiyahan, dia itu “ensiklopedi berjalan” alias living encyclopedia. Bahkan tidak berlebihan apabila Dr. Haedar Nashir disebut “ideolog yang berjalan” (living ideolog).

Buku yang nyaris ensiklopedis tersebut mencakup persoalan yang sangat luas yang meliputi lima belas bab: Dari soal karakter Muhammadiyah, paham agama Islam, pemikiran ideologis, khitah perjuangan, pemikiran dakwah, tajdid, masyarakat Islam, dan lain-lainnya. Dr. Haedar Nashir menjadikan keputusan-keputusan dan dokumen-dokumen resmi Muhamamdiyah tersebut di atas sebagai sumber utamanya (primary sources atau al-mashodir al-afdholiyyah wa al-awailiyah) yang dengan demikian tidak ada yang salah dengan keseluruhan isi buku itu. Atau dengan kata lain, DR. Haedar Nashir menulis buku itu tanpa rasa bersalah sama sekali. Sebagai himpunan dan elaborasi dari ketentuan-ketentuan yang sudah baku, resmi, dan normatif tentunya memang demikianlah yang terjadi: semuanya sudah jelas, gamblang, dan terang benderang. Jadi buku ini tidak bisa dikritik!

Muhammadiyah: nonpolitik
Secara organisasional Muhammadiyah memang menyatakan dirinya sebagai tidak memiliki afiliasi politik dengan partai politik manapun, tidak berpolitik praktis, dan membebaskan warganya untuk memilih dalam pemilihan umum (baik pemilu legislatif, pemilu presiden, dan pemilukada). Soal ini sampai disini saya rasa sudah selesai. Tidak ada seorang pun warga atau aktivis Muhammadiyah yang menyatakan keinginannya untuk mengubahnya dalam Muktamar ke-46 yang akan datang. Secara organisasional memang seperti itu ketentuannya/ itu sudah berjalan berpuluh-puluh tahun yang lalu.

DR. Haedar Nashir antara lain menulis: “Khitah Muhammadiyah juga dapat dijadikan sebagai pagar pembatas agar naluri ‘primitif’ (syahwat politik) perseorangan untuk berkiprah dalam perjuangan politik kekuasaan (power struggle) atau disebut ‘politik praktis’ tidak menyeret-nyeret Muhammadiyah secara kelembagaan. Partai Politik itu sebagaimana juga kekuasaan negara sangatlah penting dan strategis, termasuk untuk menegakkan dakwah Islam melalui tangan negara. Tetapi, wilayah yang penting itu sengaja tidak dipilih oleh Muhammadiyah yang sejak kelahirannya telah memosisikan diri sebagai gerakan Islam nonpolitik dengan keyakinan bahwa dakwah di bidang pembangunan masyarakat pun tidak kalah penting dan strategisnya dengan perjuangan politik di jalur kekuasaan negara.”

Selanjutnya mari kita baca bagian lain dari buku Dr. Haedar Nashir berikutnya: "Muhammadiyah sungguh ‘kenyang’ dengan hiruk pikuk dunia politik. Muhammadiyah merasakan betul betapa rumitnya bersentuhan dengan dunia politik. Sekali melibatkan diri dalam pergumulan politik kekuasaan, ketika itu pula centang perentang dan konflik di dalam maupun keluar akan terjadi, yang pada akhirnya membuat gerakan Islam ini kehilangan kepribadian dan peran utamanya sebagai gerakan Islam yang menjalankan fungsi dakwah dan tajdid untuk menyebarkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamien di muka bumi ini (hal 250-251).

DR. Haedar Nashir dalam bab IX buku itu mendeksripsikan secara menyeluruh tentang khitah perjuangan Muhammadiyah. Meski ketika berbicara tentang bagaimana pandangan Muhammadiyah terhadap politik dan kekuasaan ada bagian tertentu dari sebuah dokumen resmi organisasi yang ditinggalkan. Dokumen yang saya maksudkan ditinggalkan ini adalah buku Islam dan Dakwah: Pergumulan antara nilai dan Realitas (1998). Buku ini oleh DR. Haedar Nashir dijadikan juga sebagai sumber utama, bahkan ditulis dalam daftar pustaka, tetapi ternyata tidak cukup fair dalam pengutipannya, terutama menyangkut pandangan Muhammadiyah tentang kekuasaan, politik, dan ekonomi. Pasalnya, dalam buku ini justru dapat ditemukan sebuah pandangan yang sangat positif dan optimistis tentang politik dan kekuasaan, yang berbeda dengan pandangan-pandangan resmi organisasi yang dikutip DR. Haedar Nashir yang sebagian cenderung pesimistis dan kurang positif.

Dalam buku resmi terbaik yang pernah diterbitkan PP. Muhammadiyah Majelis Tablig tersebut dikatakan: "Bagi seorang Muslim, kegiatan politik harus menjadi bagian integral dari kehidupannya yang utuh. Mengherankan kalau ada Muslim yang menjauhi, apalagi membenci kegiatan tertentu yang menentukan arah kehidupan dan nasibnya, misalnya menjauhi politik dan ekonomi. Kehidupan dunia harus direbut dan dikendalikan agar sesuai ajaran Tuhan (hal. 87). Dikatakan juga bahwa “Suatu gerakan Islam yang bercorak sosio-keagamaan tidak boleh alergi terhadap politik. Wawasan keagamaan justru harus menyatu dengan wawasan kekuasaan. Yang perlu dijaga adalah dan hanyalah bagaimana agar kita tidak terjebak oleh isu-isu politik praktis yang tidak menguntungkan. Berpikir strategis dalam rangka menatap masa depan yang agak jauh dari diri kita sekarang”.

