Showing posts with label Leadership. Show all posts
Showing posts with label Leadership. Show all posts

Sunday, February 22, 2015

KH. Achmad Haiti, Rela Menanggalkan Gelar Kiai Demi Aktif di Muhammadiyah

Almarhum Kiai Haji Achmad Haiti adalah salah satu sosok ulama yang konsisten mengabdikan hidupnya untuk kegiatan dakwah dan mengajarkan pendidikan agama Islam kepada para "santrinya" di masjid dan mushalla di sekitar tempat tinggalnya. Bahkan beliau rela meninggalkan berbagai "kenikmatan" duniawi dan memilih menghabiskan hari-hari panjangnya untuk mengurus masjid.

Bapak 10 anak (dua orang telah meninggal saat masih berusia muda) dan salah satunya sukses menjabat di Kepolisian Republik Indonesia, yakni Wakapolri Komjen (Pol) Badrodin Haiti, dikenal sebagai seorang ayah yang teguh pada pendirian. Beliau sudah menggariskan ketetapan, bahwa seluruh anaknya harus bersekolah di lembaga pendidikan Islam atau pesantren.

Wajar kalau seluruh anaknya, sempat mengenyam pendidikan di Pesantren, termasuk Komjen Badrodin Haiti yang masa kecilnya bersama kakak dan adiknya bersekolah formal sambil "nyantri" di Pondok Pesantren Baitul Arqam, Balung, Jember. Jarak rumahnya dengan pondok sejauh 8 kilometer, ditempuh dengan mengayuh sepeda onthel pemberian orangtuanya.

Dan baru setelah lulus SMA, Badrodin Haiti melanjutkan ke pendidikan umum dan diterima di AKABRI Kepolisian tahun 1978. Sedang saudara lainnya banyak yang menjadi guru -PNS. "Kalau urusan sekolah anak-anaknya, tidak bisa ditawar harus masuk sekolah agama, ke pesantren atau madrasah, tapi soal pekerjaan beliau memberi kesempatan boleh bekerja dimana saja," tutur H. Lukman Haiti, putra kedua almarhum yang kini melanjutkan perjuangan abahnya, dengan aktif berdakwah dan menggerakkan PCM Paleran Kabupaten Jember.

KH. Achmad Haiti yang wafat pada usia 97 tahun, setelah beberapa hari dirawat di sebuah rumah sakit di Kota Jember, Senin (10/3/2014), selama hidupnya dikenal sebagai tokoh yang merintis pendirian Persyarikatan Muhammadiyah di Jember, khususnya di wilayah Paleran (Kec. Umbulsari) dan sekitarnya.

Hasil rintisan dan perjuangan beliau, kini berdiri Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Paleran dengan berbagai amal usahanya. Diantara AUM yang berdiri berupa TK ABA, SD, SMP dan SMK Muhammadiyah, sejumlah masjid/mushalla, serta beberapa bidang tanah waqaf yang dikelola Muhammadiyah.

Sejatinya, Achmad Haiti yang lahir pada tahun 1917, pada masa mudanya pergi meninggalkan rumah tanpa pamit pada orangtuanya di Sempyuh Banyumas, Jawa Tengah. Saat itu, beliau hanya diasuh ibundanya karena abahnya sudah meninggal di tanah suci Mekkah, saat beliau masih dalam kandungan. "Jadi, bapak sejak kecil sudah yatim. Beliau sempat menangis haru, saat tiba di Tanah Suci, karena teringat Mbah Kakung (abahnya) yang wafat di Makkah," lanjutnya.

Menurut Lukman, karena ada masalah di keluarga besarnya di Banyumas, ayahnya (Achmad Haiti) memilih meninggalkan rumah. Tanpa pamit, Achmad Haiti muda, memilih merantau ke sebuah desa, di Kecamatan Wuluhan, Jember. Bukannya tanpa tujuan, Achmad Haiti memilih menetap dan bermukim di sebuah Pondok Pesantren Salaf di Desa Tamansari, Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember.

Kebetulan pemilik dan pengasuh pondok masih kerabatnya yang juga berasal dari Banyumas. Di ponpes inilah, Achmad Haiti menempa diri dengan belajar agama dan memperdalam kitab-kitab klasik ala pesantren, seperti Kitab Sulam dan Safinah, serta kitab klasik lainnya.

Bermukim di pondok dan tanpa subsidi serta bantuan dana dari orangtuanya, tidak menjadikan Achmad Haiti berkecil hati. Beliau sudah terbiasa hidup prihatin, bahkan hari-harinya lebih banyak dilalui dengan berpuasa sunnah. "Untuk menyambung hidup selama di pesantren, beliau rela bekerja apa saja, termasuk menjadi buruh petik buah kelapa, karena di kawasan Wuluhan saat itu memang menjadi pusat pembudidayaan tanaman kelapa," jelas Lukman.

Selepas dari ponpes, Achmad Haiti memilih bermukim di Paleran, Umbulsari. Di tempat inilah, beliau mengabdikan ilmunya yang diperoleh selama di ponpes kepada para santrinya. Selain mengajar mengaji di masjid dan mushalla, Kiai Achmad Haiti juga sempat mendirikan madrasah ibtidaiyah.

"Santri Bapak, cukup banyak. Kalau pagi, beliau mengajar di madrasah yang didirikannya, dan sore harinya mengajar ngaji santrinya di masjid. Selebihnya, beliau lebih banyak tinggal dan mengurus di masjid. Sesekali, beliau mengisi pengajian, hingga keluar wilayah kecamatan," jelas Lukman, anak kedua yang sempat merawat ayahnya hingga akhir hayat.
Praktis kehidupan Kiai Achmad Haiti dihabiskan untuk kegiatan dakwah dan mendidik agama Islam kepada para santrinya. Untuk persoalan dunia, menurut Lukman, ayahnya sama sekali tidak tertarik untuk menumpuk harta. Beliau sempat berdagang alat-alat rumah tangga di pasar setempat, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bahkan, saat beliau menemukan pendamping hidup, yakni Siti Aminah, gadis setempat yang mendapat warisan sawah dan ladang yang cukup luas dari orangtuanya, Achmad Haiti tetap tidak berubah. Beliau tetap konsisten dengan aktifitas dakwahnya dan pendidikan agama yang dikelolanya.

"Untuk mengurus sawah, ya kami anak-anaknya dengan ibu, bapak tidak ikut-ikut. Boleh dikata, untuk urusan makan dan kebutuhan hidup lainnya menjadi tanggung jawab ibu, sedang untuk urusan pendidikan dan mengisi bathiniyah anak-anaknya menjadi tanggung jawab bapak," jelas Lukman.

Buah pernikahannya dengan Siti Aminah, Kiai Achmad Haiti dikaruniai 10 orang anak, dua diantaranya meninggal sebelum usia dewasa. Kedelapan putra-putri Kiai Achmad Haiti antara lain, Siti Halimah, anak pertama yang kini bermukim di Blitar. Kemudian disusul Lukman (PNS-Guru) tinggal di Paleran, jember. Selanjutnya, Muhaimin (Blitar), dan Komjen (Pol) Badrodin Haiti yang kini menjabat Wakapolri adalah putra keempat. Kemudian, Nahrowi (PNS-Guru, Jember), Jamrozi (karyawan bank, Jakarta), Siti Humaidah (pengusaha, Jember) dan Siti Mudrikah (wiraswasta, Jakarta).

Musuh PKI

Perjalanan dakwah Kiai Achmad Haiti tidaklah mudah, penuh tantangan dan hambatan. Karena itu wajar, kalau beliau sering berpindah tempat tinggal, mencari masjid dan mushalla yang bisa dipakai untuk berdakwah dan terutama untuk mengajar ngaji.

