Thursday, September 30, 2010

Muktamar Muhammadiyah Jangan Pilih Tokoh Pro Kristenisasi

Oleh: Mulyadi Abdul Gani

Di usia satu abad, bertepatan dengan Muktamar ke-46 di Yogyakarta, 3-8 Juli 2010, Muhammadiyah tak boleh melupakan sejarah, bahwa misi didirikannya Muhammadiyah adalah dalam rangka membendung gerakan Kristenisasi.

Dalam desertasi di Temple University (1995) berjudul The Muhammadiyah Movement and Its Controversy with Christian Mission in Indonesia, Alwi Shihab mengungkapkan, misi awal pendirian Muhammadiyah oleh KH Ahmad Dahlan adalah dalam rangka membendung arus gencar Kristenisasi yang ditopang oleh kebijakan kolonial pemerintah Belanda. Tiga tahun kemudian desertasi ini diterbitkan oleh penerbit Mizan Bandung dengan judul buku Membendung Arus: Respons Muhammadiyah terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia.

Fakta-fakta kegigihan Muhammadiyah di era KH Ahmad Dahlan dalam berdakwah kepada para tokoh Kristen dan Katolik diabadikan dalam buku Muhammadiyah Setengah Abad: Makin Lama Makin Tjinta (1912-1962). Pada halaman 145-151 buku dokumenter ini diceritakan aktivitas KH Ahmad Dahlan kepada para pastor, antara lain: van Lith, van Driesse, Domine Bakker, dan Dr Laberton.

Pertemuan dengan van Lith hanya berlangsung sekali, karena tak lama setelah dialog, van Lith meninggal. Dialog dengan van Driesse dilakukan di rumah M Joyo Sumarto (mertua M.M. Joyodiguno). Pertemuan ini pun hanya berlangsung sekali, karena sikap Driesse sangat kasar sehingga tidak bisa diajak berdialog mengenai soal-soal agama maupun ketuhanan.

Pertemuan dengan Domine Bakker diadakan di Jetis beberapa kali. Karena pembicaraan Domine berbelit-belit dan tidak mau mengakui kekalahannya, akhirnya Dahlan mengajukan tantangan: “Marilah kita sama-sama keluar dari agama, kemudian mencari, menyelidiki, agama mana yang benar. Kalau ternyata kemudian agama Protestanlah yang benar, saya bersedia masuk agama Protestan. Akan tetapi sebaliknya, apabila Islam yang benar, Domine pun harus mau pula masuk agama Islam.”

...Dalam beberapa kali debat agama ini, Domine ditemani oleh dua orang pengikut dari Klaten. Atas hidayah Ilahi, dua orang pengikut Domine akhirnya masuk Islam setelah mendengar dakwah Ahmad Dahlan...

Tapi Domine tidak cukup nyali untuk menerima tantangan debat Dahlan. Dalam beberapa kali dialog ini, Domine ditemani oleh dua orang pengikut dari Klaten. Atas hidayah Ilahi, dua orang pengikut Domine akhirnya masuk Islam setelah mendengar dakwah Ahmad Dahlan.

Suatu ketika Dahlan mendengar berita bahwa Samuel Zwemmer berkunjung ke Indonesia dan berkhotbah di beberapa gereja, antara lain di Banjarmasin, Makassar, Surabaya dan Yogyakarta. Isi khotbahnya umumnya banyak sekali yang menghina agama Islam. Maka Dahlan mempersiapkan acara sambutan di Yogyakarta dengan mengadakan dialog openbaar (pengajian umum) di Ngampilan. Dalam rapat umum ini Zwemmer diundang untuk mendengarkan ceramah Dahlan, dan juga diberi kesempatan untuk berorasi menerangkan sekitar agamanya. Selanjutnya, ia diminta kesediaannya untuk menjawab pertanyaan dari para hadirin. Karena Zwemmer tak berani datang, maka Dahlan tampil sebagai pembicara tunggal. Berita ini ditangkap oleh Ki Hajar Dewantoro dalam surat kabar Darmo Kondo di Solo dengan komentar “Dr. Zwemmer tidak mampu menghadapi KH Ahmad Dahlan.”

...Pasca Ahmad Dahlan, Muhammadiyah masih mengamalkan prinsip asyidda`u ‘alal kuffar...

Pasca Ahmad Dahlan, Muhammadiyah masih mengamalkan prinsip asyidda`u ‘alal kuffar. KH AR Fachruddin, Ketua Muhammadiyah terlama (1968-1990) menegaskan prinsip kemandirian beramal usaha dan ikhlasnya berjuang. Semasa hidupnya, tokoh karismatik yang akrab dipanggil Pak AR ini memberikan wasiat kepada kader persyarikatan agar berpantang terhadap dana-dana yang tidak berkah. Di antara dana yang dilarang adalah dana judi, dana dari negara asing, Kristen dan komunis. Pak AR berpesan:

“Janganlah Cabang Muhammadiyah mendirikan bangunan-bangunan hanya mengharapkan bantuan Pemerintah. Lebih-lebih lagi mengharapkan bantuan uang keuntungan lotre dari Yayasan Dana Bantuan. Dan lebih tidak pantas lagi kalau mengharapkan bantuan dari negeri asing, dari negara-negara Kristen, dari negara-negara komunis. Uang-uang yang demikian tidak akan memberi berkah, malah akan membawa tidak baik.

Dari itu gembirakanlah anggota-anggota Muhammadiyah agar suka beramal, suka berderma, suka beramal jariyah suka berwakaf. Insya Allah Cabang di tempat Saudara akan diberi berkah langsung oleh Allah SWT” (Mengenal dan Menjadi Muhammadiyah, UMM Press, Malang, hlm. 141).

Seharusnya, para warga persyarikatan belajar militansi kepada para pendahulunya. Tapi sayangnya, prinsip istiqamah, kemandirian dan kewibawaan agar tidak meminta-minta dana kepada pihak asing dan non Muslim itu dilanggar beberapa oknum di tubuh persyarikatan. Beberapa ortom Muhammadiyah pernah menjadi saudara sepersusuan dengan kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL), mendapat dana kepada The Asia Foundation, antara lain: Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP) Muhammadiyah, Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM), Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (LP3-UMY), Lembaga Penelitian Universitas Muham­madiyah Surakarta (UMS), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Aceh, Pemuda Muhammadiyah (PM) Aceh, dll.

...KH AR Fachruddin berwasiat, “bantuan dari negeri asing, dari negara-negara Kristen, dari negara-negara komunis itu tidak akan memberi berkah, malah akan membawa tidak baik...

Padahal KH AR Fachruddin berwasiat, “bantuan dari negeri asing, dari negara-negara Kristen, dari negara-negara komunis itu tidak akan memberi berkah, malah akan membawa tidak baik."

OKNUM PENGURUS MUHAMMADIYAH DALAM KRISTENISASI

Berbeda dengan keteladanan KH Ahmad Dahlan dalam menyampaikan kebenaran Islam kepada umat Kristen, sepeninggal beliau, tak sedikit tokoh Muhammdiyah yang justru meragukan fakta dan data adanya gerakan Kristenisasi. Mereka terpeleset langkah, akhirnya mensupport kaum walan tardho, inilah beberapa contohnya:

Prof Dr HM Din Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah

Din Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah saat ini demikian mesra dengan umat Kristen. Setiap tahun Din Syamsuddin selalu mengucapkan Selamat Natal kepada umat kristiani. “Saya tiap tahun memberi ucapan selamat Natal kepada teman-teman Kristiani,” katanya di hadapan ratusan umat Kristiani dalam seminar Wawasan Kebangsaan X BAMAG Jatim di Surabaya, Senin (10/10/2005).

...Din bahkan bersedia memberikan semua fasilitas Muhammadiyah kecuali masjid, untuk kebaktian Natal...

Din bahkan bersedia memberikan semua fasilitas Muhammadiyah untuk kebaktian Natal. "Kecuali Masjid, semua fasilitas milik PP Muhammadiyah bisa dipinjam dan digunakan untuk keperluan hari Natal oleh kaum Nasrani. Ini perintah dan instruksi ketua umum PP Muhammadiyah kepada seluruh pengurus Muhammadiyah di daerah," kata Din Syamsudin di dalam pertemuan dengan tokoh lintas agama di gedung PP Muhammadiyah Jakarta, Rabu (21/12/2005).

Moh Shofan, mantan Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik

Kebiasaan Din mengakomodir Natalan Kristiani, langsung disambar Moh Shofan, sang muqallid penganut faham SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme). Di koran lokal Surya, dosen FAI UMG ini menulis opini “Natal dan pluralisme” di harian Surya untuk menjajakan faham SEPILIS, yang salah satu amalannya adalah mengucapan “Selamat Natal bagi umat Kristiani” pada tanggal 25 Desember.

Artikel Shofan pun mencuat menjadi hal yang kontroversial dan debatable. Apalagi, pada saat yang bersamaan skandal Shofan terbongkar. Ia terbukti melakukan tindakan yang tidak selayaknya dilakukan oleh seorang dosen Perguruan Tinggi Muhammadiyah (pelecehan seksual terhadap beberapa mahasiswi).

Setelah dipecat dari UMG, Shofan pindah haluan menjadi Peneliti di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina, atas rekomendasi Dawam Rahardjo.

Prof Dr Dawam Rahardjo, mantan Anggota PP Muhammadiyah

Mantan anggota PP Muhammadiyah ini mendukung buku pendeta yang menghujat Al-Qur'an. Dalam buku Tempat dan Peran Yesus di Hari Kiamat Menurut Ajaran Islam, Pendeta Weinata Sairin MTh menuduh ayat-ayat Al-Qur‘an itu sangat kontradiktif: “Pernyataan-pernyataan Al-Qur‘an tentang kematian Yesus sangat kontradiktif sekali. Di satu pihak dinyatakan bahwa Yesus tidak mati di salib, tetapi diangkat ke hadirat Allah, sementara yang disalib adalah orang yang serupa dengan dia” (hlm. 45-46).

Tuduhan keji pendeta terhadap Al-Qur'an ini diaminkan oleh Dawam Rahardjo dengan selangit pujian dalam pada Kata Pengantar: “Buku kecil karya Weinata Sairin yang berjudul ‘Tempat dan Peran Yesus di Hari Kiamat Menurut Ajaran Islam’ ini sangat menarik untuk dibaca” (hal 9). “Buku ini cukup mewakili pandangan Islam” (hal. 13). “Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa apa yang ditulis oleh Wienata Sairin cukup fair bagi orang Islam. Memang begitulah persepsi tentang Yesus dalam eskatologi Islam, sebagaimana yang ditulis dalam buku ini” (hal. 15).

Prof. Dr. Ahmad Syafi’i Ma’arif, mantan Ketua PP Muhammadiyah

Di tengah maraknya gerakan pemur­tadan, masih ada tokoh yang menyata­kan bahwa kristenisasi adalah sebuah isu. Prof Dr Ahmad Syafii Maarif adalah salah satunya. Hal ini dinyatakannya dalam buku “Mencari Autentisitas dalam Kegalauan” yang diluncurkan dihotel Arya Duta, Jakarta, bekerjasama dengan The Asia Foundation (founding asing yang membiayai proyek Jaringan Islam Liberal dan Paramadina).

...Di tengah maraknya gerakan pemur­tadan, masih ada tokoh yang menyata­kan bahwa kristenisasi adalah sebuah isu. Prof Dr Ahmad Syafii Maarif adalah salah satunya...

Buya Syafii menyatakan bahwa Kristenisasi pada masa Orde Baru adalah sebuah isu yang telah menyuburkan rasa saling curiga antara Islam dan Kristen. “Isu Kristenisasi pada masa Orde Baru telah semakin menyuburkan rasa saling curiga, terutama antara pemeluk Islam dan Kristen” (halaman 9 baris ke-4 dari atas).

Benarkah kristenisasi itu isu? Penulis tidak ingin berdebat yang hanya akan menghabiskan energi. Biarlah pihak gereja sendiri yang menjawab keraguan Buya Syafii.

Dr Berkhof: “Indonesia adalah daerah pekabaran Injil yang diberkati Tuhan”

Boleh kita simpulkan bahwa Indonesia adalah suatu daerah pekabaran Injil yang diberkati Tuhan dengan hasil yang indah dan besar atas penaburan bibit firman Tuhan. Jumlah orang Kristen Protestan sudah 13 juta lebih... Jadi tugas sending gereja-gereja muda di benua ini masih amat luas dan berat. Bukan saja sisa kaum kafir yang tidak seberapa banyak itu, yang perlu mendengar kabar kesukaan, tetapi juga Kaum muslimin yang besar yang merupakan benteng agama yang sukar sekali dikalahkan oleh pahlawan-pahlawan Injil. Apalagi bukan saja rakyat jelata, lapisan bawah yang harus ditaklukkan untuk Kristus, tetapi juga dan terutama para pemimpin masyarakat, kaum cendekiawan, golongan atas dan tengah” (Dr H Berkhof, Sejarah Gereja, hal. 321).

Pendeta Yosias Leindert Leng­kong: “Al-Qur`an sangat berguna untuk misi pekabaran Injil”

“Tujuan utama menye­lidiki referensi-referensi Al-Qur’an yang menyaksikan tentang Alkitab ialah: agar kita dapat mengenal serta mengerti dan memanfaatkan potensi ayat-ayat Al-Qur’an yang ber­guna bagi kepentingan membagikan berkat Injil kepada kaum Muslim yang kita cintai... Kesaksian Al-Qur`an sangat berguna untuk dijadikan jembatan atau sarana misi pekabaran Injil Alkitabiah” (makalah Pendeta Josias Lendert Lengkong pada seminar “Studi Paralelisasi Kristen dan Islam” di hotel Mandarin Jakarta tanggal 15 Agustus 1997).

Sebenarnya konsep tentang perlunya Kriste­ni­sasi kepada umat Islam masih sangat banyak. Tapi statemen Berkof dan Lengkong cukuplah untuk mewakili konsep kristenisasi di Indonesia.