Intervensi

INTERVENSI*

Oleh: Syafiq A. Mughni

Muhammadiyah adalah ormas besar. Anggotanya banyak, kegiatannya komprehensif, demikian juga amal usahanya, dan jaringannya luas, sehingga punya pengaruh di tingkat massa. Kebesaran Muhammadiyah menyebabkannya menjadi sasaran kooptasi. Dalam perhitungan kasar, kekuasaan pasti berminat pada Muhammadiyah: bukan dalam arti memberi dukungan terhadap dakwahnya, tetapi mengkooptasi dan bahkan menaklukkannya. Karena itu, Muktamar sebagai puncak perhelatan musyawarah tertinggi akan menjadi ajang untuk kooptasi dan penaklukan itu. Penguasa pasti tidak akan membiarkan Muktamar lewat begitu saja.

Kekuasaan mungkin akan melakukan kooptasi dan penaklukan itu dengan beberapa cara. Cara pertama ialah brain washing (cuci otak). Dikesankan bahwa Muhammadiyah sekarang dalam kondisi krisis. Pimpinannya tidak kompak dan terlibat korupsi, program-programnya tidak jalan, tidak disukai pemerintah karena bersikap terlalu kritis, banyak yang sesat karena masuk ke dalam kelompok liberal. Cuci otak itu dilakukan oleh orang-orang tertentu dan disebarkan melalui media atau forum pertemuan dengan berbagai nama, seperti halaqah, safari atau rihlah. Dengan cara ini, banyak warga Muhammadiyah yang tertarik dengan tesis “Muhammadiyah dalam Krisis” itu, sehingga harus ada perubahan radikal dalam kepemimpinan, dengan keharusan menggusur orang-orang yang dipandang sebagai pangkal krisis. Untuk melakukan gerakan cuci otak, tentu dibutuhkan biaya besar. Orang Muhammadiyah “lugu” mungkin susah membayangkan dari mana datangnya uang itu. Tetapi orang Muhammadiyah yang melek politik, bisa menebak. Bukankah di kalangan politisi banyak uang bertaburan yang jumlahnya hampir tak terbatas?

Cara kedua ialah money politics (politik uang). Cara ini sering kali efektif untuk mempengaruhi pemilih. Ada sebuah gerakan dengan modal uang sangat besar untuk menentukan pilihan peserta Muktamar terhadap orang-orang yang harus dipilih atau yang harus disingkirkan dari kepemimpinan. Bukankah ada slogan bahwa sekarang ini “ketuhanan yang mahaesa” digantikan dengan “keuangan yang maha kuasa”. Maka, uang ditebarkan menjelang Muktamar; peserta diberi uang sebagai pertanda perhatian, didirikan posko-posko dan dipasanglah spanduk-spanduk dan baliho pendukung calon tertentu. Selama Muktamar, pelaku money politics menyewa hotel berbintang dan mengundang peserta Muktamar untuk keluar masuk, bebas tidur, makan dan minum sepuas-puasnya dengan gratis. Cara ini seringkali terbukti efektif dalam mengubah sikap peserta Muktamar.

Cara yang ketiga adalah operasi intelijen. Tahap pertama ialah mencari orang-orang Muhammadiyah yang potensial untuk direkrut sebagai lapisan kedua dalam gerakan intervensi. Lapisan inilah yang kemudian secara sistematik menjadi pelaku di lapangan. Mereka menemui satu persatu peserta Muktamar untuk ikut dalam gerakan intervensi. Demikian berjalan seterusnya sehingga mampu mengendalikan lebih banyak lagi peserta. Operasi intelijen tentu menggunakan banyak cara. Jika yang satu tidak efektif, akan dipergunakan cara lain. Gerakannya pun tidak tampak. Ketika berlangsung acara-acara sebelum pemilihan pimpinan, gerakan itu belum muncul dipermukaan. Maka ketika suara pemilihan itu dihitung, barulah orang tahu bahwa ternyata hasilnya di luar dugaan. Sampai di sini operasi intelijen belum berhenti karena masih ada rapat penentuan siapa ketua umumnya. Jika yang terpilih adalah sesuai skenario, maka operasi selanjutnya ditujukan untuk mempengaruhi komposisi pimpinan lengkap.

Tiga cara di atas tentu bisa dilaksanakan secara simultan. Siapa sesungguhnya yang potensial untuk melakukan intervensi? Siapa saja bisa asal punya kekuatan, baik uang, kekuasaan maupun pengaruh: bisa pemerintah, bisa politisi, dan bisa juga pengusaha. Mereka berpandangan bahwa Muhammadiyah harus dikooptasi dan ditaklukkan. Kalau tidak, ia akan menjadi penghalang bagi kepentingannya.

Apa yang dipaparkan di atas semoga hanya ilusi, semoga tidak terjadi. Tulisan ini dibuat semata berdasar pengalaman muktamar-muktamar di luar Muhammadiyah. Saya banyak diskusi baik dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah maupun lainnya. Sebagian besar mereka sangat khawatir jika intervensi itu dialami oleh Muhammadiyah. Umat dan bangsa banyak berharap dari Muhammadiyah: mengharap agar ia tetap mencerahkan, menjadi kekuatan moral yang tidak pernah bergeser karena pragmatisme yang kronis. Muhammadiyah harus tetap menjaga marwah dan martabat organisasi, yang tidak mungkin dibeli dengan uang dan jabatan duniawi. Saya yakin bahwa seluruh peserta Muktamar pasti bisa menjaga amanah itu.

* Dimuat dalam Majalah MATAN Edisi 47, Juni 2010.

Wednesday, June 9, 2010

Peradaban Titik Koma


Agung Y. Achmad

Wartawan

"JANGAN remehkan titik dan koma," demikian ucap seorang laki-laki berusia 74 tahun-pada saat kolom ini saya tulis-bernada tinggi sembari mencoret-coretkan pena pada sebuah lembaran surat resmi yang disodorkan sekretarisnya. Di usia senja, ia masih petah. Diksi yang ia ucapkan atau dia tuliskan sering mengagetkan orang. Kata "peradaban", misalnya, bisa dibilang ucapan khas tokoh berpenampilan sederhana ini. Lantaran kapasitas dan tradisi linguistiknya yang bagus, ia bisa melahirkan tulisan kritik pedas menjadi bacaan yang lugas. Ia pengguna bahasa Indonesia yang teliti, bahkan ketika ia menulis sebuah artikel dengan menggunakan media telepon seluler dalam kondisi badan lemah di atas tempat tidur di sebuah rumah sakit. "Membangun peradaban itu dimulai dari titik dan koma," katanya melanjutkan ucapannya.