Salah satu "musuh" beliau dalam berdakwah adalah para tokoh aktivis partai komunis (PKI) di wilayah Paleran dan sekitarnya. Untuk menghalang-halangi langkah dakwah Kiai Achmad Haiti, anggota PKI tak segan-segan melakukan tindakan licik dan tidak pantas. "Bapak terpaksa mengalah dan memindahkan kegiatan dakwahnya ke masjid kampung sebelah, setelah masjid yang dipakai ngaji tempat wudhunya diberi (maaf) kotoran manusia oleh anggota PKI," ujarnya.
Selanjutnya, Achmad Haiti menempati sebuah masjid di timur sungai, Karang Genteng. Justru di Masjid "Darun Najah" ini kegiatan pengajian dan madrasah yang didirikannya berkembang pesat. Santrinya cukup banyak, bahkan Achmad Haiti menjadi Kiai Masjid dan tokoh masyarakat yang cukup disegani. Hampir seluruh kegiatan keagamaan di masjid dan juga di kampung, selalu dipimpin oleh Sang Kiai. "Beliau dianggap Kiai Keramat yang sangat disegani," lanjut Lukman.
Tentunya, faham keagamaan yang dianut Kiai Achmad Haiti, seperti umumnya kiai salaf yang memimpin masjid di kampung-kampung di tanah air. Selain ngaji kitab-kitab klasik, juga memimpin doa tahlil, memimpin manaqib, dan kegiatan keagamaan pada umumnya.
Orientasi keagamaan Kiai Achmad Haiti berubah sedikit demi sedikit setelah beliau aktif dalam Partai Masyumi. Kekagumannya pada sosok M. Natsir, membuat Kiai Haiti, mengkaji ulang pemahamannya terhadap kitab-kitab klasik yang lama dipelajarinya dan membandingkan dengan isi kandungan al Qur'an.
Beliau kemudian memberanikan diri mengubah kebiasaannya saat membacakan khutbah Jumat di masjid. Kalau biasanya beliau khutbah dengan membawa tongkat, saat itu beliau mencoba untuk tidak memakai tongkat. "Bahkan, beliau juga tidak membaca teks khutbah berbahasa Arab, yang biasa dibaca oleh para khotib saat naik mimbar," tutur Lukman.

Kontan, cara berkhutbah Kiai Haiti yang diluar kebiasaan itu, mendapat reaksi keras jamaah Jumat yang memenuhi masjid. "Sejak saat itu, beliau tidak lagi diperkenankan menjadi khotib Jumat. Meski masih tetap shalat di masjid tersebut, bapak lebih memilih menjadi makmum dan meninggalkan kebiasaannya sebagai imam shalat, karena jamaah sudah tidak menghendaki beliau menjadi imam," jelasnya.

Kewibawaan beliau sebagai Kiai Masjid, dengan sendirinya memudar. Kiai Achmad Haiti dengan sabar dan lapang dada, menanggalkan setumpuk gelar dan kehormatan yang sebelumnya disematkan kepadanya. Bahkan, menurut Lukman, pada puncaknya Kiai Achmad Haiti, kembali pindah tempat tinggal, karena sudah tidak nyaman berada di lingkungan masyarakat yang berbalik memusuhinya.

Di tempat yang baru, di Dusun Krajan Kulon, Karang Genteng, Kiai Achmad Haiti tidak surut untuk tetap berdakwah. Justru di tempat baru ini, beliau semakin terang-terangan menyebut dirinya anggota Persyarikatan Muhammadiyah. Dan untuk pertama kalinya, pada tahun 1971, beliau merintis pelaksanaan Sholat Idul Fitri di lapangan desa setempat. "Saat pertama kali diadakan, jamaah sholat Idul Fitri hanya 12 orang, terutama dari keluarga sendiri dan beliau yang menjadi imam sekaligus khotibnya," jelasnya.

Dari sinilah cikal bakal Muhammadiyah di Paleran berdiri. Setelah cukup lama menjadi ranting Muhammadiyah Kecamatan Bangsalsari, pada tahun 2000 lalu, Paleran yang hanya sebuah desa, bisa berdiri Cabang Muhammadiyah, hingga menjadi PCM diantara 22 PCM lainnya di kabupaten Jember. Semoga beliau khusnul khotimah. Amin. [sp/istismar/mag]
Retrieved from: http://www.sangpencerah.com/2015/01/kh-achmad-haiti-rela-menanggalkan-gelar.html

Thursday, February 5, 2015

Ahmad Syafii Maarif, Guru Bangsa, di Antara Teks dan Ide

Media Indonesia, Kamis, 22 Januari 2015
Humaniora
 
Senja di akhir pekan itu, wajah Syafii Maarif tampak segar. Dengan berkemeja putih dan celana hitam, ia berkisah tentang aktivitasnya.Membaca, menulis, dan berbicara tentang pemikirannya, tentang masalah bangsa menjadi warna utama hari-harinya.

Menjelang usia delapan dekade pada Mei mendatang, sebutan Buya kian melekat disematkan di muka namanya. Dua makna terkandung pada gelar yang berasal dari kultur Minang, yang juga memang mengalir di darah Syafii. Pertama, bapak dan kedua, ulama.

Namun, untuk sosok Syafii, buya dipastikan ialah panggilan hormat baginya sebagai bapak bangsa. Ketika putra-putrinya risau, bahkan marah, bapak akan menghibur dan bersedia berembuk untuk mencari solusi. Begitu pula ketika anaknya keliru, maka seorang Buya akan mengingatkan, menegur, mengoreksi, bahkan memarahi.

Kata-kata penghiburan, kalimatkalimat mengkritik, bahkan nadanada keras itu diucapkan Syafii dan disiarkan media yang setia datang padanya untuk mengonfirmasi berbagai masalah bangsa. Pun, lewat aneka seminar dan perhelatan yang digelar di berbagai penjuru negeri.

"Kegiatan saya masih sama, membaca, menulis, seminar, dan simposium. Enggak pernah nganggur pokoknya," terang Buya Syafii ketika menerima Media Indonesia di kediamannya, di Perumahan Nogotirto, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Minggu (11/1).

Pilih yang muda

Namun, saat namanya sempat disebut-sebut ketika Presiden menggodok nama anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Buya Syafii tegas menolak. Ia bilang telah terlalu sepuh dan menyarankan Presiden memilih kandidat yang lebih muda.

Tak perlu dikait-kaitkan dengan intrik politik. Sikap itu mengukuhkan kembali sikapnya sebagai bapak yang bijak, tetap setia mem bimbing, dan tak lantas rakus dengan kekuasaan.

Ia mengaku memilih untuk terus mempertajam pemikirannya dengan membaca buku dan menulis, dua agenda rutin hariannya. Tidak ada alokasi waktu khusus untuk kedua kegiatan itu, tetapi nyaris seluruh harinya habis di perpustakaan yang juga ruang kerja di rumah.

Buya Syafii mengaku masih mampu membaca atau menulis tanpa jeda di depan laptop hingga tiga jam. "Kalau sudah lelah betul, tidak tahu lagi maksud kalimat yang dibaca, ya saya istirahat," cerita dia.

Namun, diakuinya sering kali terlalu asyik membaca artikel sampai lupa waktu, hingga lebih dari empat jam. Jika waktu itu terlampaui, lelahnya baru sangat terasa ketika ia rihat.

"Tidak hanya mata, tetapi badan juga rasanya lelah. Saya lalu istirahat, bisa berbaring sebentar, atau jalan-jalan di sekitar rumah menikmati berbagai jenis tanaman yang dirawat dan dipelihara istri," kata Buya Syafii.

Menerima kondisi tubuh

Bagian dari upaya untuk terus bugar, kata Buya Syafii, justru didapatnya dari penerimaan atas kondisi tubuhnya yang terus berubah sesuai pertambahan usia. Kini, ia mengaku tak memaksa raganya untuk bekerja keras hingga terlalu malam.

"Jika beberapa tahun lalu masih dapat bekerja hingga pukul 21.00 malam, sekarang pukul 20.00 atau 21.00 malam saya sudah tidur. Saya sekarang cepat tidur kalau sudah lelah," kata Buya Syafii.

Dengan adaptasi itu, tak berarti Buya Syafii mundur dari gelanggang pemikiran.

Pensiun sebagai dosen di Universitas Negeri Yogyakarta pada 2005 dan tidak lagi menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah pada tahun yang sama, Syafii mengaku punya energi dan waktu lebih untuk berkiprah. "Sekarang, lebih banyak yang bisa dilakukan.Kegiatan-kegiatan saat ini telah banyak menyita waktu, membuat saya tidak pernah menganggur."

"Saya memang sudah waktunya berhenti mengajar di kampus karena pikiran saya sudah tidak fokus lagi untuk mengajar. Selain itu, saya sudah terlalu lama mengajar. Tahun 2005 itu waktu yang tepat untuk berhenti," kata Syafii.

Upaya memahami kondisi fisik dan psikis tubuh dipadu tekad untuk terus bermakna buat sekitarnya, membuat Buya Syafii selamat dari kondisi post power syndrome yang kerap menimpa mereka yang pernah berada di puncak karier.

