Showing posts with label Mitsuo Nakamura. Show all posts
Showing posts with label Mitsuo Nakamura. Show all posts

Wednesday, February 25, 2015

Mitsuo Nakamura dan Konsistensi Mengkaji Muhammadiyah

MATAN, Edisi 104, Maret 2015, hal: 56-57.

Oleh Ahmad Najib Burhani*

Jika menyebut kajian tentang Muhammadiyah, maka kita tak akan pernah bisa melewatkan nama Mitsuo Nakamura, emeritus profesor dari Chiba University, Jepang. Sejak mengambil program PhD di Cornell University, Amerika Serikat, Nakamura mendedikasikan hampir seluruh hidupnya untuk mengkaji Muhammadiyah. Memang ada beberapa profesor lain yang cukup banyak menulis tentang gerakan modernis ini, seperti James L. Peacock, Herman Beck, dan Hyun-Jun Kim. Namun saya kira tidak ada peneliti asing lain yang memiliki kepedulian terhadap Muhammadiyah melebihi yang dimiliki oleh Nakamura.

Meski usianya sudah lebih dari 80 tahun (lahir 19 Oktober 1933), namun ia masih terus aktif menghadiri Muktamar Muhammadiyah yang diselenggarakan setiap lima tahun. Untuk Muktamar ke-47 yang diselenggarakan di Makasar bulan Agustus 2015 ini, Nakamura pun sudah mempersiapkan diri untuk hadir bersama istrinya, Hisako Nakamura. Membutuhkan stamina yang luar biasa untuk terbang lebih dari tujuh jam dari Tokyo ke Jakarta dan berlanjut ke Samarinda untuk orang seusia Nakamura. Konsistensi, kegigihan, dan semangat seperti ini yang patut di tiru oleh para peneliti Indonesia.

Seperti pernah diceritakan kepada penulis, sebagai spesialis tentang Islam di Indonesia, Nakamura pernah merasa kesepian di lingkungan akademisi di Jepang pada tahun 1980-an. Sedikit sekali orang yang memiliki minat yang sama dengan dirinya. Tidak banyak dana penelitian diberikan untuk kajian seperti yang ia lakukan. Kondisi seperti ini yang kadang membuat beberapa akademisi kemudian beralih fokus kajian. Namun itu tidak terjadi pada Nakamura, ia tetap konsisten dengan kajian yang dipilih. Karena itulah ia kini menjadi orang yang selalu dirujuk ketika berbicara tentang Islam di Indonesia, terutama Muhammadiyah.
Jika kita hendak pergi ke Jepang untuk melihat kajian tentang Islam di Asia Tenggara, maka Nakamura adalah satu pilar utamanya. Jika kita sudah diperkenalkan olehnya ke berbagai institusi di Jepang, maka semuanya akan menjadi lancar. Ini yang dialami penulis ketika mendapat tugas dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) untuk membangun kerjasama dengan berbagai universitas di Jepang. Berkat bantuan Nakamura, tim LIPI bisa melakukan pertemuan dan pembicaraan awal dengan Tokyo University, Rikkyo University, Tokyo University of Foreign Studies, dan beberapa universitas lain di Jepang.

Mengenai karya tulis, buku Nakamura tentang Muhammadiyah yang paling terkenal dan paling sering menjadi referensi adalah disertasinya yang berjudul The crescent arises over the banyan tree: a study of the Muhammadijah movement in a Central Javanese town. Disertasi setebal 366 halaman ini selesai ditulis dan diserahkan ke Cornell University tahun 1976. Jika tahun penulisan disertasi itu dipakai sebagai patokan dari masa Nakamura mulai mengkaji Muhammadiyah, maka hingga tahun 2015 ini Nakamura sudah mencapai 40 tahunan menggeluti organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan tahun 1912 lalu ini.

Pada tahun 1983, disertasi ini kemudian diterbitkan menjadi buku setebal sekitar 250 halaman oleh Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Edisi Bahasa Indonesia dari buku ini berjudul Bulan sabit muncul dari balik pohon beringin: Studi tentang pergerakan Muhammadiyah di Kotagede, Yogyakarta dengan ketebalan sekitar 280 halaman. Edisi ini diterjemahkan oleh Yusron Asrofie dan diterbitkan juga oleh Gadjah Mada University Press tahun 1983.