Andai saja Anda langsung mengetahui siapa orang yang berintegritas tinggi untuk "menjadi" Indonesia melalui cara berbahasa yang baik dan benar yang saya maksud itu. Izinkan saya menggambarkan tokoh tersebut, tentu dengan alasan utama bahwa ia bisa menjadi contoh dalam hal etos berbahasa Indonesia, bahkan bila hal itu dikaitkan dengan integritas intelektualnya. Tradisi linguistik sang tokoh bisa dijadikan cermin bagi para elite di negeri ini, bahkan Presiden Yudhoyono. Simaklah logat Kepala Negara ketika mengatakan "profesional" saat berpidato, misalnya.

Pendidikan tinggi sang tokoh ditempuh di Barat. Bahkan, lantaran kapasitasnya, ia pernah malang-melintang di banyak negara untuk mengajar, khususnya di bidang kajian keislaman dan sejarah, seperti di Universitas McGill, Kanada, dan sejumlah kampus kenamaan di luar negeri, tak terkecuali di universitas almamaternya, Universitas Chicago, Amerika Serikat. Tentu saja, ia mengajar dalam bahasa Inggris. Tapi, pada saat berada di negeri sendiri, ia jarang berbahasa atau menggunakan istilah asing.

Sebaliknya, sejarawan tiga zaman ini justru giat mencetuskan, setidaknya gemar mempopulerkan, beberapa kosakata atau istilah yang menyegarkan, serangkaian terminologi yang di negara-negara Barat telah lama digunakan dan sangat baik untuk dimengerti publik Indonesia, seperti membumikan (Al-Quran) dan mencerahkan pusat kesadaran. Sebagian orang menggunakan istilah landing to earth, atau down to earth, untuk mengartikan istilah "membumikan".

Padahal, "membumikan" (wahyu Tuhan) adalah suatu makna terminologis, dan bukan sekadar kata (leksikal) berimbuhan, yang artinya lebih dekat ke beberapa istilah: pribumisasi, indigenisasi, atau kontekstualisasi, yakni upaya pemaknaan secara kontekstual dan bertanggung jawab terhadap pesan-pesan langit (wahyu) sebagai rekomendasi moral atau pandangan dunia untuk diimplementasikan ke dalam realitas sosial (peradaban) di muka bumi.

Ucapan sang tokoh, "membangun peradaban itu dimulai dari titik koma", adalah bukti kepeduliannya terhadap etos berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun, bisa jadi, itu sekaligus merupakan ungkapan keprihatinannya terhadap kondisi moral berbangsa di tingkat elite yang berpotensi menurunkan kualitas peradaban di negeri ini. Dalam tinjauan tata bahasa, titik adalah tanda berhenti-akhir dari sebuah kalimat-dan koma adalah tanda jeda, sebelum susunan kata-kata berikutnya pada sebuah kalimat dilanjutkan. Kedua tanda baca tersebut berperan menunjukkan struktur suatu tulisan.

Sebagai ucapan satire, artikulasi sang tokoh diniatkan untuk menyoroti kenyataan Indonesia yang amburadul akibat ulah para elite yang korup. Pesan ini bisa dibaca pada artikel opininya di sebuah harian berjudul "Bubarkan KPK!". Pembaca tahu di mana posisi sang tokoh dalam setiap misi pembersihan negara dari aksi-aksi penggarongan terhadap aset-aset negara oleh jaringan oknum yang tidak mencintai Indonesia. Ia beropini bahwa upaya-upaya pemberantasan korupsi di negeri ini, termasuk oleh lembaga yang ia maksud, harus dilakukan tanpa "koma" dan "titik". Dalam waktu yang sama, "titik" mewakili ungkapan imperatif bahwa semua bentuk tindak kejahatan korupsi harus dihentikan-sekarang juga.

Demikian bahasa, ia alat ekspresi masyarakat dalam berkomunikasi, termasuk untuk menyampaikan gagasan serta nilai-nilai tertentu, baik secara terang-terangan maupun satire. Nilai-nilai yang senantiasa penting maknanya bagi suatu ikhtiar pembentukan peradaban bangsa itu harus dikomunikasikan, dan sang tokoh telah mengemukakan ide-idenya itu secara cermat dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Meski berpembawaan serius, ia juga seorang humoris. Sang tokoh menyukai sastra, hal yang membuat ia lentur dalam mengapresiasi kenyataan hidup. Ketika sang tokoh mengenang masa-masa kecil sebagai seorang yatim piatu di era sulit akibat pecah sejumlah pemberontakan di daerah, tapi ia bertekad bulat untuk meneruskan sekolah hingga ke jenjang yang tinggi, ia berucap, "Saya terdampar di pantai karena belas kasihan ombak."

Sang tokoh itu adalah putra Sumpur Kudus, Sumatera Barat, Ahmad Syafi'i Ma'arif, yang kini (per 31 Mei) genap berusia 75 tahun. Ia-biasa disapa Buya-adalah seorang guru dari semua guru bahasa Indonesia.


Sunday, June 6, 2010

Pemberontakan Kaum Muda Muhammadiyah


Penulis : Benni Setiawan, Mu'arif, Deni al Asy'ari
Pengantar : Prof. Dr. Syafii Maarif
Cetakan : I, Juli 2005
Ukuran : 12 x 19
Halaman : xvi-220 (kertas CD)

ISBN : 979-3723-54-8

Abstraksi

Drs. Habib Chirzin
Anggota Komnas HAM dan PP. Muhammadiyah
Secara tidak sadar Muhammadiyah sudah terjebak dalam pragmatisme gerakan, bahkan akhir-akhir ini Muhammadiyah juga sudah masuk dalam perangkap neoliberalisme. Akibatnya peran-peran sosial untuk pemberdayaan dan pemerdekaan terhadap kaum mustad'afin menjadi lemah. Bahkan Muhammadiyah kini terjebak dalam “pornografi” sosial, dalam artian menyetujui pengaturan-pengaturan kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat. Justru berpihak pada kaum pemodal.