Dalam praktiknya, penulis punya banyak fakta dan data tentang realita gerakan pemurtadan yang dilakukan oleh umat Kristen, dari cara yang santun sampai cara yang arogan.

Apakah buku-buku berkedok Islam yang isinya seratus persen berusaha memurtadkan umat Islam masih dianggap isu? Bila Buya Syafii masih meragukan adanya kristenisasi, bacalah buku-buku pendeta yang berwajah Islam, berisi ayat-ayat Al-Qur‘an dan Hadits tapi isinya menggiring umat Islam ke Kristen, antara lain:

Buku tulisan penginjil Poernama Winangun: Upacara Ibadah Haji, Ayat-ayat Al-Qur’an Yang Menyelamat­kan, dan Isa Alaihis Salam Dalam Pandangan Islam. Buku-buku tulisan Pendeta Nurdin: Keselamatan di dalam Islam, Ayat-ayat Penting di dalam Islam, As-Shodiqul Masduq (Kebenaran Yang Benar), As-Sirrullahil-Akbar (Rahasia Allah Yang Paling Besar), Selamat Natal Menurut Al-Qur’an, Telah Kutemukan Rahasia Allah Yang Paling Besar, Ya Allah Ya Ruhul Qudus, Aku Selamat Dunia dan Akhirat, dan lain-lain

Brosur Dakwah Ukhuwah (judul: Rahasia Jalan Ke Surga dan Membina Kerukunan Umat Beragama, brosur Shiraathal Mustaqiim (judul: Keselamatan dan Siapakah Yang Bernama Allah), Brosur Al-Barokah (Judul: Allahu Akbar Maulid Isa Almasih dan Dajjal & Kiamat), dll.

Piet Haidir Hasbullah, mantan Ketua Umum DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) periode 2001-2003

Piet Haidir Hasbullah adalah aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) dan mantan Ketua Umum DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) periode 2001-2003. Profil dan pengalaman rohaninya diberitakan Majalah Syir’ah edisi 27/IV/Februari 2004 dengan headline “Pindah Agama Karena Hidayah.” Pengalaman rohani Piet dibeberkan dalam judul “Sempat Menjadi Ateis setelah Memeluk Tiga Agama” (hlm. 34-35). Disebutkan pengalaman rohani Piet yang sarat dengan pengalaman pindah-pindah agama dari Islam, kemudian memeluk agama Katolik, Budha, lalu pindah lagi ke Islam.

Menjelaskan kenapa berulangkali murtad, Piet berdalih: “Saya mencari agama yang pro-kaum tertindas.” Ketika menjelaskan kenapa pindah ke Katolik, Piet berdalih, “Aku berpaling ke Katolik secara diam-diam tanpa mendeklarasikannya secara formal,” katanya. Ia mengaku keluar dari Islam karena muak melihat perilaku ulama yang munafik. “Di masjid-masjid, ulama berceramah tentang neraka, dan menunjuk pelacur sebagai penghuni neraka. Padahal, mereka sendiri hidup glamour,” tuturnya. Maka dengan rasa kecewa, Piet sering berkunjung ke Gereja Katedral Jakarta Pusat. Dalam hatinya ia menyatakan sebagai umat Nasrani.

...Piet, an Ketua Umum DPP IMM memilih pindah ke Katolik karena tertarik dengan penampakan umat kristiani yang peduli pada masyarakat tidak mampu...

Piet memilih pindah ke Katolik karena tertarik dengan penampakan umat kristiani yang peduli pada masyarakat tidak mampu. “Pada acara kebaktian umat Kristen memberikan sumbangan dengan jumlah yang luar biasa kepada fakir miskin, misal anak-anak jalanan atau orang-orang yang terkena musibah banjir,” ujarnya.

Sebelumnya, sewaktu kuliah semester tiga IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (sekarang UIN), Piet sudah sering meninggalkan shalat. “Selain bosan shalat, artikulasi ibadah bisa lewat jalan lain, bukan hanya shalat, bisa lewat baca buku.”

Dengan pengalaman murtad seperti itu, Syir’ah memberikan support, “Pengalaman Piet Hasbullah Haidir, bisa menjadi cerminan seorang anak manusia yang selalu gelisah mencari kejujuran agama. Tidak hanya basa-basi normatif tanpa aksi konkret. Seandainya di Museum Rekor Indonesia ada kategori pemegang rekor terbanyak memeluk agama, mungkin Piet Hasbullah Haidir menjadi salah seorang nominatornya. Bayangkan, dalam hitungan pekan atau bulan bisa berubah haluan.”

Murtadin Saifuddin Abraham alumnus Universitas Muhammadiyah

Dulu, Saifuddin, pria kelahiran Bima-NTB 26 Oktober 1965 adalah kader Muhammadiyah. Setamat dari SMA Muhammadiyah Bima tahun 1983, mendapat beasiswa dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk kuliah di Universitas Muhammadiyah di Jawa Tengah dan mengikuti pendidikan pondok pesantren Muhammadiyah. Kader lain dari Bima yang juga mendapat beasiswa adalah Ikhwan Syamsuddin (sekarang rektor Universitas Muhammadiyah Buma). Usai kuliah, Saifuddin mengajar di SMA Muhammadiyah daerah Jepara, lalu pada tahun 1993-1996 mengajar di pesantren Muhammadiyah di Depok, Jawa Barat.

Setelah mengalami pergulatan iman di Pesantren Az-Zaitun pada tahun 1999, akhirnya Saifuddin benar-benar pindah agama ke Kristen menjadi seorang penginjil bersama Pendeta Edie Sapto, seorang pendeta radikal asal Madura yang mewajibkan para siswanya untuk memurtadkan 5 orang sebagai syarat kelulusan di Sekolah Tinggi Teologinya.

Selamat Bermuktamar, Waspadai Tokoh Pro-Kristenisasi

Melalui Muktamar nanti, warga persyarikatan harus merevitalisasi diri agar memantapkan diri dalam -ruju’ ilal-qur`an was-sunnah,” konsisten beramal sesuai dengan Muqaddimah Anggaran Dasar, Kepribadian, Khittah Perjuangan, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup (MKCH), Pedoman Hidup Islami (PHI) Warga Muhammadiyah, dan Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah.

Jangan lagi tergiur gelar profesor dan kemahiran retorika seseorang, lalu terbuai dan memasukkan orang yang tak jelas kemuhammadiyahannya. Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan cari hidup di Muhammadiyah dan jangan kecolongan tokoh yang pro Kristenisasi. (taz/SI)

[Penulis adalah Wakil Sekretaris Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) PWM DKI Jakarta]

Retrieved from: http://www.voa-islam.com/islamia/christology/2010/07/02/7699/muktamar-muhammadiyah-harus-waspadai-gerakan-kristenisasi/ (Dec 31, 2010)

Surat Kabar-Surat Kabar Muhammadiyah


Dalam Statuen Muhammadiyah 1912 (Besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 22 Agustus 1914), salah satu misi persyarikatan in disebutkan : "...menerbitkan serta membantu terbitnya kitab-kitab, kitab sebaran, kitab khutbah, surat kabar, semuanya yang muat perkara ilmu agama Islam, ilmu ketertiban cara Islam." Setahun pasca keluar Besluit tahun 1914, Muhammadiyah mulai mengawali penerbitan surat kabar.

Soewara Moehammadijah
Majalah bulanan terbit sejak 1915. Pada nomor edisi ke-2 bulan pertama 1915 (1333 H) terbit menggunakan bahasa dan huruf Jawa. Materi tentang agama dan dakwah Islam. Tipografi terbitan tahun pertama masih sederhana.
Pemimpin redaksi pertama Suara Muhammadiyah Haji Fachrodin. Jajaran redaksi : H. Ahmad Dahlan, H.M. Hisyam, R.H. Djalil, M. Siradj, Soemodirdjo, Djojosugito dan R.H. Hadjid.
Pengelola administrasi : H.M. Ma'roef dibantu Achsan B. Wadana. Alamat redaksi dan tata usaha di Jagang Barat, Kauman, Yogyakarta. Terbitan tahun pertama dicetak di Percetakan Pakualaman. (Sekarang masih terbit).


Bintang Islam
Majalah dwi mingguan metamorfosa Tjahja Islam (Solo). Terbit pertama kali pada Januari 1923 di Yogyakarta menggunakan bahasa Melayu. Majalah ini memuat informasi kemajuan agama Islam di tanah air, berita umat Islam di Eropa dan menyajikan kisah-kisah kepahlawanan dalam Islam. Tiras Bintang Islam mencapai 1500 eksemplar. Jaringan pemasaran mencapai luar negeri. Selain di tanah Jawa, majalah ini tersebar di Penang, Singapura, Perak dan Johor. Pemimpin redaksi pertama : M.A. Hamid. Jajaran redaksi : H.M. Sudjak, M. Soemodirdjo, dan M. Mochtar Boecari. Administrasi : Harsoloemekso. Pada tahun 1925, Mohammad Hatta dari Amsterdam (Belanda) membantu redaksi Bintang Islam sebagai koresponden. (1931 berhenti terbit)

Soeara Aisjijah
Majalah bulanan ini Isteri-Islam, lembaran khusus wanita Islam di Soeara Moehammadijah terbit sejak awal 1925.
Pada Oktober 1926 terbit nomor perdana Soeara Aisjijah. Pertama kali terbit, Soeara Aisjijah masih menggunakan bahasa Latin Jawa dengan moto : "Madjalah boelanan kawekdalaken deneng Moehammadijah Djokjakarta." Tiras 1000 eksemplar. Para pengelola Soeara Aisjijah yang pertama kali : Siti Djoehainah (pimred), Siti Aminah, Siti Wakirah, Siti Hajinah, Siti Wardijah, Siti Barijah (redaksi). Alamat redaksi majalah ini yang pertama kali di Suronatan. (Sekarang masih terbit).

Silakan Download tulisan ini langsung dari Suara Muhammadiyah Edisi Khusus Muktamar Satu Abad. (m@w).

Retrieved from: http://pdpm-kota-madiun.blogspot.com/

Tujuh Tokoh Pemuda Perintis Zaman (2)

H Abdoelgani
Haji Abdoelgani dikenal sebagai seorang guru pada masa perintisan awal Muhammadiyah. Dia menikah dengan Siti Dawimah, salah seorang aktivis Siswo Proyo Wanito. Abdoelgani termasuk salah satu tokoh perintis Hizbul Wathan bersama Haji Mochtar, Soemodirdjo, RH Hadjid, dan lain-lain. Tahun kelahiran Abdoelgani tidak terlacak. Tetapi ketika KH Ahmad Dahlan mengajukan rechtpersoon Muhammadiyah kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1912), dia tergolong masih muda.

H Sjoedja’
Haji Sjoedja’ lahir di Kauman, Yogyakarta, pada tahun 1889 (1308 H) dengan nama kecil Daniel (Daniyalin). Dia putra Haji Hasjim, Lurah Kraton Yogyakarta. Haji Hasjim Ismail mempunyai delapan anak: Jasimah, Daniel (Sjoedja’), Jazoeli (Fachrodin), Hidajat (Hadikoesoema), Zaini Sulthoni, Moendjijah, Barijah, dan Walidah. Semua putra dan putri Lurah Kraton Yogyakarta ini menjadi aktivis dan pendukung gerakan Muhammadiyah sejak awal berdiri.
Sewaktu KH Ahmad Dahlan mengajukan rechtpersoon Muhammadiyah kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1912), Haji Sjoedja’ berumur kira-kira 23 tahun. Pada tahun 1920,
Hoofdbestuur Moehammadijah membentuk Bahagian Tabligh, Bahagian Penolong Kesengsaran Oemoem (PKO), Bahagian Sekolahan, dan Bahagian Taman Poestaka. Haji Sjoedja’ dipercaya
sebagai ketua pertama Hoofdbestuur Moehammadijah Bahagian PKO dalam usia sekitar 31 tahun.

H Fachrodin
Haji Fachrodin lahir di Kauman, Yogyakarta, pada tahun 1890 dengan nama kecil Moehammad Djazoeli. Dia salah satu dari putra Haji Hasjim Ismail, Lurah Kraton Yogyakarta. Djazoeli adalah
adik kandung Daniel. Yang membedakan Daniel dengan Djazoeli adalah jalan meniti karier. Jika Daniel lebih cenderung menekuni jalur kultural lewat pemberdayaan masyarakat, maka Djazoeli lebih memilih jalur politik lewat Sarekat Islam (SI). Tahun 1912, Haji Fachrodin bergabung di Boedi Oetomo cabang Yogyakarta. Pada tahun yang sama dia bergabung dengan Tjipto Mangoenkoesomo, Abdoel Moeis, Haji Misbach, dan Sneevliet dalam Insulinde. Tahun 1913, dia tercatat sebagai anggota SI cabang Yogyakarta. Setahun kemudian (1914), dia bergabung dalam Inlandsche Journalisten Bond. Ketika JFM Sneevliet mendirikan Indische Sociaal Democratisch Vereeniging (ISDV) pada tahun 1914, Haji Fachrodin termasuk jajaran bestuur ISDV cabang Yogyakarta. Pada waktu Muhammadiyah dideklarasikan (1912), umur Haji Fachrodin sekitar 22 tahun.
Haji Fachrodin masih berumur sekitar 30 tahun sewaktu mendapat amanat sebagai ketua pertama Hoofdbestuur Moehammadijah Bahagian Tabligh (1920).

H Hisjam
Haji Hisjam lahir di Kauman, Yogyakarta, pada tahun 1883. Dia putra Wedana Haji Hoesni. Hisjam masih termasuk kerabat jauh KH Dahlan lewat pernikahannya dengan puteri saudara iparnya, KH Dja’far. Putera Wedana Haji Hoesni ini memiliki karakter moderat dan pemikiran visioner.
Hisjam adalah pemuda cakap yang mementingkan pengajaran bagi generasi muda. Ketika Muhammadiyah dideklarasikan (1912), Hisjam masih berumur sekitar 29 tahun. Pada tahun 1920, Hoofdbestuur Muhammadiyah membentuk Bahagian Sekolahan dan jabatan ketua pertama unsur pembantu pimpinan ini diamanatkan kepada Haji Hisjam yang berumur sekitar 37 tahun.