Tahun 2012, versi yang diperpanjang dan diperbarui dari buku tersebut diterbitkan ulang oleh Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) Singapura dengan judul The crescent arises over the banyan tree: A study of the Muhammadiyah movement in a central Javanese town, c.1910s-2010 (Second Enlarged Edition). Jika terbitan sebelumnya hanya memotret secara antropologis kondisi Muhammadiyah di Kotagede hingga tahun 1976, edisi terbitan Singapore ini menambah bahasan dari tahun 1976 hingga 2010. Nakamura memasukkan perkembangan Muhammadiyah selama 35 tahun di Kotagede dan menjadikannya sebagai bagian kedua dari buku itu. Makanya, dari segi ketebalan, edisi ini memiliki 429 halaman.

Selain magnum opus itu, Nakamura juga menulis sejumlah artikel dan book chapter (bab buku) tentang Muhammadiyah. Diantara tulisan itu ada yang berkaitan dengan sufisme yang berjudul Sufi elements in Muhammadiyah? Notes from field observation, ada yang berkaitan dengan tokoh gerakan ini “Professor Haji [Abdul] Kahar Muzakkir and the development of the reformist movement in Indonesia”, ada yang melakukan perbandingan dengan Ghulent Movement dari Turki dengan judul “Rationality and enlightenment: A comparison of educational reforms promoted by Gülen Movement and Muhammadiyah,” dan seterusnya.

Sebetulnya karya Nakamura tentang Muhammadiyah tidaklah terlalu banyak. Namun itu tak mengurangi kepakarannya tentang Islam di Indonesia, khususnya tentang Muhammadiyah. Dan lagi, nilai seorang akademisi itu memang tidak hanya diukur dari bertumpuk-tumpuknya karya tulis yang dihasilkan. Seseorang bisa dianggap sebagai pakar jika karyanya, meski sedikit, sering menjadi referensi atau rujukan bagi karya-karya yang lain. Istilahnya, karya akan dinilai tinggi bila ia memiliki impact factor yang tinggi. Ini biasanya dilihat dari berapa banyak karya itu dikutip oleh orang lain. Intelektual semisal Talal Asad juga tak terlalu banyak menulis buku. Namun buku-buku dan artikel yang ditulisnya selalu ditunggu, menjadi referensi, dan inspirasi bagi akademisi lain. Marshall G. S. Hodgson, ahli Islam ternama dari Universitas Chicago, adalah contoh lain akademisi yang tidak banyak melahirkan karya (karena meninggal muda), namun pengaruh dari buku yang ditulis menyebar luas dan bahkan masih dipakai hingga sekarang. Demikian pula halnya dengan karya-karya Nakamura.

Satu hal lagi, karya seorang akademisi juga tidak semata dilihat dari karya tulisnya, tapi juga seberapa banyak atau seberapa berhasil murid-murid yang dibimbingnya. Mungkin saja seorang profesor hanya menulis buku secukupnya, namun mahasiswa bimbingannya merasa betul-betul dididik olehnya dan banyak muridnya yang berhutang budi akademik kepadanya. William Liddle, misalnya, dikenal sebagai profesor yang memiliki banyak murid dan orang yang bertangan dingin dalam membimbing murid-muridnya. Ini tentu berbeda dari Clifford Geertz yang memiliki banyak karya berpengaruh namun memiliki sedikit murid. Nah,dalam konteks murid ini, Nakamura juga tak banyak memiliki murid. Ada beberapa muridnya yang menjadi spesialis Indonesia, seperti Aoki Takenobu. Namun dari Indonesia, Nakamura hampir tak memiliki penerus kecuali penulis artikel ini sendiri (jika bisa disebut sebagai murid).