Prof. DR. Azzumardi Azra, MA
Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Akhir-akhir ini kalangan elit Muhammadiyah terjebak di dalam hal-hal yang bersifat administratif, dan beberapa pemikir Muhammadiyah yang muda dan potensial, lebih memilih untuk menjadi administratur dan guru. Oleh sebab itu di Muhammadiyah tidak begitu berkembang. Ujung-ujungnya peran-peran sosial Muhammadiyah tidak dapat tampil secara optimal.

DR. Moeslim Abdurrahman, MA
Ketua Majelis Buruh Tani Nelayan PP. Muhammadiyah
Jikalau Muhammadiyah ingin mereaktualisasikan dirinya sebagai gerakan sosial yang memihak pada kaum mustad'afin, maka mau tidak mau Muhammadiyah harus mengembangkan ilmu-ilmu sosial sebagai alat analisa dalam membangun new social movement. Lembaga pendidikan Muhammadiyah harus mulai mengembangkan program-program riset dengan melihat persoalan-persoalan teologis dan persoalan-persolan struktural dalam kaitan dengan kapitalisme global.

DR. Revrisond Baswir, MBA
Pengamat Ekonomi Politik UGM
Gerakan Muhammadiyah dalam pembelaan terhadap kaum Mustad'afin sangat minimal. Karena Muhammadiyah selama ini cenderung melakukan pendekatan-pendekatan yang bersifat karitatif. Jadi ke depan Muhammadiyah itu harus memiliki gerakan yang progresif, artinya kepedulian Muhammadiyah terhadap kaum mustad'afin tidak sekedar bentuk simpati semata, akan tetapi harus dapat menjadikan konstituennya sebagai pembela orang-orang yang tertindas.

Daftar Isi

Sepatah Kata Pengantar: Prof. Dr. Syafi’i Ma’arif
Menyoal Kembali “Lembaga Amal” Muhammadiyah ~ 1
Mempertegas Visi Gerakan: Evaluasi Kritis Jelang Seabad Muhammadiyah ~ 39
Membaca Ulang Muhammadiyah dalam Ranah Demokrasi Liberal ~ 75
Mempertimbangkan Artikulasi Politik Muhammadiyah ~ 105
Manifesto Kaum Muda Muhammadiyah ~ 141
Potret Kepemimpinan Muhammadiyah ~ 183
Daftar Bacaan ~ 211
Riwayat Penulis ~ 216

Item Terkait

No 10/2005 - Pertemuan dengan Kyai Haji Akhmad Dahlan
Komentar

"Buku yang ditulis oleh aktivis muda Muhammadiyah ini merupakan gambaran kegelisahan dalam melihat pergeseran peran sosial Muhammadiyah. ... Langkah ini merupakan satu langkah awal bagi Muhammadiyah untuk menumbuhkan kembali gerakan keilmuan dan keberpihakannya terhadap kaum mustad'afin." Prof. Dr. Syafi'i Ma'arif

“Buku ini berisi kegelisahan penulis akan nostalgia Muhammadiyah sebagai gerakan pembaru Indonesia. Kalangan elite Muhammadiyah saat ini lebih berkutat pada hal yang bersifat administratif. Selain itu, kurangnya pemikir muda dari kalangan Muhammadiyah membuat kiprah sosial Muhammadiyah tidak lagi optimal.” – Koran Tempo, 18 September 2005

“Buku ini mengkritik, bagaimana mungkin rumah sakit Muhammadiyah biaya pengobatannya lebih mahal dari rumah sakit swasta lain? ... (Sehingga) Hampir mustahil dinikmati oleh orang miskin dan rakyat kecil.” – Surya, 28 Agustus 2005

Retrieved from: http://www.resistbook.or.id/index.php?page=book&cat=42&id=211&lang=id (June 13, 2010)

Saturday, June 5, 2010

Seabad Muhammadiyah

By Andar Nubowo

Retrieved from: http://nubowo.com/?p=44 (6/05/10)

Usia Muhammadiyah, tanpa disadari, telah satu abad. Sebuah perjalanan panjang yang penuh liku sekaligus prestasi yang layak untuk diakui. Organisasi-organisasi yang lahir sebelum, semasa atau sesudah Muhammadiyah, kini, banyak yang hilang tanpa jejak. Budi Utomo, Syarikat Islam misalnya. Tapi, Muhammadiyah tetap menancapkan praktek amal shalihnya di bumi pertiwi hingga kini. Berbagai macam advokasi amal shalih dalam ranah sosial, dakwah, pendidikan dan kesehatan menjadikan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam modern terbesar di Asia tenggara, bahkan mungkin di dunia.

Prestasi luar biasa ini tidak lahir begitu saja. Tetapi, lahir akibat semangat berpikir KH. Ahmad Dahlan dan para pengikutnya dalam mengaktualisasikan dan membumikan ajaran-ajaran Islam dengan realitas faktual. Ahmad Dahlan mampu merevitalisasi —meminjam bahasa Kuntowijoyo “nalar mistis” umat Islam menuju “nalar ilmu”. Nalar rasional inilah yang, dengan baik, diwarisi generasi dan kader Muhammadiyah berikutnya.

Muhammadiyah, sejak awal, adalah gerakan tajdid, pembaharuan. KH. Ahmad Dahlan, secara cerdas, berhasil memadukan wahyu dan akal dalam memahami teks-teks primer Islam, Al-Qur’an dan Sunah Nabi. Dengan intrepretasi hermeneutisnya terhadap surat Al-Ma’un misalnya, lahirlah konsep pendidikan yang memadukan metodologi Barat-Kolonial dengan Islam. Gaya-gaya penyantunan sosial (caring society) yang diadvokasikan juga menyerap konsep diakonia, pelayanan, dalam tradisi Barat-Kristen. Maka, berdirilah rumah miskin, panti asuhan, panti jompo dan penolong kesengsaraan oemoem (PKU) yang terorganisasi secara modern. Tidak heran, bila Ahmad Dahlan lalu dituduh sebagai “Kristen alus” oleh kelompok Islam lainnya.