H Tamim
Haji Tamimudari putra Haji Dja’far. Dia adalah pengusaha di Kauman yang turut mendukung gerakan KH Ahmad Dahlan. Putera-puteri Haji Tamimudari adalah: M. Daris Tamim, M. Djindar Tamimy, dan Prof. Siti Baroroh Baried Ishom (mantan Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah)


Disarikan oleh Mu’arif, wartawan Suara Muhammadiyah dan Sejarawan Muda Muhammadiyah dari berbagai sumber dan dokumen.

Retrieved from: http://pdpm-kota-madiun.blogspot.com/

Tujuh Tokoh Pemuda Perintis Zaman (1)


Suara Muhammadiyah, Edisi Muktamar 1 Abad, No. 13/ Tahun ke 1995. 19 RAJAB - 3 SYAKBAN 1431 H

Dalam perjalanan naik Haji kedua kalinya (1902), KH Ahmad Dahlan menyempatkan diri mempelajari aliran pembaruan Islam bersumber dari kitab-kitab karangan para pembaru dari Mesir.
Mula-mula Khatib Amin—jabatan KH Ahmad Dahlan—tertarik pada Tafsir Muhammad Abduh. KH Baqir, kerabat KH Ahmad Dahlan yang menetap di Makkah (sejak tahun 1890), memperkenalkan Khatib Amin dengan Rasyid Ridla, murid dan kawan seperjuangan Muhammad Abduh.

Sepulang naik Haji, Khatib Amin merintis gerakan pembaruan Islam dengan motor penggeraknya kaum muda di Kauman, Yogyakarta. Ia merintis sebuah gerakan di tengah-tengah masyarakat yang mengisolasi diri dari dunia luar. Budaya taklid telah menenggelamkan akal sehat. Para ulama yang menjadi kunci kemajuan agama justru malas berpikir. Begitu kuatnya para ulama berpegang teguh pada fiqih-fiqih klasik sampai mereka lupa bahwa sumber ajaran Islam yang murni adalah Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Pada tahun 1911, dalam sebuah pertemuan diskusi di rumah KH Sa’idu, KH Ahmad Dahlan mencetuskan nama “Muhammadiyah” untuk gerakannya. Ia didukung oleh pemuda Kauman yang penuh semangat dan idealisme. RM Dwijosewojo dan R Boedihardjo (ketua dan sekretaris Boedi Oetomo cabang Yogyakarta) menawarkan bantuan kepada KH Ahmad Dahlan untuk mengurus pengajuan rechtpersoon perkumpulan yang akan didirikan. Tawaran bantuan tersebut dengan satu syarat, KH Ahmad Dahlan harus mengumpulkan minimal tujuh orang yang akan membentuk kepengurusan Boedi Oetomo Cabang Kauman. Tawaran tersebut lekas dipenuhi. KH Ahmad Dahlan berhasil mengumpulkan enam pemuda Kauman. Mereka adalah: RH Sjarkawi, H Abdoelgani, H Sjoedja’, H Hisjam, H Fachrodin, dan H. Tamim. KH Ahmad Dahlan sendiri menggenapi syarat minimal tujuh orang tersebut. Ketujuh tokoh pemuda Kauman yang telah membuka jalan bagi Muhammadiyah dalam rangka mendapatkan rechtpersoon dari Gubernur
Jenderal Hindia Belanda merupakan para perintis Persyarikatan ini.

K.H. Ahmad Dahlan
KH Ahmad Dahlan lahir di Kauman, Yogyakarta, pada tahun 1868 dengan nama kecil Mohammad Darwis. Dia putera KH Abubakar bin KH Sulaiman, Khatib Amin Masjid Besar Yogyakarta.
Umurnya selisih tiga tahun lebih muda dengan Rasyid Ridla, tokoh pembaru Islam dari Mesir. Selain menjabat sebagai Khatib Amin, KH Ahmad Dahlan seorang pengusaha batik dan aktivis pergerakan. Jaringan bisnisnya meliputi Batavia, Cianjur, Semarang, Surabaya, dan Padang. Sebelum mendirikan Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan anggota Jam’iyatul Khair (berdiri 1901). Dia tercatat sebagai anggota nomor 770. Pada tahun 1912, dalam usia 44 tahun, Khatib Amin mendirikan Muhammadiyah.

RH Sjarkawi
Raden Haji Sjarkawi putra KH Abdul Jalil, Khatib Wetan. Nyai Khatib Wetan adalah salah satu putri Kiai Penghulu Muhammad Maklum. Dia bersaudara dengan KH Ahmad Maklum, ayah Haji
Anies (ayah Junus Anies). RH Sjarkawi bersaudara dengan H. Abdul Hamid dan HA Djawad.
Tahun kelahiran Sjarkawi tidak berhasil dilacak. Tetapi, berdasarkan dokumentasi photo pada tahun 1919, Sjarkawi masih kelihatan muda bersama KH Ahmad Dahlan ketika menyambut tamu Al-Hasyimi (guru sekolah Al-Attas) di Kauman. Sjarkawi adalah salah satu dari tujuh tokoh perintis Muhammadiyah yang namanya tercatat dalam struktur Hoofdbestuur Muhammadiyah 1912 selain KH Ahmad Dahlan.

Silakan download artikel ini di Suara Muhammadiyah Edisi Muktamar Satu Abad. (m@w)

Retrieved from: http://pdpm-kota-madiun.blogspot.com/

Sunday, September 26, 2010

Perlunya Keluwesan Menakar Novel Sejarah

Republika, Minggu, 26 September 2010 pukul 10:36:00

Akmal Nasery Basral

Sang Pencerah pertama-tama harus dibaca lebih dulu sebagai sebuah karya yang lahir dari rahim genre novel sejarah.


Dalam tulisan berjudul Keluwesan Sang Pencerah (Republika, 5/9/2010), Priyantono Oemar mengupas novel saya Sang Pencerah: Novelisasi Kehidupan Kiai Haji Ahmad Dahlan dan Perjuangannya Mendirikan Muhammadiyah secara cukup analitis. Pada tulisan utama, data-data dalam novel itu dibandingkan Priyantono dengan data-data dari Muhammadiyah Jawa (Ahmad Najib Burhani) dan Tafsir Jawa Keteladanan Kiai Ahmad Dahlan (GRAy Koes Moertiyah dan HM Nasruddin Anshary Ch). Kebetulan ketiga karya di atas terbit bersamaan tahun ini.

Sementara pada sub tulisan (boks) berjudul "Menghalau Kristenisasi", Priyantono bahkan membandingkan dengan lebih banyak buku lagi seperti Sedjarah Geredja di Indonesia (Muller Kruger, 1959), Sejarah Pertemuan Kristen dan Islam di Indonesia (Jan S. Aritonang, 2005), dan masih banyak lagi. Kegairahan luar biasa Priyantono dalam mengupas akurasi peristiwa-peristiwa faktual dalam kehidupan Kiai Dahlan, seperti terlihat dalam buku-buku pembanding yang digunakan, membuat Priyantono melupakan satu fakta terpenting; bahwa Sang Pencerah adalah novel sejarah, bukan sebuah karya yang ditulis dengan pretensi untuk menjadi buku (non-fiksi) sejarah seperti buku-buku pembanding yang digunakannya.

Kondisi itu membuat Priyantono terpeleset lebih jauh dalam pengabaian kadar sastra novel Sang Pencerah, dan luput membandingkannya dengan karya-karya yang lebih cocok berada pada satu koridor literer, ambillah contoh, novel Jejak Sang Pencerah (Didik L Hariri) atau Tonggak Sang Pencerah (Yazid R Passandre), dua karya yang juga terbit tahun ini dan sama-sama memotret sosok Kiai Ahmad Dahlan dari bingkai novelisasi sejarah.

Jika Priyantono lebih cermat dalam membaca sub judul novel Sang Pencerah, dan menakar lebih dalam dari perspektif literer yang merupakan ibu kandung dari novel sejarah (selain akurasi peristiwa sejarahan yang menjadi bapak kandungnya), niscaya hasil pembacaan Priyantono tidak akan membuat Sang Pencerah sebagai novel sejarah terlihat sebagai anak piatu karena hanya menekankan pada satu orang tua saja.

Novel sejarah
Semangat Priyantono yang meluap-luap untuk "memvalidasi" dan "memverifikasi" banyak peristiwa penting dalam novel Sang Pencerah, dan membandingkannya dengan buku-buku non-fiksi yang tidak ditulis para penyusunnya dengan spirit fiksionalisasi bukan fiktifisasi sejarah, sama banalnya dengan menakar kualitas sebuah t-shirt dari tata nilai sebuah kemeja.

Sebab, kendati kedua busana itu, katakanlah, sama-sama terbuat dari katun, tentu saja ukuran keindahan estetika dan fungsional dari t-shirt dan kemeja tetap tak sama. Begitu juga dengan novel sejarah dengan buku (yang berpretensi menjadi acuan) sejarah. Tolok ukur yang digunakan harus ditapis secara lebih jernih.

Kritikus dan pengajar sastra Dr Nathan Uglow dari Universitas Leeds, Inggris, mendefinisikan novel sejarah (historical novel) sebagai "…sebuah genre kesusastraan yang ditandai usaha untuk menggabungkan alur penceritaan dramatik yang kuat dan kondisi psikologi kemanusiaan yang meyakinkan, dalam sebuah bingkai peristiwa atau tokoh yang spesifik. Biasanya didasari riset mendalam terhadap rangkaian kejadian, lokasi, karakter, seperti halnya adat tradisi yang saat itu berlaku, gaya busana, cara berpakaian, dan lain-lain." (The Literary Encyclopaedia, 2002).

Dalam ulasan Priyantono, hampir seluruh elemen yang disebutkan Uglow di atas luput dilakukan. Dalam soal pembongkaran mushala (Langgar Kidul) milik Kiai Dahlan umpamanya, Priyantono lebih tertarik untuk mengupas ihwal referensi pembongkaran itu dari buku apa, ketimbang menakar dari sudut pandang alur dramatik pengisahan dan turbulensi psikologi manusia, yang lebih merupakan ciri karya sastra. Dari sudut pandang literer, hasil pembacaan yang muncul bisa seperti ini: seperti apakah kiranya perasaan yang dialami seorang kiai, yang sepanjang hidupnya menyerukan inti ajaran bahwa "Allah itu Maha Besar (Allahu Akbar)" seperti dialalami Kiai Dahlan, tapi di depan matanya sendiri, segerombolan orang dengan menyebut asma yang sama, justru merobohkan rumah ibadah tempatnya menyebarkan ajaran agama?

Pilihan Priyantono untuk tidak memperlakukan Sang Pencerah dari cara pembacaan dekat (close reading) yang lebih bermuatan sastrawi, melainkan memperlakukan novel ini seperti secuplik objek telaah di bawah "mikroskop" buku-buku non-fiksi - yang sesungguhnya masih bisa diperdebatkan juga validitasnya membuat pembaca akan mendapatkan kesan bahwa peristiwa dan sosok sejarah hanya bisa dipahami dengan jalan tunggal: karya non-fiksi.

Padahal, meminjam sinyalemen kritikus sastra Nirwan Dewanto, "hanya dengan pembacaan dekat kita dapat mengenali sebuah puisi atau sebuah novel sebagai pengetahuan sekaligus sumber penciptaan baru" (Kalam edisi 22: "Sastra Bandingan").

Akurasi sejarah
Catatan kedua menyangkut tafsir sejarah yang bergelimpangan di sekujur tubuh tulisan Priyantono, terutama pada boks "Menghalau Kristenisasi". Pada baris terakhir alinea kedua tulisan itu, Priyantono menulis: Data 1890 ini dipakai Akmal untuk dialog di tahun 1888. Intinya, Priyantono ingin menunjukkan bahwa saya, sengaja atau tidak sengaja, melakukan kekeliruan dengan menempatkan data historis pada tahun yang salah.

Ini lagi-lagi menunjukkan cara pandang Priyantono yang terbelenggu dari akurasi sejarah semata, dan gagal untuk melihat dari cara pandang seorang novelis. Dalam paparan sebelumnya, Priyantono menulis: Kakak ipar Dahlan menyebut pengikut Sadrach lebih dari 5.000 orang. Disebutkan, sebagian besar pengikutnya berada di Jawa Timur - penyebutan ini tentu tidak tepat, karena keberhasilan di Jawa Timur adalah kerja keras Coolen beserta murid-murid Jawanya. Untuk bagian ini Akmal memakai referensi MC Ricklefs (Sejarah Indonesia Modern 1200-2004), yang menyebutkan data 1890 pengikut Sadrach hampir 7.000. Data 1890 ini dipakai Akmal untuk dialog di tahun 1888.

Inilah risiko terbesar pembacaan yang keluar dari pretensi karya yang sedang ditelaah, yang membuat Priyantono terpeleset pada tiga kesalahan sekaligus. Pertama, bahwa yang berbicara di dalam dialog itu bukan Akmal Nasery Basral sang penulis (seperti dalam buku-buku non-fiksi), melainkan Kiai Noor, kakak ipar Kiai Dahlan, yang juga seorang saudagar batik, dan karena itu banyak melakukan perjalanan ke luar Kauman, sehingga tahu (paling tidak pernah mendengar) adanya kristenisasi terhadap bangsawan Pakualaman pada 1887.

Kedua, dengan pengetahuan Kiai Noor, yang tidak terdidik sebagai akademisi untuk mencatat detil rincian akurasi data, maka sinyalemen Kiai Noor bahwa "pada 1888 sudah lebih dari 5.000 orang dikristenkan" (sementara data historis versi Ricklefs pada 1890, tercatat hampir 7.000 orang), justru sebuah pernyataan yang bisa dipertanggungjawabkan silogismenya yakni karena di tahun 1890 sudah ada hampir 7.000 orang yang berpindah keyakinan, maka di tahun 1888 besar kemungkinan "sudah lebih dari 5.000 orang."