Pertemuan pertama penulis dengan Nakamura terjadi pada acara World Peace Forum (WPF) di Jakarta tahun 2005. Ketika itu hanya terjadi sekilas pembicaraan tentang bukunya The crescent arises over the banyan tree. Pertemuan dan komunikasi yang cukup intensif terjadi enam tahun setelah itu, yaitu Oktober 2011, ketika Nakamura mengajak penulis untuk membantunya menyelenggarakan IRCM (International Research Conference on Muhammadiyah). Sejak itulah komunikasi dan pertemuan cukup sering terjadi. Ratusan korespondensi melalui email untuk membicarakan berbagai hal tentang Muhammadiyah terjadi. Pertemuan pun sering dilakukan, baik di Jepang, Jakarta, Malang, dan Yogyakarta. Bahkan beberapa kali penulis pergi bersama Nakamura, termasuk mengunjungi makan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Jombang, Jawa Timur) pada Desember 2012.

Memang, hubungan penulis dengan Nakamura tidak dalam bentuk hubungan mahasiswa S3 yang sedang menulis disertasi dengan pembimbingnya. Namun hubungan yang selama ini terjadi tidak kalah dengan hubungan dalam konteks akademik mahasiswa doktoral dengan profesornya. Banyak ilmu dan kebijakan yang penulis ambil dari Nakamura selama menjadi “cantrik”-nya. Misalnya, ketika menghadapi orang yang ditunggu-tunggu emailnya namun ia terlalu lambat dalam merespon, Nakamura tidak marah kepadanya. Ia mengawali email dengan mengatakan, “Saya yakin no news is a good news”.

Kedekatan penulis dengan Nakamura ini barangkali yang membuat Nakamura berkirim email ke penulis ketika dia mengalami krisis kesehatan dan merasa ajalnya sudah begitu dekat. Ini terjadi pada Juli 2013 lalu. Dia mengatakan, “my health problem has turned out to be rather serious – ‘kapan saja akan dipanggil’. Ketika itu dia menderita kanker prostat dan tidak mungkin dilakukan operasi karena umurnya sudah 80 tahun dan tidak memungkinkan pula melakukan terapi radiasi karena efek sampingnya. Itulah yang menyebabkannya berpikir bahwa umurnya tinggal beberapa bulan lagi. “Semoga masih diberikan waktu buat saya [bukan] dalam tahunan melainkan dari bulanan”, begitu Nakamura menulis surat pada 1 Juli 2013. Namun berkat kemajuan teknologi kedokteran di Jepang, penyakit Nakamura bisa disembuhkan dengan terapi hormone. Setelah melewati masa kritis itu, kini Nakamura bisa melanjutkan aktivitas akademiknya lagi dan akan kembali menjadi saksi untuk Muktamar Muhammadiyah tahun ini.
-oo0oo-

*Peneliti LIPI dan pengelola blog www.muhammadiyahstudies.blogspot.com


Sunday, December 14, 2014

Rationality and Enlightenment: A Comparison of Educational Reforms Promoted by Gülen Movement and Muhammadiyah



1. Introduction

I have been working on Islamic social movements in Indonesia over almost four decades now. Since the 1990’s, I have also extended my geographic coverage to other parts of the Islamic world mostly through Malay speaking peoples’ networks. However, it was only three years ago (2008) on my second trip to Turkey that I learned the existence of the GM. A Turkish Japanese couple organized a group tour, and my wife and I joined it. The couple has been supporters of the movement and trying to spread its network in Japan. In Turkey, my wife and I were introduced to the leaders of the Journalists and Writers Association, and visited a couple of Gülen -inspired centers in the eastern part of Turkey. Through that trip, we came to know for the first time the fact that GM in the form of ‘Turkish schools’ was extending to Indonesia, too, and also to other parts of Southeast Asia. Then, on a later occasion in Indonesia, we had a chance to visit Kharisma School in the out skirt of Jakarta, even though it was a very brief visit. Those visits made us curious of the GM very much and we started to learn more about it through its publications and website information. Then, the above-mentioned couple organized again a group trip to Turkey the last summer.  My wife and I were exposed again more of Gülen-inspired activities now going on in the country. 
Thus far, as you see, my knowledge and understanding on the GM has been very limited. But the movement is attractive enough for me as a researcher on Islamic movements to make me venture into a comparison with the Muhammadiyah movement in Indonesia, which I have been familiar with for many decades.
As pointed out by Barton, the two robust Islamic social movements in Indonesia, Nahdlatul ‘Ulama’ (NU hereafter) and Muhammadiyah, have many parallels to GM. However, I will focus my attention mostly on Muhammadiyah partly because its education system is perhaps the most extensive in the Islamic world and comparable to GM as Barton pointed out, and partly because I am more familiar with Muhammadiyah than with NU. Nevertheless, I will mention NU as well when it becomes relevant to my discussion.
Today, Muhammadiyah has grown to be the largest private school system in Indonesia with more than 10,000 educational institutions --- ranging from playgroups and kindergartens to colleges and universities. It also operates more than 450 institutions of medical services including hospitals, clinics, delivery houses; more than 450 social welfare institutions including orphanages, elders houses, the poor houses; and more than 550 economic mutual help associations including microfinance unions and cooperatives.[2] The movement is now widely recognized as the second largest Islamic faith-based civil society organization in Indonesia with roughly thirty million members and supporters, alongside its ‘rival’, i.e. the traditionalist Islamic organization, NU, which claims forty million members and supporters.