Advokasi dan praktik amal shalih—yang secara cermat disebut Amien Abdullah faith and action, merupakan pandangan dan praktik keagamaan yang liberal. Pandangan ini lahir dari dialektika antara teks dan konteks, konteks dan teks. Ahmad Dahlan tahu betul problem umat dan bangsa yang terbelit irasionalitas, kemiskinan dan kejumudan berpikir. Mistisisme yang membelenggu umat, kemiskinan akibat totalitas pandangan umat Islam pada konsep takdir, predestination berhasil dikikis.

Dalam praktik keseharian, Ahmad Dahlan tidak merasa risih bergaul dan berdialog dengan pemuka agama lain. Bahkan suatu waktu, Ahmad Dahlan mengajak dialog seorang pastur Seminari Magelang yang hendak membeli tanah umat Islam di Kauman Yogyakarta. Akhirnya, Ahmad Dahlam mampu meyakinkan Pastur untuk membatalkan niatnya (Adaby Darban, 2005). Sikap terbuka Ahmad Dahlan ini menjadi bukti kuat bahwa Ahmad Dahlan adalah pribadi yang menjunjung tinggi sikap damai, mau berdialog, dan mengutamakan “akal” dari pada “okol” dalam menyelesaikan setiap persoalan.

Sayang, Ahmad Dahlan, seperti yang disebut Buya Syafii Maarif, adalah man of action. Ia tidak pernah mewariskan literatur tertulis tentang pemikiran pembaruan yang dicetuskannya. Ia lebih dikenal sebagai Kiyai transformatif, karena lebih suka “bertindak” daripada “bicara”. Pada batas-batas tertentu, gambaran sosok Ahmad Dahlan yang demikian ini bisa dimaklumi. Tapi, tanpa disadari, hal ini menjadikan Ahmad Dahlan hanya dipahami sebagai sosok yang hanya mewarisi amal-usaha; sekolah, panti asuhan dan rumah sakit. Artinya, gerakan pemikiran KH. Ahmad Dahlan kurang begitu —untuk tidak mengatakan tidak sama sekali, mendapat tempat di Muhammadiyah.

Ahmad Dahlan dipahami, melalui tradisi tutur tinular, sebagai sosok kiyai saleh, memegang teguh ajaran Islam murni, tegas dalam akidah, dan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Proyek keagamaan Muhammadiyah untuk “kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah nabi” dihayati secara literal-skriptural. Akibatnya, rijiditas bahkan skripturalitas dalam berpikir dan beragama menjadi ciri paling khas warga Muhammadiyah belakangan ini. Sikap ini, tentu saja, berbuntut pada ekslusifitas beragama, bukan inklusifitas pemikiran dan praktek keagamaan seperti yang dicontohkan Ahmad Dahlan.

Tak heran, bila kini, muncul sorotan tajam dari berbagai kalangan bahwa gerakan pemikiran Muhammadiyah mengalami “jalan di tempat”. Meski tidak seekstrim yang terjadi, pimpinan dan aktivis Muhammadiyah banyak yang terperangah, kaget, resah dengan dinamika pemikiran baru, baik dari dalam Muhammadiyah sendiri atau dari luar. Isu demokrasi, gender, pluralisme, multikulturalisme, HAM, dan kemiskinan serta keadilan sosial dituduh sebagai isu Barat yang mengancam eksistensi Islam dan Muhammadiyah. Progresifitas Islam Dahlanian yang diusung aktivis dan kader muda Muhammadiyah dianggap sebagai sebuah virus yang disusupkan di tubuh Muhammadiyah.

Oleh karena itu, spirit pembaharuan Ahmad Dahlan yang coba diwarisi kembali oleh aktivis dan kader Muhammadiyah kerapkali disalahpahami dan dicurigai. Mereka dituduh “kafir” dan “murtad” dari Islam dan Muhammadiyah, karena pemikiran-pemikiran mereka yang mengangkangi “otentisitas” teks suci Islam. Dalam Muktamar Muhammadiyah ke-45 pada 3-5 Juli mendatang di Yogyakarta, liberalisme-sekularisme ini, tampaknya, masih menjadi bahan perdebatan yang hangat. Isu bahwa eksistensi Muhammadiyah dalam bahaya dan ancaman besar oleh liberalisme-sekulerisme ramai sebenarnya sudah kurang relevan dengan semangat zaman yang terus berubah.

Selain itu, bentuk penghakiman dan eksklusi ini, sejatinya, sangat jauh dari sikap dan pandangan KH. Ahmad Dahlan. Bahkan, sebaliknya, malah bertentangan dengan cita-cita Ahmad Dahlan yang mengajarkan tajdid, keterbukaan, dan menjunjung tinggi rasionalitas berpikir. Apalagi, ketika mereka lalu melakukan intellectual assasination bagi berkembangnya iklim intelektualitas dan keluwesan Muhammadiyah di kancah global yang terus berubah.

Dalam usianya yang seabad, Muhammadiyah diharapkan tetap menjadi gerbong pembaharuan Islam di tanah air dan di muka bumi ini. Refleksi pemikiran kritis (tajdid) sekaligus manifestasi iman dalam bentuk amal saleh (faith in action) diharapkan makin menajam. Bukankah Rasulullah Muhammad Saw menjanjikan adanya pembaharu (mujaddid) dalam setiap tahun sekali. Jika dulu, mujaddid adalah figur individual yang berwibawa dan mumpuni, maka di abad 21 ini sosok mujaddid adalah organisasi Islam yang dibangun berdasarkan kolektivitas tim yang berkarakter rapi dan visioner. Dan untuk itu, Muhammadiyah tetap berpotensi untuk menjadi pembaharu Islam untuk yang kedua kalinya.