Ketiga, dan menurut saya kesilapan Priyantono yang paling fatal, adalah meski saya sudah menyebut rujukan karya legendaris Prof MC Ricklefs Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 (Serambi, 2005 dari versi Inggris A History of Modern Indonesia since c. 1200, Stanford University Press, 1993), sebagai sumber "ucapan" Kiai Noor pada bagian ini, penilaian Priyantono bahwa "penyebutan ini tentu tidak tepat" adalah statemen yang justru harus dibuktikan terhadap karya ilmiah Ricklefs, sejarawan dari Universitas Cornell yang berulangkali menerbitkan karya ilmiah dengan subyek sejarah Mataram, Kartasura, dan Yogyakarta.

Tentu saja Priyantono berhak meragukan klaim Ricklefs di atas, dan membandingkan dengan sumber lain, dalam hal ini penginjil Muller Kruger (1959). Tapi, penyebutan "tentu tidak tepat" terhadap hasil studi seorang sejarawan profesional seperti Ricklefs hanya dari satu buku lain yang masih perlu diteliti juga validitasnya, bukanlah hal yang "sudah pasti tepat" dari elan kesejarahan.

Begitu juga dengan kronologi dialog dan perdebatan terbuka (open baar) antara Kiai Dahlan dengan sejumlah pendeta dan pastur Kristen, serta tulisan (dokumentasi) rencana debat antara Kiai Dahlan dengan Dr Zwijner yang ditulis oleh Ki Hajar Dewantara di harian Darmo Kondo.

Priyantono tampaknya gagal melihat esensi seluruh rangkaian proses itu sesungguhnya bukan pada tahun-tahun terjadinya dialog atau perdebatan, melainkan pada keinginan melakukan dialog yang ditunjukkan Kiai Dahlan dalam menghadapi dialog antariman, satu hal yang jarang dilakukan kiai lain pada waktu itu. Di sini, lagi-lagi bingkai pandang pembacaan dekat (close reading) dibutuhkan untuk bisa menakar kelindan alur, dan apa peran episode itu bagi seluruh struktur pengisahan.

Di bagian akhir "Menghalau Kristenisasi", Priyantono menulis: "Sultan menebus dosa dengan mendukung penuh pendirian Muhammadiyah. Sultan memberi uang dan tanah untuk sekolah-sekolah Muhammadiyah demi tujuan menahan Kristenisasi dan pengaruh budaya Barat di Jawa (Muhammadiyah Jawa, hlm 69).

Pada bagian ini, Priyantono yang sebelumnya ingin menunjukkan adanya konsistensi pada tahun-tahun peristiwa akhirnya terjebak sendiri dalam setting waktu yang sudah sangat jelas pada novel Sang Pencerah: Bahwa novel ini berakhir pada saat Muhammadiyah resmi berdiri. Novel Sang Pencerah belum mengancik saat Muhammadiyah mulai beroperasi sebagai sebuah mesin organisasi yang mempunyai daya tawar dengan kekuasaan, termasuk dengan mendapatkan berbagai kompensasi dari Sri Sultan.

Di sinilah pentingnya mengapa Sang Pencerah pertama-tama harus dibaca lebih dulu sebagai sebuah karya yang lahir dari rahim genre novel sejarah, dan tidak dipandang sebagai sejarah an sich yang harus diverifikasi seluruh data yang diungkapkan dari paradigma sejarawan belaka. Setelah itu, barulah Sang Pencerah, bersama novel-novel sejarah tentang Kiai Dahlan lainnya, bisa ditakar kontribusinya bagi pemahaman yang lebih memadai terhadap sosok kharismatis ini.

(-)

Menakar Fakta-fakta Sang Pencerah

Republika, Minggu, 26 September 2010 pukul 10:31:00
Priyantono Oemar

Di Keluwesan Sang Pencerah , saya sengaja menutup tulisan dengan ''penebusan dosa'' Sultan berupa sokongan dana dan tanah untuk Muhammadiyah. Ini ada kaitannya dengan pernyataan Sultan di prolog Sang Pencerah : Sultan mendorong Ahmad Dahlan untuk membuat organisasi di bidang agama, yang serupa dengan Boedi Oetomo.

Pada 1904 itu, kita bisa mengembangkan imajinasi bahwa Kalifatullah Panatagama itu telah gusar dengan ''dampak'' dari izin yang ia berikan kepada para misionaris. Bangsawan-bangsawan Pakualaman semakin banyak yang masuk Katolik. Pastur Franz van Lith -yang kemudian diajak dialog oleh Dahlan memberikan kontribusi terhadap meningkatnya jumlah pemeluk Katolik di Pakualaman.

Ketika RM Sudarto pada 1900 ditolak masuk Europeesche Lagere School (ELS), van Lith-lah yang menyalurkan cucu ke-7 Pakualam III dari Pangeran Sasraningrat itu masuk ke sekolah Katolik. Berikutnya, empat adik RM Sudarto juga disalurkan van Lith ke sekolah-sekolah Katolik, baik di Yogyakarta maupun di Muntilan. Kelimanya kemudian dikenal sebagai tokoh-tokoh Katolik. (BS Dewantara, Nyi Hajar Dewantara , hlm 38-40).

Sejak 1904, Lith menekuni dunia pendidikan dan mendirikan sekolah guru di Muntilan. ''Anak laki-laki yang masuk sekolah ini semuanya Muslim. Mereka semua tamat sebagai orang Katolik.'' (Karel Steenbrink, Orang-orang Katolik di Indonesia Jilid 1 , hlm 384).

Tentu saja, Muhammadiyah tak memerlukan posisi tawar untuk mendapatkan bantuan Sultan, karena Sultanlah yang mendorong pendiriannya. Maka, jika Akmal mengembangkan narasi tentang ''penebusan dosa'' ini di Sang Pencerah , tentu saja masih bisa dimaklumi, kendati realisasi bantuan dana dan tanah itu terjadi setelah 1912.

Jika Akmal mau memperdalam narasi ''penebusan dosa'' Sultan ini, ia bisa menggali lebih dalam kondisi psikologis Dahlan. Dahlan yang abdi dalem Keraton mencoba memperbarui praktik keagamaan dan kemudian tetap harus taat pada tradisi Jawa, telah memiliki konflik psikologis saat harus "protes" kepada Sultan. Ia memilih berbicara dengan Sultan di kamar gelap, demi tidak menatap langsung muka Sultan. Dan, kemudian kondisi psikologis seperti apa yang dimiliki Dahlan ketika harus berhadapan dengan Sultan untuk membahas semakin banyaknya pemeluk Kristen di pusat kekuasaan?

Akmal menolak memasukkan ''penebusan dosa'' ini ke Sang Pencerah , karena peristiwanya setelah Muhammadiyah berdiri. Tapi, dialog-dialog antaragama yang kejadiannya jauh di atas tahun 1912 justru menjadi kisah tersendiri di Sang Pencerah . Saya memilih mengomentari rangkaian peristiwanya, karena untuk spirit toleransi Dahlan dari peristiwa dialog itu sudah gamblang dalam Sang Pencerah .

Rencana dialog dengan Dr Samuel Marinus Zwemer (bukan Zwijner) sebenarnya terjadi 10 tahun setelah Muhammadiyah berdiri. Misionaris Yahudi-Amerika yang bertugas di Asia itu sangat pedas mengecam Islam. Ia berkunjung ke Jawa pada 1922.

Dengan Pendeta D Bakker, Dahlan memiliki jadwal dialog bulanan. Bakker bertugas di Kebumen mulai 1900 dan pernah mencoba masuk ke komunitas Sadrach, tapi ditolak (Th Sumartana, Mission at the Crossroads , 1991). Di setiap dialog, menurut Herman L Beck ( www.kitlv-journals.nl ), Bakker didampingi Offringa dokter ini mulai bertugas di Yogyakarta pada 1912.

Untuk dialog dengan van Lith, sangat janggal jika dikatakan dialog tak berlanjut di waktu-waktu berikutnya karena van Lith meninggal. Lith meninggal pada 9 Januari 1926, Dahlan wafat pada 23 Februari 1923. Apa mungkin arwah Dahlan yang berdialog dengan Lith? Jika ternyata dialog itu terhenti karena Dahlan keburu wafat, berarti dialog dilakukan di periode 1920-an.

Dialog dengan Hendrikus van Driesche (bukan van Driesse) juga dilakukan di akhir dekade 1910-an. Nama van Driesse -lihat ejaannya-- hanya saya dapati di buku Muhammadiyah Setengah Abad: Makin Lama Makin Tjinta (1912-1962) , buku yang juga menyebut van Lith meninggal sebelum dialog dengan Dahlan membuahkan hasil.

Driesche resmi bertugas di Yogya sejak Maret 1919. Tapi, pada 1917 ia sudah ditugasi mendekati para bangsawan Yogya untuk rencana pembangunan sekolah Katolik di Yogya. Kepada para bangsawan, ia menyatakan sekolah ini akan netral. Tapi, setelah sekolah berjalan, di tahun kedua, separuh siswanya (dari 200 siswa) mengikuti pelajaran katekismus. (Abdurrachman Surjomihardjo, Kota Yogyakarta Tempoe Doeloe, Sejarah Sosial 1880-1930 , 2008).

Riset yang lemah
Dengan riset yang kurang memadai, Akmal keliru dalam membangun narasi. Untuk kasus sadrach misalnya, andai Akmal memegang data penginjil Wilhelm, tentu ia akan membisiki Kiai Noor dengan data ini. Akmal boleh saja tidak mempercayai Wilhelm -satu-satunya penginjil Belanda yang diterima di komunitas Sadrach sebagai guru hingga 1890-91 (di tahun ini pengikut Sadrach mencapai lebih dari 9.000 orang). Tapi, dengan data itu, maka Kiai Noor tentu akan lebih memilih mengkhawatirkan banyaknya Muslim Yogyakarta yang masuk Kristen (lebih dari seribu orang pengikut Sadrach pada 1889), ketimbang jauh-jauh menunjuk ke Jawa Timur. Salah pula.

Jumlah pengikut Sadrach di pusat kekuasaan itu sudah layak dirisaukan, apalagi Yogya yang berpenduduk 651.123 orang hanya memiliki 485 haji dan 187 guru agama. Ini tentu layak masuk rangkaian peristiwa di Sang Pencerah .

Saya tak meragukan data Ricklefs. Saya mengatakan "tidak tepat" bukan untuk data Ricklefs, melainkan penggunaannya untuk menggambarkan situasi di tahun yang berbeda dan untuk penyebutan sebagian besar pengikut Sadrach ada di Jawa Timur. Ricklefs tak menyebut satu kata pun soal itu.

Kalimat Ricklefs Antara tahun 1855 dan 1963, anggota pribumi gereja-gereja di Jawa Timur yang dibaptis dari 2.000 menjadi 60.000 orang, sebuah angka pertumbuhan yang lebih besar dibanding dengan pertumbuhan penduduk bukanlah kalimat untuk menjelaskan kerja Sadrach. Akmal lewat email menyatakan, ''Tahun 1855 itu usia Kiai Sadrach sudah 20-an tahun, dan masuk akal jika semangatnya untuk melakukan pembaptisan terhadap pribumi sedang bergelora.''

Pada 1855, Sadrach baru berkenalan dengan JE Jellesma (penginjil di Mojowarno), saat ia nyantri di Jombang. Ia baru terbujuk masuk Kristen atas pengaruh Hoezoo, penginjil Semarang yang pindah ke Mojowarno pada 1860. Sadrach dibaptis pada 1867 dan wafat pada 1924.

Saya menduga Ricklefs mengutip Philip van Akkeren (buku Akkeren yang disebut di buku Ricklefs, adalah terbitan 1970). Dalam buku Sri and Crist (koleksi saya terbitan 1969), Akkeren menampilkan tabel pertumbuhan pemeluk Kristen/Katolik di Jawa Timur yang meningkat 2.900 persen pada 1960 (58 ribu orang, sebanyak 36 ribu di antaranya memeluk Katolik) dari situasi 1855 (2.000 orang). Sementara, pertumbuhan penduduk Jawa Timur kurun 1860-1960 terlihat "hanya" 500 persen (dari 12,7 juta menjadi 63,5 juta).

Dengan mengutip Dr Nathan Uglow dari Universitas Leeds, Inggris, Akmal justru memberitahu adanya kelemahan di Sang Pencerah . Nathan menegaskan bahwa selain menggabungkan alur cerita dramatik yang kuat dan kondisi psikologis kemanusiaan yang meyakinkan, novel sejarah juga didasari riset yang mendalam terhadap rangkaian kejadian, lokasi, karakter. Akmal tak melakukan riset secara mendalam terhadap rangkaian peristiwa.

Saya sengaja tak membahas sisi alur cerita dan kondisi psikologis sang tokoh, karena justru mengikuti Akmal yang sangat peduli pada data dan fakta peristiwa. Ia sudah memulainya sejak prolog. Riset jauh lebih penting, karena ia akan menghasilkan perspektif literer yang tepat.

Tentu saja, saya tak hendak menganggap Sang Pencerah sebagai buku sejarah. Karena itu, di Keluwesan Sang Pencerah saya tak mempermasalahkan fiktif-tidaknya tokoh maupun dialog-dialognya, kendati warga Muhammadiyah berharap yang dikisahkan adalah yang sesuai kenyatan. Maka, ketika "riset mendalam'' -salah satunya tentang rangkaian peristiwa dialog antaragama gagal menghadirkan akurasi rangkaian peristiwanya, saya mencoba membahasnya.

Catatan kaki
Di bagian-bagian tertentu ia juga memberi catatan kaki. Dalam hal kecil, tentang lagu Ilir-ilir misalnya, Akmal perlu memberi catatan kaki soal adanya klaim dua pencipta lagu itu. Tapi, untuk kasus tahun kapan Dahlan naik haji pertama, ia tak memberikan catatan kaki. Akmal memilih menampik Dahlan naik haji pertama pada 1890. Alat kontrolnya, kata dia, pada 1890 anak pertama Dahlan lahir, sehingga tak mungkin Dahlan berada di Makkah.