Friday, November 23, 2012

Mencari Identitas dan Arah Baru Muhammadiyah di Abad Kedua

Identitas  Muhammadiyah
Kompas, 23 November 2012
 
Mitsuo Nakamura*

Selama 100 tahun keberadaannya, Muhammadiyah telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi Indonesia, terutama dalam bidang pendidikan, kesehatan, filantropi, dan kesejahteraan sosial. Kontribusi ini tak terbatas pada masyarakat Muslim, tetapi juga masyarakat non-Muslim, seperti terlihat pada adanya sekolah dan rumah sakit Muhammadiyah di Papua dan Nusa Tenggara Timur. Bersama Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah menjadi organisasi Islam terpenting di negeri ini dan menjadi representasi suara Islam moderat. Di tingkat global, barangkali tak ada organisasi Islam modern yang bisa menandingi amal usaha Muhammadiyah.

Memudar dan Kurang Dinamis
Namun, peran Muhammadiyah pada beberapa dekade belakangan ini seperti agak memudar. Secara eksternal, berbagai kelompok transnasional, seperti Hizbut Tahrir Indonesia, yang muncul pasca-tumbangnya Orde Baru, mampu berkompetisi dan menandingi Muhammadiyah. Secara internal, berbagai infiltrasi, seperti dari Partai Keadilan Sejahtera, memengaruhi gerak langkah Muhammadiyah. Di tubuh organisasi ini juga terjadi konflik di antara tiga kubu: kelompok Salafi yang cenderung skriptualis dan konservatif, kelompok moderat yang memadukan puritanisme dan modernisme, serta kelompok liberal yang menganggap Muhammadiyah terlalu kaku dan menghargai keimanan individu.

Persoalan yang menimpa Muhammadiyah saat ini tak hanya pada tingkat ideologi. Amal usahanya pun menghadapi banyak masalah. Dulu, Muhammadiyah adalah pionir dalam bidang pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Namun, kini sebagian dari lembaga pendidikan milik Muhammadiyah terlihat ketinggalan zaman, kalah bersaing dengan sekolah internasional, Sekolah Islam Terpadu, dan sekolah milik kelompok Salafi yang didukung dana dari Timur Tengah.

Dalam bidang filantropi, Muhammadiyah juga agak kalah lincah dan gesit dibandingkan organisasi baru, seperti Dompet Dhuafa dan Pos Keadilan Peduli Ummat. Rumah sakit Muhammadiyah juga tak berbeda dari rumah sakit pada umumnya yang dikelola dengan motif komersial dengan tarif tinggi. Bahkan, beberapa rumah sakit Muhammadiyah kalah kualitasnya dari puskesmas. 

Secara organisasi, beberapa pengamat menilai bahwa Muhammadiyah kini kalah dinamis dibandingkan dengan NU dalam ideologi. Organisasi yang dulu diasosiasikan dengan kaum sarungan dan kolot itu kini tampak lebih progresif dan reformis, terutama sejak dipimpin Gus Dur tahun 1980-an.

Beberapa hal itulah yang menjadi tantangan berat bagi Muhammadiyah ketika organisasi ini mencapai umur satu abad yang diperingati pada 18 November tahun ini. Karena itu, ulang tahun kali ini dirasakan tidak cukup dengan dirayakan di Gelora Bung Karno, Jakarta, dan di beberapa tempat lain di Indonesia. 