"Bagi saya, pensiun atau tidak pensiun sama saja," kata Buya Syafii. Kondisi raga dan pemikiran memang tak perlu senantiasa sinkron. Ide-ide besar Buya Syafii tetap dinanti pada dekade kedelapan perjalanannya. (M-1)


http://www.mediaindonesia.com/mipagi/read/7497/AHMAD-SYAFII-MAARIF-Guru-Bangsa-di-Antara-Teks-dan-Ide/2015/01/22

Tuesday, February 3, 2015

Amien Rais dan Gusdur Dalam Ingatan Publik

Oleh: Wahyudi Akmaliah *)

Sebuah peristiwa meskipun sudah berlalu sejak lama tidak benar-benar berlalu, bagi sebagian orang peristiwa tersebut bisa menjadi ingatan personal dan kolektif. Bila berdampak besar, peristiwa itu bisa menjadi ingatan sosial, yaitu direproduksi dan dibicarakan oleh kebanyakan orang. Namun demikian, ingatan sosial yang direpresi oleh setiap individu memiliki torehan makna yang berbeda. Nah, torehan makna ini yang seringkali diartikulasikan dalam ruang publik terkait dengan cara orang bersikap mengenai sebuah kejadian ataupun membicarakan tokoh tertentu. Dalam membicarakan perpolitikan di Indonesia, tiap individu masyarakat memiliki ingatan yang berdampak dalam mereka bersikap dan membangun relasi kepada momen yang diingat tersebut. Di sini, momen yang diingat biasanya ada dua, momen baik dan kontroversi/buruk.

Terkait hal tersebut, ada dua tokoh politik yang cukup kontroversial di Indonesia, Gusdur dan Amien Rais. Keduanya ini adalah produk zaman dan sekaligus penentang rejim Orde Baru. Di sini, selain turut mengalami atsmosper kehidupan rejim Orde Baru yang otoriter dan terpusat dengan sokongan partai golkar sebagai kendaraan politik, militer, khususnya ABRI sebagai kekuatan pengamanan dan penggebuk, serta jaringan keluarga dan pertemanan dalam mengambil-alih keuntungan ekonomi negara, keduanya dengan kontribusi masing-masing (Gusdur sebagai ketua PBNU dan Amien Rais sebagai Ketua PP Muhammadiyah) justru turut menumbangkan jatuhnya Suharto dari kursi presiden pada 21 mei 1998. Namun tindakan dan nilai kontroversi yang mereka lakukan tidaklah memiliki pijakan yang sama, khususnya sikap politik mereka pasca rejim Orde Baru.

Gusdur dengan sikap terbuka seringkali dianggap kontroversial karena keberpihakannya terhadap mereka yang tertindas dan termarginalkan serta menyuarakan apa yang dianggapnya benar. Ketika menjadi presiden, misalnya, salah satu kebijakan yang dianggap kontroversi adalah saat ia meminta maaf kepada korban dan keluarga korban peristiwa 1965-1966 dan berniat menghapus Tap MPRS XXV/1966 terkait dengan pembubaran PKI dan larangan untuk mempelajari paham dan ajaran mengenai Komunisme, Marxisme dan Leninisme. Usai dilengserkan dari kursi presiden dengan dalih Brunnaigate dan Buloggate oleh DPR dan MPR, sikap keberpihakannya terhadap kelompok minoritas tidak berhenti. Ia dengan lantang bersikap keras bahwa selama ia masih hidup akan terus membela Ahmadiyah. Hal ini disampaikan ketika FPI melakukan penyerangan kepada kelompok Ahmadiyah. Selain karena keteguhan pendiriannya, adanya modal kapital yang kuat (mantan ketua PBNU dan cucu dari KH Hasyim As’ari) turut memperkuat posisi dan sikap politiknya dalam membela mereka yang tertindas.

Berbeda dengan Gusdur, Amien Rais dianggap kontroversial justru karena tindakan politiknya yang dianggap bernilai inkonsisten. Hal ini karena dua hal. Pertama, Gusdur adalah orang yang diminta dan dibujuk untuk menjadi presiden keempat melalui poros tengah (gabungan partai-partai Islam) oleh Amien Rais yang saat itu menjadi ketua MPR. Dengan dalih Buloggate dan Bruneigate, sebagai representasi dan ketua MPR, justru Amien Rais-lah yang mencabut mandat Gusdur untuk berhenti menjadi presiden dan digantikan Megawati. Kedua, saat era reformasi, Amien Rais bersikap lantang untuk membawa Prabowo ke Mahmilub terkait dengan dugaan tindakan pelanggaran HAM yang dilakukannya. Namun, dalam Pemilihan Presiden 2014, sebagai ketua Majelis Pertimbangan Amanah PAN, ia justru mendukungnya sebagai calon Presiden RI di tengah menyurutnya demokrasi Indonesia dengan kembalinya para petualang politik dan oligarkis rejim Orde Baru. Posisinya yang dianggap sebagai “king maker” di balik krisis politik Indonesia dengan kemenangan dominan koalisi Merah Putih di MPR dan DPR memperkuat arus kontroversi sebelumnya.

Peristiwa penembakan mobil Amien Rais di rumahnya pada hari Kamis (6/11/2014) memunculkan kontestasi ingatan invidu dan kolektif yang beragam; bagi kebanyakan pendukungnya, kebanyakan berasal dari anggota Muhammadiyah, itu bukan sekedar penembakan tapi bentuk tindakan kekerasan terhadap tokoh Amien Rais. Ada juga yang menganggap bahwa hal itu memiliki kaitan dengan sikap politiknya dalam level nasional. Sementara bagi yang memiliki ingatan buruk tentangnya, mereka hanya terdiam; antara tidak menyetujui tindakan terror tersebut tapi di satu sisi mereka memiliki ingatan buruk tentang tindakan politik Amien Rais. Terkait dengan kontestasi ingatan individu dan kelompok semacam ini upaya untuk mencegah tindakan provokasi lebih besar adalah dengan menguraikannya, yaitu dengan mengusut pelaku kriminal tersebut, apakah memiliki kaitan dengan tindakan politik Amien Rais pada level nasional ata sekedar orang iseng yang mengekspresikan kekesalannya pada ruang dan tempat yang salah.

Dengan demikian, terkait dengan artikulasi ingatan, insiden itu bisa dibaca diartikan dua hal. Peristiwa itu bisa dilihat sebagai bentuk peringatan kepada sosok Amien Rais terkait dengan sikap kontroversialnya dalam politik nasional yang dianggap merugikan pihak lain, di sisi lain, itu juga menunjukkan kepada mereka yang memiliki referensi ingatan yang buruk bahwa Amien Rais, terlepas dari sikap pilihan politiknya, adalah tokoh besar, bagi sebagian orang, di mana ia pernah memberikan sumbangsih positif untuk Muhammadiyah dan Indonesia. Sementara itu, bagi Gusdur-ian, artikulasi ingatan yang dibangun oleh orang-orang yang memiliki ingatan yang baik tentangnya, adalah membangun situs-situs kelompok Gusdurian untuk menyebarkan ide-ide advokasi, toleransi, persamaan, dan perdamaian, khususnya kepada mereka yang kerap dianggap lain, baik secara etnis, aliran, agama, maupun ekonomi.

*) Wahyudi Akmaliah adalah Peneliti PMB-LIPI dan Alumnus Madrasah Muallimin Muhammadiyah (1999)

Retrieved from: http://anakpanahinstitute.org/amien-rais-dan-gusdur-dalam-ingatan-publik/

Tuesday, January 13, 2015

Sudarnoto Abdul Hakim | Merawat Catatan Mbah-mbah Muhammadiyah | Jakarta

Sudarnoto Abdul Hakim | Merawat Catatan Mbah-mbah Muhammadiyah | Jakarta

Harian Kompas edisi 13 Januari 2015 menurunkan sosok Sudarnoto Abdul Hakim. Ia adalah perawatan catatan-catatan yang luput dari radar dokumentasi resmi; terutama ormas sebesar Moehammadijah. Usaha pengarsipan dan perawatan naskah sudah menjadi tugas negara. Tapi keterlibatan individu yang sadar juga dibutuhkan ketika tradisi arsip belum menjadi kultur masyarakat. Berikut ini adalah laporan minibiografi Sudarnoto Abdul Hakim yang diturunkan Kompas dan ditulis oleh Imam Prihadiyoko. (Redaksi)
NASKAH lama, tulisan-tulisan tentang Islam, yang dibuat oleh mbah-mbah Muhammadiyah banyak yang belum dibukukan. Tulisan itu sebagian besar juga masih berupa tulisan tangan yang ditulis dalam lembaran lepas. Sebagian besar tulisan itu berbahasa Jawa dan ditulis dengan huruf Latin, tetapi tidak sedikit juga yang menggunakan huruf Arab yang dikenal sebagai Arab Jawi.