Tapi, bisa saja lain kisahnya jika Akmal memilih Dahlan berhaji pertama seusai menikah seperti yang dinyatakan sumber-sumber lain. Dan, itu bukannya tidak mungkin. Jangan lupa, kebiasaan di Jawa saat itu: Orang yang akan bepergian jauh dan lama justru dinikahkan terlebih dulu. Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) juga mengalami itu, sebelum ia melanjutkan belajar ke Batavia. Karena ia masih remaja, statusnya masih nikah gantung (tak boleh bercampur suami-istri sebelum ia lulus dari STOVIA).

Tapi, sudahlah, mungkin lebih tepat jika tulisan saya muncul sebelum Sang Pencerah masuk ke penerbit. Apa boleh dikata, Sang Pencerah sudah diedarkan dan menjadi hak pembaca untuk menilainya. (-)

Gus Dur Dan Muhammadiyah

Senin, 11 Januari 2010 13:35

Membaca sepintas tentang judul dalam tulisan ini mungkin terkesan aneh. Gus Dur yang dalam hal ini adalah KH.Abdurrahman Wahid dijajarkan dengan Muhammadiyah. Bukankah semestinya Gus Dur lebih tepat diperbincangkan dengan NU atau Nahdlatul Ulama’. Bukankah Gus Dur dan Muhammadiyah sudah jelas adalah dua identitas yang jelas-jelas berbeda.

Perbincangan tentang Gus Dur dan NU, terasa sudah biasa. Gus Dur tidak akan bisa dipisahkan dari NU. Gus Dur adalah cucu pendiri NU, semua orang sudah mafhum. Gus Dur pernah menjadi Ketua PB NU sejak tahun 1984, terpilih dalam Muktamar di Situbondo, dan baru setelahnya digantikan oleh KH Hasyim Muzadi hingga sekarang. Selain itu, Gus Dur adalah pendiri PKB, partai politik kaum Nahdiyin. Itu semua menjadikan antara NU dan Gus Dur tidak bisa dipisahkan.

Akan tetapi ada apa perbincangan antara Gus Dur dengan Muhammadiyah. Apakah tulisan ini akan mengarah pada perbincangan tentang Gus Dur tatkala menjadi presiden adalah didukung oleh poros tengah yang ketika itu dimotori oleh Amien Rais, yang kebetulan ia sebagai tokoh Muhammadiyah. Tentu bukan itu. Perbincangan singkat ini, mengajak untuk melihat, adakah kesamaan antara Gus Dur dan Muhammadiyah.

Saya selama ini melihat antara keduanya, ------entah disetujui atau tidak, memiliki persamaan, yaitu sama-sama dipandang sebagai gerakan pembaharuan di Indonesaia. Gus Dur, dengan berbagai pemikiran dan gerakan sosialnya, sekalipun tidak mengeklaim sebagai pembaharu, oleh berbagai kalangan dianggap telah melakukan peran-peran perubahan yang sangat mendasar. Demikian pula Muhammadiiyah, secara eksplisit menyebut dirinya sebagai organisasi pembaharu.

Selanjutnya, kalau kedua-duanya benar, disebut sama-sama sebagai pembaharu, atau katakanlah sebagai kekuatan pengubah, lalu adakah perbedaan di antara keduanya. Jika hal itu memang ada perbedaan, maka perbedaan itu berada pada wilayah mana ? Pertanyaan ini rasanya penting untuk dicarikan jawabnya. Sementara ini, saya melihat demikian, keduanya adalah sebagai pembaru, namun pendekatan yang digunakan di antara keduanya tampak amat berbeda.

Muhammadiyah yang dirintis oleh KH.Achmad Dahlan, dalam melakukan pembaharuan dengan mendirikan organisasi. Berbagai aspek keagamaan disentuh sebagai bagian dari wilayah pembaharuannya itu. Dengan sentuhan-sentuhan itu, ada beberapa aspek yang terasa berbeda dengan sebelumnya. Sehingga siapapun bisa membedakan antara NU dan Muhammadiyah. Katakanlah misalnya, orang NU dalam sholat subuh menggunakan doa kunut, sedangkan Muhammadiyah tidak. NU dalam sholat jumát menggunakan dua adzan, sedangkan Muhammadiyah hanya satu adzan saja. Jamaáh NU sholat Id di masjid, sedangkan Muhammadiyah di lapangan.

Perbedaan itu sesungguhnya sederhana saja. Bahkan akhir-akhir ini sudah semakin saling mendekat atau berbaur, setidak-tidaknya perbedaan itu semakin tidak dihiraukan. Tampak misalnya, orang NU sholat berjamaáh dengan orang Muhammadiyah, siapapun yang menjadi imam dianggap syah. Tidak sedikit orang NU sholat tarweh hanya delapan rokaát sebagaimana orang Muhammadiyah melakukannya. Demikian pula orang Muhammadiyah khutbah sholat Id di masjid, dan begitu juga sebaliknya. Hal itu sudah banyak terjadi, dan tidak dianggap sebagai sesuatu yang ganjil atau aneh. Namun dulu, diakui atau tidak, gerakan Muhammadiyah menghadapi resistensi luar biasa besarnya.

Hal itu sangat berbeda dengan pembaharuan yang dilakukan oleh Gus Dur. Sekalipun resistensi itu ada, tawaran-tawaran pembaharuan yang dilakukan oleh Gus Dur tidak sampai melahirkan perasaan khawatir atau ketakutan, kecuali beberapa pihak saja. Jika ada tokoh yang tidak menyetujui pandangan Gus Dur, paling banter, mereka hanya diam. Tokoh yang pernah menjadi Ketua PBNU dan juga pemrakarsa berdirinya PKB ini, sekalipun memiliki pikiran dan pandangan yang sangat berbeda, tetapi masih tetap diterima sebagai pimpinannya. Perubahan yang ditawarkan oleh Gus Dur tidak ada resistensi, kecuali beberapa yang tidak terlalu berpengaruh.

Kalau benar demikian, maka pertanyaannya adalah apa yang berbeda antara Gus Dur dan Muhammadiyah, jika kedua-duanya disepakati sebagai kekuatan pembaharu. Sepintas saya melihat perbedaan itu terletak pada pendekatan yang dilakukannya. Muhammadiyah dengan pembaharuannya melahirkan identitas baru, yang berbeda dari kelompok lainnya. Munculnya Muhammadiyah melahirkan, misalnya sekolah Muhammadiyah, masjid Muhammadiyah, ritual orang-orang Muhammadiyah, dan bahkan juga baju seragam Muhammadiyah dan sebagainya. Perbedaan itu kemudian melahirkan jarak. Dan dengan jarak itu, tidak jarang memunculkan perasaan berbeda, identitas berbeda, dan bahkan kemudian melahirkan kompetisi atau juga konflik. Satu sama lain, menjadi merasa tersaingi atau terganggu.

Sementara saya lihat Gus Dur, juga melakukan pembaharuan, tetapi tidak memunculkan identitas baru. Gus Dur dalam melakukan pembaharuan di tubuh NU, orang-orang NU di berbagai tingkatannya tidak pernah merasa diubah. Hal itu karena Gus Dur tidak pernah melakukan perubahan pada tingkatan identitas atau symbol-simbol. Orang-orang NU tetap saja memakai sarung dan kopyah, sholat Id di masjid, sholat tarweh 20 rokaát, dan tetap saja tahlil, talkin, dan juga ziarah kubur. Hal-hal seperti itu, oleh Gus Dur tidak pernah disentuh, melainkan tetap dijalankan sebagaimana sedia kala.

Namun jangan dikira Gus Dur tidak melakukan perubahan. Dengan berbagai langkah strategisnya, Gus Dur telah melakukan perubahan di kalangan NU sedemikian dahsyat. Perubahan itu, saya lihat terletak bukan pada wilayah-wilayah identitas yang bersifat simbolik, melainkan pada wilayah yang lebih dalam, yaitu tentang pandangan dan pemikiran, tidak terkecuali pemikiran tentang keagamaan. Jika kita mau melihat secara jeli, pemikiran-pemikiran anak muda NU, termasuk dalam pemikiran keagamaan, melalui Gus Dur menjadi terbuka luar biasa. Akan tetapi, perubahan itu seolah-olah tidak dirasakan oleh orang-orang NU sendiri.

Saya tidak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi pada diri Gus Dur, andaikan ia dalam melakukan perubahan hanya menyentuh aspek luar yang bersifat simbolik itu, misalnya mendirikan organisasi baru sebagai tandingan NU. Gus Dur bisa jadi, akan dianggap sebagai lawan, atau setidaknya kompetitor dari kekuatan yang telah ada, yaitu NU. Gus Dur tidak melakukan itu. Akan tetapi, Gus Dur tetap memposisikan diri sebagai bagian dari NU, bahkan memimpin organisasi besar itu. Melalui posisinya itu, Gus Dur menawarkan ide-ide, pemikiran, dan pandangan baru, dan ternyata diterimanya.

Memang ada sementara tokoh atau kyai yang risau dengan pemikiran yang ditawarkan olehnya, tetapi kerisauan itu tidak sampai menganggap bahwa Gus Dur bukan sebagai bagiannya. Cucu pendiri NU ini, betapapun, -------apalagi berposisi sebagai Ketua PBNU, dianggap sebagai anutan dan bahkan sosok pemimpin yang harus diikuti dan dicintai. Bahkan Gus Dur semakin dicintai oleh semua, setelah ia meninggalkan NU untuk selama-lamanya, wafat . Gus Dur dengan pendekatannya itu ternyata berhasil melakukan perubahan pada tingkat pemikiran dan berbagai pandangan di tubuh NU secara luar biasa.

Melalui fenomena itu saya melihat, antara Gus Dur dan Muhammadiyah, keduanya telah melakukan perubahan, tetapi masing-masing menempuh pendekatan yang berbeda, dan ternyata hasilnya pun juga berbeda. Perubahan yang dilakukan oleh Muhammadiyah melahirkan perasaan dan kelompok yang berbeda. Sedangkan Gus Dur, dengan mengubah dari dalam, apalagi perubahan itu bukan berada pada wilayah simbolik, melainkan menyentuh aspek yang lebih dalam, -----berupa cara pandang, pemikiran, dan ide-ide tentang banyak hal, misalnya demokrasi, politik, social dan lain-lain, maka perubahan itu tetap terjadi dan bahkan dalam hal-hal tertentu lebih dahsyat, tanpa dirasakan. Gus Dur tetap dianggap sebagi bagiannya, dan bahkan harus dicintai dan selalu diikutinya. Wallahu a’lam.

http://www.uin-malang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1278:gus-dur-dan-muhammadiyah&catid=25:artikel-rektor

Tuesday, September 21, 2010

Film Sang Pencerah: Mengenal Pendiri Muhammadiyah

Film Sang Pencerah
Mengenal Pendiri Muhammadiyah
Kompas, Jumat, 17 September 2010 | 23:21 WIB
wanasedaju.blogspot.com
Sang Pencerah

Asep Saefudin PhD *)

Sebagai orang yang pernah menimba ilmu agama di Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Muhammadiyah dan alumnus SD Muhammadiyah di Garut (1964-1969), saya tertarik melihat film Sang Pencerah (SP) garapan Hanung Bramantyo. Sineas muda yang juga menggarap AAC (Ayat Ayat Cinta) ini memang patut diacungi jempol.

Muhammadiyah sejak pendiriannya memang didedikasikan untuk dunia pendidikan dan kesehatan. Jadi, wajar kalau saat ini kita temukan pendidikan dasar, menengah dan tinggi Muhammadiyah di Nusantara ini. Dan di kompleks pendidikan Muhammadiyah itu selalu ada BKIA (Balai Kesehatan Ibu dan Anak) dan PA (Panti Asuhan).

Secara keseluruhan film SP itu sangat bagus ditinjau dari segi kandungan, alur cerita, seni penataan musik, dan segi perfilman lainnya. Paling tidak, sebagai orang awam-film, saya dapat menikmati nonton film SP, mampu memberikan atensi terhadap film tersebut, duduk dengan tenang.

Muhammad Darwis (nama KH Ahmad Dahlan) sebelum ke Mekkah) selalu bertanya di dalam hatinya. Mengapa agama yang diyakininya sebagai rahmatan lilalamin (rahmat atau kebaikan bagi seluruh alam) justru tidak nampak.

Secara fakta banyak sekali masyarakat yang terlantar dan seakan-akan dibiarkan oleh para pemuka agama. Orang-orang miskin dibiarkan melarat seakan sudah menjadi takdir mereka, nyata-nyata di hadapan masjid. Kesehatan masyarakat sangat rapuh. Tidak ada yang tergerak hatinya untuk memperbaiki hidup dan kehidupan mereka.

Para pemuka agama dan pengikutnya tidak terusik dan sibuk dengan ritual keagamaan. Setiap hari mereka sholat berjamaah, sementara masyarakat miskin di sekitar masjid sudah kehilangan harapan hidup. Situasi demikian kontras, dan dari hari ke hari semakin banyak jumlah.

Pemahaman agama juga bercampur aduk dengan kepercayaan mistik berlebih-lebihan. Sesajen berbagai jenis makanan terbuang begitu saja. Sangat mubah. Upacara tahlilan sangat berlebihan. Bahkan mereka yang sudah kehilangan saudaranya juga harus melaksanakan tahlilan yang overdosis, membuat masyarakat menjadi sedih lahir dan batin.

Masyarakat menganggap bahwa tahlilan adalah kewajiban agama. Darwis merasa yakin bahwa ini bukan esensi beragama. Pasti ada kesalahan pemahaman terhadap agama yang sebenarnya untuk rahmatan lilalamin.

Bila sebuah kebiasaan lalu dibungkus dengan kepercayaan sebagai sesuatu yang sakral, maka kebiasaan itu dianggap sebuah kebenaran. Keluar dari kebiasaan itu berarti pelanggaran.

Orang lain akan menganggap mereka yang tidak sama kebiasaannya bukanlah kelompoknya, bukan orang-orang beriman alias kafir. Situasi ini dimanfaatkan oleh penguasa (penjajah), bila menguntungkan maka akan diteruskan dan dilindungi seolah-olah inilah ajaran Tuhan yang wajib ditaati.