Perayaan itu sendiri penting dilakukan sebagai bentuk syukur dan karena ini adalah peristiwa yang hanya terjadi sekali dalam seumur hidup buat para anggota dan simpatisannya. Kalau nanti Muhammadiyah mampu bertahan hingga 200 tahun, pasti bukan generasi sekarang yang akan menjumpainya.

Namun, yang lebih penting dari perayaan seremonial adalah menemukan kembali (rediscovery) dan reformulasi terhadap identitas Muhammadiyah untuk abad kedua. Inilah di antaranya mengapa sejumlah aktivis-sarjana Muhammadiyah dan pengamatnya dalam negeri bekerja sama dengan beberapa sarjana asing, seperti saya sendiri, MC Ricklefs, James Peacock, Robert Hefner, Hyun-Jun Kim, Jonathan Benthall, Robin Bush, Martin van Bruinessen, Nelly von Doorn Harder, dan sebagainya, menyelenggarakan konferensi-riset internasional tentang Muhammadiyah (International Research Conference on Muhammadiyah/IRCM) di Malang, 29 November-2 Desember 2012. Saya juga berterima kasih kepada Ahmad Najib Burhani dari LIPI yang telah membantu saya dalam penyusunan tulisan ini.

Tantangan ke Depan
Dengan kecepatan globalisasi dan teknologi yang luar biasa, masih mampukah Muhammadiyah menjadi organisasi Islam yang progresif (berkemajuan) dan dinamis? Di tengah gelombang Salafisme dan Islamisme, mampukah Muhammadiyah tegak mempertahankan dan merevitalisasikan identitasnya? Di tengah kebangkitan kembali hal-hal tradisional dan lokal sebagian karena desentralisasi, khususnya revival kejawen, bagaimanakah organisasi ini mesti bersikap? Inilah beberapa tantangan Muhammadiyah ke depan yang akan dicoba dibahas di konferensi sarjana di Universitas Muhammadiyah Malang.

Tentunya tantangan besar yang dihadapi Muhammadiyah ke depan tak bisa diselesaikan dengan konferensi atau dalam sebuah konferensi. Meski berupaya membedah berbagai aspek kemuhammadiyahan sejak organisasi ini didirikan 18 November 1912, apa yang dilakukan para sarjana domestik dan asing hanyalah diagnosa dan sebagian dari mereka yang berhaluan ”intelektual organik”, mungkin dapat memberikan resep obat.

Namun, untuk bisa bangkit kembali, perlu langkah sistematis dari pengurus Muhammadiyah sendiri, kesadaran warga Muhammadiyah, dan barangkali dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah ataupun kelompok masyarakat madani yang lain. Pada tingkat teoretis, langkah itu mungkin bisa dimulai, misalnya, dengan mereformulasi teologi al-Ma’un yang selama ini menjadi prinsip gerak dan darah amal usaha Muhammadiyah dalam usaha membantu para orang-orang yang miskin, lemah, dan tertinggal.

Semangat ”kembali ke Al Quran dan Sunah” dan semboyan amar makruf nahi mungkar yang menjadi ruh reformasi keagamaan di Muhammadiyah juga perlu mendapat reformulasi pada dimensi epistemologi ataupun proyek kegiatan yang konkret. Cita-citanya yang dituntut ”masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” dan ”peradaban unggul” juga perlu dioperasionalisasikan dengan ukuran empiris. Dan, khususnya dalam lingkungan plural, konsep fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebajikan) juga mungkin perlu mendapat suntikan lagi dengan darah baru dan diperluas tak sekadar kompetisi sesama warga Muhammadiyah, tetapi juga kompetisi dan kerja sama dengan masyarakat beragama lain sebagai sesama manusia yang hidup berdampingan dalam global village pada dunia kekinian.
-oo0oo-

*Professor Emeritus, Chiba University, Japan; Wakil Ketua SC IRCM  (International Research Conference on Muhammadiyah); penulis The crescent arises over the banyan tree: A study of the Muhammadiyah movement in a central Javanese town, c. 1910s-2010. 2nd Enlarged Edition, (ISEAS, 2012).

Available at: http://cetak.kompas.com/read/2012/11/23/02553927/.identitas.muhammadiyah