Itulah yang menjadi kerisauan Sudarnoto Abdul Hakim (56). Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah, yang saat ini sedang mengumpulkan naskah, tulisan, dan catatan lama yang dibuat oleh tokoh Muhammadiyah, dan guru-guru Muhammadiyah, ini tidak ingin catatan dan tulisan tersebut hilang ditelan zaman. Apalagi, pendidikan formal yang ditekuninya juga berlatar belakang sejarah Islam.
Ia khawatir jika warisan para guru Muhammadiyah yang amat berharga bagi perkembangan peradaban Islam dan Indonesia itu tidak didokumentasikan dengan baik, bisa hilang dari sejarah peradaban.

Padahal, catatan tentang sebuah ayat atau terjemahan dan penjelasan dari tulisan yang mereka baca ketika itu, menurut Sudarnoto, amat berharga bagi sejarah Islam.

”Apalagi, ada tulisan dari para tabi’ut dan tabi’ut tabi’in tokoh pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan dan Ki Bagus Hadikusumo yang amat berharga. Dan kita sekarang sebagai generasi setelahnya, perlu mempelajari dan mendokumentasikan semua catatan tersebut,” ujar suami Nuraina Silin ini, pekan lalu.

Keberadaan naskah tersebut, menurut Sudarnoto, merupakan salah satu bukti bahwa para guru, mbah-mbah Muhammadiyah, merupakan intelektual Islam. Sebagian catatan itu sudah dicetak. Hal itu membuktikan bahwa mereka pun sadar akan bentuk publikasi tentang keilmuan.

Tulisan dan berbagai catatan yang dibuat juga memperlihatkan pemikiran yang amat luas, terbuka, dan maju. Meskipun mereka menuliskan catatan tersebut awalnya mungkin hanya untuk tujuan mengajarkan Islam kepada murid-murid mereka.

Relevan
Dari sejumlah naskah yang sudah dikumpulkan dan dibacanya, ayah empat anak ini mengungkapkan, tulisan tersebut relevansinya masih sangat dekat dengan keislaman dan keindonesiaan sekarang. Sebagian besar tafsir Jus Amma. Ada naskah terjemahan. Ada yang berbicara soal peradaban dan cara membangun peradaban bangsa. Ada catatan tentang perjalanan negeri ini dan komentar mereka tentang peristiwa yang terjadi ketika itu. Ada juga tentang catatan pengajian biasa, tetapi diberikan catatan penting tentang tafsir mereka.

”Semua itu penting dalam peradaban Islam Indonesia untuk membangun bangsa ini dengan elemen Islam dalam kebangsaannya,” ujar ayah empat anak ini.

Klop sudah. Sudarnoto yang hidupnya amat dekat dengan orang- orang yang menjadi ahli waris catatan tersebut berniat membukukan dan memublikasikannya. Saat memulai obsesinya ini, Sudarnoto tidak ingin dibilang terlalu bercita-cita muluk.

Pria yang selalu ramah dengan semua orang ini mengerjakan dari hal-hal yang bisa dikerjakannya sendiri dan dari catatan yang berserakan di keluarga besarnya. Ia mulai mengumpulkan tulisan-tulisan tangan dari orangtuanya, kakeknya, pamannya, dan lainnya.

Putra tertua dari lima bersaudara pasangan Zaini Ibrohim (almarhum) dan Syamchah ini pun tidak segan bertanya dan mendatangi banyak pihak yang mungkin masih menyimpan catatan-catatan mengaji yang dimiliki leluhur mereka.

Sudarnoto, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Rektor Universitas Islam Negeri Syarih Hidayatullah ini, juga mengajak kader-kader muda Muhammadiyah untuk ikut mengumpulkan catatan ataupun tulisan dari mbah-mbah Muhammadiyah.

”Kalau ada yang menemukan buku atau tulisan para tokoh Muhammadiyah dan sekarang tidak diterbitkan lagi, bisa ditulis ulang dan diterbitkan agar lebih banyak yang mendapatkan manfaat dari tulisan tersebut,” ujar cucu penghulu Banjarnegara dan Temanggung, Jawa Tengah, ini.

Dengan cara inilah Sudarnoto berharap bisa mengikuti jejak para penggerak Persyarikatan Muhammadiyah, yang selalu menularkan nilai universal, bersikap plural, mampu membumikan Islam dengan masyarakat dan budaya setempat, serta diakui di dunia Islam.

Sudarnoto Abdul Hakim
Lahir: Kauman Banjarnegara, Jawa Tengah, 3 Februari 1959
Istri: Nuraina Silin
Anak: Farah, Adaby, Sarah, dan M Januar
Pendidikan:
– Doktor, Sejarah dan Pemikiran Islam (cum laude) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2006)
– Master, Sejarah dan Pemikiran Islam, Institute Islam Sudies, McGill University, Montreal, Kanada (1993)
– Sarjana, Sejarah dan Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1986)
– BA, Sejarah Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1981)
– Pesantren Persis Bangil, Jawa Timur (1978)
– PGA, Muhammadiyah Temanggung, Jawa Tengah (1973)
– SD, Muhammdiyah Temanggung, Jawa Tengah (1972)
Buku/Tulisan:
– Al-Islam wal Qanun wa al-Dawlah fi Fikr Ki Bagus Hadikusumo wa Dawrihi, Studi Islamika, vol.21 number 1 (2004)
– Rekonstruksi Ilmu Peradaban dan Humaniora
– Integrasi Keilmuan UIN Syafih Hidayatullah Jakarta Menuju Universitas Riset
– Gus Dur Dalam Sorotan Cendekiawan Muhammadiyah
– NU, Khittah dan Godaan Politik
– ABIM: Dinamika Islam Politik Malaysia Kontemporer (Jakarta: UHAMKA Pers, 2009)

Tuesday, April 23, 2013

Pengalaman Memimpin Muhammadiyah

Pengalaman Memimpin Muhammadiyah (1)
Republika, Selasa, 09 April 2013, 09:26 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,
Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Dari sekian banyak teori kepemimpinan yang dikembangkan oleh para ahli, tampaknya tipe kepemimpinan yang selaras dengan kultur Muhammadiyah adalah yang bercorak demokratik-konsultatif. Tipe kepemimpinan otokratif dan serbakomando, tidak akan pernah efektif dalam organisasi modern dan egalitarian ini.

Pengurus Muhammadiyah dari pusat sampai ke tingkat ranting bersifat sukarela tanpa gaji. Tidak ada janji keuangan atau jabatan duniawi yang ditawarkan, semuanya berdasarkan perintah iman untuk berbuat yang terbaik bagi kepentingan masyarakat luas.

Situasinya sungguh berbeda dengan lingkungan perusahaan melalui sistem karier, promosi, dan imbalan penggajian yang telah ditentukan. Agak mendekati apa yang berlaku di lingkungan perusahaan ini, yang berlaku dalam kultur partai politik belakangan ini sudah mengarah kepada janji-janji duniawi itu, sesuatu yang dapat mencederai sistem demokrasi. Politik yang semestinya untuk mengabdi pada kepentingan umum telah berubah menjadi ladang mencari rezeki.

Berbicara tentang pola hubungan antara pemimpin dan pengikut, dalam perusahaan tentu corak komunikasi otak (rasional) lebih diutamakan, dalam Muhammadiyah, komunikasi antara hati (spiritual) akan lebih efektif. Sesuatu yang mengalir dari hati akan mendarat di hati pula. Saya menggantikan posisi Prof Dr M Amien Rais yang sangat populer saat itu sebagai Ketua PP Muhammadiyah dalam situasi politik bangsa yang genting, suatu masa peralihan dari sistem otoritarian menuju sistem demokrasi. Sebagai seorang yang belum banyak dikenal publik, tiba-tiba harus memimpin organisasi sebesar Muhammadiyah, terus terang saya merasa ragu dan gamang.

Amien Rais telah berkibar sebagai tokoh publik nasional dan internasional, khususnya sejak 1993, ketika melontarkan isu tentang perlunya suksesi kepemimpinan nasional dalam Sidang Tanwir Muhammadiyah di Surabaya. Lontaran ini telah memicu kemarahan luar biasa dari Presiden Soeharto dan para pendukungnya, termasuk yang ada di kalangan Muhammadiyah, selama beberapa tahun berikutnya sampai rezim Orde Baru itu jatuh pada Mei 1998. Perasaan gamang yang sering dibayang-banyangi sosok kharismatik Amien Rais berjalan sekitar setahun setelah saya memimpin Muhammadiyah. Kemudian, secara berangsur yang dibantu oleh banyak pihak, termasuk tokoh-tokoh lintas iman, saya mulai menemukan diri sendiri di tengah-tengah pergolakan politik nasional dalam iklim euforia demokrasi yang nyaris tanpa kendali itu.