Wallahu’alam bishawab

Friday, June 4, 2010

Demokrasi Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah?


RESENSI BUKU: Nalar Polotik NU dan Muhammadiyah


ROHANI



RESENSI BUKU: Nalar Polotik NU dan Muhammadiyah
Oleh : Dwi Rahayu Ningsih | 31-Mei-2010, 01:40:49 WIB

KabarIndonesia - Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) merupakan dua organisasi massa Islam yang terbesar dan tertua di Indonesia. Muhammadiyah (berdiri pada 1912) dan NU (berdiri pada 1926) pada awalnya didirikan untuk lebih fokus pada persoalan-persoalan kehidupan sosial-keagamaan para anggotanya. Akan tetapi, sejarah perjalanan dua organisasi ini berkata beda. Semenjak teks proklamasi diproklamirkan oleh Ir. Sukarno, kinerja dua organisasi ini seakan beralih pada dunia politik, bahkan NU sempat memutuskan untuk menjadi partai politik pada era Orde Lama.

Bermula dari hal tersebut, benih-benih perpecahan mulai tumbuh di antra kedua organisasi tersebut. Ken Ward mencatat bahwa “dalih terakhir perpecahan antar keduanya adalah alokasi jabatan Kementrian Agama kepada orang-orang yang bukan NU dalam Kabinet Wilopo yang didominasi PNI/Masjumi.” (hal 2) Ini mengakibatkan persatuan muslim sebagai ummah di Indonesia menjadi terpecah. Pada akhirnya perpecahan ini melahirkan sesuatu yang kemudian dikenal sebagai Islam modernis yang diwakili Muhammadiyah versus Islam tradisionalis yang diwakili oleh NU. Sejak saat itu hingga sekarang, politik telah mendominasi hubungan antar keduanya.

Nah, menyimak buku ini, kita akan dihadapkan pada fakta-fakta terbaru mengenai peran penting Muhammadiyah dan NU dalam kehidupan politik dan proses demokratisasi di Indonesia pasca runtuhnya Orde Baru atau yang lazim dikenal dengan era Reformasi. Kedua organisasi massa Islam terbesar di Indonesia ini tentu memiliki peran yang sangat penting dalam proses demokratisasi di negri ini. Terbukti, kebijakan-kebijakan yang dilaksanakan oleh kedua organisasi ini telah mampu mewarnai kehudupan politik di negri ini. Selain itu, kedua organisasi ini juga telah membantu proses pendewasaan para anggotanya untuk berdemokrasi.

Setelah era Reformasi dimulai, banyak para tokoh penting dari Muhammadiyah dan NU berbondong-bondong memasuki dunia politik. Bukan hanya itu, pada era ini sebagian besar tokoh dari dua organisasi ini bahkan juga mendorong untuk dibentuknya partai politik yang menjadi representasi dari organisasi massa Islam yang mereka anut. Oleh sebab itu, lahirlah Partai Amanat Nasional (PAN) sebagai akibat dari dorongan para tokoh Muhammadiyah dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai akibat dari dorongan para tokoh NU.

Pemilu pasca runtuhnya rezim Orde Baru diikuti oleh banyak partai politik termasuk partai-partai yang berafilasi dengan Muhammadiyah dan NU. Hal itu menimbulkan persepsi negatif terhadap kedua organisasi tersebut. Seringkali jumlah perolehan suara dari pertai-partai ini, baik dalam pemilu legislatif maupun presiden, dianggap sebagai representasi dari jumlah pengikut kedua organisasi tersebut. Ini tentu saja tidak bisa dianggap benar. Pasalnya, loyalitas para anggota Muhammadiyah dan NU pada partai-partai yang berafilasi dengan keduanya tidak sekuat loyalitas mereka kepada organisasi social-keagamaan yang mereka anut. Selain itu, Muhammadiyah dan NU juga memberi kelonggaran terhadap anggotanya dalam menentukan pilihan politiknya. Banyak bahkan mencapai angka puluhan juta orang anggota dari kedua organisasi tersebut tidak menyumbangkan hak pilihnya kepada PAN maupun PKB.

Buku setebal 448 halaman ini lebih menarik daripada tulisan-tulisan mengenai Muhammadiyah dan NU sebelumnya. Ini disebabkan karena eksplorasi kajian dalam buku ini adalah mengenai Muhammadiyah dan NU yang ada di luar Jawa. Buku ini menghadirkan data-data dan fakta-fakta terbaru yang berhubungan dengan peran penting kedua organisasi ini dalam kehidupan politik dan proses demokratisasi di negri ini khususnya untuk daerah luar Jawa. Tentu saja, hal tersebut membuat buku ini telah berhasil menjawab tentang realitas yang berbeda dari persepsi umum tentang Muhammadiyah dan NU yang selama ini dibiarkan tidak terjawab oleh sebagian peneliti sebelumnya.

Buku yang berjudul Nalar Politik NU dan Muhammadiyah ini ditulis oleh Dr. Suaidi Asyari, MA, Ph.D. Buku ini dia tulis dengan menggunakan metodologi komparatif yang menuntut penulisnya untuk menempatkan kedua objek kajianya pada tataran yang sama supaya nanti tidak menghasilkan kesimpulan yang tidak dangkal dan berat sebelah. Ini tentu sangat sulit untuk dilakukan, apalagi penulisnya sendiri memiliki latar belakang NU yang sangat kental. Akan tetapi, Suaidi telah berhasil menjaga sifat ojektif dalam kajiannya tentang dua organisasi masa Islam terbesar di Indonesia tersebut, walaupun tidak jarang dia membuat sejumlah generalisasi dalam kajiannya.