Bila kebiasaan ini mengusik kenikmatan atasan (pemimpin umat, pemerintah, penjajah) maka itu harus dimusnahkan. Keadaan bercampur aduk dengan pimpinan agama yang vested dan mudah memberi cap kafir bagi mereka yang tidak sepaham. Itulah secara umum yang terjadi di sekitar Ngayogyakarta pada saat itu.

Cap kafir ini sangat mujarab sehingga orang tidak ada yang mempertanyakan kekeliruan ini terus terjadi. Para pengikut agama yakin seyakin yakinnya bahwa perilaku kafir adalah sebesar-besarnya dosa. Jadi, harus dijauhi.

Tetapi mereka banyak yang tidak paham makna iman, musyrik, mistik, sholat, ibadah, kafir, dan sesajen campur baur menjadi kepercayaan seakan kebenaran ajaran yang wajib ditaati. Tanpa reserve.

Ketika Darwis membahas semua itu dengan ayahandanya yang diperankan oleh Ikrangera, sang ayah tidak sepenuhnya menerima. Dikatakannya bahwa agama itu bukan soal akal saja, tetapi juga harus dengan hati.

Pernyataan ini ada benarnya, tetapi hati yang bagaimana dulu? Hati yang sudah dilumuti kesenangan duniawi, kedudukan, kepangkatan, kewibawaan, tentunya akan memelihara kebiasaan yang dibungkus dengan kepercayaan yang seolah-olah agung. Tidak jarang hati seperti ini justru telah mengikat kita dengan ketamakan duniawi. Kita tidak lagi menjadi bebas, tetapi terperdaya oleh hawa nafsu.

Muhammad Darwis tetap tidak bisa menerima situasi demikian. Tetapi bagaimana caranya? Inilah yang menjadi esensi perjuangannya. Darwis lalu pergi menunaikan ibadah haji ke Mekah al Mukaramah. Di sanalah Darwis sempat membaca pemikiran-pemikiran Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh.

Muhammad Abduh (1849-1905) pemikir modern dari Mesir yang menekankan betapa pentingya akal. Seperti yang dituangkan di dalam Surah Al-Baqarah (30-34) tentang kejadian manusia, jelas sekali bahwa kelebihan manusia di atas makhluk hidup lainnya adalah karena kekuatan akalnya. Akal-fikiran itulah yang membuat manusia layak menjadi khalifatul-fil-ardli (pemimpin di muka bumi).

Abduh mengajarkan bahwa manusia diberikan anugerah intelegensia oleh Allah, untuk dipergunakan. Manusia bukanlah kerbau yang ditusuk hidungnya lalu mengekor ke mana saja maunya pimpinan.

Abduh berprinsip bahwa kebebasan berpikir untuk selalu bertanya dan berinovasi adalah modal kemajuan sebuah negara. Negara maju, menurut Abduh, adalah negara yang pandai menggunakan otaknya.

Dengan demikian, ilmu pengetahuan terus berkembang sesuai dengan kemajuan zaman. Itulah kelebihan orang Barat ketimbang Timur. Dalam konteks ini barangkali Abduh berpendapat "saya melihat Islam di negara Barat, tetapi sedikit Muslim. Dan saya melihat banyak Muslim di Timur, tetapi tidak ada Islam".

Abduh juga dikenal dekat dengan tokoh-tokoh dari kalangan Nasrani dan Yahudi.

Rupanya pemikiran Abduh sejalan dengan apa yang dipikirkan Darwis. Tidak heran kalau Darwis sering berpendapat bahwa guru agama bukanlah yang menentukan segalanya. Kebenaran harus bersama-sama dicari, bukan hanya milik guru.

Pola pendidikan ini tentu sangat berbeda diametral dengan yang selama ini dianggap kebenaran di Ngayogyakarta, yakni petuah guru adalah kebenaran. Murid hanya boleh mengikuti, tanpa ada bantahan sedikitpun.

Seperti kebiasaan masa itu, orang Indonesia yang pergi berhaji, lalu mendapat nama baru. Begitupun Darwis, namanya jadi Ahmad Dahlan (AD). Dengan bekal nalar yang kuat ditambah pengetahuan agama yang semakin banyak selama di Makkah al-Mukaramah, AD semakin memiliki modal untuk melakukan perubahan.

Sepulang dari Mekah, AD dijadikan Imam Masjid di Kauman dan berhak memberikan tausiah. Ceramah-ceramahnya agak berbeda dengan para kiai umumnya waktu itu yang sangat menekankan penerimaan tanpa banyak bertanya, AD justru menekankan betapa pentingnya akal.

Bertanya dan diskusi adalah modal awal untuk maju. AD juga mengajarkan bahwa Al-Qur'an dapat dikaji sesuai dengan nuansa ke kinian, tidak statis tapi dinamis. Tentu saja tausiah model ini cukup membuat para kiai saat itu merinding, karena sudah keluar dari pakem.

Dengan bekal pengetahuannya tentang ilmu bumi dan penggunaan kompas, AD mempertanyakan arah sholat yang sudah bertahun-tahun diterima sebagai suatu kebenaran. Inipun membuat hampir semua jamaah terutama para kiainya tersinggung. Mereka tidak mau menerima penjelasan berbasis ilmu pengetahuan yang dipakai AD.

Inilah barangkali yang ada di dalam salah satu ayat Surah Al-Baqarah 'tertutuplah mata dan hatinya, sehingga mereka tidak mau belajar'.

Ahmad Dahlan bependapat bahwa penggunaan alat dan ilmu pengetahuan adalah bagian dari proses modernisasi. Akan tetapi tidak semudah membalikkan tangan untuk meyakinkan mereka yang sudah larut dengan kebiasaan-kebiasaan yang telah mengakar. Kala itu modernisasi bahkan bisa dicap sebagai langkah menuju ke kafir atau meniadakan Tuhan. Dus, modernisasi lebih berat dari tabu! Harus dijauhi.

Karena perbedaan yang dianggap prinsipil, maka AD diberhentikan dari jabatan Imam mesjid. Dan AD membuat mesjid kecil sekalian dipergunakan untuk belajar mereka yang mulai berpikir terbuka. Para muridnya memanggil kiayi, lengkapnya Kiai Haji Ahmad Dahlan (KHAD).

Pola pengajiannya sangat berbeda dengan kebiasaan saat itu. Ketika ada beberapa orang muda tertarik dengan pemikiran KHAD bertanya apa itu agama. KHAD malah memainkan biolanya yang membuat orang-orang muda menjadi tenang mendengar kesyahduannya.

Lalu biola itu diberikan kepada salah seorang pemuda dan diminta memainkannya. Keruan saja suaranya menjadi berantakan, karena pemuda itu tidak punya ilmu dan keahlian memainkan biola.

Seusai itu KHAD menerangkan makna agama 'Agama bagaikan musik indah yang mampu memberikan kesyahduan, ketenangan, dan kebahagiaan. Tetapi harus dilakukan dengan ilmu pengetahuan, kalau tidak malah bisa menjadi kacau dan jadi bahan tertawaan'.

Perjuangannya semakin mendapat tantangan dan tidak jarang KHAD dikategorikan orang kafir. Akan tetapi KHAD semakin "keukeuh" bahwa perubahan harus dilakukan.

Maka KHAD mempelajari organisasi-organisasi modern yang mengajak pada perubahan, terutama Budi Utomo. Dari situ muncullah inspirasi pendirian Muhammadiyah. Maka lahirlah Muhammadiyah pada tanggal 18 Nopember 1912, sebagai perserikatan non-politik.

Berbasis perjuangan melalui pendidikan dan kesehatan Muhammadiyah terus berkembang secara kuantitatif. Secara kualitatif, Muhammadiyah harus mulai introspeksi, karena tantangan zamannya juga semakin kompleks.

Tanpa harus berubah menjadi sebuah partai, Muhammadiyah bisa dengan tegar memberikan masukan kepada penyelenggara negara. Yang jelas, titipan KHAD harus terus dipegang "hidupilah Muhammadiyah, tetapi jangan mencari penghidupan dari Muhammadiyah". Insya Allah. (***)

*) Pengurus ICMI

Sunday, September 19, 2010

Blangkon Muhammadiyah

Koran Tempo, Edisi 19 September 2010

Blangkon Muhammadiyah

Perubahan orientasi dari modernisasi ke purifikasi ditandai dengan berdirinya majelis tarjih dan banyaknya pengurus yang ahli fikih.
Judul: Muhammadiyah Jawa
Penulis: Ahmad Najib Burhani
Penerbit: Al-Wasat
Edisi: Juni 2010
Tebal: xxii + 206 halaman
Muhammadiyah, salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, identik dengan kelompok muslim yang menentang tradisi budaya. Berbeda dengan Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah tidak toleran terhadap kebiasaan yang mengacu pada adat. Jika perilaku budaya bertentangan dengan hukum syariah, Muhammadiyah mengharamkannya.

Dalam beberapa dekade, organisasi massa ini getol membersihkan Islam dari pengaruh "TBC", yaitu taqlid (mengekor), bid'ah (sesat), dan churafat (takhayul), yang banyak dipraktekkan dalam budaya Jawa.
Tapi siapa yang tahu identitas itu bukan patron awal Muhammadiyah. Ahmad Najib Burhani, penulis buku Muhammadiyah Jawa, ingin menunjukkan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan yang identik dengan budaya. Alih-alih memusuhi, menurut Najib, pendirian Muhammadiyah justru didukung oleh Kesultanan Yogyakarta, sebagai pusat peradaban Jawa, dan diprakarsai oleh beberapa anggota Boedi Oetomo, yang bertradisi Jawa kuat.

"Muhammadiyah dibangun dengan inspirasi dan kesadaran orang Islam-Jawa tulen," kata dia.
Menurut peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ini, kedekatan Muhammadiyah dan Jawa dilihat dari empat unsur, yakni perilaku, keanggotaan, nama, busana, dan bahasa. Orang Muhammadiyah, kata Najib, menunjukkan perilaku Jawa yang sopan dan santun. Hal ini wajar karena anggota Muhammadiyah didominasi kaum priayi, baik santri maupun non-santri, dan kelompok pedagang.

Priayi di Muhammadiyah adalah abdi dalem atau pegawai keraton yang memangku urusan keagamaan, termasuk Kiai Haji Ahmad Dahlan. "Mereka bergelar bangsawan," ujar Najib. Anggota ini tak mau meninggalkan gelar kejawaan yang melekat di depan nama. Bahkan salah satu ketua Muhammadiyah tetap dengan nama Jawa, yakni Ki Bagus Hadikusumo.

Identitas nama Jawa pada Dahlan bertahan sebelum ia menunaikan ibadah haji. Nama asli Dahlan adalah Raden Ngabehi Muhammad Darwisy. Nama Ahmad Dahlan diinspirasi dari nama mufti di Mekah, Ahmad bin Zaini Dahlan. Nama itu diberikan guru Dahlan, Sayyid Bakri Syaththa, yang bermazhab Syafii (halaman 55).

Identitas Jawa muncul lebih kuat dalam busana orang Muhammadiyah. Sementara orang NU identik dengan busana Arab, yaitu jubah dan sorban, Muhammadiyah tidak. "Mereka menggunakan kostum dan aksesori Jawa, keris, blangkon, dan beskap," kata Najib.

Politik busana ini menjadi sikap resmi organisasi. Pada Kongres Muhammadiyah 1929 di Solo, panitia mewajibkan peserta mengenakan pakaian kebesaran daerah masing-masing (halaman 109).

Bahasa Jawa menjadi bahasa utama Muhammadiyah. Surat-menyurat, media, dan pengantar pengajian terkadang menggunakan bahasa melayu. Dahlan termasuk kiai yang berani melawan kesepakatan ulama Islam, yang mengharamkan menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa lain.

"Menerjemahkan Al-Quran ke bahasa lain adalah kewajiban kolektif," ujar Najib (halaman 103). Maka Dahlan membolehkan khotbah Jumat disampaikan dalam bahasa Jawa. Bahkan salah satu murid Dahlan di Kweekschool Jetis, Profesor Sugarda Purbakawatja, bersaksi bahwa Dahlan membolehkan orang salat dengan bahasa daerah jika tak menguasai bahasa Arab (halaman 104).

Bukti lain adalah Muhammadiyah lahir dan besar di lingkar dalam keraton, yaitu Kauman. Najib menilai Muhammadiyah merupakan proyek rahasia kesultanan untuk membendung Kristenisasi, yang masuk ke keraton. "Keraton juga mendukung secara materi," katanya. Dukungan itu berupa uang dan tanah untuk mendirikan sekolah Muhammadiyah (halaman 69).
Sayang, Najib tak memiliki bukti otentik atas peran Sultan. Keterangan ini diperolehnya dari wawancara dengan salah satu pangeran, Gusti Joyokusumo, tujuh tahun lalu. Seharusnya Najib menelusuri bukti tertulisnya.

Identitas Jawa merupakan strategi gerakan Muhammadiyah. Tujuannya melancarkan agenda pembaruan. Dahlan menolak praktek, misalkan, mengkeramatkan tempat, sesajen, dan percaya adanya roh yang membuat manusia terkena penyakit. Maka didirikanlah sekolah dan lembaga sosial agar orang Jawa mengikis kepercayaan itu.

Namun orientasi sosial itu mulai mengendur setelah Dahlan mangkat pada 1925. Berdirinya Majelis Tarjih pada Kongres 1928 di Yogyakarta menjadi penanda pergeseran orientasi Muhammadiyah. Penggagasnya adalah Mas Mansur, ulama ahli fikih dari Surabaya yang juga Ketua Majelis. Tujuan Majelis: menuntun anggota Muhammadiyah berperilaku sesuai dengan syariah.