Muhammdiyah sebagai representasi dari salah satu sayap umat Islam terbesar di Indonesia, di samping NU, harus dipimpin oleh seorang yang berasal dari kawasan udik yang secepatnya mesti pandai merangkak ke panggung nasional. Jelas tidak mudah bagi saya yang ketika itu sudah berusia 63 tahun.

Saya lahir di sebuah nagari tersuruk Sumpur Kudus yang terletak di pedalaman Sumatra Barat pada 31 Mei 1935. Ketika kecil tidak punya mimpi apa pun untuk beranjak jauh dari kawasan udik itu. Memang kemudian saya pernah belajar di madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Lintau (Tanah Datar) dan Yogyakarta antara tahun 1950 dan 1956, tetapi modal itu terasa belum cukup untuk menduduki posisi puncak di Muhammadiyah.

Sekiranya Amien Rais tidak berputar haluan memasuki dunia politik, mungkin saya tidak akan pernah menjadi orang pertama di lingkungan Muhammadiyah. Maka, tidaklah heran, mengapa saya terkejut karena tiba-tiba harus tampil ke posisi seorang yang dituakan dalam Muhammadiyah. Sebelumnya hanyalah sebagai anggota pimpinan pusat dan sebagai wakil ketua sejak 1994, saat Amien Rais menggantikan posisi Ketua PP KH Azhar Basjir yang wafat pada tahun itu. Azhar Basjir, seorang kiai dengan pemahaman agama yang dalam dan lurus.

http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/13/04/09/mkyus1-pengalaman-memimpin-muhammadiyah-1
-------------

Pengalaman Memimpin Muhammadiyah (2)
Selasa, 16 April 2013, 20:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,
Oleh Ahmad Syafii Maarif

Berbeda dengan gaya kepemimpinan Azhar Basjir yang tenang dan lembut sesuai dengan sifat seorang kiai, di bawah Amien Rais, Muham madiyah harus berhadapan dengan negara di bawah sistem politik yang tabu untuk dikritik. Seluruh kekuasaan negara terpusat pada satu tangan, seorang jenderal lagi, sekalipun di depan forum Muktamar Muhammadiyah di Aceh pada Juli 1995 pernah mengakui sebagai "bibit Muhammadiyah yang ditanam di bumi Indonesia".

Dalam situasi yang serbatertekan itu, pernyataan presiden Soeharto ini mendapat tepuk tangan yang membahana dari peserta muktamar. Bahkan, di beberapa daerah, pernyataan ini dicetak untuk "melunakkan" sikap penguasa setempat terhadap Muhammadiyah.

Anda bisa bayangkan betapa sulitnya posisi Muhammadiyah dalam konstelasi politik nasional yang sangat kritikal itu. Saya mendampingi kepemimpinan Amien Rais yang kadang- kadang memang tidak mudah diikuti dan dipahami, sering menempuh jalan sendiri, tetapi saya banyak belajar bersama anggota PP yang lain.

Sebagian kami kadang-kadang berada dalam situasi harap-harap cemas. Pihak istana sebenarnya ketika itu sudah ingin sekali agar Amien Rais tidak berada di puncak pimpinan Muhammadiyah karena dirasa sudah sangat mengganggu kemapanan sistem kekuasaan.

Harapan pihak istana ternyata sia- sia karena adalah sebuah kemustahilan memisahkan Muhammadiyah dengan Amien Rais. Tokoh ini di saat panas itu sangat diperhitungkan secara nasional oleh kawan dan lawan.

Seorang wartawan bahkan pernah menyebutnya sebagai sosok "yang telah putus urat takutnya" karena mengamati tingkat keberanian Amien Rais yang spektakuler itu.

Bulan Juli 2000 dalam muktamar ke-44 di Jakarta, saya terpilih sebagai ketua PP Muhammadiyah dengan suara terbanyak. Sekitar tiga bulan menjelang muktamar, Amien Rais "sedikit marah" karena saya tidak begitu rajin berkunjung ke daerah-daerah. Dikhawatirkan, saya tidak akan terpilih sebagai ketua dalam muktamar itu. Sebagai seorang yang mulai mengenal medan, saya cuek saja. Terpilih, ya syukur, tidak ya syukur. Terserah saja kepada para pemilih.

Tidak ada tim sukses yang dibentuk, semuanya biar mengalir seperti air saja. Apalagi bagi saya, model-model tim sukses terasa bernuansa politik, sedangkan Muhammadiyah adalah organisasi kemasyarakatan yang menjaga jarak sama dengan semua kekuatan politik. Kata orang, di bawah kepemimpinan saya, Muhammadiyah berjalan lebih tenang dan aman sebab dipimpin oleh seorang yang bukan politisi.

Selain itu, Presiden Soeharto mungkin tidak begitu mengenal saya seperti mengenal Amien Rais.
Akan tetapi, ada ujian agak berat atas kepemimpinan saya ketika muncul berita awal 2001 bahwa Presiden Abdurrahman Wahid akan dijatuhkan oleh MPR, pimpinan Amien Rais.

Pengikut Gur Dur, khususnya di Jawa Timur, serta-merta mengamuk dan merusak masjid-masjid dan bangunan lain milik Muhammadiyah. Bahkan, gedung SMA Muhammadiyah di Situbondo dibakar habis.

Dalam situasi serba sulit ini, jelas tidak mudah bagi saya memimpin Muhammadiyah, sekalipun punya hubungan baik dengan elite NU, termasuk Ketua Umum nya KH Dr A Hasyim Muzadi.

Pada tingkat akar rumput, hubungan baik ini tidak berhasil meredakan amuk massa yang terkait dengan kekuasaan itu. Akal sehat sama sekali tidak ber fungsi.

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur dalam menyikapi situasi tidak normal itu, saya nilai sangat arif, tidak terpancing untuk melayani brutalitas massa, dengan membuat pernyataan tertanggal 5 Februari 2001 yang berbunyi: 1) Mendukung gerakan demokrasi dengan cara damai dan konstitusional. 2) Menyesalkan pelbagai tindakan yang mengarah kepada anarkisme dan perusakan. 3) Menyerahkan kepada aparat keamanan untuk dapat segera mengantisipasi timbulnya kerusuhan dan perusakan serta secepat mungkin mengusut dan menindak tegas tindakan yang melawan hukum. 4) Mengimbau kepada masyarakat Jawa Timur agar tetap tenang dan waspada terhadap kemungkinan adu domba dari pihak-pihak tertentu .

http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/13/04/16/mlcmsl-pengalaman-memimpin-muhammadiyah-2
-----------

Pengalaman Memimpin Muhammadiyah (3)
Selasa, 23 April 2013, 07:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,
Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Sekalipun Muhammadiyah disakiti dan harta miliknya dirusak, reaksi yang diberikan adalah dalam bentuk pernyataan di atas, yaitu agar hukum ditegakkan. Dengan sengaja menyamarkan nama pelaku teror itu, Muhammadiyah tidak rela lantaran politik kekuasaan persaudaraan umat di tingkat bawah menjadi kacau dan berantakan. Ongkosnya akan sangat tinggi bila teror dibalas dengan teror. Orang yang beradab pasti mampu menahan diri sebagai pertanda keadaban.

Anarkisme di Jawa Timur menjadi perhatian utama PP Muhammadiyah. Kontak dengan PWM Jawa Timur terus dilakukan sambil mendesak aparat agar tindakan kekerasan dihentikan secepatnya. Anak-anak muda NU yang dekat dengan saya terus dihubungi agar menggunakan pengaruh mereka untuk meredakan situasi yang panas, tetapi tidak membawa hasil. Cukup banyak milik Muhammadiyah yang menjadi sasaran tindakan brutal selama berbulan-bulan sampai Presiden Abdurrahman Wahid benar-benar harus rela meninggalkan kursi kepresidenannya pada 23 Juli 2001, setelah berkuasa sejak 20 Oktober 1999.

Pengalaman memimpin Muhammadiyah dalam kondisi semacam itu sungguh sangat membekas dalam hati dan perasaan saya. Ternyata sebagian umat Islam ketika tokoh idolanya sedang berada dalam proses kejatuhan karena dinilai melakukan kesalahan menjadi tidak stabil dan tidak normal, bahkan bisa berbuat apa saja yang dilarang agama. Sejarah Islam dalam bilangan abad tidak sunyi dari pengalaman pahit serupa ini, tetapi kita tidak mau belajar untuk tidak mengulanginya.