Selanjutnya, terhitung hanya satu persoalan yang menjadi pokok pembahasan dalam buku ini, yaitu seberapa besar loyalitas keagamaan mempengaruhi kebebasan individu para penganutnya dalam mengimplementasikan nilai-nilai demokrasi. Akan tetapi, untuk menjawab itu buku ini menyajikan pengantar umum tentang Muhammadiyah dan NU pada bab dua dan tiga. Sedangkan pada bab empat hingga enam, pembaca akan diajak untuk menilik kembali sejarah panjang pengalaman dua organisasi tersebut menyelami kehidupan politik di negri ini. Barulah pada bab tujuh dan delapan buku ini akan menjawab pokok pembahasan yang diangkatnya. Dengan demikian, pembaca akan lebih mudah dan secara mendalam memahami maksud dari tujuan dituliskannya buku ini.

Akhirnya, terlepas dari kekurangan-kekurangannya, buku ini amat penting untuk dibaca, apalagi saat ini studi Islam semakin didominasi oleh dikotomi “radikal” versus “moderat”. Muhammadiyah dan NU merupakan representasi mainstream dari Islam moderat dan toleran di Indonesia. Oleh karena itu, diharapkan buku ini dapat menjadi semangat untuk membangun dan meneguhkan kembali eksistensi Islam moderat yang rahmatan lil’alamin dan mendukung nilai-nilai demokrasi.(*)

Judul : Nalar Politik NU & Muhammadiyah
Penulis : Dr. Suaidi Asyari, MA, Ph.D
Penerbit : LKiS, Yogyakarta
Cetakan : I 2009
Tebal : xxiv + 448 halaman

* Dwi Rahayu Nigsih adalah mahasiswa Perbandingan Agama Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga

Retrieved from: http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=19&jd=RESENSI+BUKU%3A+Nalar+Polotik+NU+dan+Muhammadiyah&dn=20100530195913 (June 4, 2010)



------
English version of this book is available at Amazon.

Book Description

3639229932 978-3639229936 January 15, 2010
Whether or not Islamic organizations should be transformed into political parties has become an endless debate in Indonesia. There are times those who tend to bring Islam into politics gain strong supports as in the case otherwise. This book demonstrates that Muhammadiyah has participated in the Indonesian process of democratisation by means of exercising political ijtihad derived from its religious worldview. NU has been exercising ijma?- based political participation. By creating religious justification to their political policies Muhammadiyah and NU have played significant role in the ongoing process of democratization in Indonesia. This book is a breakthrough of the study of Islamic organisations in grasping a national picture of the role of Islam in Indonesian politics since it goes beyond Java. It convincingly argues that political behavior of Muslims in the outer islands is not too much influenced by fanaticism or ?irrational? loyalty as the general case in Java. This book is especially useful for those whose interests are moderate, traditionalist and modernist Islam in contemporary Indonesian politics.

Product Details

  • Paperback: 320 pages
  • Publisher: VDM Verlag Dr. Müller (January 15, 2010)
  • Language: English
  • ISBN-10: 3639229932
  • ISBN-13: 978-3639229936
Retrieved from: http://www.amazon.com/Traditionalist-Modernist-Islam-Indonesian-Politics/dp/3639229932/ref=sr_1_1?ie=UTF8&qid=1322678392&sr=8-1

Thursday, June 3, 2010

Seabad Muhammadiyah dan Implementasi Al Ma’un

Zulfi Ifani
| 12 Februari 2010 | 14:42


A
da cerita yang cukup populer di kalangan warga Muhammadiyah mengenai KH Ahmad Dahlan (KHAD) dan para muridnya. Diceritakan bahwa KH. Ahmad Dahlan selalu saja mengulang-ulang pelajaran surat al-Ma’un dalam jangka waktu yang lama. Bahkan hingga tidak pernah beranjak kepada ayat berikutnya, meskipun murid-muridnya sudah mulai bosan.

Karena jenuh, salah seorang muridnya, KH. Syuja’ -yang masih muda waktu itu-, bertanya mengapa KHAD tidak beranjak ke pelajaran berikutnya. KHAD pun balik bertanya, “Apakah kamu benar-benar memahami surat ini?”. KH. Syuja’ menjawab bahwa ia dan kawan-kawannya sudah memahami benar-benar arti surat tersebut dan bahkan telah menghafalnya di luar kepala.

Kemudian KHAD bertanya kembali, “Apakah kamu sudah mengamalkannya?”. Dijawab oleh KH. Syuja’, “Bukankah kami membaca surat ini berulang kali sewaktu salat?”

KHAD lalu menjelaskan maksud mengamalkan surat al-Ma’un bukanlah sekedar menghafal atau membacanya semata, namun lebih dari itu semua. Yaitu mempraktekkan al-Ma’un dalam bentuk amalan nyata. “Oleh karena itu’, lanjut KHAD, “setiap orang harus keliling kota mencari anak-anak yatim, bawa mereka pulang ke rumah, berikan sabun untuk mandi, pakaian yang pantas, makan dan minum, serta berikan mereka tempat tinggal yang layak. Untuk itu pelajaran ini kita tutup, dan laksanakan apa yang telah saya perintahkan kepada kalian.” (dari buku “Teologi Pembaharuan” karya Dr. Fauzan Saleh).

Memaknai Al Ma’un

Surat ini begitu penting di kalangan Muhammadiyah. Bahkan hingga muncul istilah surat Muhammadiyah untuk menjelaskan begitu eratnya hubungan antara surat ini dengan kehadiran Muhammadiyah. Secara ekstrim, bisa jadi inilah landasan ontologis dan epistemologis dari Persyarikatan Muhammadiyah.

Sayyid Quth (dalam Tafsir fi Zhilalil Qur’an Vol. 24) menjelaskan bahwa surat pendek ini mampu memecahkan hakikat besar yang mendominasi pengertian iman dan kufur secara total (ibid, hlmn. 263). Boleh jadi definisi iman dan kufur di sini sangat berbeda bila dibandingkan definisi tradisional. Karena kufur (mendustakan agama) di sini diartikan sebagai menghardik anak yatim dan atau menyakitinya (Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin, ayat 2-3). Logika kufur muncul karena seharusnya saat iman seorang sudah mantap di hati niscaya anak-anak yatim dan orang miskin tentu tidak akan diterlantarkan.