Menurut Najib, tujuan Majelis dipengaruhi kemenangan Wahabi di Mekah dan Madinah serta berdirinya NU pada 1926, yang menimbulkan perbedaan hukum syariah di kalangan umat Islam. Aktivitas Majelis menjadi bukti kuat pergeseran Muhammadiyah dari gerakan modernisasi menjadi purifikasi (halaman 139).
Aktivitas sosial makin memudar ketika Kongres Muhammadiyah di Bukittinggi. Menurut Najib, banyaknya pengurus yang berasal dari Minang membuat orientasi berubah dari sosial cenderung ke politik. Itu lantaran Muhammadiyah di Minang getol melawan komunisme. Padahal, kata Najib, ketika Dahlan hidup, orang komunis diundang berdiskusi di Muhammadiyah.

Buku ini ingin menjadi jembatan antara Muhammadiyah dan budaya, terutama Jawa. Dakwah budaya menjadi perhatian khusus bagi Muhammadiyah sejak muktamar delapan tahun lalu. Lama berorientasi pada syariah membuat Muhammadiyah kesulitan merumuskan keinginannya itu. Budayawan Emha Ainun Nadjib menilai dakwah budaya Muhammadiyah belum terlihat sosok, konsep, maupun strateginya. AKBAR TRI KURNIAWAN
Download file

Azas Islam di Muhammadiyah

Asas Islam Jadi Perdebatan Seru
Tempo, 11-7-2000 / 14:28 WIB

Perdebatan soal asas Muhammadiyah, yang berlangsung hangat di Komisi C, akhirnya berlanjut ke Sidang Pleno. Pimpinan sidang, Syafi'i Ma'arif terpaksa harus membuka tiga termin untuk melayani peserta muktamar yang menyampaikan argumennya secara emosional. Suasana perdebatan berlangsung sangat keras di hari keempat muktamar, Selasa (11/7) siang di TMII, Jakarta. Bahkan pimpinan sidang terpaksa menskors jalannya pleno, khusus untuk membahas soal asas itu.

Syafi'i Ma'arif membacakan rumusan Anggaran Dasar (AD) yang mengadopsi masuknya asas Islam dalam AD. Sejumlah daerah pun protes keras. Antara lain, Aceh, Sulawesi Selatan, Sumedang dan juga Lombok. Sebenarnya, masalah ini sudah diputuskan di Komisi C: asas tidak dinyatakan secara ekplisit dalam AD. Keputusan itu diambil secara voting dengan hasil 136 suara mendukung dan 108 menolak.

Syafi'i juga termasuk kelompok yang menolak. Ia beralasan pencantuman asas itu mubazir karena di pasal sebelumnya telah jelas disebutkan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang bersumber pada Al-Quran dan Sunnah. Namun pandangan itu ditolah Ismail Sunny. Ia menegaskan, pencantuman asas itu harus dilakukan secara eksplisit.

Sekretaris Mauhammadiyah, Watik Partiknya mengatakan, ia dapat memahami apa yang disampaikan wakil dari Aceh itu. Karena, iklim Aceh memang menginginkan Islam dengan jelas dimunculkan. Sementara di sisi lain, menurut dia, ada daerah yang sudah bisa bertindak secara lebih kosmopolitan. "Ini suatu proses belajar bagi muktamirin dan pimpinan sidang. Ternyata akhirnya terselesaikan dengan baik," ujarnya. Namun, ia memandang asas bukanlah masalah pokok yang harus diperdebatkan. Sebab ada masalah lain yang lebih penting, yaitu apakah ingin kembali ke era Soeharto atau Soekarno. Dengan kata lain, era diadakan dan ditiadakannya asas organisasi kemasyarakatan. (Erwin Prima)

http://www.tempo.co.id/harian/fokus/31/2,1,7,id.html

Letak Azas Jadi Perdebatan
Tempo, 10-7-2000 / 19:47 WIB

Pembahasan soal dimasukkannya azas oraganisasi ke dalam anggaran dasar (AD) menjadi perdebatan hangat di Komisi C Mukatamar Muhammadiyah ke 44 yang bersidang di Mesjid At'Tien di Padepokan Pencak Silat TMII, Senin (10/7) pagi hingga sore. Dalam perdebatan itu, Komisi C -yang membahas perubahan AD/ART-- terbelah menjadi dua kelompok. Satu kelompok menginginkan azas Islam dinyatakan secara eksplisit dalam salah satu pasal AD, sementara kelompok yang lain tak mengehendaki hal tersebut.

Perdebatan yang gayeng tersebut menyebabkan Komisi C harus melakukan voting dan, sementara, dimenangkan kelompok yang tak menghendaki pencantuman azas dalam pasal khusus. Mereka memperoleh dukungan 136 suara, sedangkan kelompok satunya mendapat 108 suara. Syafi'i Ma'arif, salah seseorang yang tak setuju pencantuman dalam pasal khusus, mengatakan alasan ketidak setujuannya. Dari sumber-sumber klasik, termasuk Piagam Madinah dan sejak zaman KH Ahmad Dahlan hingga tahun 1959, Muhammadiyah tidak diberi azas. Alasan pemberian azas pada tahun 1959, adalah sebagai dampak persaingan ideologi Indonesia saat itu, yaitu antara Islam, Nasionalis, dan Komunis.

Menurut Syafi'i, dengan tak disebutkan secara eksplisit, bila terjadi flugtuasi perubahan politik, Muhammadiyah tidak terkena imbasnya. Dan dari segi dakwah, orang tidak akan takut terhadap Islam. Selain itu, menurut dia, azas tersebut telah dinyatakan dalam pasal I ayat 2 AD, yang menyatakan, Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang bersumber kepada Al Quran dan Sunnah.

Sementara itu, Ismail Suny, salah seorang formatur pembentukan pengurus tetap yang setuju pencantuman, mengatakan, pencantuman itu justru untuk mempertegas pasal I ayat 2 AD tersebut. Anggota Komisi C yang juga setuju lainnya mengatakan, dengan tidak dicantumkannya azas dalam pasal khusus, posisi Muhammadiyah tidak cukup jelas diketahui oleh pihak luar.

Meski soal peletakan azas sudah diputuskan voting Komisi C, menurut Syafi'i, perdebatan soal azas ini akan dibawa ke pleno dan ia memperkirakan, akan terjadi perdebatan dan diperkirakan pula akan terjadi voting ulang. (Erwin Z)

http://www.tempo.co.id/harian/fokus/31/2,1,5,id.html

Friday, September 17, 2010

NU Versus Muhammadiyah

Tempo, 8-7-2000 / 21:51 WIB

Dalam sebuah kesempatan, Nurcholis Madjid pernah wanti-wanti, jika Gus Dur "jatuh" dari kursi kepresidenan pada Agustus mendatang, massa akan membaca kejatuhan Gus Dur itu akibat ulah Amien Rais. Yang merisaukan, persepsi seperti ini tidak mustahil akan memicu konflik horizontal pada tingkat massa--antara anggota Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Ramalan Cak Nur, demikian ia biasa disapa, mungkin tidak mengada-ada. Ini lebih merupakan bacaan Cak Nur yang cukup realistis terhadap kondisi sosio-kultural sebagian besar umat Islam Indonesia. Tak bisa dipungkiri, sebagian umat Islam masih terjebak pada sekat-sekat primordialisme keagamaan yang sempit. Lagi pula, persaingan antara NU dan Muhammadiyah bukan sesuatu yang a-historis. Pengikut NU dan Muhammadiyah pernah terjebak pada pertentangan tajam dalam waktu yang cukup panjang.

Pertentangan NU-Muhammadiyah sebenarnya tidak bisa dibaca sebagai pertentangan antar sekte dalam sebuah agama. Sebab, sejauh menyangkut doktrin-doktrin keagamaan yang prinsip, baik NU dan Muhammadiyah masih ada dalam koridor yang sama. Perbedaan hanya terjadi dalam soal metode, bagaimana mereka "menghampiri" Islam sebagai sebuah ajaran dan merealisasikannya dalam kehidupan keseharian.

Meminjam bahasa kalangan pengamat Islam Indonesia, NU sering dicap sebagai kaum "tradionalis", sedangkan Muhammadiyah dicap kaum "modernis". Julukan ini tentu tidak berlaku dalam standar yang ketat. Sebab, perbedaan keduanya tidak selalu hitam putih. Seringkali, pebedaannya hanya bisa dilihat dengan cara membaca persinggungan sejarah antara kedua organisasi itu.

Seperti diketahui, lahirnya Muhammadiyah merupakan lanjutan gerakan pembaruan dan pemurnian Islam yang berawal di Timur Tengah, awal abad 20-an. Saat itu, sejumlah tokoh Islam yang belajar di Timur Tengah, misalnya K.H. Ahmad Dahlan, banyak terpengaruh pemikiran tokoh pembaruan Islam, seperti Muhammad Abduh, Jamaludin Al-Afghani, dan Rasyid Ridha. Mereka sampai pada kesimpulan, kondisi umat Islam di berbagai belahan dunia ada pada titik nadir kemunduran. Disamping secara politik umat Islam didominasi kolonialisme, secara pemikiran pun, mereka terjebak pada kebekuan (jumud).

Para pembaru meyakini, penyebab kemuduran umat Islam sebenarnya terletak dalam diri umat Islam sendiri. Ada kesalahan dalam tradisi berpikir yang berbuah kekeliruan dalam kebiasaan beramal. Dalam tatanan pemikiran, umat Islam setidaknya terjebak pada dua hal. Pertama, mereka terjebak pada pakem bahwa penafsiran ajaran Islam telah final, seiring dengan berlalunya kegemilangan generasi sahabat dan para ulama terdahulu (generasi para tabi'in dan tabi'it tabi'in). Para sahabat dan ulama terdahulu dianggap telah menyediakan jurisprudensi yang lengkap dan berlaku sepanjang zaman. Karena itu, disimpulkan, penafsiran ajaran Islam untuk menjawab tantangan zaman (ijtihad) tidak diperlukan. "Pintu ijtihad telah tertutup," demikian kalimat yang sering didengungkan.

Kedua, sebagian umat Islam terjebak pada "aliran teologi" yang berbau "fatalis". Mereka meyakini, dalam hubungan antara manusia dengan sang pencipta, manusia berada dalam posisi yang "serba ditentukan" (predestinated). Manusia sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk membentuk masa depannya. Meskipun manusia diwajibkan berusaha (al-kasb), usaha manusia sama sekali tidak akan mempengaruhi hasil akhirnya. Teologi yang kurang menghargai "kehendak bebas" (free will) ini diyakini para pembaru sebagai warisan teologi Jabariyah (teologi "keterpaksaan" manusia).

Kedua kekeliruan di atas diyakini telah membuat umat Islam tidak kreatif dalam berpikir dan malas dalam membangun peradaban. Karena itu, para pembaru menyerukan agar umat Islam bersedia menelaah ulang doktrin-doktrin Islam. Doktrin Islam harus dijelaskan kembali dalam bahasa yang bisa diterima alam pikiran modern. Keyakinan mereka: Islam merupakan agama yang meletakkan akal pada posisi yang sangat penting. Untuk itu, dalam tataran konkrit, sedikitnya mereka mendakwahkan dua hal: membuka kembali pintu ijtihad dan memperkenalkan teologi Qadariyah (teologi yang sangat menghargai free will manusia).

Di sisi lain, para pembaru pun melihat, dalam praktik beribadah dan bermuamalat, sebagian umat Islam memiliki kebiasaan untuk merujuk pada karya-karya ulama mazhab tertentu. Kaum pembaru menilai kebiasaan ini sebagai kesalahan. Ini bisa menumbuhkan fantisme mazhab yang berlebihan dan bisa menjadi bibit perpecahan. Untuk itu, para pembaru menyerukan, umat Islam hendaknya kembali kepada Al-Quran dan Al-Sunnah (kodifikasi hukum yang berasal dari ucapan dan perbuatan Nabi Muhammad). Dalam semangat itu, Mereka ingin membersihkan Islam dari segara tradisi "keberhalaan" (paganis), takhayul (khurafat), dan bid'ah (amal ibadah yang dibuat-buat). Untuk itu, mereka hanya membolehkan segala praktik ibadah yang memiliki landasan hukum yang pasti dalam Al-Quran atau As-Sunah. Amalan di luar itu, meskipun memiliki argumentasi dari karya-karya ulama, bisa saja dianggap menyimpang.

Tatkala Muhammadiyah menghembuskan semangat pembaruan ke Indonesia, yang pertama kali terusik ketenangannya adalah kalangan ulama pesantren. Keterusikan ini bukan semata karena kekhawatiran kehilangan privilege. Tapi, jika sampai terjadi perubahan mendanak, ulama mengkhawatirkan terjadinya "goncangan" pemahaman di kalangan umat Islam. Maklum saja, sesuai dengan riwayat penyebarannya yang lebih mengandalkan akulturasi ketimbang konfrontasi, ajaran Islam yang dipertahankan para ulama adalah ajaran Islam yang moderat, toleran terhadap tradisi, dan masih mengakui relativisme internal. Toleransi ajaran ulama pesantren tampak pada kesediaan mereka membiarkan praktik ritual yang bernuansa Hindu-Budha, seperti peringatan hari ke-7, ke-40, dan ke-100 kematian seseorang.

Semangat yang menggebu kalangan pembaru serta kekukuhan ulama pesantren dalam mempertahankan tradisi kerap berada dalam posisi yang berhadap-hadapan. Ini menjadi awal konflik antara kaum "modernis" dan kaum "tradisionalis". Puncaknya, pada 1927, kalangan ulama pesantren Jawa mendirikan organisasi Nahdatul Ulama (NU). Terlepas dari argumentasi formal yang dikemukakan pendiri NU, para sarjana yang mengamati dinamika sejarah Islam Indonesia, menganggap kehadiran NU sebagai reaksi atas gerakan pembaruan, khususnya yang dilancarkan Muhammadiyah.