Alhamdulillah, beberapa bulan setelah itu hubungan NU-Muhammadiyah di tingkat dasar berangsur pulih secara perlahan, tetapi pasti. Kata orang, kepemimpinan saya telah lulus ujian, sekalipun Muhammadiyah harus berkorban. PBNU bukannya tidak mengakui bahwa milik Muhammadiyah telah dirusak oleh warganya. Oleh sebab itu, bantuan mereka tawarkan untuk perbaikan kembali, tetapi PWM Jawa Timur dengan sopan menolaknya dengan alasan: “…secara spontan warga Muhammadiyah telah mulai melakukan perbaikan.” Jawaban ini sebenarnya tajam, tetapi dianyam dalam bahasa simbolis yang santun, sejalan dengan salah satu diktum dalam kepribadian Muhammadiyah yang berbunyi: “Memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah Islamiyah.”

Saya dan teman-teman pimpinan yang telah bekerja keras sejak muktamar tahun 2000 untuk merajut tali persaudaraan yang tulus dengan kalangan NU tentu cukup terluka dengan apa yang dialami Muhammadiyah di Jawa Timur. Tetapi, di awal tahun 2002, upaya menguatkan persaudaraan itu saya teruskan lagi dengan hasil yang lumayan. Inilah rupanya risiko yang harus dilalui Muhammadiyah karena anggota masyarakat tertentu belum bisa membedakan antara figur Amien Rais sebagai Ketua MPR dengan Muhammadiyah yang ketika itu sudah berada di bawah kepemimpinan saya. Sampai dengan muktamar ke-45 di Malang, Juli 2005, gangguan terhadap Muhammadiyah sudah jauh berkurang, bahkan sampai hari ini, setelah saya sejak tahun itu tidak lagi berada dalam kepengurusan PP Muhammadiyah karena usia sudah 70 tahun.

Itulah sekilas pengalaman dari seorang anak kampung tersuruk dalam kiprah gerakan Muhammadiyah berhadapan dengan realitas umat dan bangsa. Suka dan getir saling melengkapi. Dalam segala cuaca, stamina spiritual memang tidak boleh melemah, sekalipun tidak jarang saya merasa sangat lelah.

http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/13/04/22/mlnr53-pengalaman-memimpin-muhammadiyah-3habis

Monday, March 18, 2013

Potret Ulama Bersahaja



Potret Ulama Bersahaja

Judul Buku: Soal Jawab Yang Ringan-Ringan
Penulis: AR Fakhruddin
Penerbit: Suara Muhammadiyah, Yogyakarta
Cetakan: Tahun 2012
Tebal: xx + 287 halaman

Oleh M. Husnaini
Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya


Dimuat di Matan, Edisi Februari, 2013
Mendakwahkan Islam yang mudah dicerna lintas kalangan, terutama kalangan awam, jelas bukan upaya sederhana. Dibutuhkan penguasaan materi mendalam sekaligus cara penyampaian elegan. Ada muballig yang fasih melafalkan dalil-dalil agama, tetapi gagal membahasakannya dengan sederhana. Belakangan muncul muballig-muballig yang bisa menyajikan dakwah Islam dengan “meriah”, tetapi materinya justru tidak bertenaga.

Kiai Haji Abdul Rozak Fakhruddin tampaknya mampu melampaui semua kendala di atas. Buku ini merekam jelas bagaimana Pak AR—begitu ia akrab disapa—menghadirkan Islam yang mudah dicerna. Ulama yang mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah 1968-1990 ini memang dikenal sebagai ulama yang sederhana. Kenyataan itu sudah menjadi trade mark sejak Pak AR meniti karir sebagai muballig di pelosok Sumatera Selatan hingga dipercaya sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah selama 22 tahun.

Kepribadiannya yang sejuk dan bersahaja membuat dakwahnya mudah diterima. Ketika ditugasi mengisi pengajian di RRI Nusantara II Yogyakarta setiap Selasa dan Sabtu—embrio naskah buku ini—tidak sedikit pemirsa non-Muslim yang tertarik dengan uraian-uraiannya tentang Islam. Seperti sosoknya, dakwah Pak AR memang jauh dari kesan garang, apalagi mudah menyalahkan.

Judul Soal Jawab Yang Ringan-Ringan jangan dipahami bahwa buku ini hanya berisi masalah-masalah ringan. Pemberian judul demikian lebih menggambarkan cara Pak AR dalam membantu umat memecahkan persoalan agama tanpa menambah beban hidup mereka. Tidak disertakannya dalil juga karena Pak AR sangat memahami realita masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, yang tingkat keberagamaannya umumnya masih pemula.

Bagi Pak AR, dakwah harus bil hikmah dan biqadri uqulihim (sesuai kadar akal umat). Karena itu, yang pemahaman agamanya menengah atau bahkan sudah pakar, silahkan merujuk dalil-dalil sendiri dalam al-Quran, hadis, dan kitab-kitab karya ulama, semacam Bulughul Maram, Riyadhus Shalihin, Fiqhus Sunnah, Zadul Ma’ad, dan lainnya.

Yang pasti, sebagai ulama besar, Pak AR tidak lantas bersikap ekstrem dan arogan. Perhatikan penggalan kalimat berikut: “Buku ini saya dasarkan atas al-Quran dan hadis shahih. Oleh karenanya, apabila terdapat kekeliruan supaya dibenarkan dengan dasar hadis yang shahih pula …di samping itu, saya tidak berani menetapkan sesuatu dengan hukum tertentu, misalnya wajib, sunnah, dan sebagainya. Tentang hal itu saya serahkan sepenuhnya kepada pembaca” (hal 3).

Sungguh sikap ulama sejati yang jauh dari sikap tinggi hati. Dan itu bukan lips service semata. Menelusuri lembar demi lembar halaman buku ini, saya tidak menemukan satupun kalimat yang menghakimi orang meluncur dari lisan Pak AR, seperti bid’ah, sesat, atau kafir. Pemilihan diksi katanya lembut, susunan kalimatnya enak didengar.

Misalnya, saat menjawab persoalan-persoalan yang “rawan” juga tidak membuat merah telinga. Ketika menanggapi pertanyaan seputar hukum memuliakan kuburan orang tua dengan membangun batu nisan, Pak AR memulai jawaban, “Sesungguhnya saya merasa berat hati menjawab pertanyaan di atas. Rasa berat hati saya itu karena nanti akan dikatakan: Wah kiranya yang tahu tentang agama, tentang hadis, seolah hanya Pak AR saja”…” (hal 45).

Juga ketika menanggapi hukum sedekahan dan tahlilan untuk orang meninggal. Pak AR menulis, “…kalau boleh saya berkata yang sebenarnya, mengadakan sedekahan ketika orang meninggal, kemudian berturut-turut pada hari ketiganya, ketujuhnya, keempat puluhnya, keseratusnya, dan keseribunya, itu bukan berasal dari agama Islam. Jelasnya, Allah tidak memerintahkan, begitu pula Rasulullah SAW…” (hal 55).

Maka pelajaran penting yang dapat diambil dari buku ini adalah seorang muballig, guru, ustad, bahkan kiai harus mampu mengatasi persoalan keseharian umat dengan sikap bijaksana, bahasa yang sederhana, tidak menggurui, apalagi menghakimi dan serba menyalahkan. Sikap terakhir ini jelas tidak akan menyelesaikan masalah. Justru ia akan menambah beban masalah, dan bahkan menghancurkan ukhuwah islamiyah di kalangan umat.

Tentang kekurangan dalam buku ini, seperti adanya kesalahan ketik atau penempatan daftar isi yang kurang pas, tentu tidak bisa dijadikan ukuran untuk menakar kualitas buku ini. Sepanjang mau membaca isinya secara utuh dan tidak meloncat-loncat, akan didapatkan pemahaman yang utuh. Sepantasnya para aktivis dakwah, terutama aktivis Muhammadiyah, membaca buku ini untuk memperkaya diri sehingga bisa mendakwahkan Islam secara mudah dan bersahaja.

Saturday, September 8, 2012

Buya Abdul Malik Ahmad, Wakil Ketua PP Muhammadiyah 1971-1985

Oleh Fikrul Hanif

Sosok ini memang teguh memegang prinsipnya, bahkan ia kerap menganggap sosok Bung Karno sebagai tokoh biasa yang tidak patut untuk ditakuti. Demikian Amien Rais dan A.M Fatwa mengisahkan pribadi Haji A. Malik Ahmad (Wakil Ketua PP Muhammadi
yah (1971-1985) kepada penulis disela penulisan tesis penulis yang telah rampung tahun 2011 lalu.

Abdul Malik Ahmad, atau yang akrab dipanggil Buya Malik Ahmad lahir pada tanggal 7 Juli 1912 di Nagari Sumaniak Kelarasan Tanah Datar (Surat Ketetapan tentang Catatan Pokok Ketua/Anggota Majlis Perwakilan PB Muhammadiyah di Sumatera Tengah, Arsip Muhammadiyah No.55). Ia merupakan anak pertama dari pasangan Haji Ahmad bin Abdul Murid (1883-1928) dan Siti Aisyiah. Ayahnya merupakan salah seorang tokoh modernis di Kenagarian Sumaniak sekaligus ketua Serikat Islam Cabang Tanah Datar.