Pada dasarnya, Allah tidak hanya menghendaki pernyataan-pernyataan dari manusia. Tetapi menghendaki pernyataan itu disertai dengan amalan-amalan sebagai pembuktiannya. Kalau tidak, pernyataan tersebut tidak lebih hanya debu yang tidak ada bobotnya di sisi Allah (ibid , hlmn. 264). Karena memang, islam bukanlah agama simbol dan lambang semata. Iman akan tidak berwujud bila tidak direfleksikan ke dalam gerakan amal shaleh (ibid, hlmn. 263).

Tafsir dari Sayyid Quthb ini lahir jauh setelah meninggalnya KH Ahmad Dahlan. Namun, saya yakin pemikiran dari Sayyid Quthb tidak jauh berbeda dengan spirit dakwah yang diharapkan oleh KH Ahmad Dahlan semasa hidupnya. KH Ahmad Dahlan tentu menginginkan bahwa dakwag adalah semangat untuk beramal shaleh sebanyak-banyaknya. Akibatnya, selama hidupnya memang tidak adanya buku/tulisan ilmiah yang lahir dari beliau, namun jika berbicara warisan amal usaha niscaya decak kagum akan banyak terbetik.

Pencapaian Muhammadiyah

Selama perjalanan panjang 1 abad berdirinya, Muhammadiyah telah mengalami berbagai macam tantangan zaman. Mulai dari zaman penjajahan, zaman revolusi, demokrasi parlementer, hingga reformasi. Selama itu pula Muhammadiyah menjalani pasang-surut pergerakan. Namun, tetap saja bahtera Muhammadiyah mampu bergerak dengan mantap (Amien Rais, Tauhid Sosial, hlmn. 278).

Di usianya yang telah mencapai 1 abad tahun ini. Harus ada refleksi mendalam. Usia ini tergolong amat renta bagi seorang manusia. Namun, bagi sebuah organisasi bisa jadi ini usia reflektif, untuk melihat apa saja yang telah dicapai selama 1 abad belakangan.

Rosyad Soleh (dalam Pedoman Milad 1 Abad Muhammadiyah, Suara Muhammadiyah 21 September 2009) mencatat bahwa Muhammadiyah adalah satu dari minoritas ormas yang keberadaannya merata di hampir seluruh wilayah Indonesia. Boleh dikata, tak ada satu kabupaten/kota di negeri ini yang tidak mengenal Muhammadiyah. Sampai saat ini, di 33 provinsi di Indonesia ini telah berdiri Wilayah Muhammadiyah (PWM). Dengan 366 kota/kabupaten di antaranya telah berdiri Daerah Muhammadiyah (PDM). Jumlah Cabang Muhammadiyah (PCM) saat ini pun sebanyak 2.930 buah, sedang jumlah Ranting sebanyak 6.726 buah. Di samping itu, di berbagai negara Asia, Eropa, maupun Amerika Serikat telah berdiri pula Cabang Istimewa Muhammadiyah.

Selain itu, perkembangan secara horizontal ditandai dengan semakin meluasnya usaha Muhammadiyah. Dewasa ini, usaha Muhammadiyah telah memasuki hampir seluruh bidang kehidupan. Hampir tidak ada satu pun bidang kehidupan yang tidak dimasuki oleh Muhammadiyah, kecuali politik praktis tentunya. Sampai saat ini jumlah Sekolah Muhammadiyah, sejak tingkat Dasar sampai Menengah Atas, berjumlah 7.307. Jumlah itu masih ditambah lagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) sebanyak 168. Jumlah Rumah Sakit/ Balai Pengobatan sebanyak 389 buah.Jumlah BPR/BT sebanyak 1.673. Jumlah Masjid sebanyak 6.118, sedang jumlah Musholla sebanyak 5.080 buah. Jumlah yang tidak kecil dan sedikit tentunya.

Proyeksi ke Depan

Dengan melihat pencapaian Muhammadiyah selama 1 abad terakhir, yang bisa dikatakan “wah”. Tetap saja diperlukan kesadaran kolektif, bahwa Muhammadiyah tetaplah tidak sempurna dan perlu banyak pembenahan di sana-sini. Karena Muhammadiyah adalah kumpulan manusia, bukan malaikat (Amien Rais, ibid, hlmn. 281).

Poin pertama yang perlu diperhatikan adalah istiqomah dalam berjuang. Bahwa Muhammadiyah harus terus dipertahankan sebagai gerakan dakwah yang berorientasi pada aspek sosial masyarakat dan pendidikan. Tidak perlu latah memaksakan diri untuk menceburkan diri ke politik praktis. Meski politik memang begitu penting menentukan arah kemajuan bangsa ini.

Poin kedua, bahwa Muhammadiyah di masa mendatang adalah Muhammadiyah yang diisi oleh semangat kaum mudanya saat ini. Karena itu, kita sebagai kaum muda perlu berkaca. Apa yang telah kita miliki saat ini? Apakah bekal itu sudah cukup juga untuk ikut membesarkan Muhammadiyah? Oleh karena itu, mulai dari sekarang, kaum muda -termasuk juga kader IMM- wajib hukumnya mengisi diri dengan berbagai amal “cicilan”, entah itu mengaji, belajar giat di kampus, berbisnis, hingga beraktivitas di organisasi otonom. Karena kedewasaaan dan kompetensi memang tidak datang secara instan. Perlu ada proses panjang dan berbelit untuk sampai di tahapan tersebut.

“Karena itu, aku titipkan Muhammadiyah ini kepadamu sekalian dengan penuh harapan agar engkau sekalian mau memelihara dan menjaga Muhammadiyah itu dengan sepenuh hati agar Muhammadiyah bisa terus berkembang selamanya.”(KH. Ahmad Dahlan)

Sekian.

Billahi fi sabilil haq. Fastabiqul khoirot!

Retrieved from: http://umum.kompasiana.com/2010/02/12/seabad-muhammadiyah-dan-implementasi-al-maun/ (June 11, 2010)