Proses selanjutnya mirip dengan proses dialektika. Setelah sekian lama terjebak pada kebiasaan saling "hantam", diam-diam di antara NU dan Muhammadiyah pun tercapai kesepakatan. Pertikaian tak perlu dilanjutkan. Kedua belah pihak mungkin sama-sama menyadari bahwa perbedaan antara mereka bukan dalam prinsip, melainkan hanya dalam "cabang" (furu'iyah). Karena itu, dalam masa revolusi fisik, pemimpin NU dan Muhammadiyah bahu-membahu dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Sayang, proses politik pasca kemerdekaan kembali menyeret NU dan Muhammadiyah ke dalam hubungan yang tidak harmonis. Berbeda dengan persinggungan masa awal, ketegangan NU-Muhammdiyah kali lebih sering disebabkan "kecemburuan" elit politik kedua pihak. Di masa demokrasi parlementer, misalnya, hubungan mesra NU-Muhammadiyah berakhir ketika NU keluar dari Masyumi. Usut punya usut, alasannya tersiratnya, elit NU merasa sakit hati karena tokohnya hanya diberi tempat di Majelis Syuro Masyumi. Perlakuan ini diam-diam dianggap penghinaan tidak langsung. NU hanya dianggap mampu mengurusi agama, tapi masih perlu belajar dalam berpolitik.

Perseteruan politik pun berlangsung hingga zaman demokrasi terpimpin. Tatkala Soekarno mempermainkan "poros" Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme) untuk mengimbangi lawan-lawan poltiknya, elit NU bersedia untuk mewakili unsur agamanya. Sebaliknya, elemen Muhammadiyah dalam Masyumi dengan tegas menentang ide Nasakom. Di era Orde Baru, sikap keras sejumlah tokoh Islam telah melemparkan NU dan Muhammdiyah ke luar lingkaran kekuasaan. Pada masa ini, Islam politik menjadi kekuatan politik kedua--setelah komunisme--yang di-black list Orde Baru.

Bersamaan dengan keterpinggiran secara politik, gerakan pemikiran Islam pun lagi-lagi mengalami kemandekan. Pada masa krisis inilah tampil pemikir-pemikir muda Islam. Yang menonjol antara lain Abdurrahman Wahid, Amien Rais, Nurcholis Madjid, dan Jalaluddin Rakhmat. Dengan gayanya masing-masing, mereka kembali menyerukan pentingya pembaruan pemikiran Islam. Dalam tradisi keagamaan, mereka pun sampai pada prinsip yang cukup arif tapi progresif: "Memelihara tradisi lama yang baik; mengambil hal baru yang lebih baik". Mungkin karena prinsipnya inilah, para pengamat asing menyebut generasi ini sebagai kaum "neo-modernis".

Memasuki awal 1990-an, pragmatisme politik Orde Baru sempat mengubah arah angin politik. Dengan menggunakan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia) dan Habibie sebagai brokernya, Soeharto mencoba mendulang dukungan politik dari kalangan Islam. Tapi, itu pun baru mengakomodasi kalangan "Islam kota": kalau bukan modernis, ya neo-modernis. Sedangkan kalangan Islam tradisonalis--kalangan pesantren NU--tidak juga diberi tempat.

Era reformasi seolah memberi peluang semua kekuatan politik (termasuk Islam modernis dan tradisionalis) untuk berlaga. Perhelatan Pemilu 1999 pun telah menaikan Gus Dur dan Amien Rais ke puncak piramida kekuasaan. Sayangnya, belum genap satu tahun, "kemesraan" di tingkat elit mulai berlalu. Mereka kembali mempertontonkan dagelan yang tak sedap dipandang mata. Mereka saling gertak akan saling "menjewer". Yang mengkhawatirkan , jika "adu jewer" di tingkat elit ini sampai diterjemahkan sebagai himbauan "adu-jotos" di tingkat massa. Terlebih lagi kalau adu jotosnya antara massa NU dan massa Muhammadiyah. Itu hanya akan menorehkan sejarah kebangasaan dan "keagamaan" yang sangat memalukan. Semoga saja tidak! (Jajang Jamaludin/dari berbagai sumber)

Picture: Presiden Abdurrahman Wahid tampak bercakap-cakap denga Ketua MPR RI Amien Rais pada pembukaan Muktamar Muhamddiyah ke-44 di Stadion Utama Senayan , Sabtu 8 Juli 2000. (Foto: Dita Alangkara/AP)

http://www.tempo.co.id/harian/fokus/31/2,1,4,id.html

Thursday, September 16, 2010

Dari Ahmad Dahlan Sampai Amien Rais

Tempo, 8-7-2000 / 19:59 WIB

Muhammadiyah, salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, didirikan K.H. Ahmad Dahlan tangal 8 Zulhijah 1330 (18 November 1912) di Yogyakarta. Muhammadiyah dikenal sebagai organsisasi yang menghembuskan pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia. Organisasi ini bergerak di berbagai bidang kehidupan umat, terutama pendidikan.

Pada 29 Desember 1912, Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Tapi tidak segera dikabulkan. Pemerintah Hindia Belanda baru mengakui keberadaan Muhamadiyah pada 22 Agustus 1914, melalui Surat Ketetapan Pemerintah No. 81/1914. Izin ini pun hanya berlaku untuk wilayah Yogyakarta; artinya, organisasi Muhammadiyah hanya boleh berdiri dan bergerak di Yogyakarta

Ada sejumlah alasan yang dikemukakan K.H. Ahmad Dahlan ketika mendirikan organisasi ini. Pertama, Sebagian umat Islam tidak memegang teguh Al-Qur’an dan Sunah dalam beramal, sehingga takhayul dan syirik merajalela. Akibatnya, amalan-amalan sebagian dari mereka merupakan campuran anatara tradisi agama Hindu, Budha, dan Islam.

Kedua, lembaga pendidikan agama yang ada pada waktu itu dinilai tidak efisien. Pesantren, yang menajdi lembaga pendidikan kalangan bawah bumi putera, pada masa itu sudah dinilai tidak sesuai lagi dengan tuntutan kebutuhan masyarakat.

Ketiga, kemiskinan menimpa rakyat Indonesia, terutama umat Islam, yang sebagian besar adalah petani dan buruh. Orang muslim yang kaya hanya mementingkan dirinya sendiri. Mereka sering lupa menunaikan kewajiban membayar zakat. Akibatnya, hak-hak orang miskin terabaikan.

Keempat, kebanyakan umat Islam hidup dalam alam fanatisme yang sempit, bertaklid buta, serta berfikir secara dogmatis. Kehidupan umat Islam diwarnai konservatisme, formalisme, dan tradisionalisme.

Budi Utomo

Melihat keadaan umat Islam seperti ini, didorong oleh pemahamannya terhadap ajaran Islam, K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah sebagai organisasi pembaharu. Ia mengajak umat Islam untuk kembali menjalankan syariat sesuai tuntuan Nabi Muhammad SAW.

Sudah sejak masa awal kelahirannya, aktivitas Muhammadiyah meliputi berbagai hal. Misalnya, membersihkan Islam di Indonesia dari pengaruh-pengaruh non-Islam. Hal ini dilakukan dengan mempergiat penyelidikan ilmu agama Islam, untuk menguji kemurniannya. Juga, mengadakan reformasi doktrin Islam, sesuai dengan alam pikiran modern.

Masih berkaitan dengan ajaran Islam, dilakukan juga reformasi pengajaran agama Islam. Antara lain dengan memberikan pelajaran agama Islam di sekolah-sekolah Belanda dan mendirikan sekolah-sekolah sendiri yang berbeda dengan sistem pesantren.

Lebih luas lagi, Muhammadiyah berusaha menyadarkan soal beragama, dan berusaha memperbaiki kehidupan umat. Ini agar benteng umat –tak terkecuali semua lapisan masyarakat, pemuda, wanita, pelajar, dan rakyat biasa—menjadi kukuh.

Untuk mencapai cita-citanya, organisasi ini mendirikan lembaga-lembaga pendidikan, mengadakan rapat-rapat dan tabligh untuk membicarakan masalah-masalah Islam. Organisasi ini pun mendirikan wakaf dan masjid, menerbitkan buku, brosur, surat kabar, dan majalah.

Dalam mengarahkan kegiatannya, pada masa awalnya organsisasi ini tidak mengadakan pembagian tugas yang jelas antara anggota dan pengurus. Hal ini semata-mata karena keterbatasan gerak yang dimiliki Muhammadiyah.

Daerah persebaran Muhammadiyah mulai diperluas setelah tahun 1017. Tahun itu Budi Utomo mengadakan kongres di Yogyakarta, tepatnya di rumah K.H. Ahmad Dahlan. Saat itu, K.H. Ahmad Dahlan bisa meyakinkan peserta kongres. Sehingga, cabang-cabang Muhammadiyah di Jawa dapat diterima keberadaannya.

Tahun 1920, untuk pertama kalinya, Muhammadiyah menyempurnakan anggaran dasar organisasinya. Ini dilakukan untuk menunjang kegiatan perluasan jangkauan organisasi dan kegiatan Muhammadiyah.

Menentang UU Larangan Sekolah Liar

Tahun 1920-an merupakan masa perluasan Muhammadiyah ke luar pulau Jawa. Dengan upaya yang serius, penyebaran organisasi Muhammadiyah berkembang pesat. Pada tahun 1925, organisasi ini telah memilki 29 cabang dengan 4.000 anggota, memiliki delapan Holands Indische School (HIS, setaraf sekolah dasar), satu sekolah guru di Yogyakarta, 32 sekolah dasar lima tahun, satu Schakelschool, 14 madrasah dengan 119 guru dan sekitar 4.000 murid.

Tahun 1927, Muhammadiyah mendirikan cabang-cabangnya di Bengkulu, Banjarmasin, dan Amuntai. Sementara itu, pada tahun 1929, pengaruh Muhammadiyah mulai tersebar di Aceh dan Makasar, dan memiliki 19.000 anggota.

Meski Muhammadiyah mendapatkan pengakuan hukum dari pemerintah kolonial Belanda, tidak berarti Belanda menyenangi organisasi ini. Bahkan, sifat gerakan Muhammadiyah dicurigai bisa membangkitkan rasa nasionalisme bangsa Indonesia. Karena itu, pemerintah Belanda merasa perlu berhati-hati terhadap gerakan kultural ini. Subsidi yang diberikan pemerintah Belanda tidak membuat Muhammadiyah selalu patuh. Hal ini antara lain terbukti dari sikap Muhammadiyah yang menentang keras udang-undang larangan sekolah liar yang dikeluarkan Belanda (Wilde School Ordonantie).

Kini Muhammdiyah mempunyai sejumlah majelis, biro, dan organisasi otonom. Majelis itu adalah Majelis Tabligh, Majelis Tarjih, Majelis Pembina Kesejahteraan Umat (PKU), Majelis Penidikan dan Pengajaran, Majelis Pustaka, Majelis Ekonomi, dan Majelis Wakaf dan Kesejahteraan. Biro organisaniya adalah Biro Kader, Biro Organisasi, dan Biro Hubungan Luar Negeri. Sedangkan organisasi otonom Muhammadiyah adalah Aisyiah, Nasyiatul Aisyiyah (NA) untuk pemudi, Ikatan Pelajar Muhaamdiyah (IPM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Sarjana Muhammdiyah, Ikatan Guru Muhammdiyah, dan Ikatan Seni Budayawan Muhammadiyah.

Meski menyatakan diri sebagai organsisasi non-politik, Muhammadiyah tidak sama sekali menyeterilkan diri aktivitas politik. Muhammadiyah tidak melarang anggotanya untuk masuk partai politik --K.H. Ahmad Dahlan sendiri adalah anggota Syarekat Islam. Selama kurun 1945-1959, Muhammadiyah ikut menggagas pendirian dan menjadi anggota istimewa Partai Masyumi. Pada tahun 1968, Muhammadiyah kembali memfasilitasi pendirian Partai Muslimin Indonesia (Parmusi).

Hiruk-pikuk perpolitikan tahun 1998, kembali menggoda Muhammadiyah untuk ambil bagian. Sidang Tanwir 1998 di Semarang memberikan amanat kepada PP Muhammadiyah agar melakukan ijtihad (terobosan) politik untuk mendirikan partai politik. Sebagai tindak lanjutnya, Sidang pleno Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah pada 22 Agustus 1998 memberikan izin kepada M. Amien Rais untuk melepaskan jabatan sebagai ketua PP Muhammadiyah dan selanjutnya memimpin Partai Amanat Nasional (PAN). (Jajang Jamaludin/ dari berbagai sumber)

http://www.tempo.co.id/harian/fokus/31/2,1,2,id.html

Tabel 1. Urutan Kepemimpinan PP Muhammdiyah (1912-2000)

No. Urut Nama
1 K.H. Ahmad Dahlan
2 K.H. Ibrahim
3 K.H. Fakhruddin
4 K.H. Mas Mansyur
5 Ki Bagus Hadikusuma
6 Buya Haji Ahmad Rasyid Sutan Mansyur
7 K.H. Yunus Anis
8 K.H. Ahmad Badawi
9 K.H. Faqih Usman
10 K.H. Abdurrazaq Fachruddin
11 K.H. Ahmad Azhar Basyir, M.A.
12 Prof. Dr. H.M. Amien Rais, MA
13 Prof. Dr. H. Ahmad Syafi’i Ma’arif

Tabel 2. Jaringan Organisasi Muhammadiyah (2000)

Tingkat Struktur Jumlah
Pimpinan Wilayah (PW) 26
Pimpinan Daerah (PD) 295
Pimpinan Cabang (PC) 2.461
Pimpinan Ranting (PR) 6.098

Tabel 3. Potensi Amal Usaha Muhammadiyah (2000)
Jenis Amal Usaha Jumlah
Sekolah Dasar (SD) 1.128
Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1.179
Sekolah Menengah Umum (SMU) 509
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 249
Madrasah Diniyah/Ibtidaiyah (MD/MI) 1.768
Madrasah Tsanawiyah (MTs) 534
Pondok Pesantren 55
Universitas 32
Sekolah Tinggi 52
Akademi 45
Politeknik 3
Rumah Sakit/Poliklinik 312
Panti Asuhan dan Santunan 240
Bank Perkreditan Rakyat (BPR) 19
Baitul Tamwil (BTM) 190
Koperasi 808