Ia pernah mengecap pendidikan di Thawalib Parabek, dan melanjutkan pendidikan kelas 6 A nya ke Thawalib Padang Panjang. Sejak ia mengenal Muhammadiyah di Padang Panjang, ia aktif mengikuti pengkaderan dari AR Sutan Mansur. Sejak saat itu, ia selalu menjadi tangan kanan buya Sutan Mansur, terutama dalam urusan pengkaderan dan membantu di Muhammadiyah.

Pasca kemerdekaan, Malik Ahmad diamanahi jabatan sebagai Wakil Kepala Jawatan Sosial Sumatera Tengah (1947), Wakil Bupati Militer Luhak Limopuluah Koto (1949-1950), Kepala Jawatan Sosial Sumatera Tengah (1950-1958), anggota Konstituante dari Masyumi Sumatera Tengah (1955-1958).

Saat terjadi perseteruan antara pusat-daerah, Malik Ahmad berani mengambil langkah berseberangan dengan budaya politik Muhammadiyah yang cenderung kooperatif. Pada Februari 1957, Malik Ahmad mengeluarkan pernyataan bahwa Muhammadiyah Daerah Sumatera Tengah mendukung sepenuhnya gerakan yang dilakukan Dewan Banteng dan menyerukan kepada pemerintah pusat untuk mengoreksi seluruh kebijakannya.

Meskipun dianggap "pemberontak" karena ia terlibat dalam peristiwa PRRI (1958-1961), Malik Ahmad terpilih secara aklamasi sebagai ketua PP Muhammadiyan dalam Muktamar ke-38 di Ujung Pandang tahun 1971. Namun, menyadari bahwa dirinya bukan orang Jawa dan bekas "pemberontak", ia pun mengundurkan diri dan menerima jabatan Wakil Ketua I PP Muhammadiyah. Sejak saat itu (1971) hingga tahun 1985 ia mendampingi Haji AR Fachrudin dalam mengembangkan persyarikatan Muhammadiyah.

Sejak pemerintah Orde Baru memperkenalkan konsep asas tunggal Pancasila dan dilanjutkan pembicaraannya melalui Muktamar Muhammadiyah ke-41 di Solo tahun 1985, Malik Ahmad merupakan tokoh utama yang menolak asas tunggal Pancasila masuk dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah. Bahkan ia dengan tegas menyatakan haram hukumnya menerima Pancasila sebagai asas tunggal tanpa pertimbangan apapun.

Dasar pemikiran Malik Ahmad mengatakan Pancasila pada masa Orde Baru telah menjelma menjadi agama baru adalah interpretasinya terhadap tauhid, wijhah, tashawwur, fikriyah, suluk, syariat, dan nizam. Berdasarkan konsep fikriyah, menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal berarti sama dengan merendahkan agama Allah swt.

Melihat kerasnya penolakan Malik Ahmad terhadap asas tunggal Pancasila, A.M Fatwa yang juga pernah dibui karena kasus Tanjung Priok menyatakan "Tentunya dicatat dalam persyarikatan Muhammadiyah bahwa Buya Malik Ahmad inilah yang berusaha keras membendung, jangan sampai asas Muhammadiyah ini dirobah."

Retrieved from: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2372917818640&set=a.1403610626566.40461.1721389076&type=1&theater

Thursday, February 2, 2012

Militansi Muhammadiyah Jawa Timur

Militansi Muhammadiyah Jawa Timur (I)
Republika, 17 Jan 2012
Oleh Ahmad Syafii Maarif

Di antara 33 wilayah Muhammadiyah se-Indonesia, mungkin . Muhammadiyah Jawa Timur (Jatim) yang paling militan. Dalam arti, roda organisasi berputar kencang dalam upaya meraih sasaran program yang telah ditetapkan. Jika ada masalah, cepat ditangani. Jika Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) tidak bisa menangani, Pimpinan Pusat Muhammadiyah dilibatkan.
Misalnya, menghadapi kasus konflik kepentingan di Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan yang sedikit memalukan, tetapi tidak dibiarkan berlarut. Saya pernah mengatakan, pada kasus-kasus tertentu Muhammadiyah adalah bagian dah kondisi negara yang tidak sehat. Ranah-ranah amal usaha yang agak basah kadang-kadang menjadi rebutan warga persyarikatan.
Persis seperti apa yang berlaku di Republik Indonesia. Dalam Laporan Kegiatan PWM Jatim tertanggal 4 Desember 2011 yang saya hadiri, di samping banyak sisi putih yang dibentangkan, sisi-sisi hitam pun disebutkan secara terbuka sebagai pertanda Muhammadiyah Jatim tidak mau menutup borok yang hinggap di tubuhnya.
Ini demi membuktikan rasa tanggungjawab yang tinggi bagi perbaikan kinerja organisasi. Saya dulu telah mengunjungi hampir semua PWM di seluruh Indonesia. Saya merasa PWM Jatim yang terbanyak memberi kesan positif yang patut dicatat. Semangat juang warga dan pengurusnya dalam beramal sangat terlihat dan terasa bila kita berkunjung ke wilayah itu.
Saking mengesankan, saya sempat berseloroh sekiranya PP Muhammadiyah tak mampu lagi mengurus persyarikatan, serahkan saja ke PWM Jatim, pasti beres. PWM periode 2010-2015 dipimpin oleh Prof DR Thohir Luth MA, seorang anak bangsa yang berasal dari Indonesia bagian timur. Didampingi oleh 12 anggota pimpinan yang lain, semuanya bergelar sarjana, bahkan tiga berpangkat guru besar.
Pimpinan ini secara teratur turun ke Pimpinan Daerah Muhammadiyah (POM) yang jumlahnya sebanding dengan jumlah Dati II se-Jatim, sebanyak 38. Muhammadiyah tidak pernah percaya pada angka 13 yang dianggap membawa celaka oleh kultur Barat. Terbukti dengan pimpinan wilayah yang bahkan PP berjumlah 13 orang.
Kantor PWM Jatim yang berada di Jalan Kertomenanggal IV Nomor 1, Surabaya, tergolong sedikit mewah, dilengkapi jaringan teknologi informasi, dan lokasinya strategis tidak jauh dari Bandara Juanda. Dari kantor inilah kegiatan organisasi di seluruh Jatim diteropong dengan saksama. Salah seorang wakil ketua yang membawahkan bidang wakaf dan zakat, infak, sedekah (ZIS) Drs Nurcholis Huda MSi, adalah penulis prolifik yang digemari pembaca.
jawaban SMS-nya kepada saya tentang data amal usaha1 Muhammadiyah Jatim, terbaca angka-angka berikut Bidang kesehatan berjumlah 101 (BKIA dan rumah sakit), Panti Asuhan Yatim 74, Panti Wrida 1, semua jenis sekolah tingkat menengah sampai ke bawah 964, universitas 6, dan sekolah tinggi 18.
Sepanjang pengetahuan saya, panti asuhan yang terbaik ada di Bojonegoro dan diasuh oleh Bung Wachid, yang sudah tahunan menyatu dengan seluruh denyutan nadi panti itu. Sosok ini telah lama mengusir perasaan lelah dari dirinya demi panti yang sangat dicintainya. Entah berapa orang dari alumni panti ini yang telah menamatkan pendidikannya di perguruan tinggi.
Jika tuan dan puan berkunjung ke panti ini, akan bertemulah sosok kerempeng sangat sederhana, berambut pendek, dan berkulit hitam. Itulah Bung Wachid, yang tempat tinggalnya mungkin tak pernah direnovasi. Sewaktu saya dulu berkunjung ke sana, Bung Wachid juga tak mau pakai mobil, entah kalau sekarang.
Manusia tipe Wachid ini dengan kadarnya masing-masing banyak dimiliki oleh Muhammadiyah Jatim. Tampaknya, karena faktor semangat juang semacam inilah Muhammadiyah di provinsi dengan jumlah 37 juta jiwa (data 2005) itu terus saja berkembang, baik kuantitas maupun kualitas. Dengan segala rintangan yang dihadapi, Muhammadiyah tetap saja berekspansi dalam meluaskan jaringan amal usahanya tanpa terlihat tanda-tanda surut. Beberapa sekolah yang akan mati masih diupayakan agar tetap bisa bernapas.
------
Militansi Muhammadiyah Jawa Timur (II)

Oleh : Prof. Dr. H. A. Syafii Maarif
Republika, 24 Jan 2012

Dibandingkan dengan mitra NU-nya, secara kuantitatif posisi Muhammadiyah jelas minoritas, tetapi tidak secara kualitatif Apakah militansi Muhammadiyah Jatim ini salah satu pen-dorongnya adalah perasaan minoritas yang harus unggul dalam kerja-kerja pendidikan-sosial keagamaan? Saya tidak bisa menjelaskan.

Di Jawa Barat (Jabar) dengan dominasi suku Sunda, Muhammadiyah juga minoritas, tetapi dari segi militansi, jauh berada di bawah Muhammadiyah Jawa Timur (Jatim). Mungkin pendekatan sosio-antropologis bisa menjelaskan mengapa dua sayap Muhammadiyah Jatim dan Jabar ini menunjukkan tingkat dinamika yang berbeda

Di PWM Jabar, sampai sekarang belum berdiri perguruan tinggi Muhammadiyah yang berarti. Sementara di Jatim, universitas dan sekolah tinggi Muhammadiyah ada yang sudah berpredikat unggulan. Sekalipun demikian, di Garut, Muhammadiyah sudah mempunyai sebuah pesantren ternama dan di Cirebon sudah ada pula beberapa sekolah favorit. Kedua kota ini adalah bagian dari wilayah PWM Jabar.

Agar jejak rekam Muhammadiyah Jatim lebih terlihat, perlu sekilas data sejarah berikut ditampilkan Muhammadiyah secara resmi berdiri pada 1 November sebagai sebuah cabang Surabaya dengan Surat Keputusan Hoofdbestuur (HB) No 4/1921. Ketua pertamanya adalah Mas Mansur yang sebelumnya terpikat oleh cara Ahmad Dahlan menafsirkan Alquran sewaktu berkunjung ke Surabaya sebagai pedagang dan mubaligpada 1915.

Perkenalan dan dialog dua ulama ini terus berlanjut dan Mas Mansur juga berkunjung ke Yogyakarta. Diawali oleh cabang Surabaya, kemudian dalam tempo relatif singkat antara tahun 1920-an/1930-an cepat merayap ke bagian-bagian lain di Jatim dengan tantangan yang bervariasi, karena Muhammadiyah saat itu masih dianggap sebagai pembawa agama baru dengan sejumlah stigma yang ditempelkan kepadanya.

Karena Muhammadiyah tidak hanya berdakwah dengan lisan, tetapi juga dengan usaha konkret dalam bentuk kehadiran madrasah, sekolah, panti, klinik, dan rumah sakit yang mengiringinya, lama-kelamaan mata masyarakat terbuka juga. Mungkin di sinilah terletak kekuatan utama Muhammadiyah dalam upaya mencerdaskan otak dan mencerahkan hati manusia, demi terciptanya masyarakat yang berkeadaban dan berkeadilan.

Dalam perjalanan selanjutnya, dari rahim Muhammadiyah Jatim telah tampil dua tokoh utamanya untuk menjadi ketua pimpinan pusat Muhammadiyah, yaitu KH Mas Mansur (1937-1943) dan KH Faqih Usman (1968), sekalipun yang kedua ini hanya menjabat beberapa hari karena wafat. Mas Mansur adalah ketua PP (saat itu disebut PB/pengu-rus besar) pertama yang bukan berasal dari Yogyakarta, yang dipilih melalui Muktamar ke-26 di kota kelahiran Muhammadiyah ini.

Di kalangan Muhammadiyah, Mas Mansur dikenal sebagai pencetus gagasan Langkah 12, yang, antara lain, berupa gerakan koreksi din, memperjuangkan keadilan, dan membina hubungan silaturahim dengan kalangan di luar Muhammadiyah. Dengan langkah-langkah ini. Muhammadiyah menjadi gerakan Islam yang terbuka untuk dikritik agar tidak mudah puas diri. Pada resonansi terdahulu, sudah kita sebutkan bahwa Muhammadiyah telah terbentuk di semua Dati II Jatim, sekalipun belum meliputi semua kecamatan dan desa.

Tetapi, di seluruh Jatim dapat ditemui 498 cabang dan 2.849 ranting Muhammadiyah dengan kualitasnya yang beragam, sangat bergantung pada kualitas dan komitmen pimpinannya masing-masing dalam membina gerakan Islam ini. Di sana-sini masih saja terdapat pihak-pihak yang menentang, tetapi itu semua adalah sisa-sisa masa lampau yang tidak terlalu berat.

Jika Ahmad Dahlan pernah mau ditebas lehernya di daerah Banyuwangi pada masa awal itu, sekarang keturunan yang hendak menebas itu tidak sungkan-sungkan untuk memasukkan anak-anaknya ke lembaga pendidikan Muhammadiyah yang tersebar hampir di seluruh Jatim. Dengan bergulirnya waktu, sikap masyarakat pun mengalami perubahan ke arah yang semakin positif.

Paham agama yang diajarkan Muhammadiyah ternyata bukanlah agama baru, melainkan sebuah Islam yang berkemajuan untuk kemaslahatan semua. Dalam musyawarah 4 Desember di atas, para tokoh PWM dan mantan PWM sekaligus meluncurkan lima karya tulis buah tangan mereka, sebuah teladan yang patut dicontoh oleh kalangan Muhammadiyah di wilayah lain.

Muhammadiyah Jatim tidak saja gesit dalam berorganisasi dan mengurus amal usaha, kerja-kerja otak pun menjadi perhatian mereka.

Sunday, January 16, 2011

Ahmad Syafii Maarif: Pengarusutamaan Moderasi Islam Indonesia

Hilman Latief

Latief, Hilman. 2009. “Ahmad Syafii Maarif: Pengarusutamaan Moderasi Islam Indonesia.” In Ahmad Suaedy and Raja Juli Antoni. Para Pembaharu: Pemikiran dan Gerakan Islam Asia Tenggara. Jakarta: Seamus. Pp. 251-291

Di tengah tarik-menarik kepentingan ideologis antara dunia Timur dan Barat, sekularisme dan Radikalisme, spiritualisme dan materialism, konsep Islam moderat selalu dihadapkan pada dilemma prinsipil dan strategis. Sebagian orang boleh jadi berasumsi bahwa moderasi hanya sebuah “strategi” untuk survive, prinsip yang gamang, tidak tegas, dan cenderung kompromistis. Padahal, dalam ranah pemikiran, tidak semua hal bisa dikompromikan. Bahkan sebuah prinsip atau “cara berpikir” fundamental filosofis sejatinya tidak kompromistik., tidak seperti “logika berpolitik” yang nature-nya memang kompromistik. Di satu sisi, kelompok moderat sering dianggap terlalu lunak oleh kalangan garis keras fundamentalis, dan tidak tegas dalam bersikap menurut kelompok liberal di sisi lain. Posisi Syafii sebagai tokoh yang tak henti mengarusutamakan moderasi Islam, juga tidak lepas dari kritik. Ia kerap diasumsikan sebagai pendukung gerakan liberal karena gagasan-gagasannya tentang pluralisme dan demokrasi yang cenderung kurang ramah terhadap penggagas gerakan Islamisasi. Tidak sedikit yang sinis dan menyebutnya terlalu terbuka dan lebih dekat dengan Barat ketimbang kubu lainnya, serta cenderung sekuler. Atau, bahasa lain yang juga sering muncul di lapangan adalah, Syafii lebih mendukung eksistensi nonmuslim, lebih dekat dengan tokoh-tokoh Kristen ketimbang membela “kepentingan” umat. Gaya Syafii dalam menulis maupun berpidato yang lugas, polos dan tanpa tedeng aling-aling dengan menggunakan berbagai diksi yang bombastis dan menohok memang menjadi factor lain yang, dalam beberapa hal, menyebabkan gagasannya berujung pada sebuah resistensi. Meski demikian, kontribusi Syafii dalam mengarusutamakan moderasi Islam di Indonesia tidak dapat diabaikan, setidaknya berdasarkan beberapa poin berikut ini.

Pertama, Syafii tampil sebagai intelektual Muslim yang cukup gigih melakukan “pengarusutamaan” Islam moderat di Indonesia.

Kedua, Syafii masih meyakini bahwa Islam adalah warana dominan masyarakat Indonesia yang harus dapat menemukan kompatibilitas dengan modernitas.

Ketiga, kontribusi lainnya dapat dicermati dalam Persyarikatan Muhammadiyah, tempat Syafii mengabdi dan berdakwah.

Keempat, kehadiran Syafii membawa iklim dialog agama di kalangan pemimpin-pemimpin agama di Indonesia ke dalam situasi yang lebih intim dan harmonis.